Meita Hendrianingtyas
Unknown Affiliation

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

HUBUNGAN DURASI DAN FREKUENSI BERMAIN VIDEO GAME DENGAN MASALAH MENTAL EMOSIONAL PADA REMAJA

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kemajuan teknologi dan akses yang mudah, membuat jumlah waktu anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu untuk bermain video game semakin meningkat. Terdapat berbagai dampak positif maupun negatif yang berkaitan dengan bermain video game. Salah satu dampak yang dapat diakibatkan oleh bermain video game adalah masalah kesehatan jiwa seperti masalah mental. Penelitian mengenai pola bermain video game dengan masalah mental emosional penting dilakukan untuk deteksi dini guna mencegah terjadinya keterlambatan penanganan.Tujuan: Menganalisis hubungan durasi dan frekuensi bermain video game dengan gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, masalah hubungan antar sesama, dan perilaku prososial pada remajaMetode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan studi belah lintang (cross sectional). Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 3 Semarang usia 13-15 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner Strength Difficulties Questionnaire (SDQ), kuesioner karakteristik responden, dan lembar data pemain video game. Uji hipotesis korelasi antara durasi dan frekuensi bermain video game dengan masalah mental emosional dianalisis dengan uji korelasi Gamma Somers’d.Hasil: Jumlah sampel penelitian adalah 99 subjek. Rerata durasi bermain video game adalah 10,54±9,99 jam per minggu dengan nilai minimal 20 menit dan maksimal 56 jam. Rerata frekuensi bermain video game adalah 3,47±1,84 kali per minggu dengan nilai minimal 1 kali dan maksimal 7 kali.Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara frekuensi bermain video game dengan masalah mental emosional pada masalah perilaku remaja usia 13 – 15 tahun (r=0,272 ; p=0,017)

HUBUNGAN PERILAKU BERISIKO DENGAN INFEKSI HIV PADA ANAK JALANAN DI SEMARANG

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Anak jalanan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang rentan terinfeksi HIV. Penelitian di berbagai negara menunjukkan tingginya angka infeksi HIV pada anak jalanan dilatarbelakangi oleh kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku berisiko terinfeksi HIV seperti seks bebas, penggunaan NAPZA suntik, tato, dan tindik. Jawa Tengah merupakan provinsi dengan jumlah anak jalanan terbanyak keempat di Indonesia. Semarang, sebagai ibu kota Jawa Tengah, memiliki jumlah anak jalanan yang cukup besar dan rentan melakukan perilaku berisiko terrinfeksi HIV.Tujuan Menganalisis hubungan perilaku berisiko dengan infeksi HIV pada anak jalanan di SemarangMetode : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah anak jalanan usia 11 – 18 tahun yang beraktivitas di kawasan pusat Kota Semarang. Pengambilan data dengan wawancara kuesioner kepada sampel penelitian dan hasil pemeriksaan HIV dengan metode Rapid test strategi IIIHasil : Anak jalanan usia 11 – 18 tahun yang beraktivitas di pusat Kota Semarang memiliki perilaku berisiko terinfeksi HIV yaitu penggunaan tato sebanyak 48,8% dan sebanyak 60,0% nya menggunakan jarum yang tidak steril, penggunaan tindik sebesar 85,4% dan sebesar 71,4% menggunakan jarum tindik yang tidak steril, penggunaan NAPZA suntik sebanyak 4,9% dan sebanyak 50,0%-nya menggunakan jarum suntik yang tidak steril, serta hubungan seksual sebesar 39,0% dan sebesar 62,5%-nya tidak pernah menggunakan kondom. Hasil pemeriksaan HIV pada seluruh sampel penelitian ini non reaktif.Kesimpulan : Perilaku berisiko terinfeksi pada anak jalanan cukup tinggi. Tidak didapatkan hasil reaktif pada pemeriksaan HIV sehingga tidak dilakukan analisis secara statistik mengenai hubungan perilaku berisiko dengan infeksi HIV pada anak jalanan.

PENGARUH PEMBERIAN RINGER ASETAT MALAT DAN RINGER LAKTAT TERHADAP KADAR BASE EXCESS PASIEN OPERASI BEDAH SESAR DENGAN ANESTESI SPINAL

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Pemberian cairan ringer laktat sering dikaitkan dengan kejadian asidosis. Keadaan asidosis dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah yang akan memperburuk keadaan hipotensi. Kejadian asidosis dapat dicegahmelalui pemberian cairan yang sesuai dengan konsentrasi plasma tubuh. Ringer asetat malat memiliki kandungan asetat dan malat untuk mencegah asidosis. Keadaan asam basa dapat dilihat melalui pemeriksaan sederhana BGA yang dapat dilihat dari kadar base excess.Tujuan : Meneliti perbedaan perubahan kadar base excess antara preload 20cc/kgBB ringer laktat dengan preload 20cc/kgBB ringer asetat malat.Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif analitik dengan metode belah lintang. Sampel diambil secara purposive sampling dan didapatkan data catatan medis 15 orang dengan ringer laktat sebagai cairan preload dan data catatan medis 15 orang dengan ringer asetat malat sebagai cairan preload dan menjalani operasi bedah sesar dengan anestesi spinal pada bulan September – Oktober 2013. Digunakan uji T - tidak berpasangan untuk analisis statistik.Hasil : Perbedaan perubahan kadar base excess sebelum dan sesudah pemberian preload kelompok yang menggunakan ringer laktat 1,50 +1,577. Perbedaan perubahan kadar base excess sebelum dan sesudah pemberian preload kelompok yang menggunakan ringer asetat malat 1,28+ 1,688 dengan nilai kemaknaan (p>0,05).Kesimpulan : Perbedaan perubahan kadar base excess pada pemberian ringer laktat dan ringer asetat malat sebagai cairan preload tidak memiliki kemaknaan yang bermakna secara statistik.

HUBUNGAN GANGGUAN TIDUR TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA REMAJA USIA 12-15 TAHUN DI SEMARANG: STUDI PADA SISWA SMP N 5 SEMARANG

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Learning is an important thing for students as it can result in a change which can be assessed by the result of the study namely academic performance. Sleep disturbance occur very often in adolescents and it is one of the factors that can influence academic performance.Aim: To analyze the relation between sleep disturbance and academic performance in students aged 12-15 years in SMP N 5 Semarang.Methods: Observational analytic study with cross sectional design was conducted on students of SMP N 5 Semarang during April to June 2015. The Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) questionnaire filled out by parents. Academic performance were taken from school database. The data obtained were analyzed using bivariate Chi-square test.Results: The whole subject amounting to 140 people consisted of 45 male students and 95 female students. A total of 109 (77.86%) students had sleep disturbance. Most are in the age distribution of 14 years amounting to 122 students (87.14%). Statistical test results did not showed significant differences between sleep disturbance and academic achievement of math (p=0,919), science (p=0,655), Indonesian (p=0,946), and English (p=0.295).Conclusions: There is no relation between sleep disturbance and academic performance in students adolescents aged 12-15 years in SMP N 5 Semarang.

PREVALENSI GANGGUAN TIDUR PADA REMAJA USIA 12-15 TAHUN : Studi pada Siswa SMP N 5 Semarang

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Sleep disorders caused adolescents growth and development problems. Disorders in the amount, quality and timing of sleep assessed sleep disorders. Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) questionnaires used to screening method sleep disorders. Data on the prevalence of sleep disorders has not been found in Indonesia.Aim: To determine the prevalence of sleep disorders in adolescents aged 12-15 years public junior high school 5 Semarang.Methods: Descriptive study with 122 subjects students public junior high school 5 Semarang during the months from April to June 2015. Data collection using SDSC questionnaires filled out by parents and their children.Results: The prevalence of sleep disorders in adolescents aged 12-15 years public junior high school 5 Semarang 81,1 %. Sleep-wake transition disorders 43,4 %, initiating and mainntaining sleep disorder 35,2 %, arousal disorders 24,6 %, excessive somnolence disorders 23 %, hyperhidrosis 4,1 %, sleep breathing disorders 3,3 %.Conclusion: Adolescents aged 12-15 years at public junior high school 5 Semarang have many sleep disorders. Sleep-wake transition disorders are the largest type of sleep disorder.

KARAKTERISTIK DASAR PASIEN SEPSIS YANG MENINGGAL DI ICU RSUP DR.KARIADI SEMARANG PERIODE 1 JANUARI – 31 DESEMBER 2014

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Sepsis is a leading cause of admission and death in ICU. It is important to know the basic characteristics of sepsis patients who die in ICU as an information to improve the comprehensive management of sepsis.Aim: The purpose of this study is to describe the basic characteristics of sepsis patients who died in Dr.Kariadi General Hospital ICU from January 1st – Desember 31st 2014.Methods: The study design is a descriptive study. Data were collected from medical record of sepsis patients who died in ICU from January 1st – Desember 31st 2014.Results: The majority of 77 patients suffered from sepsis who died in ICU were females (53.2%), 32 patients (41.5%) were in <44 years old age group, 32 patients (41.5%) already had sepsis on ICU admission, 57 patients (74%) were admitted in ICU for less than 7 days. The most frequent microorganisms found in blood cultures were Staphylococcus aureus and Staphylococcus haemolyticus (3 cases each). The source of infection of 58 patients (75.3%) were lungs. Twenty two patients (28.5%) had 20-24 APACHE II score range. Twenty cases (19.5%) had pneumonia as comorbid. The most medical intervention given to patients was mechanical ventilator (67.9%). The most common antibiotics used were ceftriaxone (43.4%).Conclusion: Most frequent microorganisms found in blood cultures of sepsis patients in ICU were Staphylococcus aureus and Staphylococcus haemolyticus. The most frequent source of infection were lungs. The most frequent APACHE II were in 20-24 score range. The most frequent comorbid was pneumonia. The most frequent medical intervention was mechanical ventilator installation. The most frequent antibiotic used were ceftriaxone.

PERBEDAAN KADAR MALONDIALDEHIDA PADA SUBYEK BUKAN PEROKOK, PEROKOK RINGAN DAN SEDANG-BERAT

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Merokok merupakan problem kesehatan yang besar pada remaja. Perokok dapat dibedakan dalam beberapa kategori menurut intensitasnya, yaitu bukan perokok, perokok ringan, dan perokok sedang-berat. Merokok akan menimbulkan peningkatan stres oksidatif melalui kandungan karsinogen, radikal bebas serta ROS pada fase gas dan partikulat asap rokok. MDA adalah sebuah biomarker stres oksidatif yang mudah diukur serta merepresentasikan tingkat stres oksidatif yang terjadi karena merokok.Tujuan : Membuktikan perbedaan kadar MDA serum pada subyek bukan perokok, perokok ringan dan perokok sedang-berat.Metode : Penelitian deskriptif analitik dengan desain belah lintang. Sampel sebanyak 36 mahasiswa Universitas Diponegoro yang dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan intensitas merokok menurut Sitepoe, yaitu kelompok bukan perokok, perokok ringan dan perokok sedang-berat. Kadar MDA serum diukur menggunakan metode TBARS secara spektrofotometrik. Uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA dan Post-Hoc Bonferroni.Hasil : Kadar MDA serum rerata pada kelompok bukan perokok sebesar 11,46 ± 0,393 nmol/mL, kelompok perokok ringan 11,57 ± 0,948 nmol/mL, dan kelompok perokok sedang-berat 12,76 ± 1,18 nmol/mL. Uji Post Hoc Bonferroni menunjukkan kadar MDA berbeda pada kelompok bukan perokok dan perokok sedang-berat (p=0,006) serta kelompok perokok ringan dan sedang-berat (p=0,009). Tidak terdapat perbedaan kadar MDA serum antara kelompok bukan perokok dan perokok ringan (p=1,000).Kesimpulan : Terdapat perbedaan kadar MDA serum antara perokok ringan dan perokok sedang-berat serta bukan perokok dan perokok sedang-berat. Tidak terdapat perbedaan kadar MDA serum antara kelompok bukan perokok dan perokok ringan.

PERBEDAAN EFEKTIVITAS HATHA YOGA DAN TAI CHI TERHADAP KEBUGARAN KARDIORESPIRASI DAN KONDISI INFLAMASI PADA PENDERITA PPOK

Media Medika Muda Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Gangguan kebugaran kardiorespirasi penderita PPOK dan meningkatnya keadaan inflamasi pada penderita PPOK akan menyebabkan penurunan kualitas hidup bagi penderita PPOK. Latihan pernafasan berupa Hatha Yoga dan Tai Chi merupakan bentuk latihan pernafasan yang terbukti manfaatnya pada penderita gangguan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efektivitas Hatha Yoga dan Tai Chi terhadap kebugaran kardiorespirasi dan kondisi inflamasi pada penderita PPOK.Metode: Penelitian berdesain randomized controlled pre and post experimental, dilakukan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang, dengan subyek 11 penderita PPOK di BKPM Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I berjumlah 5 orang diberi intervensi latihan Hatha Yoga 3 kali/ minggu selama 6 minggu, kelompok II berjumlah 6 orang diberi intervensi latihan Tai Chi 3 kali/ minggu selama 6 minggu. Kedua kelompok dilakukan pemeriksaan uji jalan 6 menit/ 6 MWT (6 minute walk test) dan pemeriksaan jumlah leukosit dan neutrofil sebelum dan setelah 6 minggu perlakuan.Hasil: Rerata VO2 max kelompok I dan II adalah 8,22± 1,24 dan 9,12 ± 1,62. Tidak didapatkan perbedaan VO2 max sebelum dan setelah latihan pada kelompok I dan II dengan p=0,33 dan p=0,78. Rerata jumlah leukosit dan neutrofil pada kelompok I dan II adalah 7.700 ± 2.137, 8.400 ± 2.520, 4.561 ± 2.069 dan 6.079 ± 1.823/ mm3. Tidak didapatkan perbedaan jumlah leukosit dan neutrofil sebelum dan setelah latihan pada kelompok I dan II dengan p=0,63 dan p=0,097.Simpulan: Tidak didapatkan perbedaan efektivitas Hatha Yoga dan Tai Chi terhadap kebugaran kardiorespirasi dan kondisi inflamasi pada pasien PPOK. Kata kunci: Hatha Yoga, Leukosit, Neutrofil, PPOK, Tai Chi, Uji jalan 6 menit

Effect of Zinc and Iron Supplementation on Appetite, Nutritional Status and Intelligence Quotient in Young Children

The Indonesian Biomedical Journal Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.17 KB)

Abstract

BACKGROUND: Lack of appetite in young children leads to growing incidences of physical and mental growth disorders. Supplementation of certain micronutrients can increase appetite and improve nutritional status. This study aims to analyze the effects of zinc and iron supplementation on appetite, nutritional status and intelligence quotient (IQ) in young children.METHODS: An experimental study withrandomized control group pre/post-test design was conducted in Semarang, Indonesia. A total of 68 children were divided into four groups. The first group was the control group, which was given a placebo; the second group was given a zinc supplement at 10 mg/day; the third group was given an iron supplement at 7.5 mg/day; andthe fourth group was given zinc and iron for three months. Appetite was assessed based on eating frequency and energy intake. Nutritional status was assessed by weight per age (W/A) and height per age (H/A) z score. IQ score was assessed based on Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI).RESULTS: Before intervention, low zinc intake was observed in 27.7% of the subjects and low iron intake was observed in 58.5% of them. After intervention, appetite in the second and fourth groups increased. W/A z score increased in the second and third groups. IQ score increased in the third group. No significant effect on H/A z score was observed in all groups.CONCLUSION: Supplementation of zinc and iron for three months had a positive effect on appetite, body weight and IQ score but no significant effect on body height.KEYWORDS: appetite, zinc, iron, growth

PENGARUH LATIHAN FLEKSI DAN EKSTENSI LUMBAL TERHADAP FLEKSIBILITAS LUMBAL PADA DEWASA MUDA

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.44 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kebiasaan duduk yang salah dan terlalu lama saat perkuliahan pada mahasiswa menyebabkan kekakuan punggung bawah yang mengakibatkan nyeri, untuk mencegahnya diperlukan program back exercises. Metoda back exercise yang sering digunakan adalah Williams’ flexion dan McKenzie exercises. Belum diketahui mana yang lebih efektif untuk meningkatkan fleksibilitas lumbal. Fleksibilitas lumbal dapat diukur dengan Modified modified schober test. Metode: Penelitian eksperimen pada 30 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama dengan intervensi Williams’ dan kelompok kedua dengan McKenzie. Pengukuran fleksibilitas secara manual sebelum dan sesudah intervensi menggunakan MMST. Analisis data dengan SPSS. Hasil: Rerata MMST fleksi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams’ dan McKenzie mengalami peningkatan. Rerata MMST ekstensi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams’ mengalami penurunan, sedangkan pada perlakuan McKenzie mengalami peningkatan. Terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis MMST pada kedua perlakuan( Williams’ p=0,000; McKenzie p=0,000). Nilai rerata selisih MMST fleksi dan ekstensi pada perlakuan Williams’ dan McKenzie adalah 1,74 ± 1,18 dan -0,02 ± 1,31 serta 1,65 ± 0,78 dan 0,91 ± 1,46. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis selisih MMST fleksi dan ekstensi pada kedua perlakuan (p=0,823;dan p=0,051) Simpulan: Williams’ flexion exercises, dan McKenzie exercises dapat meningkatkan fleksibilitas lumbal tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua perlakuan tersebut.Kata Kunci : Latihan back exercise, Williams’ flexion, McKenzie extension, MMST