Articles

Found 17 Documents
Search

PENGARUH EKSTRAK DAUN LEGUNDI (Vitex trifolia Linn) TERHADAP KEMATIAN LARVA Aedes albopictus

Balaba Vol 7, No 2 Des (2011)
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPengendalian Aedes albopictus penting dilakukan karena merupakan salah satu vektor penyakit yang mampumembawa dan menularkan virus Chikungunya. Di antara cara pengendalian yang perlu dikembangkan adalahpengendalian secara hayati, karena aman bagi manusia dan organisme lain serta ramah lingkungan. Pengendalian hayatiyang dapat digunakan adalah daun Legundi (Vitex trifolia linn). Vitex trifolia linn telah diketahui mengandung bahan aktifalkaloid, saponin, flafonoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun Vitex trifolia linnterhadap kematianlarva Aedes albopictus.Jenis penelitian ini adalah quasi experiment, menggunakan Post Test OnlyControl Group Design. Obyekpenelitian ini adalah 750 ekor larva Aedes albopictus instar IV yang berasal dari hasil penangkaran di Balai BesarPenelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga, Jawa Tengah. Ekstrak etanol daunVitex trifolia linn dibuat dari daun Legundi segar yang didestilasi dengan suhu 100oC sampai pekat. Setiap kelompokmedia (gelas) penelitian diisi 100 ml air sumur, dan ekstrak etanol daun Vitex trifolia linn dengan konsentrasi 2,5 %, 5 %,7,5 %, 10 %, 12,5 % dan 0 % (kontrol). Selanjutnya pada setiap media dimasukkan 25 ekor larva Aedes albopictus,penghitungan kematian larva dilakukan setiap jam ke 1, 2, 4, dan 24. Replikasi dilakukan sebanyak 5 kali.Hasil uji statistik dengan Oneway Anova diperoleh p=0,000, sehingga (p<0,05) artinya ada perbedaan yangbermakna, yaitu ekstrak daun Vitex trifolia linn dapat mematikan larva Aedes albopictus. Kesimpulan penelitian ini adalahpenggunaan ekstrak daun Vitex trifolia linn dengan konsentrasi 12,5 % paling efektif terhadap kematian larva Aedesalbopictus.Kata Kunci: Ekstrak, daun legundi (Vitex trifolia linn), Aedes albopictus

PENGARUH BERBAGAI LUAS PERMUKAAN DAUN TANAMAN LIDAH MERTUA (Sansevieria trifasciata ‘Golden Hahnii’) TERHADAP PENURUNAN RADIASI KOMPUTER RUANG KERJA DI RS KIA SADEWA, YOGYAKARTA

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 1 (2016): AGUSTUS 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komputer yang banyak digunakan oleh masyarakat karena bermanfaat dalam menyelesaikan banyak pekerjaan, memiliki dampak negatif berupa radiasi jenis non pengion. Berdasarkan sur-vei pendahuluan, hasil pengukuran radiasi komputer di RS KIA Sadewa tidak melebihi baku mu-tu, tetapi apabila terpapar terus-menerus akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Lidah Mertua merupakan salah satu tanaman yang dapat mengurangi radiasi komputer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai luas permukaan daun jenis Sansevie-ria trifasciata ‘Golden Hahnii’ terhadap penurunan radiasi komputer. Ada tiga perlakuan yang di-gunakan, yaitu: Perlakuan A (510-570 cm2 luas daun), Perlakuan B (1020-1140 cm2 luas daun), dan Perlakuan C (1530-1710 cm2 luas daun). Penelitian ini bersifat quasi experiment dengan menggunakan desain pre-test post-test with control group. Ada 10 komputer dalam 10 ruangan berbeda yang diukur radiasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata penurunan radiasi setelah diletakkan Perlakuan A adalah sebesar 0.142 x 10-4 mT, Perlakuan B sebesar 0.277 x 10-4 mT dan Perlakuan C sebesar 0.351 x 10-4 mT. Hasil uji statistik menggunakan uji One Way Anova pada derajat kepercayaan 95 % menghasilkan p-value < 0,001 yang berarti perbedaan penurunan tersebut bermakna. Hasil uji lanjutan dengan LSD menyimpulkan bahwa Perlakuan C menghasilkan penurunan radiasi komputer yang paling tinggi.

PENGGUNAAN MEDIA “SMART CARD” PADA KEGIATAN PENYULUHAN PENCEGAHAN PENYAKIT ISPA UNTUK SISWA SD NEGERI DI TEGALREJO, KOTA YOGYAKARTA

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 3 (2016): VOLUME 7 NO 3 TAHUN 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Pengetahuan tentang pencegahan penyakit menular berbasis lingkungan seperti ISPA, perlu diberikan kepada kelompok-kelompok yang berisiko, salah satunya yaitu anak usia sekolah da-sar. Penyuluhan dapat mencapai hasil maksimal jika media yang digunakan sesuai dengan sa-saran yang dituju. Untuk siswa SD, salah satu media yang tepat adalah yang mempermudah mereka untuk menerima pesan kesehatan yang diberikan. Salah satunya adalah kartu bergam-bar yang diberi nama “smart card”. Penelitian ini merupakan  eksperimen semu dengan non-randomized control group pre-test post-test design. Subyek penelitian terdiri dari 41 siswa kelas 4 dan 5 SDN Pingit sebagai kelompok eksperimen dan 41 siswa kelas 4 dan 5 SD Karangrejo sebagai kelompok kontrol. Hasil analisis statistik menggunakan uji t-test bebas pada derajat kepercayaan 95 %, menghasilkan nilai p se-besar 0,015 yang menunjukan bahwa perbedaan peningkatan pengetahuan yang teramati antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, adalah signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan “smart card” pada kegiatan penyuluhan mempengaruhi peningkatan pengetahuan pencegahan penya-kit ISPA pada siswa SD, karena media tersebut membantu penyampaian materi penyuluhan menjadi dapat diterima dengan baik oleh para siswa.

ANALISIS KEPADATAN PENGHUNI, LUAS LANTAI DAN LUAS VENTILASI TERHADAP SUHU DAN KELEMBABAN DI RUMAH KOS PUTRI KAJOR, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, DIY

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 4 (2017): Vol 8, No 4 2017
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kamar kos harus memenuhi persyaratan luas atau ukuran kamar, jumlah penghuni, luas ventilasi, serta suhu dan kelembaban, sesuai dengan baku mutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan penghuni, luas lantai dan luas ventilasi terhadap suhu dan kelembaban di rumah kos Putri Kajor yang berada di Nogotirto, Gamping, Sleman. Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei dengan menggunakan desain cross sectional, yang hasilnya dianalisis secara deskriptif dan analitik. Jumlah kamar yang diteliti sebanyak 52 buah. Pengukuran kepadatan, luas lantai dan luas ventilasi menggunakan meteran, sementara pengukuran suhu dan kelembaban menggunakan termohigrometer. Secara deskriptif, hasil penelitian menunjukkan bahwa kamar yang memenuhi syarat kepadatan penghuni 5 buah (9,6 %), memenuhi syarat luas lantai 5 buah (9,6 %), memenuhi syarat luas ventilasi 49 kamar (94,2 %), memenuhi syarat suhu 52 buah (100 %), dan tidak ada yang memenuhi syarat kelembaban. Hasil analisis statistik pada taraf signifikan 5 % meyimpulkan bahwa kepadatan penghuni, luas lantai dan luas ventilasi berpengaruh terhadap suhu (nilai p = 0,019), namun tidak berpengaruh terhadap kelembaban (nilai p = 0,513).

STUDI KADAR CHOLINESTERASE DALAM DARAH PETUGAS FOGGING DI KABUPATEN BANTUL TAHUN 2016

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 1 (2016): AGUSTUS 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat di DIY dan endemis di tiga dari lima kabupa-ten/kota yang ada. Salah satu upaya pengendalian yang dilakukan oleh dinas kesehatan ada-lah fogging, dengan menggunakan bahan aktif, yang salah satunya golongan organofosfat. Penggunaan yang tidak sesuai dari pestisida tersebut  akan dapat menyebabkan keracunan. Penelitian ini ingin mengetahui kadar cholinesterase yang dikandung di dalam darah petugas fogging sebagai tanda terjadinya keracunan, dengan melakukan analytical survey mengguna-kan rancangan kohort, terhadap 20 orang petugas di Kabupaten Bantul. Kadar cholinesterase diukur dengan tintometer kit dan cholinesterase kit. Adapun data mengenai variabel-variabel lain yang terkait dengan petugas diperoleh melalui pengamatan langsung maupun data sekun-der. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat istirahat, kadar cholinesterase seluruh pe-tugas adalah normal, namun setelah fogging, ada 20 % yang menunjukkan keracunan ringan. Diketahui pula bahwa 50 % petugas berusia antara 41-50 tahun, 45 % tingkat pendidikannya SMA atau sarjana, 75 % sudah lama bekerja, 70 % jarang melakukan fogging, 85 % berperila-ku buruk ketiga melakukan fogging, dan 55 % tidak menggunakan APD secara lengkap. Anali-sis data menggunakan uji korelasi Spearman pada derajat kepercayaan 95 % menyimpulkan bahwa faktor yang signifikan berhubungan dengan kadar cholinesterase adalah frekuensi fog-ging (nilai p = 0,027; dengan koefisien korelasi 0,494 atau hubungan sedang). Adapun variabel-variabel lain yang diteliti tidak menunjukkan hubungan yang bermakna, yaitu: umur (nilai p = 0,715), tingkat pendidikan (nilai p = 0,462), lama kerja (nilai p = 1,000), perilaku fogging (nilai p = 0,374), dan kelengkapan APD (nilai p = 0,447).

Pasir Vulkanik sebagai Media Filtrasi dalam Pengolahan Air Bersih Sederhana untuk Menurunkan Kandungan Besi (Fe), Mangan (Mn) dan Kekeruhan Air Sumur Gali

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 9, No 1 (2017): VOLUME 9 NO 1 TAHUN 2017
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan komponen utama baik dalam tanaman maupun hewan termasuk manusia, masyarakat di Kabupaten Bantul, khususnya Pedukuhan Bantul Krajan, Desa Bantul, Kecamatan Bantul, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta memanfaatkan sumur sebagai sumber utama persediaan air bersih. Masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat yaitu tingginya kadar besi dan mangan di dalam air yang menyebabkan kualitas fisik air menurun, air menjadi keruh dan berbau amis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kandungan Besi (Fe), Mangan (Mn) dan Kekeruhan pada air sumur gali dengan pengolahan air sederhana dan manfaat pasir vulkanik sebagai media filtrasi terhadap penurunan kandungan Besi (Fe), Mangan (Mn) dan Kekeruhan pada air sumur gali. Penelitian ini merupakan penelitian Experiment dengan desain penelitian Pre test - Post test with Control Group Design menggunakan 5 pengulangan. Sedangkan untuk menguji hipotesis data yang diperoleh diuji secara deskriptif yang kemudian diuji secara analitik menggunakan statistik uji T-test terikat dengan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian dari pengolahan air sederhana menggunakan media pasir vulkanik mampu menurunkan kandungan Fe sebesar 1,34 mg/l, kandungan Mn sebesar 0,6 mg/l dan penurunan kekeruhan sebesar 11,51 NTU. Berdasarkan pengujian statistik dinyatakan bahwa ada penurunan yang bermakna antara pretest dan posttest kadar besi (Fe), mangan (Mn) dan kekeruhan yang ditunjukkan dengan nilai Sig. < 0,05. Dengan demikian diketahui bahwa untuk menghilangkan zat besi, mangan dan kekeruhan yang berbentuk senyawa organik dan koloid cukup dilakukan pengolahan air sederhana yaitu koagulasi dilanjutkan dengan proses filtrasi menggunakan media pasir vulkanik yang memiliki sifat porous, mudah diperoleh dan harganya relatif murah.

PEMANFAATAN DAN PENGEMBANGAN BIOGAS SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF SUMBER ENERGI LISTRIK PEDESAAN RAMAH LINGKUNGAN (Studi Kasus di Wilayah Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan)

CAKRAWALA Vol 4, No 1: Desember 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1755.69 KB)

Abstract

Biogas merupakan salah satu alternatif energi terbarukan, berbahan baku dari kotoran sapi dan dapat dikembangkan di berbagai daerah pedesaan di seluruh Indonesia, termasuk Jawa Timur. Kotoran sapi bila dicampur dengan mikroba (bakteri pengurai) seperti methanococcus, methanosarcina, dan methano bacterium akan menghasilkan gas methan, yang disebut energi biogas. Energi biogas selain bisa dimanfaatkan untuk memasak dan penerangan listrik pedesaan skala rumah tangga, limbahnya (padat dan cait) bisa menghasilkan pupuk yang kualitasnya menyerupai kualitas pupuk urea. Pupuk tersebut sangat bagus untuk menyuburkan tanah dan meningkatkanproduktivitas hasil pertanian. Pemanfaatan energi biogas untuk listrik pedesaan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan sehingga bisa disebut sebagai salah satu energi alternatif yang ramah lingkungan. Salah satu contoh lokasi pengembangan energi biogas untuk listrik pedesaan adalah Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan.

Penetuan Lokasi Sumur Bor Berdasarkan Analisa Nilai Ratio Chlorida Bicarbonat Untuk Mengatasi Krisis Air Bersih Di Kabupaten Sampang

CAKRAWALA Vol 8, No 1: Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2473.111 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengatasi krisi air bersih melalui pendekatan metode penentuan lokasi sumur bor Air Bawah Tanah (ABT) berdasarkan analisa terhadap nilai ratio chloride bicarbonate. Solusi mengatasi kesulitan air bersih tersebut di atas adalah melalui bantuan pembangunan sumur bor ABT, menjaga kondisi hutan tetap utuh dan melakukan normalisasi kapasitas daya tamping Sungai Kemuning secara periodic setiap tahun.

Pengaruh Posisi Catchment Area Terhadap Tingkat Pencemaran air tanah Di Wilayah Pantai Utara Dan Selatan Kabupaten Sampang

CAKRAWALA Vol 8, No 1: Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2771.018 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk pengaruh posisi catchment area terhadap tingkat pencemaran air tanah di daerah penelitian. Untuk memastikan berapa banyak jumlah sumur penduduk yang telah tercemar air laut diperlukan pendekatan melalui metode analisa terhadap beberapa sampel air sumur penduduk berdasarkan nilai ratio chlorida bicarbonat (RCB). Semakin banyak jumlah sumur penduduk yang terkontaminasi air laut (nilai RCB>0,5), maka semakin tinggi tingkat pencemaran air tanah oleh air laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sumur penduduk yang tercemar di wilayah Pantai Utara lebih sedikit dibandingkan dengan sumur penduduk yang tersemar di Pantai selatan Kabupaten Sampang. Solusi mengatasi pencemaran air tanah oleh air laut tersebut di atas adalah melalui bantuan sumur bor Air Bawah Tanah (ABT) dari Pemerintah Daerah setempat, menjaga kondisi hutan tetap utuh dan melakukan normalisasi kapasitas daya tampung Sungai Kemuning secara periodik setiap tahun.

PENANGGULANGAN KEKERINGAN DAN KEKURANGAN AIR BERSIH DI JAWA TIMUR *)

CAKRAWALA Vol 1, No 1: Desember 2006
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5676.384 KB)

Abstract

Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui kondisi air, sebaran batuan sebagai pengontrol keterdapatan air tersebut dan cara mengatasi krisis air bersih di wilayah Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara garis besar batuan penyusun wilayah Kabupaten Tulungagung dapat dibagi dua. Yang pertama menempati daerah di sebelah utara yang merupakan jalur gunung api kwarter, terdiri dari batuan vulkanik hasil erupsi dari Gunung api Wilis, Gunung api Lawu dan sebagian lagi berasal dari erupsi Gunung api Kelud. Daerah yang tersusun oleh batuan vulkanik kwarter ternyata banyak mengandung air, sehingga daerah tersebut merupakan daerah yang sangat subur. Yang kedua menempati daerah di bagian selatan yang merupakan jalur Pegunungan Selatan, terdiri dari dominan batu gamping/batu kapur, breksi gunung api bawah laut dan sebagian kecil berupa lava. Di daerah yang tersusun oleh dominan batu gamping ternyata sulit didapatkan air, karena sifat fisik batu gamping di wilayah studi banyak dijumpai rekahan (diaklas). Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi langsung meresap kedalam lapisan tanah dan hanya sebagian kecil saja yang mengalir diatas permukaan tanah. Kecamatan Pucanglaban dalam hal ini termasuk daerah yang berada di jalur Pegunungan Selatan, sehingga di daerah ini sulit didapatkan air bersih. Kekeringan dan kekurangan air bersih dapat diatasi dengan penanggulangan kekeringan dan kekurangan air bersih, yaitu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber air atau dengan bantuan sumur bor bila debit pada bagian sumber-sumber air terlalu kecil.