Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : Jurnal Riset Akuakultur

KARAKTER GENETIK INDUK (F-0) DAN TURUNANNYA (F-1) PADA IKAN HIAS LAUT CLOWN (Amphiprion percula) MENGGUNAKAN MARKER RAPD (Random Amplified Polymorfism DNA) Sembiring, Sari Budi Moria; Setiawati, Ketut Maha; Haryanti, Haryanti; Wardana, Ida Komang
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.351 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.183-190

Abstract

Studi analisis karakter genetik ikan hias laut clown menggunakan metode penanda DNA RAPD dilakukan dalam upaya membantu pengembangan perbenihan dan budidaya ikan hias laut clown di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeterminasi karakter genetik dengan menggunakan analisis individu dari populasi induk (F-0) dan turunannya (F-1) sehingga diperoleh tingkat penurunan keragaman genetik dan keterkaitannya dengan karakter morfologi. Sampel yang dianalisis terdiri atas 5 pasang induk ikan clown (10 sampel) dan masing-masing turunannya sebanyak 10 ekor (50 sampel) sehingga total 60 sampel. Nilai rata-rata keragaman genetik induk ikan clown dari semua lokus primer sebesar 0,253, sedangkan pada turunannya (F-1) adalah 0,157. Hal ini menggambarkan adanya pengaruh genetik terhadap perbedaan pola pemunculan band putih.Study genetic characteristic of clownfish, Amphiprion percula using RAPD DNA marker was conducted in order to support development of breeding and culture program of marine ornamental clownfish in Indonesia. The objective of this research was to determine of genetic characteristic of clown fish using individual analysis from F-0 population and its generations (F-1) to find specific marker which is related to its morphology. Total samples analyzed were 60, consist of 5 pairs of clownfish broodstock (10 samples) and 10 ind each generations (50 samples). Mean value of genetic diversity of clown fish broodstock from all primer loci was 0.253, while on its generation F-1 was 0.157. This result showed there was effect of genetic on the differences of white band pattern appearance.
PERFORMA BENIH TERIPANG PASIR, Holothuria scabra DARI SUMBER INDUK YANG BERBEDA Sembiring, Sari Budi Moria; Wardana, Ida Komang; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.708 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.2.2016.147-154

Abstract

Upaya pengembangan perbenihan teripang pasir bagi kelestarian populasi di alam dan pengembangan budidaya patut dilakukan. Upaya ini diperlukan mengingat semakin intensifnya penangkapan teripang di alam yang dapat menimbulkan terganggunya kelestarian populasi ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan benih teripang pasir, mendapatkan informasi keragaman genetik dan mengestimasi laju inbreeding dari 3 sumber induk teripang yang berbeda. Tiga sumber induk berasal dari perairan Bali, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara masing-masing sebanyak 20 ekor dianalisis menggunakan mikrosatelit (SSR/Simple Sequence Repeats) dengan 3 lokus, yaitu Hsc-28; Hsc-49 dan Hsc-59. Proses pembenihan mengikuti pedoman teknis yang sudah ada dengan beberapa modifikasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa panjang dan bobot benih umur 6 bulan yang dihasilkan dari induk Maluku Tenggara relatif lebih tinggi (5,67 ± 0,76 cm; 13,26 ± 5,63 g) dibandingkan dengan benih dari induk Sulawesi Selatan (4,75 ± 0,91 cm; 6,3 ± 2,22 g) dan Bali (4,85 ± 0,64 cm; 6,2 ± 3,6 g). Hasil analisis mikrosatelit menunjukkan bahwa keragaman genetik induk teripang pasir dari ke tiga populasi tidak berbeda nyata. Hal ini berdasarkan nilai differensiasi genetik (FST= 0,2475 atau 24,75%). Laju nilai inbreeding dalam populasi induk teripang pasir cukup tinggi (FIT= 0,4237 atau 42,37%) dibandingkan dengan laju inbreeding antar populasi (FIS) adalah 0,2342 atau 23,42%. The effort of sea cucumber seed production for culture development have to be carried out. This effort is also required due to the intensive exploration of sea cucumber in the nature which could threaten of its sustainability. The aims of this research is to evaluate sea cucumber juveniles growth performance, to obtain the information on genetic variation, and to estimate the rate of inbreeding from three different sea cucumber broodstock sources. Three sources of sea cucumber were collected from Bali, South Sulawesi, and Southeast Moluccas. The total of 20 pcs from each area were analyzed by microsatellite (SSR Simple Squence Repeat) with 3 locus namely Hsc-28; Hsc-49 dan Hsc-59. Hatchery production of sea cucumber seed followed the existing manual with some modifications. Result of the experiment showed that the length and weight of 6 months old juveniles produced by Southeast Moluccas’s broodstock were relatively higher (5.67 ± 0.76 cm; 13.26 ± 5.63 g) compared to the juveniles produced by South Sulawesi’s broodstock (4.75 ± 0.91 cm; 6.30 ± 2.22 g) and Bali’s broodstock ( 4.85 ± 0.64 cm; 6.2 ± 3.6 g). Results of microsatellite analysis showed that genetic variation of the three broodstock populations was not significant different. It is based on the genetic differentiation value (FST= 0.2475 or 24.75%. The result of inbreeding rate within the broodstock of sea cucumber population was high (FIT= 0.4237 or 42.37%) compare to the rate value of inter population (FIS= 0.2342 or 23.42%.
PENGGUNAAN GEN PENYANDI TUMBUH CEPAT DALAM PRODUKSI BENIH UDANG WINDU Penaeus monodon Haryanti, Haryanti; Mahardika, Ketut; Fachrudin, Fachrudin; Wardana, Ida Komang; Permana, I Gusti Ngurah; Sembiring, Sari Budi Moria
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.952 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.345-357

Abstract

Dalam upaya mengembalikan kesuksesan produksi udang windu P. monodon maka langkah perbaikan dan antisipasi mengatasi kegagalan terus dilakukan. Di antara kegagalan yang terjadi adalah penurunan sifat genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan gen penyandi tumbuh cepat pada benih udang windu yang diproduksi melalui pembenihan. Pembenihan menggunakan sistem yang mengaplikasikan biosecurity, probiotik, pakan alami, dan buatan. Ada 35 populasi benih F-1 (PL 12-15) yang dapat diproduksi dengan jumlah yang bervariasi. Gen penyandi tumbuh cepat yang telah diperoleh pada locus PmMS-11A dari mikrosatelit/SSRs (Simple Sequence Repeats), selanjutnya digunakan sebagai indikator tumbuh cepat pada benih-benih yang diproduksi melalui amplifikasi PCR dan dikonfirmasi dengan metode SSCP (Single Strand Confirmation Polyacrilamide). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gen penyandi tumbuh cepat dapat ditunjukkan oleh locus PmMS11-A pada benih udang windu. Tingkat keakuratan gen penyandi tumbuh cepat tersebut pada benih udang windu turunan F-1 terekspresi pada allel 144 bp. Hal ini juga ditunjukkan keakurasian prediksi dari karakter fenotipnya setelah budidaya di tambak. Produk benih yang dihasilkan sebanyak 838.021 ekor (tumbuh cepat) dan kontrol 172.526 ekor.
KULTUR MIKROALGA Haematococcus pluvialis UNTUK MENGHASILKAN ASTAXANTIN Muzaki, Ahmad; Fahrudin, Fahrudin; Wardana, Ida Komang; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1519.438 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.351-361

Abstract

Mikroalga merupakan sumberdaya biologis yang eksklusif dan berperan sangat luas untuk aplikasi penyedia komponen bernilai tinggi di bidang perikanan dalam rangka peningkatan ekonomi. Tujuan riset ini adalah mendapatkan teknik pengkulturan Haematococcus pluvialis dan teknik stimulasi melalui penyinaran sel untuk menghasilkan produk astaxantin. Media tumbuh Bold (PIV metal) dan modifikasi Bold (Clewat-32) diujikan untuk pengkulturan. Pengkulturan juga diterapkan dengan menggunakan 6 jenis air tawar dari sumber berbeda (mata air alam, sumur artesis, air mineral kemasan I, air mineral kemasan II, air sumur, dan air PAM). Efek stres dilakukan melalui penyinaran dengan UV selama 3 jam dan inkubasi lanjutan dengan menggunakan penyinaran intensitas cahaya tinggi untuk mendapatkan sel merah yang mengandung astaxantin. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pertumbuhan sel H. pluvialis pada media Bold (PIV metal) lebih baik (55 x 104 sel/mL) dan air tawar yang berasal dari mata air alam menghasilkan kepadatan sel lebih tinggi (166 x 104 sel/mL) pada hari ke-5 dan 245 x104 sel/mL pada hari ke-13 dibandingkan air dari sumber lainnya. Penyinaran UV dan dilanjutkan dengan penyinaran intensitas cahaya tinggi mempercepat perubahan warna sel dan produksi metabolit sekunder sebagai astaxantin. Microalgae are exclusive biological resources to provide valuable compounds in fisheries. The purpose of the research was to evaluate culture technique of H. pluvialis and stimulation technique through UV irradiation to produce astaxanthin. Growth media of Bold (PIV metal) and Bold (clewat-32) modifications were tested to culture microalgae. Other culture technique applied by using 6 fresh water from various sources (natural fresh water, deep well water, mineral water I, mineral water II, well water, and municipal water supply sample). Stress effects were tested by using UV irradiation for 3 hours and incubation with high light intensity to find red cells containing astaxanthin. Result showed that growth cell of H. pluvialis in BOLD media (PIV metal) was higher (550 x 104 sel/mL) than that of in BOLD modification media. Cell density of H. pluvialis cultured with fresh water from natural source was higher (166 x 104 sel/mL) on day 5th and 245 x104 sel/mL on day 13th compared to other water sources. Effect of UV irradiation and high light intensity stimulated cells color change and produced secondary metabolite of astaxanthin.
KERAGAAN REMATURASI GONAD INDUK TERIPANG PASIR, Holothuria scabra DENGAN PEMBERIAN JENIS PAKAN BERBEDA Sembiring, Sari Budi Moria; Wardana, Ida Komang; Giri, Nyoman Adiasmara; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.302 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.2.2017.147-159

Abstract

Rematurasi gonad induk teripang pasir Holothuria scabra yang sudah memijah masih banyak masalah, padahal rematurasi diperlukan untuk keberlanjutan pemijahan dan penyediaan benih. Tujuan penelitian adalah memperoleh jenis pakan yang dapat mempercepat proses rematurasi gonad terhadap induk alam yang sudah dipijahkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan untuk pembenihan teripang di hatcheri, serta mengetahui performa benih yang dihasilkan secara fenotipe dan genotipe. Penelitian rematurasi gonad dengan pemberian pakan berbeda telah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut, Gondol. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental secara rancangan acak lengkap dengan perlakuan perbedaan jenis pakan, yaitu: A) Ulva sp. dan bentos; B) Gracilaria sp. dan bentos, dan C) bentos saja. Dosis pemberian pakan sebanyak 4% dari bobot badan dengan frekuensi pemberian 1 kali/hari. Setiap perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Jumlah induk setiap ulangan sebanyak tiga ekor dengan ukuran panjang dan bobot 13,08 ± 2,04 cm dan 182,75 ± 47,74 g. Benih yang dihasilkan sebelum induk dirematurasi dan setelah rematurasi diamati performa fenotipe dan genotipenya. Analisis genotipe menggunakan metode mikrosatellit dengan empat lokus (Hsc-11; Hsc-28; Hsc-49; dan Hsc-59). Parameter yang diamati meliputi frekuensi pemijahan induk teripang, tingkat kematangan gonad, indeks gonadosomatik, fekunditas, diameter telur, pertumbuhan benih F-1 sebelum dan sesudah rematurasi, serta performa genotipe benih tersebut. Data indeks gonad somatik dan diameter telur dianalisis dengan ANOVA, sedangkan data pertumbuhan, pemijahan, dan fekunditas disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan dapat mempercepat rematurasi gonad dan induk teripang memijah setelah dua bulan pemeliharaan. Jenis pakan bentos menghasilkan indeks gonadosomatik dan diameter telur lebih baik dibandingkan dengan perlakuan pakan lainnya (P<0,05). Keragaman genetik benih dari induk sebelum rematurasi (0,719) berbeda nyata (P<0,05) dengan sesudah rematurasi (0,634); sedangkan secara fenotipe, pertumbuhan panjang, dan bobot benih hingga umur 150 hari tidak berbeda (P>0,05).Successful rate of gonad re-maturation of sea cucumber, H. scabra broodstock after spawning still faces some problems presumably due to lack of essential nutrients to support the process. However, re-maturation is vitally important to speed up the fingerling production. The aim of the research was to determine the best feed composition able to induce gonad re-maturation of sea cucumber natural broodstock which had been previously spawned. In addition, this research was also aimed to study the fingerling genetic performance, both phenotypically and genetically. The research on gonad re-maturation was carried out using different feeds at the Institute for Mariculture Research and Development, Gondol. The research was designed in a completely randomized design with three different feed compositions as treatments: A) Ulva sp. and benthos; B) Gracilaria sp. and benthos, and C) only benthos. The amount of given feed was 4% of the total biomass and once daily. Each treatment has three replicates. The number of broodstock in each replicate was three individuals with the averages of total length and body weight were 13.08 ± 2.04 cm and 182.75 ± 47.74 g, respectively. Fingerlings produced from natural maturation and re-maturation broodstock were phenotypically and genetically analyzed. Microsatellite method was used for the genetic analysis of four loci (Hsc-11; Hsc-28; Hsc-49; and Hsc-59). The parameters measured were gonad maturity level, gonadosomatic index, spawning frequency, fecundity, eggs diameter, phenotypic, and genetic performance of F-1 fingerlings produced from both natural maturation and re-maturation broodstock and compared to each other. Data on gonadosomatic index and eggs diameter were statistically analyzed using Anova-test, while growth rate, spawning, and fecundity were descriptively compared using tables and figures. The results showed that all feed treatments were able to induce gonad re-maturation and all sea cucumber broodstock re-spawned after two months. Benthos feed had a significant effect in increasing gonad somatic index and eggs diameter compared to the other feed treatments (P<0.05). Genetic variance of F-1fingerlings produced from the natural maturation broodstock (0.719) was significantly different (P<0.05) compared to the fingerlings produced from the re-maturated broodstock (0.634). However, phenotypically, the growth of length and weight after 150 days old fingerling was not significantly different (P>0.05) between the two fingerling generations. 
SELEKTIF BREEDING UDANG WINDU Penaeus monodon DENGAN KARAKTER PERTUMBUHAN DAN SPF (SPECIFIC PATHOGEN FREE) Wardana, Ida Komang; Muzaki, Ahmad; Fahrudin, Fahrudin; Permana, I Gusti Ngurah; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1498.468 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.301-312

Abstract

Riset selektif breeding dengan mengutamakan karakter pertumbuhan dan bebas penyakit (SPF) menjadi pilihan mendesak agar diperoleh calon induk udang windu dengan karakter fenotipe dan genotipe yang lebih baik. Tujuan riset ini adalah mendapatkan teknik selektif breeding dan induk udang hasil seleksi dengan karakter tumbuh cepat serta bebas penyakit (SPF). Metode seleksi diawali dengan pembenihan  induk yang berasal dari alam (F-0) mengikuti kaidah full sib mating, mengaplikasikan teknik probiotik, biosecurity, dan pemantauan infeksi virus. Diagnosis bebas penyakit (SPF) dilakukan dengan pengujian 7 jenis virus (TSV, WSSV, IHHNV, YHV, BP, MBV, HPV). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 8 famili udang generasi pertama (F-1) memberikan keragaan fenotipe yang bervariasi (ukuran besar, sedang/reguler, dan kecil). Benih generasi pertama (F-1) hasil seleksi fenotipe pertumbuhan cepat (0,78%—9,91%) dari populasi benih udang kemudian dipelihara untuk calon induk. Induk udang yang digunakan pada saat dan setelah pembenihan mempunyai karakter SPF, demikian pula generasi pertama (F-1), walaupun ada kontaminasi IHHNV pada benih dari induk  -18,  -19,  -22. Keragaan genotipe induk udang (F-0) dan generasi pertama (F-1) menunjukkan keragaman genetik yang berbeda. Nilai heterozigositas pada induk udang (F-0) sebesar 0,1436; sedangkan pada generasi pertama (F-1) dengan tumbuh cepat sebesar 0,2659. Penanda gen untuk tumbuh cepat ditunjukkan pada gen dengan berat molekul 1.025 bp, 1.280 bp, dan 1.325 bp serta susunan sequence DNA yang berbeda bila dibandingkan pada penanda gen udang tumbuh lambat.Selective breeding focusing on growth and Specific Pathogen Free (SPF) is a priority to obtain genetically and morphologically better of black tiger shrimp spawner. The objective of the study was to develop selective breeding technique and select spawner better character on growth and Specific Pathogen Free (SPF). Selection method was initiated from the breeding of wild shrimp spawners (F-0) following full sib mating method, probiotics application, biosecurity, and virus diseases diagnosis. Diagnosis of SPF was tested on 7 viruses (TSV, WSSV, IHHNV, YHV, BP, MBV, HPV) by IQ-2000 kit. Result showed that 8 families of first generation (F-1) shrimp phenotypically varied (big, regular and small size). First generation of shrimp produced from phenotype selection with fast growth (0.78%—9.91%) of total fry polulation then reared till reached spawner size. Shrimp spawners used before and after breeding had SPF traits, similar with the first generation of shrimp fry. There was IHHNV contamination on shrimp (F-1) offsprings from  -18,  -19,  -22. Genotype performance shrimp spawner (F-0) and the first generation (F-1) showed different genetic variations. Heterozigosity value of shrimp spawner (F-0) was 0,1436 and the first generation (F-1) with fast growth trait was 0,2659. Gene marker of fast growth was indicated by a gene with molecular weight of 1,025 bp; 1,280 bp; and 1,325 bp and different DNA sequences compared with gen marker of slow growth shrimp.
PERAN GEN AIM1 DAN INTENSITAS CAHAYA TERHADAP KARAKTER POLA PIGMEN IKAN BADUT HITAM (Amphiprion percula) Kusumawati, Daniar; Permana, S.; Setiawati, Ketut Maha; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.693 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.205-219

Abstract

Pola pigmen merupakan faktor utama yang menentukan tingginya kualitas ikan hias. Pada benih-benih F1 populasi budidaya ikan badut hitam (Amphiprion percula) diketahui mengalami degeneratif pola pigmen yang menyimpang dibandingkan dengan populasi di alam. Pola pigmen merupakan salah satu karakter fenotip yang diturunkan di mana ekspresinya bergantung pada interaksi genetik dengan faktor eksternal yaitu lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran gen yaitu Aim1 yang mengontrol sintesis melanin dan kondisi lingkungan dalam menginduksi pola pigmen hitam ikan badut hitam (Amphiprion percula). Analisis gen Aim1 dilakukan dengan menggunakan program speedy PCR dilanjutkan dengan SSCP (single strand confirmation polymorphism) untuk mengidentifikasi variasi genetik dari gen Aim1. Analisis SDS Page dilakukan untuk mengetahui peranan lingkungan terhadap profil protein yang disintesis. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa primer Aim1 memiliki sisi pengenalan pada whole genom ikan badut hitam (Amphiprion percula) pada target sequence 45 bp. Berdasarkan analisis SSCP profil fragmentasi amplicon primer Aim1 pada masing-masing tingkatan pada populasi budidaya homolog dengan populasi alam, sehingga gen Aim1 bukan merupakan gen yang mengontrol fenomena degeneratif pola pigmen ikan badut hitam (Amphiprion percula). Peran lingkungan yaitu cahaya memberikan pengaruh positif dalam menginduksi pola pigmen melalui stimulus pada sistem neuron dan migrasi melanophore.
PENGGUNAAN PENANDA GENETIK TUMBUH CEPAT UNTUK PRODUKSI CALON INDUK KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus DALAM PROGRAM SELEKSI Sembiring, Sari Budi Moria; Haryanti, Haryanti; Suwirya, Ketut; Wardana, Ida Komang; Sutarmat, Tatam; Yudha, Hirmawan Tirta
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1866.459 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.1.2012.1-9

Abstract

Penurunan kualitas benih kerapu seringkali diindikasikan dengan pertumbuhan yang lambat, rentan terhadap infeksi penyakit, dan perubahan lingkungan serta terjadinya abnormalitas. Upaya perbaikan sifat genetik benih kerapu akan memberikan dampak signifikan dalam keberhasilan budidaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh penanda gen tumbuh cepat pada benih/calon induk kerapu sunu sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemuliaan. Untuk mendapatkan penciri gen tumbuh cepat digunakan metode analisis mikrosatelit (SSR/Simple Sequence Repeats) dengan mengaplikasikan enam set primer (forward dan reverse). Calon induk yang digunakan untuk analisis masing-masing berjumlah 4 ekor ukuran kecil dan 10 ekor ukuran besar. Validasi dan akurasi lokus yang dihasilkan dianalisis lebih lanjut dengan sequencing. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penanda gen tumbuh cepat dapat terlihat dari lokus PL-03 dengan alel/fragmen DNA pada berat molekul 370 bp. Tingkat keakuratan penanda gen tersebut pada kelompok ukuran besar mencapai 80%, sedangkan pada kelompok ukuran kecil hanya 30%. Hal ini juga didukung dengan keakuratan prediksi dari hasil sequencing memberikan nilai kemiripan sebesar 99%. Dengan demikian lokus PL-03 dapat digunakan sebagai penanda gen tumbuh cepat pada ikan kerapu sunu dalam mempercepat seleksi calon induk.
APLIKASI BFT-HETEROTROPIK SISTEM DALAM PRODUKSI BENIH IKAN BANDENG (Chanos chanos) Permana, Gusti Ngurah; Haryanti, Haryanti; Wardana, Ida Komang; Muzaki, Ahmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.237 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.363-375

Abstract

Salah satu kendala utama dalam pembenihan ikan bandeng adalah menurunnya kualitas benih dan ketersediaan rotifer. Teknologi bioflok yang melibatkan bakteri, mikroalga, dan bahan organik dalam air merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh Bio-Floc Technology (BFT) pada produksi benih ikan bandeng. Penelitian ini menggunakan bak beton volume 4 m3. Aplikasi bakteri heterotrop sebagai penyusun flok menggunakan tiga variasi perlakuan, yaitu: (A) bioflok + rotifer 100% (100 ind./mL), (B) bioflok dan pengurangan rotifer 25% (75 ind./mL), (C) bioflok dan pengurangan 50% rotifer (50 ind./mL), dan sebagai kontrol (K) adalah tanpa pemberian bioflok atau pemeliharaan larva dengan 100% rotifer (100 ind./mL). Perlakuan tersebut diulang sebanyak tiga kali, data dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bioflok merupakan kombinasi/campuran dari bakteri, mikroalga, detritus, dan protozoa. Bakteri pembentuk bioflok banyak didominasi oleh Bacillus. Hasil pengamatan terhadap sintasan ikan bandeng menunjukkan bahwa perlakuan bioflok + rotifer 100% memberikan sintasan tertinggi yaitu 26% berbeda nyata (P<0,05), pengurangan rotifer 25% dengan sintasan 25%, sedangkan pada pengurangan 50% feeding rate dengan sintasan20% dan kontrol (tanpa bioflok) 15,03%. Hal yang sama terjadi pada pertumbuhan benih bandeng yang menunjukkan bahwa pembentukan bioflok memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Kualitas benih tertinggi yang ditunjukkan dari analisis rasio RNA : DNA diperoleh pada perlakuan bioflok + rotifer 100% (1,33); pengurangan rotifer 25% (1,08); pengurangan rotifer 50% (0,91)% dan nilai yang paling rendah adalah kontrol (0,42). Kualitas air media pemeliharaan relatif stabil terutama pH dan DO, sedangkan amonia antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05). Populasi Vibrio dapat ditekan hingga mencapai 102 cfu/mL. Nampaknya, bioflok ini dapat menjadi makanan dengan nutrisi tinggi bagi ikan bandeng.
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN VARIASI GENETIK ABALON Haliotis squamata Reeve (1846) HASIL SELEKSI F-1 Permana, Gusti Ngurah; Rusdi, Ibnu; Khotimah, Fitri Husnul; Sembiring, Sari Budi Moria; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.657 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.493-500

Abstract

Produksi benih abalon Haliotis squamata skala massal di hatcheri telah berhasil dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol, Bali. Permasalahan utama dalam budidaya abalon adalah pertumbuhan yang lambat. Keadaan tersebut diduga karena pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui keragaan pertumbuhan dan variasi genetik abalon tumbuh cepat hasil seleksi individu. Hasil penelitian ini diketahui bahwa pembentukan populasi F-1 mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dengan F-1 kontrol. Peningkatan bobot yang dicapai 22,15 g atau 17,93% lebih baik dibandingkan F-1 kontrol. Keragaman genetik F-1 terseleksi yang ditunjukkan dari nilai heterozigositas adalah (Ho. 0,023) terjadi penurunan 21,7% jika dibandingkan F-0. Hal ini dapat terjadi karena hilangnya beberapa allele dalam proses seleksi. Terdapat hubungan antara jumlah heterozigot pada lokus tertentu dengan pertumbuhan abalon. Hasil ini diharapkan dapat mendukung upaya meningkatkan produksi benih yang mempunyai performa fenotipe dan genotipe unggul sehingga dapat mendukung kegiatan budidaya abalon yang berkelanjutan.