Titin Herawati
Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

KARAKTERISTIK BAKTERI CAVIAR NILEM DALAM PERENDAMAN CAMPURAN LARUTAN ASAM ASETAT DENGAN LARUTAN GARAM PADA PENYIMPANAN SUHU RENDAH (5-100C).

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.816 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bakteri caviar nilem yang direndam dalam campuran larutan asam asetat dengan larutan garam pada penyimpanan suhu rendah antara 5-100C. Metode penelitian dilakukan secara eksperimen terdiri atas empat perlakuan perendaman. Perlakuan A, perendaman dalam campuran larutan asam asetat 0,3% dengan larutan garam 0%. Perlakuan B, Perendaman dalam campuran larutan asam asetat 0,3% dengan larutan garam 5%. Perlakuan C, perendaman dalam campuran larutan asam asetat 0,3% dengan larutan garam 10%. Perlakuan D, perendaman dalam campuran larutan asam asetat 0,3% dengan larutan garam 15%. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, 7, 14, 21 dan 28. Parameter yang diamati meliputi derajat keasaman (pH) dan total jumlah bakteri pada caviar nilem. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa karakteristik bakteri pada perendaman campuran dari 0,3% larutan asam asetat dengan 15% larutan garam pada penyimpanan suhu rendah (5-100C) merupakan konsentari terbaik, dengan lama masa simpan 21 hari masih layak untuk dikonsumsi, jumlah total bakteri yang tumbuh berkisar 3x106 cfu/g.

INTENSITAS DAN PREVALENSI EKTOPARASIT PADA IKAN BANDENG (Chanos chanos) DALAM KARAMBA JARING APUNG (KJA) DI WADUK CIRATA KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1323.373 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, intensitas dan prevalensi ektoparasit pada ikan bandeng yang dibudidayakan dalam Karamba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Sampel diambil berdasarkan ukuran yaitu ukuran kecil (8-13 cm) sebanyak 35 ekor dan ukuran besar (20-27 cm) sebanyak 35 ekor dengan tiga kali pengambilan setiap ukurannya. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Dari hasil penelitian ditemukan empat jenis ektoparasit pada ikan bandeng ukuran kecil yaitu Trichodina sp. (86,41 %), Trichodinella sp. (0,15 %), Chilodonella sp. (3,97 %), dan I. multifiliis  (9,48 %), sedangkan pada ikan bandeng ukuran besar ditemukan enam jenis ektoparasit yaitu Trichodina sp. (94,68 %), Trichodinella sp. (0,04 %), Chilodonella sp. (1,88 %), I. multifiliis  (3,36 %), Apiosoma sp. (0,01 %), dan Dactylogyrus sp. (0,03 %). Intensitas dan prevalensi tertinggi terdapat pada ikan bandeng berukuran besar yaitu 99 individu/ekor ikan dan 93,33 %. Intensitas dan prevalensi ektoparasit tertinggi ditemukan pada ikan bandeng ukuran besar yaitu Trichodina sp. sebesar 94 individu/ekor ikan dengan prevalensi 74,28 %. Semakin besar ukuran ikan, intensitas dan prevalensi ektoparasit yang menyerang ikan bandeng cenderung meningkat.

PENGARUH PEMBERIAN DEDAK PADI HASIL FERMENTASI RAGI (Saccharomyces cerevisiae) TERHADAP PERTUMBUHAN BIOMASSA Daphnia sp

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 3. No. 1, Maret 2012
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.679 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dedak padi yang telah difermentasi dengan ragi (Saccharomyces cerevisiae) terhadap pertumbuhan biomassa Daphnia sp. Penelitian ini menggunakan Metode Eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan A (Kontrol) 125 mg/L dedak tanpa fermentasi, perlakuan B (25 mg/L dedak hasil fermentasi), perlakuan C (50 mg/L dedak hasil fermentasi), perlakuan D (75 mg/L dedak hasil fermentasi), perlakuan E (100 mg/L dedak hasil fermentasi), dan perlakuan F (125 mg/L dedak hasil fermentasi). Daphnia sp. dikultur selama 22 hari dalam wadah toples plastik dengan volume 1 Liter. Parameter yang diamati adalah pengujian proksimat dedak hasil fermentasi, pertumbuhan populasi, pertumbuhan biomassa, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi oleh ragi Saccharomyces cerevisiae dapat meningkatkan nilai nutrisi dalam dedak seperti protein sebesar 4,78 % dan karbohidrat sebesar 95,71 %, serta menurunkan nilai nutrisi lipid sebesar 80,07 % dan serat kasar sebesar 17,43 %. Pemberian dedak hasil fermentasi sebesar 125 mg/L menghasilkan puncak populasi tertinggi pada hari ke-12 sebanyak 177 individu dan biomassa tertinggi dicapai pada hari ke-14 sebesar 63,1 mg.

BIOAKUMULASI LOGAM KROMIUM (CR) PADA INSANG, HATI, DAN DAGING IKAN YANG TERTANGKAP DI HULU SUNGAI CIMANUK KABUPATEN GARUT

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.942 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada 2 Maret - 14 Mei 2016 dengan tujuan untuk mengetahui kandungan logam Cr pada insang, hati dan daging ikan yang tertangkap di  hulu Sungai Cimanuk, Kabupaten Garut serta untuk mengetahui kemampuan ikan dalam mengakumulasi logam Cr. Metode Penelitian yang digunakan ialah dengan metode survei, yaitu melakukan sampel air dan ikan yang diambil dari 4 stasiun secara Purposive sampling kemudian diamati kandungan kromium di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Unpad. Pengambilan sampel ikan dilakukan secara proporsional berdasarkan tingkat trofik level ikan dan kelimpahannya di alam. Pada masing-masing stasiun diambil 2 jenis ikan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa jenis ikan yang tertangkap selama penelitian sebanyak 6 spesies yang terdiri dari : Mas (Cyprinus Carpio), Paray (Rasbora argyrotaenia), Lele (Clarias gariepenus), Gabus (Opiocephalus striatus), Sapu (Hyposarcus pardalis) dan Berod (Macronathus maeveatus). Hasil Uji kandungan logam Cr pada organ insang, hati, dan daging ikan yang tertangkap secara umum masih dibawah ambang batas, kecuali pada organ insang dan hati ikan Gabus, dimana kadarnya telah melebihi ambang batas yang telah ditentukan. Kemampuan organ ikan dalam mengakumulasi logam Cr (Bioconcentration Factor)  tergolong sifat akumulatif rendah. Kata kunci : Bioconcentration factor, Ikan, Kromium, Sungai Cimanuk

KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata) YANG DIBERI PAKAN HIDUP DAN PAKAN BUATAN DI KARAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan Unpad
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.603 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan betutu tertinggi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2016 di karamba jaring apung Balai Pelestarian Perikanan Perairan Umum dan Ikan Hias Waduk Cirata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut adalah A (pemberian pakan benih ikan nila hasil dari pemijahan induk yang dipelihara bersama dengan betutu (sistem polikultur)), B (pemberian pakan benih nila sebesar 5% dari biomassa betutu) dan C (pemberian pakan ikan kaca sebesar 5% dari biomassa betutu), D (pemberian pakan komersial sebesar  5% dari biomassa betutu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan hidup dan pakan komersial meningkatkan laju pertumbuhan harian, laju pertumbuhan bobot mutlak dan efisiensi pakan ikan betutu. Pemberian pakan hidup berupa ikan kaca sebesar 5% dari  biomassa ikan betutu, memberikan hasil pertumbuhan yang dapat menghasilkan Kelangsungan Hidup sebesar 82,5%, Pertumbuhan Harian sebesar 0,56%/hari, Pertumbuhan Mutlak sebesar 305,33 gram dan Efisiensi Pakan sebesar 11,87%.

Fermentasi Etanol dengan Bahan Baku Produk Sakarifikasi Singkong oleh Aspergillus niger dengan Menggunakan Isolat Saccharomyces spp. (NKB dan NKC)

Biogenesis: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Biologi UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.405 KB)

Abstract

Nowdays the production of petroleum energy resource decreases in every years. Ethanol is one of renewable source of energy, it can substitution of fosil fuel. Ethanol can be produced from fermentation by Saccharomyces. The raw material of ethanol fermentation is carbohydrate rich organic. Cassava is one of efisien based material for ethanol fermentation because of its attainable price and availability. The objectives of this study were to isolation yeast from coconut neera, and use the isolate as microbial etanol fermentation from cassava. The research was started with isolating yeast from coconut neera, and then how to identified the yeast isolates by morphological and physiological characteristic. Then next process was saccharification the cassava by Aspergillus niger. Product of saccharification added by molasses to obtain 10% and 15% reducing sugar content and subjected for ethanol fermentation. The product of fermentation was analysed for the ethanol concentration by the conway microdiffuse and GCMS methode, Reducing sugar concentration was determined by DNS methode, total yeast was determined by spectroscopy methode and pH was determined by pH meter. The result showed that the isolation from coconut neera get 4 yeast isolate Saccharomyces spp. namely NKA, NKB, NKC, and NKD. The NKB and NKC isolates were choosen as candidate being used for ethanol fermentation process. The process saccharification produced 8,43% of reducing sugar. The result of ethanol fermentation process from the product saccharification of cassava and molasse mixture with content 10 % of reducing sugar were: NKB 4,19% and NKC 5,19 %. Whereas the result ethanol fermentation from the product saccharification of cassava and molasse mixture with content 15 % of reducing sugar were: NKB 6,75% and NKC 6,34 %. Based on this study, it capable concluded that mixed of the product saccharification process by cassava and molasse can be used as raw material fermentation process of ethanol by Saccharomyces spp. isolate NKB and NKC which are to isolate from coconut neera.Keywords: cassava, ethanol fermentation, molasses, saccharification, Saccharomyces spp.

Pengaruh Penambahan Tepung Labu Kuning Dan Tepung Kepala Udang Terhadap Peningkatan Kualitas Warna Ikan Mas Koki (Carassius auratus)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 6, No 2(1) (2015): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.335 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari jumlah penambahan tepung labu kuning dan tepung kepala udang yang tepat pada pakan komersil untuk meningkatkan warna orange pada koki strain oranda. Penelitian ini menggunakan benih ikan koki strain oranda dengan ukuran 4-5 cm yang diperoleh dari peternak koki di Bogor. Penelitian ini menggunakan metode  eksperimental Rancangan  Acak  Lengkap  dengan  empat  perlakuan  dan  tiga  kali  ulangan.  Perlakuan  yang diberikan yaitu 20% tepung labu kuning, 10% tepung labu kuning dan 5% tepung kepala udang, dan 10% tepung kepala udang serta perlakuan kontrol (tanpa penambahan). Parameter yang diukur yaitu perubahan warna orange pada kepala, punggung, dan ekor. Pengamatan perubahan warna dilakukan secara visual dengan pendekatan terhadap warna pada Toca Color Finder. Data perubahan warna dianalisis menggunakan uji Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% tepung labu kuning dan 5% tepung kepala udang dalam pakan memberikan perubahan warna orange terbaik dengan kode warna TC 1017 pada kepala, punggung dan ekor, dengan pertambahan bobot mutlak sebesar0,4gram Kata Kunci : Tepung Labu Kuning, Tepung Kepala Udang, Koki, Warna

Identifikasi Lamun Di Perairan Pulau Panjang Dan Perairan Pantai Sancang Menggunakan Primer rbcL Dan matK

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 1 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.707 KB)

Abstract

Barkoding merupakan cara mengidentifikasi spesies pada tingkat gen berdasarkan susunan nukleotida masing-masing spesies. Polimerasi DNA hanya dapat dilakukan jika tersedia molekul primer. Dua gen di kloroplas, gen rbcL dan matK telah disepakati sebagai daerah barkode untuk mengidentifikasi tumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi lamun secara molekuler dan mengetahui efektifitas primer yang digunakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga September 2015, terdiri dari pengambilan sampel, isolasi DNA, dan PCR. Identifikasi morfologi menunjukkan lamun yang berada di Pantai Sancang diduga spesies Cymodocea rotundata dan Thalassia hemrprichii. Sedangkan lamun yang berada di Pulau Panjang diduga spesies Cymodocea serrulata dan Enhalus acoroides. DNA keempat sampel lamun berhasil diisolasi menggunakan metode CTAB dengan hasil kemurnian genom menggunakan spektrofotometer menunjukkan semua sampel memiliki rasio dibawah 1,8, yaitu untuk sampel YPW01 sebesar 1,369; YPW02 sebesar 1,192; YPW03 sebesar 1,397; dan YPW04 sebesar 1,267. Namun keempat tidak dapat teramplifikasi dengan primer rbcL maupun matK. Hal ini diduga karena kondisi kualitas genom yang kurang baik atau kemungkinan tidak komplemen antara sekuen pimer dengan DNA target genom akibat mutasi.

IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI IKAN YANG DAPAT BERADAPTASI DI WADUK JATIGEDE PADA TAHAP INUNDASI AWAL

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.309 KB)

Abstract

Hasil penelitian diharapkan sebagai informasi awal ikan-ikan yang berpotensi dapat beradaptasi di Waduk Jatigede dan dapat dijadikan dasar untuk pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman ikan. Metode penelitian menggunakan metode survei pada empat stasiun pengamatan dengan dua kali sampling per bulan, selama tiga bulan. Data yang dianalisis meliputi komposisi jenis, ukuran, jenis kelamin, kelimpahan, keanekaragaman, dan keseragaman ikan. Data didukung oleh parameter kualitas air yang meliputi suhu, pH, dan DO. Hasil penelitian identifikasi dan inventarisasi ikan, terdapat 9 famili dari 17 spesies, yaitu Cyprinidae (Barbodes balleroides, Cyclocheilichthys repasson, Hampala macrolepidota, Mystacoleucus marginatus, Osteochilus hasseltii, Osteochilus microcephalus, Rasbora argyrotaenia, dan Barbodes gonionotus), Cichlidae (Oreochromis niloticus dan Oreochromis mossambicus), Osphronemidae (Trichogaster pectoralis), Channidae (Channa striata), Loricariidae (Liposarcus pardalis), Pangasiidae (Pangasius hypophthalmus), Bagridae (Mystus nemurus), Chanidae (Chanos chanos), dan Mastacembelidae (Mastacembelus erythrotaenia). Keanekaragaman ikan di Waduk Jatigede berkisar antara 0,54 sampai 1,65 dan Keseragaman ikan berkisar antara 0,36 sampai 0,96. 

Analisis Kerantanan Fisik Pantai Di Pesisir Garut Selatan Jawa Barat

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.826 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan diempat kecamatan yaitu kecamatan mekarmukti, pakenjeng, cikelet dan pameungpeuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat dan zona kerentanan fisik pantai, serta mengetahui sejauh mana bahaya dan resiko dari pesisir Garut Selatan Jawa Barat. Metode yang dilakukan yaitu dengan metode observasi dan analisis, dalam metode ini terdapat 2 cara yang dilakukan yaitu pengumpulan data dan pengolahan data. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa dari empat kecamatan yang diteliti, kerentanan yang mendominasi yaitu kerentanan sedang dengan presentase 62,25 %, kategori rendah 28,42%, dan kategori tinggi 9,33%. kerentanan tinggi dari kecamatan yang diamati terdapat di kecamatan Pameungpeuk tepatnya di kawasan pariwisata pantai santolo Garut, yang dimana aktifitas manusia dikawasan tersebut sangat tinggi, bukan hanya karena aktifitas manusianya tapi juga karena perubahan alih fungsi lahan yang cukup tinggi. Selain adanya aktifitas manusia dikawasan kategori tinggi ini merupakan kawasan pariwisata yang sering dikunjungi parawisata, lingkungan yang tidak terjaga membuat kawasan ini semakin rawan.