Sahala Hutabarat
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 23 Documents
Articles

Found 23 Documents
Search

Causitive Agent Vibriosis dari Ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis) Bermulut Merah : 1. Patogenitas pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Sarjito, Sarjito; Radjasa, Ocky Karna; Hutabarat, Sahala; Prayitno, Slamet B
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1437.319 KB)

Abstract

The research aims were to find out the causative agent vibriosis of Cromileptis altivelis  having clinical symptom red mouth and its pathogenecity to Epinephelus fuscoguttatus.   Seven isolats Vibrio were isolated from wound and kidney of  C.  Altivelis.  The result of Koch postulate indicated that five vibrios as a causative agent of vibriosis, consisted of three vibrios (isolat JT 07,   JT 10, JT 20) and  two vibrios (isolat JT 4,  JT 29) caused  mortality of 100% and 40% on E. fuscogutatus respectively.  Three isolat vibrios ( JT 7,   JT 10, JT 20 ) with higher pathogenicity were continued to futher investigation.  Mean time to death of  V. fuscus (JT 07), V. alginolyticus and V. anguillarum, to E. fuscogutatus  on concentration of 108 CFU/mL  were 83,33%  (11,25 hours); 79,16%(15,63 hours); dan 50% (20,5 hours) respectively; whereas  on concentration of 109 CFU/mL were 95,83% (10,8 hours); 87,5%(15,28 hours); dan 62,5% (19,6 hours) respectively. Lethal Concentration Median (LC50) of V. Fuscus, V. alginolyticus,  V. anguillarum were  3,2X107 CFU/mL; 4,8 X 108 CFU/mL; dan 2,24X108 CFU/mL. All isolates on concentration of 106 dan 107 CFU/mL did not cause 50%  tested fish mortality Key words : Causative agent, Vibriosis, E. Fuscogutatus,  V. parahaemolyticus, Pathogenicity Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji causative agent  vibriosis pada ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis) dengan gejala klinis mulut merah serta patogenisitasnya terhadap ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus).  Tujuh  isolat Vibrio berhasil diisolasi dari bagian luka dan ginjal Kerapu Bebek Mulut Merah.  Hasil uji postulat koch memperlihatkan lima isolat dimana isolat  JT 07,   JT 10, JT 20 dapat mengakibatkan kematian 100%, sedangkan isolat  JT 04 dan JT 29 menyebabkan kematian 40%. Pada tiga isolat (Vibrio JT 07, JT 10 dan JT 20) yang memperlihatkan patogenitas yang lebih tinggi dilakukan uji lanjutan.  Hasil karakterisasi melalui uji morfologi dan biokimia diperoleh bahwa isolat JT 07 memiliki kemiripan 96,15 % dengan Vibrio fuscus;  JT 10 memiliki kemiripan 100% dengan Vibrio anguillarum dan JT 20 memiliki kemiripan 100% dengan Vibrio alginolyticus. Patogenisitas ketiga isolat vibrio tersebut secara berurutan adalah V. fuscus, V. alginolyticus,  V. anguillarum, dimana diperoleh bahwa  persentase kematian dan rerata waktu kematian (Mean Time to Death, MTD) pada penyuntikan intraperitoneal V. fuscus (JT 07), V. alginolyticus (JT 20) dan V. anguillarum (JT 10) dengan konsentrasi 108 CFU/mL adalah berturut-turut 83,33%  (11,25 jam); 79,16% (15,63 jam); dan 50% (20,5 jam); sedangkan untuk konsentrasi 109 CFU/mL secara berurutan adalah 95,83% (10,8 jam); 87,5% (15,28 jam); dan 62,5% (19,6 jam). Lethal Concentration Median (LC50) V. fuscus,  V.  alginolyticus,  V.  anguillarum secara berurutan adalah  sebesar  3,2X107 CFU/mL; 4,8 X 108 CFU/mL; dan 2,24X108 CFU/mL.  Sedang pada konsentrasi 106 dan 107 CFU/mL semua isolat tidak menimbulkan kematian pada ikan uji.  Hasil ini menunjukkan bahwa tiga causative agent tersebut bersifat patogen pada ikan kerapu. Kata kunci:  Causative agent, Vibriosis, E. fuscogutatus V. parahaemolyticus, Patogenisitas
ANALISA SEBARAN SPASIAL IKAN CUCUT (Ordo Rajiformes) BERDASARKAN VARIASI KEDALAMAN DI PERAIRAN LAUT JAWA Fakhrurrizal, Richan; Hutabarat, Sahala; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan cucut atau hiu termasuk dalam kategori ikan-ikan bertulang rawan (elasmobranchii). Cucut merupakan ikan demersal sehingga perlu diketahui kedalaman suatu perairan untuk mengetahui habitatnya. Kedalaman tersebut dapat diketahui dengan menggunakan penginderaan jauh. Penginderaan jauh merupakan suatu cara pengamatan objek tanpa menyentuh objek secara langsung. Tujuan penelitian adalah mengetahui perkembangan hasil tangkapan cucut, sebaran kedalaman di laut Jawa, dan hubungan antara sebaran kedalaman dengan hasil tangkapan cucut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksploratif. Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Pertimbangan pengambilan data didasarkan pada hasil wawancara dengan nelayan setempat dan ketersediaan data produksi hasil tangkapan cucut yang dilengkapi titik koordinat lokasi penangkapan dari PPN Kejawanan pada tahun 2011 – 2012 adalah yang paling memadai, serta dilakukan pula analisa kedalaman yang berasal dari data batimetri laut Jawa. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi antara kedalaman dengan hasil tangkapan cucut untuk mengetahui hubungan sebaran spasial ikan cucut dengan variasi kedalaman, didukung dengan studi pustaka tentang habitat ikan cucut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan Cucut Junjunan (Rhynchobatus djiddensis) tertinggi didapatkan pada musim barat tahun 2011 dengan total hasil tangkapan 7440 kg, sedangkan tangkapan Cucut Depo (Rhinobatos schegelii) tertinggi didapatkan pada musim timur tahun 2011 dengan total hasil tangkapan 7383 kg. Variasi kedalaman di laut Jawa yang menunjukkan daerah penangkapan cucut pada musim timur berkisar antara 11 – 167 m, dengan kedalaman rata-rata 80 m pada daerah penangkapan cucut Depo. Kedalaman pada musim barat berkisar antara 14 – 134 m, dengan kedalaman rata-rata 50 m pada daerah penangkapan cucut Junjunan. Secara umum nilai koefisien korelasi (r) setiap jenis cucut yang didapat pada musim timur maupun musim barat adalah ≤ 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa hubungannya rendah (tidak erat) yang berarti terdapat sedikit pengaruh kedalaman terhadap hasil tangkapan cucut di laut Jawa.
STUDI ANALISA PLANKTON UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN DI MUARA SUNGAI BABON SEMARANG Cahyaningtyas, Ina; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon merupakan salah satu DAS yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistm khususnya wilayah Semarang dan sekitarnya. Plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan sungai. Perairan sungai Babon secara nyata telah menerima limbah yang berasal dari kegiatan industri yang berada di sekitar sungai Babon dan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (domestik). Keadaan ini diduga menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan muara Sungai Babon. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana tingkat pencemaran di muara Sungai Babon. Pengamatan dilakukan berdasarkan analisis SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks) untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran yang terjadi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fitoplankton dan zooplankton yang berada di muara Sungai Babon berikut parameter fisika dan kimia. Kelimpahan fitoplankton  di muara Sungai Babon adalah 10.765 – 13.777 ind/L dengan 19 - 24 genera. Kelimpahan zooplankton adalah 218-241 Ind/m3 dengan 9 genera. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,07 - 0,34 dan nilai Tropik Saprobik Indeks berkisar (-0,73) – (-0,98) kualitas perairan muara sungai Babon selama penelitian termasuk dalam tingkat α-Mesosaprobik atau dalam kondisi tercemar sedang hingga berat.
SEBARAN SPASIAL CUMI-CUMI (Loligo Spp.) DENGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a DATA SATELIT MODIS AQUA DI SELAT KARIMATA HINGGA LAUT JAWA Prasetyo, Budhi Agung; Hartoko, Agus; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar, kegiatan penangkapan menjadi lebih efektif. Tujuan penelitian adalah mengetahui sebaran spasial cumi-cumi per-musim pada tahun 2011 hingga 2012, mengetahui sebaran spasial parameter oseanografi  dan mengetahui korelasi antara parameter oseanografi dengan sebaran spasial cumi-cumi. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit MODIS Aqua dan data sekunder lapangan yaitu data hasil tangkapan cumi-cumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan cumi-cumi pada tahun 2011 - 2012 lebih banyak tertangkap pada musim peralihan II hingga musim barat (September-Desember) dengan nilai rata-rata hasil tangkapan setiap tahun sebesar 88 Ton dan 189 Ton. Sebaran penangkapan cumi-cumi banyak terjadi di bagian barat Laut Jawa hingga Selat Karimata. Sebaran suhu permukaan laut pada tahun 2011 musim barat lebih tinggi (24,8 - 32,1oC) dibandingkan musim timur  (24,2 - 29,4oC), dan pada tahun 2012 juga musim barat lebih tinggi (20,3 - 33,4oC) dibandingkan musim timur (24,8 - 30,1oC). Sebaran Klorofil-a  tahun 2011 musim timur lebih tinggi (0,282 - 0,459 mg/L) dibandingkan musim barat (0,304 - 0,452 mg/L), dan pada tahun 2012 juga menunjukkan sebaran klorofil-a musim timur lebih tinggi (0,352 - 0,464 mg/L) dibandingkan musim barat (0,273 - 0,458 mg/L). Analisa regresi tunggal menunjukkan nilai koefisien regresi dari distribusi klorofil-a setiap tahun (r = 0,521 - 0,446) masih memiliki hubungan dengan hasil tangkapan cumi-cumi daripada suhu permukaan laut (r = 0.221 - 0,358).  Analisa regresi ganda menunjukkan nilai (r) antara sebaran suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a pada musim timur sebesar r = 0,253 dan pada musim barat sebesar r = 0,416 menunjukkan bahwa musim barat memiliki hubungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan musim timur. Hubungan tersebut karena cumi-cumi yang hidup di perairan sekitar Laut Jawa dan sekitarnya tersebar karena pengaruh arus balik musiman dari angin muson yang terjadi di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebaran oseanografi hanya berpengaruh langsung terhadap beberapa spesies cumi-cumi.
ANALISIS PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDER) DALAM PENGELOLAAN ECENG GONDOK PADA PERAIRAN RAWAPENING DI DESA ASINAN KECAMATAN BAWEN KABUPATEN SEMARANG Herdijaya, Gawang Pandu; Hutabarat, Sahala; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan eceng gondok bukan merupakan hal baru lagi di perairan Rawapening. Berdasarkan keberadaanya, dapat dibagi dua kelompok masyarakat yang pro dan kontra terhadap populasi eceng gondok. Dari kedua kelompok di atas, apabila tidak ditemukan solusi pengelolaan yang baik dapat menimbulkan konflik antar masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan eceng gondok pada perairan Rawapening  dan menganalisis Key Persons dalam pengelolaan eceng gondok di Desa Asinan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Metode sampling  yang digunakan dalam penelitian ini adalah Snowball sampling. Sedangkan untuk analisa data menggunakan pendekatan manajemen stakeholder (pemangku kepentingan). Langkah-langkah dalam manajemen stakeholder menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process).Hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan metode manajemen stakeholder diketahui bahwa perangkat desa dan pengurus kelompok nelayan dan pembudidaya memiliki nilai tertinggi berdasarkan kriteria ukuran kuantitatif. Kedua pihak ini  yang lebih diutamakan dalam penyusunan rencana pengelolaan eceng gondok di perairan Rawapening. Berdasarkan hasil yang didapat, masyarakat Desa Asinan menginginkan diikutsertakan dalam pengelolaan dan pengawasan eceng gondok di Rawapening. Pemerintah dapat memberikan bantuan berupa dana dan peralatan untuk memudahkan pelaksanaan. Sedangkan masyarakat merupakan pelaksana kegiatan pengelolaan dan berperan sebagai pengawas harian guna menjaga kelestarian dan keindahan Rawapening.
ANALISA VARIABEL OSEANOGRAFI DATA MODIS TERHADAP SEBARAN TEMPORAL TENGGIRI (Scomberomorus commersoni, Lacépède 1800) DI SEKITAR SELAT KARIMATA Masturah, Hanifati; Hutabarat, Sahala; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tenggiri merupakan organisme yang bersifat poikiloterm yaitu suhu tubuh ikan sesuai dengan suhu perairan. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif dan pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan adalah data hasil tangkapan Tenggiri, data suhu permukaan laut dan data klorofil-a dari satelit MODIS Januari 2011 – Mei 2013. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2013 di PPN Kejawanan Cirebon dan Laboratorium Inderaja dan SIG Perikanan Jurusan Perikanan Universitas Diponegoro. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa suhu permukaan laut dan klorofil-a berhubungan cukup erat dengan sebaran temporal Tenggiri. Analisis korelasi ganda menunjukkan bahwa Tenggiri, pada musim barat tahun 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.85, musim barat tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.70 dan pada musim timur 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.80, musim timur tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.86. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan Tenggiri tinggi pada musim timur (April-Mei-Juni). Analisis korelasi tunggal dan ganda antara suhu permukaan laut dan klorofil-a dengan hasil tangkapan tenggiri menunjukkan hubungan yang cukup tinggi. Mackerel is one of poikilothermic fish, where their body temperature is affected by its surrounding temperature. The research use explorative method to find the correlation of two or more variables. Sampling method use purposive sampling. Data used in the research are Mackerel catch, sea surface temperature and chlorophyll-a from the MODIS satellite data January 2011- May 2013. This research was held for May-June 2013 in PPN Kejawanan Cirebon and The Laboratory SIG Fishery Department Fisheries Diponegoro University. The research reveals that sea surface temperature and chllorophyl-a good correlation with temporal distribution of Mackerel. Statistic analysis showed that Mackerel, multiple correlation on west season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.85 and in the west season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.70 and in the east season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.80 and the east season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.86. A conclusion from this research that the catch of Mackerel high on east season (April-Mei-Juni), Analysis single and multiple correlation between sea surface temperature and chllorophyl-a with the catch of Mackerel showed the correlation which is quite high.
STUDI PENGARUHNYA DETERJEN TERHADAP KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR SEMARANG Swary, Amalia; Hutabarat, Sahala; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Banjir Kanal Timur merupakan sungai yang terletak di daerah Semarang Timur. Sepanjang aliran sungai terdapat pemukiman warga setempat, perikanan, dan kawasan industri. Deterjen adalah pembersih sintesis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi dan mengandung  bahan-bahan kimia antara lain surfaktan, builder, filler, dan additives. Surfaktan mempunyai perbedaan yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Fitoplankton merupakan organisme yang hidup di perairan berukuran sangat kecil dan dapat menguntungkan bagi organisme lainya serta sebagai produser utama di dalam  rantai makanan yang ada di perairan. Tujuan penelitian untuk mengetahui konsentrasi deterjen, kelimpahan, indeks keanekaragamaan, keseragamaan, serta dominasi fitoplankton dan saprobik indeks, pengaruh konsentrasi deterjen terhadap fitoplankton di Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode penelitian survey. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Konsentrasi deterjen  tertingi sebesar 7,67 mg/L, kelimpahan fitoplankton sebesar 1405 ind/L dengan 13 genera, keanekaragaman sebesar 2,61, keseragaman sebesar 1 serta dominasi fitoplankton sebesar 0,13 dan yang mendominasi adalah Euglena sp. dari kelas Euglenoidea dan Indeks Saprobitas sebesar -0,42 dan Trofik Saprobik Indeks sebesar -0,10. Perairan tersebut termasuk dalam golongan α-Mesosaprobik/perairan cukup berat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara konsentrasi deterjen dengan kelimpahan fitoplankton menunjukkan korelasi yang erat sekali (r) 0,963. Nilai R2 (determinasi) 0,927 dengan tingkat keeratan sebesar 92,7 % . Banjir Kanal Timur River is located in east part of Semarang. Along the river there are local residents, fisheries activity and industrial area. Detergent is sintetic cleaning which made from derivated of oil and containing chemical material such as surfactan, builder, filler, and additives. There are 2 kind of surfactan, hydrophile dan hydrophobe. Phytoplankton is small organism living in the waters dan favorable to others organism, phytoplankton is main producer in waters food chain. This purpose research are to know detergent concentration, phytoplankton abundance, diversity, eveness, domination and saprobic indexs, and the influence of detergent the living of  phytoplakton in Banjir Kanal Tmur River Semarang. This methode research used survey research and to colect the samples/datas used purposive sampling methode. The highest concentration detergent is 7.67 mg/L and phytoplankton abundance  is 1405 ind/L with 13 genera. This research showed that diversity is 2,61, eveness is 1 and the domination is 0.13, dominated by Euglena sp. from class of Euglenoidea. This research also show that Saprobic index is -0.42 and trophic saprobic index is -0.10, this mean that Banjir Kanal Timur River is clasified of α-Mesosaprobik waters or the river is in high contamination. This result show that there is high corelation between detergent consentration and phytoplankton abundance with (r) value is 0.963, (R2) determination value is 0.927 and precentage is 92.7%.
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PADANG LAMUN DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Sari, Amalia Nurtirta; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan yang terjadi dalam perairan sebagai akibat dari adanya beban masukan yang ada akan menyebabkan perubahan pada komposisi, kelimpahan, dan distribusi dari komunitas plankton. Maka dari itu, keberadaan plankton dapat dijadikan sebagai indikator perairan karena sifat hidupnya yang relatif menetap, jangka hidup yang relatif panjang dan mempunyai toleransi spesifik pada lingkungan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas perairan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara, menganalisa kelimpahan, dan mengetahui jenis fitoplankton dan zooplankton yang mendominasi dan mengetahui nilai tropik saprobik indeks dengan menggunakan fitoplankton dan zooplankton sebagai indikator. Untuk teknik pengambilan plankton dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sampel. Pengambilan sampel dimaksud dengan mengambil data hanya sebagian dari populasi yang nantinya diharapkan dapat menggambarkan sifat populasi dari obyek penelitian. Pengambilan sampel plankton dilaksanakan dengan menggunakan metode sampling aktif dengan plankton net. Jenis fitoplankton yang ditemukan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara terdiri dari kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae dan Dinophyceae serta terdiri dari 31 genera. Jenis zooplankton terdiri dari filum Arthropoda, filum Mollusca, filum Protochordata, dan filum Annelida serta terdiri dari 25 genera. Jenis fitoplankton yang paling sering mendominasi terdapat pada genus Nithzschia sp. Pada zooplankton, jenis yang paling sering mendominasi ialah Calanus sp. Hal ini menjadikan Nithzschia sp. dan Calanus sp. berperan cukup tinggi dalam menjaga keberlangsungan ekosistem perairan di lokasi ini. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,6 – 1,07 dan nilai Tropik Saprobik  Indeks (TSI) berkisar 1,1 – 2,3 hal ini menunjukkan bahwa kualitas perairan di areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara dikategorikan dalam tingkat saprobitas β-Mesosaprobik yaitu tercemar ringan sampai sedang. The changes which happened in water is a result of the debit, it makes the change in composition, abundance, distribution and community of plankton. Thus, presence of plankton can be a water indicator because its life character relatively settled, long life terms and also has a specific toleration to the environment. The purposes of the research are to know the condition of water quality on lamun area of Pulau Panjang Jepara, analyzing abundance, and find out fitoplankton and zooplankton kinds and dominate and find out tropic saprobic index value, using fitoplankton and zooplankton as an indicator. Whereas, sample research method was used as the retrieval technique for plankton in this research. Taking a sample has a purpose by taking a half parts from the population which later can be an example of population character from object of research. Sample retrieval use an active sampling method with plankton net.This plankton type which found on lamun area Pulau Panjang beach in Jepara consist of class from Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae and Dinophyceae also consist of 31 genera. Zooplankton types consist of fillum Arthropoda, fillum Mollusca, fillum Protochordata, and fillum Annelida also consist of 25 genera. Fitoplankton type which mostly dominating is a kind of genus Nithzschia sp. On zooplankton, a type which mostly dominated is Calanus sp. This case make  Nithzschia sp. and Calanus sp. has an important role in keeping sustainability environment of water in this location. Based on the abundance of plankton, then we can get the Saprobic Index value (SI) on range 0,6 – 1,07 and Tropic Saprobic  Index (TSI) on range 1,1 – 2,3. This case show that the water quality in lamun area on Pulau Panjang Jepara, categorized in saprobitas β-Mesosaprobik stages is contaminated in middle stage and light.
Potency of Mahakam Delta in East Kalimantan, Indonesia Zain, Zairin; Hutabarat, Sahala; Prayitno, Slamet Budi; Ambaryanto, Ambaryanto
International Journal of Science and Engineering Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1605.076 KB)

Abstract

Mahakam Delta is not only utilized for fishery activities but also for several industrial purposes such as coal and oil mining, shipping and timber. The objective of this paper is to provide information in term of the potency of Mahakam Delta located in East Kalimantan province, Indonesia. The study was conducted in Mahakam Delta, East Kalimantan Province, Indonesia. Participatory rural appraisal is a group of methods to collect information in a participatory fashion from rural communities. The method employed in this research was descriptive analysis describing the environmental potency found in Mahakam Delta. Massive conversion of mangrove forest particularly Nypa (Nypa fruticans) area into pond has driven conflict among related stakeholders on the utilization of natural resource and land which subsequently impacts on the fish and shrimp source regeneration, loss of ecological functions of mangrove forest for feeding, nursery and spawning ground of fish and other organisms. Besides of fisheries, oil and gas activity also exists in Mahakam Delta. Mahakam Delta is regarded as important area due to the largest producer of oil and gas mining. Thus, oil and gas industry is the most reliable sector that contributes to the economic development of Kutai Kartanegara district. As a resource provider, Mahakam Delta ecosystem provides various resources for livelihoods. As a life-support service provider, Mahakam Delta ecosystem provides habitat and ideal environment to support variety of living kinds. As a convenience provider, Mahakam Delta ecosystem provides unique and interesting recreation site. As a protector from natural disaster, Mahakam Delta ecosystem is able to protect human kinds from natural disaster threatening coastal area.
Analysis of Causality Relationship of Components of Socio-ecological and Socio-economical System for Management of the Outermost Small Islands: A Case of Lingayan Island, Central Sulawesi Saleh Lubis, Mohammad; Nur Bambang, Azis; Hutabarat, Sahala; Prayitno, Slamet Budi
International Journal of Science and Engineering Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.751 KB)

Abstract

Indonesia has more than 17,506 islands and 92 islands of them are outermost small islands.  Lingayan is one of them located in Northwest of Sulawesi Island and it has geostrategic role to determine the sea boundaries of Indonesian State (NKRI) including the territorial seas, the exclusive economic zone and the continental shelf.  Recently, the coastal ecosystems of Lingayan has degraded and the island’s economy is weak so they cannot support the life’s survival of inhabiting people. This condition could weaken the geostrategic role in accordance with article 121 Chapter VIII of the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Based on the above reasons, the study aim to examine and assess the causal relation of components in the socio-ecological and socio-economical systems as a basis for management of the Lingayan Island with target on conservation of coastal ecosystems and growth of inhabitant’ business economic.  Causalities relations within components were built using Statistic Equation Model (SEM) with AMOS method and 40 constructed indicators as well as determinate the suitability program using Analytical Hierarchy Process (AHP).  The research showed that there is relationship between the components of socio-ecological systems as indicated by the fit model of causal relation path diagram that provides chi square value = 236.994, RMSEA = 0.083, GFI = 0.884.  Furthermore, there is relationship between the components of socio-economical that provides chi square value = 192.824, RMSEA = 0.081, GFI = 0.900. The most appropriate programs are seaweed cultivation (34.0%) and restoration (23.4%).