Sri Widowati Herieningsih
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 68 Documents
Articles

PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADA MAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIP

Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADAMAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIPAbstrakKekerasan seksual sering kali muncul di sekitar kita, terutama seringmerugikan pihak perempuan. Namun, kebanyakan korban dari kekerasan tersebutjustru tidak banyak yang melaporkannya, salah satu bentuk yang paling seringdijumpai adalah pelecehan seksual. Pelecehan seksual diartikan sebagai suatukeadaan yang tidak dapat diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual danpernyataan-pernyataan yang bersifat menghina atau keterangan seksual yang bersifatmembedakan. Tindakan yang tidak diinginkan tersebut ternyata bukan saja terjadi diranah privat saja, melainkan sudah mengarah pada ruang publik dan dapat berasaldari orang-orang yang dikenal seperti teman-teman di lingkungan pendidikan.Fokus penelitian adalah untuk menggambarkan bagaimana maskulinisasidapat diterima oleh mahasiswi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Selain itu, untukmenjelaskan bentuk dan dampak pelecehan seksual yang terdapat dalam sebuahmaskulinisasi tersebut, dan ideologi yang digunakan di balik dominasinya.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma kritis, dengan tipe penelitiandeskriptif. Manakala metode penelitiannya menggnakan Studi Kasus yang mengacupada Yin (2006). Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Teori utama penelitian iniadalah Muted Group Theory dari Cheris Kramarae.Hasil penelitian menggambarkan bagaimana pelecehan seksual dapat diterimadikalangan perempuan dalam sebuah dominasi kelompok, berkat hegemoni kelompokyang membuatnya semakin tersamar. Bentuk pelecehan yang dialami merekacenderung mengarah pada hostile environment, di mana berdampak terhadap keadaanpsikologis, berupa lontaran komentar-komentar maupun julukan seksis yangmendeskripsikan keadaan fisik mereka. Ideologi di balik dominasi mereka adalahPatriarki yang telah melebur dengan nilai-nilai di lingkungannya, sehinggamenjadikan suatu “kebiasaan laki-laki”, salah satunya pelecehan seksual yang telahdijadikan keadaan normal di kalangan perempuan.Kata kunci : Pelecehan Seksual, Dominasi, MaskulinisasiSEXUAL HARASSMENT: MASCULINIZATION OF FEMALE STUDENTIDENTITY ON ELECTRICAL ENGINEERING MAJOR OF DIPONEGOROUNIVERSITYAbstractSexual violence often appear around us, especially the often detrimental towomen. However, most of the violence victims didn’t make reports on it, one of themost common sexual violence is sexual harassment. Sexual harassment is defined asa situation that is unacceptable, whether verbal, physical or sexual cues andstatements that are sexually derogatory or discriminatory statements. The unwantedactions are apparently not only occur in the private sphere, but has led to the publicand can be derived from known people like friends in the educational environment.The focus of the research is to describe how the masculinization may beaccepted by the student in the Electrical Engineering Diponegoro University.Moreover, to explain the shape and impact of sexual harassment contained in a themasculinization, and ideology are used behind its dominance.This qualitative study using a critical paradigm, the descriptive type. Whereasthe research method is using the case study which refers to Yin (2006). Data obtainedfrom direct field observations and in-depth informant interviews to three informantsof the Electrical Engineering Diponegoro University students, by using the SnowballSampling technique. The main theory of this study is Muted Group Theory of CherisKramarae.The result of the research illustrates how sexual harassment is acceptableamong women in a group of domination, through to the hegemony group that make itmore subtle. The form of harassment experienced by women tends to lead to a hostileenvironment, where the impact on the psychological state, a burst of comments andsexist epithets describing their physical state. The ideology behind their dominance isPatriarchy which has merged with the values in the environment, making a "habit ofmen", one of which sexual abuse has become a normal state among women.Keywords: Sexual harassment, Domination, MasculinizationPendahuluanAkhir-akhir ini, pemberitaan mengenai kekerasan semakin marak diberitakan dimedia-media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan tidak jarang media itu sendirijuga turut menjadi pelaku dari kekerasan. Di sini, kekerasan yang dimaksud tidakmelulu berkaitan dengan tindakan tembakan, pukulan atau dengan tetesan darah.Kekerasan adalah suatu penyerangan yang berakibat menyakiti seseorang, baikberupa verbal maupun non-verbal, dan dilakukan secara langsung maupun tidaklangsung. Jenis-jenis kekerasan juga dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satu yangsering menjadi sorotan adalah Kekerasan Berbasis Gender (KBG).Dalam sebuah seminar berjudul “Gender-Based Violence In A RomanticRelationship” (Anonim, 2012), Murnizam Halik PH.D, seorang Dekan Psikologi diUniversitas Malaysia Sabah (UMS) sekaligus narasumber seminar, mengungkapkanGender Based Violence atau Kekerasan Berbasis Gender merupakan serangkaianpenganiayaan yang dilakukan terhadap perempuan, yang berakar dari ketidaksetaraangender dan rendahnya status perempuan dibandingkan laki-laki. KBG dapat terjadi dimanapun, dari ruang privat hingga ruang publik, yang nyata diketahui banyak orang.Selain itu, KBG dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: kekerasan fisik, kekerasanpsikis dan kekerasan seksual. Akan tetapi, pembahasan dalam penelitian ini akanmengarahkan pembaca pada kekerasan dalam bentuk seksual, yang mana salahsatunya menyangkut pelecehan seksual. Sexual harassment atau pelecehan seksualsering kali terjadi disekitar kita, dengan atau tanpa disadari.Pelecehan seksual diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diterima,baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual dan pernyataan-pernyataan yang bersifatmenghina atau keterangan seksual yang bersifat membedakan, di mana membuatseseorang merasa terancam, dipermalukan, dibodohi, dilecehkan dan dilemahkankondisi keamanannya. Pada dasarnya, pelaku pelecehan dapat dilakukan oleh lakilakidan perempuan; baik laki-laki terhadap perempuan, perempuan terhadapperempuan, bahkan antar sejenis yaitu laki-laki terhadap laki-laki dan perempuanterhadap perempuan. Bentuknya dapat berupa verbal dan non-verbal, dan dapatdijumpai di manapun, kapanpun, kepada siapapun dan oleh siapapun, tanpa mengenalstatus atau pangkat. Richmond dan Abbott (1992:329) menyatakan, bahwa hanyasekitar satu per sepuluh kasus-kasus pelecehan seksual sesama jenis yang diberitakan.Pelecehan seksual sesama jenis biasanya dilakukan oleh pasangan homoseksual, atauseseorang yang mengidap kelainan seksual. Meski demikian, tidak dapat dipungkiribahwa pada kenyataannya perempuan sering menjadi korban kekerasan maupunpelecehan seksual oleh laki-laki, sehingga setiap harinya bahkan setiap saatperempuan harus merasa berwaspada terhadap serangan-serangan yang akanmenimpanya.Menurut data WHO 2006 (dalam artikel Kinasih, 2007:11), ditemukan adanyaseorang perempuan dilecehkan, diperkosa dan dipukuli setiap hari di seluruh dunia.Paling tidak setengah dari penduduk dunia berjenis kelamin perempuan telahmengalami kekerasan secara fisik. Bahkan, pelecehan ini telah terjadi di tempattempatumum dan tanpa disadari (oleh korban pelecehan). Misalnya, kasus pelecehanmenjadi mimpi buruk (terror) bagi kaum hawa, terutama di Ibu Kota, Jakarta.Berdasarkan sumber okezone.com, (wirakusuma, 2011) perempuan yang menaikijasa mobil angkutan kota di malam hari akan merasakan takut yang berlebih sehinggamereka harus menyamarkan penampilan mereka seperti seorang laki-laki. Seorangkaryawati asal Ciputat, bernama Tungga Pawestri (30) mengaku harus pulang kantorpada malam hari (di atas pukul 22.00 WIB). Sebelum menaiki angkot tersebut,Tungga harus memakai jaket tebal dan topi agar tampak seperti laki-laki, agar dapatterlepas dari tindak pelecehan seksual di angkot.Sebuah survei “YouGov” yang dilakukan oleh End Violence Against WomenCoalition (Evaw) juga memperkuat kenyataan tersebut, yaitu sebanyak 43 persen dari1.047 wanita berusia 18 – 34 tahun (yang disurvei) mengalami pelecehan seksual ditempat-tempat umum pada tahun 2011 (Anonim, 2012). Di Indonesia sendiri,menurut pantauan yang dilakukan oleh Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dalamkurun waktu 13 tahun terakhir (1998 – 2011) telah tercatat sebanyak 22.284 kasuskekerasan seksual terhadap perempuan di ruang umum dan menjadi urutan kedua dariseluruh kasus kekerasan seksual yang berjumlah 93.960 kasus (Hidayatullah, 2012).Pelecehan seksual ini merupakan latar belakang dari kekerasan, sehinggahukum di Indonesia pun menciptakan suatu undang-undang perlindungan perempuan,yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, yangmana merupakan pengaturan pasal-pasal pelecehan seksual: (a) KUHP Pasal 289 –296 merupakan pasal-pasal tentang pencabulan, (b) KUHP Pasal 295 – 298 dan pasal506 merupakan pasal-pasal tentang Penghubungan Pencabulan, dan (c) KUHP Pasal281 – 299, 532 – 533 dan lain-lain merupakan pasal-pasal tentang Tindak Pidanaterhadap Kesopanan (Laluyan, 2009).Meski terdapat aturan hukum mengenai pelaku pelecehan, kaum lelaki tetapmerasa lebih berkuasa dibanding perempuan dan konotasi perempuan menjadimakhluk yang lemah. Terbukti dari kasus-kasus pelecehan yang nyata ada di manamana.Bukan hanya di tempat-tempat umum, kasus-kasus pelecehan seksual jugadapat terjadi pada lingkup yang tertutup, seperti lingkungan akademis. Pelecehanseksual, baik guru/dosen terhadap murid/mahasiswa atau sebaliknya, serta antarguru/dosen dan antar murid/mahasiswa tidak dapat dipungkiri dalam duniapendidikan. Dalam hal ini, peneliti menyingkap kasus pelecehan seksual yang terjadidiantara mahasiswa-mahasiswi yang berada pada lingkungan dominasi laki-laki,tepatnya pada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Undip.Teknik Elektro Undip memiliki perbandingan mahasiswa (antara laki-laki danperempuan) yang signifikan yaitu sebanyak 87 persen laki-laki dan 13 persenperempuan dari jumlah 920 orang. Dengan dominasi maskulin (sifat laki-laki), makaakan dengan mudah mengambil alih sifat-sifat feminin dari seorang perempuan,inilah yang disebut dengan “Maskulinisasi” atau laki-laki dapat mengkonstruksikandiri perempuan. Proses maskulinisasi tersebut, salah satunya dapat berimbas dalamidentitas diri seseorang. Karakteristik macho sangat terkenal pada salah satu kampusteknik yang paling diminati tersebut. Dengan konstruksi penampilan laki-laki,mencerminkan sifat-sifat macho pada diri perempuan; make up yang jarangdigunakan dan tas ransel yang lebih menjadi pilihan para mahasiswi, akan seringditemui di Teknik Elektro.Suatu diskriminasi identitas, jika identitas seseorang tersebut harus diikutisecara “paksaan”. Oleh karenanya, peneliti akan menggali lebih dalam mengenaidominasi maskulin terhadap perempuan. Karenanya, peneliti mengambil judul“Pelecehan Seksual: Maskulinisasi Identitas Pada Mahasiswi Jurusan TeknikElektro Undip”, yang mana peneliti berusaha untuk mencari tahu bagaimanaperempuan (sebagai minoritas) dapat beradaptasi dengan lingkungan dominasimaskulin, dan dampak maskulinisasi identitas perempuan yang ditimbulkan daribentuk-bentuk pelecehan seksual. Selain itu, peneliti juga berusaha mencaritahuideologi di balik dominasi maskulin di lingkungan Teknik tersebut.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif.Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010:4) mendefinisikan metodologi kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dariorang-orang dan perilaku yang diamati. Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukandengan paradigma kritis, karena peneliti menekankan pada konsep maskulinisasi, yangdominan di kalangan mahasiswa-mahasiswi Teknik Elektro Undip.Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Bungin (2007:108)menetapkan beberapa prosedur pada penggunaan teknik Snowball, yaitu dengan siapapeserta atau informan pernah dikontak atau pertama kali bertemu dengan penelitiadalah penting untuk menggunakan jaringan sosial mereka untuk merujuk penelitikepada orang lain yang berpotensi berpartisipasi atau berkontribusi dan mempelajariatau memberi informasi kepada peneliti.Analisis data terdiri atas pengujian, pengkategorian, pentabulasian, ataupunpengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi awal suatu penelitian(Yin, 2006:133). Strategi penjodohan pola dalam studi kasus deskriptif bersifatrelevan dan fleksibel, sehingga pola-pola spesifik dapat diprediksikan sebelumpengumpulan data (Yin, 2006:140).PembahasanRefleksi: Pelecehan Seksual Dalam Maskulinisasi Identitas Mahasiswi TeknikElektro UndipStrategi analisis data yang digunakan pada penelitian ini, dalam pendekatan studikasus adalah strategi penjodohan pola. Peneliti telah menetapkan asumsi di awalpenelitian, sehingga dapat menghasilkan sebuah perbandingan antara pra penelitiandan pasca penelitian. Asumsi peneliti pra penelitian menyatakan bahwa praktekpelecehan seksual yang dialami perempuan dalam dominasi maskulin merupakanakibat maskulinisasi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Laki-laki menggunakankelebihannya untuk menguasai perempuan. Posisi laki-laki menempatkan dirinyapada tatanan superior. Dengan demikian, laki-laki juga bebas menggunakankekuatannya dalam mengkonstruksi perempuan.Sedangkan pasca penelitian, peneliti menemukan beberapa temuan. Pertama,laki-laki menyisipkan praktek pelecehan seksual dalam maskulinisasi identitasperempuan di lingkungan dominasi, Teknik Elektro Undip. Dampak dari dominasimaskulin begitu terasa di lingkungan tersebut, sehingga memberi keleluasaan bagilaki-laki untuk menguasai perempuan. Mereka seakan harus mengikuti aturan(terutama dalam hal identitas gender) yang dibuat oleh laki-laki agar dapat diterimasebagai bagian di lingkungan kampus Teknik Elektro Undip. Paludi (1990:23)menegaskan, bahwa pelecehan seksual adalah perilaku seksual yang tidak diinginkan,permintaan atas kenikmatan seksual, dan segala tindakan verbal atau fisik yangmengarah pada seksual secara alamiah dalam berbagai situasi, salah satunya ketikasalah satu pihak mengarah pada ketundukkan yang dibuat secara emplisit (langsung)atau implisit (tidak langsung) oleh pihak lain.Kedua, peneliti menemukan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi dilingkungan Teknik Elektro, lebih berupa kata-kata (verbal), antara lain: memberikomentar negatif, memberi julukan yang tidak menyenangkan, dan pembicaraan yangmengarah pada hal-hal seksis. Bahkan Michigan Task Force (Richmond dan Abbott,328:1992) yang fokus menyoroti kasus pelecehan seksual, menyatakan bahwapelecehan seksual mencakup verbal abuse atau kekerasan verbal yang dilakukanberulang-ulang dari hasrat atau naluri seksual. Kekerasan verbal yang berulang-ulangitu sama seperti yang dialami oleh para informan penelitian, sehingga dapatmengakibatkan suatu ketidaknyamanan kondisi psikologis ketika berada dilingkungan kampusnya. Kondisi yang dialami oleh perempuan di lingkungantersebut, dalam pelecehan seksual lengkapnya termasuk jenis hostile environment,yaitu suatu keadaan seorang individu dijadikan subyek atas segala pengulanganseputar seksual yang tidak diinginkan, sehingga dapat menciptakan suasana yangtidak nyaman dilingkungan pekerjaan maupun pendidikan (Carroll, 2010:486).Ketiga, keadaan di mana laki-laki sangat ingin mengontrol perempuan samaseperti penjelasan dalam Budaya Patriarki. Patriarki lahir dari hasrat laki-laki untukmenguasai perempuan dan alam, yang merupakan suatu sistem hirarki yangmenghargai sebuah power-over (hasrat menghancurkan) (Tong, 81:2010). Praktekpraktekuntuk menaklukkan perempuan, sering kali dinormalisasi oleh laki-laki agardapat mencapai kekuasaan (power) yang diinginkannya. Oleh karenanya, konseppatriarki telah melebur menjadi landasan ideologis dibalik dominasi yang terdapat dilingkungan Teknik Elektro tersebut.“Muted Group theorists criticize dominant groups and argue that hegemonicideas often silence other ideas” (West dan Turner, 2007:516). Kalimat tersebutmenekankan bahwa MGT sangat kritis terhadap kelompok dominan yang seringmengontrol makna pada anggota-anggota kelompok lainnya. Perempuan hanya bisamengikuti aturan-aturan tersebut karena merasa tidak dapat memberikan sikapresponsif untuk menjelaskan pikirannya. Bahkan ketika subjek penelitian mengalamipelecehan, mereka cenderung pasif karena hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yangwajar serta konsekuensi yang harus diterima berada dalam lingkungan dominasimaskulin.Penggunaan teori MGT mampu menjelaskan sepenuhnya, mengapaperempuan mengalami ketidakberdayaan menghadapi pelecehan seksual dalampraktek maskulinisasi identitas perempuan. Dominasi laki-laki yang begitu kuatmampu menguasai kebiasaan interaksi lawan jenis, bahkan secara bawah sadar yangdikuasai dapat dengan mudah merasa patuh dan menerima begitu saja. Bagikelompok bungkam (muted group), apa yang dikatakan pertama kali harus bergeserdari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkandengan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang dominan (West dan Turner,2007:517).Asumsi Muted Group Theory dalam sudut pandang perempuan, turutmenyatakan bahwa dalam berpartisipasi pada kelompok sosialnya, perempuan harusmentransformasi cara mereka menjadi cara-cara yang dapat diterima oleh laki-laki.Perempuan mengalami pelecehan seksual sebagai usaha pembungkaman diri karenamereka memahami bahwa dirinya akan selalu berada di bawah laki dan menjadimanusia sekunder. Kenyataan yang terdapat di lapangan, mahasiswi Teknik Elektromerasa harus menyesuaikan peran yang cocok dengan identitas kelompoknya, macho.Adapun, peneliti menemukan beberapa hal menarik dalam penelitian ini.Pertama, konstruksi identitas yang diciptakan oleh mayoritas anggota kelompoksendiri biasanya dapat saling mempengaruhi, apalagi jika hubungan tersebut berhasilmenciptakan rasa solidaritas yang tinggi. Ketidaksadaran kaum perempuan dalammematuhi aturan-aturan yang diciptakan kelompok dominan sama seperti penjelasandalam Teori Hegemoni. Secara umum, teori tersebut menjelaskan dominasi sebuahkelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya kelompok yang lebih lemah, dalamhal ini perempuan (West dan Turner, 2008:67).Arahan-arahan para penguasa kelompok sebenarnya telah menciptakan suatukesadaran palsu bagi kelompok tertindas. Kesadaran palsu atau false consciousness(dalam West dan Turner, 2008:68) adalah suatu keadaan di mana individu-individumenjadi tidak sadar mengenai dominasi yang terjadi di dalam kehidupan mereka.Identitas atau ciri khas macho yang melekat pada kelompok Teknik Elektro, terbuktitelah dibentuk oleh kelompok dominan yang ada di lingkungannya. Konsep machomenjadi sesuatu yang identik dengan Teknik Elektro secara terus-menerus dapatberpengaruh pada diri perempuan yang ada di lingkungan tersebut. Perempuan tidakakan pernah benar-benar yakin bahwa ia feminin, jika lingkungannya sendiri tidakmenerimanya sebagai seorang yang feminin.Kedua, yaitu berdasarkan pengakuan ketiga informan yang menjelaskanbahwa teman-teman lelaki yang terdapat di dalam dan di luar lingkungan KampusTeknik Elektro ternyata memiliki perbedaan cara pandang mengenai sosokpenampilan perempuan. Jika kelompok laki-laki yang dalam lingkungan kampustersebut cenderung memandang identitas feminin kurang pantas dikenakan olehmahasiswinya, teman-teman lelaki di luar lingkungan itu justru menganggappenampilan feminin bukanlah merupakan sesuatu yang terlalu berlebihan bagiperempuan.Perbedaan cara pandang tersebut sebenarnya terbentuk dari penerimaan suatukelompok di setiap lingkungannya. Mahasiswi yang berada pada lingkungandominasi maskulin tentu akan merasakan kadar kedekatan dan pengaruh yang lebihkuat, daripada kelompok lain atau out-groups. Dari sesama anggota kelompoksendiri, tentunya akan menimbulkan suatu harapan atas pengakuan, kesetiaan, danpertolongan (Horton dan Hunt, 1996:220). Ini pula yang dijadikan suatu kesempatanbagi kelompok dominan untuk menaklukan minoritas.Hal unik yang terakhir (ketiga), mengenai kurangnya pemahaman mendalamseputar pelecehan seksual, yang mengakibatkan para informan tidak dapatmenyatakan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual. Hal ini serupa denganpernyataan Bourdieu dalam konsepnya “misrecognition” yaitu yaitu sebuah “bentukmelupakan” dari seseorang akan suatu hal. Korban tidak akan merasa bahwa dirinyaadalah seorang “korban pelecehan seksual” yang telah diperlakukan sebagai makhlukinferior yang kerap mengalami penolakan atas keinginannya, dan memilikiketerbatasan dalam berekspresi. (Webb, Schiratto, dan Danaher, 2002:24-25).SimpulanPara mahasiswi yang menjadi subyek penelitian menyadari kedudukannya sebagaikelompok minoritas di lingkungan Teknik Elektro Undip. Mereka seakan berhasil“dikostumkan” dengan segala persepsi maskulin dari kelompok dominan. Dengandemikian, melalui hegemoni, perempuan dapat dengan mudah dipengaruhi dandibentuk oleh keinginan laki-laki.Jenis pelecehan seksual yang dialami kelompok minoritas, termasuk ke dalamkondisi hostile environment, yaitu perempuan sebagai korban sebenarnya telahmencapai titik pertentangan terhadap lingkungan kampusnya, sehingga sering kalimenimbulkan dampak ketidaknyamanan (psikologis) bagi perempuan, yaitu rasatakut, terpaksa, kehilangan rasa percaya diri, kecewa dan risih. Nilai-nilai maskulinyang dominan seakan “mengurung” keinginan para mahasiswi untuk tampil lebihfeminin dengan berbagai berbagai tindakan yang cenderung mengarah pada verbalabuse, baik melalui ejekan-ejekan yang mengarah pada fisik perempuan dan beberapajulukan diskriminatif yang secara langsung ditujukan oleh mahasiswa laki-lakikepada mahasiswinya.Budaya patriarki telah melebur dibalik keadaan dominasi yang dialamiperempuan, sehingga sering tercipta suatu “kebiasaan lelaki”. Laki-laki melakukannormalisasi pada tindakan-tindakan pelecehan seksual, sehingga perempuan secaratidak sadar menganggapnya sebagai perilaku normal sehari-hari, yang dilakukan paralelaki.DAFTAR PUSTAKAAndaryuni, Lilik. (2012). To Promote: Membaca Perkembangan Hak Asasi Manusiadi Indonesia (Editor: Eko Riyadi). Yogyakarta: PUSHAM UIIBasuki, Sulistyo. (2006). Metode Penelitian. Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia: Wedatama Widya SastraBourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: JalasutraBulaeng, Andi. (2004). Metode Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: AndiBungin, Burhan. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofisdan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PTRajaGrafindo PersadaBungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif (Edisi Kedua): Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroupCarroll, Janell L. (2010). Sexuality Now: Embracing Diversity (Third Edition).Amerika: Wadsworth PublishingDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S (Eds). (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S. (1994). Handbook of Qualitative Research. London : SAGE Publications Djajanegara, Soenarjati. (2000). Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka UtamaEvans, Patricia. (2010). The Verbally Abusive Relationship: How To Recognize It andHow To Respond. USA: Adams MediaFakih, Mansour. (2008). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar OffsetFetterman, D.M. (ed). (1988). Qualitative Approaches to Evaluation in Education.The Silent Scientific Revolution. New York : PraegerGriffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eighth Edition. NewYork: McGraw-HillGriffin, Ricky W. and O’Leary-Kelly, Anne M. (2004). The Dark Side ofOrganizational Behavior. USA: Jossey-BassHall, Calvin S. and Lindzey, Gardner. (1993). Psikologi Kepribadian 3: Teori-Teoridan Sifat Behavioristik. Yogyakarta: KanisiusHamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa: Sebuah StudiCritical Discourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta: GranitHamidi. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM PressHasan, Abdul Fatah. (2007). Mengenal Falsafah Pendidikan. Selangor, Malaysia:Yeohprinco Sdn. BhdHill, Catherine and Silva, Elena. (2005). Drawing The Line: Sexual Harassment OnCampus. United States: AAUW Educational FoundationHollows, Joanne. (2010). Feminisme, Feminitas dan Budaya Populer (terj.Ismayasari, Bethari Anissa). Yogyakarta: JalasutraHorton, Paul B. and Hunt Chester L. (1996). Sosiologi: Jilid 1, Edisi Ke-enam (terj.Ram, Aminuddin & Sobari, Tita). Jakarta: Penerbit ErlanggaIrianto, Sulistyowati (Ed). 2006. Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum YangBerperspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,anggota IKAPI DKI JayaLarkin, June. (1997). Sexual Harassment: High School Girls Speak Out. Canada:Second Story PressMoleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:PT Remaja RosdakaryaNazir, Mohammad. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia IndonesiaNeuman, Lawrence W. (1997). Social Research Methodes : Qualitative andQuantitative Approaches. MA : Allyn & BaconNoor, Ida Ruwaida dan Hidayana, Irwan M. (2012). Pencegahan dan PenangananPelecehan Seksual di Tempat Kerja: Panduan Bagi Para Pemberi Kerja.Jakarta: APINDOPaludi, Michele A. (Ed). (1990). Ivory Power: Sexual Harassment On Campus.Albany : State University of New York PressRachmat, Jalaludin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RosdakaryaRaco, J.R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik danKeunggulannya. Jakarta: GrasindoRatna, Nyoman Kutha. (2004). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka PelajarRichmond, Marie dan Abott. (1992). Masculine & Feminine: Gender Roles Over TheLife Cycle: Second Edition. Great Britain: Methuen & Co. LtdSendjaja, Sasa Djuarsa, dan kawan-kawan. (1994). Teori Komunikasi. Jakarta:Universitas TerbukaSoekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindoSukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosda Karya.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan & Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku KompasSunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGCTong, Putnam. (2010). Feminist Thought:Pengantar Paling Komprehensif kepadaArus Utama Pemikiran Feminis (terj. Prabasmoro, Aquarini Prayitni).Yogyakarta: JalasutraUripni, Christina Lia, Untung Sujianto, Tatik Indrawati. (2002). KomunikasiKebidanan. Jakarta: Buku Kedokteran EGCWebb, Jen, Tony Schirato dan Geoff Danaher. (2002). Understanding Bourdieu.London: SAGE Publications LtdWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Communication Theory:Analysis and Application. New York: McGraw-HillYin, Robert K. (2002). Studi Kasus: Desain & Metode. Jakarta: PT RajaGrafindoJurnal dan ArtikelIrianto, Jusuf. (2007). Perempuan Dalam Praktek Manajemen Sumber Daya Manusia.Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4(Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2156&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Kinasih, Sri Endah. (2007). Perlindungan dan Penegakan HAM terhadap PelecehanSeksual. Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20– No. 4 (Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2162&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Laporan Independent NGO. (2007). Implementasi Konvensi Penghapusan SegalaBentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) di Indonesia (Dalamhttps://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fcedaw-seasia.org%2Fdocs%2Findonesia%2FIndpt_Report_Bahasa_Laporan_CEDAW.pdf&ei=R_fxUZjZH4jXrQfH9IDoCw&usg=AFQjCNEe363XZ4_SgVAWk6VU8W8RWaV7Ng&sig2=5ZAYf48Zvzrfc6iqt9sXaQ, diakses pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 20.00)Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas. (2011). “Korban dan Kuasa” Di Dalam KajianKekerasan terhadap Perempuan. (online) Vol. 32 – No. 2 (Dalamhttp://ejournal.undip.ac.id/ index.php/forum/article/view/3153, diakses padatanggal 03 Juli 2012 pukul 20.00 WIB)Suryandaru, Yayan Sakti. (2007). Pelecehan Seksual Melalui Media Massa. ArtikelMedia Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4 (Dalamhttp://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2157&med=15&bid=8,diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)SkripsiFarika, Ummi. (2009). Memahami Gaya Komunikasi Laki-Laki Dan PerempuanDalam KulturOrganisasi Berkeadilan Gender: Studi Kasus PergerakanMahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII). Skripsi. Universitas DiponegoroIsriyati. (2010). Studi Kasus: Kekerasan KomunikasiTerhadap Perempuan DalamRomantic Relationship. Skripsi. Universitas DiponegoroSoekmadewi, Rr. Mariza D. (2012). Perempuan Maskulin Dalam Sinetron (AnalisisResepsi Karakter Maskulin Tokoh Utama Perempuan Protagonis DalamSinetron “Dewa”. Skripsi. Universitas DiponegoroUtama, Yossi Indria. (2005). Konstruksi Identitas Perempuan Marjinal. Skripsi.Universitas DiponegoroWulandari, Wiwit Asri. (2007). Konstruksi Majalah Hai. Skripsi. UniversitasDiponegoroInternetAdidharta, Syaifud. (2011). Wanita Indonesia Antara Kegelapan dan MasaDepannya. Dalam http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/17/wanita-indonesia-antara-kegelapan-dan-masa-depannya-356224.html. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Dia Suka Pegang-Pegang Aku. Dalam http://remajadalamkliping.word press.com/2009/05/06/dia-suka-pegang-pegang-aku/. Diunduhpada tanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Profil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Dalamhttp://www.ft.undip. ac.id/index.php/profil.html. Diunduh pada tanggal 06 Julipukul 20.30 WIBAnonim. (2010). Latar Belakang. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/keadilanperempuan/index.php?option=com_content&view=article&id=20&Itemid=108. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 20.00 WIB. Hal. 01Anonim. (2010). Profil. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2010/10/mekanisme-ham-nasional-bagi-perempuan-nasional-indonesia/. Diunduhpada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.30 pukul 21.00 WIBAnonim. (2010). Tabir Asap Kerusuhan Mei 1998 (1). Dalam http://sociopolitica.com/2010/05/13/tabir-asap-kerusuhan-mei-1998-1/. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 19.30 WIBAnonim. (2011). Perkembangan Feminisme Di Dunia. Dalam http://komahi.umy.ac.id/2011/05/perkembangan-feminisme-di-dunia.html. Diunduh pada tanggal 02Januari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Biografi R.A Kartini Biodata, Profil Raden Ajeng Kartini Lengkap.Dalam http://www.erabaca.com/2012/03/biografi-ra-kartini-biodata-profil.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Gender-Based Violence In A Romantic Relationship. Dalamhttp://pasca.mercubuana.ac.id/newsumb.php?mode=baca&pct_ no=738&l=.Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Guru Yang Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Murid. Dalamhttp://www.suatufakta.com/2012/06/guru-yang-melakukan-pelecehan-seksual.html. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012 pukul 20.30 WIBAnonim. (2012). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Kekerasan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual#comments. Diunduh pada tanggal 05 Juli pukul19.30 WIBAnonim. (2013). Kekerasan Seksual Pada Mei 1998 Tak Boleh Disangkal. Dalamwww.pikiran-rakyat.com/node/235085. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Segerakan Perbaikan Sistemik untuk Tangani Kekerasan Seksual.Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2013/01/pernyataan-sikap-menanggapi-maraknya-kasus-kekerasan-seksual-dan-pernyataan-calon-hakimagung-yang-menyudutkan-perempuan-korban-perkosaan/. Diunduh padatanggal 03 Februari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Visi, Misi dan Peran. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/about/visi/. Diunduh pada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00Anonim. (Tanpa tahun). Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja. Dalam http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/pelecehan-seksual. Diunduh padatanggal 04 Juli 2012 pukul 21.00 WIBAyub. (2009). Wanita-pun Bisa Di Elektro. Dalam http://www.elektro.undip.ac.id/?p=285. Diunduh pada tanggal 06 Juli pukul 19.00 WIBBohman, James. (2005). “Critical Theory”. In Edward N. Zalta (Ed.), The StanfordEncyclopedia of Philosophy. Spring 2005 Edition. Dalam http://plato.stanford.edu/archives/spr2005/entries/critical-theory. Diunduh pada tanggal03 September 2012 pukul 19.00 WIBHidayatullah. (2012). Banyak Wanita London Dilecehkan Di Jalan. Dalamhttp://www.al-khilafah.org/2012/05/banyak-wanita-london-dilecehkandi.html. Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBIS. (Tanpa tahun). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Pelecehan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 20.00WIBLaluyan, Joe. (2009). Pelaku Pelecehan Seksual Dapat Dihukum?. Dalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&id=733:pelakupelecehan-seksual-dapat-dihukum&Itemid=94. Diunduh pada tanggal 04 Juli2012 pukul 19.00 WIBMariana, Anna. (2011). Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi (Kisah Gedung InspektoratSukabumi. Dalam http://etnohistori.org/tak-ada-rotan-akar-pun-jadi-kisahgedung-inspektorat-sukabumi.html. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul19.00 WIBPriliawito, E. dan Mahaputra, Sandy A. (2010). Pembunuh 14 Anak Jalanan HadapiTuntutan. Dalam http://metro.news.viva.co.id/%20news/read/179756-pembunuh-14-anak-jalanan-hadapi-tuntutan. Diunduh pada tanggal 11 juli 2012pukul 19.30 WIBPriliawito, Eko. (2009). Menolak Dilecehkan, Mata Kuliah Diulang 5 Kali. Dalamhttp://metro.news.viva.co.id/news/read/51030-menolak_dilecehkan_mata_kuliah_diulang_5_kali. Diunduh pada tanggal 12 Juli pukul 19.00 WIBPutra, Rama Narada. (2012). Ditegur KPI, Raffi Ahmad Menyesal. Dalamhttp://jogja.okezone.com/read/2012/06/27/33/654407/ditegur-kpi-raffiahmad-menyesal. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00 WIBPutro, Suwarno. (2013). Riwayat Singkat Pahlawan Nasional. Dalam http://smpn3kebumen.sch.id/berita-224-riwayat-singkat-pahlawan-nasional-radenadjeng-kartini.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.30 WIBRadius, Dwi B. (2012). Pelecehan Seks 10 Murid, Kepala Sekolah Ditahan. Dalamhttp://regional.kompas.com/read/2012/04/27/16175534/Pelecehan.Seks.10.Murid..Kepala.Sekolah.Ditahan. Diunduh pada tanggal 10 Juli 2012 pukul21.00 WIBRahadi, Fernan. (2013). Anak-anak Jadi Korban Pemerkosaan di AS. Dalamhttp://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/10/mge55y-anakanak-jadi-korban-pemerkosaan-di-as. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013pukul 20.00 WIBWahid, Muhammad N. (Tanpa tahun). Pelajar Ditelanjangi Di Dalam Kelas. Dalamhttp://www.indosiar.com/patroli/pelajar-ditelanjangi-didalam-kelas_78555.html. Diunduh pada tanggal 10 Juli pukul 20.00 WIBWidyarini, M.M. Nilam. (2011). Kekerasan Seksual, Mereka Mungkin SalingMengenal. Dalam http://www.henlia.com/2011/03/kekerasan-seksual-merekamungkin-saling-mengenal/. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00WIBWirakusuma, K. Yudha. (2011). Naik D 02 Malam Hari, Cewek Harus NyamarJadi Cowok. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/09/18/338/504005/naik-d-02-malam-hari-cewek-harus-nyamar-jadi-cowok. Diunduh padatanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBYuwono, Markus dan Trijaya. (2011). Dilecehkan Sesama Jenis Wanita Ini LaporPolisi. Dalam http://autos.okezone.com/read/2011/07/05/340/476201/dilecehkan-sesama-jenis-wanita-ini-lapor-polisi. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012pukul 19.30 WIB

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA KOREA DAN INTENSITAS KOMUNIKASI DALAM PEER GROUP DENGAN INTENSITAS KHALAYAK MENONTON DRAMA SERI KOREA

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA KOREA DANINTENSITAS KOMUNIKASI DALAM PEER GROUP DENGANINTENSITAS KHALAYAK MENONTONDRAMA SERI KOREAABSTRAKJudul : Hubungan Motivasi Belajar Bahasa Korea dan Intensitas Komunikasi dalamPeer Group dengan Intensitas Khalayak Menonton Drama Seri KoreaNama : Azizah OktavyanaNim : D2C006015Fenomena Korean wave di Indonesia ditandai dengan kepopuleran drama seriKorea dan juga kebudayaan dan bahasa Korea. Permasalahannya adakah keterkaitanantara motivasi belajar bahasa Korea dan juga intensitas komunikasi dalam peergroup dengan intensitas khalayak menonton drama seri Korea.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara motivasibelajar bahasa Korea (X1) dan intensitas komunikasi dalam peer group (X2) denganintensitas khalayak menonton drama seri Korea (Y).Upaya menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan teoriDependensi (Dependency Theory) dengan menggunakan teori pendukungAchievement Motivation Theory dan juga Teori Kelompok Rujukan. Penelitian inimenggunakan metoda eksplanatori dengan perhitungan mengunakan uji KonkordansiKendall yang mengukur hubungan antara ketiga variabel.Hasil penelitian menemukan bahwa variabel motivasi belajar bahasa Korearesponden tergolong rendah sedangkan variabel intensitas komunikasi dalam peergroup dan juga intensitas khalayak menonton drama seri Korea tergolong tinggi.Hasil penelitian tersebut dilakukan uji hipotesis menghasilkan bahwa ada hubunganantara motivasi belajar bahasa Korea dan intensitas komunikasi dalam peer groupdengan intensitas khalayak menonton drama seri Korea. Hal tersebut dibuktikandengan nilai chi-square hasil perhitungan yaitu 73,266 lebih besar dari r tabel yaitu5,991. Nilai tersebut berarti bahwa Ha (ada hubungan di antara ketiga variabel)diterima dan H0 (tidak ada hubungan antara ketiga variabel) ditolak.Kesimpulan dari hasil uji hipotesis adalah ketika motivasi belajar bahasa Koreadigabungkan dengan intensitas komunikasi dalam peer group akan memilikihubungan yang kuat dan signifikan dengan intensitas khalayak menonton drama seriKorea.Kata Kunci : Belajar Bahasa Korea, Komunikasi dalam Peer Group, Drama SeriKoreaABSTRACTTitle : The relationship of motivation in learning Korean and the intensitycommunication in peer groups with the audience intensity of watching Koreandrama seriesNama : Azizah OktavyanaNIM : D2C006015The Korean wave phenomenon in Indonesia can be seen with the popularity ofKorean drama series and also Korean culture and language. The problem is whetherthere is realtionship between motivation in learning Korean and the intensitycommunication in peer group with the intensity of watching Korean drama series.The objectives of this research is to examine the relationship betweenmotivation in learning Korean (X1) and the intentisty communication in peer group(X2) with the intensity of watching Korean drama series (Y).In accordance with the research problem above, researcher applies DependencyTheory supported with some theories which are Achievement Motivation Theory andReference Group Theory. This research uses explanatory methods that calculatesusing Kendall concordance test that measures the relationship of those threevariables.The result of this research shows that the variable of motivation in learningKorean values low. But the other variables, the intensity communication in peergroup and the intensity of watching Korean drama series values high. The hypothesistest of the result shows that there is a relationship between motivation in learningKorean and the intensity communication in peer group with the intensity of watchingKorean drama series. It is statistically tested by the chi-square value that shows73.266 which is higher than r-table which value is 5.991. The value shows that thatHa (there is relationship between three variables) accepted and H0 (there is norelationship between three variables) denied.The conclusion of the the hypothesis test is when motivation in learning Koreancombine with the intensity communication in peer group will significantly have astrong relationship with the intensity of watching Korean drama series.Keywords: learning Korean, intensity communication in peer group, watching koreandrama seriesPENDAHULUANTayangan asal Korea, khususnya yang berbentuk drama seri semakin banyakmemadati program-program yang ada di stasiun televisi di Indonesia. Drama seriKorea menjadi salah satu elemen penting dalam sejarah pertelevisian Indonesia.Semenjak awal penayangannya di tahun 2002, hingga saat ini drama seri Korea masihmenjadi salah satu andalan stasiun televisi untuk menjaring pemirsa (Bintang Online,2011).Penayangan drama seri Korea di stasiun TV Indonesia memang cukupmendapatkan tempat tersendiri pada pemirsanya. Perolehan rating dari drama seriKorea tersebut juga tidak mengecewakan. Pada Juli 2011, serial Naughty Kiss danDongyi yang ditayangkan di stasiun TV Indosiar pada jam tayang siang hari berhasilmeraih rating 3 dengan share lebih dari 20 (Bintang Online, 2012).Penayangan drama seri Korea yang cukup digemari oleh pemirsa Indonesiamembuat pihak stasiun TV bahkan menayangkan kembali beberapa judul drama seriKorea. Boys Over Flowers misalnya, drama seri Korea yang diadaptasi dari animasiJepang ini memang sangat terkenal di negara asalnya. Demam Boys Over Flowersyang melanda Indonesia dimanfaatkan oleh stasiun TV Indosiar yang menayangkankembali drama seri tersebut di layar kaca Indonesia beberapa kali. Tercatat oleh AGBNielsen rating pada minggu kedua Juli 2010, Boys Over Flowers mendapatkan rating3,1 dengan share 23,8. Perolehan rating tersebut cukup tinggi mengingat jam tayangyang bukan di jam tayang utama (Lautan Indonesia Forum, 2010).Maraknya penayangan drama seri Korea di Indonesia merupakan salah satubentuk dari suatu fenomena Korean wave atau yang juga biasa disebut Hallyu wave.Korean wave merupakan suatu fenomena tersebarnya budaya pop Korea secaraglobal. Drama seri dan musik populer asal Korea yang sering disebut K-Popmerupakan konten utama dari fenomena Korean wave. Selain mempopulerkanbudaya-budaya pop asal Korea, Korean wave juga memperkenalkan masyarakatdunia dengan bahasa Korea dan budaya tradisional Korea(http://id.wikipedia.org/wiki/Hallyu).Pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Nuri Hidayati (2011) mencobamenjelaskan pengaruh drama seri Korea terhadap minat mempelajari budaya danbahasa Korea. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya komunitas yang menaungipara pecinta kebudayaan Korea di Indonesia, salah satunya Hansamo yang berbasis diKota Bandung. Komunitas yang berdiri pada 10 September 2006 itu pada tahun 2012memiliki anggota kurang lebih sekitar 1.500 orang yang sebagian besar adalah kaumremaja (Wanita Indonesia, 2012). Dengan rasa keingintahuan yang sedangberkembang, remaja menjadi sangat mudah tertarik pada hal-hal baru yang atraktifdan menarik minat mereka.Munculnya ketertarikan khalayak pada budaya dan bahasa Korea merupakansalah satu wujud dari pengaruh dari media massa. Namun, pengaruh kuat dari mediamassa sudah tidak dapat diaplikasikan lagi dalam perkembangan teknologi yangsemakin maju. Dengan adanya teknologi, segala keputusan beralih kepada individu.Begitu pula dalam menggunakan media. Individu mulai mempertimbangkankebutuhannya sebelum mengonsumsi media. Aspek kebutuhan pribadi seorangindividu menjadi salah satu faktor yang menentukan keputusan dalam mengonsumsimedia. Bagi para individu yang sedang mempelajari bahasa Korea, mereka akancenderung mengonsumsi media yang akan memberikan mereka pengetahuan yangdapat membantu mereka dalam kegiatan belajar yang sedang mereka lakukan.Remaja sebagai sosok yang memiliki emosi yang kurang stabil membutuhkanpihak lain yang dapat memberikan motivasi lebih kepada mereka terutama untukmengambil keputusan, dalam hal ini menentukan tayangan apa yang akan merekatonton. Salah satunya yaitu peer group. Peer group sebagai kelompok utama dalamkehidupan remaja menjadi role model utama remaja dalam berperilaku. Salah satunyadalam menentukan tontonan yang mereka tonton.Dari uraian di atas muncul pertanyaan apakah terdapat hubungan antaramotivasi belajar bahasa Korea dan intensitas komunikasi dalam peer group denganintensitas khalayak dalam menonton drama seri Korea. Dan bagaimana relasihubungan yang terjadi di antaranya?ISIHubungan antara ketiga variabel yaitu motivasi belajar bahasa Korea, intensitaskomunikasi dengan peer group dan intensitas khalayak menonton drama Koreadijelaskan oleh DeFleur dan Ball-Rokeach (1976) dalam teori Dependensi yangmelihat pertemuan khalayak dengan media berdasarkan tiga kerangka teoritis yaitu1. Perspektif perbedaan individual,Perspektif perbedaan individual memandang bahwa sikap dan organisasi personalpsikologisindividu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli darilingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut.2. Perspektif kategori sosial,Perspektif kategori sosial berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompokkelompoksosial yang reaksinya pada stimuli tertentu cenderung sama.3. Perspektif hubungan sosial.Sedangkan perspektif hubungan sosial menekankan pentingnya peranan hubungansosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa(Rahmat, 2007:203-204).Teori tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media oleh individudipengaruhi oleh tiga hal yaitu perspektif individu, kategori atau kelompok sosial danhubungan sosial. Dalam penelitian ini perspektif individu merupakan motivasi belajarbahasa Korea yang dapat mengarahkan individu dalam menggunakan media yaitudrama Korea. Sedangkan perspektif kategori sosial dan hubungan sosial terdapatdalam variabel lain dalam penelitian ini yaitu komunikasi dalam peer group. Individusebagai anggota dari peer group akan cenderung berperilaku sama dengan individuindividulain yang ada di dalam peer group tersebut.Tipe penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah tipe eksplanatif,yaitu tipe penelitian yang menjelaskan hubungan atau korelasi antara motivasi belajarbahasa Korea sebagai variabel pertama, intensitas komunikasi dengan peer groupsebagai variabel kedua, dan intensitas khalayak menonton drama seri Korea sebagaivariabel ketiga. Populasi dalam penelitian ini adalah Korean Studies Centre (KSC)Universitas Diponegoro. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalahmahasiswa anggota Korean Studies Centre Universitas Diponegoro yang berusiaantara 17-23 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik TotalSampling. Saat ini anggota KSC yang hanya ada 40 orang yang terdiri dari 35 orangmahasiswa UNDIP dan 5 orang mahasiswa universitas lain.Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis Konkordansi Kendallmenggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) release 16.Berdasarkan hasil uji SPSS di atas dapat dilihat bahwa koefiensi konkordansi Kendallsebesar 0,916. Sedangkan untuk menguji signifikansi konkordansi Kendall tersebutdiadakan tes dengan menggunakan rumus chi-square. Dari perhitungan SPSS di atasdapat diketahui nilai chi-square (X2) sebesar 73,266. Dalam table chi-square untukderajat kebebasan (df) 2 dan signifikansi 0,05 didapatkan nilai X2 pada tabel yaitu5,99. Maka 73,266 > 5,99 berarti hubungan antara ketiga variabel dapat dikatakansignifikan dan H0 (tidak ada hubungan antara ketiga variabel) ditolak dan Ha (adahubungan antara ketiga variabel) diterima.Hasil uji hipotesis penelitian ini menghasilkan bahwa motivasi belajar bahasaKorea, intensitas komunikasi dalam peer group dan intensitas khalayak menontondrama seri Korea memiliki hubungan yang simultan dan signifikan. Uji hipotesisyang menghasilkan hubungan yang simultan dan signifikan tersebut menandakanbahwa apabila kedua variabel independen yaitu motivasi belajar bahasa Korea danintensitas komunikasi dalam peer group digabung maka akan memiliki hubunganyang kuat dengan variabel dependen yaitu intensitas khalayak menonton drama seriKorea.Hasil uji hipotesis menjelaskan bahwa motivasi belajar bahasa Korea yangtinggi bersama dengan tingginya intensitas komunikasi dalam peer group makaintensitas khalayak menonton drama seri Korea juga akan tinggi. Hal ini sejalandengan Dependency Theory yang dikemukakan oleh Melvin De Fleur dan SandraBall Rokeach yang menjelaskan bahwa adanya hubungan integral antara khalayak,media dan sistem sosial (Littlejohn, 2004:267). Hal itu berarti bahwa khalayakmenggunakan media untuk memuaskan kebutuhan dan meraih tujuan mereka. Dalampenelitian ini, media, yaitu drama seri Korea, digunakan oleh khalayak sebagai salahsatu sumber referensi yang digunakan dalam memahami bahasa Korea yang sedangmereka pelajari dan juga digunakan sebagai salah satu sarana untuk melebur dalamkelompok sosialnya yaitu peer group.PENUTUPSimpulan1. Terdapat Hubungan Antara Motivasi Belajar Bahasa Korea (X1) dan IntensitasKomunikasi dalam Peer Group (X2) Dengan Intensitas Khalayak MenontonDrama Seri Korea (Y)Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan Konkordansi Kendall danjuga uji Chi-Square didapatkan bahwa nilai signifikansi yang dihasilkan lebihbesar dari r tabel yaitu 73,266 > 5,991. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yangsimultan dan signifikan di antara ketiga variabel. Variabel independen yaitumotivasi belajar bahasa Korea dan intensitas komunikasi dalam peer groupdigabung dan menghasilkan hubungan yang simultan dan signifikan denganvariabel dependen yaitu menonton drama seri Korea. Motivasi belajar bahasaKorea yang rendah apabila digabungkan dengan intensitas komunikasi dalam peergroup yang tinggi akan menghasilkan hubungan yang simultan dan signifikandengan intensitas khalayak menonton drama seri Korea yang tergolong tinggi.Saran1. Saran AkademisBerdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa ada hubungan antara faktorinternal dan eksternal seorang individu dalam mengonsumsi tayangan televisidalam hal ini drama seri Korea. Untuk penelitian selanjutnya diharapkanpenggunaan metode lain seperti metode kualitatif untuk meneliti lebih dalam.Metode studi kasus dapat digunakan untuk memahami lebih dalam tentangfenomena Korean wave yang sedang melanda Indonesia. Metode analisis resepsijuga dapat digunakan dalam mengetahui proses penerimaan dan persepsi khalayakmengenai fenomena Korean wave. Penelitian ini menggunakan drama seri Koreasebagai salah satu aspek Korean wave, diharapkan juga bahwa ada penelitianmengenai aspek-aspek lain seperti K-Pop, film Korea, ataupun penelitian tentangpenggemar Korean wave yang jumlahnya di Indonesia semakin bertambah.2. Saran PraktisSaran ini ditujukan pada praktisi media di bidang televisi, yaitu stasiun televisi.Adanya fenomena Korean wave yang masih melanda Indonesia dapatdimanfaatkan dengan menambah banyaknya tayangan dari Korea Selatan,khususnya drama seri Korea. Penayangan drama seri Korea tidak hanyamemberikan hiburan bagi pemirsanya tetapi juga dapat memberikan wawasan barukepada pemirsa mengenai budaya Korea.3. Saran SosialAdanya penelitian ini diharapkan dapat melihat sisi positif dari fenomena Koreanwave. Bahwa Korean wave bukan hanya fenomena yang terjadi di dalam industrihiburan tetapi juga dapat menyentuh aspek edukasi. Fenomena Korean wave dapatmenambah wawasan global tetapi juga dapat menambah wawasan pribadi seorangindividu. Selain itu, peer group sebagai salah satu pihak terdekat dari seorangremaja, tidak hanya dapat memberikan pengaruh buruk terhadap remaja tetapi jugapengaruh positif dalam perkembangan remaja.DAFTAR PUSTAKAReferensi Buku :Ajzen, I. & M. Fishbein. 1975. Belief, Attitude, Intention, and Behavior: AnIntroduction to Theory and Research. Reading: Addison-Wesley.Ardianto, Elvinaro dan Lukiati Komala E. 2004. Komunikasi Massa : SuatuPengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.Devito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia Edisi 5. Jakarta : ProffesionalBooks.Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.Gerungan, W.A. 2000. Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama.Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Harris, Richard Jackson. 2004. A Cognitive Psychology of Mass CommunicationFourth Edition. New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates.Korean Culture and Information Centre Ministry of Culture, Sports, & Tourism.2011. K-Pop:A New Force in Pop Music. Seoul:Korean Culture andInformation Service.Kriyantono, Rahmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss. 2005. Theories of Human CommunicationEight Edition. Toronto : Thomson Wadsworth.Makmun, Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja,Bandung.Santoso, Slamet. 2009. Dinamika Kelompok. Jakarta : Bumi Aksara.Severin, Wener J. & James W. Tankard. 2005. Teori Komunikasi Sejarah, Metode,dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta : Prenada Media.Santrock, John W. 1996. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga.Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Prestasi Pustaka.Wiryanto. 2006. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Grasindo.Referensi Skripsi :Alfitriarso, Koeshanindyo Suryo. (2007). Pengaruh Terpaan Tayangan Basket danIntensitas Komunikasi dalam Kelompok Referensi Terhadap MotivasiBerprestasi Basket Mahasiswa UNDIP. Skripsi. Universitas Diponegoro.Hidayati, Nuri. (2011). Pengaruh Tayangan Drama Korea di Televisi Terhadap MinatMahasiswa Mempelajari Budaya dan Bahasa Korea. Skripsi. Universitas BinaNusantara.Stephanie, Brian. (2009). Studi Mengenai Faktor-Faktor Preferensi KonsumsiTelevisi Lokal di Kota Semarang. Skripsi. Universitas Diponegoro.Referensi Internet :AGB Nielsen. (2007). Newsletter Edisi November 2007. Dalamhttp://cs.agbnmr.com/Uploads/Indonesia/AGB%20Nielsen%20Newsletter%20Nov-Ind.pdf. Diunduh pada 2 Januari 2013 pukul 19.00 WIB.AGB Nielsen. (2010). Newsletter Edisi Maret 2010. Dalamhttp://www.agbnielsen.com/Uploads/Indonesia/AGBNielsenNewslettermarch2010-Eng.pdf. Diunduh pada 2 Januari 2013 pukul 18.58 WIB.Anggie, Hernowo. (2012). Winter Sonata dan Endless Love Hadir Lagi di antv.Bintang Online. Dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tvmusik/kabar/59459-winter-sonata-dan-endless-love-kembali-hadir-di-antv.html.Diunduh pada 2 Januari 2013 pukul 20.31 WIB.Anonim. (2010). Diskusi Rating Televisi. Lautan Indonesia Forum. Dalamhttp://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=69555.290. Diunduhpada 10 Januari 2013 pukul 10.00 WIB.Anonim. (2013). Hallyu. Wikipedia. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Hallyu.Diunduh pada tanggal 3 Januari 2013 pukul 22:10 WIB.Irwansyah, Ade. (2011). Apa Yang Mengawali Booming Drama Korea di TV?(Bukan Endless Love, lho). Bintang Online. Dalamhttp://www.tabloidbintang.com/extra/wikibintang/17961-apayangmeng%20awali-booming-drama-korea-di-tv-bukan-endless-love-lho.html.Diunduh pada tanggal 2 Januari 2013 pukul 20:01 WIB.Rayendra, Panditio. (2012a). Drama Korea di TV Nasional Mulai KehilanganPamor?. Bintang Online. Dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tvmusik/ulasan/54641-drama-korea-di-tv-nasional-mulai-kehilangan-pamor.html.Diunduh pada 11 Januari 2013 pukul 07:39 WIB.Rayendra, Panditio. (2012b). Ini Serial Korea yang Ceritanya Paling Memorable.Bintang Online. Dalam http://www.tabloidbintang.com/hasil-polling/52097-polling-report-ini-serial-korea-yang-ceritanya-paling-memorable.html. Diunduhpada 11 Januari 2013 pukul 08.03 WIB.Wardani, Pipit Ayu. (2012). Kian Cinta Budaya Anak Negeri dengan Hansamo.Tabloidwanitaindonesia.net.Dalamhttp://www.tabloidwanitaindonesia.net/CMpro-v-p-443.html. Diunduh pada 3Januari 2013 pukul 20:55 WIB.

Memahami Proses Adaptasi Individu yang Berpindah Tempat dengan Host Culture di Semarang

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangManusia adalah makhluk sosial yang selalu berpindah tempat dari satu daerah kedaerah yang lain karena berpindah tugas, transmigrasi dan imigrasi, merekamembutuhkan interaksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat,norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pengalaman tentangperpindahan seseorang dari satu kota ke kota lainnya memang tidak mudah untukdihadapi, mempelajari karakteristik budaya sangat menolong dalam melakukankomunikasi yang lebih baik. Hal terpenting dalam budaya meliputi bahasa, agama,tradisi, dan kebiasaan.Perasaan takut dan was-was muncul dalam diri pendatang tersebut karenasetiap hari mereka harus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya menggunakanbahasa daerah yang juga digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pergaulansehari-hari. Proses komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh persepsiseorang manusia mengenai lingkungan, benda dan peristiwa yang beradadisekitarnya. Bila seorang manusia telah memahami dan menghargai persepsiorang lain yang berbeda budaya, maka akan bisa melangsungkan proseskomunikasi dengan lancar dan memperoleh reaksi yang diharapkan.(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Dalam prosesnya, perbedaan latar belakang budaya memiliki pengaruhkuat terhadap munculnya kecemasan dan ketidakpastian yang berpotensimenimbulkan kesalahpahaman yang menjadi kendala dalam proses adaptasi dankerjasama antarbudaya tersebut. Oleh sebab itu, melakukan adaptasi dankerjasama antarbudaya tidaklah mudah dilakukan. Proses adaptasi budaya yangterjadi pada setiap suku bangsa ada beberapa model adaptasi yang dilakukan olehpendatang terhadap penduduk asli, adaptasi yang dilakukan penduduk asliterhadap pendatang dan adaptasi yang tidak dilakukan oleh pihak manapun,dimana masing-masing etnik berdiam diri tanpa melakukan adapatasi. Padaumumnya adaptasi yang paling sering terjadi adalah adaptasi yang dilakukan olehpenduduk pendatang terhadap penduduk asli.(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf)3Keberadaaan pendatang di daerah yang baru merupakan hal yang menarikuntuk dicermati. Keberadaan pendatang tersebut dengan membawa budayaasalnya dengan mudah dapat ditemui dan dikenali misalnya dari logat maupunbahasa yang digunakan. Hal ini menjadikan mereka “berbeda” dengan masyarakathost culture. Keadaan “berbeda” ini akan menyebabkan suatu perasaan “asing”bagi para “perantau” ketika berada dilingkungan yang baru. Inilah yang disebutdengan gegar budaya.Ketika pertama kali berada di sebuah lingkungan yang baru berbagaimacam ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) dialami oleh hampirsemua individu. Ternasuk pendatang tersebut ketika berada di daerah baru.Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) relative tinggi dari masingmasingindividu ketika melakukan komunikasi antar budaya pada gilirannyamenyebabkan munculnya tindakan atau perilaku yang tidak fungsional. Ekspresiperilaku yang tidak fungsional tersebut antara lain tidak memiliki kepedulianterhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi dengan oranglain, melakukan penghindaran komunikasi cenderung mennciptakan permusuhandengan orang lain (Turnomo Rahardjo, 2005: 13).II. Rumusan MasalahFaktor perbedaan budaya yaitu masalah bahasa, kebiasaan sehari-hari dan adatistiadat antara pendatang dengan masyarakat setempat (host culture) dalam hal inikeluarga pendatang menjadi masalah. Perasaan “berbeda” dari segi bahasa,kebiasaan dan adat istiadat ini berpotensi menimbulkan conflik. Perasaan“berbeda” ini juga dipengaruhi oleh persepsi dan tingginya pengharapanseseorang ketika memasuki lingkungan yang baru.Ketidakmampuan untuk memprediksi perilaku kalangan pendatang adalahbentuk ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) yang dialami olehkeluarga tersebut di lingkungan yang baru. Hal ini berpotensi menimbulkankesalahpahaman. Dalam prosesnya, ketika “perbedaan” ditonjolkan, dapatmeyebabkan munculnya konflik.4III. Tujuan Penelitian1. Untuk memahami kecemasan dalam interaksi antarabudaya bagi kalanganpendatang yang berpindah tempat.2. Untuk memahami proses adaptasi dan strategi adaptasi yang diterapkanoleh para pendatang saat memasuki daerah yang baru.3. Untuk memahami pengalaman dari host culture ketika hidupberdampingan bermasyarakat dengan kalangan pendatang.IV. Kerangka TeoriSecara konseptual ketidakpastian (uncertainty) merupakan ketidakmampuanseseorang untuk memprediksikan atau menjelaskan perilaku, perasaan, sikap ataunilai-nilai yang diyakini orang lain. Sedangkan, kecemasan (anxiety) merupakanperasaan gelisah, tegang, khawatir atau cemas tentang sesuatu yang akan terjadi.Ketidakpastian merupakan pikiran (thought) dan kecemasan merupakan perasaan(feeling). Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) merupakanfaktor-faktor penyebab kegagalan komunikasi antar kultural. Gudykunts (dalamGudykunts, 2005:23) menjelaskan bahwa untuk menyesuaikan diri terhadapkebudayaan baru, seseorang tidak seharusnya mengurangi kecemasan danketidakpastian mereka secara total. akan tetapi, mereka tidak dapat berinteraksisecara efektif dengan host culture apabila ketidakpastian dan kecemasan merekaterlalu tinggi, sehingga mereka tidak mampu memprediksi perilaku wargasetempat.Teori negosiasi muka (Face-Negotiation Theory) adalah salah satu darisedikit teori yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yangberbeda memiliki bermacam-macam pemikiran mengenai “muka” orang lain.Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara berbeda.Wajah merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, wajah telah menjadifokus dari banyak penelitian didalam berbagai ilmu (Littlejohn & Karen A. Foss,1998 : 130).5Interaction Adaption Theory (IAT) is intended to provide a comprehensiveaccount of multiple concurrent adaptations patterns. Teori ini meningkatkanjangkauan dari model adaptasi yang lalu dengan menandai pengaruh yang kuatyang muncul dalam interaksi normal dan dengan memasukkan perilaku dan fungsikomunikasi yang lebih luas. Konsep kunci IAT adalah requirement, expectations,desires, interaction position, dan actual positions (Gudykunst, 2005: 162). Prosesadaptasi interaksi yang kompleks, yang belum ada, dan kadang-kadang takterlihat.Perasaan berbeda bahasa, adat istiadat dan budaya seketika hilang apabilakita mampu beradaptasi dengan baik di sekitar lingkungan baru kita. Perlahanlahanbudaya host culture harus dipelajari dan dimengerti apabila ingin hidupberdampingan secara harmonis dengan masyarakat setempat.V. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatanfenomenologi. Unit analisis data dalam penelitian ini terdiri dari empat orangpendatang (dua mahasiswa dan dua keluarga pendatang) sebagai subjekpenelitian, dan empat orang host culture yang menjadi informan tambahan gunacross-check data untuk memenuhi goodness criteria. Data diperoleh melaluiwawancara mendalam dengan delapan subjek penelitianVI. Kesimpulan Interaksi antarbudaya yang dilakukan oleh para informan dari luar pulau Jawadengan host culture di Semarang, mengalami kesulitan saat pertama kaliberinteraksi karena perbedaan budaya dan bahasa. Hal ini mengakibatkan parainforman mengalami kecemasan untuk berinteraksi kembali dengan hostculture serta ketidakpastian bahasa yang digunakan saat berpindah tempat diSemarang. Host culture membantu para informan yang mengalami kecemasandan ketidakpastian dengan membantu proses interaksi antarbudaya dalammelakukan adaptasi bagi para pendatang yaitu berinisiatif dahulu mengajak6para informan untuk berinteraksi dan mengajak para informan untukmengikuti kegiatan yang diadakan dilingkungannya, antara lain pengajian,arisan dan kegiatan olahraga. Proses adapatsi para informan dikatagorikan berdasarkan pengalamankomunikasi yaitu adaptasi antarbudaya yang dilakukan disekitarlingkungannya, konteks identitas dan perbedaan budaya serta bahasa parainforman, kepantasan dan keefektivitas para informan dalam berperilakusehari-hari di lingkungannya, pengetahuan para informan untuk lebihmengenal lingkungan baru, motivasi dalam melakukan interaksi dengan hostculture dan tindakan yang dilakukan para informan dilingkungannya. Prosesadaptasi para informan memakan waktu yang berbeda pada setiap informan,bergantung pada keaktifan informan terhadap kegiatan yang diadakan dilingkungannya. Semakin sering mengikuti aktivitas di lingkungannya, makaproses adaptasinya berjalan dengan cepat. Strategi adaptasi yang dipakai olehpara informan adalah strategi aktif dan strategi interaktif. Strategi aktif yaitumulai mencari tahu tentang lingkungan host culture dari orang yang sudahdahulu dikenal, strategi ini digunakan oleh informan I dan informan III yangberstatus mahasiswa. Sementara strategi interaktif yaitu berhubunganlangsung dengan host culture, seperti memulai percakapan dan interaksisehari-hari (pengajian, olahraga dan arisan), strategi ini digunakan olehinforman II dan informan IV yang merupakan keluarga pendatang. Pengalaman para host culture saat melakukan interaksi pertama kali denganpara informan berbeda-beda. Para host culture tersebut antara lain ibu kost,tetangga, teman kampus, teman kost dan teman lingkungan para informan. Ibukost para informan berinisiatif dahulu untuk melakukan pembicaraan denganinforman, karena akan menempati kost, sedangkan tetangga keluargapendatang juga lebih dahulu melakukan interaksi kepada informan agar cepatakrab dengan warga baru. Teman lingkungan kost maupun teman kampusmenunggu informan untuk melakukan interaksi terlebih dahulu karena takutberbeda bahasa dengan informan.7Gambar 4.1Bangunan Teoritik Pengalaman Proses Adaptasi Individu yang BerpindahTempat dengan Host Culture di SemarangMengalami Ketidakpastian KecemasanMembantu Proses AdatasiPENDATANGHOST CULTUREKompetensiKomunikasi:- AdaptasiAntarbudaya- Konteks- KepantasanDanEfektivitas- Pengetahuan- Motivasi- TindakanHambatan Proses Adaptasi:Internal : KarakteristikindividuExternal : Budaya danBahasaStrategi Adaptasi:- Strategi aktif- Strategi interraktif8DAFTAR PUSTAKABukuCupach, W. R., and Canary, D. J. (1997). Competence In Interpersonal Conflict.California: Waveland Press, Inc.Devito, A Joseph. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Professional Books:Karisma Publishing.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994a). Competing Paradigms In QualitativeResearch. London: Sage Publications.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994b). Naturalistic Inquiry . London: SagePublications.Gudykunst, William. (2005). Theorizing About Intercultural Communication.California: Sage Publication, Inc.Liliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya.Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2003). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya EdisiRevisi. Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2004). Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Littlejohn, Stephen W, and Foss Karen A. (1998). Theories of HumanCommunication. Belmont: Thomson Learning, Inc.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (1996). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture. New York: HappercollinsCollege Publisher.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (2006). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture 6th Edition. New York:Happercollins College Publisher.Martin, Judith N. and Thomas K. Nakayama. (2004). InterculturalCommunication in Contexts. New York: McGraw – Hill.Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.9Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:Remaja Rosdakarya.Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublication, IncMulyana, Deddy. (2010). Komunikasi Lintas Budaya: Pemikiran, Perjalanan.Bandung: Remaja Rosdakarya.Mulyana, Deddy. (2006). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: RemajaRosdakarya.Rahardjo, Turnomo. (2005). Menghargai Perbedaan Kultural: KompetensiKomunikasi Antar Budaya dalam Komunikasi Antar Etnis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Riswandi. (2009). Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, Jain C Nemi. (1984). UnderstandingIntercultural Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, McDaniel R Edwin. (2010). KomunikasiLintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika.Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :Remaja Rosda KaryaSingarimbun M, dan Sofian E. (1995). Metode Penelitian Survey. Jakarta:Pustaka LP3ES Indonesia.Ting-Toomey, Stella. (1999). Communicating Across Cultures. California:Guilford PressYin, Robert K. (2006). Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Raja GrafindoPersadaJurnalRahardjo, Turnomo. (2007). Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. I. Semarang: 29SkripsiFrimandona, Nike., (2007). Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya(Kasus Pernikahan Antaretnis Jawa-Minang). Skripsi. UniversitasDiponegoro.Ulfah, Maria., (2009). Memahami Adaptasi Antar Budaya antara Warga Asingdengan Host Culture di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.Khotimah, Khusnul., (2010). Adaptasi Antar Budaya Warga Korea Selatandengan Budaya Tuan Rumah di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.10Internet(http://gatothp2000.com/2011/09/23/cross-culture-sesorang-yg-diperjalankan/).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 19.00 WIB(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 20.30 WIB(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf).Diunduh pada tanggal 16 September 2012 pukul 21.00 WIB

Hubungan antara Terpaan Iklan Produk Pelangsing di Televisi dan Interaksi Teman Sebaya dengan Persepsi Remaja Tentang Perempuan Ideal

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Citra ideal kecantikan perempuan telah bergeser yang semula berdiri diatas stigma beauty inside dan inner beauty, namun saat ini pencitraan ini bergeser menjadi beauty outside. Idealnya perempuan hanya dilihat dari aspek ragawi saja, sedangkan aspek-aspek lainnya cenderung diabaikan. Seakan-akan sudah ketetapan masyarakat soal kriteria-kriteria untuk menjadi perempuan yang ideal. Perempuan kini diindentikan untuk terus mempercantik dirinya. Kecantikan seorang wanita dilihat dari tubuh yang ramping menjulang tinggi, kaki mulus, hidung mancung, dan kulit putih bersih. Hal ini semakin menyeret perempuan untuk memaknai kecantikan lebih dari sekedar kecantikan dalam (inner beauty), seakan-akan sudah ketetapan masyarakat soal kriteria-kriteria untuk menjadi perempuan yang ideal. Timbul dari opini masyarakat akan keharusan perempuan untuk tampil cantik dan anggapan bahwa perempuan ideal dentik dengan tubuh langsing, memicu lahirnya kepercayaan baru bahwa jika perempuan tidak cantik dan bertubuh ideal, maka tidak ada bagian dari tubuh yang bisa dibanggakan. Dengan adanya wacana seperti ini, media mencoba menyebarluaskan pemikiran mengenai keindahan tubuh. Kondisi ini kemudian menjadi pasar yang sempurna bagi industri kecantikan, khususnya produk pelangsing tubuh.Produsen produk pelangsing menggunakan motif yang terdapat dalam diri perempuan, khususnya remaja untuk mengiklankan produknya seperti dikatakan oleh Jalaluddin Rakhmat bahwa pesan-pesan kita dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain maka kita harus menyentuh motif yang menggerakkan atau mendorong perilaku orang lain. Oleh karena itu, iklan suatu produk misalnya, iklan produk kecantikan selalu menampilkan model cantik, menarik, dan populer sehingga bisa menambah kepercayaan akan produk, yang pada akhirnya mampu “memaksa” khalayak sasaran untuk membeli produk yang diiklankan tersebut apalagi didukung oleh pemakaian gaya bahasa yang menjanjikan sehingga akan menambah ketertarikan para pemirsa televisi. (Rakhmat, 1999 : 298).Dengan maraknya iklan produk pelangsing di televisi membuat banyak perempuan semakin ingin menjadi ideal dengan memiliki bentuk tubuh yang menarik. Menarik disini diartikan sebagai bentuk tubuh yang langsing seperti yang tergambar dalam iklan. Banyak orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan tubuh langsing. Ketika media televisi menayangkan produk diatas, maka akan memberi efek pada khalayak. Efek yang disebabkan oleh media massa bisa berupa kognitif, afektif, dan behavioral. Gerbner (1978) melaporkan penelitian berkenaan dengan persepsi penonton televisi tentang realitas sosial. Ia menemukan2bahwa penonton televisi kelas berat cenderung memandang lebih banyak orang yang berbuat jahat, lebih merasa berjalan sendirian berbahaya, dan lebih berfikir bahwa orang lebih memikirkan dirinya sendiri. Jelas citra tentang dunia dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya dalam televisi. Bila kita berlangganan koran Pos Kota, besar kemungkinan kita menduga bahwa dunia ini dipenuhi oleh pemerkosaan, penganiayaan, dan pencurian. (Rakhmat, 1999 : 225).Persepsi tidak hanya dibentuk oleh media massa, tetapi ada faktor lain diantaranya adalah interaksi dengan teman sebaya. Seseorang yang terkena terpaan iklan terus menerus tidak serta merta menentukan pilihan pada suatu produk tanpa pengaruh dari orang lain, dalam hal ini teman sebaya. Teman sebaya merupakan faktor yang penting dalam kehidupan remaja. Remaja umumnya lebih dekat dengan teman sebaya daripada dengan orangtuanya. Remaja dalam berinteraksi dengan teman sebaya membentuk kelompok dengan perilaku yang hampir sama. Oleh karena itu remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, dan penampilan, lebih besar daripada pengaruh keluarga.Remaja sebagai individu yang saling mempengaruhi satu sama lain, juga mengobservasi perilaku teman sebaya dan mempraktekkan perilaku tersebut. Ketika remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, dalam interaksi tersebut sedikit banyak membicarakan tentang perempuan yang ideal, maka setiap individu akan berinteraksi. Interaksi antar individu dapat mempengaruhi penilaian seseorang akan suatu hal karena adanya standart dan nilai yang mempengaruhi penilaian. Tingkat penafsiran remaja terhadap perempuan ideal seperti yang digambarkan melalui iklan, akan menimbulkan persepsi antara individu yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain.Menurut dalil perepsi yang diungkapkan oleh Krech dan Cructhfield, sifat-sifat perceptual dan kognitif dari subkultur pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan kelompok, akan dipengaruhi oleh keanggotaannya dalam kelompok. Begitu pula dengan persepsi individu cenderung menyamakan dengan persepsi kelompok, dengan efek asimilasi atau kontras. (Rakhmat, 1999 : 59). Begitu pula dengan remaja ketika membicarakan tentang perempuan ideal, maka kecenderungan yang ada yang timbul adalah pendapat yang diungkapkan akan sama dengan kelompok teman sebayanya.3Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis dimana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dan interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang gemar menyaksikan acara televisi karena penonton televisi dengan tingkat frekuensi yang tinggi, secara tidak langsung mereka terterpa iklan produk pelangsing dan berusia 16-24 tahun. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dan interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal.BATANG TUBUH Penelitian ini menjabarkan efek media yang terjadi pada individu, dan kohesivitas dalam kelompok dimana apabila konsumen terkena terpaan iklan dan berinteraksi dengan teman sebaya, maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap pandangan diri yakni pada tingkat persepsi.Dalam budaya kita selama ini, perempuan bertubuh ideal adalah mereka yang bertubuh langsing dimana akan mendapatkan respek daripada perempuan bertubuh gemuk. Perempuan dengan tubuh gemuk akan tersingkir dan itu akan menyebabkan perempuan merasa harus tetap berusaha langsing. Kecantikan inilah yang akhirnya menjadi sangat penting bagi beberapa orang, dimana kecantikan yang dimaksud hanya sebatas kecantikan fisik. Pandangan masyarakat mengenai perempuan cantik (dengan badan langsing atau sintal, dan berkulit mulus) yang sekarang berkembang sebenarnya merupakan mitos atau keyakinan yang beredar luas menyangkut suatu hal yang belum tentu kebenarannya. Keyakinan mengenai wujud perempuan cantik sebenarnya lebih merupakan hasil konstruksi sosial yang diciptakan oleh masyarakat sendiri.Penekanan masyarakat pada penampilan fisik perempuan sebagai salah satu sumber utama kualitas diri sebetulnya didasari oleh control pada perempuan yang terletak pada kemampuan memenuhi tuntutan mitos kecantikan. Jika mereka tidak memenuhi tuntutan tubuh ideal, dan jika mereka tidak berusaha untuk menjadikan dirinya cantik dan langsing, mereka tetap akan dipandang kurang postif karena dianggap “gagal” menyesuaikan peran atau telah menentang peran yang telah ditetapkan bagi mereka. Maka kegemukan dapat berakibat pada konsekuensi negative, seperi penolakan sosial dan self-esteem yang rendah. (Melliana, 2006 : 78).4Anggapan sosial yang positif yang selalu dihubungkan dengan kelangsingan, tidak terlepas dari gambar-gambar yang disodorkan media massa dengan memperkuat bukti bahwa tipe bentuk tubuh langsing sangat mendominasi. Sesungguhnya, media massa merupakan salah satu faktor yang menyebarluaskan dampak dari pemikiran mengenai fitur keindahan tubuh dengan gencar. Begitu gencarnya provokasi sehingga para remaja dan perempuan dewasa bahkan ibu-ibu tengah baya akhirnya mengukur dirinya dengan bentuk ideal seorang perempuan adalah perempuan yang diciptakan oleh majalah, TV, dan iklan-iklan lainnya. Akibatnya para perempuan yang merasakan kesenjangan antara gambaran image tubuh ideal dengan gambaran tubuh senyatanya cenderung mengalami emosi negative.Jalaludin Rakhmat menjelaskan bahwa media massa (dalam hal ini iklan televisi) memperlihatkan realitas nyata secara selektif yang mampu membentuk idealisme suatu citra tertentu menjadi bentuk citra yang baku. Ketidaktepatan bentuk ideal suatu pandangan tertentu mampu menimbulkan stereotipe tertentu. Stereotipe adalah gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi, atau masyarakat yang tidak berubah-ubah, bersifat klise, dan seringkali timpang atau tidak benar. Gambaran ini merupakan semua wujud dari gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi dari perempuan, seperti yang tergambar dalam iklan dan ditimbulkan oleh pikiran, pendengaran, penglihatan, perabaan, atau pengecapan tentang perempuan. (Rakhmat, 2004 : 79)Saat ini terdapat beberapa produk pelangsing yang marak beredar di masyarakat. Produk-produk tersebut ada yang beriklan melalui iklan di televisi, media online, radio, dan lainnya. Persaingan yang terjadi antara satu merek dengan yang lainnya membuat para pesaing menampilkan strategi iklan yang berbeda-beda. Perbedaan strategi iklan tersebut dibuat agar masing-masing produk pelangsing memiliki ciri khas untuk mempermudah khalayak mengingat merek yang berujung pada peningkatan penjualan. Iklan yang baik, menggunakan rumus yang dikenal dengan AIDCA (Kasali, 1995 : 83-85). Iklan produk-produk pelangsing menggunakan strategi periklanan dengan prinsip AIDCA, seperti yang telah dijelaskan diatas. Pada tahap attention (perhatian) dan interest (minat/ketertarikan) dilakukan dengan cara menggunakan perempuan yang dianggap ideal, sehingga mendapat perhatian dan minat khalayak. Tahap selanjutnya desire (keinginan) dan convicntion (rasa percaya), dimana dilakukan dengan cara menambah slogan iklan yang membangun citra produk. Citra produk yang ditampilkan oleh iklan produk pelangsing adalah menjadi perempuan ideal harus menggunakan produk tersebut. Ketika iklan produk pelangsing ditayangkan di televisi secara berulang-ulang, kemudian menerpa khalayak5dimana informasi yang disampaikan dalam iklan tersebut berisi tentang gambaran perempuan ideal, maka citra remaja tentang perempuan ideal akan dipengaruhi oleh iklan produk pelangsing, sehingga akan berlanjut pada pembentukan persepsi. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi hanya sampai pada tahap Convicntion sesuai dengan judul penelitian ini.Makin lama seseorang mempelajari tentang media, makin jelas efek penenggelaman media yang makin kuat. Efek-efek yang timbul, tidak timbul sebagai akibat dari satu rangsang saja, tetapi bersifat kumulatif. Pembahasan-pembahasan tentang pesan media yang dilakukan seseorang, makin memperluas persebaran media, dan tidak lama kemudian tidak ada perbedaan antara pesan yang diterima, dan disampaikannya. Efek-efek media sebagian tidak disadarai, orang tidak dapat memberikan penjelasan apa yang terjadi. Mereka mencampuradukkan persepsi langsung mereka dengan persepsi yang disaring melalui kacamata media menjadi keseluruhan yang utuh, yang tampak berasal dari pemikiran dan persepsi mereka sendiri (Litlejohn, 1996 : 343).Media televisi menayangkan iklan produk pelangsing yang berisi tentang perempuan ideal, media juga secara langsung dan tidak langsung mengirim symbol-simbol terhadap masyarakat. Simbol yang dikirim oleh iklan produk pelangsing adalah symbol tentang perempuan ideal. Meskipun khalayak mempunyai suatu persepsi sendiri tentang perempuan ideal, namun karena media lebih sering memunculkan symbol tentang perempuan ideal dengan cara menayangkan iklan produk pelangsing secara berulang di televisi, maka peran iklan televisi lebih ditentukan dalam membentuk persepsi individu yakni remaja tentang symbol perempuan ideal.Tentu saja tidak semua pecandu berat televisi terkultivasi secara sama. Sebagai contoh, pengaruh ini akan berlangsung bukan saja seberapa banyak seseorang menonton televise, melainkan pendidikan, penghasilan, jenis kelamin penerima, lingkungan dan lainnya. Sebagai contoh pemirsa dengan penghasilan rendah melihat kejahatan sebagai masalah yang serius sedangkan pemirsa dengan berpenghasilan tinggi tidaklah demikian. Begitu pula perempuan dengan pecandu berat melihat kejahatan sebagai masalah yang lebih seirus daripada pria dengan pecandu berat (Winarni, 2004 : 91). Oleh karena itu televisi bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk dan mempengaruhi persepsi khalayak, namun ada faktor lain yang mempengaruhi persepsi khalayak, seperti lingkungan terdekat, dalam hal ini interaksi dengan teman sebaya.Individu tidak dapat hidup tanpa kerjasama dengan orang lain. Manusia akan membentuk kelompok-kelompok dalam hal ini adalah kelompok teman sebaya (peer group).6Seperti diketahui bersama bahwa pada hakikatnya manusia itu disamping sebagai makhluk individu, juga makhluk sosial. Tentu manusia dituntut adanya saling berhubungan dengan manusia dalam kehidupannya. Dalam kelompok teman sebaya (peer group), individu merasakan adanya kesamaan satu dengan yang lainnya seperti usia, kebutuhan, dan tujuan yang dapat memperkuat kelompok itu.Terbentuknya kelompok teman sebaya (peer group) timbul karena adanya latar belakang antara lain perkembangan sosialisasi, kebutuhan untuk menerima penghargaan, perlunya perhatian orang lain, dan ingin menemukan dunianya. Perkembangan proses sosialisasi, dimana pada usia tertentu individu mengalami proses saling interaksi satu sama lain dan merasa diterima dalam kelompok, akan muncul dengan apa yang disebut dengan konformitas. Konformitas muncul ketika individu meniru sikap dan tingkah laku orang lain karena adanya tekanan yang nyata ataupun yang dibayangkan oleh mereka. (Santrock, 2003 : 221).Derajat ketertarikan atau yang disebut kohesivitas kelompok, merupakan salah satu factor pembentuk konformitas kelompok. Kohesivitas kelompok adalah semua faktor yang menjadi latar belakang dimana anggota kelompok merasa memiliki ketertarikan dengan kelompok tersebut dan membuatnya tetap berada di dalam kelompok tersebut. Ketika ada kohesivitas di dalam suatu kelompok, anggota kelompok akan menerima lebih banyak pengetahuan, dengan kata lain, anggota kelompok akan memungkinkan untuk saling bertukar informasi tentang segala sesuatu. Adanya kohesivitas dalam kelompok, membuat pandangan-pandangan yang dimiliki oleh kelompok kemudian diyakini sebagai persepsi kelompok. Persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar tentang adanya informasi yang akan memberikan pedoman baginya untuk membedakan, mengidentifikasi, dan memaknai sehingga dari pemaknaan tersebut akan mendapat referensi baru untuk menilai suatu hal secara komprehensif.Menurut Krech dan Krutchfield yang dikutip dalam buku Jallaludin Rakmat, merumuskan dalil-dalil persepsi sebagai berikut :1. Persepsi bersifat selektif secara fungsional.Obyek-obyek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek yang memenuhi tujuan individu tang melakukan persepsi. Contohnya : pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya.2. Media perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti.7Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimul yang kita terima tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasinya yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita terima.3. Sifat-sifat perceptual dan kognitif dari subkultur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan.Menurut dalil ini, jika individu sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi keanggotaan kelompoknya dengan efek asimilasi dan kontras.4. Objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi bagian dari struktur yang sama.Artinya, seseorang akan mempersepsikan sesuatu dengan membandingkan kedekatan suatu objek dengan objek lain dan mengambil suatu generalisasi. Contoh : orang menitikberatkan pada kekayaan akan membagi masyarakat menjadi kelompok kaya dan miskin. Orang yang menitikberatkan pada pendidikan, membagi masyarakat menjadi dua kelompok terdidik dan tidak terdidik. (Rakhmat, 1999 : 56)Individu melakukan interaksi di dalam kelompok teman sebaya, maka peer group memberikan dampak pada individu itu sendiri, yakni pada tingkat persepsi. Pengaruh kelompok sosial khususnya kelompok teman sebaya terhadap persepsi individu telah diteliti oleh Solomon E. Asch dengan melakukan percobaan. Percobaan dilakukan dengan cara menentukan panjang garis. Hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa mula-mula perbedaan pendapat antara mayoritas dan minoritas tidak menimbulkan pengaruh apa-apa. Tetapi setelah percobaan di ulang-ulang, nampaklah adanya keraguan pada minoritas terhadap persepsinya sendiri, dan ada kecenderungan individu menyesuaikan dengan jawabannya dengan jawaban mayoritas (Santosa, 1992 : 72)Melihat pada uraian diatas, remaja dalam berintekasi dengan teman sebaya membentuk kelompok dengan perilaku yang hampir sama. Oleh karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan lebih besar daripada keluarga. Demikian pula remaja dalam mempersepsikan perempuan ideal, maka remaja yang lain akan terpengaruh untuk memiliki pandangan yang serupa. Jadi, ketika remaja berinteraksi dengan kelompok teman sebaya (peer group), dimana dalam interaksi tersebut membicarakan mengenai perempuan ideal, maka pendapat remaja ada kecenderungan sesuai dengan kelompok teman sebayanya. Dengan interaksi dengan8kelompok teman sebayanya tersebut yang berlangsung terus-menerus, maka akan mempengaruhi persepsi remaja tentang perempuan ideal.Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja usia 16-24 tahun yang pernah melihat atau mengamati iklan produk pelangsing di televisi. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah accidental sampling yang berjumlah 50 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS.Temuan lapangan menyatakan bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi terhadap persepsi remaja tentang perempuan ideal. Adanya hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal juga dijelaskan oleh Jalaludin Rakhmat bahwa media massa (dalam hal ini iklan televisi) memperlihatkan realitas nyata secara selektif yang mampu membentuk idealisme suatu citra tertentu menjadi bentuk citra yang baku. Ketidaktepatan bentuk ideal suatu pandangan tertentu mampu menimbulkan stereotipe tertentu. Stereotipe adalah gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi, atau masyarakat yang tidak berubah-ubah, bersifat klise, dan seringkali timpang atau tidak benar. Gambaran ini merupakan semua wujud dari gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi dari perempuan, seperti yang tergambar dalam iklan dan ditimbulkan oleh pikiran, pendengaran, penglihatan, perabaan, atau pengecapan tentang perempuan.Sesuai dengan efek yang ditimbulkan media, dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada diri khalayak sebagai publik yang terpengaruh. Efek media yang ditimbulkan seperti dari iklan televisi adalah efek kognitif, afektif, dan konatif. Efek kognitif yaitu kemampuan seseorang menyerap dan memahami apa yang ditayangkan kemudian melahirkan pengetahuan bagi khalayak. Efek afektif yaitu khalayak dihadapkan pada trend actual yang ditayangkan televisi. Efek konatif adalah proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan acara televisi dan khususnya iklan produk kecantikan seperti pelangsing, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (terjadi proses peniruan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari).Selain itu, hasil olah data menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori kohesivitas atau derajat ketertarikan kelompok. Adanya kohesivitas dalam kelompok, membuat pandangan-pandangan yang dimiliki oleh kelompok kemudian9diyakini sebagai persepsi kelompok. Persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar tentang adanya informasi yang akan memberikan pedoman baginya untuk membedakan, mengidentifikasi, dan memaknai sehingga dari pemaknaan tersebut akan mendapat referensi baru untuk menilai suatu hal secara komprehensif.Interaksi sosial yang dialami seseorang akan membentuk sikap sosial. Dalam interaksi sosial terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara individu yang satu dengan yang lain, serta terjadi hubungan timbal balik yang turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Dalam proporsinya, suatu sikap yang didominasi oleh komponen afektif (emosional) yang kuat dan kompleks akan lebih sukar untuk berubah walaupun dimasukkan informasi baru yang berlawanan mengenai objek sikapnya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap, antara lain : pengalaman pribadi, pengaruh kebudayaan, lembaga pendidikan dan lembaga agama, pengaruh faktor emosional, dan pengaruh faktor emosional. (Azwar, 2011 : 30)Temuan lapangan yang telah dijelaskan sebelumnya juga menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian bahwa hipotesis yang menyatakan “terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi (X1) dan interaksi dengan teman sebaya (X2) dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal (Y)” tidak dapat diterima atau ditolak.Persepsi sosial tiap individu akan berbeda karena ada kecenderungan seseorang melihat apa yang ingin dilihat, dan mendengar apa yang ingin didengar. Sehingga setiap orang memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas sekelilingnya. Hal ini berkaitan dengan atensi seseorang pada suatu rangsangan menjadi faktor utama menentukkan selektivitas seseorang. Sesuai dengan teori selective influence, bahwa bagaimana iklan-iklan produk pelangsing yang ditayangkan televisi secara berulang-ulang, lalu menerpa khalayak khususnya remaja, maka remaja akan memberikan respon yang berbeda karena perbedaan struktur kognitif yang dimiliki. Dengan demikian, terdapat perbedaan penerimaan pesan yang dipersepsi oleh penerima, karena terdapat perbedaan kognisi itu. (Lowery, 1983 : 65-67).PENUTUPKesimpulan1. Terdapat hubungan antara terpaan iklan dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hal ini menunjukkan bahwa terpaan iklan yang tinggi, maka persepsi remaja tentang perempuan menjadi ideal.102. Tidak terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun interaksi teman sebaya sedang, tinggi, atau sangat tinggi, persepsi remaja tentang perempuan hanya sebatas cukup ideal.3. Tidak terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dan interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hasil tersebut memiliki arti bahwa variabel tersebut tidak memiliki hubungan yang signifikan, dalam arti ketika terpaan iklan produk pelangsing tinggi, maka persepsi remaja tentang perempuan pun ideal meskipun interaksi dengan teman sebaya rendah atau pun tinggi.Saran1. Meskipun banyak tayangan iklan yang mampu mempersuasi remaja serta tingkat interaksi dengan teman sebaya yang tinggi, remaja diharapkan memiliki keyakinan, serta sikap yang didominasi oleh komponen afektif. Sikap yang didominasi oleh komponen afektif (emosional) yang kuat dan kompleks akan lebih sukar untuk berubah walaupun dimasukkan informasi baru. 2. Remaja memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi seperti tuntutan akses komunikasi/internet yang bebas, dan juga siaran media baik tulis maupun elektronik. Oleh karena itu, remaja harus mempunyai berbagai keterampilan dan pengalaman sehingga mereka dapat melalui fase ini dengan optimal dan mampu memilah hal yang dianggap positif dan penting dengan yang tidak.DAFTAR PUSTAKAAzwar, Saifuddin. 2011. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset Kasali, Renald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Grafiti Littlejhon, Stephen W. 1996. Theories of Humas Communication. USA : Wadworth Publishing Company. Lowery, Shearon dkk. 1983. Milestone In Mass Communication Research : Media Effects. Newyork : Longman.11Melliana, Annastasia. 2006. Menjelajah Tubuh : Perempuan dan Mitos Kecantikan. Yogyakarta : LKiSRakhmat, Jalaludin. 1999. Psikologi Komunikasi Edisi revisi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset Santosa, Drajad. 1992. Dinamika Kelompok. Jakarta : Bumi Aksara.Santrock, John W. 2003. Adolescene Perkembangan Remaja / john W. Santrock; alih bahasa, Shinto B. Adelar; Sherly Saragih; editor, Wisnu C. Kritiaji. Jakarta : Erlangga Winarni. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Malang : UMM Press

Hubungan Terpaan Pemberitaan Korupsi di Televisi dan Pernyataan Presiden SBY di Televisi dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Pemerintah

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Dewasa ini pers Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa dalam mengekspresikan kebebasan. Fenomena itu ditandai dengan munculnya media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan dan segmen. Keberanian pers dalam mengkritik penguasa juga menjadi ciri baru pers Indonesia. Hal ini juga terlihat akhir-akhir ini ketika pers berani mengungkapkan kasus-kasus korupsi maupun skandal-skandal yang diduga melibatkan beberapa pejabat publik, menteri, anggota dewan sampai ketua partai, baik yang dilakukan sendiri maupun secara “berjamaah”, dari tingkat paling atas sampai ke tingkat paling bawah.Melalui peran media, kini kasus-kasus tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. Media sekarang berani membongkar kompleksitas kasus korupsi dengan mencoba mengungkap keganjilan-keganjilan yang terjadi melalui liputan, tayangan, dan investigasi sendiri secara mendalam, sehingga pemberitaan yang disajikan terkadang kritis terhadap pemerintah. Dengan gencarnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi di televisi yang semakin hari semakin marak, kredibilitas pemerintahan SBY benar-benar diuji. Hal tersebut sebenarnya bisa mengindikasikan seberapa seriuskah pemerintahan SBY jilid II ini dalam memberantas kasus-kasus korupsi. Selain itu, yang menarik dari kebebasan pers yang selama ini dinikmati, adalah tak luputnya sang kepala negara menjadi isu dan pemberitaan yang panas, seperti pernyataan-pernyataan SBY yang dimuat di media. Melalui media, pernyataan-pernyataan SBY ketika menyampaikan pidato di depan umum, terkadang di tanggapi beragam oleh media (dalam hal ini media televisi yang paling gencar).Menurut data yang dikutip dari detiknews.com (27/6/2011), riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2011, kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY terus merosot. Menurut lembaga survey tersebut salah satu penyebabnya adalah sikap reaktif SBY jika sedang diserang isu di mana SBY menyampaikan kegelisahannya dengan curhat di depan publik. Selama ini, suka atau tidak suka, media televisi sebagai “opinion leader” telah membentuk interpretasi berdasarkan pandangannya bahwa pernyataan-pernyataan SBY tersebut merupakan “cuhat/curahan hati sang presiden”. Media menjustifikasi SBY sebagai “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, dan berbagai sebutan yang dapat melemahkan citra SBY.Namun, di Istana Negara pada Senin (8/10) malam, melalui pidatonya Presiden SBY menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. SBY yang kerap dianggap absen ketika terjadi konflik, kali ini hadir di saat kekisruhan antara KPK dan Polri semakin memanas. Pangkal persoalannya adalah ketika pemberitaan kasus korupsi simulator SIM ditubuh POLRI mulai melebar dan menjadi isu panas serta memunculkan istilah “Cicak vs Buaya Jilid II” dalam berbagai pemberitaan hingga menyulut pertikaian antara KPK dan POLRI.Sontak peristiwa tersebut juga diliput berbagai media termasuk televisi, bahkan berbagai stasiun televisi seperti Metro TV, TV One, TVRI menayangkan pidato tersebut secara penuh dan langsung. Pernyataan Presiden SBY tersebut memang ditunggu-tunggu. Banyak kalangan yang meminta agar konflik yang melanda dua institusi penegak hukum tersebut harus segera diakhiri dan presiden menepati janjinya untuk buka suara dalam menyelesaikan konflik ini. Dalam pidatonya tersebut Presiden SBY menyampaikan Lima Keputusan (solusi) Presiden soal konflik Polri dan KPK. Setelah pidato tersebut banyak kalangan dan masyarakat yang mengapresiasi/memuji substansi pidato tersebut, mereka menilai pidato tersebut cukup tegas. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi dan menimbulkan opini publik serta persepsi yang berbeda-beda dari para audiensnya.Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis di mana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Namun tidak untuk mengetahui efektivitas atau pengaruh dari ketiga variabel di atas. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang pernah terterpa pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi (dalam hal ini tentang pernyataan presiden SBY dalam menengahi konflik KPK-POLRI pada tanggal 8 Oktober 2012), serta yang telah berusia 18 tahun ke atas. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.PEMBAHASANTerdapat beberapa teori yang mendasari dari terbentuknya hipotesis di atas, yaitu:McQuail (1987: 263) menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan oleh berita sendiri adalah kebanyakan efek yang ditimbulkannya berupa tambahan pengetahuan tentang informasi faktual berjangka waktu pendek; barangkali juga pembentukan cara pandang terhadap gambarandunia dan masyarakat yang berjangka waktu panjang, serta kerangka berfikir untuk menafsirkan makna pelbagai peristiwa. Berita memiliki kecenderungan yang normatif dan dirancang atau didayagunakan untuk membentuk dan menunjang nilai-nilai dan pandangan tertentuMenurut teori hierarki efek (Liliweri, 1991:39) secara umum terdapat tiga efek dari komunikasi massa, yaitu: (a) efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya; (b) efek afektif, di mana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio, atau menonton televisi; (c) efek konatif, akibat pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Sedangkan terpaan sendiri, menurut pendapat Shore (Kriyantono, 2006: 204-205), lebih dari sekedar mengakses media. terpaan tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran media massa, akan tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka terhadap pesan-pesan media massa tersebut. Terpaan merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang dapat terjadi pada tingkat individu maupun kelompok.Menurut Baldoni (Kaban, 2009:51) keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya sangat ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi, karena melalui komunikasi, pemimpin membangun trust (kepercayaan) kepada rakyat atau pengikutnya. Pernyataan-pernyataan Presiden SBY yang dikutip oleh media tersebut adalah bagian dari naskah/teks pidatonya sebagai kepala negara, di mana pidato sendiri dapat digolongkan sebagai sebuah retorika politik. Heryanto dan Zarkasy dalam bukunya Public Relations Politik (2012:118) mendefinisikan retorika politik sebagai seni berbicara pada khalayak politik dalam upaya mempengaruhi khalayak tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator politik.Secara konseptual, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisi sebagai berikut:1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiKemampuan seseorang untuk menceritakan/menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi tersebut setelah mereka melakukan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan pemberitaan tentang korupsi di televisi.2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiKhalayak, dalam hal ini masyarakat, menonton televisi kemudian terkena terpaan pernyataan Presiden SBY sehingga mereka mampu untuk menceritakan/menjelaskan kembali pesan-pesan yang terkandung dalam terpaan pernyataan tersebut.3. Tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintahAdalah penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY dalam menerapkan dan menjalankan sejumlah program aksi prioritas yang merupakan rumusan dan penjabaran yang lebih operasional dari Visi dan Misi pemerintah 2009-2014.Dalam penelitian ini, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mencari tahu varibel terpaan pemberitaan korupsi di televisi, pernyataan Presiden SBY di televisi, dan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiMerupakan kemampuan khalayak menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi. Variabel ini diukur dengan melihat seberapa jauh pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap kasus-kasus korupsi yang diberitakan di televisi.Tolok ukur:a. pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi :- Korupsi Al Qur’an- Korupsi Sport Centre Hambalang- Korupsi Simulator SIM- Korupsi Suap Bupati Buol- Korupsi Wisma Atlet di Palembangb. siapa pelaku dan siapa saja yang terlibat2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiTerpaan pernyataan Presiden SBY di televisi diukur dengan indikator:Pengetahuan responden/khalayak mengenai pemberitaan tentang pernyataan pernyataan SBY. Tolok ukurnya adalah khalayak/masyarakat mengetahui dan bisa menerangkan kembali isi pesan pernyataan Presiden SBY di televisi, pada pernyataan SBY tentang konflik KPK-POLRI.3. Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada PemeritahVariabel ini diukur dengan indikator:Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam menerapkan dan menjalankan :a. Program Aksi Perbaikan dan Pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan yang BaikTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pengawasan kinerja dan dampak reformasi, termasuk pemberantasan korupsi dan penerapan disiplin dan hukuman yang tegas bagi pelanggaran sumpah jabatan, aturan, disiplin, dan etika kerja birokrasi. (Misalnya: Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY berani menegur bahkan mencopot pejabat yang melanggar sumpah jabatan /termasuk terlibat korupsi).2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan pemerintahan dengan perumusan standar pelayanan minimum yang diketahui masyarakat beserta pemantauan pelaksanaannya oleh masyarakat (misalnya: perekrutan pegawai/tender sampai pengangkatan pejabat struktural dalam sebuah lembaga/ departemen/pemerintah daerah dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sehingga dapat dipantau masyrakat luas).b. Program aksi Penegakan HukumTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam memperbaiki law enforcement (misal: memperbaiki mutu dan integritas aparat penegak hukum baik di Kepolisian, Kejaksaan maupun Pengadilan)2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meninjau ulang dan memperbaiki peraturan yang menyangkut penegakan hukum termasuk pengaturan hak-hak polisi, peraturan-peraturan pelaporan, dan aturan pelayanan dari aparat penegak hukum. (misal: membuat aturan main/peraturan perundang-undangan yang tegas termasuk terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh oknum penegak hukum serta memberi jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi semua)3) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pencegahan dan penindakan korupsi secara konsisten dan tanpa tebang pilih.Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitu hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi (X1) dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (X2) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah melihat pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 orang, dengan teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling purposif. Sampling purposif adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian.Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (variable X) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan uji statistik yang menggunakan analisis koefisien korelasi dan konkordansi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil dari penelitian ini, menyatakan bahwa terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik di mana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,805 dan koefisien korelasi sebesar -0,037. Oleh karena sig sebesar 0,805 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak hipotesis alternatif (Ha) dan menerima hipotesis nol (Ho). Pernyataan presiden SBY di televisi ternyata berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini berdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,050 dan koefisien korelasi sebesar -0,294. Oleh karena sig sebesar 0,050 = 0,05 (tidak lebih besar dari 0,05); maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima hipotesis alternatif (Ha) dan menolak hipotesis nol (Ho). Sedangkan apabila ketiganya dikaitkan dengan uji Konkordansi Kendall ternyata hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah,Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, hal ini bisa dijelaskan dengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasi massa (the individual differences theory of mass communication effect), di mana menurut teori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannya maupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasi massa juga berbeda (Liliweri, 1991:106). Bahkan menurut De Fleur (Liliweri, 1991:105) menambahkan bahwa setiap individu memilki kepribadian masing-masing yang akan mempengaruhi juga perilaku mereka dalam menanggapi sesuatu.Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data, diperoleh hasil bahwa terdapat kecenderungan hubungan negatif antara terpaan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hasil tersebut cukup beralasan karena meskipun dalam kenyataannya banyak kalangan yang menilai pidato SBY kali ini cukup baik (karena dari poin-poin yang disampaikan SBY yang berpihak pada keinginan publik dan media), namun timing/waktu SBY yang tidak cepat (terkesan terlambat) dalam memberikan pernyataan dalam menengahi konflik KPK-POLRI, membuat persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah menjadi negatif. Seperti yang dingkapkan Priyatno Harsasto, Pengajar Universitas Diponegoro, Semarang dalam tanggapannya mengenai konflik KPK-Polri terkait kasus simulator SIM ini, bahwa menurutnya keterlambatan dalam mengambil keputusan, hanya akan menimbulkan kesan bahwa Presiden kurang berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambat).Artinya ada penanganan manajemen krisis yang lamban oleh pemerintah. Kekisruhan hukum dan politik dalam kasus KPK-POLRI “jilid II” dengan mempertontonkan dramaturgi sosok penguasa dan penegak hukum yang saling antagonistik di ruang publik melalui media inijustru semakin memberikan banyak pengetahuan masyarakat akan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut. Pemberitan tersebut menjadi isu panas, dan selalu menempati menu pemberitaan utama media dalam waktu yang cukup lama (frekuensi penayangan/pembahasan yang sering). Dengan berlarut-larutnya konflik pada akhirnya justru semakin meneguhkan kesan kekurangseriusan pemerintah dalam menangani kasus korupsi.Hal tersebut sesungguhnya juga tak bisa dilepaskan dari citra/image negatif SBY yang selama ini melekat pada dirinya. Melalui media, SBY memang sering digambarkan sebagai seorang presiden yang “peragu”, “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, “mementingkan pencitraan” dan berbagai sebutan minor lainnya. Hal ini sebenarnya menyiratkan bahwa komunikasi politik yang dilakukan SBY melalui pidato/pernyataannya di media mengalami apa yang disebut oleh Liliweri (1991:27) sebagai hambatan prasangka. Menurut Rose (Liliweri, 1991:27) prasangka merupakan suatu sikap dari seseorang yang mencurigai orang lain dengan membanding-bandingkannya dengan diri sendiri atau orang lain yang lain yang mengarah kepada suatu perasaan yang negatif. Kalau saja hal ini terjadi maka setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang, ataupun komunikator dalam komunikasi tidak dipercayai karena penerima telah mempunyai sikap apriori terlebih dahulu.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, namun begitu arah hubungan pada variabel terpaaan pernyataan presiden SBY dan tingkat kepercayaan memiliki arah kecenderungan hubungan negatif. Kedua variabel tersebut merupakan faktor yang mendorong rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY kali ini, yaitu dalam menjalankan visi misi seperti yang diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranya mewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Rakhmat (2001:130) menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu: menerima, empati dan kejujuran.Masyarakat menilai bahwa pemerintahan SBY tidak memiliki ketiga hal tersebut, melalui gencarnya pemberitaan tentang korupsi menandakan bahwa tidak adanya kejujuran dalam penyelenggaraan pemerintahan, serta keseriusan dalam memberantas praktek-praktek korupsi. Selain itu pidato/pernyataan-pernyataan SBY selama ini (yaitu pernyataan SBY tentang konflikKPK-POLRI) yang merupakan bentuk empati terhadap keinginan masyarakat di mana pernyataan SBY dalam pidato ini sesungguhnya merupakan bentuk komitmen pemerintahan SBY Jilid II ini dalam upaya pemberantasan korupsi, karena poin-poin dalam pidato tersebut sesungguhnya mencerminkan keberpihakan SBY pada keinginan masyarakat, namun ternyata juga tak diterima dengan baik oleh masyarakat.PENUTUP1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.2. Terdapat hubungan negatif antara pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.SARAN1. Media massa dapat berperan penting dalam membongkar korupsi, dalam keadaan seperti ini media diharapkan dapat menjadi fasilitas penyampaian informasi serta menegakkan transparansi. Karena jika kurang adanya transparansi, hal ini akan menyebabkan buruknya kinerja aparat pemerintah dan penyebab maraknya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu media massa dalam hal ini televisi diharapkan mampu memberikan informasi yang objektif, faktual dan tanpa bertendensi, maka check and rechek, akurasi, keberimbangan dan independensi harus selalu dilakukan semua perusahaan media massa (televisi) di Indonesia dalam sebuah produksi pemberitaan termasuk menyangkut sebuah opini dan perspektif atas suatu kasus. Selain itu dengan semakin banyak publikasi dan pemberitaan tersebut nantinya diharapkan akan memberikan beban bagi pemerintah untuk membuktikan itikadnya.2. Bagi presiden SBY disarankan untuk perlu memperbaiki citra/kredibilitasnya, yaitu dengan lebih membuktikan keseriusanya pada masyarakat dalam melaksanakan visi misi pemerintahannya yang dulu diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranyamewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Perlu juga dicatat bahwa bebagai strategi komunikasi politik dalam rangka untuk meningkatkan citra akan sia-sia jika tidak disertai dengan kinerja nyata dari pemerintah. Dalam kaitannya dengan kegiatan komunikasi politik terutama berkaitan dengan pidato di depan umum/media, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tindakan retorika tidak hanya cukup berbekal argumen yang meyakinkan belaka melainkan juga harus mampu menampilkan sosok komunikator sebagai komunikator yang kredibel dan terpercaya.3. Pemerintah dalam hal ini presiden SBY harus cepat dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memberikan pernyataan melalui pidato dengan tujuan memberikan penjelasan kepada publik sekaligus sebagai instruksi bagi penanganan kasus tersebut. Hal ini didasarkan pada kasus korupsi Simulator SIM yang berujung pada konflik KPK-POLRI serta kaitannya dengan pidato/pernyataan SBY terkait konflik tersebut, ini membuktikan bahwa krisis yang berlarut-larut justru akan menjadi bahan konsumsi/sorotan publik melalui media massa, sehingga akan berpengaruh terhadap kredibilitas pemerintah di mata masyarakat, untuk itu perlu adanya manajemen krisis yang tepat dan cepat dari pemerintah dalam hal ini presiden selaku pimpinan.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha IlmuFahmi, A. Alatas. 1997. Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa. Jakarta: YPKMDHamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: GranitHeryanto, Gun Gun dan Irwa Zarkasy. 2012. Public Relations Politik. Bogor: Ghalia IndonesiaKartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLiliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra Aditya BaktiLuwarso,Lukas dkk. 2004. Media dan Pemilu 2004. Jakarta: SEAPAMcQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : ErlanggaMuhtadi, Asep Saeful. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca-Orde Baru. Bandung: Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa : Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung : Widya PadjajaranNugroho D, Riant. 2004. Komunikasi Pemerintahan. Jakarta: Elex Media KomputindoNurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : CespurRakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja RosdakaryaSamsuri. 2004. Media dan Transparansi. Jakarta: SEAPASeverin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: KencanaSingarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3SSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : LKISSuparmo, Ludwig. 2011. Crisis Management dan Public Relations. Jakarta: IndeksSuwardi, Harsono dan Sasa Djuarsa Sandjaja dan Setio Budi (eds). 2002. Politik, Demokrasi dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Galang PressWest, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Edisi 3 Buku 2. Jakarta : Salemba HumanikaWinarni. 2003. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM PressWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoLain-LainKaban, Ramon, “Komunikasi Politik Presiden RI: Dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono (Perspektif Karakteristik Tokoh)”. Observasi, vol. 7, No.2, tahun 2009, hal. 60Kompas, Minggu 24 Januari 2010. Berita Menggeser Sinetron.http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/kpk-vs-polri-pidato-sby-banjir-pujian-maupun-sindiranhttp://jambi.tribunnews.com/m/index.php/2012/10/04/koruptor-makan-uang-negara-rp-122-triliun-satu-semesterhttp://m.antaranews.comberita-fokushttp://mediacenter.kpu.go.id/images/mediacenter/VISI_/VISI_MISI_SBY-Boediono__ FINAL__ke_KPU_25_Mei_2009__A4_.pdfhttp://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/22/132616/Nazaruddin-Muncul-di-Metro-TVhttp://nasional.kompas.com/read/2012/10/06/2020573/Abraham.Berharap.Presiden.Selesaikan.Konflik.KPK-Polrihttp://nasional.kompas.com/read/2009/07/23/18004364/SBY-Boediono.Menang.60.80. Persenhttp://news.detik.com/read/2011/06/27/113024/1669317/10/sby-diminta-stop-curhat-dan-politik-pencitraanhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/065802/2057818/10/sby-pantas-menuai-pujian?nd771108bcjhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/060346/2057812/10/icw-pidato-sby-sudah-tegas-pelaksanaannya-harus-dikawal-bersama?nd771108bcjhttp://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468071/pemberantasan-korupsi-di indonesia-peringkat-2-dari-bawahhttp://politik.kompasiana.com /2011/01/25/paradoks-komunikasi-sby/http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/media/5/APLIKASIFILSAFATDALAMILMUKOMUNIKASI.dochttp://www.antaranews.com/berita/1295860097/pakar-media-berlebihan-soal-pernyataan-presidenhttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/10/kpk-vs-polri-pidato-sby-dinilai-terlalu-berhati-hati/http://www.indonesiafinancetoday.com/read/13548/Berita-Nazaruddin-Dorong-Pertum buhan-Pemirsa-TV-di-Juli-Agustushttp://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-umum/30399-partai-demokrat-adukan-tv-one-dan-metro -tv-ke-kpihttp://www.metrotvnews.comreadnewsprograms2012061512932121Kegalauan-Yudhoyono-.htmhttp//www.metrotvnews.com/readnews/2012031885449SBY-Ada-Gerakan-Aneh-untukJatuhkan-Pemerintah1http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/09/12/lrevtp-perkara-korupsi-di-indonesia-mencapai-1018-kasushttp://www.tempo.co/read/news/2009/07/22/078188554/SBY-Pidato-Saya-Dipelintir-dan-Diputarbalikanhttp://www.youtube.com/watch?v=qikfqfktb-8http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62583/2012/10/07/ketua_kpk_berharap_presiden_turun_tangan_dalam_konflik_kpk _dan_ polri.tvOnehttp://video.tvonenews.tv/arsip/view/62639/2012/10/08/pidato_presiden_ri_terkait_kisruh_polri_dan_kpk.tvOne

HUBUNGAN TERPAAN IKLAN PROVIDER DI TELEVISI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU IMITASI BAHASA IKLAN OLEH REMAJA

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangIklan dibuat agar konsumen kenal, ingat, dan percaya terhadap suatu produk sehinggamemiliki perasaan ingin seperti yang ditampilkan dalam iklan. Kemampuan persuasif iklanuntuk mempengaruhi persepsi khalayak, tercapai bila iklan tersebut mampu membangkitkanrasa suka terhadap produk yang ditawarkan. Walaupun demikian, daya tarik iklan di televisibelum tentu ditandai terjadinya transaksi pembelian produk yang ditawarkan, karena masihbanyak faktor yang diduga mempengaruhi persepsi akibat menonton iklan tersebut, diantaranyafaktor interaksi dengan teman sebaya. Dalam iklan terdapat bahasa-bahasa yang terkadangdianggap lucu, unik, ataupun khas sehingga kerap dibicarakan oleh remaja yang terkenaterpaan iklan. Oleh karena itu, jika remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, dan dalaminteraksi tersebut membicarakan tentang iklan provider tertentu dan juga bahasa yangterkandung di dalam iklan, maka muncullah keinginan untuk meniru apa yang ada di iklan danapa yang diucapkan temannya yang menirukan bahasa iklan.Banyak pengiklan memandang televisi sebagai media yang paling efektif untukmenyampaikan pesan-pesan komersialnya. Salah satu keunggulannya adalah mampumenjangkau khalayak secara luas. Perkembangan kreativitas dalam iklan yang sangat pesatmenyebabkan munculnya banyak persaingan untuk membuat iklan yang lebih kreatif danefektif yang bisa diterima dan dipahami oleh khalayak, termasuk iklan provider. Iklan providerdalam perkembangannya senantiasa berisi kalimat-kalimat kreatif atau jargon tertentu namuntak jarang jargon atau kalimat iklan sebuah produk menjadi tren dan kerap dipakai dalampercakapan sehari-hari. Kata-kata dalam iklan akhirnya berdampak mempengaruhi targetaudiencenya. Kata-kata tersebut awalnya tidak komersil, namun akhirnya menjadi satu bagiandari komunikasi anak muda setelah beberapa oknum masyarakat mulai terpengaruh, lalumereka pun menggunakan kata-kata tersebut untuk berinteraksi dengan sesamanya.Pilihan bahasa sebagai peristiwa sosial tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktorlinguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor di luarnya. Pilihan bahasa erat terkait dengan situasisosial masyarakat pemakainya. Perbedaan usia, tingkat pendidikan, dan status sosial seseorangdapat mempengaruhi pilihan bahasanya ketika berbicara dengan orang lain. Demikian pulasituasi yang melatarbelakangi sebuah pembicaraan dapat mempengaruhi bagaimana sebuahbahasa akan dipergunakan. Pengaruh faktor-faktor sosial maupun situasional terhadap pilihanbahasa ini menimbulkan adanya variasi-variasi pilihan bahasa.Penggunaan bahasa dalam komunikasi bersifat berubah-ubah, tidak tetap, dan manasuka.Maraknya penggunaan bahasa iklan sebagai bahasa sehari-hari dalam konteks komunikasipopuler bisa dipahami sebagai ekspresi kaum remaja yang bersifat pragmatis untukmenciptakan situasi pergaulan yang lebih cair dan akrab. Banyak sekali kalimat iklan yangmenjadi populer dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja kata-kata„Galau‟ pada iklan IM3 versi anti galau, „Lo-Gue-End‟ pada iklan IM3 versi lo gue end, „LikeThis Yoo‟ pada iklan XL versi like this, “Aku Tak Punya Pulsa” pada iklan Kartu As versidrama gak punya pulsa, “Kim Aku Galau Tanpamu” pada iklan IM3 versi anti galau , “Janganditawar” pada iklan Axis versi kanjeng mami, “Hemat beb” pada iklan Axis versi pacarkelewat hemat (pelit), yang menjadi sangat populer semenjak kemunculannya di iklan. Katakatatersebut ditirukan oleh remaja dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnyamenjadi suatu alat untuk berinteraksi dengn sesamanya. Bahkan sebagian dari remaja tersebutmengaku menggunakan kata-kata dalam iklan itu untuk menghibur teman karena kata-katatersebut dianggap lucu, juga agar mereka dianggap keren oleh teman–temannya(Sumber:http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja menirukaniklan.html diakses pada 20 Mei 2012).Terpaan media televisi dalam hal ini iklan provider di televisi secara tidak langsungmempengaruhi remaja untuk menirukan konten dalam iklan, termasuk bahasa,kalimat,ataupunjingle iklan. Di sisi lain, teman sebaya mereka juga menggunakan bahasa iklan dalampergaulannya sehari-hari. Disinilah penulis melihat permasalahan adanya hubungan antaraterpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja menirubahasa iklan.II. Perumusan MasalahIklan bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk, atau membangkitkan kesadaran akanmerek (brand awareness), membujuk khalayak untuk membeli produk yang ditawarkan danmemberikan informasi (Sudiana, 1986:6). Iklan berfungsi untuk menyampaikan informasitentang suatu produk kepada masyarakat, namun yang terjadi bukan hanya iklan tersebut yangdapat mempengaruhi masyarakat untuk melakukan pembelian, tetapi bahasa dalam iklan jugaikut merasuk ke dalam benak masyarakat terutama kaum remaja yang menggunakannya untukberkomunikasi dengan sesamanya. Remaja merupakan suatu kelompok yang sedang mencari jatidiri, dan berada di dalam masa transisi dimana sangat mudah terpengaruh dengan lingkungansekitarnya. Salah satu yang mempengaruhi pola perilaku dari remaja ini adalah teman-temansebayanya. Melalui interaksi dengan teman sebayanya, mereka dengan mudah meniru bahasayang dimunculkan lewat sebuah iklan. Remaja sering melakukan kegiatan bersama-sama dalamkelompok teman sebaya, menghabiskan waktu bersama-sama sehingga kecenderungan untukmeniru apa yang dilakukan teman-temannya lebih besar, dalam hal ini adalah kecenderunganuntuk meniru bahasa iklan. Disinilah menarik untuk dikaji, bagaimanakah hubungan terpaaniklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja mengimitasi bahasa iklandalam pergaulannya sehari-hari.III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan dan interaksi temansebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan oleh remaja.IV. Signifikansi Penelitian1. Signifikansi TeoritisSecara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi disiplinilmu komunikasi yaitu mengenai perilaku imitasi remaja yang dipengaruhi oleh terpaan iklandi televisi dan interaksi dengan teman sebaya. Teori Efek Media Massa dan Teori Imitasidapat digunakan untuk menunjukkan adanya keterkaitan terpaan iklan di televisi denganperilaku menirukan bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja. Teori Kelompok Rujukan(Peer Group) digunakan untuk menunjukan bahwa perilaku individu didasarkan pada sikapdan persepsi kelompok untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang bersangkutan.Dalam hal ini kelompok rujukan tersebut adalah teman sebaya. Penelitian ini diharapkandapat membuka jalan dan memberikan konstribusi bagi penelitian – penelitian lanjutandengan bidang kajian yang sejenis.2. Signifikansi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa perilaku imitasibahasa iklan berhubungan dengan terpaan iklan dan interaksi teman sebaya.3. Signifikansi SosialSecara sosial, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi masyarakatterutama para remaja agar bisa memahami dan menyaring bahwa tidak semua yang munculdi televisi patut ditiru.V. Hipotesis1. Ada hubungan antara terpaan iklan provider di televisi dengan perilaku imitasi bahasaiklan yang dilakukan oleh remaja. Artinya, semakin tinggi intensitas terpaan iklan makasemakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja.2. Ada hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja. Artinya,semakin sering remaja berinteraksi dengan temansebayanya maka semakin tinggi perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan olehremaja.3. Ada hubungan antara terpaan iklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan. Artinya semakin tinggi terpaan iklan dan semakin tinggi interaksidengan teman sebaya maka semakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja.Terpaan Iklan Providerdi TelevisiInteraksi Teman SebayaPerilaku ImitasiBahasa IklanVI. Tipe PenelitianTipe penelitian yang digunakan adalah eksplanatori yang bertujuan untuk mengetahui adanyahubungan antara terpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.VII. PopulasiPopulasi pada penelitian ini adalah remaja berusia 13-18 tahun yang bertempat tinggal di KotaSemarang yang berjumlah 101.495 (Sumber: Data Bappeda Kota Semarang tahun 2010). Berikutrincian data tersebut:Tabel 1.1 Banyaknya Penduduk Menurut Kelompok Usia 13-18 tahundi Kota Semarang Tahun 2010Kecamatan JumlahPenduduk Usia13-18 tahunMijen 5.988Gunungpati 5.676Banyumanik 8.046Gajah Mungkur 6.341Smg. Selatan 5.754Candisari 5.399Tembalang 7.293Pedurungan 7.161Genuk 5.900Gayamsari 4.562Smg. Timur 7.299Smg. Utara 6.203Smg. Tengah 7.175Smg. Barat 6.975Tugu 5.536Ngaliyan 6.890Total 102.248(Sumber: Bappeda Kota Semarang tahun 2010)VIII. SampelSampel dalam penelitian ini adalah remaja yang tinggal di Kecamatan Banyumanikdan terkena terpaan iklan provider di televisi. Diambil Kecamatan Banyumanik karena diwilayah tersebut terdapat paling banyak remaja berusia 13-18 tahun dibandingkankecamatan lainnya.IX. Teknik Pengambilan SampelTeknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan multistagerandom sampling, yakni teknik yang menarik kluster tempat individu berada. Pengambilansampel pada kluster yang lebih kecil yaitu Kecamatan Banyumanik. Kecamatan Banyumanikmerupakan populasi pertama, terdapat beberapa kelurahan yaitu Pudakpayung, Gedawang,Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon,Tinjomoyo, Ngesrep. Lalu diambil satu kelurahan secara acak yaitu Kelurahan Sumurboto.Kelurahan Sumurboto memiliki 774 remaja (367 remaja putri dan 407 remaja putra) berusia13-18 tahun. Sehingga total sampel dihitung dengan rumus berikut:n = __ N___1+N.e²= ____774____1+774(0.1)²= 88,5  dibulatkan 89 orangKeterangan:n = Ukuran sampelN = Ukuran populasiE = Kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan sampel yang dapat ditolerir,ditentukan sebesar 10%.Kelurahan Sumurboto memiliki 5 RW, kemudian diacak lagi diambil RW IV dimanadi dalam RW IV terdapat 11 RT. Lalu masing-masing akan diambil 8 sampel dari 10 RT dan9 sampel dari 1 RT sehingga berjumlah 89 sampel.X. Kesimpulan1. Terpaan iklan provider di televisi ternyata berhubungan terhadap perilaku imitasi bahasaiklan oleh remaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimanadiperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,313 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar0,000. Hal ini menunjukkan bahwa terpaan iklan provider yang tinggi menjadikanperilaku imitasi bahasa iklan juga tinggi.2. Interaksi dengan teman sebaya berhubungan dengan perilaku imitasi bahasa iklan olehremaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimana diperolehhasil koefisien korelasi sebesar 0,319 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000.Hal ini menunjukkan bahwa tingginya interaksi teman sebaya menjadikan perilakuimitasi bahasa iklan tinggi, begitu pula sebaliknya.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan provider ditelevisi (X1) dan interaksi teman sebaya (X2) dengan perilaku imitasi bahasa iklan (Y)yang dibuktikan dengan hasil koefisien konkordansi sebesar sebesar 0,77 dan nilaisignifikansi penelitian sebesar 0,000. Hasil ini menunjukkan ada hubungan yangsignifikan antara terpaan iklan dan interaksi dengan teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.DAFTAR PUSTAKAAl-Ghifari, Abu. 2003. Remaja Korban Mode. Bandung:Mujahid Pers.Deddy, Mulyana. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.Bandung:Remaja Rosdakarya.Gerungan,Dr.W.A. 1996. Psikologi Sosial.Bandung:PT.Eresco.Hidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ibrahim, Idi Subandy . 2007.Budaya Populer Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Liliweri, Alo .1992. Dasar–Dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: Citra Aditya Bakti.Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiS PelangiAksara.McQuail.1996. Teori Komunikasi Massa:Suatu pengantar. Jakarta:Erlangga.Nurudin.2007.Pengantar Komunikasi Massa.Jakarta:PT.Grafindo Persada.Onong,Uchyana Effendi.1993.Ilmu,Teori,dan Filsafat Komunikasi.Bandung:Citra Aditya Bakti.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi . Bandung:Remaja Rosdakarya.Rohim, Syaiful. 2009. Teori Komunikasi: Ragam dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.Santoso, Singgih. 2005. Buku Latihan SPSS Statistik Non-Parametrik. Jakarta: Elex MediaKomputindo.Sudiana, Dendi.1986.Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung : Remadja Karya.Susanti H., Esthi.1993. Anak Saya Jenius : Kumpulan Masalah Orang Tua dan Anak. Jakarta :Rasindo.WA.,Gerungan. 2004. Psikologi Sosial. Bandung:Rofika Aditama.Wirawan, Sarlito. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta : Rasindo.Skripsi :Ade Azwida. (2007). Pemakaian Bahasa Gaul Pada Iklan Produk Komersial Televisi. Skripsi.Universitas Sumatera Utara.Nurul Fatimah. (2010). Hubungan Terpaan Iklan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Kelompok Sebaya terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Skripsi. UniversitasDiponegoro.Sumber Internet :http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja-menirukan-iklan.htmlartikel oleh Galik Laksono. Diakses pada 20 Mei 2012.http://synersid.blogspot.com/2012/04/tren-remaja-menirukan-iklan.html artikel oleh SMPN 3Tulungagung. Diakses pada 20 April 2012.http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=903&res=jpz diakses pada 20 April 2012.Sumber Koran atau Majalah :Cakram edisi September 2005. Bahasa Iklan dan Pengaruhnya, artikel oleh Sjahrial Djalil.Kompas edisi Kamis 20 Agustus 2009. Diperlukan Strategi Agar Dapat Merebut Hati KonsumenMelalui Iklan , artikel oleh Rosdianah Dewi.

PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADA MAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIP

Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADAMAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIPAbstrakKekerasan seksual sering kali muncul di sekitar kita, terutama seringmerugikan pihak perempuan. Namun, kebanyakan korban dari kekerasan tersebutjustru tidak banyak yang melaporkannya, salah satu bentuk yang paling seringdijumpai adalah pelecehan seksual. Pelecehan seksual diartikan sebagai suatukeadaan yang tidak dapat diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual danpernyataan-pernyataan yang bersifat menghina atau keterangan seksual yang bersifatmembedakan. Tindakan yang tidak diinginkan tersebut ternyata bukan saja terjadi diranah privat saja, melainkan sudah mengarah pada ruang publik dan dapat berasaldari orang-orang yang dikenal seperti teman-teman di lingkungan pendidikan.Fokus penelitian adalah untuk menggambarkan bagaimana maskulinisasidapat diterima oleh mahasiswi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Selain itu, untukmenjelaskan bentuk dan dampak pelecehan seksual yang terdapat dalam sebuahmaskulinisasi tersebut, dan ideologi yang digunakan di balik dominasinya.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma kritis, dengan tipe penelitiandeskriptif. Manakala metode penelitiannya menggnakan Studi Kasus yang mengacupada Yin (2006). Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Teori utama penelitian iniadalah Muted Group Theory dari Cheris Kramarae.Hasil penelitian menggambarkan bagaimana pelecehan seksual dapat diterimadikalangan perempuan dalam sebuah dominasi kelompok, berkat hegemoni kelompokyang membuatnya semakin tersamar. Bentuk pelecehan yang dialami merekacenderung mengarah pada hostile environment, di mana berdampak terhadap keadaanpsikologis, berupa lontaran komentar-komentar maupun julukan seksis yangmendeskripsikan keadaan fisik mereka. Ideologi di balik dominasi mereka adalahPatriarki yang telah melebur dengan nilai-nilai di lingkungannya, sehinggamenjadikan suatu “kebiasaan laki-laki”, salah satunya pelecehan seksual yang telahdijadikan keadaan normal di kalangan perempuan.Kata kunci : Pelecehan Seksual, Dominasi, MaskulinisasiSEXUAL HARASSMENT: MASCULINIZATION OF FEMALE STUDENTIDENTITY ON ELECTRICAL ENGINEERING MAJOR OF DIPONEGOROUNIVERSITYAbstractSexual violence often appear around us, especially the often detrimental towomen. However, most of the violence victims didn’t make reports on it, one of themost common sexual violence is sexual harassment. Sexual harassment is defined asa situation that is unacceptable, whether verbal, physical or sexual cues andstatements that are sexually derogatory or discriminatory statements. The unwantedactions are apparently not only occur in the private sphere, but has led to the publicand can be derived from known people like friends in the educational environment.The focus of the research is to describe how the masculinization may beaccepted by the student in the Electrical Engineering Diponegoro University.Moreover, to explain the shape and impact of sexual harassment contained in a themasculinization, and ideology are used behind its dominance.This qualitative study using a critical paradigm, the descriptive type. Whereasthe research method is using the case study which refers to Yin (2006). Data obtainedfrom direct field observations and in-depth informant interviews to three informantsof the Electrical Engineering Diponegoro University students, by using the SnowballSampling technique. The main theory of this study is Muted Group Theory of CherisKramarae.The result of the research illustrates how sexual harassment is acceptableamong women in a group of domination, through to the hegemony group that make itmore subtle. The form of harassment experienced by women tends to lead to a hostileenvironment, where the impact on the psychological state, a burst of comments andsexist epithets describing their physical state. The ideology behind their dominance isPatriarchy which has merged with the values in the environment, making a "habit ofmen", one of which sexual abuse has become a normal state among women.Keywords: Sexual harassment, Domination, MasculinizationPendahuluanAkhir-akhir ini, pemberitaan mengenai kekerasan semakin marak diberitakan dimedia-media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan tidak jarang media itu sendirijuga turut menjadi pelaku dari kekerasan. Di sini, kekerasan yang dimaksud tidakmelulu berkaitan dengan tindakan tembakan, pukulan atau dengan tetesan darah.Kekerasan adalah suatu penyerangan yang berakibat menyakiti seseorang, baikberupa verbal maupun non-verbal, dan dilakukan secara langsung maupun tidaklangsung. Jenis-jenis kekerasan juga dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satu yangsering menjadi sorotan adalah Kekerasan Berbasis Gender (KBG).Dalam sebuah seminar berjudul “Gender-Based Violence In A RomanticRelationship” (Anonim, 2012), Murnizam Halik PH.D, seorang Dekan Psikologi diUniversitas Malaysia Sabah (UMS) sekaligus narasumber seminar, mengungkapkanGender Based Violence atau Kekerasan Berbasis Gender merupakan serangkaianpenganiayaan yang dilakukan terhadap perempuan, yang berakar dari ketidaksetaraangender dan rendahnya status perempuan dibandingkan laki-laki. KBG dapat terjadi dimanapun, dari ruang privat hingga ruang publik, yang nyata diketahui banyak orang.Selain itu, KBG dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: kekerasan fisik, kekerasanpsikis dan kekerasan seksual. Akan tetapi, pembahasan dalam penelitian ini akanmengarahkan pembaca pada kekerasan dalam bentuk seksual, yang mana salahsatunya menyangkut pelecehan seksual. Sexual harassment atau pelecehan seksualsering kali terjadi disekitar kita, dengan atau tanpa disadari.Pelecehan seksual diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diterima,baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual dan pernyataan-pernyataan yang bersifatmenghina atau keterangan seksual yang bersifat membedakan, di mana membuatseseorang merasa terancam, dipermalukan, dibodohi, dilecehkan dan dilemahkankondisi keamanannya. Pada dasarnya, pelaku pelecehan dapat dilakukan oleh lakilakidan perempuan; baik laki-laki terhadap perempuan, perempuan terhadapperempuan, bahkan antar sejenis yaitu laki-laki terhadap laki-laki dan perempuanterhadap perempuan. Bentuknya dapat berupa verbal dan non-verbal, dan dapatdijumpai di manapun, kapanpun, kepada siapapun dan oleh siapapun, tanpa mengenalstatus atau pangkat. Richmond dan Abbott (1992:329) menyatakan, bahwa hanyasekitar satu per sepuluh kasus-kasus pelecehan seksual sesama jenis yang diberitakan.Pelecehan seksual sesama jenis biasanya dilakukan oleh pasangan homoseksual, atauseseorang yang mengidap kelainan seksual. Meski demikian, tidak dapat dipungkiribahwa pada kenyataannya perempuan sering menjadi korban kekerasan maupunpelecehan seksual oleh laki-laki, sehingga setiap harinya bahkan setiap saatperempuan harus merasa berwaspada terhadap serangan-serangan yang akanmenimpanya.Menurut data WHO 2006 (dalam artikel Kinasih, 2007:11), ditemukan adanyaseorang perempuan dilecehkan, diperkosa dan dipukuli setiap hari di seluruh dunia.Paling tidak setengah dari penduduk dunia berjenis kelamin perempuan telahmengalami kekerasan secara fisik. Bahkan, pelecehan ini telah terjadi di tempattempatumum dan tanpa disadari (oleh korban pelecehan). Misalnya, kasus pelecehanmenjadi mimpi buruk (terror) bagi kaum hawa, terutama di Ibu Kota, Jakarta.Berdasarkan sumber okezone.com, (wirakusuma, 2011) perempuan yang menaikijasa mobil angkutan kota di malam hari akan merasakan takut yang berlebih sehinggamereka harus menyamarkan penampilan mereka seperti seorang laki-laki. Seorangkaryawati asal Ciputat, bernama Tungga Pawestri (30) mengaku harus pulang kantorpada malam hari (di atas pukul 22.00 WIB). Sebelum menaiki angkot tersebut,Tungga harus memakai jaket tebal dan topi agar tampak seperti laki-laki, agar dapatterlepas dari tindak pelecehan seksual di angkot.Sebuah survei “YouGov” yang dilakukan oleh End Violence Against WomenCoalition (Evaw) juga memperkuat kenyataan tersebut, yaitu sebanyak 43 persen dari1.047 wanita berusia 18 – 34 tahun (yang disurvei) mengalami pelecehan seksual ditempat-tempat umum pada tahun 2011 (Anonim, 2012). Di Indonesia sendiri,menurut pantauan yang dilakukan oleh Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dalamkurun waktu 13 tahun terakhir (1998 – 2011) telah tercatat sebanyak 22.284 kasuskekerasan seksual terhadap perempuan di ruang umum dan menjadi urutan kedua dariseluruh kasus kekerasan seksual yang berjumlah 93.960 kasus (Hidayatullah, 2012).Pelecehan seksual ini merupakan latar belakang dari kekerasan, sehinggahukum di Indonesia pun menciptakan suatu undang-undang perlindungan perempuan,yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, yangmana merupakan pengaturan pasal-pasal pelecehan seksual: (a) KUHP Pasal 289 –296 merupakan pasal-pasal tentang pencabulan, (b) KUHP Pasal 295 – 298 dan pasal506 merupakan pasal-pasal tentang Penghubungan Pencabulan, dan (c) KUHP Pasal281 – 299, 532 – 533 dan lain-lain merupakan pasal-pasal tentang Tindak Pidanaterhadap Kesopanan (Laluyan, 2009).Meski terdapat aturan hukum mengenai pelaku pelecehan, kaum lelaki tetapmerasa lebih berkuasa dibanding perempuan dan konotasi perempuan menjadimakhluk yang lemah. Terbukti dari kasus-kasus pelecehan yang nyata ada di manamana.Bukan hanya di tempat-tempat umum, kasus-kasus pelecehan seksual jugadapat terjadi pada lingkup yang tertutup, seperti lingkungan akademis. Pelecehanseksual, baik guru/dosen terhadap murid/mahasiswa atau sebaliknya, serta antarguru/dosen dan antar murid/mahasiswa tidak dapat dipungkiri dalam duniapendidikan. Dalam hal ini, peneliti menyingkap kasus pelecehan seksual yang terjadidiantara mahasiswa-mahasiswi yang berada pada lingkungan dominasi laki-laki,tepatnya pada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Undip.Teknik Elektro Undip memiliki perbandingan mahasiswa (antara laki-laki danperempuan) yang signifikan yaitu sebanyak 87 persen laki-laki dan 13 persenperempuan dari jumlah 920 orang. Dengan dominasi maskulin (sifat laki-laki), makaakan dengan mudah mengambil alih sifat-sifat feminin dari seorang perempuan,inilah yang disebut dengan “Maskulinisasi” atau laki-laki dapat mengkonstruksikandiri perempuan. Proses maskulinisasi tersebut, salah satunya dapat berimbas dalamidentitas diri seseorang. Karakteristik macho sangat terkenal pada salah satu kampusteknik yang paling diminati tersebut. Dengan konstruksi penampilan laki-laki,mencerminkan sifat-sifat macho pada diri perempuan; make up yang jarangdigunakan dan tas ransel yang lebih menjadi pilihan para mahasiswi, akan seringditemui di Teknik Elektro.Suatu diskriminasi identitas, jika identitas seseorang tersebut harus diikutisecara “paksaan”. Oleh karenanya, peneliti akan menggali lebih dalam mengenaidominasi maskulin terhadap perempuan. Karenanya, peneliti mengambil judul“Pelecehan Seksual: Maskulinisasi Identitas Pada Mahasiswi Jurusan TeknikElektro Undip”, yang mana peneliti berusaha untuk mencari tahu bagaimanaperempuan (sebagai minoritas) dapat beradaptasi dengan lingkungan dominasimaskulin, dan dampak maskulinisasi identitas perempuan yang ditimbulkan daribentuk-bentuk pelecehan seksual. Selain itu, peneliti juga berusaha mencaritahuideologi di balik dominasi maskulin di lingkungan Teknik tersebut.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif.Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010:4) mendefinisikan metodologi kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dariorang-orang dan perilaku yang diamati. Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukandengan paradigma kritis, karena peneliti menekankan pada konsep maskulinisasi, yangdominan di kalangan mahasiswa-mahasiswi Teknik Elektro Undip.Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Bungin (2007:108)menetapkan beberapa prosedur pada penggunaan teknik Snowball, yaitu dengan siapapeserta atau informan pernah dikontak atau pertama kali bertemu dengan penelitiadalah penting untuk menggunakan jaringan sosial mereka untuk merujuk penelitikepada orang lain yang berpotensi berpartisipasi atau berkontribusi dan mempelajariatau memberi informasi kepada peneliti.Analisis data terdiri atas pengujian, pengkategorian, pentabulasian, ataupunpengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi awal suatu penelitian(Yin, 2006:133). Strategi penjodohan pola dalam studi kasus deskriptif bersifatrelevan dan fleksibel, sehingga pola-pola spesifik dapat diprediksikan sebelumpengumpulan data (Yin, 2006:140).PembahasanRefleksi: Pelecehan Seksual Dalam Maskulinisasi Identitas Mahasiswi TeknikElektro UndipStrategi analisis data yang digunakan pada penelitian ini, dalam pendekatan studikasus adalah strategi penjodohan pola. Peneliti telah menetapkan asumsi di awalpenelitian, sehingga dapat menghasilkan sebuah perbandingan antara pra penelitiandan pasca penelitian. Asumsi peneliti pra penelitian menyatakan bahwa praktekpelecehan seksual yang dialami perempuan dalam dominasi maskulin merupakanakibat maskulinisasi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Laki-laki menggunakankelebihannya untuk menguasai perempuan. Posisi laki-laki menempatkan dirinyapada tatanan superior. Dengan demikian, laki-laki juga bebas menggunakankekuatannya dalam mengkonstruksi perempuan.Sedangkan pasca penelitian, peneliti menemukan beberapa temuan. Pertama,laki-laki menyisipkan praktek pelecehan seksual dalam maskulinisasi identitasperempuan di lingkungan dominasi, Teknik Elektro Undip. Dampak dari dominasimaskulin begitu terasa di lingkungan tersebut, sehingga memberi keleluasaan bagilaki-laki untuk menguasai perempuan. Mereka seakan harus mengikuti aturan(terutama dalam hal identitas gender) yang dibuat oleh laki-laki agar dapat diterimasebagai bagian di lingkungan kampus Teknik Elektro Undip. Paludi (1990:23)menegaskan, bahwa pelecehan seksual adalah perilaku seksual yang tidak diinginkan,permintaan atas kenikmatan seksual, dan segala tindakan verbal atau fisik yangmengarah pada seksual secara alamiah dalam berbagai situasi, salah satunya ketikasalah satu pihak mengarah pada ketundukkan yang dibuat secara emplisit (langsung)atau implisit (tidak langsung) oleh pihak lain.Kedua, peneliti menemukan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi dilingkungan Teknik Elektro, lebih berupa kata-kata (verbal), antara lain: memberikomentar negatif, memberi julukan yang tidak menyenangkan, dan pembicaraan yangmengarah pada hal-hal seksis. Bahkan Michigan Task Force (Richmond dan Abbott,328:1992) yang fokus menyoroti kasus pelecehan seksual, menyatakan bahwapelecehan seksual mencakup verbal abuse atau kekerasan verbal yang dilakukanberulang-ulang dari hasrat atau naluri seksual. Kekerasan verbal yang berulang-ulangitu sama seperti yang dialami oleh para informan penelitian, sehingga dapatmengakibatkan suatu ketidaknyamanan kondisi psikologis ketika berada dilingkungan kampusnya. Kondisi yang dialami oleh perempuan di lingkungantersebut, dalam pelecehan seksual lengkapnya termasuk jenis hostile environment,yaitu suatu keadaan seorang individu dijadikan subyek atas segala pengulanganseputar seksual yang tidak diinginkan, sehingga dapat menciptakan suasana yangtidak nyaman dilingkungan pekerjaan maupun pendidikan (Carroll, 2010:486).Ketiga, keadaan di mana laki-laki sangat ingin mengontrol perempuan samaseperti penjelasan dalam Budaya Patriarki. Patriarki lahir dari hasrat laki-laki untukmenguasai perempuan dan alam, yang merupakan suatu sistem hirarki yangmenghargai sebuah power-over (hasrat menghancurkan) (Tong, 81:2010). Praktekpraktekuntuk menaklukkan perempuan, sering kali dinormalisasi oleh laki-laki agardapat mencapai kekuasaan (power) yang diinginkannya. Oleh karenanya, konseppatriarki telah melebur menjadi landasan ideologis dibalik dominasi yang terdapat dilingkungan Teknik Elektro tersebut.“Muted Group theorists criticize dominant groups and argue that hegemonicideas often silence other ideas” (West dan Turner, 2007:516). Kalimat tersebutmenekankan bahwa MGT sangat kritis terhadap kelompok dominan yang seringmengontrol makna pada anggota-anggota kelompok lainnya. Perempuan hanya bisamengikuti aturan-aturan tersebut karena merasa tidak dapat memberikan sikapresponsif untuk menjelaskan pikirannya. Bahkan ketika subjek penelitian mengalamipelecehan, mereka cenderung pasif karena hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yangwajar serta konsekuensi yang harus diterima berada dalam lingkungan dominasimaskulin.Penggunaan teori MGT mampu menjelaskan sepenuhnya, mengapaperempuan mengalami ketidakberdayaan menghadapi pelecehan seksual dalampraktek maskulinisasi identitas perempuan. Dominasi laki-laki yang begitu kuatmampu menguasai kebiasaan interaksi lawan jenis, bahkan secara bawah sadar yangdikuasai dapat dengan mudah merasa patuh dan menerima begitu saja. Bagikelompok bungkam (muted group), apa yang dikatakan pertama kali harus bergeserdari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkandengan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang dominan (West dan Turner,2007:517).Asumsi Muted Group Theory dalam sudut pandang perempuan, turutmenyatakan bahwa dalam berpartisipasi pada kelompok sosialnya, perempuan harusmentransformasi cara mereka menjadi cara-cara yang dapat diterima oleh laki-laki.Perempuan mengalami pelecehan seksual sebagai usaha pembungkaman diri karenamereka memahami bahwa dirinya akan selalu berada di bawah laki dan menjadimanusia sekunder. Kenyataan yang terdapat di lapangan, mahasiswi Teknik Elektromerasa harus menyesuaikan peran yang cocok dengan identitas kelompoknya, macho.Adapun, peneliti menemukan beberapa hal menarik dalam penelitian ini.Pertama, konstruksi identitas yang diciptakan oleh mayoritas anggota kelompoksendiri biasanya dapat saling mempengaruhi, apalagi jika hubungan tersebut berhasilmenciptakan rasa solidaritas yang tinggi. Ketidaksadaran kaum perempuan dalammematuhi aturan-aturan yang diciptakan kelompok dominan sama seperti penjelasandalam Teori Hegemoni. Secara umum, teori tersebut menjelaskan dominasi sebuahkelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya kelompok yang lebih lemah, dalamhal ini perempuan (West dan Turner, 2008:67).Arahan-arahan para penguasa kelompok sebenarnya telah menciptakan suatukesadaran palsu bagi kelompok tertindas. Kesadaran palsu atau false consciousness(dalam West dan Turner, 2008:68) adalah suatu keadaan di mana individu-individumenjadi tidak sadar mengenai dominasi yang terjadi di dalam kehidupan mereka.Identitas atau ciri khas macho yang melekat pada kelompok Teknik Elektro, terbuktitelah dibentuk oleh kelompok dominan yang ada di lingkungannya. Konsep machomenjadi sesuatu yang identik dengan Teknik Elektro secara terus-menerus dapatberpengaruh pada diri perempuan yang ada di lingkungan tersebut. Perempuan tidakakan pernah benar-benar yakin bahwa ia feminin, jika lingkungannya sendiri tidakmenerimanya sebagai seorang yang feminin.Kedua, yaitu berdasarkan pengakuan ketiga informan yang menjelaskanbahwa teman-teman lelaki yang terdapat di dalam dan di luar lingkungan KampusTeknik Elektro ternyata memiliki perbedaan cara pandang mengenai sosokpenampilan perempuan. Jika kelompok laki-laki yang dalam lingkungan kampustersebut cenderung memandang identitas feminin kurang pantas dikenakan olehmahasiswinya, teman-teman lelaki di luar lingkungan itu justru menganggappenampilan feminin bukanlah merupakan sesuatu yang terlalu berlebihan bagiperempuan.Perbedaan cara pandang tersebut sebenarnya terbentuk dari penerimaan suatukelompok di setiap lingkungannya. Mahasiswi yang berada pada lingkungandominasi maskulin tentu akan merasakan kadar kedekatan dan pengaruh yang lebihkuat, daripada kelompok lain atau out-groups. Dari sesama anggota kelompoksendiri, tentunya akan menimbulkan suatu harapan atas pengakuan, kesetiaan, danpertolongan (Horton dan Hunt, 1996:220). Ini pula yang dijadikan suatu kesempatanbagi kelompok dominan untuk menaklukan minoritas.Hal unik yang terakhir (ketiga), mengenai kurangnya pemahaman mendalamseputar pelecehan seksual, yang mengakibatkan para informan tidak dapatmenyatakan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual. Hal ini serupa denganpernyataan Bourdieu dalam konsepnya “misrecognition” yaitu yaitu sebuah “bentukmelupakan” dari seseorang akan suatu hal. Korban tidak akan merasa bahwa dirinyaadalah seorang “korban pelecehan seksual” yang telah diperlakukan sebagai makhlukinferior yang kerap mengalami penolakan atas keinginannya, dan memilikiketerbatasan dalam berekspresi. (Webb, Schiratto, dan Danaher, 2002:24-25).SimpulanPara mahasiswi yang menjadi subyek penelitian menyadari kedudukannya sebagaikelompok minoritas di lingkungan Teknik Elektro Undip. Mereka seakan berhasil“dikostumkan” dengan segala persepsi maskulin dari kelompok dominan. Dengandemikian, melalui hegemoni, perempuan dapat dengan mudah dipengaruhi dandibentuk oleh keinginan laki-laki.Jenis pelecehan seksual yang dialami kelompok minoritas, termasuk ke dalamkondisi hostile environment, yaitu perempuan sebagai korban sebenarnya telahmencapai titik pertentangan terhadap lingkungan kampusnya, sehingga sering kalimenimbulkan dampak ketidaknyamanan (psikologis) bagi perempuan, yaitu rasatakut, terpaksa, kehilangan rasa percaya diri, kecewa dan risih. Nilai-nilai maskulinyang dominan seakan “mengurung” keinginan para mahasiswi untuk tampil lebihfeminin dengan berbagai berbagai tindakan yang cenderung mengarah pada verbalabuse, baik melalui ejekan-ejekan yang mengarah pada fisik perempuan dan beberapajulukan diskriminatif yang secara langsung ditujukan oleh mahasiswa laki-lakikepada mahasiswinya.Budaya patriarki telah melebur dibalik keadaan dominasi yang dialamiperempuan, sehingga sering tercipta suatu “kebiasaan lelaki”. Laki-laki melakukannormalisasi pada tindakan-tindakan pelecehan seksual, sehingga perempuan secaratidak sadar menganggapnya sebagai perilaku normal sehari-hari, yang dilakukan paralelaki.DAFTAR PUSTAKAAndaryuni, Lilik. (2012). To Promote: Membaca Perkembangan Hak Asasi Manusiadi Indonesia (Editor: Eko Riyadi). Yogyakarta: PUSHAM UIIBasuki, Sulistyo. (2006). Metode Penelitian. Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia: Wedatama Widya SastraBourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: JalasutraBulaeng, Andi. (2004). Metode Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: AndiBungin, Burhan. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofisdan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PTRajaGrafindo PersadaBungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif (Edisi Kedua): Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroupCarroll, Janell L. (2010). Sexuality Now: Embracing Diversity (Third Edition).Amerika: Wadsworth PublishingDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S (Eds). (2009). Handbook of QualitativeResearch. Yogyakarta: Pustaka PelajarDjajanegara, Soenarjati. (2000). Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka UtamaEvans, Patricia. (2010). The Verbally Abusive Relationship: How To Recognize It andHow To Respond. USA: Adams MediaFakih, Mansour. (2008). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar OffsetFetterman, D.M. (ed). (1988). Qualitative Approaches to Evaluation in Education.The Silent Scientific Revolution. New York : PraegerGriffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eighth Edition. NewYork: McGraw-HillGriffin, Ricky W. and O’Leary-Kelly, Anne M. (2004). The Dark Side ofOrganizational Behavior. USA: Jossey-BassHall, Calvin S. and Lindzey, Gardner. (1993). Psikologi Kepribadian 3: Teori-Teoridan Sifat Behavioristik. Yogyakarta: KanisiusHamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa: Sebuah StudiCritical Discourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta: GranitHamidi. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM PressHasan, Abdul Fatah. (2007). Mengenal Falsafah Pendidikan. Selangor, Malaysia:Yeohprinco Sdn. BhdHill, Catherine and Silva, Elena. (2005). Drawing The Line: Sexual Harassment OnCampus. United States: AAUW Educational FoundationHollows, Joanne. (2010). Feminisme, Feminitas dan Budaya Populer (terj.Ismayasari, Bethari Anissa). Yogyakarta: JalasutraHorton, Paul B. and Hunt Chester L. (1996). Sosiologi: Jilid 1, Edisi Ke-enam (terj.Ram, Aminuddin & Sobari, Tita). Jakarta: Penerbit ErlanggaIrianto, Sulistyowati (Ed). 2006. Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum YangBerperspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,anggota IKAPI DKI JayaLarkin, June. (1997). Sexual Harassment: High School Girls Speak Out. Canada:Second Story PressMoleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:PT Remaja RosdakaryaNazir, Mohammad. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia IndonesiaNeuman, Lawrence W. (1997). Social Research Methodes : Qualitative andQuantitative Approaches. MA : Allyn & BaconNoor, Ida Ruwaida dan Hidayana, Irwan M. (2012). Pencegahan dan PenangananPelecehan Seksual di Tempat Kerja: Panduan Bagi Para Pemberi Kerja.Jakarta: APINDOPaludi, Michele A. (Ed). (1990). Ivory Power: Sexual Harassment On Campus.Albany : State University of New York PressRachmat, Jalaludin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RosdakaryaRaco, J.R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik danKeunggulannya. Jakarta: GrasindoRatna, Nyoman Kutha. (2004). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka PelajarRichmond, Marie dan Abott. (1992). Masculine & Feminine: Gender Roles Over TheLife Cycle: Second Edition. Great Britain: Methuen & Co. LtdSendjaja, Sasa Djuarsa, dan kawan-kawan. (1994). Teori Komunikasi. Jakarta:Universitas TerbukaSoekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindoSukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosda Karya.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan & Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku KompasSunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGCTong, Putnam. (2010). Feminist Thought:Pengantar Paling Komprehensif kepadaArus Utama Pemikiran Feminis (terj. Prabasmoro, Aquarini Prayitni).Yogyakarta: JalasutraUripni, Christina Lia, Untung Sujianto, Tatik Indrawati. (2002). KomunikasiKebidanan. Jakarta: Buku Kedokteran EGCWebb, Jen, Tony Schirato dan Geoff Danaher. (2002). Understanding Bourdieu.London: SAGE Publications LtdWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Communication Theory:Analysis and Application. New York: McGraw-HillYin, Robert K. (2002). Studi Kasus: Desain & Metode. Jakarta: PT RajaGrafindoJurnal dan ArtikelIrianto, Jusuf. (2007). Perempuan Dalam Praktek Manajemen Sumber Daya Manusia.Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4(Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2156&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Kinasih, Sri Endah. (2007). Perlindungan dan Penegakan HAM terhadap PelecehanSeksual. Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20– No. 4 (Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2162&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Laporan Independent NGO. (2007). Implementasi Konvensi Penghapusan SegalaBentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) di Indonesia (Dalamhttps://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fcedaw-seasia.org%2Fdocs%2Findonesia%2FIndpt_Report_Bahasa_Laporan_CEDAW.pdf&ei=R_fxUZjZH4jXrQfH9IDoCw&usg=AFQjCNEe363XZ4_SgVAWk6VU8W8RWaV7Ng&sig2=5ZAYf48Zvzrfc6iqt9sXaQ, diakses pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 20.00)Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas. (2011). “Korban dan Kuasa” Di Dalam KajianKekerasan terhadap Perempuan. (online) Vol. 32 – No. 2 (Dalamhttp://ejournal.undip.ac.id/ index.php/forum/article/view/3153, diakses padatanggal 03 Juli 2012 pukul 20.00 WIB)Suryandaru, Yayan Sakti. (2007). Pelecehan Seksual Melalui Media Massa. ArtikelMedia Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4 (Dalamhttp://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2157&med=15&bid=8,diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)SkripsiFarika, Ummi. (2009). Memahami Gaya Komunikasi Laki-Laki Dan PerempuanDalam KulturOrganisasi Berkeadilan Gender: Studi Kasus PergerakanMahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII). Skripsi. Universitas DiponegoroIsriyati. (2010). Studi Kasus: Kekerasan KomunikasiTerhadap Perempuan DalamRomantic Relationship. Skripsi. Universitas DiponegoroSoekmadewi, Rr. Mariza D. (2012). Perempuan Maskulin Dalam Sinetron (AnalisisResepsi Karakter Maskulin Tokoh Utama Perempuan Protagonis DalamSinetron “Dewa”. Skripsi. Universitas DiponegoroUtama, Yossi Indria. (2005). Konstruksi Identitas Perempuan Marjinal. Skripsi.Universitas DiponegoroWulandari, Wiwit Asri. (2007). Konstruksi Majalah Hai. Skripsi. UniversitasDiponegoroInternetAdidharta, Syaifud. (2011). Wanita Indonesia Antara Kegelapan dan MasaDepannya. Dalam http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/17/wanita-indonesia-antara-kegelapan-dan-masa-depannya-356224.html. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Dia Suka Pegang-Pegang Aku. Dalam http://remajadalamkliping.word press.com/2009/05/06/dia-suka-pegang-pegang-aku/. Diunduhpada tanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Profil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Dalamhttp://www.ft.undip. ac.id/index.php/profil.html. Diunduh pada tanggal 06 Julipukul 20.30 WIBAnonim. (2010). Latar Belakang. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/keadilanperempuan/index.php?option=com_content&view=article&id=20&Itemid=108. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 20.00 WIB. Hal. 01Anonim. (2010). Profil. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2010/10/mekanisme-ham-nasional-bagi-perempuan-nasional-indonesia/. Diunduhpada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.30 pukul 21.00 WIBAnonim. (2010). Tabir Asap Kerusuhan Mei 1998 (1). Dalam http://sociopolitica.com/2010/05/13/tabir-asap-kerusuhan-mei-1998-1/. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 19.30 WIBAnonim. (2011). Perkembangan Feminisme Di Dunia. Dalam http://komahi.umy.ac.id/2011/05/perkembangan-feminisme-di-dunia.html. Diunduh pada tanggal 02Januari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Biografi R.A Kartini Biodata, Profil Raden Ajeng Kartini Lengkap.Dalam http://www.erabaca.com/2012/03/biografi-ra-kartini-biodata-profil.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Gender-Based Violence In A Romantic Relationship. Dalamhttp://pasca.mercubuana.ac.id/newsumb.php?mode=baca&pct_ no=738&l=.Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Guru Yang Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Murid. Dalamhttp://www.suatufakta.com/2012/06/guru-yang-melakukan-pelecehan-seksual.html. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012 pukul 20.30 WIBAnonim. (2012). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Kekerasan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual#comments. Diunduh pada tanggal 05 Juli pukul19.30 WIBAnonim. (2013). Kekerasan Seksual Pada Mei 1998 Tak Boleh Disangkal. Dalamwww.pikiran-rakyat.com/node/235085. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Segerakan Perbaikan Sistemik untuk Tangani Kekerasan Seksual.Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2013/01/pernyataan-sikap-menanggapi-maraknya-kasus-kekerasan-seksual-dan-pernyataan-calon-hakimagung-yang-menyudutkan-perempuan-korban-perkosaan/. Diunduh padatanggal 03 Februari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Visi, Misi dan Peran. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/about/visi/. Diunduh pada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00Anonim. (Tanpa tahun). Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja. Dalam http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/pelecehan-seksual. Diunduh padatanggal 04 Juli 2012 pukul 21.00 WIBAyub. (2009). Wanita-pun Bisa Di Elektro. Dalam http://www.elektro.undip.ac.id/?p=285. Diunduh pada tanggal 06 Juli pukul 19.00 WIBBohman, James. (2005). “Critical Theory”. In Edward N. Zalta (Ed.), The StanfordEncyclopedia of Philosophy. Spring 2005 Edition. Dalam http://plato.stanford.edu/archives/spr2005/entries/critical-theory. Diunduh pada tanggal03 September 2012 pukul 19.00 WIBHidayatullah. (2012). Banyak Wanita London Dilecehkan Di Jalan. Dalamhttp://www.al-khilafah.org/2012/05/banyak-wanita-london-dilecehkandi.html. Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBIS. (Tanpa tahun). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Pelecehan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 20.00WIBLaluyan, Joe. (2009). Pelaku Pelecehan Seksual Dapat Dihukum?. Dalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&id=733:pelakupelecehan-seksual-dapat-dihukum&Itemid=94. Diunduh pada tanggal 04 Juli2012 pukul 19.00 WIBMariana, Anna. (2011). Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi (Kisah Gedung InspektoratSukabumi. Dalam http://etnohistori.org/tak-ada-rotan-akar-pun-jadi-kisahgedung-inspektorat-sukabumi.html. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul19.00 WIBPriliawito, E. dan Mahaputra, Sandy A. (2010). Pembunuh 14 Anak Jalanan HadapiTuntutan. Dalam http://metro.news.viva.co.id/%20news/read/179756-pembunuh-14-anak-jalanan-hadapi-tuntutan. Diunduh pada tanggal 11 juli 2012pukul 19.30 WIBPriliawito, Eko. (2009). Menolak Dilecehkan, Mata Kuliah Diulang 5 Kali. Dalamhttp://metro.news.viva.co.id/news/read/51030-menolak_dilecehkan_mata_kuliah_diulang_5_kali. Diunduh pada tanggal 12 Juli pukul 19.00 WIBPutra, Rama Narada. (2012). Ditegur KPI, Raffi Ahmad Menyesal. Dalamhttp://jogja.okezone.com/read/2012/06/27/33/654407/ditegur-kpi-raffiahmad-menyesal. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00 WIBPutro, Suwarno. (2013). Riwayat Singkat Pahlawan Nasional. Dalam http://smpn3kebumen.sch.id/berita-224-riwayat-singkat-pahlawan-nasional-radenadjeng-kartini.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.30 WIBRadius, Dwi B. (2012). Pelecehan Seks 10 Murid, Kepala Sekolah Ditahan. Dalamhttp://regional.kompas.com/read/2012/04/27/16175534/Pelecehan.Seks.10.Murid..Kepala.Sekolah.Ditahan. Diunduh pada tanggal 10 Juli 2012 pukul21.00 WIBRahadi, Fernan. (2013). Anak-anak Jadi Korban Pemerkosaan di AS. Dalamhttp://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/10/mge55y-anakanak-jadi-korban-pemerkosaan-di-as. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013pukul 20.00 WIBWahid, Muhammad N. (Tanpa tahun). Pelajar Ditelanjangi Di Dalam Kelas. Dalamhttp://www.indosiar.com/patroli/pelajar-ditelanjangi-didalam-kelas_78555.html. Diunduh pada tanggal 10 Juli pukul 20.00 WIBWidyarini, M.M. Nilam. (2011). Kekerasan Seksual, Mereka Mungkin SalingMengenal. Dalam http://www.henlia.com/2011/03/kekerasan-seksual-merekamungkin-saling-mengenal/. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00WIBWirakusuma, K. Yudha. (2011). Naik D 02 Malam Hari, Cewek Harus NyamarJadi Cowok. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/09/18/338/504005/naik-d-02-malam-hari-cewek-harus-nyamar-jadi-cowok. Diunduh padatanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBYuwono, Markus dan Trijaya. (2011). Dilecehkan Sesama Jenis Wanita Ini LaporPolisi. Dalam http://autos.okezone.com/read/2011/07/05/340/476201/dilecehkan-sesama-jenis-wanita-ini-lapor-polisi. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012pukul 19.30 WIB

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON PROGRAM MEMASAK DI TELEVISI DAN KOMPETENSI CHEF PRESENTER DALAM PROGRAM MEMASAK TERHADAP MINAT PENONTON UNTUK MEMASAK

Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Program Memasak di Televisi dan Kompetensi ChefPresenter dalam Program Memasak terhadap Minat Penonton untuk MemasakSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013ABSTRAKSIJUDUL : HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON PROGRAMMEMASAK DI TELEVISI DAN KOMPETENSI CHEF PRESENTERDALAM PROGRAM MEMASAK TERHADAP MINAT PENONTONUNTUK MEMASAKNAMA : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083Dewasa ini perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, namun juga memilihuntuk berkarier. Di tengah kesibukannya dalam berkarier, sebagian perempuan tidak lagimemperhatikan pekerjaan rumah, khususnya memasak. Munculnya berbagai programmemasak di televisi dengan format yang baru dan dipandu oleh chef presenter yangberkompeten, memiliki daya tarik tersendiri bagi penontonnya. Program memasak tersebutmemiliki penonton yang berbeda karakter, mulai dari penonton yang tidak bisa memasak,hingga penonton yang ahli dalam bidang memasak.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menontonprogram memasak di televisi dan kompetensi chef presenter dalam program memasakterhadap minat penonton untuk memasak. Penelitian ini merupakan penelitian bertipeeksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Teori yang digunakan adalah Teori Belajar Sosial(Bandura, 1977), teori kompetensi (Agung, 2007) dan efek komunikasi massa (Chaffee,1980). Populasi dalam penelitian ini adalah remaja perempuan dan ibu rumah tangga diSemarang yang menyaksikan program memasak di televisi. Teknik sampling yang digunakanadalah teknik sampling kebetulan (accidental sampling) dengan jumlah sampel sebanyak 50orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatif dengan uji statistikyang menggunakan analisis korelasi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan denganprogram SPSS 17 (Statistical Product and Service Solution).Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas menonton program memasak ditelevisi (X1) ternyata tidak berhubungan terhadap minat penonton untuk memasak (Y), halini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitaskesalahan (sig) sebesar 0,629 (>0,05). Kompetensi chef presenter dalam program memasak(X2) ternyata juga tidak berhubungan terhadap minat penonton untuk memasak (Y). Hal iniberdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862 (>0,05).Hasil pengujian terhadap ketiga variabel, yaitu antara variabel intensitas menonton programmemasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenter dalam program memasak (X2)terhadap minat penonton untuk memasak (Y) menggunakan teknik korelasi Kendallmenunjukkan angka probabilitas sebesar 0,000. Oleh karena sig sebesar 0,000 < 0,05 yangberarti bahwa harga variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan. Dengan demikian,maka secara statistik, dapat dinyatakan “terdapat hubungan antara intensitas menontonprogram memasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenter dalam program memasak(X2) terhadap minat penonton untuk memasak (Y)”. Jadi artinya bahwa ketika intensitasmenonton program memasak di televisi tinggi dan kompetensi chef presenter dalam programmemasak baik, maka penonton semakin berminat untuk memasak.Kata Kunci : Intensitas Menonton Program Memasak; Kompetensi Chef Presenter; MinatMemasakABSTRACTJUDUL : CORRELATION BETWEEN INTENSITY OF WATCHING ACOOKING PROGRAM IN TELEVISION AND CHEF PRESENTER’SCOMPETENCY OF COOKING PROGRAM WITH AUDIENCE’SINTEREST FOR COOKINGNAMA : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083Nowadays, women not only be a housewife, but also choose to make a career. In themidst of their rush in a career, most women no longer regard housework, especially cooking.The emergence of a variety of cooking programs on television with a new format and isguided by a competent chef presenter, has a special attraction for the audience. The cookingprogram has different character of audiens, from the audience who could not cook, until theaudience who are experts in the field of cooking.This research was aimed to know how the correlation between the intensity ofwatching a cooking program on television and chef presenter’s competency of cookingprogram with audience interest for cooking. It is an explanatory type with a quantitativeapproach. The theory used is the teori belajar sosial (Bandura, 1977), the theory ofcompetency (Agung, 2007) and effects of mass communication (Chaffee, 1980) . Thepopulation in this research were young women and housewives in Semarang who watchcooking programs on television. The sampling technique used is sampling kebetulan(accidental sampling) with the number of sample are 50 people. The data analysis techniqueused is quantitative with statistical tests using the Kendall rank correlation analysis usingcalculations with SPSS 17 (Statistical Product and Service Solutions).The results showed that the intensity of watching a cooking program on television(X1) was not related with audience’s interest for cooking (Y), it was proved by thecalculation of which is obtained through a statistical test error probability (sig) of 0.629 (>0,05). Chef presenter’s competency of cooking program (X2) was also not related to theaudience’s interest for cooking (Y). This is based on hypothesis data test, derived errorprobability (sig) of 0.862 (> 0,05). The test results of the three variables, namely the variableintensity of watching a cooking program on television (X1) and the chef presenter’scompetency of cooking program (X2) to the audiences interest for cooking (Y) using Kendallcorrelation techniques showed the probability of 0.000. Therefore sig of 0.000 <0.05, whichmeans that the price of these variables had a significant relationship. Thus, statistically, it canbe stated "there is a correlation between the intensity of watching a cooking program ontelevision (X1) and the chef presenter’s competency of cooking program (X2) to theaudiences interest for cooking (Y)". So that means that when there is high intensity ofwatching a cooking program on television and chef presenter’s competency in cookingprogram, the audience more interested in cooking.Key words : intensity of watching a cooking program, chef presenter’s competency of cookingprogram, interest in cookingPENDAHULUANPerkembangan teknologi komunikasi massa dalam bentuk media massa khususnyamedia televisi telah membuat dunia semakin kecil. Informasi melalui medium televisi daninternet yang mengalir melintasi batas-batas negara tampaknya tidak dapat terbendung olehjarak, ruang, dan waktu (Kuswandi, 2008:33)Melihat fungsi media televisi yang begitu luas, maka secara otomatis akan memberikankesadaran bahwa muatan-muatan pesan media televisi harus dapat mendukung keinginanseluruh masyarakat yang terlibat dalam berbagai sendi kehidupan sosial baik secara politik,ekonomi, dan budaya (Kuswandi, 2008:33). Maka dari itu, televisi harus menampilkanprogram-program yang berkualitas, menarik dan mendidik masyarakat.Untuk mengambil hati sekaligus memuaskan khalayaknya, berbagai stasiun televisiswasta memproduksi tayangan-tayangan yang dirasa akan banyak diminati oleh masyarakat.Berbagai macam program yang bertemakan edukatif, informatif, hingga menghibur punditayangkan. Mulai dari tayangan berita, infotainment, berita kriminal, reality show, kuliner,acara musik bahkan acara yang saat ini banyak diminati yaitu program acara memasak.Banyak acara televisi yang menampilkan program acara masak-memasak dan ratingnyatinggi.Intensitas menonton merupakan tingkat keseringan seseorang menonton setiappenyampaian pesan dan informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan mediamassa (Rakmat, 2000:52). Apabila penonton sering menonton program memasak, makainformasi mengenai program dan apa yang disajikan dalam program tersebut akan semakinbanyak diterima.Di zaman globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua perempuan menjadi ibu rumahtangga, ada pula yang menjadi wanita karir. Banyak perempuan yang melakukan peransebagai laki-laki, yakni bekerja mencari nafkah. Ketika seorang istri berkarir di luar rumahurusan rumah tangga biasanya tidak tertangani semua, khususnya memasak.Program acara memasak memiliki konsep yang sangat menarik. Diselingi dengan acaratravelling yang menambah daya tarik bagi penontonnya. Selain itu chef presenter yangdipakai dalam program-program memasak tersebut adalah chef yang memang berkompetendan memiliki banyak pengalaman dalam dunia memasak.Dengan konsep acara dan kompetensi chef presenter handal yang dimiliki oleh programmemasak, mampu mencuri perhatian pemirsa program tersebut untuk selalu menyaksikannya.Penonton program acara memasak memiliki berbagai macam karakter penonton yangmenyaksikannya. Mulai penonton yang tidak bisa memasak hingga penonton yang ahlimemasak.Kompetensi komunikasi chef presenter yang baik akan mempengaruhi minat penontonuntuk memasak. Penonton yang kurang berminat memasak akan menjadi berminat untukmemasak dan yang gemar memasak akan semakin meningkatkan kreativitasnya dalammemasak. Tidak hanya memenuhi kebutuhan akan hiburan saja, namun dapat memberikansuatu manfaat dan pembelajaran bagi yang menyaksikan program tersebut.Berdasarkan hal tersebut diatas, muncul suatu pertanyaan, apakah ada hubungan antaraintensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chef presenter dalamprogram memasak terhadap minat penonton untuk memasak?ISITeori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Belajar Sosial (SocialLearning Theory) dari Bandura. Salah satu perilaku prososial ialah memiliki keterampilanyang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Keterampilan seperti ini biasanyadiperoleh dari saluran-saluran-saluran interpersonal : orang tua, atasan, pelatih, atau guru.Pada dunia modern, sebagian dari tugas mendidik telah dilakukan media massa. MenurutBandura, kita belajar bukan saja dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan ataupeneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor-faktor kognitif dan lingkungan.Artinya, kita mampu memiliki keterampilan tertentu, bila terdapat jalinan positif antarastimuli yang kita amati dan karakteristik diri kita (Rakhmad, 2005:240).Menurut Steven M. Chaffee (dalam Rakmat, 2005:218) dalam melihat efek yangditimbulkan oleh pesan media massa adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadipada diri khalayak komunikasi massa, yaitu :1. Efek KognitifTerjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang diketahui,dipahami, ataupun dipersepsi oleh khalayak. Kognitif berkaitan dengan transmisipengetahuan, keterampilan, dan informasi.2. Efek AfektifTerjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang dirasakan,disenangi, ataupun dibenci oleh khalayak. Perubahan ditunjukkan dengan perubahan perasaanemosi, sikap atau nilai.3. Efek BehavioralMerujuk pada perubahan perilaku nyata yang dapat diamati seperti pola tidakan,kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakmat, 2005:219).Dari ketiga efek di atas, efek yang paling menonjol adalah efek kognitif dan afektif,dimana seseorang atau khalayak yang melihat program acara memasak di televisimemberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, ataupun dipersepsi olehkhalayak. Dengan menonton program memasak di televisi, memberikan perubahan pada apayang dirasakan, disenangi, ataupun dibenci oleh penonton. Perubahan tersebut dapatditunjukkan dengan khalayak yang sebelumnya tidak menyukai masak akan mencoba untukbelajar memasak dan yang sebelumnya menyukai memasak akan semakin meningkatkankegemarannya dalam bidang memasak.Menurut Johnson (dalam Suparno, 2001:27) memandang kompetensi sebagai perbuatan(performance) yang rasional yang secara memuaskan memenuhi tujuan dalam kondisi yangdiinginkan. Dikatakan performance yang rasional, karena orang yang melakukannya harusmempunyai tujuan atau arah dan ia tahu apa dan mengapa ia berbuat demikian.Konsep-konsep dasar komunikasi yang terdapat dalam kegiatan komunikasi dapatdijelaskan dalam proses komunikasi manusia, yaitu (Winarso, 2005:5) ; sumber – penerima,pengiriman sandi – pemahaman sandi, kemampuan, pesan, umpan balik, umpan muka,saluran, gangguan, konteks, bidang pengalaman, akibat, dan etika.Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatori yang menjelaskantentang hubungan intensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chefpresenter dalam program memasak terhadap minat penonton untuk memasak. Populasidalam penelitian ini adalah remaja perempuan dan ibu rumah tangga di kota Semarang yangmeyaksikan program memasak di televisi. Sedangkan jumlah sampel penelitian yang diambiladalah 50 orang remaja perempuan dan ibu rumah tangga yang menyaksikan programmemasak di televisi di kota Semarang. Karena jumlah penonton program memasak di televisitidak diketahui, maka peneliti menggunakan teknik sampling kebetulan (accidentalsampling). Teknik ini memilih siapa saja yang kebetulan dijumpai untuk dijadikan sampeldengan kriteria tertentu.Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisiskoefisien korelasi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS(Statistical Product and Service Solution) versi 17.0.Berdasarkan perhitungan, diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,064 denganprobabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,629. Oleh karena sig sebesar 0,629 > 0,05 yang berartihubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan. Maka hipotesis penelitian yangmenyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitas menonton program memasakdi televisi dengan minat penonton untuk memasak, tidak diterima. Hal ini bisa dijelaskandengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasimassa (the individual differences theory of mass communication effect), dimana menurutteori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannyamaupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasimassa juga berbeda (Liliweri, 1991:106).Teori di atas sesuai dengan hasil pencarian dan pengolahan data yang menunjukkanbahwa meskipun intensitas menonton program memasak berbeda-beda (banyak ataupunsedikit), akan tetapi itu juga tidak serta merta merubah minat penonton untuk memasak.Berdasarkan data uji hipotesis di atas, diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,025dengan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862. Oleh karena sig sebesar 0,862 > 0,05 yangberarti hubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan. Maka, hipotesis penelitian yangmenyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi chef presenter dalamprogram memasak dengan minat penonton untuk memasak, tidak diterima. Hal tersebut dapatdijelaskan dengan pendapat Gordon (dalam Mulyasa, 2004:77) mengenai beberapa ranahyang terkandung dalam dalam konsep kompetensi, yaitu :- Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.- Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimilikioleh individu.- Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukantugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.- Sikap (attitude) yaitu reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar(senang atau tidak senang, suka atau tidak suka).- Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatuperbuatan. Minat yang timbul akan berbeda pada setiap individunya.Kompetensi chef presenter juga akan menghasilkan minat memasak yang berbeda-bedakepada setiap responden (berminat atau tidak berminat). Misalnya kompetensi chef presenteryang tinggi, tidak disertai dengan minat penonton untuk memasak. Kemungkinan inidisebabkan karena tingginya tingkat kesulitan masakan yang dipraktekkan oleh chefpresenter, sehingga penonton tidak berminat untuk memasak.Berdasarkan hasil perhitungan memperlihatkan bahwa koefisien konkordansi (W)sebesar 0,691. Setelah dilakukan transformasi harga W ke dalam rumus chi kuadrat,diperoleh harga chi kuadrat 69,136 dengan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000. Olehkarena sig sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa harga variabel tersebut memilikihubungan yang signifikan, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.Dengan demikian maka secara statistik, hipotesis yang menyatakan “terdapat hubunganantara intensitas menonton program memasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenterdalam program memasak (X2) terhadap minat penonton untuk memasak” diterima.PENUTUPFungsi media massa adalah memberi informasi, mendidik dan menghibur. Melaluibanyaknya program memasak yang muncul di televisi, mampu memenuhi syarat dari ketigafungsi tersebut. Melalui program memasak, khalayak mendapatkan banyak informasi dalambidang memasak, mulai dari nama berbagai masakan (baik dari dalam maupun luar negeri)hingga istilah dalam bidang memasak. Selain itu, program memasak juga mendidikkhalayaknya dengan cara menyajikan proses pengolahan bahan makanan suatu masakan.Dalam beberapa program memasak, chef presenter dalam mempresentasikan masakannyadiawali dengan kegiatan travelling terlebih dahulu, sehingga dapat menghibur pemirsanya.5.1. KesimpulanBerdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapakesimpulan sebagai berikut:1. Intensitas menonton program memasak di televisi tidak berhubungan dengan minatpenonton untuk memasak. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui ujistatistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,629 dan koefisienkorelasi sebesar -0,064.2. Kompetensi chef presenter dalam program memasak tidak berhubungan dengan minatpenonton untuk memasak . Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui ujistatistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862 dan koefisienkorelasi sebesar -0,025.3. Intensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chef presenterdalam program memasak berhubungan dengan minat penonton untuk memasak. Halini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperolehprobabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000.5.2. SaranBerikut merupakan saran yang dapat diajukan berdasarkan penelitian yang telahdilakukan:1. Program memasak memiliki peran yang penting dalam memenuhi kebutuhankhalayak akan informasi dalam bidang memasak serta menjadi sarana khalayakuntuk belajar. Maka dari itu, diharapkan program memasak dapat disajikandengan format yang lebih bervariasi, sehingga penonton akan lebih tertarik untukmenyaksikannnya. Misalnya dengan menghadirkan bintang tamu yang sedangnaik daun.2. Chef presenter dalam program memasak juga harus terus meningkatkankompetensinya dengan menyajikan lebih banyak lagi inovasi masakan yangbahannya mudah untuk didapatkan dan informasi dalam bidang memasak.Misalnya dengan mengkombinasikan masakan Indonesia dengan masakan Italia.DAFTAR PUSTAKAAgung, Lilik. 2007. Human Capital Competencies. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi AksaraBungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta : Kencana Predana MediaGroup.DeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia : Kuliah Dasar (Edisi Kelima).HarperCollin Publishers Inc.Effendi, Onong U. 1997. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakarya.Effendy, Onong U. 1986. Dimensi-dimensi Komunikasi. Bandung : Kotak Pos 272.Eriyanto. 2007. Teknik Sampling : Analisis Opini Publik. Yogyakarta : PT.LKiS PelangiAksara.Griffin, Em. 1991. A First Look at Communication Theory. New York : McGraw-HillHurlock, Elizabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.Irwanto. 2002. Psikologi umum. Jakarta : PT. Prenhallindo.Janawi. 2011. Kompetensi Guru : Citra Guru Profesional. Bandung : Alfabeta.Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa : Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta : PT.Rineka Cipta.Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa : Analisis Interaktif Budaya Massa. Jakarta :Rineka Cipta.Liliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra AdityaBaktiLittle john, Stephen W & Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi (Theories of HumanCommunication) edisi 9. Jakarta : Salemba Humanika.Marchfoedz, Ircham. 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Tramaya.Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Remaja RosdakaryaNasution, S. 2009. Metode Research : Penelitian Ilmiah. Jakarta : PT. Bumi Aksara.Noor, Henry Faizal. 2010. Ekonomi Media. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Ruslan, Rosady. 2004. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.Samovar, Larry. A, Richard E. Porter, Edwin R. Mc Daniel. 2010. Komunikasi Lintas Budaya(Edisi 7). Jakarta : Salemba Humanika.Singarimbun, Masri. 1995. Metodologi Penelitian Survai. Jakarta : PT.Pustaka LP3ES.Subroto, Darwanto Sastro. 1992. Televisi Sebagai Pendidikan.Yogyakarta: Duta WacanaUniversity Press.Sumanto, Wasty.1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bina AksaraSuparno, Suhaenah. 2001. Membangun Kompetensi. JakartaSupranto, J. 2000. Teknik Sampling. Jakarta : PT. Rineksa Cipta.Surakhmah, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo PersadaTubbs, Stewart L dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication : Konteks-KonteksKomunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Wibowo, Fred. 2007. Teknik Produksi Program Televisi. Yogyakarta : Pinus BooksPublisher.Winarni. 2003. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Malang : UMM Press.Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Presentasi Pustaka.Internet :Dini. (2011). Jangan Ragu Memilih Profesi “Chef”. Dalamhttp://female.kompas.com/read/2011/05/30/15160929/Profesi.Chef.Semakin.Dicari.Diunduh pada 5 Oktober pukul 21.35 WIBFuadi. (2011) Remaja dan Bisnis Kuliner. Dalamhttp://crazystress.blogspot.com/2009/12/remaja-dan-bisnis-kuliner.html. Diunduhpada 7 Februari pukul 20.15 WIBGembur, S. Teguh. (2013). Rennee Sang Chef Profesional. Dalamhttp://peacockbistro.blogspot.com/2013/03/rennee-sang-chef-profesional.html?m=1.Diunduh pada 2 April pukul 17.00 WIBJika Wanita Tak Bisa Memasak. (2010). Dalamhttp://cleoditra.student.fkip.uns.ac.id/2010/07/17/jika-wanita-tak-bisa-memasak/.Diunduh pada 2 April pukul 17.25 WIBUlfah, Nurul. (2009). Susahnya Memasak si Wanita Karir. Dalamhttp://health.detik.com/read/2009/09/11/073444/1201160/764/susahnya-memasaksi-wanita-karir. Diunduh pada 7 Februari pukul 20.03 WIBFauziyyah, Alfi Muhimmatul. (2011). Emansipasi Tanpa Menyalahi Kodrat. Dalamhttp://kampus.okezone.com/read/2011/12/22/367/545767/redirect. Diunduh pada 15Februari pukul 06.30 WIBKurniasari, Triwik. (2009). Barra Pattiradjawane. Dalamhttp://id.wikipedia.org/wiki/Bara_Pattiradjawane. Diunduh pada 27 April pukul17.14 WIB6 Chef Tercantik di Indonesia. (2011). Dalam http://coba-liat.blogspot.com/2012/09/6-cheftercantik-di-indonesia.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.14 WIBJaya, Dudi. (2011). Dalam http://dudijaya.blogspot.com/2011/07/profil-biodata-chefjuna.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.30 WIBJaya, Dudi. (2011). Dalam http://dudijaya.blogspot.com/2011/06/profil-biodata-chefmarinka.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.32 WIBNew Culinary December. (2011). Dalam http://www.indomarketplace.com/topic/497.Diunduh pada 27 April pukul 18.00 WIBProfil Rudy Choirudin. (2012). Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rudy_Choirudin. Diunduhpada 27 April pukul 18.11 WIBZR, Yeni. (2013). Dalamhttp://contactpersonchefbillydancorrypamela.blogspot.com/2013/02/profile-chefbilly-kalangi.html. Diunduh pada 27 April 18.30 WIBMengenal Chef Muto. (2013). Dalam http://infotegal.com/2013/02/mengenal-chef-muto/.Diunduh pada 27 April 19.15 WIBSkripsi :Arleen, Ariesyani. (2011). Dampak Tayangan Program Acara Masterchef US di ChannelStarworld Terhadap Minat Memasak (Studi Pada Mahasiswa Jurusan HotelManagement Binus University).Skripsi, Bina Nusantara.Sari, Diah Arum. (2005). Hubungan Antara Motivasi Anak dalam Mengikuti Lomba danKebutuhan Anak untuk Mengembangkan Bakat dengan Intensitas MenontonProgram Talent Show di Televisi. Skripsi. Universitas Diponegoro.Al-Hayuantana, Bayu Vita. (2002). Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Katakan Cintadi RCTI dan Interaksi dengan Teman Sebaya dengan Perilaku Imitasi dalamMengungkapkan Cinta. Skripsi. Universitas Diponegoro

Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan Perilaku Berpakaian Remaja

Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea diTelevisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea diTelevisi dengan Perilaku Berpakaian RemajaPENDAHULUANPersaingan media televisi saat ini semakin gencar dan jumlah stasiun televisi semakinbertambah seiring dengan perkembangan jaman. Stasiun televisi di tanah air bermunculanmulai dari hanya satu stasiun televisi, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) sampaimuncul stasiun televisi baru yang mengudara secara nasional dan berkantor di IbukotaJakarta. Stasiun televisi tersebut antara lain Rajawali Citra Televisi (RCTI), Surya CitraTelevisi (SCTV), Media Nusantara Citra (MNC TV), Andalas Televisi (ANTV), Indosiar,Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV), TRANS 7, METRO TV, TV ONE, danGLOBAL TV.Belakangan ini, musik, drama, serta budaya Korea sedang merebak di beberapanegara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, musik maupun dramaseri Korea menjadi sesuatu yang sangat digemari di Indonesia saat ini. Bahkan sakingantusiasnya banyak yang mencari dan mempelajari hal-hal yang berbau Korea. Fenomenamenyebarluasnya drama, musik, serta budaya Korea secara global ini disebut Koreanwave atau dalam bahasa Korea disebut Hallyu.Fenomena Hallyu melalui drama seri Korea sedang menjadi tren di stasiun televisiswasta Indonesia. Beberapa stasiun televisi swasta tanah air kini tengah gencar bahkanbersaing menayangkan drama seri Korea. Drama seri Korea datang membawa tontonanringan dengan berbagai konflik di dalamnya, yang dibungkus sedemikian rupa sehinggamenarik untuk ditonton. Tentu drama Korea ini segera digandrungi masyarakat yangmemang menginginkan sesuatu yang baru. Dan memang kenyataannya, masyarakatsangat antusias menonton drama seri Korea. Selain itu episode-nya juga tidak sepanjangsinetron Indonesia, hanya sekitar 16 hingga 25 episode saja. Masyarakat yang tengahjenuh dengan tayangan sinetron-sinetron Indonesia langsung menyambut baik masuknyadrama seri Korea di Indonesia. Keberhasilan drama seri Korea mengambil hatimasyarakat Indonesia terbukti dengan tingginya minat penonton terhadap drama seriKorea yang pertama kali ditayangkan saat itu, yaitu Endless love. Berdasarkan survey ACNielsen Indonesia, serial Endless Love ratingnya mencapai 10 (ditonton sekitar 2,8 jutapemirsa di lima kota besar), mendekati Meteor Garden dengan rating 11 (sekitar 3,08 jutapemirsa). (http://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi).Dalam menggunakan media massa, manusia didorong oleh beraneka ragam motif.Motif merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan,mengarahkan, dan mengorganisasi tingkah laku (perilaku). Motif yang mendorongkonsumsi media pada setiap orang berbeda. Dorongan kebutuhan yang berbeda akanmembuat orang memiliki motif yang berbeda pula dalam menggunakan televisi.(Rakhmat, 2006:216). Motif yang berbeda tersebut akan menimbulkan efek yangberlainan pada setiap orang.Drama seri Korea yang masuk ke Indonesia tidak hanya sekedar tontonan di waktuistirahat, namun drama Korea juga telah memberikan pengaruh di Indonesia. Begitubooming-nya drama seri Korea di tanah air, tidak heran jika pada saat ini banyak remajayang mulai terpengaruh dengan budaya-budaya Korea, terutama dari segi mode ataufashion. Dalam drama seri Korea sering menonjolkan mode-mode yang sedang populer diKorea. Penampilan para artis dalam drama seri Korea selalu didukung dengan gayaberbusana yang “Korea banget”, mulai dari model rambut, warna rambut, caraberpakaian, tas, sepatu, aksesoris yang dikenakan, dan masih banyak lagi. Mode alaKorea kerap disebut dengan Korean Style.Pada akhirnya masalah mode merupakan hal yang menarik untuk dibicarakankhususnya di kalangan remaja yang memiliki kedinamisan dalam mengikutiperkembangan berbagai mode yang sedang menjadi trend karena ingin tampil menarik,menambah percaya diri, dapat diterima dilingkungannya, dan supaya tidak dikatakanketinggalan jaman. Intensitas menonton drama seri Korea tersebut akan tetap berlangsungselama ada motif yang mendorongnya dan remaja mempunyai harapan akan memperolehsuatu keuntungan dari kegiatan menonton acara tersebut. Motif remaja menontontayangan drama seri Korea bisa dilihat dari motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integrasi dan interaksi sosial, serta hiburan.Melalui televisi, remaja terinspirasi oleh perilaku idola mereka. Tahapan ini dimulaidari melihat gaya berpakaian atau tingkah laku yang diperbuat oleh seorang tokoh ditelevisi, kemudian para remaja berusaha mengadaptasi gaya berpakaian para artisidolanya dengan harapan penampilannya menjadi seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi. Berdasarkan hal tersebut, lantas apakah adahubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja ?ISIMunculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatuperadaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa.Proses komunikasi massa tersebut dikatakan efektif apabila menghasilkan pengaruhkepada khalayaknya. Pengertian pengaruh itu sendiri adalah perbedaan antara apa yangdipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sesudah menerima pesan. Bersamaandengan jalannya proses penyampaian isi pesan media massa kepada pemirsa, maka isipesan akan diinterpretasikan secara berbeda–beda oleh pemirsa, serta efek yangditimbulkan juga beraneka ragam. (Bungin, 2008:72).Menurut Powerfull Effect Theory, dimana didasarkan pada asumsi Walter Lippman(dalam Vivian, 2008:465), bahwa gambaran realita dibentuk dengan sangat kuat olehmedia massa. Powerfull Effect Theory juga menjelaskan tentang media massamempunyai pengaruh langsung dan mendalam terhadap seseorang. Pada konsep HaroldLasswell yang terkenal “who says what in which channel to whom with what effect,”pada titik yang ekstrem teori ini mengasumsikan bahwa media dapat menyuntikkaninformasi, ide, dan bahkan propaganda kepada publik. Water Lippman mengatakanbahwa “gambaran” tentang dunia di benak kita yang tidak kita alami secara personaldibentuk oleh media massa, sehingga khalayak pun akan menerima pemuasan yangberagam dari media. Kepuasan yang berbeda-beda, juga akan menghasilkan efek yangberbeda pula.Dengan demikian, kegiatan menonton televisi dapat memberikan pengaruh tetapi haltersebut tergantung dengan tingkat intensitasnya. Diungkapkan oleh Burhan Bungin(2001:125-126), bahwa intensitas atau frekuensi remaja dalam menonton televisi dapatmempengaruhi besarnya pengaruh televisi terhadap perilaku remaja. Semakin tinggiintensitas menonton televisi maka semakin cepat dan besar pula pengaruhnya terhadapperilaku remaja. Begitu pula dengan keadaan sebaliknya, semakin rendah intensitasmenonton televisi maka semakin rendah pula pengaruhnya terhadap perilaku remajatersebut.Dalam kaitannya dengan menonton televisi, para remaja memiliki motif yangberagam. Motif-motif tersebut adalah motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integritas dan interaksi sosial, serta hiburan. Motif merupakan salah satuindikator yang dapat mempengaruhi perilaku individu dalam menonton televisi.Woodhworth (dalam Petri, 135:1981) mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karenaadanya motif atau dorongan yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengankepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Karena tanpa dorongan tersebut tidak akanada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnyaperilaku.Pandangan lain dikemukakan oleh Hull (dalam As’ad, 140:1995) yang menegaskanbahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motif atau dorongan oleh kepentinganmengadakan pemenuhan atau pemuasan terhadap kebutuhan yang ada pada diri individu.Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak semata-mata karena dorongan yangbermula dari kebutuhan individu saja, tetapi juga adanya faktor belajar.Hal ini dapat diperkuat dengan penjelasan dari Teori Pembelajaran Sosial.Berdasarkan hasil penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa mereka meniruapa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses observational learning(pembelajaran hasil pengamatan) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individuindividulain yang menjadi model. Titik mula dari proses belajar sosial adalah peristiwayang bisa diamati, baik langsung maupun tidak langsung oleh seseorang. Peristiwatersebut mungkin terjadi pada kegiatan orang sehari–hari, dapat pula disajikan secaralangsung oleh televisi, buku, film dan media massa lain. (Liliweri, 1991:174).Adapun yang penting dari teori Bandura, bahwa proses belajar mengikuti sesuatudimulai dari tahap; (1) proses memperhatikan; (2) proses mengingatkan kembali; (3)proses gerakan untuk menciptakan kembali; dan (4) proses mengarahkan gerakan sesuaidengan dorongan. (Liliweri, 1991:179). Jelasnya bahwa remaja masih suka mencaritokoh atau model untuk dijadikan panutan dalam berperilaku maupun berpenampilan,maka seringkali remaja akan memperhatikan dan mengingat perilaku model yangdilihatnya di televisi. Sering adegan-adegan dalam drama yang dilihat, atau perilakuyang digambarkan dapat menarik perhatian, sehingga dari ucapan, gerakan, bahkan jugapakaian yang dikenakan oleh sang tokoh akan diamatinya dan kemudian dapat sajamereka gunakan pada penampilan diri mereka.Monks (1969:109) menyatakan bahwa suatu tindakan atau tingkah laku dapatdipelajari melalui melihat saja. Melalui televisi remaja dapat melihat peristiwa, perilaku,dan segala sesuatu yang baru yang pada akhirnya diikuti oleh khalayak dan menjadi trendi kalangan masyarakat. Berkaitan dengan penelitian ini maka perilaku yang munculadalah gaya berpakaian yang dilakukan oleh remaja. Remaja berpenampilan mengikutitrend yang ada, mulai dari model rambut, pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya.Jelasnya, bahwa remaja akan terinspirasi dengan apa yang dilihat dan ditawarkan olehmedia, dalam hal ini termasuk bagaimana perilaku berpakaian remaja.Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi (X1) dengan perilaku berpakaian remaja (Y), maka dilakukan pengujianstatistik melalui analisis korelasi Rank Kendall. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitasmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remajadapat diterima. Hal ini menjelaskan tingginya intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Dengan menggabungkan unsur hiburan dan informasi drama seri Korea yangditayangkan di televisi secara tidak langsung telah menyajikan berbagai referensimengenai mode ala Korea yang sedang menjadi kecenderungan atau trend. Respondenyang menonton tayangan drama seri Korea dengan intensitas menonton yang tinggitermasuk dalam kelompok heavy viewers dimana mereka melihat gagasan mengenaimode tersebut sebagai realitas, sehingga akan lebih mudah terpengaruh dan berperilakuseperti apa yang ditampilkan dalam drama seri tersebut.Sementara responden yang menonton drama seri Korea dengan intensitas menontonyang rendah termasuk dalam kelompok light viewers, dimana mereka hanya memandangdrama seri Korea sebagai sebuah tayangan, tanpa melihatnya sebagai realitas, sehinggapengaruh yang diterima pada kelompok ini tidak sebesar kelompok heavy viewers.Perbedaan diantara keduanya terdapat dalam konsep mainstreaming (mengikuti arus)pada kelompok heavy viewers.Hubungan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X2) denganperilaku berpakaian remaja (Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistikdengan menggunakan uji formula Chi Square Test. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dapatditerima. Hal ini menjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Responden yang tertarik dengan mode ala Korea dapat mengikuti perkembanganmode tersebut melalui tayangan drama seri Korea di televisi. Para remaja memilikikecenderungan ingin mengikuti terus perkembangan mode yang sedang menjadi trendagar dapat tampil stylish dan modis. Motif identitas pribadi dalam menonton tayangandrama seri Korea di televisi dapat mengarahkan remaja untuk berperilaku modis,sehingga ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akanmempengaruhi perilaku berpakaian modis pada remaja.Hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X1) dan motifmenonton tayangan drama seri Korea (X2) di televisi dengan perilaku berpakaian remaja(Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistik melalui analisis korelasikonkordansi Rank Kendall.Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi konkordansi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01 maka hubungan dinyatakansangat signifikan. Serta hasil uji dengan Chi Square Test didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01.Dengan demikian dapat dinyatakan Ha diterima dan Ho ditolak. Maka hasil pengujiantersebut menunjukkan bahwa variabel bebas (intensitas menonton tayangan drama seriKorea dan motif menonton tayangan drama seri Korea) secara bersama-sama memilikihubungan yang sangat signifikan dengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja).Hal ini berarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea dan motif menonton tayangandrama seri Korea) mempunyai hubungan dengan variabel terikat (perilaku berpakaianremaja), sehingga tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhiperilaku berpakaian modis pada remaja.PENUTUPPenelitian tentang hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi DENGANperilaku berpakaian pada remaja, dilakukan terhadap para remaja putri di Semarangyang berusia 17-20 tahun yang pernah menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi selama tiga bulan terakhir ini.Metode penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara nonrandom sampling, dengan pertimbangan jumlah populasi dalam penelitian ini tidakdapat diketahui secara pasti. Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupakuesioner. Teknik pengumpulan data berupa penyebaran Angket dan dengan bantuanpanduan observasi berupa checklist (daftar cocok) yang digunakan untuk mengamativariabel perilaku berpakaian pada remaja.Alat yang digunakan untuk menganalisa data kuantitatif yang telah didapatadalah dengan statistika, untuk kemudian dideskripsikan menggunakan corelasi untukmenguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaianpada remaja. Adapun kesimpulan dan saran yang dapat penulis berikan adalah sebagaiberikut:5.1. Kesimpulan1. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea dengan variabel perilaku berpakaian remaja. Halini berdasarkan nilai koefisiensi korelasi sebesar 0,540 dan nilai signifikansisebesar 0,000. Dengan demikian, tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi mendorong remaja melihat gagasan yang disajikandalam tayangan tersebut sebagai realitas dan berperilaku seperti apa yangditampilkan dalam tayangan tersebut. Semakin tinggi intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi maka akan semakin modis pula perilakuberpakaian pada remaja.2. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel motif menontontayangan drama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaianremaja. Hal ini didapatkan dari hasil X2 hitung sebesar 31,222 dengan df = 6,dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta hasil uji korelasi ContingencyCoefficient (C) sebesar 0,620 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal tersebutmenjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisiakan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.3. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan variabel motif menonton tayangandrama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaian remaja.Berdasarkan hasil uji korelasi diperoleh informasi nilai koefisiensi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal iniberarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi) mempunyai hubungandengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja), sehingga tingginyaintensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan ragam motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhi perilakuberpakaian modis pada remaja.4. Pada penelitian ini penonton tayangan drama seri Korea di televisi denganpersentase terbanyak adalah remaja putri yang berada pada kisaran usia 20tahun sebanyak 36%, sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan persentaseterbanyak adalah para remaja putri yang duduk di bangku perkuliahan atauperguruan tinggi sebanyak 80%.5.2. Saran1. Berdasarkan kesimpulan di atas maka tayangan drama seri Korea di televisisebetulnya mampu membantu remaja untuk memberikan inspirasi dalampencarian model bagi remaja, yang berkaitan dengan gaya berpakaian ataupenampilan melalui “sosok” artis yang menjadi pemeran dalam tayangandrama seri Korea di televisi. Namun audiens juga diharapkan mampumemfilter dengan bijak informasi yang terkandung dalam tayangan tersebutdan bersikap selektif terhadap tayangan – tayangan yang mereka konsumsi,agar dapat membedakan antara realitas media dengan realitas sosial, sehinggatidak serta merta mengikuti segala sesuatu yang ada dalam tayangan tersebut.2. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan perilaku berpakaian remajahendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yang bisamenjadi penyebab terjadinya perilaku tersebut, di luar intensitas menonton danmotif menonton, misalnya tingkat pendidikan, status sosial, atau interaksi peergroup. Disamping itu, penelitian juga dapat dilakukan dengan menggunakanteknik pengambilan sampel yang berbeda pula.DAFTAR PUSTAKABUKUArdianto, Elvinaro dan Erdinaya, Liluati Komala. 2004. Komunikasi Massa SuatuPengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.As’ad, M. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Dep.Dik.Bud Direktoral JendralPendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Dan Lembaga Tenaga.Bungin, Burhan. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Bungin, Burhan. 2001. Erotika Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Barnard, Malcomm. 2007. Fashion dan Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Cangara, Hafied. 1998. Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta. Raja grafindo persada.Effendi, Onong. U. 1993. TV Siaran Teori dan Praktek. Bandung: Mandar Maju.Effendy, Onong. U. 2003. Ilmu komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.RemajaRosdakarya.Gerungan ,W.A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.Kaunang, Claudia. 2010. Keliling Korea dalam 9 Hari. Yogyakarta: B – Fierst.Khadijah, Nyanyu. 2006. Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi.Jakarta: Rhineka Cipta.Liliweri, Alo. 1997. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat.Bandung: Citra Aditya Bakti.McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta:Erlangga.Monks, F. J, dkk. 1982. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah MadaUniversity Press.Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Nuruddin. 2000. Sistem Komunikasi Indonesia. Malang: BIGRAFF publishing.Petri, H.L. 1981. Motivation Theory and Research. Belmont, California: WadsworthPublishing Company.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmawati, Dede. 2011. Jago Berbahasa Korea dalam 1 Hari. Jakarta: GudangIlmu.Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.Singarimbun Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian dan Survey. Jakarta:LP3ES.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Prenada Media:Jakarta.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT Grasindo.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo.INTERNEThttp://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi.www.geocities.com/dramakorean.http://www.facebook.com/pages/PENYUKA-DRAMA-KOREA/.http://tvguide.co.id/mobile-new//home.http://www.facebook.com/koreanbutik.shopiing/,http://www.facebook.com/ballegirls.shop.http://www.facebook.com/tomoya.koreanbutik.http://id.wikipedia.org/wiki/Drama_Korea.id.wikipedia.org/wiki/Hallyu.www.koreanstylefashion.com/.http://www.saranghaeyo.biz.www.saranghaeyo.biz › fashion › lifestyle.ABSTRAKJudul : Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi danMotif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan PerilakuBerpakaian RemajaMode ala Korea yang masuk dan berkembang di Indonesia melalui tayangandrama seri Korea pada tahun 2002, banyak digemari dan diterapkan oleh remaja. Pararemaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populeragar tampil modis. Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yangditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya, yaitu berupa pakaian yang dikenakan olehseorang model, serta aksesoris-aksesoris lainnya yang dapat memperbaiki penampilandirinya. Perilaku berpakaian modis pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibatdari beberapa faktor, antara lain intensitas menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Koreadi televisi dengan perilaku berpakaian remaja. Peneliti menggunakan Teori PowerfullEffect dan didukung oleh Teori Pembelajaran Sosial dari Bandura. Responden padapenelitian ini berasal dari kalangan remaja putri di Kota Semarang yang berumur 17hingga 20 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimanapengambilan sampel dilakukan dengan metoden non random, serta accidental sampeluntuk teknik pengambilan sampel.Untuk menguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dan hubungan antara motifmenonton tayangan drama seri Korea dengan perilaku berpakaian remaja, makadigunakan uji analisis Koefisiensi Korelasi Rank Kendall, dan uji formula denganChi-Square, sedangkan untuk menguji korelasi antara dua variabel bebas dengan satuvariabel terikat, digunakan uji analisis Korelasi Konkordasi Rank Kendall (Kendall’sW Test).Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi akan diikuti pula dengan perilaku berpakaian yang modispada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton yang tinggiakan lebih mudah terpengaruh dan berperilaku seperti apa yang ditampilkan dalamtayangan tersebut. Selain itu, ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi akan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Motif tersebut dapat mengarahkan remaja untuk mengetahui penampilan atau modeala Korea yang sedang menjadi kecenderungan (trend), mendapat kepuasan denganmelihat penampilan bintang idolanya, serta menemukan sosok model yang bisadijadikan inspirasi dan pedoman dalam bergaya seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi.Kata kunci: Drama Seri Korea, Perilaku berpakaian, Korelasi.ABSTRACTTitle: The Relationship of The Intensity of Watching Korean Drama Series onTelevision and Motives Watching Korean Drama Series on Television withTeens Dressed Behavior.Korean fashion style in and growing in Indonesia through Korean dramaseries in 2002, much-loved and adopted by teenagers. The teens tend to want toalways continue to follow the development of fashion that is popular in order to lookfashionable and stylish. This is done because the teen wanted to like what is shown bythe figures he saw, in the form of clothing worn by a model, as well as otheraccessories that can improve the appearance of her day-to-day. Fashionable dress onteen behavior is alleged to be the result of several factors, including the intensity ofwatching a Korean drama series on television and motives watching Korean dramaseries on television.This study aims to determine the relationship of the intensity of watching aKorean drama series on television and motives watching Korean drama series ontelevision with the behavior of teenagers dressed. Researchers used a Powerful EffectTheory and supported by Banduras Social Learning Theory. Respondents in thisstudy come from the young women in the city of Semarang ever watch a Koreandrama series over the past three months and aged 17 to 20 years. The study samplesize of 50 people where the sampling is done with non-random methode, withconsideration has’t complete information on population size, as well as samples foraccidental sampling technique.To examine the relationship between the variable of intensity of watching aKorean drama series on television with a teenager dressed behavioral variables andrelationships between variables of motives watching Korean drama series with thevariable of behavior of teenagers dressed, then used the test Kendall RankCorrelation Coefficient analysis, and testing with Chi-Square formula, while for thetest and explain the correlation between the two independent variables with thedependent variable, used test correlation analysis Konkordasi Rank Kendall(Kendalls W Test).Based on the results of the study, the high intensity of watching a Koreandrama series on television will be followed by a fashionable dressing behavior inadolescents. This is because respondents with a high intensity watch will be easilydistracted and behave like what is shown in the display. In addition, the variety ofmotives watching Korean drama series on television will be followed by a fashionabledressed behavior among adolescents. The motive may lead adolescents to determinethe appearance or Korean-style fashion is a trend, the satisfaction and pleasure to seehis idol star appearance, as well as to discover the figure of a model that could beused as inspiration and guidance in the style of artists like appearance in the dramashow Korea in the television series.Keywords: Korean Drama Series, Behavior of dressed, Correlation.

PEMAKNAAN TREN FASHION BERJILBAB ALA HIJABERS OLEH WANITA MUSLIMAH BERJILBAB

Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKNama : Taruna BudionoNIM : 14030110151025Judul : Pemaknaan Tren Fashion Berjilbab Ala Hijabers Oleh WanitaMuslimah BerjilbabMengkomunikasikan identitas diri menggunakan medium fashion adalah hal umum yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satu pilihan fashion tersebut adalah jilbab. Tren fashion berjilbab belakangan ini sedang marak di Indonesia. Para wanita muslim khususnya yang tinggal di kota-kota besar banyak yang mengikuti tren fashion ini. Jilbab yang mereka pakai banyak dipengaruhi oleh kehadiran komunitas wanita berjilbab seperti hijabers community, serta beberapa figur publik yang juga memakai jilbab.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini memberikan gambaran tentang fenomena tren fashion berjilbab di kalangan wanita muda dan pemaknaan jilbab yang dipakai oleh para mereka. Penelitian ini mengacu pada konsep fashion sebagai komunikasi, sebagaimana dikatakan oleh Fiske bahwa fashion atau pakaian menjadi medium yang digunakan seseorang untuk menyatakan sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berguna untuk medium penyampaian pesan-pesan para pemakainya kepada orang lain. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat orang informan yakni para wanita muda yang memakai jilbab ala hijabers/modifikasi yang tinggal di kota Semarang.Hasil temuan penelitian menggambarkan Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, menunjukkan identitas diri, dan sebagai media ekspresi diri. Pesan utama yang ingin dinyatakan oleh para wanita berjilbab ini adalah bahwa selain melaksanakan perintah agama, mereka juga bisa tampil modis dan fashionable, serta tetap aktif dengan berbagai macam kegiatan tanpa terganggu jilbab yang mereka pakai. Lebih lanjut, media massa yang dijadikan rujukan oleh para wanita berjilbab adalah media internet, dimana kemudahan akses menjadi daya tariknya.Kata kunci: jilbab; tren fashion; identitas diriABSTRACTName : Taruna BudionoNIM : 14030110151025Title : Interpreting Hijabers Veiling Fashion Trends By Veiled MuslimWomenCommunicating identity through fashion are common things, one is the hijab. Veiled fashion trend lately emerging in Indonesia. Many muslim women especially those who lives in big cities follow the fashion trend. Veil they wear affected a lot by the presence of veiled women communities such as hijabers community, as well as some public figures who also wears the hijab.This study is a qualitative research with phenomenological approach. This study provides an overview of veiled fashion trends phenomenon among young women and the meaning of the veil they worn. This study refers to the concept of fashion as communication, as stated by Fiske that fashion or clothing become medium that used to express something to others (Fiske in Barnard, 2011: 41). Hijab as part of fashion also useful as medium to conveying messages to others. Data were obtained through in-depth interviews of four informants that is young women who wear the hijabers/modification hijab style that living in Semarang.This research describes the hijab worn by muslim women used to convey certain messages, show identity, and as a medium of self-expression. The main message expressed by the veiled women is that in addition to carrying out the religious orders, they can also look fashionable, and stay active with a variety of activities without being bothered by their hijab. Furthermore, the mass media are used as a reference by the veiled woman is the internet, where the ease of access become its appeal.Keywords: veil; fashion trends; personal identityPendahuluan Mengkomunikasikan identitas diri menggunakan medium fashion adalah hal umum yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satu pilihan fashion tersebut adalah jilbab. Penutup kepala ini telah berkembang menjadi satu identitas sosial bagi pemakainya. Jilbab sekarang ini memiliki banyak varian corak dan model. Tren fashion berjilbab di Indonesia mungkin telah dimulai sejak beberapa artis ibukota memilih untuk memakai jilbab sebagai pakaian sehari-hari mereka. Ada beberapa artis populer yang dulunya tidak berjilbab sekarang memakai jilbab sebagai busana sehari-hari, mereka memakai jilbab sebagai bentuk penghayatan dan kesadaran mereka untuk memenuhi kewajiban agama untuk menutup aurat, mereka antara lain adalah: Nuri Maulida, Marshanda, Puput Melati, Rachel Maryam, Desi Ratnasari, Risty Tagor, Zaskia Sungkar. (http://jogja.tribunnews.com/2012/07/20/7-artis-yang-kini-berjilbab). Namun merebaknya penggunaan jilbab sebagai fashion di kalangan anak muda nampaknya lebih dipengaruhi oleh kemunculan sosok Dian Pelangi dan Hijabers Community. Dian Pelangi adalah desainer muda Indonesia, yang debutnya di dunia mode telah dimulai sejak umurnya 19 tahun pada gelaran Jakarta Fashion Week 2009. Pada ajang tahunan tersebut Dian Pelangi mampu mencuri perhatian dengan rancangan busana muslim modern yang ditampilkannya. Selain itu ia adalah pendiri Hijabers Community yaitu komunitas yang berisi anak-anak muda berjilbab yang tampil modis dan gaya yang diresmikan pada tanggal 27 November 2010 di Jakarta. (http://www.tabloidbintang.com/hobi/56493-hijabers-community-bermula-dari-acara-buka-puasa-di-mal.html) Hijabers Community sendiri mempunyai suatu misi untuk memperkenalkan jilbab/kerudung yang modis kepada anak-anak muda, dan ingin mengikis anggapan bahwa para pemakai jilbab adalah orang yang kuno. Meningkatnya jumlah wanita muslimah yang memakai jilbab ini juga tidak lepas dari banyaknya event yang dilaksanakan oleh hijabers community untuk mengenalkan jilbab trendy kepada masyarakat. Salah satu event yang seringdigelar oleh mereka adalah Hijab Class. Dalam acara Hijab Class ini para peserta diajarkan tentang bagaimana memakai jilbab yang modis dan trendi. Selain itu Hijabers Communnity juga memanfaatkan media jejaring sosial dalam setiap acara yang mereka buat, tercatat ada tiga media sosial yang digunakan Hijabers Community yaitu WebBlog, Facebook dan Twitter.Media massa tersebut memberi ide dan gagasan pada wanita muslimah untuk memakai jilbab seperti yang dikenakan oleh publik figur yang sering muncul di media massa. Hal ini dimungkinkan karena media massa memiliki kekuatan untuk mengonstruksikan realitas. Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Banyaknya wanita muslimah yang memakai jilbab tidak lantas membuat mereka terbebas dari cibiran dan pandangan negatif dari masyarakat. Para wanita muslimah yang memakai jilbab trendi dan modis ala hijabers kadangkala dianggap hanya mengikuti tren semata, ada juga yang beranggapan bahwa jilbab yang mereka pakai tidak sesuai syariah islam karena jilbab yang mereka pakai tidak memenuhi kaidah berjilbab yang benar. Pandangan-pandangan negatif tersebut bisa dilihat salah satunya dalam pemberitaan di media-media berbasis Islam seperti yang diberitakan oleh media online Dakwatuna berikut: Ketika kita berbicara tentang jilbab, maka kita berbicara tentang pakaian takwa. Pakaian yang diturunkan untuk muslimah, untuk menutup auratnya dan jelas disebutkan di Al-Qur’an. Baru-baru ini, paradigma manusia tentang jilbab semakin jauh dari kata “syar’i”, bagaimana tidak? Iklan-iklan jilbab yang “mengaku menjual jilbab syar’i” semakin membuat kening ini berkerut? Apakah memang seperti itu jilbab yang diperintahkan oleh Allah, atau kita selama ini telah tertipu? Jilbab syar’i dan modis, begitu tagline yang selama ini digembar-gemborkan oleh kalangan hijabers. (http://www.dakwatuna.com/2013/05/13/33127/jilbab-syari-jilbab-paling-modis-sepanjang-zaman/#ixzz2ZYcppqlC)Dalam kehidupan sehari-hari kata fashion lebih sering diartikan sebagai dandanan atau gaya dan busana, ada juga orang yang mengartikan fashion sebagai pakaian atau memakai pakaian (Barnard, 2011: 13). Fashion juga menjadi simbol kelas dan status sosial pemakainya, ia juga menjadi representasi sosial budaya yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal representasi sosial budaya, fashion kadang juga dikaitkan dengan simbol-simbol agama tertentu. Misalnya pemakaian kerudung/jilbab yang diidentikan dengan Islam, aksesoris-aksesoris berupa kalung berbentuk salib yang diidentikan dengan agama Kristen, dan masih banyak lagi. Malcolm Barnard dalam bukunya Fashion as Communication mengidentifikasi busana baku dengan antifashion, sedangkan busana modis dengan fashion (Barnard, 2011: 20). Apabila fashion dan antifashion dikaitkan dengan jilbab, maka jilbab sebagai busana sekarang ini bisa dikategorikan sebagai busana fashion. Jilbab sebagai busana yang antifashion sekarang ini sudah tidak ada lagi, karena sekarang telah banyak model-model jilbab yang dibuat mengikuti tren fashion yang sedang berkembang. Yang ada adalah jilbab yang fashionable dan jilbab yang tidak fashionable. Perkembangan jilbab tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan di mana jilbab itu dipakai, di Indonesia sendiri jilbab telah mengalami banyak perkembangan dari segi bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, maka bisa dirumuskan permasalahan “Bagaimana pengalaman dan pemaknaan wanita muslimah berjilbab dalam memakai jilbab ala hijabers”.IsiPenelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi adalah metode yang berusaha untuk memahami bagaimana seseorang mengalami dan memberi makna pada sebuah pengalaman (Kuswarno, 25: 2009). Fenomenologi sendiri bertujuan untuk memahami bagaimana pemahaman manusia dalam mengonstruksi makna dan konsep-konsep penting dalam kerangka intersubjektivitas.Sumber informasi dalam penelitian ini adalah empat wanita muslimah yang tinggal di kota Semarang yang memakai jilbab dengan ala hijabers untuk busana sehari-hari mereka. Mereka ditanya tentang fenomena semakin banyaknya wanita muslimah yang memakai jilbab ala hijabers, pengalaman mereka memakai jilbab ala hijabers, dan bagaimana mereka memberi makna terhadap tren fashion berjilbab ala hijabers.Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim dengan berbagai macam model dan bentuknya adalah upaya mereka untuk membentuk identitas individu mereka. Tubuh kita memiliki peran penting dalam merepresentasikan identitas kita. Pengertian tentang siapa kita, dan hubungan kita dengan individu, personal, dan masyarakat di mana kita hidup selalu berada dalam perwujudan tubuh. (Woodward, 2002: 1-2). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim adalah representasi identitas diri mereka yang bisa dilihat melalui perwujudan tubuh. Mereka memilih menunjukkan identitas diri melalui perwujudan tubuh karena cara inilah yang paling mudah, karena setiap orang yang melihat wanita berjilbab pasti akan tahu bahwa ia adalah wanita muslim.Dalam usaha untuk membentuk identitas diri, ada proses yang dinamakan identifikasi diri. Identifikasi diri adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Setiap orang pada saat berinteraksi dengan orang lain melalui pakaiannya, dapat memilih ia ingin menjadi seperti siapa (Crane & Bovone, 2006: 319). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim bisa menunjukkan kecenderungan merujuk kepada siapa identifikasi diri mereka. Kebanyakan mereka mengidentifikasi diri mereka dengan para public figure yang memakai jilbab, seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca.Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri, lingkungan merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar. Lingkungan tersebut bisa berupa lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, ataupun lingkungan kerja. Para wanita muslim ini menyatakan lingkungan di sekitar mereka memiliki andil yangcukup besar dalam proses pembentukan identitas diri sebagai wanita muslimah, dalam hal ini dengan cara memakai jilbab. Lingkungan yang memberi pengaruh besar umumnya adalah lingkungan teman sepergaulan dan teman sebaya, disusul lingkungan keluarga. Selain itu ada juga pengaruh khusus yang didapat dari guru mengaji.Selain tubuh kita sendiri, identitas diri seseorang juga dipengaruhi beberapa faktor eksternal, antara lain ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Woodward, 2002: 1-2). Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri yang dilakukan oleh para informan, ada faktor eksternal yang mempengaruhi mereka. Ada dua faktor eksternal yang membentuk identitas diri para informan sebagai wanita muslim, dua faktor tersebut yaitu faktor sosial dan budaya.Pengaruh faktor sosial bisa bisa dilihat dari mereka yang tertarik memakai jilbab setelah melihat lingkungan sekitar mereka, yaitu teman sepergaulan dan keluarga yang memakai jilbab. Dari faktor sosial inilah akhirnya muncul keinginan dari mereka untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim dengan cara memakai jilbab. Sedangkan pengaruh faktor budaya bisa dilihat dari salah satu informan yang memakai jilbab sejak kecil, karena ia selalu bersekolah di sekolah Islam. Kebiasaannya memakai jilbab sejak kecil dan budaya di sekolahnya yang mengharuskan setiap siswi untuk memakai jilbab adalah hal yang membentuk identitas dirinya sebagai wanita muslim.Sebagai bagian dari fashion, jilbab selain berfungsi sebagai penanda identitas diri sebagai seorang muslim, juga menjadi bagian dari ekspresi diri dalam berbusana. Ekspresi tersebut terlihat dari pilihan jenis jilbab yang dipakai oleh setiap wanita muslim. Jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren saat ini, sejatinya juga menggambarkan ekspresi diri para pemakainya. Warna, corak dan bentuk dari jilbab modifikasi yang dipakai oleh para wanita muslim tersebut, bisa menunjukkan perasaan atau isi hati si pemakai.Fashion sebagai bentuk komunikasi nonverbal mengikuti mahzab komunikasi yaitu mahzab “proses”. Yaitu fashion atau pakaian menjadi mediumyang digunakan seseorang untuk “menyatakan” sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Pesan yang ingin disampaikan melalui jilbab inipun beragam, seperti jilbab dipakai sebagai batasan diri dalam bergaul. Seorang wanita muslim memakai jilbab untuk membatasi dirinya dalam pergaulan negatif dan menghindarkan diri dari pelecehan seksual.Jilbab yang dipakai olehnya menjadi medium komunikasi nonverbal yang membawa pesan bagi orang lain bahwa dengan memakai jilbab, ia ingin memberi jarak/batasan bagi dirinya dalam bergaul. Dengan jilbab yang dipakainya tersebut, diharapkan orang lain juga paham dengan maksudnya untuk membatasi diri dalam pergaulan. Selain membatasi diri dalam pergaulan, jilbab dalam hal ini jilbab modifikasi, juga dipakai sebagai media untuk menunjukkan bahwa seorang wanita muslim bisa aktif dalam berbagai macam kegiatan tanpa terhalangi oleh jilbab yang dipakainya.Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berfungsi sebagai penanda status sosial bagi pemakainya. Ada sebagian wanita muslim yang melakukan hal ini dengan cara memakai jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren, dengan tujuan agar dilihat memiliki status sosial yang lebih tinggi dari orang lain. Hal ini wajar saja, karena orang sering menggunakan pakaian atau fashion untuk menunjukkan nilai sosial atau status sosial, dan orang kerap membuat penilaian terhadap nilai sosial atau status sosial orang lain berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut (Barnard, 2011: 86).Jilbab juga bisa menjadi ekspresi diri dari pemakainya. Wanita muslim memiliki selera dan ketertarikan yang berbeda terhadap model dan bentuk jilbab. Kebanyakan jilbab yang disukai oleh para wanita muslim adalah jilbab yang dipopulerkan dan dipakai oleh para public figure seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca. Sedangkan untuk jenisnya sendiri, mereka lebih banyak memakai jilbab segi empat, dan shawl.Meskipun para wanita muslim ini ingin mengekspresikan diri dan menunjukkan keunikan mereka dengan memakai jenis dan bentuk jilbab yangdipakai berbeda, namun mereka juga tidak ingin merasa terasing dari pergaulan kelompok mereka. Maka ketika para wanita muslim di lingkungan mereka memakai jilbab modifikasi, mereka pun menjadi tertarik untuk juga memakai jilbab tersebut. Orang rupanya perlu menjadi sosial dan individual di saat yang sama, dan fashion serta pakaian merupakan cara dari sejumlah hasrat atau tuntutan yang kompleks dinegosiasikan (Barnard, 2011: 17). Karena selain keinginan untuk menunjukkan keunikan individu, manusia juga memiliki keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini adalah kebutuhan manusia yang bisa diwujudkan oleh fashion (dalam hal ini jilbab).Umumnya para wanita muslim lebih memilih memakai jilbab modern/modifikasi karena mereka tertarik dengan berbagai macam model jilbab sekarang. Selain itu ada diantara mereka yang memakai jilbab modern untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sedangkan yang lainnya memakai jilbab modern karena tidak ingin dianggap kuno. Disini bisa dilihat bahwa para wanita muslim tersebut tidak ingin menjadi terasing dari lingkungannya, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk memakai jilbab modifikasi karena lingkungan sekitar mereka juga memakai jilbab yang sama.Media massa juga turut andil dalam mempopulerkan berbagai macam model jilbab, sehingga akhirnya banyak wanita yang tertarik untuk memakai jilbab sebagai busana sehari-hari mereka. Tren fashion berjilbab sekarang yang banyak dipengaruhi oleh hijabers community sudah sangat bagus dan maju dibandingkan fashion berjilbab sebelum adanya hijabers community. Meskipun sudah bagus dan berkembang pesat, namun ada beberapa orang yang memakai jilbab hanya untuk menonjolkan kekayaan dan status sosial saja. Selain itu tren fashion berjilbab ini seringkali disalah artikan oleh sebagian masyarakat, dengan seringnya dilihat wanita berjilbab namun memakai pakaian ketat. Tren fashion berjilbab ala hijabers ini sebenarnya juga lebih ditujukan untuk kalangan menengah ke atas, sebab tren fashion yang mereka bawa termasuk tren fashion yang mahal.Media massa memiliki kemampuan untuk membentuk konstruksi sosial, dalam hal ini konstruksi sosial tentang wanita berjilbab. Selama ini konstruksi sosial yang ditampilkan oleh media massa tentang wanita berjilbab menimbulkan citra positif di masyarakat, karena oleh media massa wanita berjilbab sekarang ini tidak lagi dicitrakan sebagai wanita kuno dan ketinggalan jaman, melainkan sebagai wanita yang cantik dan modis. Selain itu berbagai pemberitaan tentang kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas wanita berjilbab juga menambah citra positif tentang wanita berjilbab. Hal-hal yang demikian akhirnya menumbuhkan ketertarikan bagi para wanita untuk memakai jilbab.Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Konstruksi sosial media massa yang berlangsung satu arah ini membuat media cetak seperti majalah dan buku tidak terlalu diminati oleh para wanita muslim dalam mencari informasi tentang tren fashion berjilbab. Hal ini karena para wanita muslim sebagai penerima pesan hanya bisa menerima pesan dari media tersebut, tanpa bisa memberi tanggapan langsung atas pesan yang ia terima.Dalam perkembangan tren fashion berjilbab sekarang ini, internet menjadi media yang paling banyak digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi dan referensi tentang jilbab. Internet tampaknya telah menggeser peran media massa cetak dan media elektronik lainnya seperti televisi dan radio. Hal ini juga dilakukan oleh para wanita berjilbab yang lebih sering mengakses internet dibandingkan dengan membaca majalah, ataupun menonton televisi.Mereka lebih suka mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab melalui internet karena ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh media massa lain seperti majalah dan televisi. Keunggulan utama dari internet adalah kemudahan akses, dimana hampir semua orang yang memiliki komputer bisa masuk kejaringan. Dengan beberapa kali klik tombol mouse, kita akan masuk ke lautan informasi dan hiburan yang ada di seluruh dunia. (Vivian, 2008: 262). Terlebih lagi sekarang ini koneksi internet tidak hanya tersedia melalui jaringan kabel yang hanya bisa diakses melalui komputer saja. Jaringan internet nirkabel pun sekarang telah bisa dinikmati melalui perangkat laptop ataupun ponsel. Hal ini tentu saja menambah kemudahan akses internet untuk dipakai dimana saja.Internet juga memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh media massa lainnya, yaitu bersifat interaktif. Interaktif disini memiliki arti bahwa internet punya kapasitas untuk memampukan orang berkomunikasi, bukan sekadar menerima pesan belaka, dan mereka bisa melakukannya secara real time. (Vivian, 2008: 263). Meskipun media elektronik seperti televisi dan radio sekarang ini juga bisa bersifat interaktif, namun interaksi antara media massa dan audience mereka tidak bisa berlangsung setiap waktu. Berbeda dengan internet dimana penerima pesan/audience bisa memberi tanggapan sewaktu-waktu.Dari berbagai macam situs internet yang ada dan menjadi referensi dalam mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab, situs berbagi video youtube adalah situs yang paling sering diakses oleh para wanita berjilbab ini. Youtube menjadi pilihan karena ia memiliki kelebihan dibanding situs internet lain yang kebanyakan hanya berisi tulisan dan gambar. Youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Ditambah lagi konten audio visual yang ada di youtube bisa diunduh dan disimpan, untuk nantinya disaksikan pada lain waktu. Kelebihan inilah yang tidak dimiliki oleh televisi yang membuat youtube lebih unggul, meskipun keduanya sama-sama memiliki konten audio visual.Media-media yang menjadi referensi para wanita berjilbab memberi pengaruh kepada jilbab yang mereka pakai, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda-beda. Mereka cenderung selektif dalam mengambil/menggunakan konten dari sebuah media. Seberapapun jernih dan jelasnya pesan, orang mendengar dan melihatnya secara egosentris. Fenomena ini dikenal sebagai selective perception(Vivian, 2008: 478). Selektifitas para wanita berjilbab dalam menggunakan konten media massa yang mereka pakai untuk mencari informasi tentang jilbab, terlihat dari sebagian dari mereka yang hanya mengambil tutorial berjilbab yang ada di media massa, namun tidak berusaha untuk menirunya secara persis dan sama.Penutup Alasan utama para wanita muslim memakai jilbab adalah untuk menjalankan perintah agama. Dalam keputusan untuk memakai jilbab tersebut ada berbagai faktor yang mempengaruhi mereka, faktor-faktor tersebut adalah kesadaran dari dalam diri sendiri dan lingkungan sekitar. Para wanita ini memakai jilbab untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim, karena di Indonesia jilbab identik dengan Islam.Ada beberapa pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh para wanita muslim melalui jilbabnya. Pesan-pesan tersebut adalah jilbab yang dipakai digunakan sebagai batasan diri dalam pergaulan agar tidak berlaku yang tidak baik. Jilbab juga dijadikan simbol perubahan diri menjadi orang yang lebih baik, dibanding sebelum memakai jilbab. Selain itu sebagai wanita berjilbab mereka juga ingin menyampaikan bahwa wanita berjilbab juga bisa tampil modis dan fashionable, dan tetap aktif dengan berbagai macam kegiatan tanpa terganggu jilbab yang mereka pakai.Internet adalah media massa yang paling sering digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi tentang tren fashion berjilbab, dan situs yang paling sering diakses adalah youtube. Mereka memilih internet karena kemudahan akses dimana saja, dan youtube dipilih karena youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Selain itu daya tarik utama youtube adalah konten media tersebut yang bisa diunduh, sehingga bisa ditonton lagi sewaktu-waktu.Daftar Pustaka Barnard, Malcolm. 2011. Fashion Sebagai Komunikasi : Cara mengkomunikasikan identitas sosial, seksual, kelas, dan gender. Diterjemahkan oleh: Idy Subandy Ibrahim & Drs. Yosal Iriantara, Ms. Yogyakarta: Jalasutra. Bungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh: Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana Prenada GroupWoodward, Kath. 2002. Understanding Identity. London: ArnoldJurnalCrane, D, & Bovone, L. 2006. Approaches to Material Culture: The Sociology of Fashion and Clothing. PoeticsSumber InternetKriswanti, Wida. 2012. Hijabers Community: Bermula dari Acara Buka Puasa di Mall. (http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/hobi/56493-hijabers-community-bermula-dari-acara-buka-puasa-di-mal.html; diakses pada 2 Oktober 2012) Reswari, Arnova. 2013. Jilbab Syar’i = Jilbab Paling Modis Sepanjang Zaman. (http://www.dakwatuna.com/2013/05/13/33127/jilbab-syari-jilbab-paling-modis-sepanjang-zaman/#ixzz2ZYcppqlC; diakses pada 15 Juli 2013)Thea. 2012. 7 Artis yang Kini Berjilbab. (http://jogja.tribunnews.com/2012/07/20/7-artis-yang-kini-berjilbab; diakses pada 2 Oktober 2012)      

Co-Authors Adinda Sekar Cinantya Agnesya Putri Winanda Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ananda Erfan Musthafa, Ananda Erfan Annisya Winarni Putri, Annisya Winarni Apriani Rahmawati Aprilla Agung Yunarto, Aprilla Agung Ari Mukti Wibowo Asri Rachmah Mentari Asti Kusumaningtyas Aulia Nur Austin Dian P Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Ayunda Sari Rahmahanti Azizah Oktavyana Bella Prawilia Bisma Alief, Bisma Dara Pramitha Deansa Putri Dhiyah Puspita Sari DITA PURMIA UTAMI Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto, Donik Agus Dwi Mulya Ningsih Dyah Woro Anggraeni Eka Puspita Ageng P., Eka Puspita Fitria Nur Pratiwi Frida Asih Pratiwi Hedi Pudjo Santosa Indah Puspawardhani Infra Ranisetya Joyo NS Gono Kembang Soca Paranggani Lia Faiqoh Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Luh Rani Wijayanti, Luh Rani M Bayu Widagdo M Yulianto Marcia Julifar Ardianto Marlia Rahma Diani Meidiza Firda Mapikawanti Melani Ria, Melani Meta Detiana Putri Miftakhul Noor Alfiana Much. Yulianto Muchamad Yulianto MUHAMMAD ABDUSSHOMAD N S Ulfa Nidya Aldila Ninda Nadya Nur Akbar Nurist Surayya Ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurriyatul Lailiyah, Nurriyatul Otto Fauzie Haloho, Otto Fauzie Rakanita Oktaviani Hadi Saputri, Rakanita Oktaviani Rizka Amalia rizky Adhitya Rr Ratri Feminingrum Septia Hartiningrum Septian Aldo Pradita Septiana Wulandari Suparyo, Septiana Wulandari Shahnaz Natasha Anya Silvia Kartika C Dewi Sri Budi Lestari Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Taruna Budiono Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Titan Armaya Triono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Ulya Saida Velina Prismayanti Susanto Vicho Whisnurangga, Vicho Vinna Dewi Haryanti Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Wening Jiwandaru Pradanari Wiwid Noor Rakhmad