Aviep Hasworo P.W
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK MOBILITAS SUMBERDAYA PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN UNIVERSITAS DIPONEGORO TEMBALANG Hasworo P.W, Aviep; Setyono, Jawoto Sih
Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 4 (2014): Volume 3 No 4 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkaran perangkap kemiskinan suatu wilayah dapat semakin diperburuk dengan adanya kebocoran modal ke luar wilayah. Wilayah yang sudah lebih dulu maju dan semakin cepat perkembangan ekonominya, sedangkan wilayah yang terbelakang perkembangannya tetap lamban bahkan cenderung menurun. Fenomena migrasi adalah bentuk respons dari masyarakat karena adanya ekspektasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bemigrasi. Dengan kata lain, aliran sumberdaya desa-kota akan terus berlangsung sepanjang terjadi kesenjangan perkembangan desa-kota. Kesenjangan atau polarisasi desa kota yang semakin melebar di banyak wilayah yang sedang berkembang memperderas arus proses migrasi penduduk berlebihan dari perdesaan ke perkotaan. Interaksi antara Kota Semarang dengan daerah hinterland salah satunya yaitu adanya perpindahan sumberdaya manusia atau migrasi menuju Kota Semarang. Namun disisi lain, beberapa imigran tersebut tidak dibekali dengan keahlian khusus yang dapat diserap oleh dunia kerja formal. Dengan demikian, beban permasalahan yang ditampung oleh Kota Semarang menjadi bertambah dalam aspek ketenagakerjaan. Hal inilah yang menyebabkan para imigran tidak dapat diterima pada dunia kerja formal sehingga mereka mencari pekerjaan secara informal. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak berdatangan pendatang dari berbagai wilayah yang bekerja pada sektor informal di Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang. Pendatang tersebut datang dari berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, D.I.Yogyakarta, Kalimantan dan Sumatera. Aliran sumberdaya bahan baku mengalir dari perdesaan menuju perkotaan karena adanya rasio perbedaan harga komoditas yang lebih tinggi di kawasan perkotaan. Selain itu, aliran sumberdaya keuangan akan mengalir menuju perkotaan maupun perdesaan mengikuti banyaknya transaksi keuangan yang digunakan. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik mobilitas sumberdaya pada pedagang kaki lima di Kawasan Universitas Dipongoro Tembalang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui karakteristik mobilitas sumberdaya yang dapat dijelaskan melalui kasus pedagang kaki lima. Instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara singkat dan koesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab banyaknya pendatang yang bermigrasi ke Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang yaitu adanya faktor penarik dan pendorong migrasi, perbandingan harga komoditas dan aliran sumberdaya keuangan. Faktor pendorong migrasi tersebut seperti minimnya pendapatan ketika bekerja di daerah asal, kurangnya lapangan pekerjaan di daerah asal dan adanya dorongan dari keluarga untuk bekerja di Kota Semarang. Disisi lain, faktor penarik migrasi yaitu meliputi tingginya pendapatan bekerja di Kota Semarang, tingkat kehidupan yang lebih baik di Kota Semarang dan kondisi sarana dan prasarana yang lebih baik pada Kota Semarang. Selain itu, mobilitas sumberdaya bahan baku/mentah terjadi ketika adanya perbedaan rasio harga komoditas dimana harga komoditas di Kota Semarang lebih tinggi bila dibandingkan daerah asal responden. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan terjadi antarwilayah seiring adanya transaksi yang terjadi antara 2 wilayah. Berdasarkan hasil penelitian, diberikan saran untuk menangani masalah migrasi tersebut seharusnya Pemerintah memberikan keterampilan khusus untuk pedagang kaki lima sehingga dapat bekerja pada sektor formal. Selain itu, perlu adanya peningkatan harga jual komoditas di perdesaan agar tidak terjadi ketimpangan antara desa dengan kota. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan seharusnya terjadi adanya keseimbangan antara desa dengan kota agar tidak terjadi kesenjangan.
KARAKTERISTIK MOBILITAS SUMBERDAYA PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN UNIVERSITAS DIPONEGORO TEMBALANG Hasworo P.W, Aviep; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.8 KB)

Abstract

Lingkaran perangkap kemiskinan suatu wilayah dapat semakin diperburuk dengan adanya kebocoran modal ke luar wilayah. Wilayah yang sudah lebih dulu maju dan semakin cepat perkembangan ekonominya, sedangkan wilayah yang terbelakang perkembangannya tetap lamban bahkan cenderung menurun. Fenomena migrasi adalah bentuk respons dari masyarakat karena adanya ekspektasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bemigrasi. Dengan kata lain, aliran sumberdaya desa-kota akan terus berlangsung sepanjang terjadi kesenjangan perkembangan desa-kota. Kesenjangan atau polarisasi desa kota yang semakin melebar di banyak wilayah yang sedang berkembang memperderas arus proses migrasi penduduk berlebihan dari perdesaan ke perkotaan. Interaksi antara Kota Semarang dengan daerah hinterland salah satunya yaitu adanya perpindahan sumberdaya manusia atau migrasi menuju Kota Semarang. Namun disisi lain, beberapa imigran tersebut tidak dibekali dengan keahlian khusus yang dapat diserap oleh dunia kerja formal. Dengan demikian, beban permasalahan yang ditampung oleh Kota Semarang menjadi bertambah dalam aspek ketenagakerjaan. Hal inilah yang menyebabkan para imigran tidak dapat diterima pada dunia kerja formal sehingga mereka mencari pekerjaan secara informal. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak berdatangan pendatang dari berbagai wilayah yang bekerja pada sektor informal di Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang. Pendatang tersebut datang dari berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, D.I.Yogyakarta, Kalimantan dan Sumatera. Aliran sumberdaya bahan baku mengalir dari perdesaan menuju perkotaan karena adanya rasio perbedaan harga komoditas yang lebih tinggi di kawasan perkotaan. Selain itu, aliran sumberdaya keuangan akan mengalir menuju perkotaan maupun perdesaan mengikuti banyaknya transaksi keuangan yang digunakan. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik mobilitas sumberdaya pada pedagang kaki lima di Kawasan Universitas Dipongoro Tembalang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui karakteristik mobilitas sumberdaya yang dapat dijelaskan melalui kasus pedagang kaki lima. Instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara singkat dan koesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab banyaknya pendatang yang bermigrasi ke Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang yaitu adanya faktor penarik dan pendorong migrasi, perbandingan harga komoditas dan aliran sumberdaya keuangan. Faktor pendorong migrasi tersebut seperti minimnya pendapatan ketika bekerja di daerah asal, kurangnya lapangan pekerjaan di daerah asal dan adanya dorongan dari keluarga untuk bekerja di Kota Semarang. Disisi lain, faktor penarik migrasi yaitu meliputi tingginya pendapatan bekerja di Kota Semarang, tingkat kehidupan yang lebih baik di Kota Semarang dan kondisi sarana dan prasarana yang lebih baik pada Kota Semarang. Selain itu, mobilitas sumberdaya bahan baku/mentah terjadi ketika adanya perbedaan rasio harga komoditas dimana harga komoditas di Kota Semarang lebih tinggi bila dibandingkan daerah asal responden. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan terjadi antarwilayah seiring adanya transaksi yang terjadi antara 2 wilayah. Berdasarkan hasil penelitian, diberikan saran untuk menangani masalah migrasi tersebut seharusnya Pemerintah memberikan keterampilan khusus untuk pedagang kaki lima sehingga dapat bekerja pada sektor formal. Selain itu, perlu adanya peningkatan harga jual komoditas di perdesaan agar tidak terjadi ketimpangan antara desa dengan kota. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan seharusnya terjadi adanya keseimbangan antara desa dengan kota agar tidak terjadi kesenjangan.