Ichwana Ichwana
Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

Pola Rembesan Air Tanah Gambut pada Model Seepage Tank yang Diberi Drainase Saluran Berpori Ichwana, Ichwana
Jurnal Agrista Vol 13, No 2 (2009): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2009
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.382 KB)

Abstract

Peat Soil Water Intrusion Pattern in the Seepage Tank Model Was Given Drainase Porous ConduitsABSTRACT. Spread peat affected by tidal sea water have in some areas so as to overcome the pool or on the development of an area needs to be given some form of drainage holes in the side walls. The function of the hole in the wall of this channel will be capable of storing water through a hole in to the wall of the channel and dumped back at sea level began to recede. Drainage channel designed an open drainage channel porous trapezoidal shape. The pores are used to store the water into the soil through the hole so it can retain moisture in peat. The aim study is to determine the pattern of ground water seepage on peatland pore into the channel or leave the water seepage discharge channels and to know in order to support the reduction in peat puddles. Pores formed in the drainage channel can retain moisture and ground water due to peat during incoming tide in the channel partially soak into the ground through the pore channels with a trend toward the seepage pattern and left channels respectively y = -0.0061 x2 + 0.3066 x + 4.105 and y= 0.9579 e0,0925x water seepage discharge calculation using Darcy’s law into the soil when the water toward the channel to the first pair with length of time of 12 hours was 22.663. 10-3 cm3/det and discharge seepage which dihasilkan pada second pair with time to 24 hours of 42,019.10-3 cm3/det. Discharge water seepage into the soil when the water leaving the channel to the first pair at the time of 12 hours is 21,248.10-3 cm3/det and seepage generated at the second pair of 1,249.10-3 cm3/det.
APLIKASI PRE-COOLING PADA PENYIMPANAN BUAH TOMAT (Lycopersicum esculentum) MENGGUNAKAN KEMASAN PLASTIK POLIETILEN Ratna, Ratna; Ichwana, Ichwana; Mulyanti, Mulyanti
Jurnal Edubio Tropika Vol 2, No 1 (2014): Jurnal EduBio Tropika
Publisher : Jurnal Edubio Tropika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.537 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kemasan dan lama pre-cooling terhadap mutu simpan buah tomat yang dikemas dalam kemasan plastik polietilen. Selama penyimpanan perlakuan terbaik mampu mengurangi kehilangan susut bobot dan kekerasan buah tomat terdapat pada perlakuan pre-cooling 60 menit dan kemasan polietilen tanpa ventilasi. Uji organoleptik perlakuan yang paling disukai responden yaitu perlakuan pre-cooling 60 menit dan kemasan plastik polietilen tanpa ventilasi. Secara umum perlakuan terbaik yang mampu mempertahankan mutu simpan buah tomat yaitu perlakuan pre-cooling 60 menit dan kemasan polietilen tanpa ventilasi.
Laju Infiltrasi Lubang Resapan Biopori (LRB) Berdasarkan Jenis Bahan Organik Sebagai Upaya Konservasi Air dan Tanah Darwia, Seva; Ichwana, Ichwana; Mustafril, Mustafril
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.631 KB)

Abstract

Abstrak. Kota Banda Aceh menjadi daya tarik bagi masyarakat sebagai sentral kegiatan pendidikan dan ekonomi, sehingga membawa pengaruh bertambahnya jumlah penduduk yang menyebabkan kebutuhan lahan semakin meningkat. Lahan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air tersebut mengalami konversi lahan yang menyebabkan berkurangnya daerah resapan air sehingga ketika terjadinya hujan dengan intensitas tinggi air hujan tidak secara maksimal terinfiltrasi ke dalam tanah dan terjadi penggenangan. Maka, diperlukan upaya untuk meresapkan air hujan yang efektif  ke dalam tanah dengan menggunakan lubang resapan biopori. Salah satu tempat yang ingin diketahui besarnya laju infiltrasi menggunakan lubang resapan biopori adalah di lima halaman rumah dengan luas bidang kedap yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah lubang biopori yang dibutuhkan di setiap rumah serta mengetahui jumlah volume air yang terinfiltrasi. Jumlah volume air yang terinfiltrasi pada rumah A yaitu 2,88 ml, pada rumah B yaitu 6,12 ml, pada rumah C yaitu 10,24 ml, pada rumah D yaitu 4,26 ml, pada rumah E yaitu 2,17 ml selama pengukuran. Jumlah ideal LRB yang dibutuhkan pada setiap halaman rumah A, B, C, D dan E berturut-turut adalah 82, 51, 27, 71, dan 230 lubang dengan intensitas hujan sebesar 6,62 cm/jam. Infiltration Rate of Absorption Holes Biopore Based on Type of Organic Material as Water and Soil Conservation Efforts Abstract.  Banda Aceh appeal to the public as the central economic and educational activities, this bringing the influence of growing population and increasing land needs. Increasing population it brings increased land requirements. Previous land serves as the water catchment area of land conversion experience leading to reduced water catchment areas. So, when it rains with high intensity of rain water, is not optimally infiltrated into the soil and flooding occurred. We need efforts are needed to effectively absorb rain water into the ground. One of the places to know the magnitude of infiltration using biopori absorption holes are in five broad areas of the home page with different impermeable. This study aims to determine the amount of absorption wells which are needed in every houses and to know the volume of water that infiltrated. The total volume of water that infiltrated the house of A is 2.88 ml, at the house of B is 6.12 ml, at the house of C is 10.24 ml, at the house of D is 4.26 ml, at the house of E is 2.17 ml for measurement. LRB ideal amount needed at every driveway A, B, C, D and E are respectively is 82, 51, 27, 71, 230 holes with rain intensity of 6.62 cm / hour. 
Pengaru Suhu dan Umur Panen Terhadap Mutu Tauge (Phaseolus radiates) Selama Penyimpanan Dingin Lisa, Cut Hospita; Putra, Bambang Soekarno; Ichwana, Ichwana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.532 KB)

Abstract

Abstrak. Tauge kacang hijau yang sering kita konsumsi mengandung banyak gizi yang bermanfaat bagi tubuh kita, tapi termasuk jenis sayuran yang mudah rusak. Untuk meminimalisir tingkat kerusakan dilakukan percobaan menggunakan metode penyimpanan dengan jenis plastik pengemas Strech film dengan 3 variasi umur panen yaitu umur panen 3 hari, umur panen 5 hari dan umur panen 7 hari serta disimpan pada 3 variasi suhu ( 4°C, 7°C dan 30°C). Hasil penelitian diperoleh perlakuan terbaik tauge untuk parameter susut bobot, total padatan terlarut selama penyimpanan 10 hari terdapat pada suhu 7ᴼC variasi umur panen 3 hari dengan persentase susut bobot 15.80%, total padatan terlarut 10.2 % Brix, Vitamin C 1.76 mg, Kalsium 0,21 %, organoleptik warna 3,75, organoleptik aroma 3,55, organoleptik penerimaan keseluruhan 3,55. Hasil perhitungan Menghitung Coefficient Of Performance (COP) menunjukkan bahwa pada suhu 7ᴼC dengan nilai COP 2,45 paling tinggi nilainya dibandingkan suhu 4ᴼC dan energi yang dilepaskan atau beban pendinginan yang harus didinginkan oleh mesin pendingin pada suhu pendinginan 4ᴼC paling besar yaitu 236,6 kJ. Abstract. Mung bean sprouts are often we consume contain many nutrients that are beneficial to our bodies, but including the types of vegetables that are easily damaged. To minimize the extent of damage done experiments using the storage method with a type of plastic packaging Stretch films with 3 variations of harvesting are harvesting three days, harvesting age 5 days and time of harvest 7 days and stored at three variations of temperature (4 ° C, 7 ° C and 30 ° C). The research result was the best treatment parameters bean sprouts for weight loss, total soluble solids during storage of 10 days at a temperature of 7ᴼC variations are harvesting three days with weight loss percentage of 15.80%, amount dissolved solids 10.2% Brix, 1.76 mg Vitamin C, Calcium 0.21 %, 3.75 organoleptic color, aroma organoleptic 3.55, 3.55 organoleptic overall acceptance. The results of calculations Calculating Coefficient Of Performance (COP) show that at temperatures 7ᴼC with the highest value of 2.45 COP value than 4ᴼC temperature and the energy released or cooling load to be cooled by the engine coolant temperature cooling greatest 4ᴼC is 236.6 kJ ,  
Reduksi Volume Limpasan Air Hujan Menggunakan Sumur Resapan dengan Konsep Zero Runoff System (ZROS) di Gampong Laksana Kota Banda Aceh khadijah, khadijah; Ichwana, Ichwana; Syahrul, Syahrul
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.838 KB)

Abstract

Abstrak. Genangan permukaan atau banjir dapat ditangani salah satunya dengan memperbesar peresapan air kedalam tanah menggunakan sumur resapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah sumur resapan yang diperlukan dalam upaya pengurangan genangan. Penelitian ini diawali dengan survei kawasan, pengumpulan data tinggi muka air tanah dari sumur galian, data curah hujan dan data klimatologi selama periode 2006–2015, penentuan luas penutupan secara digitasi menggunakan aplikasi Google Earth Pro dan luas atap dibagi berdasarkan rumus Sturgess. Berdasarkan data curah hujan harian Kota Banda Aceh, perhitungan intensitas hujan rancangan periode ulang 5 tahun sebesar 33,951 mm/jam, sehingga menghasilkan debit banjir rancangan 1,706 m3/detik. Rata-rata tinggi muka air tanah pada kawasan ini sebesar 54,7 cm pada musim penghujan, dengan  nilai permeabilitas rata-rata tanah sebesar 11,932 cm/jam. Sumur resapan dirancang dengan  kedalaman 1,5 m, dengan diameter 1,4 m. Penggunaan sumur dihitung berdasarkan 2 tipe, yaitu A (dinding sumur ber-lining) dan B (dinding tak ber-lining) pada masing-masing kelas atap. Total luas tadah hujan atap 14,93 Ha hasil digitasi dibagi atas 12 kelas berdasarkan rumus Sturgess, yaitu: kelas 1 (18-158 m2), kelas 2 (159-299 m2), kelas 3 (300-440 m2), kelas 4 (441-581 m2), kelas 5 (582-722 m2), kelas 6 (723-863 m2), kelas 7 (864-1004 m2), kelas 8 (1005-1145 m2), kelas 9 (1146-1286 m2), kelas 10 (1287-1427 m2), kelas 11 (1428-1568 m2) dan kelas atap yang terakhir kelas 12 (1569-1709 m2). Semakin luas bidang tadah (atap) maka kebutuhan akan sumur resapan juga akan semakin besar. Total luas tadah hujan atap (14,93 Ha) sekurang-kurangnya membutuhkan ± 1.618 sumur tipe A, dan ± 1.316 tipe B yang dapat mereduksi limpasan air hujan sebesar 32,53 % (tipe A) dan 53,58 % (tipe B) dari debit banjir total Gampong Laksana.Reduced Volume of Rainfall Runoff by infiltration Well with Zero Runoff System Concept (ZROS) in Laksana Town of Banda AcehAbstract. Surface run-off can be handled one of them by enlarging the infiltration of water into the soil using absorption wells. This study aims to determine the number of absorbing wells needed in the effort to reduce the puddle. The study begins with a survey of the area, groundwater level data collection of excavated wells, rainfall data and climatological data during the period 2006-2015, the determination of the digitized closure area using the Google Earth Pro application and the area of the roof divided according to the Sturgess formula. Based on the daily rainfall data of Kota Banda Aceh, the calculation of the rain intensity of the 5 year re-design period is 33,951 mm /hour, resulting in flood discharge of 1,706 m3/ sec. The average groundwater level in this area is 54,7 cm in the rainy season, with an average permeability of 11,932 cm/hour. The absorption well is designed with a depth of 1.5 m, with a diameter of 1.4 m. The use of wells is calculated based on 2 types, namely A (well lining wall) and B (non-lining wall) in each roof class. Total rainfed area 14,93 Ha result of digitasi divided into 12 classes based on Sturgess formula, namely: class 1 (18-158 m2), class 2 (159-299 m2), grade 3 (300-440 m2), grade 4 (Grade 441-581 m2), grade 5 (723-862 m2), grade 7 (864-1004 m2), grade 8 (1005-1145 m2), grade 9 (1146-1286 m2) ), Class 10 (1287-1427 m2), grade 11 (1428-1568 m2) and the last class of class 12 (1569-1709 m2). The larger the field of cistern (roof) then the need for absorption wells will also be greater. The total rainfed area of 14,93 hectares requires at least ± 1.618 wells of type A, and ± 1.316 type B which can reduce rainfall runoff by 32,53% (type A) and 53,58% (type B) from the discharge The total flood of Gampong Laksana.
The Application of Fourier Transform Infrared Photoacoustics Spectroscopy (FTIR-PAS) for Rapid Soil Quality Evaluation Ichwana, Ichwana; Nasution, Zulkifli; Munawar, Agus Arip
Rona Teknik Pertanian Vol 10, No 1 (2017): Volume 10, No. 1, April 2017
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.16 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v1i1.6984

Abstract

Abstrak. Tanah merupakan media tumbuh tanaman dan berperan dalam menjaga keseimbangan alam. Evaluasi kualitas dan kesuburan tanah menjadi hal penting dan merupakan pekerjaan rutin pada crop management system. Untuk memonitor dan menentukan kualitas tanah, beberapa metode telah diterapkan. Akan tetapi, metode tersebut berbasis pengukuran laboratorium yang melibatkan bahan kimia, memerlukan waktu yang lama dan kurang efektif pada aplikasinya. Infrared spectroscopy muncul sebagai salah satu teknologi yang cepat, simultan dan ramah lingkungan untuk digunakan dalam evaluasi kualitas dan kesuburan tanah dengan memprediksi nutrisi tanah yang utama berupa C, N, P dan K. Spektrum transmisi infrared (IR) diakuisisi pada panjang gelombang 1000-2500 nm dengan menerapkan metode photo-acoustic spectroscopy (PAS). Pendekatan metode Least square-support vector machine regression (LS-SVM) digunakan untuk memprediksi parameter nutrisi tanah. Hasil studi menemukan bahwa parameter C dan N pada tanah dapat diprediksi dengan sempurna karena C-N mengalami stretching akibat serapan gelombang IR. Sedangkan unsur nutrisi lain seperti P, K, Mg, Ca, S dapat diprediksi dengan maksimum residual predictive deviation (RPD) index maksimum 1.9. Lebih lanjut, lempung tanah, air tanah, dan mikroba tanah kemungkinan dapat diklasifikasi dengan baik dengan metode IR-PAS dan bantuan metode klasifikasi least-square discriminant analysis (LS-DA) dan cluster analysis (CA). Berdasarkan hasil studi, dapat disimpulkan bahwa teknologi FTIR-PAS dapat digunakan untuk real-time monitoring kualitas dan kesuburan tanah. The Application of Fourier Transform Infrared Photoacoustics Spectroscopy (FTIR-PAS) for Rapid Soil Quality Evaluation Abstract. The major function of soil is to provide fundamental natural resources for survival of plants, animals, and the human race. Soil functions depend on the balances of its structure and composition, well as the chemical, biological, and physical properties. It is become one important key aspect and routine activity in crop management system. To monitor and determine soil quality properties, several methods were already widely used in which most of them are based on solvent extraction followed by other laboratory procedures. However, these methods often require laborious and complicated processing for samples. They are time consuming and destructive. In last few decades, the application of infrared spectroscopy as non-destructive technique in determining soil quality properties (C, N, P and K) rapidly and simultaneously. Fourier transform infrared spectrum (FTIR) were acquired in wavelength range from 1000 to 2500 nm with applying photo-acoustic spectroscopy (PAS). Least square-support vector machine regression (LS-SVM) approach was then applied to predict soil quality properties. The results showed that C and N can be predicted accurately using FTIR-PAS whilst other parameters (P, K, Mg, Ca, S) can be predicted with maximum RPD index is 1.9. Moreover, soil clay, moisture and soil microbes were feasible to be detected by using FTIR-PAS combining with discriminant analysis (LS-DA) or cluster analysis (CA). It may conclude that FTIR-PAS technology can be used as a real time method  in monitoring soil quality and fertility properties.
Karakteristik Lokasi dan Pola Resapan: Data, Analisis dan Respon Ichwana, Ichwana; Sumono, Sumono; Delvian, Delvian
Rona Teknik Pertanian Vol 5, No 2 (2012): Volume 5, No. 2, Oktober 2012
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.563 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v5i2.232

Abstract

Characteristics of the Location and Recharge Pattern: Data, Analysis and ResponseABSTRACT. Infiltration as a movement of water could determine a large amount of water which could move over the soil surface to the river, and the water that went into the ground. The information of water infiltration in watershed was required to make decision about sustainable water resources. On the other hand, the infiltration was dynamic, that was why it was interesting to be analyzed. The purpose of this study was to determine differences in volume that occurred in the watershed catchment of Krueng Peusangan. Having viewed the differences and similarities location against variabel temperature, evapotranspiration, moisture, discharge, rainfall for the fivepoint, watershed locations of Krueng Peusangan using Principal Component Analysis (PCA). Based on PCA, the location was selected to analyze the volume of leach discharge measured during 2008-2011 in Wih Nareh and Kr. Teumbo. Absorption volume indicated that occurred instable infiltration at Kr. Teumbo. It needed guidelines for land use arrangement and forest function, especially in the recharge area. So, it could maintain the balance of hydrological cycle, groundwater quantity and quality properly.  
Analisis Neraca Air Permukaan Sub DAS Krueng Khee Kabupaten Aceh Besar Putri, Arini; Chairani, Susi; Ichwana, Ichwana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.256 KB)

Abstract

Pengetahuan mengenai ketersediaan air dan kebutuhan air sangat penting untuk mengetahui keseimbangan air. Perhitungan neraca air permukaan dilakukan untuk mengetahui kemampuan ketersediaan air permukaan pada Sub DAS Krueng Khee untuk memenuhi kebutuhan air domestik dan irigasi. Data klimatologi dan sosial pada tahun 2014 yang digunakan pada penelitian. Berdasarkan penelitian ini diketahui potensi air permukaan Sub DAS Krueng Khee berasal dari air sungai dan curah hujan efektif. Jumlah potensi air dari air sungai pada tahun 2014 adalah 16.891.372,8/tahun. Ketersediaan air yang berasal dari curah hujan efektif digunakan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan air irigasi. Kebutuhan air yang terdapat di Sub DAS Krueng Khee meliputi: kebutuhan air domestik, irigasi, peternakan, dan industri. Analisis neraca air permukaan dilaksanakan dengan mengurangkan input air permukaan dengan output air pada daerah penelitian. Keseimbangan air permukaan (surface water balance) yang dicapai untuk memenuhi kebutuhan air di Sub DAS Krueng Khee pada tahun 2014 adalah: Perubahan simpanan air permukaan ( maksimum yaitu 4.279.181,10 /bulan pada bulan Januari (surplus), rata-rata yaitu 1.255.403,945 /bulan dan minimum yaitu 383.486,90/bulan pada bulan Oktober. Sepanjang tahun 2014 tidak terjadi kekurangan ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air total Sub DAS Krueng Khee.Knowledge about water availability and water demand is significant to water balance awareness. Accounting surface water balance is to find out capability of surface water availability in Sub Watershed Krueng Khee in order to fulfill domestic and irigation water demand. Chilmatology and social data in year 2014 were used in this research. Based on the result the source of surface water potential in Sub Watershed Krueng Khee source are river water and effective rainfall. The amount of water potential from the river in year 2014 was 16.891.372,8/year. The water availability from effective ranfall used to fulfill irigation. Water demand in Sub wathershed Krueng Khee divers from domestic water demand, irigation, livestock and industry. Surface water balance analysis perfomed by subtracting input surface water with the water output in the research area. Surface water balance achieved to fulfill water demand in Sub Watershed Krueng Khee in 2014: surface water storage ( maximum was 4.279.181,10 /month in January (surplus), average was 1.255.403,945 / month and minimum was 383.486,90/month in October. Throughout the year 2014 there was no shortage of water availability to fulfill the water demand in Sub Wathershed Krueng Khee
The Design of Power Plant Biomass in Isolated Are From National Electricty Company in Indonesia With Aplication of Tar Wet Scrubber and Filter Gas Siregar, Kiman; Alamsyah, Rizal; Ichwana, Ichwana; Sholihati, Sholihati; Tou, Saminuddin B.
Rona Teknik Pertanian Vol 10, No 2 (2017): Volume 10, No. 2, Oktober 2017
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v10i2.10007

Abstract

Abstrak. Mesin gasifikasi bertujuan untuk menghasilkan gas mampu bakar (CO, H2, CH4).  Gas mampu bakar yang dihasilkan dapat digunakan untuk menggantikan fossil fuel untuk menjalankan gas engine. Namun gas mampu bakar yang dihasilkan tersebut mengandung tar (kotoran) yang masih tinggi, sehingga terjadi pengotoran filter engine dan mengakibatkan mesin tidak dapat dioperasikan dalam waktu yang cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk mendisain Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) pada daerah terisolasi dari jaringan listrik PT.PLN (Persero) di Indonesia melalui aplikasi tar wet scrubber dan gas filter. Mesin gasifier yang dirancang berupa tipe downdraft dengan kapasitas terpasang 25 kW. Tambahan komponen rangkaian PLTBm yang dirancang adalah  tar wet scrubber, gas filter dan gas engine. Secara keseluruhan mesin PLTBm yang dirancang terdiri dari : (1)Tangki pengisian biomassa, (2)Tangki biomassa, (3)Reaktor tipe downdraft, (4)Cyclon, (5)Tar wet schrubber, (6)Water tank, (7)Gas filter, (8)Blower, (9)Gas engine kapasitas 25 kW, (10)Air inlet nozzle, (11)Connection pipe, (12)Termometer indicator, (13)Exhaust gas, (14)Pressure indicator. Pengurangan nilai tar selain menggunakan karbon aktif, juga menggunakan sistem perangkap kotoran gas (wet scrubber). Gasifier yang digunakan pada penelitian ini memiliki diameter reaktor 900 mm dan tinggi 1000 mm. Cyclon memiliki diameter 580 mm dengan tinggi 1766 mm. Gas filter memiliki panjang 700 mm, tinggi 700 mm dan lebar 700 mm. Tar wet scrubber terdiri dari 5 tabung (diameter tabung 300 mm) yang terangkai satu dengan yang lainnya dengan tujuan untuk menangkap tar yang masih terkandung dalam gas mampu bakar yang dihasilkan dari reaktor gasifikasi dengan dimensi total yaitu lebar 1750 mm dan tinggi 1300 mm.
Efisiensi Keseragaman Distribusi Air Dari Variasi Ketinggian Pipa Pada Sistem Irigasi Curah Putra, Ariswandi; Ichwana, Ichwana; Chairani, Susi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.825 KB)

Abstract

Abstrak. Sistem irigasi curah pada penerapannya dapat menghemat air serta waktu yang dibutuhkan untuk menyiram tanaman. Sistem irigasi curah mendistribusikan air dari pompa air sebagai sumber tekanan melalui sistem perpipaan hidrolika dalam bentuk curahan air yang disemprotkan ke udara, kemudian curahan air tersebut jatuh ke tanah maupun akar-akar  tanaman. Ketinggian pipa merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan kinerja sistem irigasi curah terhadap keseragaman distribusi atau penyebaran curahan air ke tanaman. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ketinggian pipa memberi pengaruh terhadap semua parameter yang diamati, yakni koefisien keseragaman distribusi air (CU), laju penyiraman air dan jarak lempar air. Nilai rata-rata debit nozzle yang diperoleh adalah 3,4007 liter/menit dan nilai rata-rata laju penyiraman air 4897,032 mm/hari. Nilai koefisien keseragaman distribusi air adalah sebesar 99,017 % pada riser 15 cm, 99,015 % pada riser 20 cm dan 99,016 % pada riser 25 cm. Kemudian nilai rata-rata jarak lempar air 127,33 cm. Adapun untuk mengetahui pengaruh ketinggian pipa pada sistem irigasi curah adalah dengan menggunakan persamaan regresi linear. Maka nilai regresi linear yang dihasilkan adalah sebesar 75,4 % dari seluruh parameter yang diamati, yakni koefisien keseragaman distribusi air (CU), laju penyiraman air dan jarak lempar air. Kata kunci : Sistem irigasi curah, ketinggian pipa. Abstract. The sprinkler irrigation system in the application of bulk can save water as well as the time needed for watering plants. The sprinkler irrigation system to distribute the water from the water pump as the source pressure through the piping system hydraulics in the form of a drink of water that is sprayed into the air, then the water flow fell to the ground and the roots of plants. The riser is one of the important factors that can determine the performance of irrigation systems bulk of the uniform distribution or dissemination of water flow into the plant. The results of this study explains that the height of the pipe to give effect to all parameters were observed, namely water distribution coefficient of uniformity (CU), the rate of watering and water throwing distance. The average value obtained discharge nozzle is 3.4007 liters / min and the average value of the rate of watering 4897.032 mm / day. The coefficient of uniformity of water distribution is equal to 99.017% at 15 cm riser, the riser 99.015% 99.016% 20 cm and 25 cm on the riser. Then the average value of 127.33 cm water throwing distance. As for the height of the pipe to determine the effect on the bulk of irrigation systems is to use linear regression equation. Then the resulting linear regression value is equal to 75,4 % of all observed parameters, ie water distribution coefficient of uniformity (CU), the rate of watering and water throwing distance. Keywords : The sprinkler irrigation system, the riser.