Dian Herawati
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan-FATETA-IPB

Published : 11 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Efikasi Fortifikasi Cookies Ubi Jalar untuk Perbaikan Status Anemia Siswi Sekolah

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selain suplementasi tablet besi, fortifikasi pangan lokal diperlukan sebagai alternatif program untuk perbaikan status besi. Tujuan penelitian ialah menguji efikasi fortififikasi cookies ubi jalar untuk peningkatan hemoglobin (Hb) pada siswi sekolah. Studi dilakukan dengan desain pre-post intervention study, yang melibatkan 74 siswi SMK Pelita Kabupaten Bogor. Studi dilaksanakan pada bulan Mei–Juli 2012. Cookies ubi jalar difortifikasi dengan 10,5 mg vitamin A, 42 μg vitamin B12, 1,25 g vitamin C, 2 mg asam folat, dan besi fumarat 150 mg per 100 g Cookies sebanyak 40 g diberikan seminggu tiga kali selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan kadar Hb rata-rata sebelum intervensi 13,4±1,4 g/dL. Setelah intervensi, terdapat perubahan kadar Hb 0,4±1,6 g/dL dan sebanyak 65,2% subjek mengalami kenaikan Hb. Kenaikan Hb ini tidak memengaruhi prevalensi anemia yang sedikit meningkat dari 10,8% menjadi 18,8% dan secara statistik tidak nyata (p>0,05). Simpulan, intervensi fortifikasi cookies ubi jalar selama dua bulan tidak menurunkan prevalensi anemia pada anak sekolah. Disarankan studi berikutnya untuk menambah waktu intervensi dan menggunakan indikator status besi lainnya. [MKB. 2013;45(4):206–12]Kata kunci: Anemia, cookies, fortifikasi, siswi, ubi jalarEfficacy of Fortified Sweet Potato Cookies for Improving Anemia Status in Female StudentsLocal food fortification for improving iron status is one of the alternative programs in addition to iron tablet supplementation. The objective of this study was to analyze the efficacy of fortified sweet potato cookies for improving hemoglobin (Hb) concentrations in female students. The pre-post intervention study was applied to 74 female students of SMK Pelita in Bogor District. The study was conducted from May to July 2012. The sweet potato cookies used were fortified with 10.5 mg vitamin A, 42 μg vitamin B12, 1.25 g vitamin C, 2 mg folic acid, and 150 mg iron fumarate per 100 g cookies. Subjects received 40 g cookies three times a week for two months. The average Hb concentration before intervention was 13.4±1.4 g/dL. After intervention, there was an increase in hemoglobin concentration (mean 0.4±1.6 g/dL). About 65.2% subjects experienced increase in their Hb concentration. However, after the intervention the anemia prevalence slightly increased from 10.8% to 18.8% although this increase is not statistically significant (p>0.05). In conclusion, fortified sweet potato cookies intervention for two months does not reduce anemia prevalence in female students. Further studies are required by extending intervention times and applying other indicators of iron status. [MKB. 2013;45(4):206–12]Key words: Anemia, cookies, fortification, schoolgirls, sweet potato DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n4.166

Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Menggambar Di Kelompok B TK PGRI Taripa

Bungamputi Vol 2, No 6 (2014)
Publisher : Bungamputi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.642 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Terdiri beberapa aspekperlakuan dan pengamatan utama yaitu peningkatan kraetivitas anak. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah kreativitas anak dapat ditingkatkan melalui kegiatan menggambar di kelompok B TK PGRI Taripa? Dan tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kraetivitas anak melalui kegiatan menggambar.Penelitian dilaksanakan di TK PGRI Taripa, melibatkan 15orang anak terdiri atas 8 orang anak laki-laki dan 7 orang anak perempuanyang terdaftar pada tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri atas dua siklus. Di mana pada setiap siklus dilaksanakan satu kali pertemuan di kelas dan setiap siklus terdiri empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data yang dikumpulkan melalui teknik obsevasi, wawancara, dan pemberian tugas kemudian dianalisis secara deskriptif dari data kualitatif dan kuantitatif. Data yang dikumpulkan sebelum tindakan pengamatan kreativitas anak dalam menggambar di kelas kategori Berkembang Berkembang sangat baik6,66%, Berkembang Sesuai Harapan 13,33%, Mulai Berkembang 26,66%, dan Belum Berkembang 53,33%, kemudian kreativitas anak mewarnai gambar dengan kategori Berkembang Berkembang sangat baik 0%, Berkembang Sesuai Harapan 13,33%, Mulai Berkembang 20%, Belum Berkembang 66,66%, dan pengamatan anak memberi judul gambar dengan kategori Berkembang Berkembang sangat baik6,66%, Berkembang Sesuai Harapan 6,66%, Mulai Berkembang 13,33%, Belum Berkembang 73,33%. Setelah dilakukan tindakan maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan menggambar dapat meningkatkan kraetivitas anak, terbukti ada peningkatan kraetivitas dari siklus I ke siklus II yang diamati dalam menggambar kategori berkembang sangat baik dan baik dari 53,33% menjadi 79,99% (26,66%), kraetivitas dalam mewarnai gambar kategori berkembang sangat baik dan baik dari 46,66% menjadi 80% (33,34%), kemudian yang terakhir pengamatan anak dalam memberi judul gambar kategori berkembang sangat baik dan baik dari 53,33% menjadi 86,66% (33,33%). Secara umum terjadi peningkatan dari semua kemampuan yang diukur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan kegiatan menggambardapat meningkatkan kreativitas anak di TK PGRI Taripa. Kata Kunci : Kreativitas,Kegiatan Menggambar

Purification of Egg White Lysozyme from Indonesian Kampung Chicken and Ducks

Media Peternakan - Journal of Animal Science and Technology Vol 38, No 1 (2015): Media Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.373 KB)

Abstract

Egg white lysozyme (EWL) has considerably a wide functional protein exhibiting antibacterial activity mainly against Gram-positive bacteria. The EWL is widely applied in food industry and is considerably safe. Despite its high potency, EWL of Indonesian poultry has never been studied and exploited. This study was aimed to purify EWL from two Indonesian poultry: kampung chicken and Cihateup duck, and compared to egg of commercial laying hens. The eggs in this study were obtained from field laboratory of Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University (IPB) and classified in AA quality based on the interior quality. First attempt to purify the EWL was performed by using ethanol precipitation yielding purified EWL which was still contaminated by other proteins, hence designated as partially purified EWL. Final concentrations of partially purified EWL of kampung chicken, commercial laying hens, and Cihateup duck were about 5800, 5400, and 5500 μg/mL, respectively. To confirm whether the use of ethanol in the purification affecting EWL antibacterial activities, the activities were examined against Staphylococcus aureus. It demonstrated that the partially purified EWL exhibited ability to inhibit S. aureus at 6 and 26 h suggesting that the method was feasible as it did not interfere EWL antibacterial activities. Yet, based on SDS-Page, purity was the issue in ethanol precipitation method. Further attempt using ion exchange chromatography at pH 10 successfully purified lysozyme as indicated by a single band corresponding to lysozyme size (~14 kD) free from bands of other proteins. Altogether, a single step of ion exchange chromatography is sufficient and promising to isolate EWL from Indonesian poultry for various industrial purposes.Key words: Indonesian poultry, lysozyme, egg, kampung chicken, Cihateup duck

Kesiapan Usaha Mikro Kecil Menengah Pangan dalam Penerapan ISO 9001:2008 (Studi Kasus di Palu, Sulawesi Tengah)

Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2016): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Small and Medium Industries of the Food (Food SME’s) needs to have SNI products to be competitive in the free market era. SNI certificate product can be provided by the certification body, on the condition that the industry has to implement ISO 9001. This activity aims to identify the readiness of small industries (food) to meet the clauses of ISO 9001 and assist them in improving the necessary documents. Activities carried out for 2 months with 24 samples of small industries (food) in Palu (Central Sulawesi) were selected purposively. The results showed that all the small industries yet to implement all aspects of GMP. Small industry best only meet 21% of the clauses of ISO 9001. Compliance with the clauses of ISO 9001 increased by between 4586% after mentoring.

Inisiasi Pengembangan Pemasaran Ikan Teri (Stolephorus Spp.) dan Pembentukan Kelembagaan dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat di Desa Saramaake, Halmahera Timur

Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2017): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the villages in East Halmahera which has been known as anchovy production area is Saramaake Village. Commonly, a community in this village has an income from the anchovy fishery. The product of the anchovy fish is high and various in size, while fish marketing increase and good institution did not establish yet. This activity has been done for 7 months from June 2016January 2017, aimed to improve the product marketing, and institution establishment through training and mentoring. According to the activity has been done, marketing of the dried anchovy which was marketed previously in big size (bulky), it can be marketed in small size with better packaging (100, 200, 500, and 1.000 g) and labelling, while the processed fish can be marketed also in packaging (100 g) and labelling. The institution has been established a namely cooperative small business group (KUB) both for fisherman and fish processing person. Through the marketing development and institution establishment, fishermen can manage their fish product better.

Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Pertumbuhan Fusarium verticillioides Bio 957 dan Produksi Fumonisin B1

Agritech Vol 35, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fusarium verticillioides was the predominant  species in producing fumonisin on agricultural products. Fumonisisn B1 (FB1) is the most abundant fumonisin in nature and the most toxic than other fumonisin. The main factors affecting the growth of   and production of fumonisin are temperature and humidity. This research aimed to assess the effect of changes in temperature and humidity on the growth of  and FB1 production on maize and soybeans medium. Maize and soybeans that have inoculated with suspension Bio 957 were incubated at 20, 30 and 40 °C with 70, 80 and 90% of humidity for 14 days. Observations of growth made by weighing the cells mass and analysis of FB1 production performed by HPLC. The results showed that the highest growth of   Bio 957 in maize and soybeans was occurred at temperature 30 °C and 90% of humidity, the cell mass weights were 904,5 and 885,5 mg per 20 g of maize and soybeans respectively. The highest concentration of FB1 in maize and soybeans were 374 and 67 pbb respectively, observed at temperature 30 °C for maize and 20 °C for soybeans, both at same humidity (90%). The results showed that   Bio 957 was able to grow well and produced the highest concentrations of FB1 in maize and soybeans at a temperature of 20 and 30 °C with 90% of humidity. At a temperature of 40 °C with 70, 80 and 90% of humidity, the growth of was not observed, therefore FB1 formation was avoided.ABSTRAKFusarium verticillioides adalah spesies  yang dominan dalam memproduksi fumonisin pada produk-produk pertanian. Fumonisin B1 (FB1) merupakan fumonisin yang paling banyak ditemukan di alam dan paling toksik dibandingkan jenis fumonisin lainnya. Faktor ekstrinsik utama yang mempengaruhi pertumbuhan  dan produksi FB1 adalah suhu dan kelembaban. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suhu dan kelembaban terhadap pertumbuhan  Bio 957 dan produksi FB1 pada media jagung dan kedelai. Jagung dan kedelai yang telah diiinokulasi dengan suspensi   Bio 957 diinkubasi pada suhu 20, 30 dan 40 °C dengan kelembaban 70, 80 dan 90% selama 14 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan penimbangan massa sel dan analisis konsentrasi FB1 dilakukan dengan HPLC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan  Bio 957 pada jagung dan kedelai paling tinggi terjadi pada suhu 30 °C dan kelembaban 90%, berat massa selnya yaitu 904,5 dan 885,5 mg per 20 g masing-masing jagung dan kedelai. Konsentrasi FB1 paling tinggi pada jagung dan kedelai masing-masing yaitu 374 dan 67 ppb, pengamatan pada suhu 30 °C pada jagung dan 20 °C pada kedelai, keduanya pada kelembaban yang sama (90%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa  Bio 957 mampu tumbuh dengan baik dan menghasilkan konsentrasi FB1 paling tinggi pada jagung dan kedelai pada suhu 20 dan 30 °C dengan kelembaban 90%. Pada suhu 40 °C dengan kelembaban 70, 80 dan 90%,  Bio 957 tidak menunjukkan adanya pertumbuhan, sehingga pembentukan FB1 dapat dihindari.

Pati Sagu Termodifikasi HMT (Heat Moisture-Treatment) Untuk Peningkatan Kualitas Bihun Sagu

Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7977.133 KB)

Abstract

Pati sagu alami mempunyai profil gelatinisasi tipe A (puncak viskositas tinggi yang diikuti oleh pengenceran cepat selama  pemanasan). Modifikasi pati sagu dengan metode HMT (heat-moisture treatment) dapat menggeser tipe gelatinisasi sagu menjadi tipe C (tidak mempunyai puncak viskositas dan tidak mengalami penurunan viskositas selama pemanasan) sehingga pati sagu termodifikasi yang diperoleh dapat diaplikasikan untuk produk bihun sagu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendapatkan kondisi HMT optimum untuk produksi pati sagu temodifikasi dengan gelatinisasi tipe e (2) memperoleh tingkat substitusi pati sagu temodifikasi yang menghasilkan bihun sagu dengan kualitas yang baik, Pati sagu diatur kadar airnya hingga mencapai 26-27%, kemudian dipanaskan pada suhu 110°C dengan berbagai waktu (4, 8 dan 16 jam) pada kondisi tidak dicuci dan dicuci terlebih dahulu , Terhadap pati sagu termodifikasi yang diperoleh dilakukan analisis profil gelatinisasi. Pati termodifikasi dengan profil gelatinisasi tipe e dikarakterisasi dan diformulasikan pada bihun sagu. Bihun sagu tersubstitusi dianalisis yang terdiri atas susut masak, lama pemasakan, tekstur dan kualitas sensori. Pati sagu termodifikasi HMT selama 4 jam dengan perlakuan pencucian memperlihatkan profil gelatinisasi tipe C serta mempunyai ukuran granula yang lebih besar, kekuatan gel yang lebih tinggi, derajat putih yang lebih rendah, sineresis yang lebih rendah, dan kandungan pati yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pati alaminya. Tingkat substitusi pati sagu termodifikasi HMT yang mencapai 50% dapat meningkatkan kualitas bihun sagu yaitu menurunkan lama pemasakan, meningkatkan kekerasan dan memperbaiki kualitas sensori (memperbaiki kekerasan, elastisitas, kelengketan dan penerimaan secara keseluruhan). Heat Moisture Treatment Modified Sago Starch For Quality Improvement Of Sago BihonNative sago starch has A type gelatinization profile (high peak viscosity and followed by fast thinning during heating). HMT (heat-moisture treatment) can alter the sago starch gelatinization profile from A type to e type (no peak viscosity and no breakdown during beating), so the modified sago starch can be used for bihon-type noodle. The objectives of this research were to: (1) obtain optimum condition of HMT to produce modified sago starch with C type gelatinization profile and (2) obtain modified sago starch substitution level to improve sago bihon-type noodle quality. Sago starch was adjusted to 26-27% moisture content and exposed to HMT at 110°C for various times (4.8 and 16 hours) with washing or without washing treatment. HMT modified sago starch was analyzed for gelatinization profiles. The modified starch with C type gelatinization profile was characterized and formulated into bihon-type noodle. HMT substituted bihun-type noodle was analyzed for cooking loss, cooking time, texture (texture analyzer method) and sensory quality. HMT sago starch with 4 hours at washing treatment showed e type pasting profile and larger granule size, larger gel strength, lower degree of whiteness, lower syneresis and lower starch content than those of native sago starch. The substitution of native sago starch with 50% HMT sago starch improved the characteristic of sago bihon-type noodle quality, i.e. lower cooking time, higher hardness and better sensory quality in term of hardness, chewiness, stickiness and overall acceptability.

Konseling ibu hamil dan penggunaan kontrasepsi pasca persalinan

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Lebih dari 95% ibu pasca persalinan ingin menunda kehamilan berikutnya atau tidak ingin hamil lagi namun tidak menggunakan kontasepsi sehingga terjadi unintended pregnancy yang berakhir pada kehamilan berisiko maupun unsafe abortion. Konseling tentang KB pada masa kehamilan dapat memenuhi kebutuhan kontrasepsi ibu pasca persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis pengaruh konseling KB menggunakan ABPK terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.Metode: Jenis penelitian eksperimen dengan desain randomized controlled trials. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Kota Yogyakarta. Sampel diperoleh secara acak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas berupa intervensi konseling KB menggunakan ABPK. Variabel terikat berupa penggunaan kontrasepsi pasca persalinan. Analisis bivariabel menggunakan uji chi square dengan signifikansi p-value < 0.05 dan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik. Hasil: Proporsi penggunaan kontrasepsi pasca persalinan pada kelompok intervensi lebih besar daripada kelompok kontrol dengan perbedaan prosentase 61%. Konseling menggunakan ABPK pada ibu hamil memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan (p<0.05) sedangkan umur, paritas, pendidikan, komunikasi suami-istri dan paparan informasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.Kesimpulan: Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) Ber-KB efektif memberikan pengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.

POLA PERTUMBUHAN ASPERGILLUS OCHRACEUS BIO 220 DAN PRODUKSI OKRATOKSIN A PADA JAGUNG DAN KEDELAI INVITRO (Growth Pattern of Aspergillus ochraceus and Ochratoxin A Production on Maize and Soybens invitro)

Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7102.991 KB)

Abstract

Kapang toksigenik Aspergillus ochraceus penghasil mikotoksin dapat menimbulkan masalah kesehatan bila mengkontaminasi bahan pangan seperti jagung dan kedelai. Pertumbuhan kapang A. ochraceus dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti perubahan suhu dan kelembaban. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perubahan suhu dan kelembaban terhadap pertumbuhan A. ochraceus dan jumlah okratoksin A yang diproduksinya. Aspergillus ochraceus BIO 220 di diinokulasikan pada media Potato Dextrose Agar (PDA), jagung dan kedelai, kemudian diinkubasi selama 20 hari pada tiga kondisi suhu (20, 30, 40 oC) dan tiga tingkat kelembaban (70, 80 dan 90%). Pertumbuhan miselium dan spora diamati setiap dua hari dan konsentrasi okratoksin A yang terbentuk dianalisis dengan RP-HPLC yang dilengkapi dengan fluorescence detector setelah 40 hari. Pertumbuhan kapang toksigenik A. ochraceus BIO 220 pada media laboratorium PDA, jagung dan kedelai optimal pada suhu 30 oC dan kelembaban 90%. Pembentukan okratoksin A optimum pada jagung dan kedelai yang dikontaminasi dengan A. ochraceus BIO 220 pada suhu 20 oC dan RH 80% masing-masing sebanyak 93 dan 45 ppb. Kapang A. ochraceus BIO 220 tidak dapat tumbuh pada jagung dan kedelai bila kondisinya ekstrim yaitu pada suhu 40°C dengan kelembaban 70, 80 dan 90 %.Kata kunci :Aspergillus ochraceus, kelembaban, okratoksin, suhuEnglish Version AbstractToxigenic fungi, Aspergillus ochraceus producing ochratoxin A can cause serious health problem if the fungi contaminated food product such as maize and soybean. A. ochraceus growth is affected by climate change including the change of temperature and relative humidity. This study was performed to evaluate the effect of temperature and relative humidity on A. ochraceus BIO 220 growth and its ochratoxin A production. Aspergillus ochraceus BIO 220 was inoculated in Potatoes Dextrose Agar (PDA) media, maize and soybean, then incubated at 3 different temperatures (20, 30, 40 oC) dan 3 different relative humidities (70, 80 dan 90%) for 20 days. Mycelium and spores were in observed every two days and the level of ochratoxin A was analyzed using RP-HPLC equipped by fluorescence detector after 40 days. Optimum growth for A. ochraceus BIO 220 in laboratory media, maize and soybean was at temperature 30 °C and relative humidity 90%, while the highest ochratoxin A level was reached in maize (93 ppb) and soybean (45 ppb) at temperature of 20 °C and 80 % relative humidities. Aspergillus ochracheus BIO 220 could not grow in maize and soybean media at extreme condition (temperature 40 °C and relative humidity 70, 80 dan 90 %).Keywords :Aspergillus ochraceus, ochratoxin, relative humidity, temperature

Efikasi Fortifikasi Cookies Ubi Jalar untuk Perbaikan Status Anemia Siswi Sekolah

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selain suplementasi tablet besi, fortifikasi pangan lokal diperlukan sebagai alternatif program untuk perbaikan status besi. Tujuan penelitian ialah menguji efikasi fortififikasi cookies ubi jalar untuk peningkatan hemoglobin (Hb) pada siswi sekolah. Studi dilakukan dengan desain pre-post intervention study, yang melibatkan 74 siswi SMK Pelita Kabupaten Bogor. Studi dilaksanakan pada bulan Mei–Juli 2012. Cookies ubi jalar difortifikasi dengan 10,5 mg vitamin A, 42 μg vitamin B12, 1,25 g vitamin C, 2 mg asam folat, dan besi fumarat 150 mg per 100 g Cookies sebanyak 40 g diberikan seminggu tiga kali selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan kadar Hb rata-rata sebelum intervensi 13,4±1,4 g/dL. Setelah intervensi, terdapat perubahan kadar Hb 0,4±1,6 g/dL dan sebanyak 65,2% subjek mengalami kenaikan Hb. Kenaikan Hb ini tidak memengaruhi prevalensi anemia yang sedikit meningkat dari 10,8% menjadi 18,8% dan secara statistik tidak nyata (p>0,05). Simpulan, intervensi fortifikasi cookies ubi jalar selama dua bulan tidak menurunkan prevalensi anemia pada anak sekolah. Disarankan studi berikutnya untuk menambah waktu intervensi dan menggunakan indikator status besi lainnya. [MKB. 2013;45(4):206–12]Kata kunci: Anemia, cookies, fortifikasi, siswi, ubi jalarEfficacy of Fortified Sweet Potato Cookies for Improving Anemia Status in Female StudentsLocal food fortification for improving iron status is one of the alternative programs in addition to iron tablet supplementation. The objective of this study was to analyze the efficacy of fortified sweet potato cookies for improving hemoglobin (Hb) concentrations in female students. The pre-post intervention study was applied to 74 female students of SMK Pelita in Bogor District. The study was conducted from May to July 2012. The sweet potato cookies used were fortified with 10.5 mg vitamin A, 42 μg vitamin B12, 1.25 g vitamin C, 2 mg folic acid, and 150 mg iron fumarate per 100 g cookies. Subjects received 40 g cookies three times a week for two months. The average Hb concentration before intervention was 13.4±1.4 g/dL. After intervention, there was an increase in hemoglobin concentration (mean 0.4±1.6 g/dL). About 65.2% subjects experienced increase in their Hb concentration. However, after the intervention the anemia prevalence slightly increased from 10.8% to 18.8% although this increase is not statistically significant (p>0.05). In conclusion, fortified sweet potato cookies intervention for two months does not reduce anemia prevalence in female students. Further studies are required by extending intervention times and applying other indicators of iron status. [MKB. 2013;45(4):206–12]Key words: Anemia, cookies, fortification, schoolgirls, sweet potato DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n4.166