Rum Hastuti
Chemistry Departement of Science and Mathematic Diponegoro University Jl. Prof. Soedartho, SH., Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, Tembalang Semarang

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

Amobilasasi Biomassa Chlorella Sp pada Silika Gel sebagai Adsorben Tembaga Hastuti, Rum; Gunawan, Gunawan
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 9, No 2 (2006): Volume 9 Issue 2 Year 2006
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.231 KB)

Abstract

Amobilisasi Biomassa Chlorella sp pada Silika gel sebagai adsorben, merupakan salah satu upaya untuk meningkatan kapasitas adsorpsi adsorben . Silika gel dan Biomassa Chlorella sp keduanya merupakan adsorben yang mempunyai keterbatasan kemampuan adsorpsin. Dengan melakukan amobilsasi Biomassa Chlorella sp pada silica gel diharapkan kesinergian sebagai adsorben dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi adsorben tersebut. Uji kapasitas adsorpsi diterapkan pada larutan tembaga (II) melalui beberapa parameter perlakuan, yaitu pH larutan, waktu kontak dan konsentrasi larutan tembaga (II). Dari hasil pengamatan diperoleh peningkatan kapasitas adsorpsi 5 kali lebih besar. Kapasitas adsorpsi maksimal adsorben biomassa chlorella sp teramobilisasi terjadi pada pH=5 dengan kapasitas adsorpsi 24,91 mg/g, sedangkan kapasitas adsorpsi maksimal biomassa chlorella sp tanpa amobilisasi pada silica gel hanya 23,58 mg/g. pada pH=4
Pengaruh Ligan NH3 pada Pengambilan Logam Tembaga dari Serpihan Sisa Produksi Kuningan Kabupaten Pati Secara Elektrolisis Hermayanti, Santi; Widodo, Didik Setiyo; Hastuti, Rum
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 2 (2011): Volume 14 Issue 2 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh ligan NH3 pada pengambilan logam tembaga dari serpihan sisa produksi kuningan Kabupaten Pati secara elektrolisis. Serpihan sisa produksi kuningan mengandung logam mayor yakni tembaga(Cu), seng(Zn), dan logam minor yakni Timbal(Pb), dan Timah (Sn). Penambahan ligan tertentu dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas endapan. Penelitian ini meliputi 3 langkah, yaitu destruksi serpihan sisa produksi kuningan, elektrolisis dan analisis dengan AAS. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan hasil destruksi serpihan kuningan yang diencerkan 1000 kali. Variabel penelitian ini adalah waktu elektrolisis yaitu 30, 60, 90, dan 120 menit pada sampel tanpa dan dengan penambahan NH3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat endapan 19,54 mg tanpa ligan NH3 dan 20,58 mg dengan ligan NH3 pada waktu elektrolisis 120 menit. Kemurnian endapan tembaga pada waktu elektrolisis 30 menit pada sampel tanpa penambahan NH3 adalah 62,80% dan dengan penambahan NH3 72,46%.
Ekstraksi dan Uji Kestabilan Zat Warna Betasianin dari Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) serta Aplikasinya sebagai Pewarna Alami Pangan Agne, Erza Bestari Pranutik; Hastuti, Rum; Khabibi, Khabibi
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 13, No 2 (2010): Volume 13 Issue 2 Year 2010
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit buah naga merupakan limbah hasil pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan, padahal kulit buah naga mengandung zat warna alami betasianin cukup tinggi. Betasianin merupakan zat warna yang berperan memberikan warna merah dan merupakan golongan betalain yang berpotensi menjadi pewarna alami untuk pangan dan dapat dijadikan alternatif pengganti pewarna sintetik yang lebih aman bagi kesehatan. Penelitian bertujuan untuk mengekstrak zat warna betasianin dari kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus) dan diaplikasikan sebagai pewarna alami pangan. Ekstraksi betasianin dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 80%. Parameter yang diterapkan pada penentuan kestabilan ekstrak yang diperoleh adalah pemanasan pada temperatur 25°C-100°C, variasi pH 2,5- 9,5, dan pembandingan dengan perlakuan pemanasan dan paparan cahaya matahari. Serbuk betasianin diperoleh dengan pengeringan ekstrak betasianin menggunakan metode freeze drying. Serbuk betasianin yang diperoleh diaplikasikan sebagai pewarna alami pangan, seperti yoghurt, es krim, dan adonan kue bolu. Pada uji kestabilan betasianin terhadap perubahan temperatur dan perubahan pH diperoleh warna betasianin paling stabil pada pH 4,5 dan pada temperatur di bawah 40°C. Ekstrak yang ditambahkan asam, stabil terhadap pemanasan dan paparan cahaya matahari. Serbuk betasianin dapat diaplikasikan sebagai pewarna alami pangan untuk makanan yang penyimpanannya dalam suhu rendah seperti es krim dan yoghurt.
Pemurnian NaCl dengan Penambahan Bahan Pengikat Impurities pada Garam Krosok dan Garam Kuwu dengan Rekristalisasi Secara Penguapan dan Penambahan Gas HCl Murni, Dewi Anggia; Gunawan, Gunawan; Hastuti, Rum
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 1 (2011): Volume 14 issue 1 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garam meja adalah aditif pokok yang digunakan untuk memenuhi makanan sehari-hari dan sebagai bahan baku industri. Pemisahan garam dari kotoran masih menjadi masalah terutama ion pengotor Ca2+ dan Mg2+. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan metode penguapan dan pengendapan dengan penambahan gas HCl pada pemurnian garam dan untuk mengetahui pengaruh penambahan amonium karbonat (NH4)2CO3 dalam penghilangan ion Ca2+ dan Mg2+ dalam pemurnian garam. Metode terbaik ditentukan dengan membandingkan hasil yang diperoleh antara metode penguapan garam dan metode pengendapan dengan penambahan gas HCl, yang sebelumnya telah direkristalisasi dengan menambahkan pengikat pengotor seperti CaO, Ba(OH)2 dan (NH4)2CO3. Penghilangan Ca2+ dan Mg2+ dilakukan dengan menambahkan (NH4)2CO3 dengan variasi volume 0,8; 1,6; 2,4; 3,2 dan 4 mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemurnian dengan metode penambahan gas HCl menghasilkan kadar NaCl yang lebih tinggi yaitu 99,52% (garam krosok) dan 99,25% (garam Bledug kuwu) sedangkan metode penguapan menghasilkan 98,53% (garam krosok) dan 98,70% (Bledug kuwu garam). Konsentrasi pengotor Ca2+ dan Mg2+ terendah diperoleh pada penambahan (NH4)2CO3 yaitu 3,2 ml 8,6 ppm (garam krosok) dan 9,04 ppm Ca2+ (garam Bledug kuwu). Konsentrasi Mg2+ adalah 5,6 ppm (garam krosok) dan 7,36 ppm (garam Bledug kuwu).
Pengaruh Jenis Mineral Lempung terhadap Kualitas Genteng Keramik Taslimah, Taslimah; Wibisono, Roy; Sriyanti, Sriyanti; Hastuti, Rum
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 5, No 2 (2002): Volume 5 Issue 2 Year 2002
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian jenis mineral dan komposisi kimia bahan baku genteng Soka Kebumen dan Mateseh Kendal serta uji sifat fisik genteng dari bahan baku tersebut. Analisis dilakukan dengan metoda difraksi sinar-X dan spektrofotometer serapan atom, uji sifat fisik genteng meliputi susut kering, susut bakar, kuat tekan dan peresapan air. Disimpulkan bahwa lempung Soka Kebumen terdiri dari monmorionit, kaolinit, anortit dan kwarsa sedang lempung Mateseh Kendal terdiri dari haloisit dan anortit. Jenis mineral lempung yang berbeda menghasilkan kualitas genteng yang berbeda. Genteng Soka Kebumen dengan campuran pasir kualitasnya paling baik.
Penentuan Bilangan Hidrophile-Lipophile Balance (HLB) Fosfolipida dari Buah Kelapa Hudiyanti, Dwi; Ariadi, Basuki; Hastuti, Rum
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 2, No 4 (1999): Volume 2 Issue 4 Year 1999
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penentuan bilangan HLB fosfolipida dari buah kelapa. Bilangan HLB ditentukan dengan metode Davies yang menghitung bilangan HLB dari bilangan HLB komponen-komponennya. Penelitian menunjukkan bahwa fosfolipida dalam buah kelapa adalah fosfatidiletanolamin dan fosfatidilserin dengan komponen asam lemaknya adalah asam palmitat, miristat, laurat, kaprilat dan kaprat. Dari perhitungan diperoleh bilangan HLB fosfatidiletanolamin adalah adalah antara 11,32-17,02 dan fosfatidilserin antara 13,42- 19,12. Bilangan ini menunjukkan bahwa kedua fosfolipida dari buah kelapa itu berpotensi untuk digunakan sebagai zat pengemulsi.
Pengaruh Konsentasi Kobalt Sulfat terhadap Persentase Hasil Elektrooksidasi Etanol Agronomianto, Gembong; Rahmanto, Wasino Hadi; Hastuti, Rum
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 3, No 3 (2000): Volume 3 Issue 3 Year 2000
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7392.764 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persentase etanol teroksidasi dan pengaruh variasi konsentrasi reagen redoks pada kondisi tegangan listrik, waktu elektrolisa, dan temparatur sel yang sama. Elektroda yang digunakan adalah timbal sebagai anoda dan kawat neklin sebagai katoda, dengan larutan kobalt sulfat sebagai reagen redoksnya. Dari hasil penelitian didapatkan etanol terelektrooksidasi menjadi karbondioksida dengan persentase etanol teroksidasi sekitar 0,13-2,27 %. Dari hasil variasi konsentrasi reagen redoks, yakni kobalt sulfat, semakin meningkat jumlah etanol teroksidasi.
Peran Adsorben Selulosa Tongkol Jagung (Zea mays) dengan Polivinil Alkohol (PVA) untuk Penyerapan Ion Logam Timbal (Pb2+) Martina, Dewi; Hastuti, Rum; Widodo, Didik Setiyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 3 (2016): Volume 19 Issue 3 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang peran adsorben selulosa tongkol jagung (Zea mays) dengan polivinil alkohol (PVA) untuk penyerapan ion logam timbal (Pb2+). Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengkarakterisasi adsorben tongkol jagung (TJ) dan tongkol jagung-PVA (TJ-PVA) serta menentukan kemampuan adsorben terhadap penyerapan logam Pb2+. Tahapan penelitian ini meliputi pembuatan, karakterisasi adsorben TJ dan TJ-PVA serta penentuan kemampuan menyerapan ion Pb2+ pada variasi waktu kontak 10-150 menit, konsentrasi 5-20 ppm, dan pH 1-6. Karakterisasi dengan FTIR menunjukkan adanya gugus utama selulosa yaitu OH. Hasil GSA menunjukkan adanya kenaikkan luas permukaan sebesar 21,57%, penurunan diameter pori rata-rata sebesar 68% dan penurunan volume pori total sebesar 60,30%. Adsorpsi Pb2+ terbaik oleh adsorben TJ diperoleh pada waktu kontak 90 menit, konsentrasi 5,79 ppm dengan Pb2+ teradsorpsi sebesar 83,37%, dan pH 5. Sedangkan untuk adsorben TJ-PVA, adsorpsi terbaik terjadi pada waktu kontak 60 menit, konsentrasi 5,79 ppm dengan Pb2+ teradsorpsi 66,88%, dan pH 5. Dapat disimpulkan bahwa adsorben TJ-PVA dapat digunakan sebagai adsorben ion logam.
Ekstraksi dan Uji Kestabilan Pigmen Betasianin dalam Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Serta Aplikasinya Sebagai Pewarna Tekstil Yulianti, Hera; Hastuti, Rum; Widodo, Didik Setiyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 11, No 3 (2008): Volume 11 Issue 3 Year 2008
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit buah naga merupakan limbah makanan yang belum dimanfaatkan dan dapat dijadikan sebagai sumber pigmen merah alami karena mengandung pigmen betasianin. Pigmen betasianin dapat diaplikasikan sebagai pewarna tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstrak pigmen betasianin dalam kulit buah naga dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 80% lalu ekstrak pigmen betasianin yang diperoleh diaplikasikan sebagai pewarna tekstil dengan proses pencelupan. Ekstrak pigmen betasianin dianalisis menggunakan spektrometri visible dan dilakukan uji kestabilan pigmen betasianin terhadap temperatur dan pH. Uji kestabilan terhadap temperatur dilakukan dengan variasi temperatur 25°C, 40°C, 60°C, 80°C and 100°C, sedangkan uji kestabilan terhadap pH dilakukan dengan variasi pH 2.5; 3.5; 4.5; 5.5; 6.5; 7.5; 8.5 and 9.5. Ekstrak yang diperoleh diuji kestabilannya dengan perlakuan pemanasan dan dipaparkan sinar matahari kemudian dilakukan penguapan pelarut dan ekstrak dapat diaplikasikan pada kain dengan metode mordanting dan pencelupan langsung. Hasil penelitian yang diperoleh adalah ekstrak pigmen betasianin dengan rendemen 3,735%. Ekstrak pigmen betasianin paling stabil pada temperatur 25°C dan pada pH 4,5. Ekstrak yang diperoleh stabil terhadap pemanasan dan paparan sinar matahari serta dapat diaplikasikan terhadap kain. Pigmen betasianin menimbulkan warna yang dapat menempel pada kain dengan baik.
Komparasi Metode Spektrometri Tampak dengan Spektrometri Serapan Atom pada Penentuan Kadar Aluminium dalam Antasida Aloysius, Mudji Triatmo Melkias; Nurmin, Marzuki; Hastuti, Rum; Gunawan, Gunawan
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 2, No 2 (1999): Volume 2 Issue 2 Year 1999
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan uji banding metode penentuan kadar aluminium secara spektrometri tampak dengan spektrometri serapan atom (SSA). Penentuan kadar aluminium secara SSA dilakukan dengan menganalisis larutan sampel secara langsung, sedangkan analisis secara spektrometri tampak dilakukan dengan perlakuan awal ekstraksi menggunakan pereaksi 8-hidroksikuinolin dalam kloroform. Absorbansi diukur dengan spektrometer ultra ungu-tampak pada panjang gelombang 408 nm. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi rata-rata secara SSA adalah 81,01 ± 0,95 ppm dan secara spektrometri tampak adalah 79,70 ± 1,64 ppm. Hasil uji t-student menyatakan bahwa teksperimen sebesar 0,86 lebih kecil daripada ttabel yang besarnya 2,31 untuk P = 95%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kedua metode tersebut tidak berbeda secara nyata.