Nida Ul Hasanat
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Published : 16 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Buletin Psikologi

PENGEMBANGAN MODUL UNTUK MENINGKATKAN EMOSI POSITIF PASIEN DI RUMAH SAKIT

Buletin Psikologi Vol 9, No 2 (2001): Desember
Publisher : Buletin Psikologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap penyakit, betapapun ringannya, seperti flu, sakit perut, kepala pusing dirasakan oleh seseorang sebagai suatu gangguan dalam kehidupan sehari-hari. 0leh sebab itu penyakit tidak disambut baik. Pasien rumah sakit sering menunjukkan berbagai simtom psikologik, terutama kecemasan dan depresi (Pennebaker, dkk.,dalam Taylor, 1995). Pasien bahkan merasa tidak berdaya (Taylor, 1995). Pennebaker, dan kawan-kawan (dalam Taylor, 1995) juga menyatakan bahwa kecemasan, depresi dan gangguan psikologik lain sering menyertai simtom fisik. Pasien yang dirawat dirumah sakit biasanya mengalami kecemasan karena memikirkan gangguan atau penyakitnya, merasa bingung dan cemas rnengenai harapan hasil perawatan, serta risau dengan peran yang ditinggalkan. Pasien harus melakukan penyesuaian terhadapsituasi baru, yang sukar. Rumah sakit kurang dapat menenangkan pasien yang cemas, bahkan memperburuk kondisi tersebut (Mason, dkk., dalam Taylor, 1995).

XPRESSED EMOTION PADA KELUARGA PENDERITA GANGGUAN JIWA

Buletin Psikologi Vol 12, No 2 (2004): Desember
Publisher : Buletin Psikologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar waktu kehidupan seseorang berada bersama dengan keluarga. Namun tidak dapat dipungkiri, tidak seluruh keluarga dapat memberikan atau menciptakan lingkungan yang mendukung. Dalam banyak kasus, keluarga bahkan berpotensi untuk menjadi sumber timbulnya tekanan psikologis. Sayangnya, penelitiantentang pengaruh keluarga terhadap munculnya gangguan jiwa mempunyai kendala, karena belum ada cara yang paling tepat untuk mengidentifikasi individu-individu yang rentan, yang kemudian memunculkan simtom gangguan jiwa. Akibatnya,penelitian yang dilakukan bersifat retrospektif, dimulai pada saat seseorang mengalami gangguan (untuk yang pertama kali atau pada saat ‘kambuh’), kemudian menelusuri perjalanan gangguan atau bersifat cross-sectional (Leff & Vaughn, 1985).Sebagai salah satu contoh, penelitian Vaughn & Leff (dalam Leff & Vaughn, 1985) yang meneliti pengaruh sikap keluarga terhadap kondisi klinis pasien skizofrenia menemukan, bahwa Expressed Emotion (EE) merupakan prediktor terbaik untukmenentukan apakah pasien akan kambuh atau tidak selama periode 9 bulan follow-up. Expressed Emotion ini ditemukan peneliti pada saat wawancara ketika pasien pertama kali masuk rumah sakit.

KAJIAN TEORITIS PENGARUH ART THERAPY DALAM MENGURANGI KECEMASAN PADA PENDERITA

Buletin Psikologi Vol 18, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kanker dapat menyerang siapa saja, dan dari status sosial ekonomi manapun. Kanker dapat diartikan sebagai sekumpulan penyakit yang memiliki karak‐teristik pertumbuhan dan penyebaran sel abnormal yang tidak terkendali dan atau menyerang sel normal, dan apabila tidak dapat dihentikan akan menyebabkan kema‐tian (Erickson, 1992; Ogden, 2000; Prokop et al., 1991; Sarafino, 1998).

PENGEMBANGAN MODUL UNTUK MENINGKATKAN EMOSI POSITIF PASIEN DI RUMAH SAKIT

Buletin Psikologi Vol 9, No 2 (2001)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap penyakit, betapapun ringannya, seperti flu, sakit perut, kepala pusing dirasakan oleh seseorang sebagai suatu gangguan dalam kehidupan sehari-hari. 0leh sebab itu penyakit tidak disambut baik. Pasien rumah sakit sering menunjukkan berbagai simtom psikologik, terutama kecemasan dan depresi (Pennebaker, dkk.,dalam Taylor, 1995). Pasien bahkan merasa tidak berdaya (Taylor, 1995). Pennebaker, dan kawan-kawan (dalam Taylor, 1995) juga menyatakan bahwa kecemasan, depresi dan gangguan psikologik lain sering menyertai simtom fisik. Pasien yang dirawat dirumah sakit biasanya mengalami kecemasan karena memikirkan gangguan atau penyakitnya, merasa bingung dan cemas rnengenai harapan hasil perawatan, serta risau dengan peran yang ditinggalkan. Pasien harus melakukan penyesuaian terhadapsituasi baru, yang sukar. Rumah sakit kurang dapat menenangkan pasien yang cemas, bahkan memperburuk kondisi tersebut (Mason, dkk., dalam Taylor, 1995).

XPRESSED EMOTION PADA KELUARGA PENDERITA GANGGUAN JIWA

Buletin Psikologi Vol 12, No 2 (2004)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar waktu kehidupan seseorang berada bersama dengan keluarga. Namun tidak dapat dipungkiri, tidak seluruh keluarga dapat memberikan atau menciptakan lingkungan yang mendukung. Dalam banyak kasus, keluarga bahkan berpotensi untuk menjadi sumber timbulnya tekanan psikologis. Sayangnya, penelitiantentang pengaruh keluarga terhadap munculnya gangguan jiwa mempunyai kendala, karena belum ada cara yang paling tepat untuk mengidentifikasi individu-individu yang rentan, yang kemudian memunculkan simtom gangguan jiwa. Akibatnya,penelitian yang dilakukan bersifat retrospektif, dimulai pada saat seseorang mengalami gangguan (untuk yang pertama kali atau pada saat ‘kambuh’), kemudian menelusuri perjalanan gangguan atau bersifat cross-sectional (Leff & Vaughn, 1985).Sebagai salah satu contoh, penelitian Vaughn & Leff (dalam Leff & Vaughn, 1985) yang meneliti pengaruh sikap keluarga terhadap kondisi klinis pasien skizofrenia menemukan, bahwa Expressed Emotion (EE) merupakan prediktor terbaik untukmenentukan apakah pasien akan kambuh atau tidak selama periode 9 bulan follow-up. Expressed Emotion ini ditemukan peneliti pada saat wawancara ketika pasien pertama kali masuk rumah sakit.