Articles

Found 11 Documents
Search

Difteri Pada Anak Hartoyo, Edi
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.968 KB)

Abstract

Difteri adalah infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diptheriae toksigenik dapat menyerang saluran nafas, kulit, mata dan organ lain. Penyakit ini ditandai dengan demam, malaise, batuk, nyeri menelan dan pada pemeriksaan terdapat pseudomembran kas. Penyakit ini ditularkan melalui kontak atau droplet, dan diagnosis pasti ditegakan berdasarkan gejala klinis dan kultur atau PCR. Terdapat 939 kasus di 30 provinsi di Indonesia dengan angka kematian 44 kasus dan case fatality rate 4,7% selama KLB tahun 2017. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi.        
Pola Sensitivitas In Vitro Salmonella Typhi Terhadap Antibiotik Kloramfenikol, Amoksisilin, Dan Kotrimoksazol: Di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin Periode Mei-September 2012 Juwita, Silvan; Hartoyo, Edi; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Incidence of typhoid fever in children is still considered high, especially in the Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin, so the effective and efficient treatment was required. The sensitivity test of organisms which tends to be resistance like Salmonella typhi is very important because each region has different sensitivity pattern of Salmonella and change over time. The purpose of this research was to determine the in vitro sensitivity pattern of Salmonella typhi to antibiotics chloramphenicol, amoxicillin, and cotrimoxazole in patients of Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin. This research was laboratoric descriptive.Out of 37 blood samples of typhoid fever patients in Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin, 20 samples were positive of Salmonella typhi isolate and the samples had undergone sensitivity test to antibiotic chloramphenicol, amoxicillin, and cotrimoxazole. This research was carried out with Kirby-Bauer diffusion method. Result interpretation was based on the formation radical zone of bacteria growth around antibiotic disk and it was compared to the standards of sensitivity by Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) 2011. The results of this research showed that Salmonella typhi was sensitive to chloramphenicol, (65%); amoxicillin, (15%); and cotrimoxazole, (80%); resistance to chloramphenicol, (10%); amoxicillin, (85%); and cotrimoxazole, (20%); and intermediat to chloramphenicol, (25%). The results of this research suggested that antibiotics chloramphenicol and cotrimoxazole were still sensitive to the bacteria Salmonella typhi, whereas amoxicillin was already resistant. Keywords: amoxicillin, chloramphenicol, cotrimoxazole, Salmonella typhi. ABSTRAK: Angka kejadian demam tifoid pada anak yang masih tinggi khususnya di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin, sehingga diperlukan pengobatan yang efektif dan efesien. Uji sensitivitas terhadap organisme yang cenderung mengalami resistensi seperti Salmonella typhi sangatlah penting karena pada masing-masing daerah mempunyai pola sensitivitas Salmonella yang berbeda dan berubah seiring waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sensitivitas in vitro Salmonella typhi terhadap antibiotik kloramfenikol, amoksisilin, dan kotrimoksazol pada pasien yang berada di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat deskriptif laboratorik. Dari 37 sampel darah penderita demam tifoid di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin didapatkan 20 isolat positif Salmonella typhi dan telah dilakukan uji sensitivitas terhadap 3 jenis antibiotik yaitu kloramfenikol, amoksisilin, dan kotrimoksazol. Penelitian ini dilakukan dengan metode difusi Kirby-Bauer. Interpretasi hasil berdasarkan pada terbentuknya zona radikal pertumbuhan bakteri di sekitar disk antibiotik dan dibandingkan dengan standar sensitivitas menurut Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salmonella typhi sensitif terhadap kloramfenikol, (65%); amoksisilin, (15%); dan kotrimoksazol, (80%); resisten terhadap kloramfenikol, (10%); amoksisilin, (85%); dan kotrimoksazol, (20%); dan intermediat terhadap kloramfenikol, (25%). Hasil penelitian ini menunjukkan antibiotik kloramfenikol dan kotrimoksazol masih sensitif terhadap kuman Salmonella typhi, sedangkan amoksisilin sudah resisten. Kata-kata kunci: amoksisilin, kloramfenikol, kotrimoksazol, Salmonella typhi.
Spektrum Klinis Demam Berdarah Dengue pada Anak Hartoyo, Edi
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.439 KB)

Abstract

Latar belakang. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di beberapa daerah di dunia.Setiap tahunnya WHO melaporkan 50–100 juta terinfeksi virus dengue dengan 250-500 ribu menderitaDBD dan 24.000 di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia, 12 dari 30 propinsi di antaranya merupakandaerah endemis DBD dengan case fatality rate 1,12%.Tujuan. Untuk mengetahui gambaran klinis, laboratorium, serta mengevaluasi terapi yang telah diberikanpada penyakit demam dengue/DBD.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik, subjek adalah pasien yang di rawat diBagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2007 sampai dengan Febuari 2008 dengan diagnosisdemam dengue/DBD/sindrom syok dengue (SSD) berdasarkan kriteria WHO tahun 1997 dan dilakukanuji serologi (rapid test Panbio Australia). Analisis data dengan program SPSS 13 for window.Hasil. Dari 123 subjek gejala klinis yang mencolok adalah demam 93,5%, muntah 65,1%, nyeri perut50,4%, ruam konvalesen 47,1%, pusing 19%, batuk 17,9%, pilek 9,8%, perdarahan gusi 6,5%, epitaksis4,1%, dan melena 3,3%. Pada pemeriksaan fisik uji forniket positif 62,6%, hepatomegali 38,2%, efusipleura 37,4%, dan asites 27,6%. Hasil laboratorium menunjukkan rerata angka leukosit lebih rendahpada SSD dibandingkan dengan DD dan DBD, dan secara statistik berbeda bermakna (p=0,007), nilairerata hematokrit lebih tinggi pada SSD dibandingkan DBD dan DD, secara statistik berbeda bermakna(p=0,049), rerata nilai trombosit SSD lebih rendah. Kadar SGOT 76,7% dan SGPT 86% meningkat padaSSD. Penggunaan cairan kristaloid pada demam dengue 81,1%, DBD 86,4% dan SSD 86,1% dari semuakasus, sedangkan penggunaan cairan koloid pada SSD 56,1%.Kesimpulan. Gejala klinis yang mencolok l demam, mual, muntah, nyeri perut, epitaksis, dan melena.Pemeriksan fisik, yang mencolok uji forniket positif, ruam konvalesen, hepatomegali. Leukopenia,trombositopenia serta peningkatan SGOT/SGPT lebih banyak dijumpai pada DBD dan SSD dari padaDD. 
Amniotic Band Syndrome (distruption) Hartoyo, Edi; Yunanto, Ari
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.608 KB)

Abstract

Amniotic band syndrome (ABS) merupakan kelainan genetik yang mempunyai variasiyang luas. Insidens ABS sekitar satu per 10000 kelahiran hidup. Selama ini telahdilaporkan sekitar 600 kasus di luar negeri. Sindrom ini meliputi kepala asimetrismeningoensetalokel, eksoftalmus, kekeruhan kornea, facial cleft bilateral, gnatopalatosisis,pseudosindaktili dan kelainan organ dalam berupa omfalokal dan gastrosisis. Dilaporkanseorang bayi laki-laki baru lahir dengan diagnosis amniotic band syndrome di RSUDUlin Banjarmasin.
Uji Sensitivitas Salmonella typhi Terhadap Berbagai Antibiotik di Bagian Anak RSUD ULIN Banjarmasin Hartoyo, Edi; Yunanto, Ari; Budiarti, Lia
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.317 KB)

Abstract

Latar belakang. Demam tifoid di Kalimantan Selatan merupakan infeksi usus akut denganangka kejadian dan angka kematian yang cukup tinggi. Sampai saat ini belum ada datamengenai pola sensitivitas Salmonella typhi terhadap antibiotik, khususnya di KalimantanSelatan.Tujuan. Untuk mengetahui sensitivitas Salmonela typhi terhadap berbagai antibiotik diBagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin Banjarmasin.Metoda. Penelitian potong lintang, pada anak dengan gejala klinis demam tifoid yangdirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin periode Januari 2004 - Juni 2004.Darah dibiak pada media bouillon dan agar SS. Kuman yang tumbuh pada biakan tersebutdilakukan uji biokimia, serta uji sensitivitas terhadap antibiotik.Hasil. Salmonella typhi ditemukan pada 52 (73%) sampel darah dari 71 anak dengangejala demam tifoid. Uji sensitivitas menunjukkan ampisilin, amoksilin, dankloramfenikol mempunyai sensitivitas masing-masing sebesar 34%, 28%, dan 46%.Asam nalidiksat dan kotrimoksasol mempunyai sensitivitas yang sama sebesar 66%,sedangkan sefiksim dan azitromisin masing-masing sebesar 79%. Siprofloksasinmempunyai sensitivitas tertinggi sebesar 84%, dan tidak ada kuman S. typhi yang resistenterhadap azitromisin.Kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antibiotik siprofloksasin,sefiksim, azitromisin masih sensitif terhadap kuman Salmonella typhi, sedangampisilin, amoksilin, serta kloramfenikol sudah resisten. Asam nalidiksat dankotrimoksasol mempunyai sensitivitas menengah, dan tidak ditemukan resistensiterhadap azitromisin.
Peran Alkohol 70%, Povidon-Iodine 10% dan Kasa Kering Steril dalam Pencegahan Infeksi pada Perawatan Tali Pusat Yunanto, Ari; Hartoyo, Edi; Budiarti, Lia Yulia
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: tali pusat merupakan tempat yang sangat ideal untuk tumbuhnyabakteri, oleh karena itu pencegahan infeksi bakteri merupakan tindakan utama yangharus dilaksanakan dalam perawatan tali pusat. Menjaga agar tali pusat selalu keringdan bersih merupakan prinsip utama. Tujuan penelitian: Mengetahui peran alkohol70%, povidon-iodine 10% dan kasa kering steril dalam pencegahan infeksi padaperawatan tali pusat.Metoda: telah dilakukan penelitian pemberian alkohol 70 %, povidon-iodin 10 %, sertakasa kering steril, dalam perawatan tali pusat pasca pemotongan untuk mencegahterjadinya infeksi, serta membandingkan lama lepasnya tali pusat. Penelitian dilaksanakandi Ruang Neonatalogi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin/FK UNLAMBanjarmasin. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan 12 kali atau sampai talipusat lepas.Hasil: dari tiga jenis perlakuan tidak didapatkan tanda-tanda adanya infeksi tali pusatdemikian pula lama lepasnya tali pusat tidak terdapat perbedaan yang bermakna (alkohol70 %: 7,33 hari, povidon-iodine: 10 %: 7,25 hari, dan kasa kering steril: 6,42 hari).Kesimpulan: dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perawatan tali pusat denganmenggunakan alkohol 70%, povidone-iodine 10% dan kasa kering steril dapat mencegahterjadinya infeksi tali pusat dan tidak berpengaruh terhadap lama lepasnya tali pusat.Namun bila dipandang dari segi ekonomi perawatan tali pusat dengan kasa kering sterildinilai lebih ekonomis dibandingkan perawatan tali pusat dengan menggunakan alkohol70% dan povidone-iodine 10%.
HUBUNGAN ANTARA IBU PENDERITA PRE-GESTASIONAL DIABETES MELLITUS DENGAN RISIKO KELAHIRAN BAYI Cleft Lip and Palate (Studi Kasus Kontrol di RSUD Tarakan, Kalimantan Timur) Istiyana, Deslita Trilianti; Hartoyo, Edi; Indra Sukmana, Bayu
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Cleft lip and palate (CLP) is one of the most common craniofacial anomalies with multifactorial etiology. Environmental factors, such as maternal status and nutrition, play an important role in intra-uterine development. One of maternal status which can happen before and during pregnancy is pregestational diabetes mellitus (PGDM). Purpose: The aim of this study was to analyze the association between pre-gestational diabetes mellitus and the risk of cleft lip and palate. Methods: This analytic observational hospital-based case control study was performed in public hospital of Tarakan, East Kalimantan between August and September 2014. The case group included 45 subjects and the control group included 90 subjects. Information regarding maternal status before and during pregnancy was recorded for analysis. Result: The results of chi-square and odds ratio tests indicated that there was a significant association between maternal pre-gestational diabetes mellitus and the risk of cleft lip and palate (p < 0,05, OR = 6,143, CI 95% [1,806, 20,897] ). Conclusion: This study concluded that maternal pre-gestational diabetes mellitus was significantly associated with an increased risk of cleft lip and palate. ABSTRAK Latar Belakang: Cleft lip and palate (CLP) adalah kelainan kongenital kraniofasial yang paling sering terjadi dengan etiologi multifaktorial. Salah satunya yaitu faktor lingkungan, berupa kondisi ibu dan nutrisi, yang berperan penting dalam perkembangan bayi intra-uterine. Pre-gestasional diabetes mellitus (PGDM) adalah salah satu kondisi dapat yang dialami ibu sebelum dan saat kehamilan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pre-gestasional diabetes mellitus dan risiko kelahiran bayi cleft lip and palate. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain kasus kontrol yang dilakukan di RSUD Tarakan, Kalimantan Timur pada bulan Agustus-September 2014. Sampel yang diambil terdiri dari 45 kasus dan 90 subjek kontrol. Data terkait kondisi ibu sebelum dan selama kehamilan dicatat melalui kuesioner untuk dianalisis. Hasil: Hasil uji chi-square dan odds ratio menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ibu pre-gestasional diabetes mellitus dengan risiko bayi cleft lip and palate (p < 0,05, OR = 6,143, CI 95% [1,806, 20,897]). Kesimpulan: Kesimpulan yang dapat diambil adalah ibu pre-gestasional diabetes mellitus berisiko lebih besar untuk melahirkan bayi cleft lip and palate.
Gambaran Isolat Bakteri Aerob Diare pada Anak yang Dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2015 Muttaqin, Gusti Muhamma Edy; Hartoyo, Edi; Marisa, Dona
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Diarrhea is one of the major health problems in children, especially children under five in developing countries because the mortality and morbidity rate is still high. In the world, 4 to 6 million children die every year from diarrhea, most of these deaths occur in developing countries. In general, the cause of diarrhea can not be separated from the bacterial infection. Bacteria that cause diarrhea varies by age, place, and time. The purpose of this study is analyzing anaerobic bacterial isolate in patients hospitalized children with diarrhea in general hospital ulin Banjarmasin. This study was an observational study with cross sectional design. Types of bacteria in pediatric patients in hospitals Ulin Banjarmasin period August-October 2015 at most is Escherichia coli by 26 samples (72.22%), Salmonella typhi by 7 samples (19.44%), and Shigella sp by 3 samples (8, 33%). Keywords: aerobic bacterial isolate, hospitalized children, diarrhea Abstrak: Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak terutama balita di negara berkembang karena angka kematian dan kesakitannya masih tinggi. Di dunia, sebanyak 4 sampai 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare, dimana sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Pada umumnya penyebab diare tidak terlepas dari infeksi bakteri. Bakteri penyebab diare berbeda-beda berdasarkan umur, tempat, dan waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi isolat bakteri aerob diare pada pasien diare anak yang dirawat di RSUD Ulin Periode Agustus – November 2015. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel diambil adalah feses dari seluruh populasi anak penderita diare yang dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin dengan menggunakan metode total sampling. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jenis isolat bakteri pada pasien anak di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus – Oktober 2015 dengan total 36 sampel paling banyak adalah Eschericia coli dengan jumlah 26 (72,22%) sampel, Salmonella typhi dengan jumlah 7 (19,44%) sampel, kemudian Shigella sp. 3 (8,33%) sampel. Kata-kata kunci: isolate bakteri aerob, anak yang dirawat, diare
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN LAMA HARI RAWAT INAP PASIEN ANAK DIARE AKUT Amin, Muhammad Rizal; Hartoyo, Edi; Marisa, Donna
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Good nutritional status can reduce the risk of diarrhea, while children with less or poor nutritional status enables more frequent and more susceptible to diarrhea. The worse the nutrition of a children, the frequency of diarrhea increases. This situation may have a relationship with length of stay. Length of stay of childhood diarrhea is influenced by the childs physical condition (good nutritional status, less, or worse). The purpose of this study is analyzing the relationship between nutritional status and length of stay of pediatric patient on acute diarrhea in Ulin General Hospital Banjarmasin 2014. This study was done by observational analytic with cross sectional approach. Total of 50 samples were obtained by purposive sampling; 2 patients with excess nutritional status, 37 patients with good nutritional status, 8 patients with less nutritional status, and 3 patients with poor nutritional status. Data was analyzed using the Kruskal-Wallis test with a confidence level of 95%  showed that the average length of stay in each nutritional status have no significant value difference (p=0,193). It was concluded that there is no relationship between nutritional status and length of stay of pediatric patient on acute diarrhea in Ulin General Hospital Banjarmasin 2014. Keywords: nutritional status, length of stay, acute diarrhea Abstrak: Status gizi anak yang baik dapat mengurangi risiko terkena penyakit diare, sedangkan anak dengan status gizi kurang atau buruk memungkinkan lebih sering dan lebih mudah terkena diare. Makin buruk gizi seorang anak, ternyata frekuensi diare semakin banyak. Keadaan ini mungkin memiliki hubungan dengan lama hari rawat inap. Hari rawat diare anak salah satunya dipengaruhi oleh kondisi fisik anak (status gizi baik, kurang, atau buruk). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan lama hari rawat inap pasien anak diare akut di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2014. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 50 sampel didapat secara purposive  sampling sesuai kriteria inklusi, 2 pasien  status gizi lebih, 37 pasien status gizi baik, 8 pasien status gizi kurang, dan 3 pasien status gizi buruk. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa rerata lama hari rawat inap di setiap status gizi tidak memiliki perbedaan nilai yang bermakna (p=0,193). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan lama hari rawat inap pasien anak diare akut di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2014. Kata-kata kunci: status gizi, lama hari rawat inap, diare akut
A Different Approach to Assess Oxidative Stress in Dengue Hemorrhagic Fever Patients Through The Calculation of Oxidative Stress Index Hartoyo, Edi; Thalib, Iskandar; Puspita Sari, Cynthia Maharani; Budianto, Windy Yuliana; Suhartono, Eko
Journal of Tropical Life Science Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.349 KB)

Abstract

The objectives of this study were to determine the involvement of Oxidative Stress (OS) in the pathogenesis of dengue hemorrhagic fever (DHF) through the analysis of oxidative stress Index (OSI). The levels of malondialdehyde (MDA), superoxide dismutase (SOD) and catalase (CAT) activity, and OSI were measured in 61 child dengue patients and (aged 6 months–18 years) with three different stages of DHF, i.e stage I, II, and III. The results show that the levels of MDA, SOD and CAT activity, and OSI significantly different between the group. The all parameters that investigated in this present study seems higher MDA level and OSI in the higher grade of DHF, except for SOD and CAT activity. From this result, it can be concluded that oxidative stress pathways might be involved in the pathomechanism of DHF and OSI might be used as a biomarker for OS and the severity in DHF patients.