Articles

Found 16 Documents
Search

PENGGUNAAN TEMPAT SAMPAH BERMOTIF TERHADAP PERILAKU BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA DI SEKOLAH DASAR NEGERI WILAYAH ARGOMULYO, SEDAYU, BANTUL Purnomo, Rashid; Herawati, Lucky; Amri, Choirul
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 3 (2017): FEBRUARI 2017
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v8i3.16

Abstract

Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan lagi, tidak disenangi atau dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Di lokasi penelitian, yaitu SDN Panggang dan SDN Puluhan yang berada di Argomulyo, Sedayu, Kabupaten Bantul, sudah tersedia tempat sampah untuk memilah yang sudah bertuliskan jenis sampah yang dapat di-buang di situ, akan tetapi petunjuknya sulit dipahami oleh para siswa. Pada penelitian ini, tem-pat sampah bermotif diterapkan untuk mempermudah siswa dalam membuang sampah sesuai dengan jenisnya, yaitu sampah kertas, sampah plastik dan botol serta sampah dedaunan dan sisa makanan. Tempat sampah bermotif yang digunakan memanfaatkan yang sudah ada di lo-kasi penelitian tapi dirubah tampilannya tanpa mengurangi fungsinya. Jenis penelitian yang di-lakukan adalah eksperimen dengan desain post-test only control group. SDN Panggang dite-tapkan menjadi kelompok perlakuan dan SDN Puluhan sebagai kontrol. Data sampah yang di-buang secara tepat pada tempatnya, diamati setiap hari setelah jam sekolah selama satu bu-lan. Rerata hasil pengamatan kemudian dianalisis dengan menggunakan t-test bebas pada α = 0,05; dan hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan tempat sampah bermotif mempengaruhi perilaku siswa untuk membuang sampah pada tempat yang sesuai. Hasil tersebut terjadi kare-na petunjuk pada tempat sampah bermotif mudah dipahami dan gambarnya menarik.
PENERAPAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 519/MENKES/SK/VI/2008 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PASAR SEHAT DI PASAR-PASAR TRADISIONAL DI KABUPATEN KEBUMEN HASIL RENOVASI TAHUN 2011-2013 Mubarok, Imam Muhsin; Herawati, Lucky; Haryono, Haryono
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v8i2.6

Abstract

Pasar tradisional merupakan salah satu tempat-tempat umum. Kondisi sanitasi pasar yang buruk berpotensi bagi terjadinya penularan penyakit. Untuk mencegah dampak negatif yang mungkin timbul, antara tahun 2011-2013, Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen melalui Dinas Perin-dustrian, Perdagangan, dan Pengelolaan Pasar telah merenovasi 10 dari total 35 pasar tradisio-nal yang ada, namun upaya tersebut belum sepenuhnya mengatasi buruknya masalah sanitasi yang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana Pedoman Pasar Sehat yang tercantum dalam Kepmenkes Nomor 519/Menkes/SK/VI/2008 telah diterapkan oleh Pemda Kabupaten Kebumen, yaitu dengan melakukan penelitian yang bersifat deskriptif. Sebagai sam-pel penelitian adalah seluruh 10 pasar tradisional di atas, sementara variabel yang diteliti terdiri dari: konstruksi bangunan, sanitasi, dan fasilitas lain, yang diobservasi dengan menggunakan check-list. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara rata-rata, untuk variabel konstruksi ba-ngunan yang terdiri dari 95 buah komponen, 52,9 % sudah memenuhi syarat; untuk variabel sa-nitasi yang terdiri dari 44 komponen, 47,3 % sudah memenuhi syarat, dan untuk variabel fasilitas lain yang terdiri dari 22 komponen, 29,5 % sudah mememuhi syarat. Jika mengacu pada Kep-menkes di atas, dapat disimpulkan bahwa 80 % pasar tradisional yang diteliti termasuk dalam kategori tidak sehat dan 20 % termasuk kategori kurang sehat. 
PERAN-SERTA PEMILIK INDUSTRI TERHADAP PERILAKU PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PEKERJA PAHAT BATU DI TAMANAGUNG MUNTILAN Asna, Nurul; Herawati, Lucky; Windarso, Sardjito Eko
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 4 (2016): VOLUME 7 NO 4 TAHUN 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v7i4.49

Abstract

Lingkungan kerja pekerja pahat batu di Desa Tamanagung, Muntilan, memiliki potensi bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Potensi bahaya tersebut dapat dicegah melalui pemakaian APD yang benar dan rutin. Namun demikian, dalam praktiknya, sebagian besar pe-kerja di sana tidak terbiasa menggunakannya. Oleh karena itu, peran pemilik sebagai penang-gung-jawab untuk mengingatkan dan menegur pekerja perlu diwujudkan. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa peran-serta pemilik industri dapat meningkatkan pengetahuan, si-kap, dan praktik pekerja dalam pemakaian APD. Jenis penelitian yang dilakukan adalah ekspe-rimen semu dengan desain non-randomized pre-test post-test with control group. Subyek pene-litian adalah pekerja dari sembilan industri pahat batu, yakni 31 pekerja dari 4 industri sebagai kelompok ekperimen dan 32 pekerja dari 5 industri sebagai kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan rata-rata nilai pengetahuan, sikap, dan praktik pada kelompok eksperimen, secara berturut-turut sebesar 9,48; 3,42; dan 3,55; dan pada kelompok kontrol, secara berturut-turut sebesar 2,69; 1,44; dan 2,22. Analisis secara non-parametrik dengan uji Mann Whitney pada derajat signifikansi 95 % menyatakan bahwa perbedaan kenaikan tingkat pengetahuan dan sikap atas pemakaian APD oleh pekerja adalah bermakna (nilai-p < 0,05), sementara untuk perbedaan kenaikan tingkat praktik, tidak bermakna (nilai-p = 0,083). Dari ha-sil tersebut dapat disimpulkan bahwa peran-serta pemilik industri berpengaruh terhadap penge-tahuan dan sikap pekerja pahat batu dalam memakai APD.
PENGGUNAAN BENDA ASLI PADA CERAMAH UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONDISI LINGKUNGAN DI SDN KLODANGAN DAN SDN BERBAH I, SLEMAN Arfiyanti, Dewi; Herawati, Lucky; Hendrarini, Lilik
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 3 (2016): VOLUME 7 NO 3 TAHUN 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v7i3.56

Abstract

Menjaga kebersihan jamban dan membuang sampah pada tempatnya adalah contoh dari peri-laku hidup bersih dan sehat (PHBS). Perilaku memiliki tiga domain, yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan benda asli pada ceramah terhadap pengetahuan dan sikap siswa serta kondisi lingkungan di sekolah yang terkait dengan membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan jamban. Quasi eksperimen dilakukan dengan menggunakan desain non-equivalent pre-post control-group. Untuk kelompok perlakuan, penyuluhan disertai dengan penggunaan benda asli, sementara untuk kelompok kontrol hanya dilakukan ceramah saja. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas lima dari SDN Klodangan dan SDN Berbah I, Sleman, dimana SDN Berbah I yang terdiri dari 30 siswa adalah sebagai kelompok kontrol dan SDN Klodangan yang terdiri dari 34 orang siswa sebagai kelompok perlakuan. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Mann-Whitney pada taraf signifikasi 5 % karena data tidak mengikuti distribusi nor-mal. Dengan semua nilai p yang diperoleh lebih kecil dari 0,05, hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan dengan metoda ceramah menggunakan benda asli, berpengaruh terhadap perubahan pengetahuan dan sikap siswa serta kondisi lingkungan di SDN Klodangan dan SDN Berbah I.
PENGGUNAAN KURSI ERGONOMIS UNTUK MENGURANGI KELUHAN NYERI OTOT RANGKA (MUSCULOSKELETAL DISORDERS) PADA PEKERJA LAUNDRY DI WILAYAH KOTA YOGYAKARTA Ningsih, Dian Sugesti; Herawati, Lucky; Suwarni, Agus
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 1 (2016): AGUSTUS 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v8i1.8

Abstract

Musculokeletal disorders is a pain at parts of skeletal muscles felt by a person which is caused by various factors, either internal or external. Musculoskeletal disorders is a common health pro-blem found in industrial sectors, included in the informal ones, such as in laundry business. Iron-ing process in laundry activities takes long duration and is a monotonous work. Many workers experiencing pain in their skeletal muscle after ironing, of which ergonomic factor is considered as one of the causes. Therefore, the research was intended to study about the application of er-gonomic chair in reducing the musculoskeletal disorders among laundry workers in Yogyakarta city by conducting a true experiment with pre-test post-test with control group design. As the study subjects were 30 ironing workers taken from 30 laundry services selected as the sample. They were then divided equally into two groups, i.e. 15 were allocated both in the treatment and the control groups. Proportional cluster random technique was used in the sampling process. The measurement of musculoskeletal pain employed a 15 item questionnaire based on the Nor-dic Body Map questionnaire. The data then were analyzed by using Mann-Whytney test with α=0,05 and obtained a p-value of 0,0001 which shows that the pain difference between the control and the treatment groups was significant. In the treatment group, after using the ergo-nomic chairs, the pain was felt decrease at waist, back, left hand and left foot; meanwhile in the control group, the measurement results in pre-test and post-test were similar. Based on the results, it is advised that coordination between the Licensing Office and laundry owners is need-ed to provide ergonomic chairs for the workers to work comfortably and to avoid the muscular skeletal disorders. For further studies it is recommended to consider nutritional status, psycho-logical state and workload of the workers when applying the ergonomic chairs.
Environmental, Behavioral Factors and Filariasis Incidence in Bintan District, Riau Islands Province Ikhwan, Zainul; Herawati, Lucky; Suharti, Suharti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Volume 11, Issue 1, August 2016
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.479 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v11i1.546

Abstract

Microfilaria rate of filariasis in Bintan District remains high, especially in Teluk Bintan, Teluk Sebong, and Sri Kuala Lobam Subdistricts. This study aimed to determine relation between environmental risk factors (physical, biological, chemical, socio-cultural, economic) and behavioral factors with filariasis incidence. The study was an analytic observational study conducted on May – September 2015 using case control design, which consisted of a total of case as many as 33 filariasis sufferers and a total of control as many as 65 non filariasis sufferers as taken by cluster sampling technique. Population of study was people in Bintan District. Data obtained were then analyzed by using chi square and logistic regression test. Results showed correlation of knowledge (p value= 0.045; OR = 1.365), wire-net use (p value = 0.048; OR = 1.381), stockyard (p value= 0.018; OR = 3.5), swamp (p value = 0.038; OR = 1.358), plantation/forest (p = 0.035; OR = 0.373) and mosquito-net use (p value = 0.036; OR = 1.417) as risk factor of filariasis incidence. In conclusion, variables most related to filariasis incidence in Bintan District are knowledge (OR = 6.154), mosquito-net use (OR = 3.861) and distance to swamp (OR = 3.668).AbstrakTingkat mikrofilaria filariasis di Kabupaten Bintan masih tinggi, khususnya di Kecamatan Teluk Bintan, Teluk Sebong, dan Sri Kuala Lobam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko lingkungan (faktor fisik, biologi, kimia, sosial budaya, ekonomi) dan faktor perilaku dengan kejadian filariasis. Jenis penelitian observasional analitik yang dilakukan pada Mei – September 2015 dengan desain kasus kontrol, yang terdiri dari jumlah kasus 33 orang penderita filariasis dan kontrol 65 orang bukan penderita filariasis dengan teknik cluster sampling. Populasi penelitian adalah masyarakat di Kabupaten Bintan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji kai kuadrat dan regresi logistik. Hasil menunjukkan adanya hubungan pengetahuan (nilai p = 0.045; OR = 1.365), kawat kasa (nilai p = 0.048; OR = 1.381), kandang ternak (nilai p = 0.018; OR = 3,5), rawa-rawa (nilai p = 0.038; OR = 1.358), perkebunan/hutan (nilai p = 0.035; OR = 0.373), dan penggunaan kelambu (nilai p = 0.036; OR = 1.417) sebagai faktor risiko kejadian filariasis. Sebagai kesimpulan, variabel yang paling berhubungan dengan kejadian filariasis di Kabupaten Bintan adalah pengetahuan (OR = 6.154), penggunaan kelambu (OR = 3.861) dan jarak dengan rawa-rawa (OR = 3.668).
The Use of Earthworms and Household Organic Waste Composting Length of Time Khair, Abdul; Herawati, Lucky; Noraida, Noraida; Raharja, Munawar
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 2 November 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.907 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v10i2.881

Abstract

AbstractComposting with earthworms is composting process by involving earthmacroorganism. Cooperation between earthworms and microorganisms may impact on decomposition process done by the microorganisms as assisted by the existence of earthworms. Because any materials to be decomposed by microorganisms had been decomposed by earthworms earlier, microorganisms would work more effectively and quickly. This study aimed to determine effects of using earthworms toward household organic waste composting length of time by using experimental design of study. The object of study was all organic waste taken randomly from one household. Variable of study was composting length of time measured after addition of earthworms and composting process completed. Tools used in this study were measuring tape, calendar, hygrometer and smelling sensory (organoleptic). Statistical analysis used differ test. Results of study showed data was normally distributed, equality of variance and no difference found between composting length of time with or without using earthworms. In conclusion, there is no relation found between the use of earthworms and the household organic waste length of time.AbstrakPengomposan dengan cacing tanah merupakan proses pembuatan kompos dengan melibatkan organisme makro cacing tanah. Kerja sama antara cacing tanah dengan mikroorganisme dapat memberi dampak pada proses penguraian yang dilakukan oleh mikroorganisme tersebut dibantu dengan keberadaan cacing tanah. Oleh karena bahan-bahan yang akan diurai oleh mikroorganisme telah diurai lebih dahulu oleh cacing, maka kerja mikroorganisme lebih efektif dan lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan cacing tanah terhadap lama waktu pengomposan sampah organik dari rumah tangga dengan menggunakan desain penelitian eksperimen. Objek penelitian adalah seluruh sampah organik dari rumah tangga yang diambil secara acak pada satu rumah tangga. Variabel penelitian adalah lama waktu pengomposan yang diukur setelah penambahan cacing tanah dan proses pengomposan selesai. Alat yang digunakan dalam penelitian berupa meteran, kalender, higrometer, dan penciuman (organoleptik). Analisis statistik menggunakan uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal, kesetaraan varians, dan tidak ada perbedaan antara lamanya waktu pengomposan dengan menggunakan atau tanpa menggunakan cacing tanah. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara penggunaan cacing tanah dan lamanya waktu pengomposan sampah organik rumah tangga.
Housewives’ Compliance in Reading Food Labels in Gorontalo City Tumenggung, Imran; Herawati, Lucky; Talibo, Sofyawati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 4 May 2016
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.064 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v10i4.639

Abstract

In Indonesia, food packaging labels’ problem received less attention from consumers. This study aimed to determine the housewives’ compliance in reading food packaging labels and its determinants in Gorontalo City. This studied was conducted from July to August 2013. The study was a cross sectional survey, using enquetten in data collection. The dependent variable was compliance in reading labels on food packaging consisting of labels information about nutritional value, food composition, expiration date, price and halal status, while the independent variables were age, education level and exposure to information media. This study involved 262 respondents selected through accidental sampling technique. Data analyisis used chi square test. This study showed that most respondents dutifully read the labels on expiration date, price tag, and halal status. Age was found associated with compliance in reading labels on information about nutritional value, expiration date and price. Education level was found related to information about nutritional value, food composition, price and halal labels. Exposure to the information media was related to compliance in reading food composition, expiration date, price and halal labels. This study suggested that the authorized institution namely health agency should educate people to understand the importance of reading food packaging labels, especially information about nutritional value and food composition.AbstrakDi Indonesia, masalah label pada kemasan makanan kurang mendapat perhatian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari determinan kepatuhan membaca label pada kemasan makanan oleh ibu rumah tangga di Kota Gorontalo. Penelitian dengan metode survei ini dilakukan dari bulan Juni sampai Agustus 2013. Data dikumpulkan secara potong lintang dengan menggunakan angket. Variabel terikat adalah kepatuhan membaca label pada kemasan makanan yang terdiri dari label informasi nilai gizi, komposisi makanan, masa kedaluwarsa, harga, dan status halal. Variabel bebas adalah usia, tingkat pendidikan, dan keterpaparan dengan media informasi. Besar sampel 262 orang ditentukan secara accidental technique. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden patuh membaca label kedaluwarsa, label harga, dan label halal. Faktor usia berhubungan dengan kepatuhan membaca label informasi nilai gizi, label kedaluwarsa dan label harga. Tingkat pendidikan berhubungan dengan kepatuhan membaca label informasi nilai gizi, label komposisi, label harga, dan lebel halal. Keterpaparan dengan media informasi berhubungan dengan kepatuhan membaca label komposisi, kedaluwarsa, harga, dan halal. Disarankan kepada institusi terkait, yaitu dinas kesehatan untuk melakukan upaya meningkatkan pemahaman pentingnya membaca label kemasan makanan, terutama yang berkaitan dengan informasi nilai gizi dan komposisi bahan makanan.
Educational Partners’ Perception Towards Inclusive Education Iryayo, Martin; Anggriyani, Devi; Herawati, Lucky
INKLUSI Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.651 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050102

Abstract

This study aims at investigating the perceptions of educational partners towards managing and implementing inclusive education, ensuring whether special need students can be wholly admitted and facilitated, and probing on the integration and management of students with physical, moral, and mental problems. The strategy used is centered on a case study with qualitative approach. The researchers applied a semi-structured interview and analyzed the data using content analysis with descriptive-interpretation-pattern coding model. For choosing the participants, quota sampling technique was applied whereby four participants were chosen from every school to represent the sections. The population is made up of all students, teachers, staff, and parents from SMA Yogyakarta, SMA Wates, and SMK Imogiri. Based on the interviews, all the subjects confirmed that inclusive education in the respective schools is critical. Besides, the perceptions of all subjects towards management and implementation of inclusive education does not prove its satisfactory level.[Penelitian bertujuan melihat persepsi orang tua, siswa, guru, dan staf terhadap pengelolaan dan penerapan pendidikan inklusif, memastikan apakah siswa berkebutuhan khusus dapat diterima dan difasilitasi oleh sekolah, dan meyakinkan cara untuk mengintegrasikan dan mengelola siswa dengan masalah fisik, moral, dan mental. Penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan wawancara semi-struktural dan menganalisis data dengan analisis konten. Untuk memilih peserta, teknik kuota sampling diterapkan di mana empat peserta dipilih dari setiap sekolah untuk mewakili yang lain. Populasi terdiri dari semua siswa, guru, staf, dan orang tua dari SMA Yogyakarta, SMA Wates, dan SMK Imogiri. Berdasarkan wawancara, semua subjek menegaskan bahwa pendidikan inklusif di sekolah masing-masing masih belum mapan. Selain itu, persepsi semua yang diwawancarai terhadap manajemen dan pelaksanaan pendidikan inklusif tidak benar-benar mengkonfirmasi tingkat pendidikan inklusif yang memuaskan.]
Adolescent’s Knowledge and Skill to Refuse Drugs Herawati, Lucky; Budiman, Johan Arief; Haryono, Haryono
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Volume 13, Issue 1, August 2018
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.06 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v13i1.1288

Abstract

Various efforts have been made to prevent adolescents from the drug use, despite their knowledge and skill to refuse drugs have never been evaluated. Thisstudy was aimed to describe the adolescents knowledge and skill to refuse drugs and their relation to the characteristics. This was an analytic study conductedin 300 students at the seventh grade aged 12-15 years old in two cities in the Special Region of Yogyakarta Province. Variables studied were adolescent’sknowledge, skill to refuse drugs, and their characteristics. Data were collected using a self-reported questionnaire, then analyzed using Pearson correlationtest and Spearman rho, with 95% level of significance. The findings showed that the average score of adolescent's knowledge of drugs was 66.39+17.48 andthe score of skills to refuse drugs was 55.62+16.49. There was a significant relation between knowledge and skills (p = 0.05). There was no significant relationbetween the young adolescent’s characteristics (age and sex) with their knowledge and skills to refuse the drug offered. This study concludes that the skill torefuse drugs tends to increase as the adolescents get older, and no significant relation between knowledge and skill to refuse drugs offered by sex and ages.AbstrakBerbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah remaja dari penggunaan narkoba, kendatipun evaluasi pengetahuan dan keterampilan remaja menolaknarkoba belum pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan pada 300 remaja, siswa kelas 7 atau setara usia 12-15 tahun di dua kota di Provinsi DaerahIstimewa Yogyakarta. Penelitian analitik bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan, keterampilan remaja menolak narkoba, dan hubungan keduanyadengan karakteristik remaja. Variabel yang diteliti adalah pengetahuan remaja tentang narkoba, keterampilan menolak narkoba, dan karakteristik remaja,yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner (self-reported questionnaire). Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson dan Spearman rho, dengantingkat signifikansi 95 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pengetahuan remaja tentang narkoba 66,39+17,48 dan nilai keterampilanmenolak narkoba 55,62+16,49 dengan nilai maksimun 100. Terdapat hubungan secara bermakna antara variabel pengetahuan dan keterampilan dengannilai p = 0,05. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterampilan menolak narkoba cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, namun tidak terdapathubungan bermakna antara karakteristik remaja (usia dan jenis kelamin) dengan pengetahuan tentang narkoba dan keterampilan menolak tawaran narkoba.