Articles

Found 34 Documents
Search

Alokasi Pengeluaran Rumah Tangga Penyadap Getah Pinus di Desa Somagede, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah Cahyono, S. Andy; Nugroho, Nunung Puji; Indrajaya, Yonky
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.45 KB)

Abstract

Pine forest has contributed to local people economy, especially the resin tappers. Increasing income will raise the household expenditure both of consumptive and productive needs. This research was aimed to assess the expenditure allocations of resin tappers’ household and to identify the factors affecting them.Survey method was adopted in this research to collect the primary data of 30 respondents. The collected data was analyzed both quantitatively and qualitatively. Multiple linear regression model was applied to figure out the factors affecting the expenditure allocations of resin tappers’ household. The results of the study indicated that the expenditure of resin tappers’ household reached to Rp 2,366,459 per annum and 58,08% of it was food and beverage expenditure. The expenditure allocations were affected significantly by tappers’ age, food and beverage expenditure, and farm land size. The tappers’ age, food and beverage expenditure had a positive effect whereas farm land size had a negative effect on the household expenditure. Keywords: The expenditure allocations, resin tappers, household expenditure, pine. 
DAUR TEBANG OPTIMAL HUTAN RAKYAT GMELINA (Gmelina arborea Roxb.) DI TASIKMALAYA DAN BANJAR, JAWA BARAT, INDONESIA Indrajaya, Yonky; Siarudin, M
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2015.12.2.111-119

Abstract

Penentuan daur tebang hutan tanaman termasuk hutan rakyat merupakan langkah penting dalam rangka memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dalam pengusahaan hutan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daur tebang optimal hutan rakyat gmelina di Tasikmalaya dan Banjar, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari kayu gmelina semua daur. Jenis data yang dikumpulkan adalah data pertumbuhan tegakan dan ekonomi. Data pertumbuhan tegakan dikumpulkan melalui pengukuran di lapangan dan data ekonomi didapatkan melalui wawancara dengan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan: a) daur optimal biologis tegakan gmelina adalah delapan tahun; b) daur Faustmann tegakan gmelina adalah 10,5 tahun; c) panjang daur Faustmann berbanding terbalik dengan harga kayu, suku bunga riil dan penurunan produksi kayu, serta berbanding lurus dengan biaya pembuatan tanaman hutan
DAUR OPTIMAL HUTAN RAKYAT MONOKULTUR DALAM KONTEKS PERDAGANGAN KARBON: SUATU TINJAUAN TEORITIS Indrajaya, Yonky
JURNAL PENELITIAN SOSIAL DAN EKONOMI KEHUTANAN Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan daur yang optimal merupakan hal yang penting untuk memperoleh keuntungan yang maksimum. Informasi mengenai bagaimana rotasi finansial ditentukan masih jarang ditemukan di hutan tanaman di Indonesia. Memasukkan jasa lingkungan karbon dapat merubah keputusan akan daur yang optimal. Tulisan bertujuan untuk menguraikan tiga daur optimal: (1) daur biologis/ekologis, (2) daur ekonomis (Faustmann), dan (3) daur produksi bersama kayu dan karbon dari suatu hutan tanaman (Hartman). Metode yang digunakan adalah Dari data ilustrasi diperoleh beberapa hasil yaitu: (1) Daur ekonomis memberikan waktu yang lebih pendek untuk melakukan tebangan jika hanya mempertimbangkan kayu dalam penentuan daur ekonomisnya, (2) Memasukkan keuntungan dari jasa lingkungan serapan karbon dalam perhitungan daur optimal ekonomis akan memberikan waktu yang lebih panjang dibandingkan hanya mempertimbangkan keuntungan dari kayu, (3) Jika hanya mempertimbangkan jasa lingkungan karbon sebagai keuntungan, maka daur optimal akan diperoleh pada saat hutan masih tumbuh positif, (4) Semakin tinggi suku bunga semakin pendek daur Faustmann, dan (5) Semakin tinggi harga karbon semakin panjang daur Hartman.
CADANGAN KARBON HUTAN BEKAS TEBANGAN PEMBALAKAN BERDAMPAK RENDAH DAN KONVENSIONAL DI KALIMANTAN TIMUR: STUDI KASUS DI HUTAN MALINAU Indrajaya, Yonky
JURNAL PENELITIAN SOSIAL DAN EKONOMI KEHUTANAN Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laju deforestasi dan degradasi hutan telah berkontribusi sebesar 17% dari total emisi karbon global (IPCC, 2007). Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan tingkat emisinya hingga 26% secara sukarela pada tahun 2020, dan sebesar 41% dengan dukungan pembiayaan dari dunia internasional. Salah satu aktivitas yang diakui dapat mengurangi laju emisi karbon adalah penerapan praktek-praktek pembalakan berdampak rendah (RIL) di hutan tropika karena dapat menurunkan kerusakan pada tegakan tinggal dengan perbaikan teknik penebangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa praktek RIL dapat menahan emisi karbon. Praktek RIL telah diterapkan di hutan tropis selama kurang lebih dua dasawarsa. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan cadangan karbon hutan bekas tebangan RIL dan penebangan konvensional ( ). Untuk mengestimasi jumlah karbon tersimpan dalam biomassa digunakan persamaan alometrik yang dibangun oleh Yamakura (1986). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa CL cadangan karbon tersimpan pada LOF RIL dan CL berturut-turut adalah sebesar 208.5 dan 218.84 Mg ha . Jumlah pohon dalam LOF RIL dan CL berturut-turut adalah sebanyak 215 dan 186 pohon/ha. Praktek RIL telah mengurangi kerusakan pada jumlah pohon tegakan tinggal, namun cadangan karbon pada LOF RIL ternyata sedikit lebih rendah dibandingkan pada LOFCL, karena jumlah pohon besar dan dilindungi dalam LOFCLlebih banyak.
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PENGUSAHAAN MINYAK KAYU PUTIH TRADISIONAL DI TAMAN NASIONAL WASUR, PAPUA Indrajaya, Yonky; Winara, Aji; Siarudin, M.; Junaidi, Edy; Widiyanto, Ary
JURNAL PENELITIAN SOSIAL DAN EKONOMI KEHUTANAN Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tulisan ini disajikan hasil analisis aspek finansial pengolahan minyak kayu putih (MKP) secara tradisional di Taman Nasional (TN) Wasur, Papua. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dengan penyuling MKP. Penilaian terhadap kelayakan finansial usaha MKP menggunakan ukuran yaitu: NPV, IRR, BCR, dan sensitivitas. Analisis dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun dengan suku bunga 10%, dilakukan pada 2 (dua) kasus: pengusahaan oleh penduduk asli dan pengusahaan oleh pendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengolahan oleh penduduk asli nilai NPV adalah Rp 258.686.275 dan BCR: 1,72. Sedangkan nilai NPV dan BCR pada pengolahan MKP oleh pendatang berturut-turut adalah Rp. 56.947.848 dan 1,1. Hal ini menunjukkan bahwa pengolahan minyak kayu putih secara tradisional pada kedua sistem pengolahan layak secara finansial.
CADANGAN KARBON HUTAN LINDUNG LONG KETROK DI KABUPATEN MALINAU, KALIMANTAN TIMUR UNTUK MENDUKUNG MEKANISME REDD+ Indrajaya, Yonky
JURNAL PENELITIAN SOSIAL DAN EKONOMI KEHUTANAN Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan konservasi hutan lindung (HL) melalui mekanisme REDD+ merupakan salah satu kegiatan yang sangat potensial untuk dapat menurunkan emisi global. Menjaga HL dari kegiatan deforestasi dan degradasi hutan dapat mencegah hutan untuk mengemisi karbondioksida. Informasi tentang jumlah cadangan karbon hutan lindung yang belum terganggu (hutan perawan) penting sebagai base line dan untuk mengetahui potensi penyerapannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi cadangan karbon yang tersimpan dalam biomassa tegakan hutan lindung Long Ketrok, yaitu hutan lindung yang dikelola oleh masyarakat desa Setulang, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur. Metode perhitungan cadangan karbon yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan menggunakan persamaan allometrik yang telah dibangun di hutan tropis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah karbon tersimpan dalam hutan lindung Long Ketrok adalah 304 ton/ha yang terdiri dari karbon tersimpan dalam biomassa di atas permukaan tanah sebesar 255 ton/ha, biomassa akan sebesar 42 ton/ha, dan nekromassa sebesar 7 ton/ha. Proporsi batang, cabang, akar, dan daun dalam biomassa karbon berturut-turut sebesar 70,7%, 14,6%, 14,1% dan 0,6%.
DAUR FINANSIAL HUTAN RAKYAT JABON DI KECAMATAN PAKENJENG, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Indrajaya, Yonky; Siarudin, Mohamad
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SPATIAL DISTRIBUTION OF CROP OF PRODUCING CAJUPUT OIL IN WASUR NATIONAL PARK Junaidi, Edy; Winara, Aji; Siarudin, Mohamad; Indrajaya, Yonky; Widiyanto, Ary
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1880.832 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp101-113

Abstract

The utilization of cajaput tree species for cajuput oil production in the Wasur National Park (NP) should be supported by accurate data and information. It becomes important because uncontrolled exploitation can lead to disruption of the national park function. This study aims to determine the spatial distribution of three cajuput tree species, i.e Asteromyrtus symphyocarpa, Melaleuca cajuputi and Melalueca viridiflora existed in Wasur NP region. The results of this study showed that, in general, the distribution of those three cajuput oil species mostly in Yanggandur area. They are mainly concentrated around the Yanggandur village, Mbembi village, Wasur village and Sota village. Those species were mostly found around wamps, especially in the Sermayam, Rawa Buaya and Rawa Biru. The total area of those three species was 103,011.75 ha, which was dominated by A.symphyocarpa (8.30% of the total area of the NP), followed by M.cajuputi (8.27% of the total area of the NP) and M.viridiflora (7.03% of the total area of the NP). In general, A. symphyocarpa dominantly grow on type of Kambisol soil, where as M.cajuputi and M.viridi flora dominantly grow on soils type of Kambisol and Gleysol.
DINAMIKA KARBON HUTAN ALAM DIPTEROKARPA DATARAN RENDAH DALAM SISTEM SILVIKULTUR TPTI BARU DI KALIMANTAN TENGAH Indrajaya, Yonky
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laju degradasi hutan alam berkontribusi cukup besar terhadap tingginya emisi karbon yang terjadi di Indonesia. Perubahan sistem silvikultur TPTI dengan penurunan daur tebangan dan diameter yang dapat ditebang berpotensi untuk meningkatkan degradasi hutan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika cadangan karbon yang terjadi pada hutan alam produksi apabila dilakukan kegiatan pembalakan dengan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) 2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah matriks transisi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1) karbon tersimpan dalam biomassa hutan yang dikelola dengan sistem TPTI baru dengan daur 30 tahun lebih rendah dibandingkan karbon tersimpan dalam biomassa hutan yang dikelola dengan sistem TPTI lama dengan daur 36 tahun, dan (2) peningkatan intensitas tebangan menyebabkan perbedaan karbon tersimpan dalam biomassa yang semakin tinggi antara sistem TPTI lama dan baru.
PERBANDINGAN MODEL KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL DI HUTAN ALAM DIPTEROCARP UNTUK MENDUKUNG MEKANISME REDD PLUS Indrajaya, Yonky
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan model kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan pembalakan hutan alam dilakukan untuk mengetahui pengaruh pohon ditebang terhadap kerusakan yang terjadi. Beberapa model kerusakan tegakan tinggal antara lain: (1) kerusakan tetap dan tidak terpengaruh oleh jumlah pohon ditebang, (2) kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon yang ditebang dengan proporsi kerusakan sama untuk semua kelas diameter, dan (3) matriks kerusakan, dimana proporsi kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon ditebang dan berbeda tingkat kerusakannya untuk tiap kelas diameter. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis model-model kerusakan tegakan tinggal dan pengaruhnya terhadap pengelolaan hutan khususnya cadangan karbon hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembangunan model matriks kerusakan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) model 1 memberikan hasil yang overestimate terhadap kerusakan yang terjadi pada teknik pembalakan CL, (2) model 2 memberikan hasil yang underestimate terhadap kerusakan tegakan tinggal pada teknik pembalakan konvensional (CL), dan (3) model 3 memberikan gambaran yang lebih nyata akan proporsi kerusakan yang terjadi akibat kegiatan pembalakan.