Kuswanta Futas Hidayat
Universitas Lampung

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

Efek Inokulasi Cendawan Mikoriza Arbuskular Indigen dan Dosis Mulsa Terhadap Keefektifan Mikoriza dan Karakteristik Agronomi Padi Gogo (Oryza sativa L.) di Rumah Kaca Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrista 2008: Edisi Khusus Nomor 1 November 2008
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.978 KB)

Abstract

Effect Inoculation of Indigenous Population of Arbuscular Mycorrhiza Fungi and Dosage of Mulch on Mycorrhiza Effectiveness and Agronomy Characteristics of Upland Rice (Oryza sativa L.) in Green HouseABSTRACT. The experiment was conducted to study agronomy characteristics and mycorrhiza effectiveness of upland rice in green house with various levels of AMF inoculants and mulch dosage application. The pot of experiment was carried out in the green house of Agricultural Faculty, The University of Lampung from October 2004 untill February 2005. The experiment used randomized complit block design arranged in factorial pattern with two factors. The first factor was dosages of mulch (0, 5, 10, and 15 ton ha-1) and the second factor was AMF inoculants dosages which consist of four levels, those were 0, 25, 50, and 75 g pot-1. The result of this experiment showed that dosages of mulch and AMF inoculants affect to agronomy characteristics and mycorrhiza effectiveness of upland rice in the green house. Up to the certain dosages, inoculants of AMF and mulch raised P content in plant, shoot dry weight, root dry weight, harvest index, and mycorrhiza effectiveness.
Analisis Pertumbuhan Gulma, Tanaman dan Hasil Jagung dengan Berbagai Populasi Kacang Tanah dan Kacang Hijau dalam Sistem Tumpangsari Pujisiswanto, Hidayat; Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrista 2008: Edisi Khusus Nomor 1 November 2008
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.264 KB)

Abstract

Weed-Crop Growth Analysis and Yield of Corn with Groundnut and Mungbean of Varying Plant Population in Intercropping SystemABSTRACT. The present experiment is designed to evaluated the weed-crop growth of intercrop between corn with mungbean and groundnut of varying plant populations. The experimental used the single factor field experiment that arranged with randomized completely block design with three block as replication. Intercropping followed additive series system, i.e.: (A) corn 100% + mungbean 25%, (B) corn 100% + mungbean 50%, (C) corn 100% + mungbean 75%, (D) corn 100% + groundnut 25%, corn 100% + groundnut 50%, (F) corn 100% + groundnut 75%. Experimental result showed that: Intercropping corn with groundnut and mungbean of able to weed growth suppressed of sedges, and Intercropping crop with groundnut at 75% rate of recommended population weed growth suppressed of total weeds compared to the other three mungbean populations. Intercropping corn with groundnut at 25% of recommended rate gave the highest sweet corn yield per hectare.
Efek Inokulasi Cendawan Mikoriza Arbuskular Indigen dan Sistem Olah Tanah Terhadap Keefektifan Mikoriza, Komponen Hasil, dan Hasil Padi Gogo (Oriza sativa L.) pada Ultisols Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrista Vol 12, No 1 (2008): Volume 12 Nomor 1 April 2008
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.514 KB)

Abstract

Effect of Inoculation of Indegenous Population of Arbuscular Mycorrhiza Fungi and Tillage Systems of Mycorrhiza Effectiveness, Yield Components, and Yield of Upland Rice (Oryza sativa L.) on UltisolsABSTRACT. The field experiment was conducted to study the growth characteristics, agronomy characteristics, and yield of upland rice on ultisols with various dosages of AMF inoculants on three tillage systems. The experiment was carried out Kampung Baru village, Bandar Lampung City from April until August 2005. The experiment used a spilt plot pattern in randomized block design. The main plot was soil tillage systems with consisted of three levels, those were intensive tillage, minimum tillage, and no tillage; and sub plot was AMF inoculants dosages with consisted of four levels, those were 0, 6.0, 13.0, and 19.50 ton ha-1. The result of experiment showed that tillage systems and AMF inoculants affected produces the highest yield for rice, and this yield depend on tillage systems. The highest yield of rice was 3,559.03 g 8m-2 obtained of optimum dosage 13 ton ha-1 AMF inoculants in minimum tillage.
Pertumbuhan, Perkembangan Perakaran, dan Hasil Kecang Hijau pada Tiga Sistem Olah Tanah di Lahan Sawah Irigasi yang Di Pupuk P Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrista Vol 12, No 2 (2008): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2008
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.593 KB)

Abstract

Root Growth, Development and Yield of Mungbean in Various Soil Tillage Systems on Irrigated Low Land Fertilized by PABSTRACT. The experiment was carried out to observe root growth and development, and yield of mungbean (Vigna radiata (L.) Wilczek) on irrigated low land as a result of P dosages application and various soil tillage systems. Field experiment was carried out at Kedaloman village, Tanggamus regency of Lampung Province. Field experiment used a split plot pattern in randomized block design. The main plot were soil tillage systems which consisted of tree levels, those were intensive tillage, maximum tillage and no-tillage; and subplot was P dosages which consisted of four levels, those were 0, 9.9, 19.8, and 29.7 kg ha-1 P. The experiment result showed that soil tillage system had no significant effect on length and number of root, volume of root nodule. The highest yield of dry grain was 1.545,1729 g (1,9315 ton ha-1) obtained at optimum dosage 18,0740 kg ha-1 P.
PENGARUH APLIKASI BAHAN ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor [L] Moench) Pramanda, Ryzkita Prima; Hidayat, Kuswanta Futas; Sunyoto, Sunyoto; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.555 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i1.1960

Abstract

Sorghum (Sorghum bicolor [L] Moench) adalah tanaman serealia yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber bahan pangan mendukung program diversifikasi pangan. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum maka perlu upaya pengembangan teknik budidaya seperti penambahan bahan organik dan penggunaan varietas unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk;  mengetahui dosis pemberian bahan organik terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum; mengetahui varietas tanaman sorgum yang menunjukan pertumbuhan dan hasil terbaik ; mengetahui pengaruh interaksi antara dosis bahan organik dan varietas yang digunakan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Unit Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Mei sampai September 2013. Perlakuan disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan.  Petak utama adalah dosis bahan organik (b) yang terdiri atas 4 taraf yaitu 0 ton ha (b0), 5 ton ha-1 (b1), 10 ton ha-1 (b2) dan 15 ton ha (b3).  Anak petak adalah varietas sorgum (g) yaitu Numbu (g1), Keller (g2), dan Wray (g3). Sorgum ditanam dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm pada setiap petak percobaan yang berukuran 4 m x 4 m. Pupuk yang digunakan adalah Urea, SP-36 dan KCl masing-masing dengan dosis 100, 100 dan 150 kg ha-1. Pemberian Urea dilakukan secara bertahap yaitu 2 minggu setelah tanam (mst) dan 6 mst. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; aplikasi bahan organik meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum. Hasil sorgum tertinggi dicapai pada dosis 15 ton ha-1 ; varietas Numbu menunjukkan keragaan komponen hasil bobot biji/ malai terbaik, sedangkan produksi biomassa terbaik ditunjukkan oleh varietas Keller dan Wray; kombinasi penggunaan bahan organik dan varietas yang tepat untuk memperoleh hasil biji sorgum tertinggi adalah dosis 15 ton ha dengan varietas Numbu. 
PENGGUNAAN HERBISIDA AMONIUM GLUFOSINAT PADA PERSIAPAN LAHAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DENGAN SISTEM TANPA OLAH TANAH Felixia, Cindy; Sembodo, Dad Resiworo J.; Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrotek Tropika Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.757 KB) | DOI: 10.23960/jat.v5i1.1844

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas herbisida amonium glufosinat dalam mengendalikan gulma pada persiapan lahan padi sawah dengan sistem tanpa olah tanah (TOT) serta mengetahui pengaruh sistem TOT terhadap produksi padisawah. Penelitian ini dilaksanakandi Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah dan di Laboratorium Ilmu Gulma, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung mulai bulan Januari 2016 sampai April 2016 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dosis herbisida amonium glufosinat (480, 640, 800, dan 960 g/ha) dengan sistem TOT, penyiangan secara mekanis dengan sistem OTS, dan kontrol (tanpa pengendalian gulma dengan sitem TOT) dan diulang sebanyak 4 ulangan. Homogenitas ragam diuji dengan menggunakan Uji Barttlet dan additifitas data diuji menggunakan Uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi maka data dianalisis dengan sidik ragam dengan menggunakan pemisahan nilai tengah Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua taraf dosis herbisida amonium glufosinat yang diuji (480-960 g/ha) dan penyiangan mekanis mampu mengendalikan gulma total dan gulma golongan rumput hingga 7 minggu setelah aplikasi (MSA), sedangkan gulma golongan daun lebar dan golongan rumput mampu dikendalikan oleh herbisida amonium glufosinat dan penyiangan mekanis hingga 7 MSA pada taraf dosis 640-960 g/ha, namun gulma golongan teki terutama Fimbristilys miliacea serta gulma Leptochloa chinensis tidak mampu dikendalikan oleh herbisida ini. Hasil gabah kering giling pada sistem TOT lebih rendah dibandingkan dengan hasil gabah kering giling jika pada sistem OTS.
PENGARUH DOSIS PUPUK MAJEMUK NPK DAN PUPUK PELENGKAP PLANT CATALYST TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI (Glycine max (L.) Merill) Ridwan, Nurul Annisa; Hidayat, Kuswanta Futas; Kushendarto, Kushendarto; Sunyoto, Sunyoto
Jurnal Agrotek Tropika Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.007 KB) | DOI: 10.23960/jat.v5i1.1838

Abstract

Salah satu komoditas pangan strategis di Indonesia dan komoditas terpenting setelah padi dan jagung adalah kedelai. Kebutuhan terhadap kedelai semakin meningkat dari tahun ketahun tetapi produksi kedelai semakin menurun, sehingga dibutuhkan penambahan pupuk untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk majemuk NPK dan pupuk pelengkap Plant Catalyst terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai. Penelitian dilaksanakan di Desa Suka Banjar, Kecamatan Gedong tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung pada Februari sampai April 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial (5 x 2) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk majemuk NPK (M), yang terdiri atas lima taraf yaitu (m 0 )= 0 kg/ha, (m 1 )= 100 kg/ha, (m 2 )= 200 kg/ ha, (m 3 )= 300 kg/ha (m 4 )= 400 kg/ha. Faktor kedua adalah pupuk pelengkap Plant Catalyst (P) terdiri atas dua taraf yaitu tanpa Plant Catalyst (p 0 ) dan dengan Plant Catalyst dengan konsentrasi 1,5 g/1 liter air (p 1 ). Data diuji dengan analisis ragam dan nilai tengah antarperlakuan menggunakan polinomial ortogonal pada taraf á 1% dan 5%. Dosis optimum pupuk majemuk NPK pada variabel bobot biji kering per petak (g) yaitu pada tanpa aplikasi pupuk Plant Catalyst sebesar 307,58 kg/ha menghasilkan bobot biji kering per petak sebesar 1.673,65 g dan dosis terbaik pupuk majemuk NPK dengan aplikasi pupuk Plant Catalyst sebesar 341,75 kg/ha yang menghasilkan bobot biji kering per petak sebesar 1.897,76 g. Aplikasi pupuk pelengkap Plant Catalyst lebih baik dibandingkan tanpa pupuk pelengkap Plant Catalyst, hal itu ditunjukkan pada seluruh variabel pengamatan. Pada variabel pertumbuhan tidak terdapat pengaruh interaksi antara dosis pupuk majemuk NPK dan pupuk pelengkap Plant Catalyst, sedangkan pada variabel hasil terdapat pengaruh inetraksi antara dosis pupuk majemuk NPK dan pupuk pelengkap Plant Catalyst.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RATOON I TERHADAP APLIKASI BAHAN ORGANIK TANAMAN SORGUM PERTAMA Novri, Novri; Kamal, Muhammad; Sunyoto, Sunyoto; Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.375 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i1.1918

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis bahan organik yang diaplikasikan pada tanaman sorgum pertama terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I, pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I yang terbaik pada tiga varietas yang dicoba, dan mengetahui pengaruh interaksi antara dosis bahan organik yang diaplikasikan pada tanaman sorgum pertama dengan tiga varietas yang dicoba terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Ilmu Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung yang dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember 2013. Perlakuan disusun secara faktorial dengan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Petak percobaanyang digunakan pada penelitian ini berukuran 4m x 4 m. Tiap satu satuan percobaan seluas 16 m dengan jarak tanam 80x20 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ; Perlakuan dosis bahan organik 15 ton/ha menghasilkan bobot biji/malai sorgum ratoon I tertinggi yaitu 45,64 g/tanaman atau setara 285,25 g/m2 2; Varietas Numbu menunjukkan hasil bobot biji/ malai sorgum ratoon I tertinggi yaitu 55,37 g/tanaman atau setara 346,06 g/m sedangkan, varietas Wray menghasilkan bobot brangkasan basah tertinggi, yaitu 0,54 kg/tanaman atau setara 3,37 kg/m2 2 ; dan Kombinasi antara dosis bahan organik dan varietas sorgum yang tepat untuk menghasilkan bobot brangkasan basah tertinggi adalah dosis bahan organik 5 ton/ha dengan varietas Wray yaitu 0,54 kg/tanaman atau setara 3,37 g/m2.
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA AMPAS TAHU DAN JERAMI PADI PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR MERANG (Volvariela volvaceae) Merina, Nely; Bakrie, Azlina Heryati; Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrotek Tropika Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.933 KB) | DOI: 10.23960/jat.v1i3.2038

Abstract

Limbah jerami padi dan ampas tahu menjadi masalah yang belum dapat terselesaikan di masyarakat. Jumlahnya yang melimpah tak sebanding dengan pemanfaatannya sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu cara untuk mengatasi itu dengan mengubah limbah menjadi media tumbuh jamur merang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi media ampas tahu dan jerami padi yang akan memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan dan hasil jamur merang. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kumbung Jamur Kelompok Sinar Harapan Kelurahan Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung mulai bulan September sampai dengan Oktober 2012. Perlakuan disusun secara tunggal yang terdiri dari 75% ampas tahu dicampur dengan 25% jerami padi (m1), 50% ampas tahu dicampur dengan 50% jerami padi (m2), 25% ampas tahu dicampur dengan 75% jerami padi (m3) dan 100% jerami padi (m4). Setiap kombinasi diulang sebanyak empat kali dan diterapkan kepada satuan percobaan dalam rancangan kelompok teracak sempurna. Homogenitas ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlet dan aditivitas model dengan uji Tukey. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 1% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur merang mencapai pertumbuhan dan hasil terbaik pada komposisi 50% ampas tahu dan 50% jerami padi, kemudian disusul dengan 25% ampas tahu dan 75% jerami padi, 100% jerami padi dan terakhir 75% ampas tahu dan 25% jerami padi.
AKUMULASI BAHAN KERING BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA (Zea mays L.) YANG DITUMPANGSARIKAN DENGAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) Alsabah, Ragil; Sunyoto, Sunyoto; Hidayat, Kuswanta Futas; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.147 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i3.2068

Abstract

Sistem tumpangsari jagung dengan ubikayu merupakan cara untuk mengoptimalisasi penggunaan lahan.Bahan kering tanaman merupakan ukuran yang paling sering digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). mengetahui akumulasi bahan kering tanaman jagung yang ditanam secara monokultur dan tumpangsari dengan ubikayu, 2). mengetahui akumulasi bahan kering beberapa varietas jagung hibrida dalam sistem tumpangsari dengan ubikayu. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan BPTP, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Ilmu Tanaaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada bulan November 2012 sampai Maret 2013. Perlakuan disusun secara faktorial dengan petak terbagi dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan.Petak utama adalah pola pertanaman tumpangsari dan monokultur, sedangkan anak petak adalah varietas tanaman jagung yang terdiri atas P27, DK77, DK85, DK95 dan NK22. Petak percobaan yang digunakan pada penelitian ini berukuran 4 x 3,2 m. Data dianalisis dengan ANOVA dan perbedaan nilai tengah perlakuan ditentukan dengan uji beda nyata jujur pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi bahan kering tanaman jagung yang ditanam secara monokultur dan tumpangsarimenunjukkan perbedaan secara nyata; bahan kering pada tanaman jagung secara monokultur memiliki nilai yang lebih besar daripada tanaman yang dibudidayakan secara tumpangsari. Sebagian bahan kering diakumulasikan pada biji diikuti batang,daun, akar, tongkol, kelobot dan malai. Akumulasi bahan kering pada beberapa varietas jagung yang ditanam secara tumpangsari menunjukkan perbedaan tidak nyata. Namun demikianvarietas NK22 menunjukkan akumulasi bahan kering yang paling besar dibandingkan dengan varietas DK85, DK77, DK95 dan P27.