Nida Ul Hasanat
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

PURSUANCE EMOTION DYNAMIC ON DIABETES MELLITUS PATIENT

Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.662 KB)

Abstract

Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by high levels of glucose in the blood that called hyperglycemia. The high level of blood glucose in diabetic patients is result from defects in insulin action. Diabetes mellitus that uncontrolled can cause acute and chronic complication such as heart diseases, hyperglycemia coma, and hypoglycemia coma. Diabetes mellitus patient must do four things in diabetes management for controlling this disease: monitoring blood level, diet, exercise, and medication.Diabetes mellitus patient has more difficulties to follow dietary advice than other diabetes mellitus management. One of the reason for diabetes mellitus patient doesn’t comply to their dietary advice is their emotional state. Changing in his/her life style if they follow dietary advice can cause negative emotion and conflict on their selves.This research was qualitative research. The researcher used indepth interview as the main instrument.. The subjects were one woman and two men, age over 45 years old, and had been diagnosed diabetes mellitus for more than six months. Indepth interview with subject’s significant others, who guided subjects to do diabetes mellitus management became a way in triangulation. The results of this research showed that three subjects had negative emotion when they followed diet for the first time. They tried to regulate their emotion in order to get homeostatic emotion, so they could follow dietary advice successfully.Keywords: diabetes mellitus, compliance, diet, emotion

Pengaruh Terapi Menulis Pengalaman Emosional Terhadap Penurunan Depresi pada Mahasiswa Tahun Pertama

Jurnal Psikologi Vol 38, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the first year, college students will get the stressful events which related to leave parents and friends, also the transition of educational system and new home stay. The stressfulevents can cause negative of cognitive and emotional responses to college students. Therefore, it can cause depression on college student self. This research aims to test the effect writingabout emotional experiences therapy on reducing depression for the first year college students. Research design uses two matched groups design. Subjects (N=12) were divided intoexperimental group (n=6) or control group (n=6). The experimental group was instructed to write about emotional experiences in four writing sessions lasting ± 30 minutes. Outcomeswere measured at pretest, posttest, and follow up by Mixed ANOVA Design. Between Group ANOVA indicated the groups differed significantly on depression (F=25.88, p=.001). WithinGroup ANOVA indicated that experimental group reported significantly reduced depression at pretest, posttest, and follow up (F=33.72, p=.001). Post hoc test revealed that the repeatexperimental group reported significantly reduced depression at pretest-posttest (p=.003), posttest-follow up (p>0,33), and pretest-follow up (p<0,01). This result indicated that writingabout emotional experience therapy can reduce depression for first year college students.

EKSPRESI EMOSI PADA TIGA TINGKATAN PERKEMBANGAN PADA SUKU JAWA DI YOGYAKARTA: KAJIAN PSIKOLOGI EMOSI DAN KULTUR PADA MASYARAKAT JAWA

Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emosi merupakan hasil manifestasi keadaan fisiologis dan kognitif manusia, serta cermin pengaruh kultur budaya dan sistem sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat pengumpul data Skala Ekspresi Emosi, adaptasi dari Display Role Assessment Inventory (DRAI) untuk mengukur tingkat ekspresi emosi, dengan hipotesis “Ada perbedaan dalam pengekspresian emosi pada tiga tingkatan generasi suku Jawa di Yogyakarta”. Subjek penelitian dipilih dengan metode purposive sampling sejumlah 142 orang meliputi tiga tingkatan perkembangan, yaitu remaja akhir, dewasa awal, dan dewasa tengah. Data dianalisis dengan teknik Anava 1-jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam pengekspresian emosi pada tiga tingkatan usia (F = 1,042 ; p = 0,356;). Disimpulkan bahwa tiga tingkat generasi subjek sama-sama mengekspresikan emosi secara sadar mengikuti etika Jawa. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian lain dengan metode kualitatif yang mampu mengungkap bentuk-bentuk perilaku pada wilayah unconsciousness dalam mengekspresikan emosi.Kata kunci: ekspresi emosi, tiga tingkatan perkembangan (remaja akhir, dewasa awal dan dewasa tengah), kultur JawaEmotion is the product of human physiological and cognitive conditions as well as representing the influence of culture and social system. This research was quantitative using Skala Ekspresi Emosi, adapted from the Display Role Assessment Inventory (DRAI), to measure level of emotional expression with the hypothesis that “There are differences in expressing emotion among three generations of Javanese in Yogyakarta.” The subjects were 142 people that consisted of late adolescents, early adults, and mid-adults and that were selected using a purposive sampling method. The data were analyzed using a one-way Anova technique. The results showed no difference in the expression of emotion among the three groups of subjects. It was concluded that the three generations consciously expressed their emotion following the Javanese ethics. These results differed from the results of another research using a qualitiative methode that seemed to be more sensitive in tapping forms of emotional expression at the unconscious level.Keywords: expression of emotion, three stages of development (late adolescence, early adulthood, and mid adulthood), the Javanese culture

EFEKTIVITAS PELATIHAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA REMAJA DENGAN GANGGUAN KECEMASAN SOSIAL

PSYCHO IDEA Vol 8, No 1 (2010): PSYCHO IDEA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Pelatihan Keterampilan Sosial pada remaja dengan Gangguan Kecemasan Sosial. Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas VII SMPN 1 Kalasan (4 laki-laki, dan 12 perempuan), dengan gejala Gangguan Kecemasan Sosial. Subjek dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol / waiting list. Skala Kecemasan Sosial Remaja (SKSR) digunakan dalam pengukuran pra perlakuan, segera sesudah perlakuan, dan 6 bulan setelah perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa skor SKSR pada kelompok eksperimen mengalami penurunan yang signifikan segera setelah diberikan pelatihan (0,011 ; p < 0,05). Skor SKSR pada kelompok kontrol juga mengalami penurunan, namun tidak signifikan (0,160 ; p < 0,05). Penurunan skor SKSR pada subjek penelitian bertahan secara signifikan hingga periode 6 bulan pasca pelatihan. Jadi, Pelatihan Keterampilan Sosial efektif untuk menurunkan Gangguan Kecemasan Sosial pada Remaja, dan efektivitasnya dapat bertahan hingga periode 6 bulan sesudah pelatihan. Kata Kunci : Kecemasan Sosial, Kecemasan, Pelatihan Keterampilan Sosial, Remaja

Perbedaan Ekspresi Emosi Pada Beberapa Tingkat Generasi Suku Jawa di Yogyakarta

Jurnal Psikologi Vol 34, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objec¬tive of this research is to find whether, there are differences of emotion expression in three generation of Javanese culture in Yogya¬karta. This research is a quanti¬tative study, using Display Rules Assessment Inventory (DRAl). The subjects of this study were late adolescent, early adulthood and middle adulthood who were born and live in Yogyakarta. The result of this research shows, there was no difference of emotion expression in different generation of Javanese culture in Yogyakarta (F = 1,042 ; P = 0,356;). All three generation expressed emotion in the same way. This result describes that three generation categories who have been researched are still in the same norms on display rules of emotion in all situation. The researcher argue that the result is influenced by Javanese culture. The Javanese values of respect and the maintenance of social harmony (rukun) are base on principles of normative and moral guidance for social interaction within both the family and community. The strong emphasis on rukun (social harmony) has marked the typical Javanese as inexpressive, avoiding social and personal conflict. These values virtues contribute to harmonious social integration. Ideal human virtues include obedience to superiors (manut), generosity, avoidance of conflict, understanding of others, and empathy. These moral compo¬nents and values that colourize Javanese society are internalized by the children during the earliest years, and significant forces motivating the childs behaviour later in adulthood. Keywords: Expression emotion, three generation (late adolescent, early adulthood and middle adulthood), Javanese culture.

PENGEMBANGAN MODUL UNTUK MENINGKATKAN EMOSI POSITIF PASIEN DI RUMAH SAKIT

Buletin Psikologi Vol 9, No 2 (2001): Desember
Publisher : Buletin Psikologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap penyakit, betapapun ringannya, seperti flu, sakit perut, kepala pusing dirasakan oleh seseorang sebagai suatu gangguan dalam kehidupan sehari-hari. 0leh sebab itu penyakit tidak disambut baik. Pasien rumah sakit sering menunjukkan berbagai simtom psikologik, terutama kecemasan dan depresi (Pennebaker, dkk.,dalam Taylor, 1995). Pasien bahkan merasa tidak berdaya (Taylor, 1995). Pennebaker, dan kawan-kawan (dalam Taylor, 1995) juga menyatakan bahwa kecemasan, depresi dan gangguan psikologik lain sering menyertai simtom fisik. Pasien yang dirawat dirumah sakit biasanya mengalami kecemasan karena memikirkan gangguan atau penyakitnya, merasa bingung dan cemas rnengenai harapan hasil perawatan, serta risau dengan peran yang ditinggalkan. Pasien harus melakukan penyesuaian terhadapsituasi baru, yang sukar. Rumah sakit kurang dapat menenangkan pasien yang cemas, bahkan memperburuk kondisi tersebut (Mason, dkk., dalam Taylor, 1995).

XPRESSED EMOTION PADA KELUARGA PENDERITA GANGGUAN JIWA

Buletin Psikologi Vol 12, No 2 (2004): Desember
Publisher : Buletin Psikologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar waktu kehidupan seseorang berada bersama dengan keluarga. Namun tidak dapat dipungkiri, tidak seluruh keluarga dapat memberikan atau menciptakan lingkungan yang mendukung. Dalam banyak kasus, keluarga bahkan berpotensi untuk menjadi sumber timbulnya tekanan psikologis. Sayangnya, penelitiantentang pengaruh keluarga terhadap munculnya gangguan jiwa mempunyai kendala, karena belum ada cara yang paling tepat untuk mengidentifikasi individu-individu yang rentan, yang kemudian memunculkan simtom gangguan jiwa. Akibatnya,penelitian yang dilakukan bersifat retrospektif, dimulai pada saat seseorang mengalami gangguan (untuk yang pertama kali atau pada saat ‘kambuh’), kemudian menelusuri perjalanan gangguan atau bersifat cross-sectional (Leff & Vaughn, 1985).Sebagai salah satu contoh, penelitian Vaughn & Leff (dalam Leff & Vaughn, 1985) yang meneliti pengaruh sikap keluarga terhadap kondisi klinis pasien skizofrenia menemukan, bahwa Expressed Emotion (EE) merupakan prediktor terbaik untukmenentukan apakah pasien akan kambuh atau tidak selama periode 9 bulan follow-up. Expressed Emotion ini ditemukan peneliti pada saat wawancara ketika pasien pertama kali masuk rumah sakit.

Pengaruh Terapi Menulis Pengalaman Emosional Terhadap Penurunan Depresi pada Mahasiswa Tahun Pertama

Jurnal Psikologi Vol 38, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the first year, college students will get the stressful events which related to leave parents and friends, also the transition of educational system and new home stay. The stressfulevents can cause negative of cognitive and emotional responses to college students. Therefore, it can cause depression on college student self. This research aims to test the effect writingabout emotional experiences therapy on reducing depression for the first year college students. Research design uses two matched groups design. Subjects (N=12) were divided intoexperimental group (n=6) or control group (n=6). The experimental group was instructed to write about emotional experiences in four writing sessions lasting ± 30 minutes. Outcomeswere measured at pretest, posttest, and follow up by Mixed ANOVA Design. Between Group ANOVA indicated the groups differed significantly on depression (F=25.88, p=.001). WithinGroup ANOVA indicated that experimental group reported significantly reduced depression at pretest, posttest, and follow up (F=33.72, p=.001). Post hoc test revealed that the repeatexperimental group reported significantly reduced depression at pretest-posttest (p=.003), posttest-follow up (p>0,33), and pretest-follow up (p<0,01). This result indicated that writingabout emotional experience therapy can reduce depression for first year college students.

KAJIAN TEORITIS PENGARUH ART THERAPY DALAM MENGURANGI KECEMASAN PADA PENDERITA

Buletin Psikologi Vol 18, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kanker dapat menyerang siapa saja, dan dari status sosial ekonomi manapun. Kanker dapat diartikan sebagai sekumpulan penyakit yang memiliki karak‐teristik pertumbuhan dan penyebaran sel abnormal yang tidak terkendali dan atau menyerang sel normal, dan apabila tidak dapat dihentikan akan menyebabkan kema‐tian (Erickson, 1992; Ogden, 2000; Prokop et al., 1991; Sarafino, 1998).

PENGEMBANGAN MODUL UNTUK MENINGKATKAN EMOSI POSITIF PASIEN DI RUMAH SAKIT

Buletin Psikologi Vol 9, No 2 (2001)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap penyakit, betapapun ringannya, seperti flu, sakit perut, kepala pusing dirasakan oleh seseorang sebagai suatu gangguan dalam kehidupan sehari-hari. 0leh sebab itu penyakit tidak disambut baik. Pasien rumah sakit sering menunjukkan berbagai simtom psikologik, terutama kecemasan dan depresi (Pennebaker, dkk.,dalam Taylor, 1995). Pasien bahkan merasa tidak berdaya (Taylor, 1995). Pennebaker, dan kawan-kawan (dalam Taylor, 1995) juga menyatakan bahwa kecemasan, depresi dan gangguan psikologik lain sering menyertai simtom fisik. Pasien yang dirawat dirumah sakit biasanya mengalami kecemasan karena memikirkan gangguan atau penyakitnya, merasa bingung dan cemas rnengenai harapan hasil perawatan, serta risau dengan peran yang ditinggalkan. Pasien harus melakukan penyesuaian terhadapsituasi baru, yang sukar. Rumah sakit kurang dapat menenangkan pasien yang cemas, bahkan memperburuk kondisi tersebut (Mason, dkk., dalam Taylor, 1995).