Abdul Fatah Idris
IAIN Walisongo Semarang

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah Tentang Penggunaan Hadis Da’if Dalam Istinbat Hukum Idris, Abdul Fatah
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menganalisis tentang konsep hadis da’if dan konsep tentang pengamalan hadis da’if. Kebanyakan para ulama mengkonsepsikan hadis da’if; “setiap hadis yang tidak terpenuhi unsur-unsur yang ada dalam hadis sahih ataupun unsur-unsur dalam hadis hasan”.Sedangkan dalam konsep pengamalan hadis da’if, para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya. Pertama menolak pendapat tidak mengamalkan hadis da’if secara tegas. Kedua boleh mengamalkan hadis da’if jika tidak ada hadis sahih dan hasan; dan ketiga membolehkan beramal dengan hadis da’if pada persoalan-persoalan tertentu yang dibatasi dengan syarat-syarat yang tertentu pula. Sementara pandangan Ibnu Qayyim berbeda dengan ulama hadis lainnya.Konsep beliau dalam pemikiran hadis da’if sebagai dasar pengambilan dalil hukum, adalah hadis yang tidak batil dan tidak munkar serta perawinya tidak tertuduh dusta. Dan apabila tidak terdapat hadis sahih dan tidak terdapat pula qawl sahabat, boleh mengamalkan dengan hadis da’if, karena pengambilan dalil hukum dari hadis d}a’if lebih utama dari pada qiyas.   Kata kunci:  Ibnu Qayyim, ijtihad, hadis da’if, klasifikasi hadis da’if, pengamalan hadis da’if.  The study tries to analyze the theoretical concepts and practical concepts of hadis da’if (weak hadith). Most scholars conceptualize hadis da’if as "a hadis that fails to reach the elementsin the hadis sahih (sound hadith) or elementsin the hadis h}asan (good hadith)." While in thepractice of hadis da’if, the scholars have different opinions concerning its validity. The first opinion strongly rejects the implementation of hadith daif. The second opinionallows the implementationin case hadis sahih or hadis hasan is unavailable. The third opinion allows the implementation of hadis da’if. Oncertain cases, specified conditions areapplicable. Mean while, Ibn Qayyim has different view from other scholars of hadith. His concept about hadis sahih as a method of taking legal argumentation is a hadith that is neither batil nor munkar and the narrator does not contradict a reliable person. Heallows the implementation of hadis da’if in the absence of neither hadis sahih nor qowl sahaba (the sayings of some companions). He adds that the method of taking legal argumentation from hadis da’if is better than that from qiyas (analogical reasoning). Keywords :   Ibnu Qayyim, ijtihad, hadis da’if, classification of hadis da’if, implementation of hadis da’if.
Penolakan Fazlur Rahman terhadap hadis teknis pada hukum keperdataan Idris, Abdul Fatah
IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Vol 13, No 2 (2013): IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muhammad SAW is a prophet that will be followed by his members. Therefore all what He said and didand His attitudes become a sunnah. However, after the prophet passed away, His hadith had developedbecause they were a verbal statement of the prophet’s sunnah done by the continuing generations. Untiltoday, there have been some hadith that have different pronunciation and interpretation. Such hadithmight be influenced by real condition of the environment. This discussion was directed towards FazlulRahman’s perception on technical hadith in the civil law. Fazlul Rahman had a notion that technicalhadith was a hadith sourced from Muhammad SAW prophet, however, it was massively made by Hisfriends, either tabi’in or itba’ tabi’n. The method used in this review was historical approach methodand interpretative approaches that was generally used by historical tek-tek researcher, as prophet’s hadith.Or this research used term approach of asbab al-nuzul that was frequently done by salaf clergies. Thesignificance of this research was aimed to know Fazlul Rahman’s conception on technical hadith on civillaw, and to find out his refusal reasons towars them. The research found the result that technical hadithon civil law was hadith produced from creative and dynamic interpretation method toward prophet’ssunnah done by the continuing generation. Therefore, Fazlul Rahman refused the technical hadithbecause they were unhistorical and biographical hadith, and also, they were assumed as unscientifichadith. Furthermore, most of technical hadith contained of different opinion among clergies, so that itshowed the weakness of historical base. So, theoretically, technical hadith could be accepted by us asdiscourse of knowledge, but practically it often raised law controversy in the society.
PEMIKIRAN IBNU QAYYIM AL-JAWZIYYAH TENTANG PENGGUNAAN HADIS DA’IF DALAM ISTINBAT HUKUM Idris, Abdul Fatah
Al-Manahij Vol 7, No 1 (2013): GAGASAN HUKUM PROGRESIF PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH
Publisher : IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2459.489 KB)

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menganalisis tentang konsep hadis da’if dan konsep tentang pengamalan hadis da’if. Kebanyakan para ulama mengkonsepsikan hadis da’if; “setiap hadis yang tidak terpenuhi unsur-unsur yang ada dalam hadis sahih ataupun unsur-unsur dalam hadis hasan”.Sedangkan dalam konsep pengamalan hadis da’if, para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya. Pertama menolak pendapat tidak mengamalkan hadis da’if secara tegas. Kedua boleh mengamalkan hadis da’if jika tidak ada hadis sahih dan hasan; dan ketiga membolehkan beramal dengan hadis da’if pada persoalan-persoalan tertentu yang dibatasi dengan syarat-syarat yang tertentu pula. Sementara pandangan Ibnu Qayyim berbeda dengan ulama hadis lainnya.Konsep beliau dalam pemikiran hadis da’if sebagai dasar pengambilan dalil hukum, adalah hadis yang tidak batil dan tidak munkar serta perawinya tidak tertuduh dusta. Dan apabila tidak terdapat hadis sahih dan tidak terdapat pula qawl sahabat, boleh mengamalkan dengan hadis da’if, karena pengambilan dalil hukum dari hadis da’if lebih utama dari pada qiyas.
MEMAHAMI KEMBALI PEMAKNAAN HADIS QUDSI Idris, Abdul Fatah
International Journal Ihya Ulum al-Din Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ihya.17.2.1734

Abstract

The scholars of hadith have different viewpoints in understanding the meaning of hadith Qudsi. The differences are affected by understanding of the concept of hadith Qudsi that is the the word of Allah conveyed through the words of the Prophet Muhammad. However, Hadith Qudsi is not like the Quran. This article will briefly show an understanding of hadith Qudsi and the Quran; and hadith Qudsi and Hadith Nabawi. The author agree with a view of the scholars of hadith who says that, the Hadith Qudsi is a special Hadith verbalized by Prophet both meaning and pronunciation. Therefore, there are no differences between Hadith Qudsi and the sayings of the Prophet in general. The Prophetic Hadith is classified into authentic hadith, hasan and da’eef; can also be found in hadith Qudsi. There may be some differences, in which Hadith Qudsi is not wider than Hadith Nabawi. Hadith Qudsi is not direct words of God, but only the ideas and then verbalized by the prophet himself.---Para ulama hadis memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memahami makna hadits Qudsi. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh pemahaman konsep hadis Qudsi yaitu firman Allah yang disampaikan melalui firman Nabi Muhammad SAW. Namun, Hadis Qudsi tidak seperti Alquran. Artikel ini akan secara singkat menunjukkan pemahaman tentang hadits Qudsi dan Alquran; Dan hadis Qudsi dan Hadis Nabawi. Penulis setuju dengan pandangan para ulama hadis yang mengatakan bahwa, Hadis Qudsi adalah Hadis khusus yang diucapkan secara verbal oleh Nabi baik makna maupun pengucapannya. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan antara Hadis Qudsi dan perkataan Nabi pada umumnya. Hadis Nabi diklasifikasikan ke dalam hadits, hasan dan daeef yang otentik; Bisa juga ditemukan dalam hadis Qudsi. Mungkin ada beberapa perbedaan, di mana Hadis Qudsi tidak lebih luas dari Hadis Nabawi. Hadits Qudsi bukanlah kata-kata langsung dari Tuhan, tapi hanya gagasan dan kemudian diucapkan secara verbal oleh nabi sendiri.
STUDI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN TENTANG HADIS-HADIS PREDIKTIF DAN TEKNIS Idris, Abdul Fatah
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14, No 1 (2012): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v14i1.355

Abstract

Ada asumsi dalam masyarakat, bahwa sebagian hadis dalam kitab-kitab hadis sudah tidak sesuai lagi dengan ilmu pengetahuan pada saat ini. Hal ini mendorong pada intelek Muslim (ulama) untuk melakukan kritik hadis Nabi. Seperti halnya Fazlur Rahman melakuakan kritik tertuju pada matan hadis prediktif dan teknis yang diasumsikan sebagai matan hadis yang bukan bersumber dari Nabi. Demikian pula tentang sanad hadis yang belum bisa dijadikan sebuah argumentasi yang bersifat positif dan final dalam kehadisan. Maka timbul masalah: Mengapa Fazlur Rahman mementingkan aspek matan hadis daripada aspek sanad hadis?; Mengapa Fazlur Rahman tidak menerima hadis prediksi dan teknis, sebagai matan hadis sahih?; Sejauh mana orsinalitas pemikiran Fazlur Rahman, serta apa kelebihan dan kekurangannya? Disertasi ini, bertujuan untuk mengungkap orisinalitas pemikiran Rahman tentang kriteria matan hadis prediksi dan teknis, dan apa alasan-alasannya bahwa hadis-hadis prediksi dan teknis dikatakan tidak sahih. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan historis dan filosofis. Yakni ingin menemukan pemahaman Rahman terhadap sumber-sumber Islam melalui kajian teks sejarah berupa hadis Nabi. Beberapa temuan yang dapat penulis abstraksikan: bahwa konsepsi hadis dan sunnah adalah dua kata yang berbeda namun identik maknanya. Rumusan kriteria kesahihan hadis Fazlur Rahman berbeda dengan rumusan Muhādśîn tetapi rumusannya bersifat penyempurna dari kriteria hadis sebelumnya. Bagi Rahman aspek sanad tidak terlalu penting, karena sistem isnad belum bisa dijadikan sebuah argumentasi yang bersifat positif dan final. Sebaliknya Muhādiśîn lebih menyorot pentingnya sanad hadis. Karena sanad hadis sangat efektif untuk menentukan validitas hadis. Karena itu apabila mengesampingkan aspek sanad akan menafikan klasifikasi hadis sahîh, hasan,dan da’îf. Demikian pula apabila hanya mementingkan aspek matan saja maka akan banyak diketemukan hadis-hadis yang lemah (da’îf)  tidak terdeteksi validitasnya. Secara aplikatif pemikiran Rahman tentang kritik sanad hadis belum diketemukan. Sebab pandangan Rahman itu hanya bersifat teoritis keilmuan. Berbeda dengan para Muhādiśîn  secara jelas dituangkan dalam ‘ulūm al-hadiś, baik secara teoritis maupun aplikatif.  Rahman menolak hadis prediksi dan teknis, karena hadis-hadis tersebut sebagian besar tidak bersumber dari Nabi tetapi merupakan hasil formulasi para ulama generasi Muslim awal. Ia beralasan adanya peperangan politik (al-fitan) yang tak kunjung padam menyebabkan mereka membuat prediksi-prediksi yang bertujuan politik, dogmatis dan theologis. Demikian pula hadis teknis dipandangnya hadis yang tidak historis, tetapi tetap harus dipandang bersifat normative di dalam formulasi-formulasinya yang actual. Metode hermeneutic dan sosio histories merupakan ciri khas pemikiran Rahman dalam pengembangan metode pemahaman sumber-sumber Islam. Inilah kelebihan bagi Rahman yang tidak pernah dikembangkan sebelumnya oleh ulama muhādiśîn. Namun setiap orang juga tidak lepas dari segala kekurangan. Karena itu ekses dari ketidak sabaran Rahman untuk mengaplikasikan pemikiran metode tersebut, menimbulkan pemahaman kontroversial masyarakat Muslim dalam bidang keagamaan.  
HADIS QUDSI DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI TRANSPERSONAL Idris, Abdul Fatah
Jurnal THEOLOGIA Vol 29, No 1 (2018)
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2018.29.1.2351

Abstract

Hadith Qudsi is a Hadith which its meaning and text come from the Prophet Muhammad SAW. The Koran and the Hadith also come from the revelation internally (from deep heart of the Prophet) and nonverbal (not words form). To understand the meaning hadith qudsi, the author uses the revelation theory through transpersonal psychology. The study found explanations that there are three categories of prophet speech: the Koran, hadith Nabawi, and hadith qudsi. These all come from the inspiration of Ilahi (the revelation of God), not in the form words or language. Then, the prophet created human language (texts) and applied them in his daily life.
PEMIKIRAN IBNU QAYYIM AL-JAWZIYYAH TENTANG PENGGUNAAN HADIS DA’IF DALAM ISTINBAT HUKUM Idris, Abdul Fatah
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 7 No 1 (2013): GAGASAN HUKUM PROGRESIF PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2459.489 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v7i1.582

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menganalisis tentang konsep hadis da’if dan konsep tentang pengamalan hadis da’if. Kebanyakan para ulama mengkonsepsikan hadis da’if; “setiap hadis yang tidak terpenuhi unsur-unsur yang ada dalam hadis sahih ataupun unsur-unsur dalam hadis hasan”.Sedangkan dalam konsep pengamalan hadis da’if, para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya. Pertama menolak pendapat tidak mengamalkan hadis da’if secara tegas. Kedua boleh mengamalkan hadis da’if jika tidak ada hadis sahih dan hasan; dan ketiga membolehkan beramal dengan hadis da’if pada persoalan-persoalan tertentu yang dibatasi dengan syarat-syarat yang tertentu pula. Sementara pandangan Ibnu Qayyim berbeda dengan ulama hadis lainnya.Konsep beliau dalam pemikiran hadis da’if sebagai dasar pengambilan dalil hukum, adalah hadis yang tidak batil dan tidak munkar serta perawinya tidak tertuduh dusta. Dan apabila tidak terdapat hadis sahih dan tidak terdapat pula qawl sahabat, boleh mengamalkan dengan hadis da’if, karena pengambilan dalil hukum dari hadis da’if lebih utama dari pada qiyas.