Hasratuddin Hasratuddin
Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

PERMASALAHAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA

PYTHAGORAS: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4, No 1: Juni 2008
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Matematika adalah ilmu deduktif yang mengacu pada sistem aksiomatik dan taat azas serta memiliki objek yang abstrak yaitu berupa objek langsung dan objek tak langsung. Matematika merupakan suatu sarana yang dapat menumbuh kembangkan pola pikir logis, sistematis, kritis, objektif, rasional dan taat azas. Secara umum pekerjaan dalam matematika adalah menunjukkan dan membuktikan suatu kebenaran. Dengan keabstrakan objek dalam matematika, maka suatu hal yang wajar apabila dalam memahami suatu konsep dalam matematika akan memerlukan suatu analisis yang lebih dibanding dengan ilmu lain, dan kerap sekali siswa akan menemui kesulitan.Kata kunci : matematika, deduktif, abstrak, pandangan, berguna

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK

Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Program studi magister Pendidikan Matematika FKIP Unsri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan  pendekatan matematika realistik dengan pembelajaran biasa. Jenis penelitian adalah quasi-ekperimen. Populasi penelitian adalah siswa SMP di Kota Medan, dengan sampel siswa kelas VIII yang diambil secara acak kelas dari seJkolah peringkat tinggi, sedang dan rendah berdasarkan perolehan nilai Ujian Nasional Tahun 2008 yang dikeluarkan Diknas. Instrumen penelitian terdiri dari tes berpikir kritis matematika bentuk uraian. Analisis data dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif, Mann-Whitney U, uji-T, ANOVA dan  uji Post Hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa antara yang diberi pendekatan matematika realistik dengan pembelajaran biasa, 2) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan peringkat sekolah, 3) terdapat  perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan gender, 4) tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan peringkat sekolah terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, 5) tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan gender terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, dan 6) siswa memiliki respon yang positif terhadap pembelajaran matematika realistik. Secara umum, melalui pembelajaran matematika realistik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan demikian, yang menjadi saran atas hasil penelitian ini adalah pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik dapat diimplementasikan dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan tidak harus membedakan peringkat sekolah dan gender. Kata kunci: berpikir, kritis, pembelajaran, matematika, realistik

PERBEDAAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIS ANTARA SISWA KELAS HETEROGEN GENDER DENGAN KELAS HOMOGEN GENDER MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DI MTs KOTA LANGSA

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 7, No 1 (2014): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menelaah perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan  masalah dan  kemampuan komunikasi matematis antara siswa kelas heterogen gender dengan kelas  homogen gender yang diajarkan melalui model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) di MTs Kota Langsa dan  pengaruh antara  kemampuan  pemecahan  masalah, komunikasi matematis siswa terhadap hasil  belajar  matematik  siswa. Penelitian ini  merupakan penelitian quasi eksperimen. Populasi  penelitian ini adalah seluruh siswa MTs Kota Langsa. Kemudian dipilih secara acak dua sekolah, seterusnya dari masing-masing sekolah dipilih satu  kelas yaitu sekolah heterogen gender dan sekolah homogen gender, yaitu kelas heterogen gender sebagai kelas ekperimen I dan kelas homogen gender sebagai kelas ekperimen II, kedua kelas diberikan  model pembelajaran yang sama yaitu model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Instrumen yang digunakan terdiri dari: tes kemampuan pemecahan masalah matematis, tes kemampuan komunikasi matematis dan tes hasil belajar matematika siswa. Instrumen tersebut dinyatakan telas memenuhi syarat validitas isi, serta koefisien reliabilitas sebesar 0,77, untuk kemampuan pemecahan masalah, 0,869 untuk kemampuan komunikasi matematis, dan  0,877 untuk tes hasil belajar matematik. Analisis data dilakukan dengan uji statistik uji-t, uji Mann Whiney, dan uji korelasi bivariat. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh hasil penelitian yaitu terdapat perbedaan  peningkatan kemampuan pemecahan  masalah dan  kemampuan komunikasi matematis antara siswa kelas heterogen gender dengan kelas  homogen gender yang diajarkan melalui model pembelajaran berbasis masalah (PBM) di MTs Kota Langsa. Temuan penelitian merekomendasikan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang digunakan di sekolah dan dibentuknya kelas homogen gender utamanya untuk mencapai kompetensi berpikir tingkat tinggi.

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN DISPOSISI MATEMATIK SISWA SMA DI KECAMATAN MEDAN AREA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GRUP INVESTIGASI (GI)

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 7, No 2 (2014): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menelaah: (1) perbedaan  peningkatan komunikasi matematik antara  siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa, (2) perbedaan peningkatan disposisi matematik antara  siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa. (3) interaksi antara pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematik. (4) interaksi antara pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap peningkatan disposisi matematis siswa. (5) bagaimana proses jawaban siswa. Penelitian ini merupakan penelitian semi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Muhammadiyah  01 Medan dan SMA Al-Ulum Medan. Secara acak, dipilih dua kelas dari masing-masing sekolah yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan terdiri dari: tes kemampuan komunikasi matematik dan skala disposisi matematik. Analisis data dilakukan dengan uji t dan anava dua jalur. Hasil penelitian ini adalah: (1) Peningkatan kemampuan komunikasi matematik yang memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi lebih baik dibandingkan siswa yang menggunakan pembelajaran biasa, (2) Tidak terdapat peningkatan disposisi matematik siswa antara siswa yang memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi dan siswa yang menggunakan pembelajaran biasa(3) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap kemampuan komunikasi siswa, (4) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap peningkatan disposisi matematis siswa.

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN DISPOSISI MATEMATIK SISWA SMA DI KECAMATAN MEDAN AREA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GRUP INVESTIGASI (GI)

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 7, No 1 (2014): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menelaah: (1) perbedaan  peningkatan komunikasi matematik antara  siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa, (2) perbedaan peningkatan disposisi matematik antara  siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa. (3) interaksi antara pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematik. (4) interaksi antara pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap peningkatan disposisi matematis siswa. (5) bagaimana proses jawaban siswa. Penelitian ini merupakan penelitian semi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Muhammadiyah  01 Medan dan SMA Al-Ulum Medan. Secara acak, dipilih dua kelas dari masing-masing sekolah yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan terdiri dari: tes kemampuan komunikasi matematik dan skala disposisi matematik. Analisis data dilakukan dengan uji t dan anava dua jalur. Hasil penelitian ini adalah: (1) Peningkatan kemampuan komunikasi matematik yang memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi lebih baik dibandingkan siswa yang menggunakan pembelajaran biasa, (2) Tidak terdapat peningkatan disposisi matematik siswa antara siswa yang memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe grup investigasi dan siswa yang menggunakan pembelajaran biasa(3) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap kemampuan komunikasi siswa, (4) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan awal (KAM) siswa terhadap peningkatan disposisi matematis siswa.

Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Dan Kemandirian Belajar Siswa Smp Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah

Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif Vol 5, No 2 (2014): Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif
Publisher : Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Sema

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian kuasi eksperimen ini untuk mengetahui: (1) perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang diberi pembelajaran langsung; (2) interaksi pembelajaran  dengan kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa; (3) perbedaan peningkatan kemandirian belajar siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang diberi pembelajaran langsung; (4) interaksi pembelajaran dengan kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemandirian belajar siswa. Populasinya adalah seluruh siswa SMP Swasta Ar-rahman Percut dan sampelnya adalah siswa kelas VIII  sebanyak 60 orang. Instrumen yang digunakan terdiri dari tes kemampuan berpikir kritis matematis dan skala kemandirian belajar. Data dianalisis dengan uji ANAVA dua jalur. Dari hasil analisis diperoleh: (1) peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada yang diberi pembelajaran langsung; (2) tidak terdapat interaksi antara  pembelajaran dengan kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis; (3) peningkatan kemandirian belajar siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada yang diberi pembelajaran langsung (4) tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemandirian belajar.Kata Kunci:   Berpikir Kritis Matematis, Kemandirian Belajar ABSTRACTThe purposes of this research were to know: (1) The difference of improvement in mathematical critical thinking ability of students that given problem-based learning  with students that given direct learning; (2) The interaction between the model of learning with students’ mathematical previous knowledge toward the improvement in mathematical critical thinking ability; (3) The difference of improvement in self-regulated learning of students that given problem-based learning with students that given  direct learning; (4) The interaction between the model of learning with students’ mathematical previous knowledge toward the improvement in self-regulated learning. The population of this research is all students of SMP Swasta Ar-rahman Percut and the sample of this research is grade eight with taken sample two classes (experiment and control) with sample 60 students. The instrument of this research were: test of mathematical critical thinking and scale of self-regulated learning. Based of the results analysis, it showed that: (1) Improvement of the students’ ability in mathematical critical thinking that given problem-based learning was higher than the students’ ability that given direct learning; (2) There did not exist interaction between model of learning and students’ mathematical previous knowledge toward the improvement ability mathematical critical thinking; (3) Improvment  of the students’ self-regulated learning that given problem-based learning was higher than the students’ ability that given direct learning; (4) There did not exist interaction between model of learning and students’ mathematical previous knowledge toward the improvement self-regulated learning.Keywords:    Critical Thinking Mathematics, Self-Regulated Learning.

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA DI SMP KELAS VIII

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 7, No 2 (2014): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di SMP kelas VIII. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah (1)mengetahui proses pengembangan perangkat pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa, (2) mengetahui efrektipitas perangkat pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa, (3)mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematik siswa melalui perangkat pemblajaran kooperatif tipe jigsaw dibandingkan dengan pembelajaran biasa. Penelitian ini adalah penelitian pengembanagan model 4-D Thiagarajan. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah buku petunjuk Guru (BPG), buku siswa (BS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Aktivitas Siswa (LAS), dan Tes Kemampuan Komunikasi Matematik (TKKM). Uji coba dilakukan sebanyak dua kali pada siswa kelas VIII SMP PGRI 9 Percut Sei Tuan  dan SMP IT Al Hijrah Deli Serdang. Pada uji coba ke-1 diperoleh efektivitas perangkat pembelajaran belum dikatakan efektif  karena masih terdapat komponen aktivitas siswa dan kemampuan guru mengelaola pembelajaran belum mencapai efektif. Hasil uji coba ke-1 dijadikan bahan untuk merevisi perangkat pembelajaran. Hasil uji coba ke-2 perangkat pembelajaran sudah mencapai katagori efektif. Hal ini ditunjukkan oleh (a) aktivitas siswa adalah efektif, (b) kemampuan guru mengelaola pembelajran adalah efektif, (c)respon siswa terhadap pembelajaran adalah positif dan, (d) ketuntasan kemampuan komunikasi matematik lebih dari 80% siswa mencapai KKM. Hasil uji coba perangkat pembelajaran menunjukkan bahwa : (1) pengembangan perangkat pembelajaran yang dikembangkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah valid dan praktis. (2) penerapan pengembangan perangkat pembelajaran efektif ditinjau dari hasil observasi guru dan siswa. (3) kemapuan komunikasi matematik siswa yang diajar dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran biasa.

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMK MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 7, No 3 (2014): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah (1) perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa yang memperoleh pemebelajaaran bebasis masalah dengan siswa yang memperoleh pemebelajaran biasa, (2) perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran bebasis masalah dengan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa, (3) interaksi antara pembelajaran dengan gender terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa, (4) interaksi antara pembelajaran dengan gender terhadap peningkatan  kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, (5) proses penyelesaian soal-soal yang terkait dengan kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematis. Penelitian ini merupakan penilitian semi eksperimen. Populasi penelinitian ini adalah siswa kelas XI SMK Negeri 1 Langsa. Dari kelas XI tersebut dipilih secara acak dua kelas yaitu kelas XI AK1 dan kelas XI AK2. Siswa kelas XI KA2 (kelas eksperimen) diberi perlakuan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dan siswa kelas XI KA1 (kelas kontrol) diberi perlakuan pembelajaran biasa. Instrumen yang digunakan terdiri dari: tes kemampuan pemahaman konsep dan tes kemampuan pemecahan masalah. Analisis data dilakukan dengan uji t dan anava dua jalur. Hasil penelitian ini adalah (1) peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dari pada siswa yang diberi pembelajaran biasa, (2) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah yang lebih tinggi dari pada siswa  yang diberi pembelajaran biasa, (3) terdapat interaksi antara pembelajaran dengan gender siswa terhadap pendekatan kemampuan pemahaman konsep, (4) terdapat interaksi antara pembelajaran dengan gender siswa terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis, (5) proses penyelesaian siswa dalam menyelesaikan masalah kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematis pada pada pembelajaran berbasis masalah adalah lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran biasa. Temuan penelitian merekomendasikan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PBM) dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang digunakan disekolah utamanya untuk mencapai kompetensi berfikir tingkat tinggi.

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA MTsN MEDAN MELALUI PENDEKATAN MATEMATIK REALISTIK

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 7, No 3 (2014): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan kemapuan pemecahan masalah dan kecerdasan emosional yang baik untuk topik bangun datar dari kelas VII MTsN 2 Medan, mendeskripsikan keefektifan pembelajaran matematika realistik untuk topik bangun datar di kelas VII MTsN 2 Medan, dan membandingkan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika realistik dengan siswa yang mengikuti pembelajaran biasa untuk topik bangun datar di kelas VII MTsN 2 Medan. Penelitian ini merupakan penilitian quansi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah siswa adalah siswa MTsN 2 Medan. Pemelihian sampel dilakukan secara random dengan mengacak kelas. Siswa kelas VII (1) sebagai kelas eksperimen yang di beri perlakuan pendekatan matematika realistik dan siswa kelas VII (5) sebagai kelas kontrol yang di beri perlakuan pembelajaran biasa. Instrumen yang digunakan terdiri dari: tes kemampuan pemecahan masalah, angket kecerdasan emosional, aktivitas siswa dan proses jawaban siswa. Analisis data dilakukan dengan uji t dan  anava dua jalur. Hasil utama dari penelitian ini adalah: (1) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika yang memperoleh pendekatan matematika realistik lebih tinggi dibandingkan siswa yang menggunakan pembelajaran biasa, (2) peningkatan kecerdasan emosional siswa yang memperoleh pendekatan matematika realistik lebih tinggi dibandingkan siswa yang menggunakan biasa, (3) terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap penigkatan kemampuan pemecahan masalah matematik, dan (4) terdapat interaksi antara pembelajaran dengan kemampuan awal terhadap peningkatan kecerdasan emosional, (5) proses pembelajaran siswa selama pembelajaran PMR berlangsung lebih baik, dan (6) bentuk jawaban siswa  lebih bervariasi dan lebih baik selama pembelajaran PMR dibandingkan dengan pembelajaran biasa. Berdasarkan hasil penelitian ini, agar peneliti menyarankan agar pembelajaran matematik realistik pada pembelajaran matematika dapat dijadikan alternatif bagi guru matematika untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif dan pemecahan masalah matematika siswa sebagai salah satu alternatif untuk menerpkan pembelajaran matematika yang inovatif.

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA ANTARA SISWA YANG DIBERI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN TPS DI SMP NEGERI 5 KOTA LANGSA

PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 8, No 1 (2015): PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa antara siswa yang diberi pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan TPS (2) perbedaan kecerdasan emosional siswa antara siswa yang diberi pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan TPS (3) ketuntasan belajar siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang diberi pembelajaran kooperatif tipe STAD dan TPS. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen.Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Kota Langsa yang berakreditasi B. Instrument yang digunakan terdiri dari : (1) tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, dan (2) angket kecerdasan emosional. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif dengan persentase dan statistik inferensial menggunakan uji-t dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa antara siswa yang diberi pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan TPS. (2) terdapat perbedaan kecerdasan emosional siswa antara siswa yang diberi pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan TPS. (3) ketuntasan hasil belajar siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dari pada pembelajaran kooperatif tipe TPS.