M Ikhsan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Olahraga Universitas Syiah Kuala

Published : 25 Documents
Articles

Found 25 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN KONEKSI DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 6, No 2 (2013): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan koneksi dan komunikasi matematis perlu menjadi fokus perhatian dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan kemampuan koneksi dan komunikasi matematis siswa baik secara keseluruhan maupun secara berkelompok. Tujuan lain yang ingin dilihat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan pengelompokkan siswa terhadap peningkatan kemampuan koneksi dan komunikasi matematis siswa; dan mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran CTL. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan soal tes (koneksi dan komunikasi) dan non tes (angket respon siswa). Hasil penelitian ini adalah: 1) peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan keseluruhan siswa; 2) peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan pengelompokkan siswa; 3) Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan pengelompokkan siswa terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa; 4) peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan keseluruhan siswa; 5) peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan pengelompokkan siswa; 6) Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan pengelompokkan siswa terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa; 7) Siswa menujukkan respon yang baik terhadap pembelajaran CTL.

Implementasi Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Bernuansa Pendidikan Karakter untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa MTsN

Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matemastis antara siswa yang belajar menggunakan pendekatan CTL dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional, untuk menelaah perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah antara siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah pada siswa yang belajar dengan pendekatan CTL, untuk melihat apakah terdapat pengaruh atau interaksi antara faktor pendekatan pembelajaran yang diberikan dengan faktor kategori kemampuan siswa menyangkut peningkatan kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah siswa, untuk Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen dengan pendekatan kuantitatif menggunakan dua kelas, yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan pre-test post-test group design. Instrumen yang digunakan adalah tes. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN Rukoh Banda Aceh, sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas yaitu VIII-1 sebagai kelas eksperimen dan VIII- 4 sebagai kelas kontrol dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dilakukan terhadap rataan gain ternormalisasi antara kedua kelompok sampel dengan menggunakan Uji-t. Pengolahan data menggunakan Software SPSS 14,0 for Window dan Microsoft Office Excel 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah siswa ditinjau secara keseluruhan dan kategori kemampuan matematika siswa. Pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual secara signifikan lebih baik dalam meningkatkan kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah matematis siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Kata kunci:     Pendekatan Contextual Teaching and Learning, Kemampuan Pemahaman, Kemampuan Pemecahan Masalah.

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Siswa

Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to determine the improvement of critical thinking skills and students mathematical dispositions, as well as the interaction between learning factors and grouping of students to the critical thinking skills and the improvement of student mathematical dispositions. This study is an experimental study with a quantitative approach that describes an increase in critical thinking skills and dispositions of students overall mathematical and grouping students. The population inthis study were students of SMP Negeri 3 Peusangan, where in the sample is a class VIII student as much as 2 classes with 47 students enrolled. The sampling technique is done by simple random sampling design with pretest-posttest control group. Based on the results of the study concluded that the improvement of students critical thinking skills mathematical significantly higher in grade PBM than conventional class as a whole with a value of t = 4.373. However, the grouping of students simply an increase in the high group and medle group only, namely the value of t = 4.064 and t = 2,554. The study also concluded that there was an interaction between learning factors and grouping of students to the mathematical ability of students to think critically. In addition, the results of a study of students mathematical dispositions that get higher problem-based learning than students who received conventional teaching overall with a value of t= 4.214. While the grouping of students is only an increase in the high group with a value of t = 2.428 and the low group with a value of t = 3.439. But in the process of interaction, there is no interaction between factors of learning and grouping of student to an increase students mathematical dispositions.  Keywords: Model problem-based learning, critical thinking skills, students mathematical   dispositions.

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Siswa

Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to determine the improvement of critical thinking skills and students mathematical dispositions, as well as the interaction between learning factors and grouping of students to the critical thinking skills and the improvement of student mathematical dispositions. This study is an experimental study with a quantitative approach that describes an increase in critical thinking skills and dispositions of students overall mathematical and grouping students. The population inthis study were students of SMP Negeri 3 Peusangan, where in the sample is a class VIII student as much as 2 classes with 47 students enrolled. The sampling technique is done by simple random sampling design with pretest-posttest control group. Based on the results of the study concluded that the improvement of students critical thinking skills mathematical significantly higher in grade PBM than conventional class as a whole with a value of t = 4.373. However, the grouping of students simply an increase in the high group and medle group only, namely the value of t = 4.064 and t = 2,554. The study also concluded that there was an interaction between learning factors and grouping of students to the mathematical ability of students to think critically. In addition, the results of a study of students mathematical dispositions that get higher problem-based learning than students who received conventional teaching overall with a value of t= 4.214. While the grouping of students is only an increase in the high group with a value of t = 2.428 and the low group with a value of t = 3.439. But in the process of interaction, there is no interaction between factors of learning and grouping of student to an increase students mathematical dispositions. Keywords: Model problem-based learning, critical thinking skills, students mathematical   dispositions.

Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Disposisi Matematis Siswa di SMA Negeri 1 Bireuen

Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrack. The use of cooperative learning model type of Think-Pair-Share  is needed in order  to helps students of  learning to communicate mathematically as stated ideas, ask questions and respond question, and to developed students mathematical disposition. This study aims to find out about increasing the ability of communication and mathematical disposition among students taught through cooperative learning model Think-Pair-Share with the students taught conventionally. This study uses a quantitative approach to the experimental method. The population in this study were all students of class XI SMA Negeri 1 Bireuen and take samples of the two classes (class experimental and control) with the selection of the sample through purposive sampling technique. Collecting data in this study using two different tests and instrument the nontes. Instrument tests the ability of mathematical communication and mathematical disposition nontes include scale and observation sheets. To look at the differences increased communication ability and mathematical disposition on the experimental and control classes using the Mann Whitney test with a significance level of 0.05, and to see the interaction between learning models and the grouping of students to increase communication ability and dispositions mathematically using ANOVA two lanes. Statistical test results were analyzed using SPSS 17.0. Based on the results: (1) Increase the ability of mathematical communication between students taught through cooperative learning model TPS better than students taught conventionally based on: 1) The whole student, and 2) grouping of students. (2) There is a model of the interaction between learning and grouping of students to increase mathematical communication ability. (3) Improved mathematical dispositions among students taught through cooperative learning model TPS better than students taught conventionally based on: 1) The whole student, and 2) grouping of students. (4) There is a model of the interaction between learning and grouping of students to increase mathematical disposition. (5) The response of students towards learning math using cooperative learning model TPS is positive.  Keywords: Cooperative Learning Model Type of Think-Pair-Share (TPS), Mathematical Communication, Mathematical Disposition

Peningkatan Kemampuan Komunikasi dan Self-Efficacy Siswa SMP dengan Menggunakan Pendekatan Diskursif

Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The ability of communication is one of the mathematical ability to be mastered by students in learning mathematics. Students who have good mathematical communication skills will be able to create a diverse representation in solving problem. This will facilitate the students in making a variety of alternative settlement so as to enhance the students ability in solving mathematical problems. One of approach to learning that is likely to improve mathematical communication skills and self-efficacy students is discursive approach. This research is experimental research with quantitative approach. The aim is to obtain an increase in mathematical communication skills and self-efficacy of students by using a discursive approach is reviewed by the entire student and student grouping. This study used a pretest - posttest  the control group. The data of mathematical communication ability collecting using test and the data of student self-efficacy collecting by questionnaire. Based on the analysis, it can be concluded that the improvement of students mathematical communication skills are taught using a discursive approach is better than the improvement of students mathematical communication skills are taught using the conventional approach based on the students overall well-reviewed and reviewed based on level students. For self-efficacy concluded that there are differences increase in self-efficacy between students taught with the discursive approach better than students who were taught using the conventional approach. Based on the analysis concluded that there is an interaction between the factors of teaching approach and leveling students with.The improvement of students mathematical communication skills while learning approach to factors and level of students to self-efficacy of students there is no interaction. Keywords: Mathematical Communication Ability, Self-Efficacy, Discursive Approach

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri melalui Pembelajaran Kooperatif Berbasis Teori Van Hiele

Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Geometri adalah cabang matematika yang diajarkan dengan tujuan agar siswa dapat memahami sifat-sifat dan hubungan antar unsur geometri serta dapat menjadi pemecah masalah yang baik. Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar geometri. Salah satu penyebab sulitnya siswa dalam memahami geometri adalah strategi pembelajaran yang digunakan tidak sesuai dengan materi yang diajarkan. Selain itu, dalam pembelajaran geometri selama ini belum disesuaikan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa. Oleh karena itu diperlukan strategi yang tepat yang disusun berdasarkan tingkat perkembangan berpikir siswa dalam geometri. Pembelajaran berbasis teori van Hiele merupakan pembelajaran yang disesuaikan dengan tahapan berpikir siswa, sehingga pembelajaran ini tepat jika diterapkan dalam pembelajaran geometri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah geometri antara siswa yang diajarkan dengan pembelajaran kooperatif berbasis teori van Hiele dengan pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretes-postes control group design. Instrumen yang digunakan berupa tes pemecahan masalah dan VHGT. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTsN Model Banda Aceh dan sampel yang dipilih adalah kelas VII-11 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-10 sebagai kelas kontrol. Data yang dianalisis yaitu data N-Gain kemampuan pemecahan masalah. Hasil penelitian diperoleh bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol dengan perolehan nilai sig. 0,000 < 0,05 pada uji-t yang dilakukan. Selanjutnya, dari pengujian x2 diperoleh bahwa terdapat hubungan antara tingkat berpikir dengan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dengan kategori tingkat keeratan hubungan adalah cukup (0,421). Dengan demikian, dalam pembelajaran geometri disarankan untuk menerapkan pembelajaran berbasis teori van Hiele agar kemampuan pemecahan masalah geometri siswa dapat ditingkatkan. Kata Kunci:     Pemecahan Masalah Geometri, Pembelajaran Kooperatif Berbasis van Hiele.

PENINGKATAN KEMAMPUAN KONEKSI DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 6, No 2 (2013): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan koneksi dan komunikasi matematis perlu menjadi fokus perhatian dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan kemampuan koneksi dan komunikasi matematis siswa baik secara keseluruhan maupun secara berkelompok. Tujuan lain yang ingin dilihat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan pengelompokkan siswa terhadap peningkatan kemampuan koneksi dan komunikasi matematis siswa; dan mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran CTL. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan soal tes (koneksi dan komunikasi) dan non tes (angket respon siswa). Hasil penelitian ini adalah: 1) peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan keseluruhan siswa; 2) peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan pengelompokkan siswa; 3) Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan pengelompokkan siswa terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa; 4) peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan keseluruhan siswa; 5) peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan pengelompokkan siswa; 6) Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan pengelompokkan siswa terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa; 7) Siswa menujukkan respon yang baik terhadap pembelajaran CTL.

Proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan model Wallas

Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol 10 No 1 (2017): Beta Mei
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[Bahasa]: Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan model Wallas (1926). Subjek penelitian terdiri dari 6 siswa kelas VII, masing-masing dua siswa memiliki kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir kreatif siswa kategori tinggi yaitu siswa memahami permasalahan dan informasi yang diberikan dengan menuliskan apa yang diketahui maupun yang ditanyakan (persiapan), siswa tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkan solusi dari permasalahan yang dihadapi dengan mengingat soal yang sudah diajarkan (inkubasi), siswa mendapatkan ide untuk memecahkan masalah (Iluminasi), dan siswa menguji ide dan memeriksa kembali pemecahan masalah sebelum mengambil kesimpulan yang tepat (verifikasi). Proses berpikir kreatif siswa kategori sedang yaitu siswa mencoba untuk memahami permasalahan akan tetapi kurang memahami informasi atau petunjuk yang diberikan (persiapan), siswa diam megingat kembali rumus yang digunakan untuk memecahkan masalah (Inkubasi), siswa menghasilkan ide berdasarkan pemahamannya terhadap soal untuk memecahkan masalah (Iluminasi), dan siswa menguji ide dihasilkan dan tidak memeriksa kembali proses pemecahan masalah (verifikasi). Proses berpikir kreatif siswa kategori rendah yaitu siswa tidak memahami permasalahan dan informasi yang diberikan (persiapan), siswa membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkan solusi dari permasalahan (Inkubasi), siswa gagal dalam menemukan ide untuk memecahkan permasalahan (Iluminasi), dan siswa menguji ide yang dihasilkan dan tidak memeriksa kembali jawaban yang telah diujikan (verifikasi). Kata kunci: Berpikir Kreatif; Model Wallas; Pemecahan Masalah; Kemampuan Siswa  [English]: This qualitative research aims at getting insight on students’ creative thinking in solving mathematics problems based on Wallas’ model (1926). The subjects are six students in 7th grade, each two students respectively have high, medium and low mathematics ability.  Data is collected through test and interview. This research shows that the students in high category can understand the problem and given information by writing what is known and asked (preparation), can easily think the solution of the problem by remembering the previous problem (incubation), get the ideas to solve the problem (illumination), and examine the ideas and re-check the solution before drawing the proper conclusion (verification). The students in medium category try to understand the problem but they are less in understanding the given information or hint (preparation), remember the formula to solve the problem (incubation), generate the ideas from their understanding to solve the problem (illumination), and examine the ideas and do not check the solution again (verification). For students in low category, they do not understand the problem and the given information (preparation), have a while to think the solution (incubation), fail to find any ideas to solve the problem (illumination), and examine the generated ideas and do not re-check the solution (verification).     Keywords: Creative Thinking; Walla’s Model; Problem Solving; Students’Ability

Peningkatan kemampuan spasial dan self-efficacy siswa melalui model discovery learning berbasis multimedia

Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol 9 No 2 (2016): Beta Nopember
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[Bahasa]: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan spasial melalui penerapan model pembelajaran discovery learning dengan atau tanpa menggunakan multimedia (GeoGebra), self-efficacy siswa sebelum dan sesudah pembelajaran, dan interaksi antara pembelajaran dengan tingkat kemampuan (level) matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan spasial. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VIII SMPN 2 Lhokseumawe. Kelas VIII2 diambil sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII4 sebagai kelas kontrol. Data kemampuan spasial diperoleh dengan tes uraian yang diadopsi dari Maier (1994). Analisis data secara kuantitatif menunjukan bahwa peningkatan kemampuan spasial siswa dengan penerapan model discovery learning berbasis multimedia lebih baik daripada penerapan discovery learning tanpa multimedia. Dalam hal ini, tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran discovery learning berbasis multimedia dan discovery learning tanpa multimedia dengan level siswa terhadap peningkatan kemampuan spasial siswa. Analisis kualitatif menunjukan bahwa self-efficacy siswa setelah penerapan model discovery learning meningkat. [English]: This research aims to identify the increase of spatial ability through the implementation of discovery learning model with or without the use of multimedia (Geogbera), students’ self-efficacy before and after the learning, and the interaction between learning and the level of students’ ability towards the increase of spatial ability. The population is all students of grade VIII SMPN 2 Lhokseumawe. Grade VIII2 is selected as the experimental class while Grade VIII4 as the controlled class. Data of spatial ability is collected through essay test adopted from Maier (1994). The quantitative data analysis shows that the increase of students’ spatial ability through the implementation of discovery learning model with multimedia is better than discovery learning without multimedia. In this research, there is no interaction between discovery learning model and the level of students’ ability in mathematics towards the increase of students’ spatial ability. The qualitative analysis shows that student’s self-efficacy increases after implementing discovery learning model.