Articles

Found 13 Documents
Search

KARAKTERISTIK BIOFILM BERBAHAN DASAR KARAGINAN Herliany, Nurlaila Ervina; Santoso, Joko; Salamah, Ella
Jurnal Akuatika Vol 4, No 1 (2013): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakterisik karaginan yang digunakan dalam pembuatan biofilm. Karaginan yang diekstraksi menggunakan KOH 0,5% selama 1 jam memberikan hasil terbaik dengan karakteristik rendemen 45,64%, viskositas 18 cP, kadar air 16,26%, kadar abu 35,90%, kadar abu tak larut asam 0,32%, kadar sulfat 5,04%, dan kekuatan gel 385,63 gf. Penggunaan karaginan pada konsentrasi 1,5% menghasilkan biofilm terbaik dengan sifat-sifat ketebalan 0,070 mm, kuat tarik 5516,67 kgf/cm2, persen pemanjangan 43,05% dan laju transmisi uap air 0,0060 g/m2/hari.  Biofilm terbaik juga mempunyai struktur mikroskopis internal polimer lebih kompak dan padat.
Penggunaan Coating Karaginan Terhadap Mutu Organoleptik Udang Kupas rebus Selama Penyimpanan Dingin Herliany, Nurlaila Ervina; Santoso, Joko; Salamah, Ella
Jurnal Agroindustri Vol 3 No 2 November 2013
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.4 KB)

Abstract

One of the most...................
ABSOLUTE GROWTH AND BIOMASS OF Gracilaria sp. THAT CULTIVATED UNDER DIFFERENT DEPTHS Herliany, Nurlaila Ervina; Zamdial, Z; Febriyanti, Rahma
Jurnal Kelautan Vol 10, No 2 (2017)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.468 KB) | DOI: 10.21107/jk.v10i2.2986

Abstract

There is significant increasing of seaweeds demand over the years that affect the development of seaweeds farming in Indonesia. Gracilaria sp. is one of the species that cultivated in Indonesia. There are some factors that affect the successful of seaweeds cultivation, one of them is cultivation depth. The research was carried out to study the effect of different depth on absolute growth and biomass of Gracilaria sp. Gracilaria sp. was cultivated under three different depths (30, 45 and 60 cm). The result shows that absolute growth and biomass were influenced by cultivation depth. The best treatment was cultivation at 30 cm of depth. Water quality measurements shows that research location is suitable for the growth of seaweeds.Keywords : Absolute growth, Biomass, Cultivation depths, Gracilaria sp
Aplikasi maserat buah mangrove Avicennia marina sebagai pengawet alami ikan nila segar herliany, nurlaila ervina; pariansyah, ahmad; negara, bertoka fajar surya prawira
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica Vol. 5: No. 1 (April, 2018)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.722 KB) | DOI: 10.29103/aa.v5i1.454

Abstract

Proses pengawetan ikan merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan, dimana  kesegaran ikan dipertahankan  selama mungkin  dengan cara menghambat penyebab kemunduran mutu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh maserat  kasar dari buah mangrove  Avicennia marina  yang berpotensi sebagai bahan pengawet alami ikan segar. Penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, maserasi dan aplikasi.  Penelitian ini  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah bentuk esktrak yang digunakan, yaitu maserat buah mangrove  dan maserat serbuk buah mangrove. Faktor kedua adalah lama penyimpanan, yaitu 0, 4, 8, dan 12 hari. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak dua kali. Data yang diperoleh berupa hasil uji fitokimia buah mangrove, kandungan protein ikan dan nilai organoleptik ikan nila selama penyimpanan. Data protein dan organoleptik dianalisis dengan ANOVA pada tingkat kepercayaan 95 %, apabila ada beda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah mangrove Avicennia marina mengandung senyawa fitokimia berupa alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin dan tanin. Berdasarkan analisis ragam interaksi antara bentuk maserat dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar protein  ikan nila. Secara keseluruhan, nilai organoleptik ikan nila dipengaruhi oleh interaksi antara bentuk maserat dan lama penyimpanan, dimana maserat serbuk memiliki nilai organoleptik lebih tinggi dibandingkan maserat utuh selama penyimpanan. Kata kunci: Avicennia marina, kemunduran mutu ikan, maserat, pengawet, penyimpanan
HUBUNGAN LEBAR KARAPAS DAN BERAT KEPITING BAKAU (Scylla spp.) HASIL TANGKAPAN DI DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO PROVINSI BENGKULU Herliany, Nurlaila Ervina; Zamdial, Z
Jurnal Kelautan Vol 8, No 2: Oktober (2015)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.912 KB) | DOI: 10.21107/jk.v8i2.818

Abstract

Informasi biologi perikanan diperlukan untuk mengetahui status suatu komoditas perikanan di alam, terutama untuk komoditas bernilai ekonomis tinggi seperti kepiting bakau. Salah satu daerah penangkapan kepiting bakau di alam adalah Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan informasi biologi kepiting bakau di Desa Kahyapu, Pulau Enggano, khususnya informasi mengenai hubungan lebar karapas dan berat kepiting bakau. Sampel kepiting bakau (jantan dan betina) dari hutan mangrove di Desa Kahyapu, Pulau Enggano. Penelitian ini menggunakan 3 stasiun pengamatan, setiap statiun dibagi menjadi 3 transek garis dengan masing-masing 3 plot (ukuran 10x10 m) tiap transek garis. Tiap plot dipasang bubu sebanyak 3 buah selama 14 hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kepiting bakau jantan lebih banyak tertangkap dengan nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1: 0,47. Lebar karapas kepiting bakau jantan berkisar antara 70 – 193 mm (67,65% telah dewasa kelamin), sedangkan lebar karapas kepiting bakau betina berkisar antara 83 – 180 mm (93,75% telah dewasa kelamin). Pola pertumbuhan kepiting bakau baik jantan maupun betina adalah allometrik negatif (b < 3).Kata kunci: berat, Enggano, Kahyapu, karapas, kepiting bakauTHE RELATIONSHIP BETWEEN THE WIDTH OF CARAPACE AND THE WEIGHT OF CAUGHT MANGROVE CRAB (Scylla spp.) IN KAHYAPU VILLAGE, ENGGANO ISLAND, BENGKULU PROVINCEABSTRACTBiological information of fisheries is necessary to know the status of certain fisheries commodity in nature, especially for the high-economical-valued commodity like the mangrove crab. One of natural mangrove crab fishing grounds is Kahyapu Village, Enggano Island, Bengkulu Province. The objective of this research is to collect biological information of mangrove crab in Kahyapu Village, Enggano Island, especially the information about the relationship between the width of carapace and the weight of mangrove crab. The samples of mangrove crab (male and female) were taken from mangrove forest in Kahyapu Village, Enggano Island. This research used 3 observation stations. Each station was divided into 3 line transects each had 3 plots (the size was 10 x 10 m) for each line transect. Each plot was installed by 3 fish traps for 14 days. The observation result showed that the mostly caught were male mangrove crabs, the comparison between the caught male and female mangrove crabs were 1: 0.47. The width of male mangrove crab’s carapaces were about 70 to 193 mm (67.65% were the adult ones), while the width of female mangrove crab’s carapaces were about 83 – 180 mm (93.75% were the adult ones). The growth pattern of both male and female mangrove crabs was negative allometric (b < 3).Keywords: carapace, Enggano, Kahyapu, mangrove crab, weight
DETEKSI MOLEKULER WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI PT. HASFAM INTI SENTOSA Yanti, Miske Evi Gusti; Herliany, Nurlaila Ervina; Negara, Bertoka FSP; Utami, Maya Angraini Fajar
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.695 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.2.156-169

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang yang umum dibudidayakan di Indonesia sejak pemerintahan mengeluarkan kebijakan untuk mengintroduksinya sebagai upaya menanggulangi penurunan produksi. Kehadiran udang vanname di Indonesia pada awalnya dapat diterima dan berkembang dengan baik oleh pembudidaya udang. Namun, produksi udang mengalami kemerosotan beberapa tahun terakhir seiring kemunculan penyaki. Virus disinyalir menjadi patogen paling berperan memicu penyakit pada udang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan WSSV pada udang vanname (Litopenaeus vannamei) secara molekuler serta memperoleh keterkaitan antara kualitas air dengan keberadaan udang yang terinfeksi WSSV. Pengambilan sampel dilakukan di PT. Hasfam Inti Sentosa. Sampel di ambil secara acak dari 5 kolam yang berbeda pada hari ke 35 dan ke 70. Deteksi molekuler WSSV dilakukan di SKIPM Kelas II Bengkulu menggunakan Pockit Real Time PCR. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan bahwa tidak terdapat virus WSSV atau negatif (-) WSSV pada udang yang berasal dari PT. Hasfam Inti Sentosa. Kualitas air secara keseluruhan optimal untuk budidaya udang vanname kecuali parameter ammonia dan nitrit. Tetapi parameter ammonia masih dalam batasan toleransi untuk udang vanname sehingga kualitas air tambak masih belum menyebabkan udang terinfeksi WSSV.
STRUKTUR KOMUNITAS KEPITING BIOLA (Uca spp.) DI EKOSISTEM MANGROVE DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO Natania, Trya; Herliany, Nurlaila Ervina; Kusuma, Aradea Bujana
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.156 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.1.11-24

Abstract

Mangrove merupakan ekosistem kompleks yang hidup di daerah pasang surut. Ekosistem mangrove selain melindungi pantai dari gelombang dan angin juga sebagai habitat berbagai organisme seperti krustasea. Salah satu krustasea yang memiliki peran penting di ekosistem mangrove adalah kepiting biola (Uca spp.) sebagai detritus di ekosistem mangrove. Pulau Enggano merupakan pulau kecil terluar Provinsi Bengkulu, keadaan ekosistem mangrovenya masih tergolong alami. Salah satu desa yang memiliki vegetasi mangrove yang alami adalah Desa Kahyapu. Tetapi penelitian tentang Uca spp. di Pulau Enggano khususnya di Desa Kahyapu belum pernah dilakukan.  Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis kepiting biola dan menganalisis struktur komunitas kepiting biola di Desa Kahyapu Pulau Enggano. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan teknik observasi langsung pada 3 stasiun, dimana setiap stasiun terdiri dari 11 plot. Dari hasil penelitian didapatkan 4 jenis kepiting biola (Uca spp.) yaitu  Uca vocans, Uca chlorophthalmus, Uca dussumeiri, dan Uca coarctata. Kelimpahan jenis kepiting biola (Uca spp.) yang paling tinggi pada stasiun I. Kelimpahan total tertinggi terdapat pada stasiun I dan diikuti stasiun III, terendah pada stasiun II. Tingginya kelimpahan pada  stasiun I diduga karena substrat liat yang cocok untuk kehidupan kepiting biola. Secara umum Uca dussumieri paling banyak ditemukan di tiga stasiun karena toleransinya yang tinggi . Indeks keseragaman kepiting biola (Uca spp.) seluruh stasiun tinggi sedangkan indeks keanekaragamannya rendah. Pada stasiun I dan II  mempunyai indeks dominansi rendah, sedangkan pada stasiun III mempunai indeks dominansi sedang.  Secara umum, kualitas perairan (suhu, pH, salinitas, kandungan bahan organik, dan substrat) di lokasi penelitian cocok untuk kehidupan Uca spp.
STUDI PENGOLAHAN TERIPANG KERING Herliany, Nurlaila Ervina; Nofridiansyah, Eko; Sasongko, Bayu
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.032 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.2.11-19

Abstract

Teripang merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi dan telah digunakan sejak lama sebagai obat-obatan alami. Di pasar dunia, umumnya teripang dipasarkan dalam bentuk kering. Indonesia merupakan negara pengekspor teripang terbesar di dunia. Tetapi, nilai jualnya lebih rendah dibanding negara lain karena mutu yang rendah sebagai hasil proses pengolahan yang kurang baik. Untuk itu, perlu dilakukan studi mengenai proses pengolahan teripang kering. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari proses pengolahan teripang kering serta menentukan mutu teripang kering yang dihasilkan. Teripang segar yang digunakan adalah jenis teripang pasir (Holothuria scabra). Proses pengolahan mengacu pada metode Sasongko (2015) yang dimodifikasi. Teripang kering yang dihasilkan dianalisis proksimat (kadar air, abu dan protein) dan hasilnya dibandingkan dengan SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teripang kering memiliki kualitas yang bagus, dilihat dari kenampakan visual dan kandungan proksimatnya. Kadar air teripang kering 7,3%; kadar abu 9,8% dan kadar protein 79,59% dengan tekstur yang keras seperti batu dan warna hitam merata.
Cultivation of seaweed Gracillaria sp. Using longline methods under different space of planting Herliany, Nurlaila Ervina; Zamdial, Zamdial; Meylia, Reza
Journal of Aquatropica Asia Vol 2 No 2 (2016): Journal of Aquatropica Asia
Publisher : Department of Aquaculture, University of Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.634 KB)

Abstract

One of the most species that using in seaweeds farming is Gracilaria sp. The success of farming, is determined by several factors such as plant spacing. The aim of this study is to determinine the best plant spacing for seaweeds farming and water quality of farming location. The study was held in the village of Kahyapu, Enggano Island, Bengkulu province from March until May 2015. The research was held using experimental methods that refers to Meylia (2015). Seaweeds is grown using three plant spacing (20, 25 and 30 cm) for 42 days. Wet weight of seaweeds was measured every week. Water quality was measured at the beginning, middle and end of the study. Data of wet weight and absolute growth rate were analyzed using a completely randomized design (CRD) factorial at the 95% confidence level with two factors, plant spacing and farming periode. Duncan Multiple Test (DMRT) was used if  there is a significant difference. The results showed that the interaction between plant spacing and farming periode has siginificant effects to wet weight. Duncan test showed that more extensive planting space and the longer the cultivation, the wet weight will be higher. The rate of absolute growth is affected by plant spacing and observation times. Based on the Duncan’s test, wider spacing can increase the growth rate. Plant spacing of 30 cm is the best treatment. Water quality (temperature, salinity, pH, brightness and water current) during farming was suitable for seaweeds growth
Biodiversitas makroalga di perairan pantai Pasar Lama dan Pantai Cukuh, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu Herliany, Nurlaila Ervina; Purnama, Dewi; Yamadipo, Yusarwan
Journal of Aquatropica Asia Vol 1 No 1 (2014): Journal of Aquatropica Asia
Publisher : Department of Aquaculture, University of Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.788 KB)

Abstract

Macroalgae or seaweeds is one of the economical nature resources and widespread in coastal waters of Indonesia, especially in coastal waters of Pantai Pasar Lama and Pantai Cukuh, Kaur Regency, Province of Bengkulu. Biodiversities of macroalgae were observed by direct observations and the species of macroalgae that have been found were identified in the observed location. There were three stations of observation, each of them had three lines transect and each line had four quadrat transects. The result showed that in the location of observations, there were 23 species of macroalgae, 10 species of Chlorophyta, 8 species of Rhodophyta and 5 species of Phaeophyta. Station 3 is the highest abundance (3,501.33 g.m-2), followed by station 2 (5,837.33 g.m-2) and the lowest abundance is station 1 (3,501.33 g.m-2). The difference on abundance of the three stations might be caused by the difference of condition of each station.