Articles

Found 20 Documents
Search

The present and the Archaic River Valley morphology and groundwater condition in the Plaosan Temple complex Central Java-Indonesia

Indonesian Journal of Geography Vol 36, No 2 (2004): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Plaosan Temple which was built during the eighth and tenth century AD is one of four temple complexes in the Prambanan area, Central Java-Indonesia. On going excavation in the temple complex discloses the occurrence of canals along the outer fences. The canals are eight meters wide and four meters deep. This article aims at reconstructing archaic river course and groundwater condition due to the construction of the canals. Aerial photo interpretation, excavation, ground water level measurement and valley morphology measurement reveal an anomaly of the nearest river in the temple complex. The river had seemingly been bypassed south-eastward to its tributary just before entering Plaosan Temple complex. Groundwater level dropped and its flow direction changed from nearly southward to south-eastward direction. These phenomena indicate that the canals were groundwater-discharged canals.

KINERJA MESIN DIESEL AKIBAT PEMASANGAN THERMOSTAT PADA NANCHANG TYPE 2105A – 3

978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.641 KB)

Abstract

Mesin Diesel adalah sejenis mesin pembakaran dalam. Untuk mempertahankan agar temperatur mesin selalu pada temperatur kerja yang paling efisien pada berbagai kondisi. Umumnya temperatur kerja mesin antara 82 sampai 99° C. Maka perlunya pemasangan thermostat pada mesin. Thermostat merupakan alat bantu pengatur sirkulasi air di sistem pendinginan dan dirancang untuk mempertahankan temperatur cairan pendingin, disamping itu kerja mesin menjadi lebih maksimum. Jadi penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh thermostat pada mesin diesel Nanchang 2105 A-3 sehingga dapat diketahui apakah dengan pemasangan thermostat dapat mempengaruhi prestasi mesin diesel dalam hal konsumsi bahan bakar, daya mesin dan efisiensi termalnya. Hasil penelitian terhadap prestasi mesin dengan thermostat dan tanpa thermostat dalam percobaan ini adalah pada putaran 1022 rpm untuk mesin tanpa thermostat, menunjukkan konsumsi bahan bakar spesifik 0,063 kg/Hp.jam, dan menghasilkan daya mesin 20,379 Hp, serta efisiensi thermal 0,254 sedangkan untuk mesin dengan thermostat pada putaran 1.022 rpm, menunjukkan konsumsi bahan bakar spesifik 0,0624 kg/Hp.jam, dan menghasilkan daya mesin 20,511 Hp, serta efisiensi thermal 0,257. Perbedaan persentase diantara keduanya adalah konsumsi bahan bakar spesifik 0,97%, daya mesin 0,64%, dan efisiensi thermal 0,64%. Hal ini disebabkan karena pada mesin Nanchang dengan thermostat, emisi gas buangnya yang ditimbulkan minimum.

KARAKTERISTIK FISIK LAHAN AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN HUTAN RAWA GAMBUT

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 2 (2012): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.533 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengamati karakteristik serasah dan biomasa tanaman pada lima tipe lahan (hutan rawa gambut primer-HP, hutan gambut sekunder-HS, semak belukar-SB, kebun sawit-KS, kebun jagung-KJ), seperti berat basah, berat kering, kadar air, kadar abu, C-organik dan kandungan C, sebagai dampak perubahan penggunaan lahan. Penelitian ini dilakukan pada lahan gambut di Rasau Jaya-Propinsi Kalimantan Barat. Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa berat basah, berat kering, kadar air, kadar abu dan C-organik biomasa pada KJ lebih tinggi daripada KS, SB, HS dan HP. Sedangkan serasah HP mempunyai kandungan C lebih tinggi daripada KS, HS, SB dan KJ. Kata kunci : biomasa tanaman, lahan gambut, perubahan penggunaan lahan, serasah

VARIABILITAS CaCO3 TERLARUT DAN POTENSI PENYERAPAN KARBON ATMOSFER MELALUI PROSES KARSTIFIKASI DI KARST GUNUNGSEWU

Jurnal Bumi Indonesia Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan proses karstifikasi diindikasikan oleh kandungan kimia yang terlarut pada air. Penelitian yang bejudul “Variabilitas CaCO3 Terlarut dan Potensi Penyerapan Karbon Atmosfer Melalui Proses Karstifikasi di Karst Gunungsewu” bertujuan untuk mengkaji variabilitas kandungan CaCO3 terlarut dan potensi penyerapan karbon atmosfer. Kajian mengenai variabilitas kandungan CaCO3 dan potensi penyerapan karbon atmosfer terlarut pada setiap mataair dilakukan secara temporal dan spasial. Potensi penyerapan karbon atmosfer, baik secara temporal dan spasial menggunakan metode Daoxian dan Liu. Variabilitas spasial CaCO3 pada lima mataair yang diuji menunjukkan mataair Ngrati memiliki nilai (460 mg/l). Faktor penting nilai CO2 terlarut yang cukup besar pada mataair Sanglor II adalah debit aliran yang sangat besar. Variabilitas temporal CaCO3 terlarut pada mataair Petoyan menunjukan terjadi perubahan material. Nilai tertinggi CaCO3 terlarut sebesar 340,25 mg/l. Kondisi variabilitas temporal CO2 terlarut pada mataair Petoyan sangat dipengaruhi oleh debit aliran dan tutupan vegetasi. Nilai tertinggi pada waktu pengukuran adalah 1.355,14 mg/dt.Kata kunci : Karstifikai, CaCO3, Penyerapan Karbon  

KEBISINGAN PADA KAPAL MOTOR TRADISIONAL ANGKUTAN ANTAR PULAU DI KABUPATEN PANGKAJENE

JURNAL RISET TEKNOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Ikatan Sarjana Teknik Perkapalan UNHAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal merupakan mode transportasi yang begitu penting bagi masyarakat Pulau Kulambing, Kab. Pangkajene. Namun umumnya kapal yang melayari rute ini berukuran kecil dan tidak menyediakan ruangan khusus untuk mesin sehingga diduga kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin melebihi ketentuan yang ditetapkan dan jika dibiarkan lambat laun akan mengganggu kesehatan baik penumpang atau ABK. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kebisingan pada berbagai kondisi pelayaran serta titik pengambilan data. Metode pengambilan dilakukan secara langsung dengan menggunakan sound level meter. Sebagai tambahan akan diberikan asbes pada sepanjang pipa gas buang dengan harapan penambahan asbes tersebut dapat mengurangi kebisingan serta dampak yang ditimbulkan guna meningkatkan kesehatan dan kenyamanan pelayaran. Dan dari hasil penelitian ini tingkat kebisingan bunyi sebelum diberi peredam adalah berkisar 90 dB-110 dB. Pengurangan tingkat bunyi yang setelah diberi peredam berdasarkan hasil pengukuran antara 5,87 dB-10,45 dB. Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan, pengurangannya berkisar 7,91 dB-8,01 dB

ANALISA KINERJA LINTASAN PENYEBERANGAN LEMBAR – PADANGBAI

978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.674 KB)

Abstract

Angkutan penyeberangan pada lintas Lembar-Padangbai disiapkan untuk menghubungkan angkutan jalan antara Lombok dan Jawa yang dipisahkan oleh perairan Selat Lombok.Gerbang lintasan ini adalah Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Padangbai. Pelabuhan Lembar berada dalam wilayah Provinsi NTB di ujung barat Pulau Lombok. Pelabuhan Padangbai berada dalam wilayah Provinsi Bali di ujung timur Pulau Bali. Peninjauanterhadap lintas penyeberangan Lembar - Padangbai perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak permintaannya sudah cukup tinggi. Dalam kurun tahun 1997 sampai dengan tahun 2010, peningkatan permintaan angkutan pada lintasan ini adalah penumpang 3,98 % pertahun, 4,87 % pertahun untuk kendaraan Roda 4 dan 10,22 % pertahun untuk Roda 2. Pada tahun 2010, jumlah penumpang adalah 1.432.606 orang, kendaraan roda 4 adalah 221.881 unit. Pada tahun itu, armada yang dioperasikan pada lintasan ini sebanyak 20 kapal ferry ro-ro. Pelabuhan Lembar dan pelabuhan Padangabai memiliki 2 unit jembatan gerak (movable bridge = MB). Pada tahun ini (2011) Pengoperasian Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Padangbai dijadwalkan penuh waktu sepanjang tahun seperti pada tahun sebelumnya. Lama operasinya adalah 24 jam per hari. Pelayanan sandar kapal dibuka atau dilakukan pada dua dermaga Pelabuhan Lembar dan lima dermaga di Pelabuhan Padangbai. Waktu olah gerak dan sandar kapal di setiap dermaga dijadwalkan selama 60 menit/call. Sesuai dengan jumlah dermaga yang dioperasikan di Pelabuhan Lembar dan Padangbai serta kapasitasnya untuk pelayanan sandar kapal, frekwensi penyeberangan ditargetkan sebanyak 96 trip/hari atau 35.040 trip/tahun. Untuk mencapai target frekwensi penyeberangan itu, sekurangnya 21 kapal yang harus dioperasikan setiap hari. Karena target waktu berlayar selama 240 menit/trip dan waktu pelayanan kapal di pelabuhan selama 1 jam/call, rencana operasi kapal dapat dijadalkan sebanyak 4 trip/hari. Hingga tahun ini (2011), sebanyak 20 kapal ferry ro-ro yang dioperasikan di lintas penyeberangan Lembar-Padangbai.

ENERGY MODELLING AND FORECASTING OF DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2025

ASEAN Journal of Systems Engineering Vol 2, No 2 (2014): ASEAN Journal of Systems Engineering
Publisher : Master Program of Systems Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) is one of the provinces in Indonesia which does not have a backup or potential sources of non-renewable primary energy. The non-renewable energy demand until this time, such as oil,coal and gas is supplied from the outside. DIY is in Java Madura Bali (JAMALI) interconnerction system and has not had a large-scale power systems. While DIY has renewable energy sources such as hydro, solar, wind, wave and biomass energy. These renewable energy sources are alternative energy that have not been optimally used. The lack of reserve energy resources that resulting dependence of energy supply from other areas should receive special attention from DIY government. To meet energy demand, the energy resources development is required. Due to the energy resources development requires a long time and high cost, it is necessary to be supported by good planning in energy policy.The purpose of this study is to determine the balance of energy demand and supply of  DIY until 2025. Furthermore, the purpose of this study is to find out a mix number of renewable energy. The Indonesian government has launched a vision of 25/25 which expection in 2025, the mix number of renewable energy will be 25%.The results of this study indicate that in 2025, the Transportion Sector is the largest energy user sector in DIY at 52.37%, followed by Household Sector (32.70%), Commercial Sector (8.26%), Other Sector (4.64%), and Industrial Sector (2.04%). The high level of energy consumption in the Transportation Sector is caused by the increasing number of vehicles especially motorcycles and passenger cars considering DIY is a student and tourism city. In term of the type of energy used, in 2025, the gasoline is the greatest type of energy demand (41.8%), followed by LPG (23.97%), electricity (18.14%) and diesel oil (11, 74%). This indicates that the fuel oil is still the main energy source for the DIY community activities. When viewed from supply side, most of the energy needs in DIY are supplied from outside. If the development of enewable energy targets DIY reached, the renewable energy mix is obtained by 0.53 %.

Kajian Tingkat Pelapukan Batuan Menurut Toposekuen Di Daerah Aliran Sungai Tangsi Kabupaten Magelang

Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000)
Publisher : Majalah Geografi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah a). mengetahui tingkat pelapukan batuan pada fiap bagian lereng pada toposekuen, dan b). mempelajari pengaruh toposekuen dalam mengontrol proses pelapukan di DAS Tangsi. Penelitian ini mengambil cuplikan batuan dan bahan lapukan (regolith) pada setiap bagian lereng mengikuli toposekuen. Cuplikan tersebut dianalisis di laboratorium yang meliputi; a). analisis granulometri, b). analisis volumetri, c). analisis mineral optik dan analisis difralcsi sinar X. Terdapat tujuh lokasi cuplikan yang dianalisis, yaitu puncak lereng atas; lereng- tengah, lereng bawah, dan dataran kaki- perbukitan dinudasional lereng Gunungapi Sumbing; serta lereng atas dan lereng bawah: perbukitan struktural Menoreh. Hasil penelitian menunjukkan bahrva batuan di daerah penelittan, baik di toposekuen perbukitan denudasional lereng Gunungapi Sumbing don lereng perbulatan struktural menoreh. didonsinasl deb breksi andesitig curah Julian rerata tahunan 3.416 mm, dan rerata temperature 22° C– 24,8° C. Tingkat pelapukan-batuan pada tiap bagian lereng pada toposekuen perbukitan denudasional gunungapi Sumbing;dan- perIndltan struktural Menoreh, tidak.menunjukkan kecenderungan berbedaan, bahkan cenderung sama. Tingkat pelapukan batuan belum lanjut, rlitandai dengan terbentuknya4entpung jenis haloisit atau kaolinit yang belum mengkristal sempurna. Berat volume bahan lapukan berkisar antara 0,795 hingga 1,287, tekstur lapukan gelith berdebu hingga geluh berlempung, persentase lempung 10,93% hingga 46,97%. Tingkat pelapukan batuan di flap bagian lereng di daerah penelitian tidak menunjukkan kecenderungan semakin lapuk.

EMISI CO2 TANAH AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN HUTAN RAWA GAMBUT DI KALIMANTAN BARAT

Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alih fungsi lahan gambut yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah pada hutan rawa gambut primer (HP), hutan gambut sekunder (HS), semak belukar (SB), kebun sawit (KS), dan kebun jagung (KJ) dan menganalisis pengaruh suhu dan jeluk muka air tanah (water-table depth) terhadap emisi CO2 tanah. Sampel dari tiap tipe lahan diambil sebanyak lima ulangan, total sampel 25. Saat pengukuran respirasi CO2 tanah gambut dilakukan pengukuran suhu tanah dan muka air tanah. Pengukuran di lapangan dilaksanakan dua kali yaitu awal musim kemarau dan musim hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi CO2 tanah tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut adalah pada tipe lahan KJ (6,512 ton ha-1 th-1) dan SB (1,698  ton ha-1 th-1) serta pada tipe lahan KS (6,701 ton ha-1 th-1) dan SB (3,169 ton ha-1 th-1) berturut-turut. Suhu tanah gambut tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut berturut-turut adalah pada tipe lahan SB (27,78 oC) dan HP (22,78 oC), dan pada tipe lahan KS (29,08 oC) dan HP (26,56 oC) serta jeluk muka air tanah gambut berturut-turut pada tipe lahan KJ (56,2 cm) dan  SB (32,1 cm). Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah gambut adalah suhu tanah, jeluk muka air tanah dan pengelolaan lahan yang menyebabkan perubahan sifat tanah gambut, seperti ketersediaan C-organik (jumlah dan kualitas bahan organik), pH tanah dan kematangan gambut.

Potential Production of CH4 And N2O in Soil Profiles from Organic and Conventional Rice Fields

SAINS TANAH - Journal of Soil Science and Agroclimatology Vol 15, No 1 (2018): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.145 KB)

Abstract

The horizons in soil profile will determine the magnitude of greenhouse gas production due to the difference of total organic carbon and other chemical properties. This study aimed to determine the potential production of methane (CH4) and nitrous oxide (N2O) in each horizon of soil profile from organic and conventional rice fields. Soil samples which were taken from Imogiri Bantul D.I. Yogyakarta were used to determine soil properties, the potential of CH4, and N2O productions. The correlation analysis was used to determine the relationship between the production of CH4 and N2O with soil properties. The results showed that production of CH4 and N2O will be decreased with the increase of soil depth. Production of CH4 and N2O was higher in organic rice field than in conventional rice field. The total organic carbon (TOC) correlated positively with CH4-production (r=0.89, P<0.001, n=8) and N2O-production (r=0.87, P<0.001, n=8). The nitrogen content also correlated positively with CH4-production (r=0.87, P<0.001, n=8) and N2O-production (r=0.94, P<0.001, n=8). Mitigation of CH4 and N2O emissions should consider of C and N in the soil.