Yanter Hutapea
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan Jl. Kol. H. Barlian No. 83 KM 6 Palembang 30153

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

PENINGKATAN NILAI TAMBAH AGRIBISNIS MELALUI PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI USAHATANI PADI : STUDI KASUS KEGIATAN PRIMA TANI KABUPATEN MUSI RAWAS, SUMATERA SELATAN Hutapea, Yanter; AP Hutabarat, Pandu; Thamrin, Tumarlan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increasing of Agribusiness Value Added through Aplication of Rice Farming System TechnolgyInnovation: A Case Study of Prima Tani Activity In Musi Rawas District, South Sumatera. The application oftechnology innovation was conducted to overcome productivity disparity, to increase farmer income and to improvefarmer prosperity. Technology innovation on rice farming has been applied at “Prima Tani” activities on intensiveirrigation land since 2005 in South Sumatera Province. The aim of this study was to compare the application oftechnology innovation, cost production and rice farming income between participant and non participant farmers. Dataof rice farming activity during wet season in 2006/2007 was collected in Mei until September 2007 by interviewingparticipant farmer of Prima Tani in Kertosari Village and compared the result to the non participant in PurwakaryaVillage, Purwodadi Sub-district, Musi Rawas Regency. Samples was taken by Disproportionate Stratified RandomSampling. Result showed that the scores of technology application from participant and non participant farmerswere 6.38 and 4.37 respectively. However, there was no statistically difference between two farmers groups andincluded as medium category of technology application. The productivity of harvested dried rice of participantfarmers was 7. 8 kg/ha and 7.2 5 kg/ha for non participant farmers. Total cost of rice farming for participant andnon participant farmers were Rp.5,786,035/ha and Rp.6,663,875/ha respectively. Rice farming income of participantfarmer (Rp.8,228,9 5/ha) was significantly different from those in non-participant farmer (Rp.7,235,435/ha).Key words: Paddy, farming system, innovation, income. Penerapan teknologi inovasi dilakukan untuk mengatasi masalah senjang produktivitas, meningkatkanpendapatan usahatani dan kesejahteraan petani. Inovasi teknologi pada usahatani padi dilakukan melaluikegiatan Prima Tani lahan irigasi intensif Provinsi Sumatera Selatan sejak tahun 2005. Kegiatan ini bertujuanuntuk membandingkan penerapan teknologi usahatani padi, biaya yang dikeluarkan dan pendapatan usahatanipadi yang diperoleh oleh petani peserta dan bukan peserta Prima Tani. Pengumpulan data untuk meliput aktivitasusahatani dari musim hujan 2006/2007 dilakukan melalui wawancara pada bulan Mei-September 2007 padapetani peserta Prima Tani di Desa Kertosari dibandingkan dengan petani bukan peserta di Desa Purwakarya padakecamatan yang sama yaitu Kecamatan Purwodadi. Pengambilan sampel petani pemilik-penggarap secara AcakBerlapis Tak Berimbang. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa skor penerapan teknologi pada petani pesertadan bukan peserta masing-masing 6,38 dan 4,37, tetapi secara statistik tidak berbeda nyata dan termasukdalam kategori penerapan teknologi pada tingkat sedang. Produksi gabah kering panen yang diperoleh petanipeserta dan bukan peserta sebanyak 7. 8 kg/ha dan 7.2 5 kg/ha. Biaya total yang dikeluarkan oleh petani pesertaPeningkatan Nilai Tambah Agribisnis melalui Penerapan Inovasi Teknologi Usahatani Padi :Studi Kasus Kegiatan Prima TaniKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan (Yanter Hutapea, Pandu AP Hutabarat dan Tumarlan Thamrin)53sebesar Rp.5.786.035/ha, sedangkan petani bukan peserta sebesar Rp.6.663.875/ha. Pendapatan usahatani padiyang diperoleh petani peserta (Rp.8.228.9 5/ha) secara nyata dibanding petani bukan peserta (Rp.7.235.435/ha).Kata kunci: Padi,usahatani, inovasi, pendapatan.
ANALISIS ADOPSI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN BERBASIS PADI DI SUMATERA SELATAN DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI Efendy, Jauhari; Hutapea, Yanter
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analysis of Adoption of Agricultural Technology Innovation Rice-based Farming in Sumatra inthe perspective of communications. Assessment Institute of Agricultural Technology (AIAT) South Sumatrahas produced innovative rice-based farming technology in various agroecosystem. However, adoption ratesare still relatively low. Evaluation of four assessments aimed to identify the factors that predominantly affectthe adoption of technological innovation based local-specific farming rice and to know the level of adoption.This activity is carried out in OKI, East OKU and Banyuasin regencies with 67 respondents interviewedin July-September 2007. The results of this assessment showed that the factors that influence the adoption oftechnological innovations such as the level of selective exposure of technology innovation, cosmopolite,triability, complexity of technology and agricultural extension intensity. The average adoption index for thepacket of rice cultivation technology was 50.32%. As many as 93.02% of respondents have positive perceptionsof the researcher-extension AIAT South Sumatra as the communicator in delivering information technology.Most respondents (80%) expressed a desire to obtain agricultural information generated AIAT South Sumatra.Key words: Adoption, innovation, rice, communication Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan sudah menghasilkan inovasi teknologipertanian berbasis padi di berbagai agroekosistem. Namun tingkat adopsinya masih relatif rendah. Evaluasi terhadapempat pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dominan mempengaruhi proses adopsiinovasi teknologi pertanian spesifik lokasi berbasis padi dan mengetahui tingkat adopsinya. Kegiatan ini dilakukan diKabupaten OKI, OKU Timur dan Banyuasin dengan mewawancarai 67 orang responden pada bulan Juli – September2007. Berdasarkan hasil analisis deskriptif kualitatif diketahui bahwa (1) adopsi inovasi teknologi budidaya tanamanpadi di Sumatera Selatan dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan petani terhadap inovasi teknologi, sifat kekosmopolitanpetani, triabilitas dan kompleksitas teknologi dan intensitas pembinaan, (2) indeks adopsi inovasi petani terhadappaket teknologi budidaya padi kondisinya beragam tergantung pada jenis kegiatan, (3) petani di Sumatera Selatanumumnya memberikan apresiasi positif terhadap peneliti-penyuluh BPTP Sumatera Selatan, terlihat dari tingginyaminat petani untuk mendapatkan berbagai media informasi pertanian BPTP Sumatera Selatan, dan (4) temuankajian ini mengindikasikan faktor komunikasi memegang peran utama yang dapat mempengaruhi adopsi teknologi.Kata kunci : Adopsi, inovasi, padi, komunikasi
PERANAN LUMBUNG PANGAN DAN PENGGILINGAN PADI DALAM MENDUKUNG PEMBIAYAAN USAHATANI DI SUMATERA SELATAN Hutapea, Yanter; , Hermanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Role of Rice Barn and Rice Milling Unit to Support farming Finance in South Sumatera. The aimed of this assessment was to know: 1) The performance of rice barn and rice milling unit (RMU) to serve farmer 2) the farmers accessibility to rice barn and RMU. Survey was conducted from March to May 2006 in 8 regencies (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data were collected by interviewing 19 members of rice barn, 25 customers of RMU, 14 rice barn leaders and 21 RMU owners. The result of this assessment showed that the scarcity of capital faced by the farmer household generally in order to develop their farming. The financial institute such as rice barn and RMU in rural areas could be accessed by the farmer to get the operational cost of farming. The average of cash money of rice barn and RMU with magnitude of Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300, respectively. The amount of rice barn have credits and debts with magnitude of 35,71% and 14,28% respectively. Meanwhile, RMU have credits and debts with magnitude of 38,09% and 9,52% respectively. Many of Rice barn and RMU have post-harvest and ploughing facilities, input production supply, besides lending the money that used for production cost. The owner of RMU appear to help farmer easily, nevertheless many of them were not able to fulfill the farmer needs. Rice barn institutes developed by government was not available yet to lend the financial capital for the farmer. Key words : Rice barn, rice milling unit, farmer accessibilityPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) keragaan lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi dalam melayani kebutuhan petani 2) aksesibilitas petani terhadap lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi. Survei dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2006 di 8 kabupaten (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data dikumpulkan dengan mewawancarai 19 orang petani anggota lumbung pangan, 25 orang petani pelanggan penggilingan padi, 14 orang pengelola lumbung pangan dan 21 orang pemilik penggilingan padi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah tangga petani umumnya mengalami masalah keterbatasan modal dalam mengembangkan usahataninya. Lumbung pangan dan penggilingan padi merupakan lembaga ekonomi di perdesaan yang diakses petani untuk mendapatkan modal. Modal tunai rata-rata pada lembaga lumbung pangan dan penggilingan masing-masing sebesar Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300. Sebanyak 35,71% lumbung memiliki piutang dan 14,28% memiliki hutang. Sedangkan penggilingan padi, sebanyak 38,09% memiliki piutang dan 9,52% memiliki hutang. Beberapa di antara lumbung dan pengilingan padi juga memiliki fasilitas untuk pengeringan gabah, pengolahan lahan dan penyediaan sarana produksi selain menyediakan modal untuk biaya produksi usahatani. Pemilik penggilingan padi sering tampil sebagai penolong dengan kemudahan yang diberikannya, meskipun belum semuanya mampu melayani kebutuhan petani. Lumbung pangan sebagai lembaga ekonomi yang dibentuk pemerintah belum mampu berperan penuh dalam melayani kebutuhan petani.Kata kunci: Lumbung pangan, penggilingan padi, aksesibilitas petani
SKALA USAHATANI PADI DI BEBERAPA LOKASI LUMBUNG PANGAN DI SUMATRA SELATAN Hutapea, Yanter; Bamualim, Abdullah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aimed to determine break even points and minimum scales of economy of rice farming in severalrice producing centers in South Sumatra. Survey was conducted from August to October 2002 through interviewingfarmers’ households in Sido Makmur village, Belitang Subdistrict, Ogan Komering Ulu (OKU) District; Sirah PulauPadang Village, Sirah Pulau Padang Subdistrict, Ogan Komering Ilir (OKI) District; and Telang Jaya Village,Pembantu Muara Telang Subdistrict, Musi Banyuasin (MUBA) District. Respondents sampling was carried out usinga stratified random method on rice barn and non rice barn groups. Each group of each village consisted of 20 farmers.Thus, total respondents were 120 farmers. Results of the study revealed that break even points were 635 kg, 804 kg,and 724 kg of rice production in OKU, OKI, and MUBA Districts, respectively. Minimum scales of economy of ricefarming in OKU, OKI, and MUBA districts were 0.25 ha, 0.37 ha, and 0.33 ha, respectively. The farmers did notinterest with existence of food barns by delaying rice sale due to insignificant price difference between storage andsale.Key words: rice farming, minimum scale of economy, rice barn Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan impas dan skala minimum usahatani padi di beberapalokasi yang ada lumbung pangan di Sumatra Selatan. Survei dilakukan pada Bulan Agustus-Oktober 2002 denganmewawancarai rumah tangga petani di Desa Sido Makmur, Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu(OKU); Desa Sirah Pulau Padang, Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan DesaTelang Jaya, Kecamatan Pembantu Muara Telang, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA). Pengambilan sampeldilakukan secara acak berlapis yaitu pada kelompok lumbung pangan dan bukan lumbung pangan masing-masingsebanyak 20 petani sehingga secara keseluruhan dibutuhkan sampel sebanyak 120 petani. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Secara agregat titik impas tercapai pada produksi beras sebesar 635 kg di Kabupaten OKU, dan804 kg di Kabupaten OKI serta 724 kg di Kabupaten MUBA. Skala minimum usahatani padi di Kabupaten OKUseluas 0,25 ha, di Kabupaten OKI seluas 0,37 dan di Kabupaten MUBA seluas 0,33 ha. Pada keberadaan lumbungpangan, harga belum merupakan suatu hal yang menarik bagi petani untuk melakukan kegiatan tunda jual karena tidakada perbedaan harga yang menyolok pada saat menyimpan dengan saat menjual.Kata kunci : usahatani padi, skala minimum, lumbung pangan
KERAGAAN BUAH DUKU DAN PEMASARANNYA DI SUMATERA SELATAN , Suparwoto; Hutapea, Yanter
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to know the performance, productivity and duku (Lansium domesticum Corr) marketingfrom South Sumatra to Jakarta. The study conducted from February to Juni 2003 at Tanjung Alai Village, Sirah PulauPadang Sub District, OKI District, Gunung Batu Village, Cempaka Sub District and Rasuan Village, OKU Districtand Ujan Mas Village, Ujan Mas Sub District, Muara Enim District. Each village consisted of 20 duku trees and 30fruits of each location for phisical performance analysis. Marketing survey was implemented to collect informationfrom farmer, local assembler at each location, agents at Kramat Jati Central Market and retailers at Jakarta. The resultshowed that the productivity was highest on duku trees from Rasuan Village (208,6 kg/tree) and the lowest fromTanjung Alai Village (97,25 kg/tree). Number of seed was least on duku fruits from Gunung Batu Village whereas themost from Ujan Mas Village. The local assembler profit in duku marketing from Muara Enim District was higher thanduku marketing from OKI and OKU District with magnitude of Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg and Rp 66,55/kg,respectively. The agents profit at Kramat Jati Central Market in duku marketing from Muara Enim was higher thanfrom OKU and OKI District with magnitude of Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg and Rp 919,33/kg, respectively. Theretailers profit in duku marketing from OKI District was higher than from OKU and Muara Enim District withmagnitude of Rp 825,55; Rp 775,55/kg and Rp 675,55/kg, respectivelyKey words: Lansium domesticum Corr, fruits performance, marketing,South SumateraPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan dan produktivitas serta pemasaran buah duku dariSumatera Selatan ke Jakarta. Dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2003. Observasi dilaksanakandi Desa Tanjung Alai Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten OKI; Desa Gunung Batu dan Rasuan, KabupatenOKU; dan Desa Ujan Mas, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muara Enim masing-masing sebanyak 20 pohonsampel, dan untuk analisis keragaan fisik buah duku masing-masing 30 buah. Survai pemasaran duku mulai daripetani, pemborong dari masing-masing kabupaten dan agen di Pasar Induk Kramat Jati serta pengecer di Jakarta. Hasilkajian menunjukkan bahwa produktivitas duku yang tertinggi diperoleh dari Desa Rasuan sebesar 208,6 kg/pohon danterendah sebesar 97,25 kg/pohon dari Desa Tanjung Alai. Jumlah biji yang paling sedikit adalah dari duku asal DesaGunung Batu sedangkan terbanyak dari Desa Ujan Mas. Keuntungan pemborong yang membawa buah duku ke PasarInduk Kramat Jati Jakarta dari Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding dari Kabupaten OKI dan KabupatenOKU, yang masing-masing sebesar Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg dan Rp 66,55/kg. Keuntungan agen di Pasar IndukKramat Jati yang memasarkan duku asal Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding duku asal Kabupaten OKUdan Kabupaten OKI, yang masing-masing sebesar Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg dan Rp 919,33/kg. Keuntungan yangdiperoleh pengecer di Jakarta yang memasarkan duku asal Kabupaten OKI lebih tinggi dibanding duku asalKabupaten OKU dan Muara Enim yang masing-masing sebesar Rp 825,55; Rp 775,55/kg dan Rp 675,55/kg.Kata kunci: duku, keragaan buah, pemasaran, Sumatera Selatan
KAJIAN KINERJA ALAT TANAM DAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN PASANG SURUT SUMATERA SELATAN Raharjo, Budi; Marpaung, Imelda S.; Hutapea, Yanter
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.725 KB)

Abstract

ABSTRACT The Performance Assessment of Planting Tools and Rice Varieties in Tidal Land of South Sumatera. Tidal swamp land has a great potential to support increasing national rice production. However, its utilization is not optimal yet because the limitation of new rice varieties and limitation of manpower and time of farmers for planting activities, and therefore the seeds were broadcasted that need more seeds. The purposes of this study were to evaluate the technical, agronomical and economical performance of planting tools on new high yielding rice varieties in tidal land. The assessment was conducted at Sumber Mulyo Village, Muara Telang Sub district, Banyuasin Regency South Sumatera in 2010/2011 rainy season using randomized complete block design with two factor treatments and three replications. The first factor were rice varieties, namely Inpara 2, Inpara 3 and Inpari 4, whereas the second factor were planting tools or seeder namely IRRI drum seeder and legowo seeder. The results showed that the highest yield was obtained by Inpari 4 with legowo tool (8.75 t/ha) while the lowest was obtained by Inpara 2 with IRRI drum seeder (7.09 t/ha). The average yield by using IRRI drum seeder was 7.66 t/ha, while that of legowo tool was 8.28 t/ha. Net income obtained by  legowo tool and IRRI drum seeder were higher than the direct seeding (farmers practices). The farm efficiency (R/C) of legowo tool, IRRI drum seeder and direct seeding were 3.33; 3.13 and 2.83 respectively.Keywords: Performance, direct seedling, tidal swamp land ABSTRAKLahan suboptimal pasang surut memiliki potensi untuk mendukung peningkatan produksi padi nasional. Namun pemanfaatannya belum optimal karena selain keterbatasan pilihan varietas padi, juga terbatasnya tenaga kerja dan waktu petani untuk penanaman, sehingga petani melakukan penanaman dengan cara tebar langsung, dengan kebutuhan benih yang cukup tinggi. Tujuan pengkajian ini ialah untuk mengevaluasi kinerja teknis, agronomis dan ekonomis cara tanam berbagai varietas padi unggul baru di lahan pasang surut. Pengkajian dilakukan di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan pada musim hujan 2010/2011 menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial (RAKF) dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah penggunaan varietas yang terdiri atas tiga macam varietas yaitu: Varietas Inpara 2, Inpara 3 dan Inpari 4, sedangkan faktor kedua yaitu penggunaan alat tanam yang terdiri dari alat tanam benih langsung (Atabela) model  IRRI “drum seeder” dan Atabela legowo. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa produktivitas gabah kering panen tertinggi diperoleh dari varietas Inpari 4 yang menggunakan Atabela legowo (8,75 t/ha), sedangkan terendah ialah varietas Inpara 2 dengan alat tanam IRRI drum seeder (7,09 t/ha). Produktivitas rata-rata dengan menggunakan alat tanam IRRI drum seeder sebesar 7,66 t/ha, sedangkan dengan Atabela legowo sebesar 8,28 t/ha. Pendapatan  bersih yang diperoleh dengan menggunakan Atabela legowo dan alat tanam IRRI drum seeder lebih tinggi dibanding cara tebar langsung yang selama ini biasa dilakukan petani. Nilai efisiensi usaha (R/C) dengan menggunakan Atabela legowo, alat tanam IRRI drum seeder dan benih tebar langsung  berturut-turut sebesar 3,33; 3,13 dan 2,83.Kata kunci: Kinerja, cara tanam benih langsung, lahan pasang surut
ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN PENANGKARAN BENIH PADI PADA TIGA AGROEKOSISTEM DI SUMATERA SELATAN Hutapea, Yanter; Suparwoto, nFN; Waluyo, nFN
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.87 KB)

Abstract

ABSTRACTComparative Analysis of Paddy Seed Breeding Income on Three Agro-Ecosystems in South Sumatera. Farmers access to the quality and quantity of seed depends on the types available and how they are available.With high production capability, the superior varieties of rice take a role in transforming the agricultural system from subsistence into commercial, which are needed in various agro-ecosystems. The aims of this research are to analyzing the factors that influence members income from seed breeding business, to analyzing income received by members in irrigation, rainfed and swamp agro-ecosystems of South Sumatra and also the seed processing units. This activity was conducted in April-November 2016. Sampling methode using Disproportinate stratified random sampling, consists of 15 farmers of Usaha Bersama farmer group in Tulus Ayu Village, OKU Timur Regency representing irrigation agro-ecosystem, 16 farmers of Widhatama seed processing unit in Lubuk Seberuk Village, OKI Regency representing rainfed agro-ecosystem and 15 farmers of Maju Bersama Agribusiness Group in Sako Village, Banyuasin Regency representing swamp agro-ecosystem. Data analysis using multiple linear regression and independent-sample T test. The result show that income of breeder of paddy member significantly influenced by productivity of  seeds candidate and irrigation dummy agroecosystem. The income of group members from rice seed breeding was elastic to the changes of the productivity of seed candidates, and inelastic to changes of production costs, wetland area managed, number of family members involved in rice farming and dummy agro-ecosystem. The highest rice seed breeding income is obtained by members in rainfed agro-ecosystem (Rp 18,949,280/ha), while the highest income of seed processing unit is obtained in swamps agro-ecosystem (Rp 10,997,560/ha). rice seed, income, agroecosystem.ABSTRAKAkses petani terhadap kualitas dan kuantitas benih tergantung pada jenis yang tersedia dan cara penyediaannya. Dengan kemampuan produksi yang tinggi, varietas unggul padi berperan dalam mengubah sistem pertanian dari subsisten menjadi komersil. Pengkajian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan anggota dari usaha penangkaran benih padi, menganalisis pendapatan yang diterima oleh anggota di agroekosistem irigasi, tadah hujan dan lebak Sumatera Selatan. Kegiatan dilakukan pada bulan April–November 2016.Penarikan contoh secara acak berlapis tak berimbang terdiri dari 15 petani di Kelompok Tani Usaha Bersama Desa Tulus Ayu Kabupaten OKU Timur mewakili Agroekosistem Irigasi, 16 petani pada Unit pengolah benih Widhatama Desa Lubuk Seberuk Kabupaten OKI mewakili Agroekosistem Tadah Hujan dan 15 petani di Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) Maju Bersama  di Desa Sako Kabupaten Banyuasin mewakili agroekosistem lebak. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan uji T (uji kesamaan dua rata-rata). Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan penangkaran padi anggota adalah produktivitas calon benih dan dummy agroekosistem irigasi. Pendapatan anggota kelompok dari penangkaran benih padi ternyata elastis terhadap perubahan produktivitas calon benih, dan tidak elastis terhadap perubahan biaya produksi, luas sawah dikelola, jumlah anggota keluarga terlibat usahatani padi dan dummy agroekosistem. Pendapatan penangkaran benih padi tertinggi diperoleh anggota di agroekosistem tadah hujan (Rp 18.949.280/ha), sedangkan pendapatan unit pengolah benih tertinggi diperoleh di agroekosistem lebak (Rp 10.997.560/ha).benih padi, pendapatan, agroekosistem. 
Distribusi Pendapatan Dan Kemiskinan Rumah Tangga Petani Di Wilayah Pasang Surut (Kasus Di Desa Saleh Mukti Kecamatan Air Salek Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan) Hutapea, Yanter; Raharjo, Budi
Jurnal Lahan Suboptimal Vol 5, No 2 (2016): JLSO
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.77 KB)

Abstract

Hutapea, et al. Income Distribution and Farmer Household Poverty in Tidal Swamp Region (Case In Saleh Mukti Village, Air Salek Sub-District, Banyuasin Regencies, Southsumatra). JLSO 5(2):159-169. The existence of farmers in tidal swamp transmigration areas have changed compare to the initial conditions, seen in tenure, farm business management and livelihoods,that’s impact of  population growth, agricultural expansion, availability of resources, regional growth and infrastructure development as well as acculturation.This assessment aimedtoanalyzethe income structure, distributionand farmer household poverty in tidal swamp region. Survey had done in Saleh Mukti Village, Air Salek sub District, Banyuasin Regency, South Sumatera Province at October 2014. Using Disproportionated Stratified Random Sampling methodebased onrice farminglandownershipwiththreestrata, namely: narrow, medium andlarge strata. Each staraconsists of 14, 20 and 16 farmer households.The results showed that the average size of agriculture land ownership in narrow, medium and large strata were 1.03; 1.47 and 2.63 harespectively. The average income of farmer households in  narrow, medium and large strata were Rp 23,360,675/year, Rp 28,973,970/year and Rp 36,158,060/year and about 18.21%, 42.40% and 34.62% get from  the off-farm income. The distribution of those farmer household income per capita categorized on unequality with Gini coefficient  0.43.Household income of farmers per capita in narrow, medium and large strata were  Rp 17,795/capita/year, Rp 30,625/capita/year and  Rp 26,370/capita/year respectively. The percentageof poorhouseholdsin narrow, medium and largestrata were85.71%; 70% and75% respectively.Althoughpovertycan not becompletelyeliminated, butat leastthere areeffortsthat can be usedtoovercome it with community empowerment through: humanempowerment, businessempowermentandenvironment/infrastructure empowerment.
ADAPTASI VARIETAS UNGGUL DAN USAHATANI JAGUNG DI SELA TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN DI PROVINSI SUMATERA SELATAN Suparwoto, Suparwoto; Juwita, Yuana; Hutapea, Yanter
SOCA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol.13, No.2, Agustus 2019
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jalan PB.Sudirman Denpasar, Bali, Indonesia. Telp: (0361) 223544 Email: soca@unud.ac.id

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah telah mencanangkan untuk berswasembada jagung. Provinsi Sumatera Selatan dengan kekayaan sumberdaya alamnya berpeluang untuk mewujudkan sumbangsihnya, melalui ketersediaan lahan pada tanaman karet belum menghasilkan yang dapat ditanami jagung. Kajian ini bertujuan mengetahui adaptasi varietas dan usahatani tanaman jagung di sela tanaman karet yang belum menghasilkan. Kegiatan ini dilaksanakan di lokasi perkebunan karet rakyat belum menghasilkan dengan umur 2 tahun di Kelurahan Betung Kecamatan Betung Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan dimulai bulan April sampai September (MK) 2018. Pengkajian dilaksanakan dalam bentuk On Farm Research (OFR) di kebun karet yang belum menghasilkan umur 2 tahun yang berjarak tanam 5 x 3,5 m. Dimana jarak barisan tanaman karet 5 m dan jarak dalam barisan karet 3,5 m. Perlakuan 5 varietas jagung yaitu Bima-10, Bima-19, Pioner-21 dan Bisi-18 dan Sukmaraga. Luas petakan tiap perlakuan 4 gawang karet (20 m x 20 m). Jarak antar plot 1 gawangan karet (5 m) dan jarak ulangan 1 m. Setiap perlakuan diulang 4 kali. Rancangan yang digunakan rancangan acak kelompok (RAK). Hasil menunjukkan bahwa Varietas jagung Pioneer-21 mempunyai postur tinggi tanaman tertinggi yaitu 142,7 cm dan jumlah daun 9,9 helai sedangkan terrendah Bima 10 yaitu 137,9 cm dengan jumlah daun 9,4 helai. Produksi pipilan kering tertinggi tanaman jagung dihasilkan oleh BISI-18 sebesar 4,1 ton/ha tanaman karet, sedangkan produksi terendah 2,2 ton/ha tanaman karet dari jagung Bima-19. Varietas jagung BISI-18, Bima-10, Pioneer-21 dan Sukmaraga dapat beradaptasi pada tanaman karet umur di bawah 2 tahun setelah tanam dengan produksi berkisar 3,2-4,1 ton pipilan kering/ha tanaman karet dan usahatani dengan menggunakan keempat varietas ini layak dikembangkan dengan nilai R/C 2,46-3,03. Dengan pendapatan bersihnya Rp 9.520.000 - Rp 13.745.000/ha tanaman karet dapat menutupi biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga mampu untuk memulai kembali usaha sejenis.