Djeni Hendra
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Jl.Gunung Batu No. 5 Bogor 16610, Tlp./Fax: (0251) 8633378/8633413

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

KARAKTERISASI STRUKTUR NANO KARBON DARI LIGNOSELLULOSA Pari, Gustan; Santoso, Adi; Hendra, Djeni; Buchari, Buchari; Maddu, Akhirudin; Rachmat, Mamat; Harsini, Muji; Heryanto, Teddi; Darmawan, Saptadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan abad ini dan yang akan datang sudah memasuki teknologi nano. Di bidang hasil hutan, teknologi nano yang dapat dikembangkan di antaranya adalah nano karbon dari bahan berlignoselulosa. Tujuan penelitian ini adalah menyediakan informasi dan teknologi pengolahan arang sebagai bahan baku nano karbon dari bahan lignoselulosa. Bahan baku lignoselulosa yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu jati, dan bambu yang dikarbonisasi pada suhu 400-500°C menggunakan kiln drum, arang yang dihasilkan dimurnikan dengan jalan dipanaskan pada suhu 800°C selama 60 menit yang sebelumnya didoping dengan logam Zn, Ni dan Cu. selanjutnya dihaluskan menggunakan high energy mechanic (HEM) selama 48 jam. Arang dengan kristalinitas tinggi disintering menggunakan spark plasma pada suhu 1.300°C. Karbon yang dihasilkan diuji sktuktur dan sifatnya menggunakan Py-GCMS, SEM-EDX, XRD,dan sifat elektrik. Hasil penelitian menunjukkan struktur karbon yang terbaik dihasilkan dari arang jati yang dikarbonisasi pada suhu 800°C yang didoping dengan atom Ni pada perbandingan 1:5 yang menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 78,98% resistensi (R) 0,17Ω, konduktivitas 175,52 Ω-1m-1. Kualitas nano karbon setelah disintering derajat kristalinitasnya menjadi 81,87%, resistensi (R) 0,01Ω, dan konduktivitasnya sebesar 1067,26 Ω-1m-1. Nano karbon yang dihasilkan dapat dibuat sebagai biosensor, biobatere dan bioelektroda. Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.
KARAKTERISASI DAN PEMANFAATAN ASAP CAIR DARI TEMPURUNG BUAH BINTARO (Carbera manghas Linn.) SEBAGAI KOAGULAN GETAH KARET Hendra, Djeni; Waluyo, Totok K; Waluyo, Totok K; Sokanandi, Arya
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.445 KB)

Abstract

Asap cair adalah larutan hasil kondensasi dari pembakaran bahan baku yang mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin sehingga banyak mengandung senyawa yang bersifat sebagai antimikroba, antibakteri, dan antioksidan seperti senyawa asam organik dan turunannya. Tempurung buah bintaro merupakan limbah dari pengolahan minyak bintaro yang tidak dimanfaatkan. Penggumpalan getah karet umumnya menggunakan asam formiat atau asam cuka yang mahal dan kurang ramah lingkungan. Tempurung buah bintaro yang tidak dimanfaatkan dan mempunyai kandungan selulosa, hemiselulosa, dan lignin dibuat menjadi asap cair yang bersifat asam dan mampu menurunkan pH getah karet sehingga akan lebih cepat menggumpal. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan asap cair dari tempurung buah bintaro sebagai alternatif bahan koagulan getah karet. Pembuatan asap cair dilakukan dengan menggunakan kiln drum yang dimodifikasi dengan suhu 400 C selama 7 jam. Asap cair yang terbentuk dimurnikan dengan distilasi dengan suhu 200 C. Kemudian dianalisis kualitasnya asap cair yaitu kadar air, viskositas, berat jenis, pH, asiditas dan fenol. Aplikasi asap cair sebagai koagulan getah karet dilakukan dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, asap cair dari tempurung kelapa digunakan sebagai pembanding (5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lateks beku terbaik dihasilkan pada penggunaan konsentrasi tempurung bintaro 20%, dan waktu paling cepat pada konsentrasi asap cair tempurung kelapa 5%. Asap cair tempurung bintaro dapat digunakan sebagai koagulan getah karet akan tetapi tidak secepat asap cair tempurung kelapa dalam proses penggumpalannya.
PEMBUATAN BIODIESEL DARI BIJI KEMIRI SUNAN Hendra, Djeni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.439 KB)

Abstract

Ketersediaan bahan bakar minyak semakin menipis, oleh karena itu dibutuhkan bahan bakar alternatif. Biji kemiri sunan (Aleurites trisperma Blanco) merupakan salah satu bahan yang memiliki potensi cukup besar untuk dijadikan biodiesel, karena inti bijinya memiliki kandungan minyak mentah yang cukup tinggi yaitu sebesar 43,3%. Proses pembuatan biodiesel dilakukan secara laboratorium dengan tujuan untuk menetapkan kondisi optimum. Penambahan katalis H3PO4 (proses degumming) sebesar 0,5%, 0,75%, 1%, perlakuan esterifikasi menggunakan campuran katalis metanol sebesar 10%, 15%, 20% dengan HCl, dan H2SO4 sebesar 0,5%, 0,75% dan 1%. Pada perlakuan transesterifikasi digunakan campuran katalis metanol sebesar 10%, 15%, 20% dengan KOH dan NaOH sebesar 0,2%, 0,4%, 0,6%. Hasil yang optimum akan diterapkan pada pembuatan biodiesel skala besar. Pembuatan biodiesel dari minyak biji kemiri sunan, mutunya sudah sesuai dengan persyaratan ketentuan standar biodiesel (SNI-2006) dengan menggunakan campuran metanol 20% (v/v) dan katalis NaOH 0,6% (b/v), menghasilkan nilai kadar air sebesar 0,05%, bilangan asam 0,76 mg KOH/g, kadar asam lemak bebas 0,38%, densitas 865 kg/m3, viskositas kinematik pada suhu 40°C 5,41 mm2/s (cSt), bilangan penyabunan 101,49 mg KOH/g, kadar alkil ester 104,55% massa, bilangan Iod 109,73 g I2/100.
PEMANFAATAN LIMBAH TEMPURUNG KEMIRI SUNAN (Aleuriteus trisperma) SEBAGAI BAHAN BAKU PADA PEMBUATAN ARANG AKTIF Hendra, Djeni; Gusti, R. Esa Pangersa; Komarayati, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.289 KB)

Abstract

Arang adalah suatu bahan padat yang berpori-pori dan merupakan hasil pembakaran dari bahan yang mengandung unsur karbon (C). Arang dapat digunakan selain untuk  bahan baku pada pembuatan baterai, briket arang, dan arang kompos, juga dapat diolah lebih lanjut menjadi arang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk membuat arang aktif dari bahan baku limbah tempurung kemiri sunan, menentukan kondisi optimum dalam pembuatan arang aktif dan sifat fisiko-kimianya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempurung kemiri sunan dapat dibuat arang aktif dengan kualitas sebagai berikut: daya jerap terhadap larutan iodin berkisar antara 138,46–768,31 mg/g, daya jerap terhadap benzena 2,99-21,37%, dan daya jerap terhadap biru metilena berkisar antara 18,239-260,237 mg/g. Kondisi optimum pembuatan arang aktif dihasilkan pada suhu 850 oC yang direndam dalam larutan H3PO4 10% dengan waktu aktivasi uap air panas selama 90 menit, menghasilkan daya jerap iodin dan daya jerap biru metilena yang memenuhi persyaratan arang aktif teknis dalam SNI nomor 06-3730-1995.
REKAYASA PEMBUATAN MESIN PELET KAYU DAN PENGUJIAN HASILNYA Hendra, Djeni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 2 (2012):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan bakar berbasis fosil untuk masa yang akan datang jumlahnya akan semakin menurun. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan bahan baku lain yang sifatnya dapat diperbaharui yaitu biomas yang berasal dari tumbuhan. Biomas merupakan sumber energi terbarukan yang sifatnya serbaguna karena dapat menghasilkan bahan bakar untuk pemanas, listrik dan transportasi. Biomas dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar akan tetapi karena sifat fisiknya yang rendah seperti kerapatan massa yang kecil dan permasalahan dalam penanganan, penyimpanan dan transportasinya sehingga perlu dilakukan upaya pemadatan massa kayu dengan dibuat produk pelet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat mesin pelet kayu dan pengujian kualitas pelet kayu yang dihasilkannya. Mesin pelet kayu yang dibuat berkapasitas 2,67 kg/jam dengan spesifikasi jumlah lubang cetakan dibuat dengan ukuran Ø 15 mm dan panjang 110 mm. Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan pelet kayu adalah serbuk gergaji kayu jati (Tectona grandis), akasia (Acacia auriculiformis) dan sengon (Paraserianthes falcataria) dengan kehalusan 60 dan 80 mesh yang kemudian diolah pada suhu masing-masing 150, 180 dan 250 °C. Mutu pelet kayu yang diuji meliputi penetapan kadar air, abu, zat terbang, nilai kalor, kerapatan dan keteguhan tekan. Pelet kayu yang terbaik dihasilkan dari serbuk gergaji kayu jati dengan kehalusan 80 mesh dihasilkan dari suhu kempa 250 °C yaitu menghasilkan kerapatan sebesar 0,82 g/cm3 , keteguhan tekan 387,64 kg/cm , nilai kalor 4961,51 kal/g, kadar air 0,98% abu 0,93%, zat terbang 80,63%. Dalam satu jam dihasilkan 2,67 kg pelet kayu dengan energi listrik yang terpakai sebanyak 2,55 kWh. 
PEMANFAATAN ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) UNTUK BAHAN BAKU BRIKET SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Hendra, Djeni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.2.189-210

Abstract

Eceng gondok merupakan komoditi perairan yang memiliki nilai selulosa yang tinggi, penanganan pasca panen eceng gondok yang mudah dan hasilnya bermanfaat juga bernilai ekonomis tinggi diperlukan agar eceng gondok tidak merusak ekosistem perairan. Pembuatan briket dari bahan baku eceng gondok merupakan salah satu solusi untuk memanfaatkan eceng gondok. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kadar perekat optimum briket eceng gondok dan mengetahui jenis briket eceng gondok yang terbaik untuk dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif.
KARAKTERISTIK BIO-OIL DARI RUMPUT GELAGAH (Saccharum spontaneum Linn.) MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS CEPAT Wibowo, Santiyo; Hendra, Djeni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 4 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1784.787 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2015.33.4.347-363

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi teknik pembuatan bio-oil dan sifat fisiko kimianya dari bahan baku rumput gelagah (Saccharum spontaneum Linn.) dengan menggunakan pirolisis cepat dengan alat free fall pyrolisis. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah suhu pirolisis yaitu 550 oC and 600 oC)  dan ukuran bahan yaitu 20, 40 and 60 mesh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen liquid (cairan) tertinggi diperoleh dari rumput gelagah pada ukuran 40 mesh dengan suhu 550oC yang menghasilkan cairan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dengan karakteristik sebagai berikut; rendemen liquid 30,88%, kadar fenol 7,58%, pH 2,62, bobot jenis 1,1108 g/cm3, nilai kalor 25,29 MJ/kg dan daya nyala lambat. Bio-oil yang dihasilkan didominasi oleh asam asetat,  fenol dan 1-hydroxy 2-propanone.  
PENINGKATAN MUTU ARANG AKTIF KULIT KAYU MANGIUM Pari, Gustan; Hendra, Djeni; Pasaribu, Ridwan A.
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.499 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.214 - 227

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu aktivasi, waktu aktivasi dan konsentrasi asam fosfat (H,PO,) terhadap hasil dan mutu arang aktif yang dihasilkan. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retor yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 750 dan 850°(dengan lama waktu aktivasi 90, 120 dan 150 menit Bahan pengaktif yang digunakan adalah larutan asam fosfat (H,PO,) dengan konsentrasi 0,0 dan 5,0%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang yang diaktivasi pada suhu 750°C selama 90 menit dengan konsentrasi H,PO, sebesar 5 %. Pada perlakuan ini rendemen yang dihasilkan sebesar 43,56%, kadar air 5,44%, kadar abu 8,01 %, kadar zat terbang 11,40%, kadar karbon terikat 80,60%, daya serap terhadap benzena 18,60% dan dengan daya serap terhadap yoclium sebesar 912,6 mg/g. Nilai daya serap yang diperoleh ini memenuhi syarat Standar asional Indonesia dan dapat digunakan untuk menjernihkan air
PEMANFAATAN ARANG AKTIF CANGKANG BUAH BINTARO (Cerbera manghas) SEBAGAI ADSORBEN PADA PENINGKATAN KUALITAS AIR MINUM Hendra, Djeni; Wulanawati, Armi; Gustina, Kamela; Wibisono, Heru Satrio
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1611.092 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2015.33.3.181-191

Abstract

Biji buah bintaro banyak digunakan sebagai bahan baku alternatif dalam pembutatan biodiesel sehingga akan menghasilkan limbah berupa cangkang buah bintaro. Pada penelitian ini, limbah tersebut akan dijadikan bahan baku alternatif untuk pembuatan arang aktif. Pengaktifan dilakukan dengan 2 faktor yaitu aktivasi kimia (konsentrasi H3PO4) dan laju alir uap air panas (hot steam). Sebagai indikator kualitas arang aktif dilakukan karakterisasi berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 06-3730-1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif yang sesuai SNI adalah arang aktif yang diaktivasi menggunakan H3PO4 15% dengan laju alir uap air panas selama 90 menit dengan kadar air 9.98%, kadar zat terbang 9.16%, kadar abu 12.45%, kadar karbon terikat 78.4%, daya serap iod 784.498 mg/g, daya serap benzena 17.73 %, dan daya serap biru metilena 127.705 mg/g. Mekanisme adsorpsi sesuai isoterm adsorpsi Langmuir dengan linearitas 0.9691. Arang aktif terbaik adalah yang dapat menurunkan kadar Fe sampai 100% dan Mn  86.94%.
PENGARUH LAJU ALIR UDARA, FAKTOR UDARA DAN SUHU TERHADAP KOMPOSISI GAS Hendra, Djeni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 6 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1992.10.6.189-196

Abstract

The  result of gasification study using Albazia falcataria and  Eucalyptus deglupte wood is reported  in this paper,  using fluidized bed system   with an  air flow rate  varied  between   2,8  -  4.0  m3/hr.  air factor   between  0.22  -  0.34   and  bed  temperature    ranging  from 742 - 895ᵒC.The aim of the  study  is to  obtain   the best  treatment   is the  proses of fluidized bed.  The  result  shows that the gascous product (%.  Volume ) for  Albazia falcateria Varies from 51.81 -  61.94 %  (N2),  0.16-0,75  %  (O2), 13.52- 19.13  %  (CO2),  10.05 -  13.00  % (CO) , 4.19  - 6.41  %  (H2) ,  2. 2 7 -  5. 87  %  (CH4).   The figures  for   Eucalyptus deglupta were  54. 55  -  58; 06  %  (N2)  , 0.14  - 0. 18  % O2), 16.09-   18.81   % (COz), 11. 22 - 13.06  % (CO) , 7. 72 - 9. 73 (H2),  3.83 - 4.93  %  (CH4).in addition   C2H4 and C2H6 gas  were produced  in small  quantity from   each  species.