Articles

Found 9 Documents
Search

The Existing Condition of Mangrove Region of Avicenia marina, Its: Distribution and Functional Transformation

JURNAL MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1605.432 KB)

Abstract

Mangrove ecosystem existence is important for environment and other organisms because of its ecological and economical values, so that management and preservation of mangrove ecosystem are needed. The purpose of this research was to determine the existing condition of mangrove, both its distribution and its functional transformation in Indah Kapuk Coastal Area. Avicennia marina  becomes important as wave attenuation,  a form of abrasion antidote. Transect-Square and Spot-Check methods were used to determine the existing condition of A.marina mangrove forests. Autocad program, coordinate converter, Google Earth, Google Map, and Arc View were applied in process of making mangrove distribution map. In western of research location exactly at Station 1 and Station 2, the density value of mangrove was 450 and 825 tree ha-1, respectively with  sparse category because they were contaminated by waste and litter. In eastern of research location namely Station 3, Station 4, and Station 5 the mangroves grow well with density value of 650 (sparse), 1,500 (very dense), and 1,200 tree ha-1 (fair), respectively, eventhough the contamination still happened. The mangrove forests around the stations do not function as wave attenuation because there were many waterfront constructions which have replaced the function of mangrove forests to damp the wave. In short, it can be stated that the mangroves function has changed in a case of wave attenuation. The function of mangrove forests is not determined by mangrove forest density but it is determined by mangroves free position.Keywords: Avicennia marina, mangrove, wave attenuation, waterfront constructions

DESAIN PROTOTIPE INSTALASI KOAGULASI DAN KOLAM FAKULTATIF UNTUK PENGOLAHAN AIR LINDI (STUDI KASUS TPA BAKUNG BANDAR LAMPUNG)

Jurnal Rekayasa Vol 13, No 1 (2009): Edisi April Tahun 2009
Publisher : UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.955 KB)

Abstract

Air lindi adalah cairan yang timbul sebagai limbah akibat masuknya air eksternal ke dalamtimbunan sampah (khususnya TPA). Lindi yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemarisumber air minum penduduk di sekitar tumpukan sampah. Salah satu solusi masalah tersebutadalah dengan mendesain prototipe instalasi pengolahan air lindi. Tujuan penelitian ini adalahmendesain suatu prototipe instalasi pengolahan lindi, mengetahui karakteristik lindi dari TPABakung, menguji efektifitas kinerja model instalasi yang dibuat, menganalisa air lindi hasilperlakuan model instalasi tersebut.Uji perlakuan dalam penelitian ini menggunakan dua dosis koagulan yang berbeda. Lindi dari TPABakung dicampur dengan kedua dosis koagulan tersebut. Dalam pelaksanaannya terdapat tigasampel, yaitu sampel awal sebelum perlakuan, sampel hasil perlakuan pertama, dan sampelperlakuan kedua. Ketiga sampel diuji di laboratorium UPTD Balai Laboratorium KesehatanProvinsi Lampung untuk mengetahui parameter pH, kekeruhan, TSS, BOD dan COD. Pada modelinstalasi, air lindi yang telah dicampur dengan tawas dan kaporit kemudian diaduk menggunakanmixer lalu sampel diendapkan selama 24 jam kemudian disaring dengan filter karbon aktif.Hasil pengujian sampel hasil perlakuan model instalasi menunjukkan hasil yang baik, terutamapada parameter pH, kekeruhan, dan TSS. Hasil pengujian sampel menunjukkan kadar tawas efektifyaitu 25 gram/liter ditambah 0,5 gram/liter kaporit. Kadar tersebut dapat menurunkan kadar pH,kekeruhan, TSS, BOD, COD masing-masing mencapai 29,44%, 50%, 79,80%, 72,62% dan72,61%. Dari hasil uji perlakuan lindi dengan model instalasi maka dibuat desain prototipeinstalasi pengolahan air lindi. Air lindi yang telah dicampur dengan tawas kemudian diadukmenggunakan flokulator dengan kecepatan pengadukan 100 rpm. Setelah itu sampel diendapkanselama 24 jam pada kolam fakultatif lalu dialirkan melewati filter karbon aktif untuk diendapkanselama lima hari di dalam kolam pantau baru dialirkan ke badan air.

Pengaruh Derajat Kejenuhan Pada Tanah Gambut Menggunakan Uji Kuat Geser Tanah

Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain Vol 6, No 3 (2018): Edisi September 2018
Publisher : Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.683 KB)

Abstract

The soil occupies an important role in the construction of a building, the main benefit of the soil isas a foundation of the construction, there are several soil shear strength tests, such as DirectShear Test, and Vane Shear Test. Each test can produce different test results for the same testobject. This may occur due to different testing procedures and workings of different tools as wellas the main test result targets of each equipment in the determination of soil parameters.Therefore, a careful soil investigation is needed, especially to determine the degree of saturationin peat soils by using soil shear strength test. In this study, the soil tested is a type of peat soiloriginated from the Rawa Seragi area, Belimbing Sari Village, Jabung District, East LampungDistrict.The tests were conducted directly in the laboratory for 12 (twelve) points and at differentdepths with Vane Shear and Direct Shear tools used to calculate the soil and maximum readingability on the torsimeter dial. Based on the test results obtained the average shear strength valueof Vane Shear on saturated soil at 30cm with an average value of 0.0379 and at a depth of 50cmwith an average value of 0.0384 and on unsaturated soil at a depth of 30cm with an average valueof 0.0434 and at a depth of 50cm with an average value of 0.0406 thus obtained a decrease of0.0066.Keywords: Degree of Saturation, Peat Soil, Shear Strength Test

Analisis dan Desain Sistem Drainase di Lingkungan Universitas Lampung (Studi Kasus: Zona III Wilayah Rektorat – Fakultas Pertanian)

Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain Vol 6, No 3 (2018): Edisi September 2018
Publisher : Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.542 KB)

Abstract

Water problems consist of three types: flood, drought, and water pollution. Floods are recognized as a significant source of threat to human life. One of the flood prevention actions that can be done is to optimize the drainage channels. Drainage can be defined as a technical action to reduce excess water so that the function of the area or land is not disturbed. University of Lampung is one of the locations prone to flooding. Therefore, a research to overcome the flood that occurred at the University of Lampung has been conducted (Case Study: Zone III Rectorate Area - Faculty of Agriculture). The purposes of this research are to analyze the drainage system of University of Lampung and to design drainage system that fulfill flood discharge plan. The research was conducted by survey in the field. The analysis conducted in this study include hydrological analysis and hydraulics analysis using HEC-RAS4.1.0 application. Calculation of discharge plan using rational method.. Based on the analysis results, there are no channels that are not sufficient for flood discharge, but there are some channels that are disconnected and cause the water to not flow. The disconnected channels are located on the channel with the DN5 and DN62 codes. For that, it is recommended to create a channel connecting DN62 channel with DN63, and make a channel on channel DN5 to DN65. The budget required for the repair of this channel is Rp 207,203,725.00 (Two Hundred Seven Million Two Hundred and Three Thousand Seven Hundred Twenty Five Rupiah).Keywords: Drainage, HEC-RAS, hydrology, hydraulics, floods

STUDI PENURUNAN TANAH GAMBUT PADA KONDISI SINGLE DRAIN DENGAN METODE VERTIKAL DRAIN DENGAN MENGGUNAKAN PRELOADING

Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol 15 No 1 (2016): Jurnal SPATIAL - Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi, Volume 15 Nomor 1, M
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.416 KB)

Abstract

ABSTRAK Pembangunan konstruksi di atas tanah gambut akan mendapatkan beberapa masalah geoteknik. Salah satunya adalah terjadinya penurunan (konsolidasi) tanah yang apabila mengalami pembebanan diatasnya maka tekanan air pori akan naik sehingga air pori ke luar yang menyebabkan berkurangnya volume tanah, oleh karena itu akan terjadi penurunan pada tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan data hasil pengujian penurunan lapis tanah pada tanah gambut menggunakan metode sand drain dengan Pembebanan Bertahap pada kondisi Single Drain (Pola Segitiga dan Pola Segiempat). Pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Lampung. Sampel tanah yang akan diteliti adalah tanah gambut pada kedalaman 20 cm. Pelaksanaan pengujian dilakukan dalam 2 tahap. Pertama adalah pengujian sifat fisik dan konsolidasi tanah gambut. Kedua adalah pengujian lama waktu pengeringan pada tanah gambut akibat pengaruh metode drainase menggunakan bahan pasir. Data yang didapatkan dari percobaan diolah, dan kemudian hasil perhitungan tersebut ditabelkan dan dibuat grafik. Dari penelitian ini didapatkan: Koefisien konsolidasi (Cv) untuk pola segitiga sebesar 0,00079 cm2/menit dan untuk pola segiempat sebesar 0,0028 cm2/menit, nilai indeks tekanan Cc untuk pola segitiga sebesar 2,5589 dan untuk pola segiempat sebesar 1,0041. Sehingga diambil kesimpulan : (1) Penggunaan metode sand drain dengan pola segiempat ternyata dapat menurunkan tanah lebih cepat daripada dengan pola segitiga (2) Nilai Cv (koefisien konsolidasi) sebelum pembebanan lebih besar daripada setelah pembebanan, sedangkan nilai Cc (indeks pemampatan) sesudah pembebanan lebih besar daripada sebelum pembebanan. Kata Kunci : Gambut, Single Drain, Konsolidasi

KAJIAN PENGGUNAAN METODE IP, STORET, dan CCME WQI DALAM MENENTUKAN STATUS KUALITAS AIR

Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol 18 No 1 (2018): Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.253 KB)

Abstract

Air kebutuhan makhluk hidup yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Pemantauan kualitas air perlu dilakukan pada air sungai, air laut, air danau, air rawa  dan air tanah sehingga air dapat dimanfaatkan sesuai dengan kegunaannya. Kajian  ini bertujuan untuk menganalisa penggunaan  metode perhitungan indeks kualitas air dalam menentukan status kualitas air permukaan sehingga diketahui metode yang paling efektif, sensistif dan obyektif. Metode perhitungan Indeks Kualitas Air (IKA) diperlukan untuk menyederhanakan banyaknya nilai dari berbagai jenis parameter menjadi sebuah angka tunggal yang mampu mendeskripsikan kondisi kualitas air, sehingga lebih mudah dipahami oleh masyarakat.  Ada beberapa metode perhitungan IKA di berbagai Negara, metode Storet, IP, dan CCME WQI (Canadian Council of Ministers of The Environment).  Metode tersebut akan dibandingkan dengan beberapa indikator. Hasil kajian menunjukkan Metode IP lebih unggul jika memakai data tunggal, karena memiliki kelebihan dari segi biaya dan waktu namun hanya mempresentasikan status mutu air pada saat itu saja tidak dalam periode tertentu. Metode Storet dan CCME menggunakan data perulangan sepanjang waktu (time series data), sehingga lebih menggambarkan status mutu air dalam periode tertentu. CCME WQI lebih unggul dari Metode Storet dan Metode IP karena memperhitungkan besarnya selisih hasil pengujian yang melebihi baku mutu melalui F3 (Amplitude). Dari kajian di atas disimpulkan, Metode CCME merupakan metode yang paling tepat untuk menganalisis kualitas air di berbagai negara termasuk Indonesia baik pada air permukaan maupun air tanah dengan tingkat efektivitas dan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lainnya serta penggunaan jumlah dan jenis parameter yang fleksibel. Kata kunci : Kualitas Air, Indeks Kualitas Air, Air Permukaan  

KAJIAN PENGGUNAAN KONDESAT AC SEBAGAI BAHAN BAKU AIR MINUM DARI SEGI KUALITAS DAN KUANTITAS (REVIEW)

Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol 18 No 1 (2018): Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.196 KB)

Abstract

Penggunaan Air Conditioner (AC) yang semakin banyak oleh masyarakat baik di lingkungan perumahan maupun di perkantoran, mengakibatkan adanya air hasil proses pendinginan udara. Air yang dihasilkan jumlahnya cukup banyak, namun pemanfaatannya belum dilakukan secara maksimal. Kegiatan ini bertujuan untuk mereview beberapa penelitian mengenai kondesat AC sehingga akan diketahui metode yang paling efektif  dalam menentukan kualitas kondesat AC sebagai bahan baku air minum pada penelitian selanjutnya. Sejauh ini belum banyak penelitian mengenai kondesat AC. Beberapa penelitian hanya menganalisa sebagian parameter dari parameter fisik, kimia, dan bakteriologis. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Wahyu, dkk (2006), yang  menganalisa parameter fisik, kimia (CO2, Amonia, Nitrat, KMN04, dan Fenol) dan mikrobiologi. Kemudian penelitian oleh Laila, dkk (2009), yang hanya menganalisa parameter konduktivitas, TDS, PH dan logam Pb. Lalu penelitian oleh Bambang, dkk (2016) yang meneliti tentang parameter laju alir, fisika (TDS,  Turbidity dan pH) dan mikrobiologi. Diantara penelitian tersebut, belum ada yang menggunakan metode WQI untuk menentukan kualitas kondesat AC. Selain itu belum ada pula yang melakukan analisa ekonomi mengenai keunggulan kondesat AC sebagai alternatif sumber air bersih. Oleh karena itu pada penelitian ini kami menggunakan metode DOE WQI untuk mengetahui kualitas sekaligus melakukan analisa ekonomi dari penggunaan kondesat AC tersebut. Pemilihan metode DOE WQI disebabkan karena metode ini dianggap mampu menyederhanakan perhitungan status mutu air hanya dengan mengukur 6 paramater yaitu BOD, COD, DO, Amonia, TSS, dan pH. Pengambilan sampel kondesat sebaiknya dilakukan pada rentang waktu yang sama, untuk mendapatkan jumlah volume kondesat yang akurat. Nilai volume tersebut berpengaruh pada analisa ekonomi yang akan dilakukan. Pemeriksaan fisik mikrobiologi, dan logam juga harus tetap dilakukan untuk mengantisipasi temuan pada penelitian sebelumnya. Dapat disimpulkan bahwa metode DOE WQI merupakan metode yang efektif untuk mengevaluasi kualitas kondesat AC jika dibarengi dengan pemeriksaan parameter logam.   Keyword : Kualitas Air, Kondesat AC, Review Penggunaan Kondesat AC

Analisis Zonasi Ekowisata Bahari Berbasis Sistem Informasi Geografis

Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol 18 No 2 (2018): Jurnal Spatial - Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.542 KB)

Abstract

Besarnya potensi wisata dan keanekaragaman wisata di Kabupaten Pesisir Barat, menjadikan daya tarik bagi turis untuk dilakukannya pariwisata di Kabupaten Pesisir Barat.Diperlukan sebuah perencanaan pariwisata dalam pemetaan wilayah ekowisata bahari di Kabupaten Pesisir Barat, sehingga keindahan alam, dan ketertarikan wisatawan asing tidak terhalangi oleh atribut–atribut ekowisata yang kurang memadai demi tujuan tercapainya kemakmuran daerah yang berdampak cukup besar bagi provinsi maupun negara. Tujuan penelitian ini adalah mendesain zonasi kawasan ekowisata bahari di kabupaten Pesisir Barat.Metode  yang digunakan adalah Analisis Berbasis Masyarakat dan Analisis SWOT yang berbasis SistemInformasi Geografis. Berdasarkan hasil analisis yang sudah dilakukan, kabupaten ini memiliki 30 wilayah yang sangat berpotensi untuk dikembangkan.Disimpulkan bahwa perlu perhatian khusus dari pemerintah dalam menata ruang dan wilayah dalam sumberdaya kekayaan alam yang dimiliki oleh kabupaten Pesisir Barat.

KAJIAN PENGGUNAAN METODE IP, STORET, dan CCME WQI DALAM MENENTUKAN STATUS KUALITAS AIR

Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol 18 No 2 (2018): Jurnal Spatial - Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.678 KB)

Abstract

Pemantauan kualitas air perlu dilakukan pada air sungai, laut, danau, rawa  dan tanah sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kegunaannya bagi makhluk hidup. Kajian  ini bertujuan untuk membandingkan beberapa metode perhitungan indeks kualitas air yang paling efektif, sensitif dan obyektif dalam menentukan status kualitas air permukaan. Metode perhitungan Indeks Kualitas Air (IKA) diperlukan untuk menyederhanakan banyaknya nilai dari berbagai jenis parameter menjadi sebuah angka tunggal yang mampu mendeskripsikan kualitas air, sehingga lebih mudah dipahami oleh masyarakat.  Perhitungan IKA dengan menggunakan metode Storet, IP, dan CCME WQI (Canadian Council of Ministers of The Environment) dilaksanakan di beberapa penelitian di berbagai negara.  Kajian ini akan membandingkan hasil literatur dari penelitian IKA di beberapa negara. Metode tersebut akan dibandingkan dengan beberapa indikator. Hasil kajian menunjukkan Metode IP lebih unggul jika memakai data tunggal karena memiliki kelebihan dari segi biaya dan waktu, namun hanya mempresentasikan status mutu air pada saat itu saja, tidak dalam periode tertentu. Metode Storet dan CCME menggunakan data perulangan sepanjang waktu (time series data) sehingga menggambarkan status mutu air dalam periode tertentu. CCME WQI lebih unggul dari Metode Storet dan Metode IP karena memperhitungkan besarnya selisih hasil pengujian yang melebihi baku mutu melalui F3 (Amplitude). Dari kajian di atas disimpulkan, Metode CCME merupakan metode yang paling tepat untuk menganalisis kualitas air baik pada air permukaan maupun air tanah dengan tingkat efektivitas dan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lainnya serta penggunaan jumlah dan jenis parameter yang fleksibel.