Munirul Ikhwan
Training Indonesia’s Young Leaders (TIYL)-Islamic Studies Master Program, Leiden University

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Pembelajaran Peer Teaching Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Karya Ibu Palembang Sumatera Selatan

FIKROTUNA Vol 3 No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.464 KB)

Abstract

The purpose of this study is to describe the activities of Islamic religious education and the implementation of peer teaching on PAI subject at SMA Karya Ibu Palembang. Therefore, this research is a descriptive study, the research that explores the description a symptom, specific activities with the data qualitatively. The data analysis used in this study is interactive model (data reduction, data display, data verification).The findings of the study showed that the school policy to the implementation of Islamic education is; that PAI subject was taught in SMA Karya Ibu with the time allocation 3 hours of subject per week. Two hours of subject was a core school hours, while the one-hour subject is a subject hours plus extra for religious programs. The implementation of peer teaching on PAI subject can be quite successful, but it still needs to be improved further. Because there are some things that need to be considered in order to improve the quality of learning, especially in PAI subject at SMA Karya Ibu Palembang in the future time.

TAFSIR ALQURAN DAN PERKEMBANGAN ZAMAN: MEREKONSTRUKSI KONTEKS DAN MENEMUKAN MAKNA

Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7089.965 KB)

Abstract

Umat Islam dari generasi manapun selalu dihadapkan pada pertanyaan seputar makna Alquran. Jarak antara realitas yang terus berubah dan berkembang, dan teks yang diturunkan pada abad awal ke-7 di Jazirah Arab menjadi perhatian utama para pemikir Muslim dan ulama. Menafsirkan Alquran di era di mana kebebasan manusia mendapat apresiasi yang tinggi, sarjana Muslim modern dituntut untuk menemukan mekanisme interpretasi baru yang mampu menghadirkan pemahaman kegamaan yang tidak selalu ‘dogmatik’, namun juga dinamis, peka zaman dan pada level tertentu juga ‘humanis’. Artikel ini berargumen bahwa membaca kitab suci di era modern akan lebih kaya dan bermakna dengan mengadopsi pendekatan interdisipliner, yaitu dengan mengadopsi temuan-temuan studi sejarah, sosiologi agama, hubungan lintas budaya, termasuk kritik tradisi (riwayat). Hal ini didasari akan pemahaman tentang perlunya menghadirkan makna dan signifikansi pesan kitab suci yang merespon nilai dan cara berpikir umat Islam pada zamanyang berbeda dari generasi Muslim pertama.