Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL PEMULIAAN TANAMAN HUTAN

RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KAYU KUKU (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw) TERHADAP INOKULASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA LOKAL Husna, Husna
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efektivitas fungi mikoriza arbuskula (FMA) lokal dan ketergantungan jenis tanaman legum terhadap aplikasi FMA ditentukan oleh kecocokan jenis FMA dengan tanaman inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas FMA lokal terhadap pertumbuhan, biomassa dan serapan hara bibit kayu kuku (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw.) umur 5 bulan di rumah kaca. FMA lokal yang diuji diisolasi dari empat rizosfer kayu kuku di Kabupaten Kolaka: FMA-HA (hutan alam Tanggetada), FMA-BJ (hutan tanaman Desa Bali Jaya), FMA-CA (Cagar Alam Lamedai), FMA-Vale (PT. Vale Indonesia Tbk.), dan dua rizosfer yang berasal dari Kota Kendari: FMA-UHO (taman kampus Universitas Halu Oleo), FMA-KG (hutan kota kantor Gubernur Sulawesi Tenggara). Perlakuan tanpa FMA (kontrol) dan FMA eksotik (Mycofer) serta isolat dari Kendari (kdr 03) juga digunakan sebagai pembanding. Rancangan percobaan adalah rancangan acak kelompok dengan 9 perlakuan dan 5 ulangan. Secara umum, aplikasi FMA mampu meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan status hara tanaman. FMA- KG dan FMA-UHO mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah daun dan jumlah bintil akar bibit kayu kuku. Kedua FMA ini juga mampu meningkatkan berat kering total bibit kayu kuku  masing-masing  sebesar  260%  dan  281%  lebih  tinggi  dibandingkan  kontrol.  Terdapat peningkatan jumlah klorofil total pada bibit kayu kuku yang diberi perlakuan FMA-KG. PerlakuanFMA secara umum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar C organik dan N total. Walaupun kadar P total, K total, Ca total dan Mg total bibit kayu kuku lebih tinggi pada kontrol, akumulasi hara ditemukan lebih tinggi pada perlakuan FMA. Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara akumulasi hara dengan biomassa bibit kayu kuku.
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KAYU KUKU (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw) TERHADAP INOKULASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA LOKAL Husna, Husna
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.3.131-148

Abstract

Effectiveness of indigenous arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and the dependence of legumes to AMF application are determined by the compatibility of AMF and the host plant. This study aims to assess the effectiveness of indigenous AMF on growth, biomass and nutrient uptake of 5 months seedling of kayu kuku (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw) grown in greenhouse. The six tested indigenous AMF were isolated from four rhizospheres of kayu kuku at Kolaka District: FMA-HA (natural forests Tanggetada, FMA-BJ (Bali Jaya village plantations), FMA-CA (Lamedai Nature Reserve, FMA-Vale (PT. Vale Indonesia Tbk.), and other two rhizospheres from Kendari city: FMAUHO (park area of Halu Oleo University), FMA-KG (urban forest in Southeast Sulawesi Governors office). As comparison, there were also included a control (without AMF), a mycofer and an isolate from Kendari (kdr03). The study was designed in a randomized block design with 9 treatments and five replications. The results of study showed that in general AMF inoculations could increase the growth and nutrient uptake of the kayu kuku seedling. FMA-KG and FMA-UHO increased height, stem diameter, number of leaves, and root nodules. They also increased total dry weight at 260% and 281% above the control. In addition, FMA-KG increased total chlorophyll and nutrient accumulation. Levels of C organic and total N were not significantly affected by AMF treatment. Levels of total P, K, Ca and Mg of kayu kuku seedling were generally higher in control, but nutrient accumulation was higher in AMF treatment. There was a strong and significant correlation between nutrient accumulation and kayu kuku seedling biomass.