Elis Hastuti
Pusat Litbang Permukiman Badan Litbang PU Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Kajian perencanaan ruang terbuka hijau(RTH) perumahan sebagai bahan revisi SNI 03-1733-2004

JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.

KAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI BIOFILTER SKALA KOMUNAL UNTUK MEMENUHI STANDAR PERENCANAAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK

JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ancaman pencemaran air limbah terhadap sumber air baku air minum dapat terus meningkat apabila upaya peningkatan akses sanitasi tidak diiringi dengan teknologi yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan teknologi pengolahan air limbah sistem biofilter, yang dapat diterapkan di kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan, muka air tanah tinggi, volume reaktor kecil serta mudah dalam pengoperasian karena lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Namun teridentifikasi kendala kendala dalam penerapan teknologi biofilter skala komunal, diantaranya umur pakai yang pendek, gangguan proses pengolahan dan efluen pengolahan belum dapat mencapai baku mutu yang dipersyaratkan. Pada tulisan ini, diuraikan kajian penerapan sistem biofilter skala komunal di beberapa kota, termasuk faktor faktor yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan sistem biofilter. Sampling penerapan biofilter komunal dilakukan secara purposif sesuai variasi sistem biofiter, kondisi lokasi dan pengelola, kemudian metoda deskriptif digunakan untuk evaluasi berdasarkan karakteristik tersebut. Desain unit proses biofilter dikaji berdasarkan penyisihan/penguraian bahan organik sebagai BOD, yang didekati dengan reaksi orde pertama kinetika plug flow. Hasil studi menunjukkan faktor faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem adalah desain unit proses, media biofilter, karakteristik influen, konsumsi pemakaian air, kapasitas pengolahan, media biofilter, proses pembentukan biofilm pada tahap pembibitan dan aklimatisasi, bahan dan konstruksi serta pengelolaan. Beberapa penerapan sistem biofilter yang memenuhi kriteria desain serta pengelolaan yang tepat, dapat menghasilkan air olahan sesuai Keputusan Menteri KLH no 112 tahun 2003 atau Perda terkait, serta berpotensi diolah kembali untuk daur ulang tertentu. Didalam penyusunan standar sistem biofilter perlu mempertimbangkan faktor faktor tersebut, terutama dalam memenuhi standar Pd. T-04-2005-C tentang Tata cara perencanaan dan pemasangan tangki biofilter pengolahan air limbah, Pd. T-02-2004-C, tentang Pengoperasian dan pemeliharaan instalasi pengolah air limbah rumah tangga dengan Tangki Biofilter serta RSNI tentang tata cara perencanaan pengolahan air limbah setempat.

PENDEKATAN SANITASI UNTUK PEMULIHAN KONDISI AIR TANAH DI PERKOTAAN STUDI KASUS : KOTA CIMAHI, JAWA BARAT

Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.313 KB)

Abstract

Peningkatan pemanfaatan air tanah dan sarana sanitasi setempat yang tidak dikelola di permukiman padat telah berdampak negatif terhadap sistem air tanah, dengan terjadi penurunan muka air tanah dan pencemaran air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh tingkat pemakaian air dan pengembangan pengelolaan air imbuhan di zona-zona pemanfaatan air tanah Cekungan Air Tanah (CAT) Bandung, khususnya di Kota Cimahi, Jawa Barat. Pengelolaan air imbuhan di permukiman perkotaan dapat dilakukan dengan pendekatan sanitasi, diantaranya melalui metoda resapan air tanah dari air hujan atau dari air olahan suatu instalasi pengolahan air limbah. Sehingga klasifikasi zona amanair tanah dapat berkelanjutan dan zona rawan atau kritis dapat dilakukan pencegahan dan penanganan di sumber imbuhan. Peresapan curah hujan buatan (artificial recharge) di zona-zona pemanfaatan air tanah dapat menghasilkan peningkatan sebesar 84,97 % dari jumlah total air yang teresapkan secaraalami. Sementara itu berkembangnya sanitasi on site dengan sistem cubluk, cenderung mencemari air tanah. Hal ini dapat dicegah dengan pengelolaan air limbah skala lingkungan, yang bertujuan menghasilkan air olahan yang dapat digunakan kembali atau untuk pengisian air tanah. Pengisian air tanah dari air olahan instalasi pengolahan air limbah skala lingkungan penting untuk mempertimbangkan ketersediaan lahan, kemudahan pengelolaan dan kesehatan masyarakat. Beberapa cara diantaranyadapat menerapkan beberapa tahap pengolahan dengan sistem biofilm, lahan basah buatan sistem aliran di bawah permukaan kemudian pengisian air tanah melalui filtrasi granular.Kata kunci : Air tanah, imbuhan, sanitasi , air hujan, air olahan

Daur Ulang Air Limbah Rumah Tangga Dengan Teknologi Biofilter dan Hybrid Constructed Wetland Di Kawasan Pesisir

Jurnal Permukiman Vol 8, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya daur ulang air limbah pada komunitas pesisir selain ditujukan untuk perlindungan lingkungan pesisir juga untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga terutama pada daerah rawan air, sehingga dapat mengurangi pemakaian air tanah dan ketergantungan pada sumber air regional yang ada diluar lokasi. Penelitian model fisik daur ulang air limbah ini dilakukan menggunakan metoda eksperimen skala lapangan dengan kapasitas pengolahan sekitar 20 m 3/hari. Air baku yang digunakan berasal dari efluen kolam anaerobik Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kesenden, Kota Cirebon. Ujicoba teknologi pengolahan dilakukan dengan penerapan sistem biofilm anaerobik (media jaring ikan dan batok kelapa) dan pengolahan lanjutan dengan hybrid constructed wetland/lahan basah buatan. Selanjutnya dilakukan pengolahan tersier dengan upflow saringan pasir lambat dan saringan karbon untuk mencapai penyisihan yang efektif dari organik, nutrien atau bakteri. Kualitas air daur ulang yang diperoleh dapat memenuhi standar United States Environmental Protection Agency (USEPA), menunjukkan nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) lebih kecil dari 10 mg/L dan kekeruhan lebih kecil dari 2 mg/L. Penerapan teknologi daur ulang yang efektif diharapkan dapat mendukung adaptasi wilayah pesisir dalam menghadapi masalah krisis air, pemenuhan kebutuhan non air minum, pengisian air tanah ataupun mengurangi kerusakan ekosistem akibat pembuangan air limbah yang tidak terkendali.

Potensi Ruang Terbuka Hijau dalam Penyerapan Co2 Di Permukiman Studi Kasus : Perumnas Sarijadi Bandung dan Cirebon

Jurnal Permukiman Vol 3, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi pembangunan perumahan di perkotaan yang sangat pesat cenderung meminimalkan  dan melakukan alih fungsi ruang terbuka hijau (RTH). Penghijauan diperlukan untuk  peningkatan kualitas ekosistem perkotaan, dengan menciptakan iklim mikro yang sehat dan nyaman melalui peningkatan luasan hijau sebagai penyerap emisi CO2 dan  polutan udara.Melalui  penelitian  perumahan berdasarkan karakter lokasi, aktivitas penduduk, dan  potensi pengembangan  RTH,  maka dilakukan pemilihan sampel  perumahan di Bandung dan Cirebon, yang  menunjukkan perbedaan karakteristik RTH. Pendekatan analisis untuk pengembangan RTH dilakukan  berdasarkan kebutuhan luasan hijau dan potensi penyerapan CO2. Di Perumnas Sarijadi, Bandung, menunjukkan tingkat penanaman tanaman dengan luas lahan hijau per rumah sekitar 2,46 m2/orang, dengan luas lahan hijau  di setiap rumah   berkisar antara 0-20 %. Sementara di Perumnas Burung-Gunung dan GSP mempunyai  tingkat luasan hijau  per rumah yaitu 1,02 – 1,84 m2/orang, dengan  prosentasi luas lahan hijau setiap rumah sekitar 0-20 %. Di lokasi RW 08 dan RW 09, Perumnas Gunung, saat ini RTH yang ada hanya 7 -10 % dari luas kawasan dengan luasan hijau sekitar 3,33 - 4,25 m2/orang. Untuk meningkatkan kualitas lingkungan  di permukiman, maka selain  peningkatan luasan hijau, juga diperlukan keanekaragaman sesuai  fungsi serapan, kondisi tanah, ataupun segi sosial. Penataaan bangunan dengan rumah susun harus mulai digalakkan sehingga untuk ruang terbangun yang dialokasikan 60 % di Perumnas Sarijadi agar  dapat mememuhi standar kebutuhan lahan hijau dengan minimum RTH sekitar 33 %. Sementara di Perumnas Gunung, penerapan konsep ‘roof garden’ atau penghijauan vertikal dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan lahan hijau penduduk dan penyerapan polutan kendaraan karena peningkatan luas RTH tidak mencukupi dari sisa lahan yang ada jika area terbangun dialokasikan 65 %, maka  kebutuhan RTH mencapai lebih dari 35 %. 

Pengembangan Proses pada Sistem Anaerobic Baffled Reactor untuk Memenuhi Bakumutu Air Limbah Domestik

Jurnal Permukiman Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The wastewater treatment  infrastructure had provided by the government mainly through  application of communal wastewater treatment plant (WWTP).  The  treatment process  of communal WWTP  applied  generally  anaerobic system, such as Anaerobic Baffled Reactor (ABR) technology, but most of  treated water  do not meet effluent standard. This paper aims to research the characteristics of the organic removal and treatment upgrading process in the communal ABR system, including process modification or combination with other system. Research carried out in several communal WWTP  has applied since the year 2012-2013 in Cimahi City, West Java. Method of evaluation was conducted in the WWTP management through observation of  serviced community, operation and maintenance,  water quality test both physically and chemicaly. Method of qualitative descriptive  for analysis factors affecting the process performance of ABR and  potential process upgrading of  ABR system according to characteristic of ABR system. The organic removal in ABR system  is influenced by the management, existence of pra treatment unit,  acclimatization process, water consumption and environment of serviced area. Upgrading process of ABR system  can be performed by modification of baffle design, start-up process, maintenance biomass,  hybrid system, recirculation systems and application of  further treatment. The   review these alternative of ABR upgrading process are important in the ABR planning standard  to achieve   treated water  meet effluent standard.

Pemanfaatan Adsorben Nata De Coco untuk Pengolahan Air Tercemar Logam Berat Cu, Cd, dan Cr Skala Laboratorium

Jurnal Permukiman Vol 9, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak sumber air yang sudah tercemar logam berat menjadikan masyarakat tidak dapat memanfaatkan air sesuai peruntukannya. Kajian ini adalah mengenai pengolahan air tercemar logam berat tembaga (Cu), kadmium (Cd), dan kromium (Cr) skala laboratorium dengan menggunakan adsorben nata de coco. Metode analisis dengan menggunakan spektroskopi serapan atom (SSA), fourier transform infra red (FTIR), dan scanning electron microscopy (SEM). Hasil analisis FTIR gugus yang berpengaruh terhadap proses penyerapan logam adalah gugus fungsi C-O dan C-N amina. Hasil analisis SEM menunjukkan visualisasi nyata penyerapan logam berat oleh adsorben nata de coco. Analisis data efisiensi penyerapan dilakukan dengan membandingkan kadar logam pada influen dan efluen. Efisiensi penyerapan berupa penurunan konsentrasi. Logam berat tembaga (Cu), kromium (Cr) dan kadmium (Cd) dapat diikat oleh adsorben Ata de coco. Penurunan untuk logam tembaga, kadmium dan kromium oleh nata de coco berturut-turut mencapai 56,48%, 88,82%, dan 86,58%.