Sahala Hutabarat
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 23 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search
Journal : Journal of Management of Aquatic Resources

ANALISA SEBARAN SPASIAL IKAN CUCUT (Ordo Rajiformes) BERDASARKAN VARIASI KEDALAMAN DI PERAIRAN LAUT JAWA Fakhrurrizal, Richan; Hutabarat, Sahala; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.537 KB)

Abstract

Ikan cucut atau hiu termasuk dalam kategori ikan-ikan bertulang rawan (elasmobranchii). Cucut merupakan ikan demersal sehingga perlu diketahui kedalaman suatu perairan untuk mengetahui habitatnya. Kedalaman tersebut dapat diketahui dengan menggunakan penginderaan jauh. Penginderaan jauh merupakan suatu cara pengamatan objek tanpa menyentuh objek secara langsung. Tujuan penelitian adalah mengetahui perkembangan hasil tangkapan cucut, sebaran kedalaman di laut Jawa, dan hubungan antara sebaran kedalaman dengan hasil tangkapan cucut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksploratif. Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Pertimbangan pengambilan data didasarkan pada hasil wawancara dengan nelayan setempat dan ketersediaan data produksi hasil tangkapan cucut yang dilengkapi titik koordinat lokasi penangkapan dari PPN Kejawanan pada tahun 2011 – 2012 adalah yang paling memadai, serta dilakukan pula analisa kedalaman yang berasal dari data batimetri laut Jawa. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi antara kedalaman dengan hasil tangkapan cucut untuk mengetahui hubungan sebaran spasial ikan cucut dengan variasi kedalaman, didukung dengan studi pustaka tentang habitat ikan cucut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan Cucut Junjunan (Rhynchobatus djiddensis) tertinggi didapatkan pada musim barat tahun 2011 dengan total hasil tangkapan 7440 kg, sedangkan tangkapan Cucut Depo (Rhinobatos schegelii) tertinggi didapatkan pada musim timur tahun 2011 dengan total hasil tangkapan 7383 kg. Variasi kedalaman di laut Jawa yang menunjukkan daerah penangkapan cucut pada musim timur berkisar antara 11 – 167 m, dengan kedalaman rata-rata 80 m pada daerah penangkapan cucut Depo. Kedalaman pada musim barat berkisar antara 14 – 134 m, dengan kedalaman rata-rata 50 m pada daerah penangkapan cucut Junjunan. Secara umum nilai koefisien korelasi (r) setiap jenis cucut yang didapat pada musim timur maupun musim barat adalah ≤ 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa hubungannya rendah (tidak erat) yang berarti terdapat sedikit pengaruh kedalaman terhadap hasil tangkapan cucut di laut Jawa.
STUDI ANALISA PLANKTON UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN DI MUARA SUNGAI BABON SEMARANG Cahyaningtyas, Ina; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.348 KB)

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon merupakan salah satu DAS yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistm khususnya wilayah Semarang dan sekitarnya. Plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan sungai. Perairan sungai Babon secara nyata telah menerima limbah yang berasal dari kegiatan industri yang berada di sekitar sungai Babon dan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (domestik). Keadaan ini diduga menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan muara Sungai Babon. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana tingkat pencemaran di muara Sungai Babon. Pengamatan dilakukan berdasarkan analisis SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks) untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran yang terjadi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fitoplankton dan zooplankton yang berada di muara Sungai Babon berikut parameter fisika dan kimia. Kelimpahan fitoplankton  di muara Sungai Babon adalah 10.765 – 13.777 ind/L dengan 19 - 24 genera. Kelimpahan zooplankton adalah 218-241 Ind/m3 dengan 9 genera. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,07 - 0,34 dan nilai Tropik Saprobik Indeks berkisar (-0,73) – (-0,98) kualitas perairan muara sungai Babon selama penelitian termasuk dalam tingkat α-Mesosaprobik atau dalam kondisi tercemar sedang hingga berat.
SEBARAN SPASIAL CUMI-CUMI (Loligo Spp.) DENGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a DATA SATELIT MODIS AQUA DI SELAT KARIMATA HINGGA LAUT JAWA Prasetyo, Budhi Agung; Hartoko, Agus; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.907 KB)

Abstract

Dengan mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar, kegiatan penangkapan menjadi lebih efektif. Tujuan penelitian adalah mengetahui sebaran spasial cumi-cumi per-musim pada tahun 2011 hingga 2012, mengetahui sebaran spasial parameter oseanografi  dan mengetahui korelasi antara parameter oseanografi dengan sebaran spasial cumi-cumi. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit MODIS Aqua dan data sekunder lapangan yaitu data hasil tangkapan cumi-cumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan cumi-cumi pada tahun 2011 - 2012 lebih banyak tertangkap pada musim peralihan II hingga musim barat (September-Desember) dengan nilai rata-rata hasil tangkapan setiap tahun sebesar 88 Ton dan 189 Ton. Sebaran penangkapan cumi-cumi banyak terjadi di bagian barat Laut Jawa hingga Selat Karimata. Sebaran suhu permukaan laut pada tahun 2011 musim barat lebih tinggi (24,8 - 32,1oC) dibandingkan musim timur  (24,2 - 29,4oC), dan pada tahun 2012 juga musim barat lebih tinggi (20,3 - 33,4oC) dibandingkan musim timur (24,8 - 30,1oC). Sebaran Klorofil-a  tahun 2011 musim timur lebih tinggi (0,282 - 0,459 mg/L) dibandingkan musim barat (0,304 - 0,452 mg/L), dan pada tahun 2012 juga menunjukkan sebaran klorofil-a musim timur lebih tinggi (0,352 - 0,464 mg/L) dibandingkan musim barat (0,273 - 0,458 mg/L). Analisa regresi tunggal menunjukkan nilai koefisien regresi dari distribusi klorofil-a setiap tahun (r = 0,521 - 0,446) masih memiliki hubungan dengan hasil tangkapan cumi-cumi daripada suhu permukaan laut (r = 0.221 - 0,358).  Analisa regresi ganda menunjukkan nilai (r) antara sebaran suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a pada musim timur sebesar r = 0,253 dan pada musim barat sebesar r = 0,416 menunjukkan bahwa musim barat memiliki hubungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan musim timur. Hubungan tersebut karena cumi-cumi yang hidup di perairan sekitar Laut Jawa dan sekitarnya tersebar karena pengaruh arus balik musiman dari angin muson yang terjadi di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebaran oseanografi hanya berpengaruh langsung terhadap beberapa spesies cumi-cumi.
ANALISIS PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDER) DALAM PENGELOLAAN ECENG GONDOK PADA PERAIRAN RAWAPENING DI DESA ASINAN KECAMATAN BAWEN KABUPATEN SEMARANG Herdijaya, Gawang Pandu; Hutabarat, Sahala; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.384 KB)

Abstract

Keberadaan eceng gondok bukan merupakan hal baru lagi di perairan Rawapening. Berdasarkan keberadaanya, dapat dibagi dua kelompok masyarakat yang pro dan kontra terhadap populasi eceng gondok. Dari kedua kelompok di atas, apabila tidak ditemukan solusi pengelolaan yang baik dapat menimbulkan konflik antar masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan eceng gondok pada perairan Rawapening  dan menganalisis Key Persons dalam pengelolaan eceng gondok di Desa Asinan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Metode sampling  yang digunakan dalam penelitian ini adalah Snowball sampling. Sedangkan untuk analisa data menggunakan pendekatan manajemen stakeholder (pemangku kepentingan). Langkah-langkah dalam manajemen stakeholder menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process).Hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan metode manajemen stakeholder diketahui bahwa perangkat desa dan pengurus kelompok nelayan dan pembudidaya memiliki nilai tertinggi berdasarkan kriteria ukuran kuantitatif. Kedua pihak ini  yang lebih diutamakan dalam penyusunan rencana pengelolaan eceng gondok di perairan Rawapening. Berdasarkan hasil yang didapat, masyarakat Desa Asinan menginginkan diikutsertakan dalam pengelolaan dan pengawasan eceng gondok di Rawapening. Pemerintah dapat memberikan bantuan berupa dana dan peralatan untuk memudahkan pelaksanaan. Sedangkan masyarakat merupakan pelaksana kegiatan pengelolaan dan berperan sebagai pengawas harian guna menjaga kelestarian dan keindahan Rawapening.
ANALISA VARIABEL OSEANOGRAFI DATA MODIS TERHADAP SEBARAN TEMPORAL TENGGIRI (Scomberomorus commersoni, Lacépède 1800) DI SEKITAR SELAT KARIMATA Masturah, Hanifati; Hutabarat, Sahala; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.551 KB)

Abstract

Tenggiri merupakan organisme yang bersifat poikiloterm yaitu suhu tubuh ikan sesuai dengan suhu perairan. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif dan pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan adalah data hasil tangkapan Tenggiri, data suhu permukaan laut dan data klorofil-a dari satelit MODIS Januari 2011 – Mei 2013. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2013 di PPN Kejawanan Cirebon dan Laboratorium Inderaja dan SIG Perikanan Jurusan Perikanan Universitas Diponegoro. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa suhu permukaan laut dan klorofil-a berhubungan cukup erat dengan sebaran temporal Tenggiri. Analisis korelasi ganda menunjukkan bahwa Tenggiri, pada musim barat tahun 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.85, musim barat tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.70 dan pada musim timur 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.80, musim timur tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.86. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan Tenggiri tinggi pada musim timur (April-Mei-Juni). Analisis korelasi tunggal dan ganda antara suhu permukaan laut dan klorofil-a dengan hasil tangkapan tenggiri menunjukkan hubungan yang cukup tinggi. Mackerel is one of poikilothermic fish, where their body temperature is affected by its surrounding temperature. The research use explorative method to find the correlation of two or more variables. Sampling method use purposive sampling. Data used in the research are Mackerel catch, sea surface temperature and chlorophyll-a from the MODIS satellite data January 2011- May 2013. This research was held for May-June 2013 in PPN Kejawanan Cirebon and The Laboratory SIG Fishery Department Fisheries Diponegoro University. The research reveals that sea surface temperature and chllorophyl-a good correlation with temporal distribution of Mackerel. Statistic analysis showed that Mackerel, multiple correlation on west season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.85 and in the west season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.70 and in the east season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.80 and the east season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.86. A conclusion from this research that the catch of Mackerel high on east season (April-Mei-Juni), Analysis single and multiple correlation between sea surface temperature and chllorophyl-a with the catch of Mackerel showed the correlation which is quite high.
STUDI PENGARUHNYA DETERJEN TERHADAP KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR SEMARANG Swary, Amalia; Hutabarat, Sahala; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.617 KB)

Abstract

Sungai Banjir Kanal Timur merupakan sungai yang terletak di daerah Semarang Timur. Sepanjang aliran sungai terdapat pemukiman warga setempat, perikanan, dan kawasan industri. Deterjen adalah pembersih sintesis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi dan mengandung  bahan-bahan kimia antara lain surfaktan, builder, filler, dan additives. Surfaktan mempunyai perbedaan yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Fitoplankton merupakan organisme yang hidup di perairan berukuran sangat kecil dan dapat menguntungkan bagi organisme lainya serta sebagai produser utama di dalam  rantai makanan yang ada di perairan. Tujuan penelitian untuk mengetahui konsentrasi deterjen, kelimpahan, indeks keanekaragamaan, keseragamaan, serta dominasi fitoplankton dan saprobik indeks, pengaruh konsentrasi deterjen terhadap fitoplankton di Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode penelitian survey. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Konsentrasi deterjen  tertingi sebesar 7,67 mg/L, kelimpahan fitoplankton sebesar 1405 ind/L dengan 13 genera, keanekaragaman sebesar 2,61, keseragaman sebesar 1 serta dominasi fitoplankton sebesar 0,13 dan yang mendominasi adalah Euglena sp. dari kelas Euglenoidea dan Indeks Saprobitas sebesar -0,42 dan Trofik Saprobik Indeks sebesar -0,10. Perairan tersebut termasuk dalam golongan α-Mesosaprobik/perairan cukup berat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara konsentrasi deterjen dengan kelimpahan fitoplankton menunjukkan korelasi yang erat sekali (r) 0,963. Nilai R2 (determinasi) 0,927 dengan tingkat keeratan sebesar 92,7 % . Banjir Kanal Timur River is located in east part of Semarang. Along the river there are local residents, fisheries activity and industrial area. Detergent is sintetic cleaning which made from derivated of oil and containing chemical material such as surfactan, builder, filler, and additives. There are 2 kind of surfactan, hydrophile dan hydrophobe. Phytoplankton is small organism living in the waters dan favorable to others organism, phytoplankton is main producer in waters food chain. This purpose research are to know detergent concentration, phytoplankton abundance, diversity, eveness, domination and saprobic indexs, and the influence of detergent the living of  phytoplakton in Banjir Kanal Tmur River Semarang. This methode research used survey research and to colect the samples/datas used purposive sampling methode. The highest concentration detergent is 7.67 mg/L and phytoplankton abundance  is 1405 ind/L with 13 genera. This research showed that diversity is 2,61, eveness is 1 and the domination is 0.13, dominated by Euglena sp. from class of Euglenoidea. This research also show that Saprobic index is -0.42 and trophic saprobic index is -0.10, this mean that Banjir Kanal Timur River is clasified of α-Mesosaprobik waters or the river is in high contamination. This result show that there is high corelation between detergent consentration and phytoplankton abundance with (r) value is 0.963, (R2) determination value is 0.927 and precentage is 92.7%.
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PADANG LAMUN DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Sari, Amalia Nurtirta; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.214 KB)

Abstract

Perubahan yang terjadi dalam perairan sebagai akibat dari adanya beban masukan yang ada akan menyebabkan perubahan pada komposisi, kelimpahan, dan distribusi dari komunitas plankton. Maka dari itu, keberadaan plankton dapat dijadikan sebagai indikator perairan karena sifat hidupnya yang relatif menetap, jangka hidup yang relatif panjang dan mempunyai toleransi spesifik pada lingkungan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas perairan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara, menganalisa kelimpahan, dan mengetahui jenis fitoplankton dan zooplankton yang mendominasi dan mengetahui nilai tropik saprobik indeks dengan menggunakan fitoplankton dan zooplankton sebagai indikator. Untuk teknik pengambilan plankton dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sampel. Pengambilan sampel dimaksud dengan mengambil data hanya sebagian dari populasi yang nantinya diharapkan dapat menggambarkan sifat populasi dari obyek penelitian. Pengambilan sampel plankton dilaksanakan dengan menggunakan metode sampling aktif dengan plankton net. Jenis fitoplankton yang ditemukan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara terdiri dari kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae dan Dinophyceae serta terdiri dari 31 genera. Jenis zooplankton terdiri dari filum Arthropoda, filum Mollusca, filum Protochordata, dan filum Annelida serta terdiri dari 25 genera. Jenis fitoplankton yang paling sering mendominasi terdapat pada genus Nithzschia sp. Pada zooplankton, jenis yang paling sering mendominasi ialah Calanus sp. Hal ini menjadikan Nithzschia sp. dan Calanus sp. berperan cukup tinggi dalam menjaga keberlangsungan ekosistem perairan di lokasi ini. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,6 – 1,07 dan nilai Tropik Saprobik  Indeks (TSI) berkisar 1,1 – 2,3 hal ini menunjukkan bahwa kualitas perairan di areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara dikategorikan dalam tingkat saprobitas β-Mesosaprobik yaitu tercemar ringan sampai sedang. The changes which happened in water is a result of the debit, it makes the change in composition, abundance, distribution and community of plankton. Thus, presence of plankton can be a water indicator because its life character relatively settled, long life terms and also has a specific toleration to the environment. The purposes of the research are to know the condition of water quality on lamun area of Pulau Panjang Jepara, analyzing abundance, and find out fitoplankton and zooplankton kinds and dominate and find out tropic saprobic index value, using fitoplankton and zooplankton as an indicator. Whereas, sample research method was used as the retrieval technique for plankton in this research. Taking a sample has a purpose by taking a half parts from the population which later can be an example of population character from object of research. Sample retrieval use an active sampling method with plankton net.This plankton type which found on lamun area Pulau Panjang beach in Jepara consist of class from Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae and Dinophyceae also consist of 31 genera. Zooplankton types consist of fillum Arthropoda, fillum Mollusca, fillum Protochordata, and fillum Annelida also consist of 25 genera. Fitoplankton type which mostly dominating is a kind of genus Nithzschia sp. On zooplankton, a type which mostly dominated is Calanus sp. This case make  Nithzschia sp. and Calanus sp. has an important role in keeping sustainability environment of water in this location. Based on the abundance of plankton, then we can get the Saprobic Index value (SI) on range 0,6 – 1,07 and Tropic Saprobic  Index (TSI) on range 1,1 – 2,3. This case show that the water quality in lamun area on Pulau Panjang Jepara, categorized in saprobitas β-Mesosaprobik stages is contaminated in middle stage and light.
PENGARUH LIMBAH CAIR TAHU TERHADAP KELIMPAHAN MAKROBENTHOS DI SUNGAI ELO MAGELANG Wulandari, Angela Herma Gita Retno; Hutabarat, Sahala; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.013 KB)

Abstract

Sungai Elo digunakan sebagai salah satu lokasi pembuangan limbah cair tahu, diduga telah mengalami penurunan kualitas perairan. Adanya masukan polutan seperti bahan organik dari limbah cair tahu yang berlebih akan menyebabkan pencemaran dan akan berdampak pada kehidupan makrobenthos. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh limbah cair tahu terhadap kelimpahan makrobenthos, mengetahui kondisi perairan yang ditimbulkan oleh buangan limbah cair tahu berdasarkan bio-indikator makrobenthos, dan mengetahui korelasi antara kelimpahan makrobenthos dengan bahan organik di Sungai Elo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2013 – Januari 2014 di Sungai Elo Magelang. Penelitian ini dilakukan pada 3 stasiun. Materi penelitian adalah makrobenthos dan bahan organik yang terdapat di Sungai Elo. Metode yang digunakan adalah metode survei dan metode deskriptif. Makrobenthos yang diperoleh selama penelitian di Sungai Elo terdiri dari 6 kelas yaitu Oligochaeta 2 genus, Polychaeta 1 genus, Clitellata 1 genus, Hexapoda 1 genus, Gastropoda 3 genus, dan Bivalvia 1 genus. Genus yang paling banyak ditemukan Melanoides sp. (144,38%), Tubifex sp. (53,30%), dan Elimia sp. (49,21%). Kelimpahan makrobenthos terbesar terdapat pada stasiun II sebesar 1284 ind/m3 dan terendah terdapat pada stasiun I sebesar 327 ind/m3. Kandungan bahan organik berkisar antara 5,63 – 17,67 mg/l termasuk dalam kategori sedang-tinggi. Nilai Saprobik Indeks (SI) dalam analisa Saprobitas adalah -3 yang berarti perairan tercemar berat. Hasil uji korelasi regresi antara kelimpahan makrobenthos dengan kandungan bahan organik diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,678. Koefisien korelasi (r) sebesar 0,823 dengan nilai koefisien 0,7 < r ≤ 0,9 yang menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut cukup kuat. Elo River was used as a location dismissal of Soybean Liquid Waste, has assumed been degradation of water quality. The existence of polutan like organic materials from soybean liquid waste will be contain and be affect to longlife of macrobenthos. The aim was to identify structure of macrobenthos community, the impact of soybean liquid waste based on macrobenthos bio-indicator, and corelation between macrobenthos abundance and organic materials in Elo River. The research was implemented on December 2013 - Januari 2014 in 3 location stations. The materials were organic materials and macrobenthos. The Method were Survey and Descriptive Method. The result was macrobenthos have been obtained consist of 6 classes, these were Oligochaeta (2 genus), Polychaeta (1 genus), Clitellata (1 genus), Hexapoda (1 genus), Gastropoda (3 genus), and Bivalve (1 genus). The most species founded was Melanoides sp. (144,38%), Tubifex sp. (53,30%), and Elimia sp. (49,21%). The biggest of macrobenthos abundance in station II, meanwhile the lowest of macrobenthos abundance in station I. Diversity index value all of stations ranging from 0,5 – 1,5. Content of organic material ranging from 5,63 – 17,67 mg/l include in moderate category. The value of saprobic index was -3, mean Elo River`s water wich high polutan. Result of regression test among macrobenthos abundance with content of organic material in Elo River obtained determination coefficient value (R2) was 0,678. Coefficient Corellation (r) was 0,823 with value of coefficient 0,7 < r ≤ 0,9 that sound was relationship among two variable strength enough.
DISTRIBUSI FITOPLANKTON BERDASARKAN WAKTU DAN KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN KECIL KARIMUNJAWA Siregar, Legina Lourenta; Hutabarat, Sahala; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.151 KB)

Abstract

Fitoplankton merupakan organisme laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut yang memegang peranan penting sebagai produsen primer. Distribusi plankton di perairan bervariasi dipengaruhi kedalaman, hal ini dipengaruhi oleh jumlah cahaya yang diterima fitoplankton untuk kegiatan fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan fitoplankton berdasarkan waktu dan kedalaman yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Hasil menunjukkan bahwa ada 20 genera fitoplanktondan ditemukan Nitzschia sp. pada setiap pengambilan sampel. Kelimpahan fitoplankton berdasarkan waktu diperoleh korelasi 0,715 bersifat positif dan 0,470 bersifat negatif, sedangkan kelimpahan fitoplankton berdasarkan kedalaman diperoleh korelasi sebesar 0,928 bersifat negatif dan 0,898 bersifat negatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perairan pulau Menjangan Kecil memiliki komunitas sedang dan tidak ada spesies yang mendominasi. Kelimpahan fitoplankton akan mengalami peningkatan pada saat siang hari dan menurun pada waktu sore hari, sedangkan kelimpahan fitoplankton akan mengalami penurunan pada setiap kedalaman. Phytoplankton is marine organism that drifts and floats freely in the sea having an important role as primary producers. Distributions of plankton in the water vary influenced by the depth; it is influenced by the amount of light received by Phytoplankton for photosynthesis. This study aimed to determine the composition and the abundance of phytoplankton based on different time and depths. Descriptive method was used by doing a case study approach in this study. The results consist of 20 genera of phytoplankton and Nitzschia sp. was found in each sampling. Phytoplankton abundances based on time obtained positive correlation of 0.715 and 0.470 were negative, while the abundance of phytoplankton based on the depth obtained negative correlation of 0.928 and 0.898 were negative. Based on the results of this study, it is concluded that The Menjangan Kecil Island waters has moderate communities and no species dominated. Phytoplankton abundance increased during the day and decreases in the afternoon, while the abundance of phytoplankton decrease at each depth. 
PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP PENETASAN KISTA Artemia salina SKALA LABORATORIUM Bahari, Muhammad Cholid; Suprapto, Djoko; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.022 KB)

Abstract

Artemia memiliki nutrisi yang sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan crustacea untuk dapat tumbuh lebih cepat. Nilai nutrisinya didapatkan dari kandungan protein Artemia yang mencapai 60% pada Artemia dewasa. Suhu dan salinitas merupakan salah satu faktor fisik yang paling penting dalam kehidupan laut dan organisme air. terdapat hubungan yang kompleks antara dua faktor, dimana suhu dapat memodifikasi efek salinitas, sehingga mengubah batas toleransi salinitas dari suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah Hatching percentage serta Hatching effisiency pada tetasan kista Artemia pada suhu dan salinitas media yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014 di laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Suhu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 28 0C dan 32 0C, sedangkan salinitas yang digunakan adalah 15‰, 20‰, 25‰, 30‰ dan 35‰. Selama penelitian dilakukuan pengambilan sampel pada 15 jam pertama dan 3 jam berikutnya hingga 36 jam, serta dilakukan perhitungan Hatching percentage serta Hatching effisiency. Hasil penelitian didapatkan kombinasi suhu dan salinitas terbaik untuk media penetasan adalah dengan menggunakan suhu 280C dan salinitas 35‰ dengan hasil Hatching percentage, Hatching effisiency sebanyak 229.166 naupli 76,73%. Berdasarkan Uji Anova dua arah, rata-rata penetasan kista Artemia berbeda dan dipengaruhi oleh suhu dan salinitas. Artemia has a very high nutrition and appropriate to be the food of fish larval and crustaceans to grow quick. The nutrition value obtained from the content of a protein Artemia to reach 60% in adult Artemia. Temperature and salinity are the most important physical factors in marine life and organism.There is a complex relationship between the two factors, where the temperature can modify the effect of salinity, thus changing the salinity tolerance limits of an organism, while salinity can modify the effects of the temperature. The purpose of this study were to determine Hatching Percentage and Hatching Effisiency of Artemia cysts at different temperature and salinity levels. This study was conducted in May 2014 in the laboratory of Fisheries Resources Management and Environment, Faculty of Fisheries and Marine Sciences Diponegoro University. The temperature used in this study were 280C and 320C, while the salinity used were 15 ‰, 20 ‰, 25 ‰, 30 ‰, and 35 ‰. During the study, sample were taken in the first steps in 15 hour in continued after at 3 hours and 36 hours consequently, the hatching percentage and hachting efficiency was calculated. The results showed the best combination of temperature and salinity for hatching was 280C temperature and salinity of 35‰ with results of 76.73% and the Hatching efficiency as naupli 229,166. Based on two-way ANOVA test, the Artemia cysts average hatching differ significantly and influenced by temperature and salinity