0
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Hemera Zoa
Articles
17
Documents
Berbagai siput sebagai inang antara cacing trematoda echinostoma revolutum di Bogor, Jawa Barat : 2. indoplanorbis exustus

Hemera Zoa Vol 76, No 1 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.996 KB)

Abstract

Infeksi mirasidia Echinostoma revolatum pada siput Indoplanorbis exustus yang dipelihara di laboratorium tidak menghasilkan larva infektif metaserkia. Sedangkan dari siput Indoplanorbis exustus yang dikoleksi dari sawah di desa Sindang Barang diperoleh larva infektif metaserkia. Kecocokan siput Indoplanorbis exustus sebagai inang antara Echinostoma revolutum berturut-turut 0.00% pada kondisi laboratorium dan 30.47% pada kondisi alamiah.Metaserkia asal infeksi alamiah yang dikumpulkan dari siput Indoplanorbis exustus dan infeksi pada ayam menghasilkan cacing dewasa Echinostoma revolutum. Pada ayam perlakuan, rataan total infektivitas metaserkia hasil infeksi alamiah mencapai 4.67%

Infektivitas berbagai derajat kematangan proglotida cacing pita hymenolepis diminuta (Rudolphi). 2. Pada Tikus Putih Rattus sp

Hemera Zoa Vol 77, No 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.477 KB)

Abstract

Lima kelompok tikus putih Ratus sp. yang masing-masing terdiri dari tiga ekor diinfeksi per-oral dengan 2-5 sistiserkoid Hymenolepis diminuta yang diperoleh dari 5 kelornpok Tribolium castaneum yang telah diinfeksi dengan lima macam derajat kematangan proglotida Hymenolepis diminuta (Percobaan 1).Untuk melihat perbedaan pengaruh berbagai derajat kematangan proglotida digunakan analisis ragam yang dilanjutkan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan serta AnalisisRegresi. Infektivitas sistiserkoid H. diminuta pada tikus putih tidak berbeda nyata antar kelompok segmen atau tidak banyak dipengaruhi oleh derajat kernatangan proglotida.

Sistisekrosis pada Babi di Bali

Hemera Zoa Vol 75, No 3 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7677.81 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap 5630 ekor babi yang dipotong di Rumah Potong Hewan Denpasar. Tujaun penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi sistiserkosis dan beberapa aspek epidemiologi yang mendukung kejadian tersebut.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tujuh ekor (0.012%) babi terinfeksi Cysticercus cellulosae. Infeksi ini hanya ditemukan pada babi-babi lokal yang dipelihara secara tradisional. Sedangkan C. tenuicollis ditemukan pada 932 ekor babi (16.5%), Infeksi ini terdapat baik pada babi-babi lokal persilangan maupun pada babi-babi yang berasal dari Jawa. Prevalensi pada babi asal Bali (18.1%) sangat nyata lebih tinggi (P < 0.01) dibandingkan dengan prevalensi pada babi asal Jawa (6.3%). Prevalensi pada babi-babi lokal persilangan asal Bali (19.42%) juga berbeda sangat nyata (P< 0.01) dengan prevalensi pada babi ras asal Bali (8.77%).Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa faktor epidemiologi lainnnya yang berpengaruh terhadap kejadian tersebut adalah akibat sistem pemeliharaan ternak dan sanitasi lingkungan asal babi yang terinfeksi masih kurang baik. 

Terameres Americana pada ayam buras di Medan Sumatera Utara

Hemera Zoa Vol 77, No 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.359 KB)

Abstract

Dari 96 ekor ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitarnya untuk keperluan suwai cacing parasitik terdapat 34 ekor (35,42%) diantaranya terinfeksi cacing gilik Tetrameres americana pada lambung kelenjar (provenhiculus) dengan jumlah cacing yang berkisar antara 4 - 47 ekor dengan rataan 4,5 cacing betina per ayam. Cacing-cacing tersebut berbentuk bundar, yang masih segar berwarna merah cerah seperti darah segar. Ekstrimitas anterior menjulur keluar sepanjang 1 mm. Pada mulut terdapat 3 .bibir kecil, diikuti rongga mulut dan usofagus narnpak sepanjang bagian anterior yang menjulur. Ekstrimitas posterior menjulur sekitar 800 µm. Panjang cacing 3,5 - 4,5 µm dengan rataan 3,98 µm dan lebar 3 - 4 mm dengan rataan 3,53 µm. Badannya mempunyai 4 alur longitudinal. Uterus dan ovarium banyak dan panjang berliku- liku. Vulva terdapat pada bagian posterior. Telur berbentuk oval, panjangnya antara 45 - 52,56 µm dengan rataan 46,5 µm, lebar antara 22,5 - 40 µm dengan rataan 25,25 µm dan sudah mengandung larva saat dikeluarkan. Laporan ini merupakan yang pertama untuk pulau Sumatra.

Kemungkinan Kehadiran Sistiserkus/cacing taenia saginata taiwanensis di Bali

Hemera Zoa Vol 76, No 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.611 KB)

Abstract

Telah dilakukan suatu penelitian pendahuluan untuk mengetahui kemungkinan adanya sistiserkus atau cacing Taenia saginata taiwanensis di Bali. Pengamatan dilakukanterhadap adanya infeksi sistiserkus secara alami pada hati 638 ekor babi yang dipotong di RPH Denpasar , dari bulan Juni sampai Juli 1993.Bintik-bintik kecil kekuningan atau putih susu, yang diduga merupakan kista T.s. taiwanensis, ditemukan pada 146 hati babi (22,88%). Setiap hati yang terinfeksi mengandung 1 - 6 kista, yang menyebar secara acak di masing-masing lobus. Kebanyakan kista yang ditemukan telah mengalami degenerasi (66.43%) atau kalsifikasi (32.8%). Satu kista mature yang ditemukan (0.7%) dari hati yang positif, ternyata mengandung skoleks taenia yang diperlengkapi dengan kait-kait. Temuan ini menunjukkan kemungkinan adanya sisteserkus cacing Ts. taiwanensis di Bali sebab hati babi bukanlah tempat predileksi utama sistiserkus cacing Taenia solium.

Hymenolepis cantaniana pada ayam buras di Medan Sumatera Utara

Hemera Zoa Vol 76, No 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.729 KB)

Abstract

Dari 96 ekor ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitamya untuk keperluan survai cacing parasitik ternyata tiga ekor (3,125%) diantaranya mengandung cacing pita kecil di dalam usus halus dalam jumlah yang sangat banyak. Cacing- cacing tersebut berwarna putih, agak transparan, berukuran panjang 8-20 mm, rataan 15.4± 3.31 mm (SD). Skoleks berukuran panjang 135-180 um dengan rataan 143 ± 12.19 um, lebar 120-150 um dengan rataan 130± 9.91 um tanpa kait-kait. Lubang genital unilateral, terletak diantara anterior dengan pertengahan segmen. Kantung sirus relatif besar dibanding dengan segmen. Di dalam segmen gravid terdapat kantung-kantung telur. Telur berdiameter 45 mm, berbentuk bundar seperti bola, diselubungi tiga membran dan sudah mengandung larva saat akan dikeluarkan. Dari ciri-ciri tersebut disimpulkan cacing ini termasuk jenis Hymenolepis cantaniana. Ini merupakan laporan penemuan pertama kali jenis cacing pita tersebut pada ayam (buras) di Indonesia.

Taksiran kerugian produksi daging akibat infeksi cacing saluran pencernaan pada sapi ongole Indonesia

Hemera Zoa Vol 74, No 1 (1991): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One hundred and ten males of Ongole cattle were recorded for their carcass weights at slaugter and their faccal samples were assayed for worm eggs. Significant negative correlation (r) with determination coefficient (r2) 0.2754 was found between the numbers of worm eggs in the faeces and the cattle carcass weight 151.5 kg were found infected with nematodes only, worm eggs.

Pengaruh getah papaya (Carica papaya) terhadap infektivitas telur ascaridia galli dewasa in vitro

Hemera Zoa Vol 74, No 3 (1991): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.571 KB)

Abstract

Indonesia sangat kaya akan sumber daya obat yangberasal dari alam yang sampai saat ini belum seluruhnya diteliti dengan tuntas untuk dapat memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria bahan obat yang dapat menjamin kebenaran khasiat, keamanan dan mutu obat yang dapat digunakan untuk pengendalian penyakit baik untuk manusia ataupun ternak.Soekaryo (1989) berpendapat sampai saat ini kebanyakan pemanfaatan obat bahan alam di Indonesia masih tradisional alam arti pemakaiannya terutama sebagai obat tradisionil atau jamu yang masih jarang dan belum diterima oleh para tenaga kesehatan dan institusi kesehatan sebagai obat pada pelayanan kesehatan formal.

Gongylonema ingluvicola ransum, 1904 pada ayam buras di Medan Sumatera Utara

Hemera Zoa Vol 77, No 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.757 KB)

Abstract

Dari 96 ekor sampel ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitarnya untuk keperluan survai cacing parasitik ditemukan 42 ekor (43,75%) diantaranya mengandung cacing Gongylonema ingluvicola di dalam temboloknya. Cacing ini ditemukan pada sampel ayam buras dari semua lokasi yang disurvai dengan rataan derajat infeksi 14 ekor cacing per ayam. Cacing ini membentuk rangkaian lipatan-lipatan pada mukosa yang agak teratur dan seragam, berupa terowongan yang melingkar-lingkar dan mengakibatkan penebalan mukosa tembolok ke arah lumen. Panjang cacing jantan antara 16 - 21 mm dengan rataan 19 mm dan diameter 225 - 255 µm; panjang cacing betina antara 31 - 54 mm dengan rataan 4 1,6 mm dan diameter 3 15 - 345 µm. Cacing jantan mempmyai ale (pelebaran kutikula ke arah lateral serupa sayap) pada sisi kiri dan kanan yang tidak simetris. Ale kiri disokong oleh 7 buah papila (tonjolan kutikula berbentuk duri) sedangkan ale kanan disokong oleh buah 5 papila. Pada cacing betina, vulvanya terletak di bagian posterior tubuh.   

An estimate of meat production loss in native chicken in Bogor and its surrounding districts due to gasterointestinal helminthiasis

Hemera Zoa Vol 74, No 3 (1991): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.264 KB)

Abstract

Among 78 native chicken from Bogor and its surrounding districts, only  4 (5.1%) with mean dressing weights of 1250 ± 29 g were free from parasiric worms. The other 74 chicken found infected with nematodes [mean nematode numbers (mn) = 24]. Cestodes (mc = 45) and trematodes (mt = 7). Single parasite class infections of nematode (mn = 18) and of trematode (mt = 96) were each one sample (1.3% with mws 1250 and 1180 g, respectively); single parasite class infections of cestode (mc = 47) were 15 (19.2% wit mw = 1145 g). Total single parasite class infections were 17 (21.8%). Mixed nermatode (mn = 29) + castode (mc = 50) were 41 (52,6%; mw = 1056 g), nematode (mn = 4) + trematode (mt = 28) were 2 (2.6% mw = 1225 g) and cestode (mc = 44) + trematode (mt = 6 - were 2 (2,6%; ws = 975 g). Total two parasite class infections were 45 (57.7%). Mixed infections of nematode (mn - 45) + cestode (mc = 44) + trematode (mt = 27) were 12 (15,4%; mw = 1034 g).