p-Index From 2014 - 2019
22.889
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Power Electronics and Drive Systems (IJPEDS) International Journal of Public Health Science (IJPHS) International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Jurnal Bestari Indonesian Journal of Geography Sainsmedika TESLA Jurnal Teknik Elektro UNTAR Jurnal Ilmu Pendidikan Cakrawala Pendidikan Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan HUMANIORA LITERA Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Pythagoras Jurnal Rekayasa Mesin Jurnal Ilmiah Dinamika Bahasa dan Budaya KINESIK Jurnal Energi Dan Manufaktur MEDIA MEDIKA INDONESIANA TEKNIK KAPAL Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan GEMA TEKNOLOGI BERKALA FISIKA JURNAL SISTEM INFORMASI BISNIS Jurnal Pendidikan Progresif IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Jurnal INSANIA Prosiding Seminar Biologi Jurnal Didaktika Dwija Indria (SOLO) BIOTROPIA Jurnal Bumi Indonesia Journal of Information System for Public Health Berkala Ilmu Kedokteran Majalah Ilmiah Matematika Komputer Jurnal Sains Dasar Jurnal Kreatif Tadulako Online EMPATHY Jurnal Fakultas Psikologi PARADIKMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Jurnal Manusia dan Lingkungan Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Abdimas JEJAK Jurnal Penelitian Pendidikan Jurnal S2 Pendidikan Sains Geoplanning Journal Journal of Applied Finance and Accounting Majalah Geografi Indonesia Jurnal Transportasi Jurnal Celtic Agridevina : Berkala Ilmiah Agribisnis Jurnal Infra Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman Jurnal Ketahanan Nasional Potensia Jurnal Riset Pendidikan Matematika AKSIOMA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Program Kreativitas Mahasiswa - Gagasan Tertulis Jurnal NERS Journal Industrial Servicess Prosiding Semnastek Journal of Southeast Asian Applied Geology International Journal of Advances in Intelligent Informatics Journal of Mathematics and Mathematics Education Global Medical & Health Communication (GMHC) KEMBARA Jurnal Teknologi Pertambangan Jurnal Pendidikan Islam Muhammadiyah Journal Of Nursing Suhuf Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial Forum Geografi GEA, Jurnal Pendidikan Geografi JURNAL KEPERAWATAN GLOBAL Edu Sains: Jurnal Pendidikan Sains dan Matematika Orbith Jurnal Fisika FLUX Pembaharuan Hukum REINWARDTIA BERITA BIOLOGI Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Jurnal Penelitian Pendidikan Kimia BAHASA DAN SENI Sriwijaya University Learning and Education International Conference Indonesian Journal of Nursing Practices Catharsis The Journal of Educational Development Universa Medicina Unnes Science Education Journal PSEJ (Pancasakti Science Education Journal) Paediatrica Indonesiana Health Notions Jurnal Taman Vokasi MAJALAH ILMIAH GLOBE Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Seminar Nasional Pendidikan IPA Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat al-Daulah: Jurnal Hukum dan Perundangan Islam Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan Jurnal Teknologi Pendidikan Madrasah METODE Indonesian Mining Journal PROFIT PROMINE Hasanuddin Journal of Applied Business and Entrepreneurship Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Prosiding Seminar Nasional Pakar Perspektif Ilmu Pendidikan Al-Khidmah Buana Matematika : Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika Majalah Ekonomi WAHANA Jurnal Surya Masyarakat International Journal of Trends in Mathematics Education Research Efektor International Journal of Public Budgeting, Accounting and Finance Wiga : Jurnal Penelitian Ilmu Ekonomi APPROACH: Jurnal Teknologi Penerbangan Jurnal Penelitian Ecobuss: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis MAJAMATH: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Prosiding SNITP (Seminar Nasional Inovasi Teknologi Penerbangan) Jurnal Farmasi Indonesia GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Indonesian Mining Journal Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan UPEJ Unnes Physics Education Journal Journal of Innovative Science Education INSIST (International Series on Interdisciplinary Research) Unnes Journal of Mathematics Education Research BUANA SAINS Journal of Primary Education International Journal of Active Learning Jurnal Seni Tari YARSI Medical Journal JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Jurnal Agritechno
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Majalah Geografi Indonesia

PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MONITORING PERKEMBANGAN MORFOLOGI DELTA SUNGAI JENEBERANG MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT MULTI TEMPORAL

Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan citra Landsat TM dan ETM+ untuk memantau perkembangan morfologi dan perubahan bentuk lahan kepesisiran yang terjadi pada delta Sungai Jeneberang selama rentang waktu 1989-2006 serta mengkaji kemampuan citra penginderaan jauh terutama citra Landsat dalam mendeteksi perubahan geomorfologi yang terjadi pada daerah delta Sungai Jeneberang. Daerah penelitian meliputi kawasan delta Sungai Jeneberang Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan. Metode perolehan data primer adalah dengan menggunakan citra penginderaan jauh time series dan diolah dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), pengukuran di lapangan (gelombang, arus, pasang surut) dan analisis sampel sedimen tersuspensi di laboratorium.  Data sekunder dikumpulkan dari Badan Meteorologi dan Geofisika berupa peta, gambar, data statistik, data meteorologi serta laporan tertulis. Analisis data dilakukan dengan integrasi antara analisis kuantitatif dan analisis deskriptif dimana data-data hasil pengukuran lapangan digunakan untuk mendukung analisis deskriptif yang didapatkan melalui interpretasi citra penginderan jauh. Pengolahan SIG akan menghasilkan peta-peta perubahan garis pantai yang terjadi pada delta Sungai Jeneberang selama rentang waktu 1989-2006. Hasil penelitian diperoleh adanya fluktuasi panjang garis pantai dan luasan delta, bentuk daratan delta secara umum tidak mengalami perubahan yakni dari tahun 1989 ke tahun 2006 yakni berbentuk multi lobate kemudian berbentuk lobate. Delta mengalami perluasan rata-rata sebesar 8,84 ha/tahun namun pada tahun 2001-2005 mengalami pengurangan luas sebesar 2,38 ha/tahun. Panjang garis pantai bertambah rata-rata 23,10 km/tahun, namun pada tahun 1999-2001 garis pantai berkurang karena abrasi sebesar 37,02 km/tahun. Pengaruh fluvial dan pengaruh marin memainkan peranan yang hampir sama pada muara sungai Jeneberang sehingga proses abrasi dan sedimentasi terjadi bergantian pada beberapa bagian delta. Perubahan musim juga sangat dominan dalam pembentukan delta Sungai Jeneberang dimana pada musim barat debit sungai yang tinggi membawa sejumah sedimen dan diendapkan pada bagian muara. Luas areal permukiman di kawasan delta dari tahun 1989-2006 bertambah sebesar 1392 ha.  ABSTRACT Objective of this research was exploit the image of Landsat TM and ETM+ to monitor geomorphology of Jeneberang river delta, change of coastline during 1989-2006 and also to study the ability of satellite image especially Landsat image for detecting geomorphology changes on Jeneberang River delta. Research area covers the area of Jeneberang River delta, Makassar Regency, South Sulawesi Province. Primary data obtained by using time series satellite images afterwards it processed with the Geographical Information System (GIS);. field surveys to measure wave, tide, current, suspended sediment.  Secondary data collected from Chamber of Meteorology and Geophysics and also another source such as topographic maps, pictures, statistic data, from research reports. Data analysis conducted with the integration of quantitative analysis and descriptive analysis where data from field measurement used to support the descriptive analysis by interpretation satellite image. Processing data using GIS obtain geomorphology change map at the Jeneberang River delta during 1989-2006. The result of research is obtained fluctuation of coastline and area of delta. Landform of delta continent have changed from multi lobate shape become lobate shape. Area of delta increasing about 8.84 ha/year but in 2001 to 2005, area of delta experiencing of reduction about 2,38 ha/year. Length of coastline increasingabout 23.10 km/year, but in 1999 to 2001 coastline decrease about 37.02 km/year because abrasion. Fluvial and marine influence play important role on the landform of Jeneberang River delta. Abrasion and sedimentation process happened at some part of delta. Season change also very dominant in forming of Jeneberang River delta where in the rainy season it charge sediment load to the current river and accumulated on the river mouth.  Settlement area of delta from 1989 to 2006 increasing about 1392 ha.

Evaluasi Potensi Erosi Tanah Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi di DAS Bodri Hulu

Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): September 2010
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Erosi tanah menimbulkan dampak negatif baik terhadap lingkungan atau aspek ekonomi. DAS sebagai unit yang tepat untuk mempelajari erosi membuat data penginderaan jauh memiliki peran penting dalam penelitian ini. Kawasan ini diteliti DAS Bodri atas seluas 501,81 km persegi. Beberapa tujuan dalam penelitian ini adalah mengevaluasi potensi erosi tanah dalam skala moderat dengan menggunakan model erosi dan metode kualitatif, dan memvalidasi peta mengakibatkan erosi tanah. Data utama Landsat ETM + gambar direkam pada tanggal 29 Juni 2006 dan data DEM dari RBI (Rupa Bumi Indonesia) peta pada skala 1:25,000. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretasi visual dari jenis penggunaan lahan dan vegetasi transformasi indeks pada citra Landsat ETM +, kemiringan gradien turunan berdasarkan data DEM, dan analisis spasial untuk mengevaluasi erosi potensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua peta erosi tanah potensial kelas menyerupai mewakili evaluasi mereka di kelas dari 79%. Daerah yang diteliti didominasi oleh kelas ringan potensi erosi tanah dengan nilai pada 0-20 mm / tahun. Tingkat detail data DEM berasal dari peta RBI dan SRTM (Shuttle Radar Topografi Misi) 30 m tidak sama dengan tingkat detail dari peta kelas erosi tanah potensial. Ini berarti bahwa data DEM tidak dapat digunakan sebagai bahan validasi bagi mereka peta. Validasi kepada mereka peta dengan menggunakan data tanah memeriksa menunjukkan bahwa peta erosi tanah kelas potensial yang dihasilkan oleh metode kualitatif yang lebih mencerminkan dari yang lain. Hal ini disebabkan bahwa metode kualitatif lebih banyak variabel yang terlibat.  ABSTRACT Soil erosion causes negative impact either on the environment or economic aspect. Watershed as an appropriate unit to study erosion makes remote sensing data have an essential role in this study. This researched area was upper watershed of Bodri covering an area of 501.81 square km. Some goals in this research were evaluating potential soil erosion in moderate scale by using an erosion model and a qualitative method, and validating the resulted soil erosion maps.The main data were Landsat ETM+ image recorded on 29 June 2006 and DEM data of RBI (Rupa Bumi Indonesia) map at the scale of 1:25,000. Methods used  in this  research  were  visual  interpretation  of landuse  type  and  vegetation index transformation on Landsat ETM+ image, slope gradient derivation based on DEM data, and spatial analysis for evaluating potential soil erosion.Results indicated that both potential soil erosion class maps are resemble in representing   their  evaluation  at  the  grade  of  79%.  The  researched  area  is dominated by light potential soil erosion class with value at 0 – 20 mm/year. The detail  level  of  DEM  data  derived  from  RBI  map  and  SRTM  (Shuttle  Radar Topography  Mission)  30 m is not equal with detail  level of those potential  soil erosion class maps. It means that the DEM data cannot be used as a validation material  for those  maps.  Validation  to those  maps  by using  ground  check  data showed that the potential soil erosion class map resulted by qualitative method is more representative than the other. It is caused that the qualitative method involved more variables.

Pemanfaatan Citra Landsat 8 Multitemporal dan Model Forest Canopy Density (FCD) untuk Analisis Perubahan Kerapatan Kanopi Hutan di Kawasan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Gunung Kelud, Jawa Timur

Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penginderaan jauh memiliki keunggulan dalam hal resolusi temporal yang dapat dimanfaatkan untuk meneliti perubahan suatu obyek dalam waktu yang berbeda. Hutan Gunung Kelud mengalami perubahan setelah erupsi tahun 2014. Perubahan tersebut dapat dianalisis dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui citra multitemporal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan citra Landsat 8 multitemporal dan Forest Canopy Density (FCD) untuk perubahan kerapatan kanopi di Hutan Lindung Gunung Kelud sebelum dan sesudah erupsi tahun 2014.Citra penginderaan jauh yang digunakan adalah citra Landsat 8 perekaman 26 Juni 2013 dan 4 September 2015. Metode yang digunakan adalah pemodelan FCD yang menghasilkan kerapatan kanopi per piksel. Hasil pemodelan FCD kemudian digunakan untuk menganalisis perubahan kerapatan kanopi setelah erupsi. Berdasarkan penelitan ini didapatkan hasil bahwa citra Landsat 8 dapat dipergunakan untuk mengetahui kerapatan kanopi Hutan Lindung Gunung Kelud sebelum dan setelah erupsi dengan masing-masing akurasi sebesar 83,73% dan 81,14%. Terjadi perubahan luas kerapatan kanopi setelah erupsi, dimana terdapat 8833,95 Ha hutan yang mengalami penurunan kerapatan kanopi, sedangkan hutan dengan kerapatan kanopi yang tetap adalah seluas 2149,38 Ha, dan hutan yang mengalami peningkatan kerapatan kanopi adalah seluas 1643,31 Ha. Remote sensing has an advantage in terms of temporal resolution that can be exploited to examine the changes of an object in different times. Gunung Kelud Forest is changing after the eruption in 2014. The changes can be analyzed by utilizing remote sensing technology through multitemporal imagery. This study aims to examine the capabilities of Landsat 8 multitemporal and Forest Canopy Density (FCD) images for changes in canopy density in Kelud Protection Forest before and after the eruption in 2014. Remote sensing imagery used is Landsat 8 image recording June 26, 2013, and September 4, 2015, The method used is FCD modeling that produces a density of the canopy per pixel. FCD modeling results are then used to analyze changes in density of the canopy after the eruption. Based on this research, it can be concluded that Landsat 8 image can be used to determine the density of canopy of Kelud Protection Forest before and after eruption with 83.73% and 81.14% accuracy respectively. There was a change in the area of the canopy density after the eruption, where there was 8833.95 ha of forest that experienced a decrease in canopy density, whereas forests with fixed canopy densities were 2149.38 Ha, and forests with an increase in canopy density were 1643.31 Ha.

Analisis Potensi Habitat dan Koridor Harimau Sumatera di Kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau

Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pulau Sumatera adalah surga bagi keanekaragaman hayati, tapi surga ini sedang terancam oleh berbagai tekanan dari aktivitas manusia dari konversi hutan, pembukaan lahan yang tidak terkendali untuk perkebunan, perambahan dan perburuan liar. Saat ini, hutan alam di Sumatera berada di bawah tekanan kuat yang mempengaruhi pada kondisi ekosistem dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Situasi yang sama juga terjadi di pulau besar lainnya di Indonesia, yaitu Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis. Teknologi Penginderaan Jauh digunakan untuk mengidentifikasi tutupan lahan dan bentang alam berdasarkan genesis. Sementara teknologi GIS digunakan untuk menilai kesesuaian habitat harimau sumatera dan untuk menentukan potensi daerah untuk pengembangan koridor habitat untuk mempertahankan konektivitas antara dua blok hutan dipisahkan oleh jalan di daerah. Lokasi penelitian adalah Bukit Batabuh Hutan Lindung. Hasil penelitian menegaskan bahwa daerah penelitian ini cocok untuk mempertimbangkan sebagai habitat Harimau Sumatera, tetapi berfungsi sebagai habitat koridor saja dan tidak dianggap sebagai habitat inti, karena wilayahnya yang hanya mampu menampung kurang dari dua harimau. Namun demikian, mengingat lokasi strategis daerah ini sebagai hubungan antara dua kawasan lindung yaitu Rimbang Baling dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, wilayah ini sangat penting untuk dilindungi. Degradasi kesesuaian habitat terjadi pada kisaran 2002 - 2013 dengan indikasi pengurangan kawasan hutan alam yang berdampak langsung pada kondisi ekosistem di daerah. Keberadaan jalan memisahkan blok hutan Bukit Batabuh di daerah memberikan kontribusi yang terhadap tekanan tinggi kerusakan lingkungan. Lokasi potensial untuk membangun koridor habitat adalah lokasi di mana masih ada tutupan vegetasi yang relatif padat. Hutan alam di sepanjang jalan yang memisahkan hutan Bukit Batabuh telah hilang, namun tetapi pohon karet di daerah dapat digunakan sebagai daerah vegetasi karena struktur kanopi mirip dengan pohon di hutan alam. Lokasi dekat dengan jembatan juga menjadi pertimbangan yang baik karena dapat berpotensi digunakan oleh hewan untuk lewat. ABSTRACT Sumatera Island is a paradise of biodiversity, but it is being threatened by pressure human activity in forest conversion, clearing of land for plantations, encroachment and poaching. Recently, the natural forests in Sumatera are under pressure affecting in ecosystem conditions and biodiversity in it. That same situation is also occured in other major island, namely Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, and Java. This research was conducted by Remote Sensing and Geographic Information Systems. Remote Sensing Technology is used for indentifiying  landcover and landscape based on genesis. While GIS technology is used to assess the suitability of Sumatran tiger habitat and to determine a potential areas for development of habitat corridors to maintain connectivity between two forest blocks which separated by road in that area. The research location is Forest Preserve Batabuh Hill. The results have confirmed that the area is suitable for consideration as tiger habitat, but it has function for habitat corridors only and not regarded as a core habitat, because this area be able to accomodate fewer than two tigers. However, considering the location of strategic area as relationship between two protected areas that Rimbang Baling and Bukit Tigapuluh National Park, it has very important to be protected. Degradation of habitat suitability was occured of 2002 - 2013 with indication of reduction in natural forest areas that directly impact on ecosystem condition in the area. The existence of separate forest blocks Batabuh Hill in roads is giving contributed on  high pressure environmental damage. The potential area to establish habitat corridors is located in area with covered of relatively dense vegetation. Natural forests in along road is separating Forest Hill  Batabuh already lost, but the rubber trees in that area can be used as vegetation area because canopy structure similar a tree in natural forests. The location which near in bridge is also into consideration because could be potential for animals to pass.

Penggunaan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pembuatan Prototipe Perangkat Lunak Simulasi Penyebaran Kebakaran Hutan

Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah didesain dan disusun prototipe perangkat lunak model interaktif kebakaran hutan, yang dapat memberikan skenario terjadinya kebakaran hutan dengan masukan berupa lokasi titik api (hotspot) dan keluaran berupa informasi lokasi penyebaran kebakaran, luas kebakaran, waktu simulasi yang diperlukan untuk mencapai luas kebakaran serta kecepatan penyebaran kebakaran. Prototipe model interaktif ini dibangun dengan mendefinisikan suatu satuan perluasan eskalasi kebakaran (FirePixel) yang mewakili granularitas data riil lapangan sebesar 400X400 m, letak (posisi geografis) dan luasan pengamatan simulasi kebakaran yang dapat dikustomisasi (disetting) oleh pengguna secara interaktif dengan asumsi kondisi pada sebuah satuan perluasan eskalasi kebakaran atau Fire Pixel diasumsikan homogen dengan parameter konfigurasi vegetasi, kelerengan, sebaran gambut, sebaran batubara sebagai faktor internal dan faktor eksternal yaitu faktor tetangga terdekat, kecepatan dan arah angin, temperatur rata-rata, kelembaban rata-rata dari simulasi dapat dikustomisasi secara interaktif pada saat simulasi. Dalam perhitungan proses kebakaran dan proses pemadaman kebakaran hutan didefinisikan faktor percepatan proses kebakaran yang merupakan akumulasi dari faktor internal dan eksternal yang secara langsung mempengaruhi kecepatan terjadinya proses kebakaran dan pemadaman kebakaran hutan. Perubahan fase kebakaran diperoleh melalui pemodelan matematik dari faktor internal dan eskternal mulai dari fase mulai terbakar sampai kebakaran padam. Hasil validasi prototipe diperoleh kebenaran yang dapat diterima dalam perhitungan statistik menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov Dua Sampel. Hasil skenario 1 menghasilkan nilai KD hitung (=1,5722) < KD tabel (-1,9176) dan skenario 2 menghasilkan nilai KD hitung (=1,36) < nilai KD tabel (=1,5722). It has been designed and structured software prototype interactive model of forest fires, which can provide forest fire scenario, input is the location of hotspots and the output of the location information spread of fire, extensive fires, the simulation time required to reach the area of the fires and speed of fire deployment.The prototype interactive model is built by defining an expansion unit escalation fire (FirePixel) that represent real data granularity field of 400x400 m, position (geographical) and the extent of the fire simulation observations that can be customized (be set) by the user interactively by assuming the conditions in a expansion unit escalation of fire or fire pixel assumed homogeneous with the parameters : configuration of vegetation, slope, the distribution of peat, coal distribution as internal factors and external factors that factor nearest neighbors, wind speed and direction, average temperature, average humidity of the simulation can be customized interactively during the simulation. In the calculation of the fire and the fire fighting forest, fires the acceleration factor is defined as an accumulation of internal and external factors that directly affect the speed of the process of extinguishing fires and forest fires. Fire phase change obtained through mathematical modeling of internal and external factors ranging from phase start to burn until the fire goes out. Prototype validation results obtained acceptable truth in statistical calculations using the Kolmogorov Smirnov Two Sample. Results 1 scenario produces KDcount value (= 1.5722)

Penentuan Jalur Serangan dalam Operasi Lawan Insurjensi Daerah Perkotaan Menggunakan Data Penginderaan Jauh Dan SIG

Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk menganalisis kondisi medan perkotaan dalam penentuan jalur serangan dalam operasi lawan insurjensi di daerah pertempuran. Penentuan jalur serangan sangatlah penting dilakukan guna mengetahui aspek taktis yang akan digunakan oleh prajurit dan tindakan apa yang akan diterapkan. Untuk keperluan operasi lawan insurjensi daerah perkotaan diperlukan analisa mengenai 5 aspek taktis medan yang digunakan dalam militer guna menunjang dalam pelaksanaan serangan. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengkaji kemampuan Citra penginderaan jauh untuk memperoleh data dan informasi penggunaan lahan daerah  perkotaan untuk aplikasi kegiatan militer  yang dihadapkan kepada 5 aspek taktis medan, 2) Membuat jalur serangan terbaik di daerah pertempuran kota dalam mendukung kegiatan operasi lawan insurjensi. Metode yang digunakan dalam penentuan jalur serangan terbaik adalah dengan menentukan cost (berupa pengharkatan) hasil interpretasi penggunaan lahan daerah penelitian. Metode jalur serangan terbentuk secara otomatis didasarkan pada akumulasi jalur teraman dari hasil pengharkatan. Jalur yang dihasilkan merupakan jalur yang mempunyai tingkat keamanan terbaik, karena selalu melintasi medan yang mempunyai hambatan paling kecil dari aspek medan yang dapat membahayakan pasukan hasil evaluasi 5 aspek taktis medan dalam militer. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini berupa data penggunaan lahan hasil interpretasi citra Quickbird yang digunakan dalam militer, termasuk kerapatan bangunan dan rintangan medan  dihitung dengan cara menghitung luas atap bangunan keseluruhan dalam satu blok dan di bagi dengan luas blok. Hasil penelitian ini terdiri dari 1) Data penggunaan lahan aspek taktis militer dengan tingkat akurasi 86,2 %, 2) Penentuan jalur serangan terbaik menghasilkan 2 rute jalur serangan sebagai jalur teraman dalam serangan di perkotaan dan 1 jalur evakuasi untuk penduduk. ABSTRACT Geographic Information System and Remote sensing can be used to analyze the conditions of the urban terrain to determine of the attack path in the opposite insurgence operations in the combat zone. Determination of the attack path is very important to know the tactical aspects that will be used by the soldiers and what action will be applied. For the purposes of operating the opponent insurgence urban areas required an analysis of the five aspects of tactical field used in the military to support the implementation of the attack. The purpose of this study are: 1) Assess the ability of remote sensing images to obtain data and information on urban land use for the application of military activity brought to five the tactical aspects of terrain, 2) Make the best attack lines in urban combat zones in support of operations insurjensi opponent. The method used in determining the best path is to determine the attack cost (using scoring) interpretation of the results of the study area land use. This method of attack path is formed automatically based on the accumulation of results pengharkatan safest path. The resulting path is a path that has the best security level, because it always crossed the field who have the least resistance from the aspect of terrain that could endanger troops five aspects of the evaluation results in a military tactical field. Variables used in this study the data in the form of land use interpretation of Quickbird imagery used in the military, including the density of buildings and terrain obstacles is calculated by measuring the total roof area in one block and in the area of the block. The results of this study consist of two items. One is data military tactical aspects of land use with 86.2% accuracy rate. The second is determination of the best attack lines generate two routes the attack path as the safest path in the attacks in urban areas and an evacuation route for population. 

Klasifikasi Pohon Keputusan untuk Kajian Perubahan Penggunaan Lahan Kota Semarang Menggunakan Citra Landsat TM/ETM+

Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): September 2009
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang masih berkembang pesat. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.434.025 jiwa (BPS, 2006) yang tinggal di kota, kota ini bisa disebut kota metropolitan. Pertumbuhan penduduk Kota Semarang sejak tahun 1994 ketika ekspansi ke 16 daerah kabupaten menunjukkan perbaikan. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan lahan yang lebih tinggi, sehingga konversi lahan pertanian menjadi nonpertanian akan meningkat. Untuk yang terakhir, data dari jarak jauh-merasakan memainkan peran penting yang memberikan informasi terbaru untuk penggunaan lahan. Hal ini harus didukung oleh canggih metodologi pengolahan gambar seperti otomatis klasifikasi spektral. Penelitian ini mencoba untuk membandingkan dua algoritma klasifikasi Landsat TM digital / ETM + adalah classifier kemungkinan dan keputusan pohon maksimum, akurasi tertinggi berikutnya digunakan untuk studi perubahan penggunaan lahan di Kota Semarang. Penggunaan lahan klasifikasi yang diterapkan memiliki berbeda dua-tahap detail untuk skala 1: 250.000 (tingkat I) dan 1: 100.000 (level II). Hasil ini pada penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan peta klasifikasi pohon keputusan pada akurasi keseluruhan dan Kappa Indeks lebih tinggi dari penggunaan lahan peta hasil maximun klasifikasi kemungkinan dan penggunaan lahan klasifikasi tingkat I memiliki akurasi yang lebih baik daripada penggunaan lahan klasifikasi tingkat II. Akurasi tingkat I klasifikasi di peta tahun 1994, untuk klasifikasi kemungkinan maksimum yang diperoleh adalah 54,14% yang memiliki indeks Kappa adalah 0,4822, dan akurasi untuk klasifikasi pohon keputusan adalah 66,34% dengan indeks Kappa 0,6256. Akurasi peta tahun 2002 untuk klasifikasi kemungkinan maksimum yang diperoleh adalah 75,12% yang memiliki indeks Kappa 0713, dan keputusan klasifikasi pohon akurasi 81,46% yang memiliki indeks Kappa 0787. Pada peta tahun 2006 untuk klasifikasi kemungkinan maksimum yang diperoleh adalah akurasi keseluruhan 78,05% yang memiliki indeks Kappa 0,7641 dan keputusan klasifikasi pohon akurasi 82,45% yang memiliki indeks Kappa 0805. Perubahan penggunaan lahan di Kota Semarang menginstruksikan turunnya perkebunan dan lahan pertanian dan meningkatnya penyelesaian dan industri. ABSTRACT The  Semarang  City  is  still  growing  rapidly.   With  total  population  of approximately 1,434,025 people (BPS, 2006) who lived in the city, this city can be called a metropolitan city. Growth of Semarang City population since 1994  when expansion into 16 district areas showed improvement. This condition caused the need of  land higher, so that the conversion of agricultural into nonagricultural land will increased. For the latter, remotely-sensed data plays an important role which provide updated information for land use. This is must be supported by the advanced of image processing methodology such as automated   spectral  classification. This study attempted to compare two classification algorithm of digital Landsat TM/ETM+ is the maximum likelihood and decision tree classifier, the next highest accuracy used for the study of land use change in the Semarang City. Land use classification which was applied has different two-stage of the detail for scale of 1 : 250.000 (level I)  and 1 : 100.000 (level II). This  result  on  this  study indicate  that  the  landuse  map  of  decision  tree classification  on overall accuracy and Kappa Index was higher than landuse map of result maximun likelihood classification and land use classification of level I   have accuration which better than land use classification of level II. The accuracy of level  I classification at map year 1994, for maximum likelihood classification obtained is 54,14%  that  have  Kappa  index  is  0,4822,  and  the  accuracy  for  decision  tree classification is 66,34% with Kappa index 0,6256. The accuracy of map year 2002 for maximum likelihood classification obtained is 75,12% that have Kappa index 0,713, and for decision tree classification accuration of 81,46% that have Kappa index 0,787. At map year 2006 for maximum likelihood classification obtained  is overall accuration of 78,05% that have Kappa index 0,7641 and for decision tree classification accuration of 82,45% that have Kappa index 0,805. Change of land use in Semarang City instruct the  descent  of  plantation  and  agricultural  land and increasing  of  settlement  and industrial.

Pemanfaatan Citra Multi-Functional Transport Satellite untuk Estimasi Petir di Wilayah Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan Juanda Surabaya

Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): September 2016
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan wilayah tropis yang memiliki jumlah kejadian petir yang cukup tinggi dan memiliki resiko yang tinggi terhadap bencana yang disebabkan oleh petir. Oleh karena itu informasi yang tepat dan akurat tentang terjadinya petir sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya pengguna transportasi udara. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengolahan pada data citra satelit MTSAT dan memanfaatkannya sebagai parameter untuk mengestimasi petir. Dalam menentukan seberapa kuat hubungan SPA terhadap intensitas petir harian digunakan metode korelasi dan untuk menentukan nilai threshold SPA menggunakan data SPA minimum dan SPA rata-rata dari seluruh data SPA yang diolah pada saat terjadi petir. Metode statistik Critical Succes Index (CSI), False Alarm Rate (FAR), Probability of Detection (POD) dan Percent Correct (PC), digunakan dalam mengevaluasi tingkat akurasi estimasi petir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan nilai SPA terhadap jumlah petir adalah cukup kuat, yaitu semakin rendah nilai SPA maka jumlah petir cenderung semakin meningkat. Pengolahan data SPA menghasilkan nilai threshold SPA untuk estimasi petir sebesar -41oC dan -67oC. Evaluasi estimasi petir menggunakan threshold SPA -41oC dan -67oC menghasilkan akurasi masing-masing sebesar 32% dan 65%. Tingkat akurasi estimasi petir menggunakan threshold SPA -67oC lebih tinggi dibandingkan menggunakan threshold SPA -41 oC. Berdasarkan hasil penelitian inidiketahui bahwa petir hanya terjadi pada nilai SPA yang lebih rendah dari -41oC, dan petir yang paling banyak terjadi adalah pada nilai SPA dalam rentang -65oC s/d -80oC

Pendugaan Potensi Cadangan Karbon Hutan di Atas Permukaan pada Ekosistem Mangrove Berbasis Synthetic Aperture Radar L-BAND

Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kebijakan pemerintah untuk menurunkan tingkat emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dari sektor kehutanan membutuhkan sistem pendugaan kandungan karbon hutan untuk cakupan wilayah geografis yang luas dan waktu pengukuran yang cepat. Salah satu alternatifnya melalui pemanfaatan citra satelit synthetic aperture radar (SAR). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan sensitivitas gelombang-L dari citra ALOS PALSAR terhadap nilai kandungan karbon di atas permukaan pada hutan mangrove. Penelitian dilakukan pada kawasan hutan mangrove, di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Metode penyusunan model dilakukan berdasarkan analisis quantitatif menggunakan persamaan regresi, dengan cara mengkorelasikan nilai backscatter yang diekstrak dari citra ALOS PALSAR Res.50m pada polarisasi HH dan HV dengan nilai kandungan biomassa aktual hasil pengukuran lapangan berbasis plot alometrik. Model penduga yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menghitung jumlah cadangan karbon dan sebarannya secara geografis.  Ditemukan hubungan yang kuat dengan koefisien determinasi (R2) mencapai 62% pada polarisasi HH dengan bentuk persamaan Y=1647e0,358BS_HH dan, 98,6% pada polarisasi HV dengan bentuk persamaan Y = 6,828BS_HV2 + 279,4BS_HV + 2870; Berdasarkan model persamaan tersebut dihasilkan dua buah peta kelas kerapatan karbon model-1 (HH) dan model-2 (HV).  Kandungan biomassa di atas permukaan (Aboveground biomass-AGB) pada hutan mangrove di Kabupaten  Kubu Raya diketahui sebesar 178,43 Mg/ha; sedangkan potensi karbon di atas permukaan (aboveground biomass carbon) diketahui sebesar 5.334.454,9 Mg (Megagram) atau 5,3 Mt (Megaton) karbon, dan kemampuan dalam menyerap karbondioksida (CO2) adalah sebesar 19,451 Mt (Megaton) CO2 equivalent. Sensitivitas gelombang-L citra ALOS PALSAR terhadap objek yang diamati diperkirakan akan menurun pada saat karbon aktual tertinggi di lapangan mencapai 335,15 Mg ha-1. Dalam konteks mitigasi perubahan iklim, hutan mangrove di Kubu Raya dengan luas 71.069,21 Ha apabila dipertahankan keberadaannya maka akan berkontribusi mengurangi tingkat emisi GRK dari sektor kehutanan sebesar 0,76 %.  ABSTRACT The government policy to reduce the GHG (Green House Gas) emision from forestry sector, the need for sufficient forest carbon stock measurement system which encompass a faster measurement and covering broader geographic area to estimate the potential of forest carbon stock is now growing, one of which is the use of synthetic aperture radar (SAR) in radar remote sensing systems. The objectives of this study are to demonstrate the strong relationship between the L-band backscatter of ALOS PALSAR and the aboveground carbon stock in mangrove forest; and its sensitivity level. The information resulted from this study can be useful in reducing strategies of GHG (Green House Gases) emision, due to the climate change mitigation efforts in Indonesia. The study site was located at the area of mangrove forest, in Kubu Raya regency, West Kalimantan. The estimation models for aboveground biomass carbon stock was obtained from a quantitative analysis using regression method; i.e. by correlating the values of ALOS PALSAR 50m Res. backscatters at HH and HV polarization with the actual biomass total amount resulted from field -based allometric plots measurements. The estimation models were subsequently use for forest carbon stocks quantification in mangroves, and its distribution geographically. Strong relationship was found with coefficient of determination (R2) 62 % on HH polarization based on the equation model of Y=1647e0,358BS_HH  and , 98.6 % on HV polarization based on the equation model of Y = 6,828BS_HV2 + 279,4BS_HV + 2870; two models of carbon density classification maps i.e. model-1 (HH) and model-2 (HV) are also resulted from the two equation models. The quantity of AGB (aboveground biomass) of  mangrove forest in Kubu Raya district found as 178.43 Mg/ ha, while the aboveground biomass carbon is 5,334,454.9 Mg (Mega grams) or 5,3 Mt (Mega tons) of carbon, and the capacity of carbon dioxide (CO2) sequestration is 19.451 Mt (megatons) CO2 equivalent. The Sensitivity of L-band of ALOS PALSAR illumination on the object was expected to reach its saturation point when the highest total amount of actual carbon stock at field achieved the 335,15 Mg ha-1. In the context of climate change mitigation, the 71,069.21 ha area of mangrove forests in Kubu Raya if it remain save and be avoided from further deforestation and forest degradation, it will contribute to reduce the rate of GHG emissions from forestry sector by 0.76 %. 

Co-Authors A Mushawwir Taiyeb A. Rachman Ibrahim, A. Rachman A. Rusilowati Abdul Haris Nasution, Abdul Haris Abrar Ridwan Abul Walid Adhistia Amelia, Adhistia Adhitya Angga Wijaya, Adhitya Angga ADISAPUTRA, MIMIN K. Aditya Marianti Adityas Normalita, Adityas Agus Cahyono Ahmad Fudholi Al Irsyad, M. Indra Alvianto, Wibi Ardi Amelia Hani Saputri, Amelia Hani Amsari, Uli Andreas Priyono Budi Prasetyo, Andreas Priyono Budi Ani Rusilowati Anwar Efendi Any Wuryaningrum, Any Ardin Ardin, Ardin Ari Pani Desvina Ari Probandari Arif Hidayat Arif Widiyatmoko, Arif Arini, Affita Nur Arisyanto, Prasena Arum, Agnes Yustika Wulan Aryanti Indah Jaya Asadillah Hadi As’ari, Asadillah Hadi Ashar Ashar Aswandi Aswandi, Aswandi Awan, Meiseti Azizah, Fatya Badrun Badrun Bahiyah, Lumiyatun Bambang Sugiantoro Bambang Sulistyo Barano SS Meteray, Barano SS Basri, Novysa Bhisma Murti Brilliansya, Wempy Budi Yulianto Cahyati, Ani Chandra Lesmana, Chandra Danang Parikesit Daniel Sutopo Pamungkas, Daniel Sutopo Danoedoro Danoedoro Darmawi Bayin Daulay, Mushoddik Dewi Wulandari Dharmansyah, Eddy Dhimas Wiratmoko, Dhimas Diah Kartika Sari Dian Armanto Didik Purwadi Dilaga, Ahmad Prasetya Dimyati, Ratih Dewanti Djuwita Amin Mahmud Dona Fitriawan Donal, Donal Dulbahri Dulbahri, Dulbahri Dwi Oktaviana, Dwi Dyah Pratamawati, Dyah Edi, Sukiswo Supeni Effendi Effendi Effendy, Suhardi Eka Fitriani Eka Rosanti Eko Haryono Eko Pujiono Eko Sugiharto Eko Wahyuni, Eko Endang Sri Markamah, Endang Sri Endang Wara Suprihatin Suprihatin, Endang Wara Suprihatin Erna Budhiarti Nababan F. EKA SAFITRI, F. EKA Fahrudin Indra Buana Falah, Syarifatul Farhana Mohd Razali, Nur Fatimah Azzahrah Fauzan Wibawa, Fauzan Fauzi, Muhamad Irfan Ferdian, Rizky Fitriani Fitriani Frananda, Hendry Fuad Abd. Rachman, Fuad Fuad Abd. Rachman, Fuad Abd. Fuad Abdurachman, Fuad Gandes Nurseto, Gandes Gunawan Nusanto, Gunawan Gunawan Pamudji Widodo Hadadi, Oki Hadian Hakim Zulkarnain, Hakim Hardianti, Meliana Haryono Haryono Haryono Supriyo Haryono Umar Hasanuddin, H Hestiarini, Aprisa Rian Hidayah, Husnul Hidayat, Willy hidayat Himawati, Azizah Himayah, Shafira Hudaya, Yudi Fatwa Husna Arifah, Husna I.S, Rifdian Ian Yulianti, Ian Imam Barnadib Imam Sujadi Indah Setyowati, Indah Indrawati, Like Inna Latifa Rahmawati, Inna Latifa Ipung Permadi Iqbal Iqbal Irchami Putriningtyas, Irchami Irham Irham Irianto, Rifdian Irsyad, M. Indra al Isa Akhlis Ishaq, Sunaryo Isis Rachmadi, Isis Ismanto Ismanto Ismet Ismet, Ismet Isnain Dhartaredjasa Iwan Purnawan Jamilah Jamilah Janah, Anisa Furtakhul Jati Utomo Dwi H Joko Lianto Buliali Joko Santoso Joko Sutarto Junus, Nursyamsi Kamaruddin Kamaruddin Kartinaty, Tietyk Kastam Syamsi Khan Bin Majahar Ali, Majid Khumaedi Khumaedi, Khumaedi Kresno Kresno, Kresno Krismiyanti, lufia Kumala Andriani, Riski Widya Kus Prihantoso Krisnawan Kusmawaty, Dewi Kustiyo Kustiyo, Kustiyo Langlang Handayani Lestari, Nartini Liliana Liliana Lilies Lilies Lukman Lukman M. Djahir Basir, M. Djahir Magita Novita Sari, Magita Novita Mahardhika, Hendy Maharsi, Endah Dwi Maliasih, Maliasih Maman Suryaman Mandini, Gity Wulang Mandoza, Defri Marhadi Saputro, Marhadi Martanto, Rochmat Masayu Nurhayati, Masayu Masluchah, Indah Matsun Matsun, Matsun Maulana Istu Pradika Miftakhus Sholikhah, Miftakhus Mochammad Maksum Machfoedz, Mochammad Maksum Mohammad Hakimi Mokhamad Taufik, Mokhamad Muchtadi Muchtadi, Muchtadi Mudhofir, Faiz Muhammad Ali Imron Muhammad Askari Zakariah Muhammad Dimyati, Muhammad Muhammad Hakimi Muhammad Kamal Muhammad Masykuri Muhammad Merlis, Muhammad Muhammad Zainuddin Lubis Muhammad, Fan Naa Na Muliati Muliati, Muliati Murbangun Nuswowati Murti BS, Sigit Heru Murti, Murti Nengah Suparta, Nengah Ni Komang Tri Paramityaningrum, Ni Komang Tri Nika Bellarinatasari Nikmah, Syafridatun Ninik Lukiana Nirbaya, Eryaya Nisaa, Arifatun Novi Susetyo Adi, Novi Susetyo Noviani, Yusida Nugraha, Erika Sulistya Nur Mohammad Farda Nuraini Dwi Astuti Nurdjanah Hamid, Nurdjanah Nurhadi, Imam nurlailis saadah, nurlailis Nursida Arif Opim Salim Sitompul Ova Emilia P, Nurani Panjaitan, Sriwidya Hotmaria pargaulian siagian siagian, pargaulian siagian Perdani, Ambika Putri Phillips, David Prabang Setyono Prabowo, Anggun Pramaditya Wicaksono, Pramaditya Pramuwardani, Ida Pratiwi Oktaviani, Pratiwi Prihatini, Luciana Intan Priyo Widodo, Priyo Projo Danoedoro Puji Rahayu Putra, Bhima Andhika Putut Marwoto Qadriathi Dg Bau Rahardjo, Pentardi Rahmi Susanti Rakanita Dyah Ayu Kinesti, Rakanita Dyah Ayu Ramdhan, Herry Muhammad Ratih Kumala Sari, Ratih Kumala Raymundus Parulian Sihotang Rendani, Feby Restu Lanjari Restuningrum, Ayu Retnadi Heru Jatmiko Ria Mardiana Yusuf Ridwan, Mohd. Rinawati, Sulis Rini Dorojati, Rini Riyadi Riyadi Rizka Maulina, Dhoriyah Vataty Rizki Annisa Rizky, Kurniawan ROEKMOWATI ROEKMOWATI, ROEKMOWATI Rolly Intan Ronggo Sadono Ruata, Isabella Christy Ryan Permana S., Rifdian I. Sagaf Faozata Adzkia, Sagaf Faozata Sakuri, Sakuri Sambas Sundana Sani M. Isa Sania Mariant Sari, Sania Mariant Sanjiwana Arjasakusuma, Sanjiwana Santika Santika Sapitri Sapitri, Sapitri Saputra, Gilang Surya Saputri, Aneng Dewi Sari, Yulvia Sartika Sartika Sehah Sehah Seno Darmanto Septi Andriani, Septi Serom, Serom Setiaji Setiaji, Setiaji Setyasih, Astin Dwi Sigit Heru Murti, Sigit Heru Siti Handayani Siti Mardliya, Siti Slamet Hariyadi Sobron Y Lubis, Sobron Sofyan Djamil Sopaheluwakan, Ardhasena Sopian, Kamaruzzaman Sri Budiastuti Sri Iswidayati Sri Mulyani Endang Susilowati, Sri Mulyani Endang Sri Rum Giyarsih Sri Yatmihatun St. Budi Waluya Subawi, Handoko Sudarmin Sudarmin Sudjoko, Rifdian Sugito Sugito Suhadi Lili Sujarwata Sujarwata, Sujarwata Sukristiyanti Sukristiyanti, Sukristiyanti Sukwardjono, Sukwardjono Sulistyo, Bambang Sulistyowati, Elina Endang Sumardiyono Sumardiyono Sumendap, Priscillia Sunarno Sunarno Sunartini Sunartini, Sunartini Sunarto Sunarto Sunyoto Eko Nugroho, Sunyoto Eko Supartono Supartono Supriyadi Supriyadi Sutikno Sutikno Suwarta Suwarta Suyono Suyono Suyono, Tri syakir syakir Tatang Suhery, Tatang Taufik Hery Purwanto Thomas Thomas Tiarma Simanihuruk, Tiarma Tirtaningsih, Munaisra Tri Titisari, Anastasia Dewi Tjetjep Rohendi Rohidi, Tjetjep Rohendi Totok Gunawan Totok Sumaryanto Florentinus, Totok Sumaryanto Totok Sumaryanto, Totok Tri Wahyuningtyas, Tri Triyanto Triyanto Tulus Tulus Udi Utomo Ukiman, Ukiman Umul Aiman Useng, Daniel Utantyo Utantyo, Utantyo Utin Desy Susiaty, Utin Desy Utomo, Setio Utomo, Wasito Vidiastuti, Ririn Wafrotur rohmah, Wafrotur Wahidah, Nazilatul Wahyu Lestari wahyuni wahyuni Wahyuningrum, Febryanti Wantoro Wantoro, Wantoro Wasida, Maria Rosadalima Waterman Sulistyana B, Waterman Sulistyana Wenang Anurogo, Wenang Wibowo, Eko Yulianto Widodo, Agung Mulyo Wihantoro Wihantoro Wintolo, Marhento Wiyanto Wiyanto Wiyatmi Wiyatmi Yahya Yahya Yendra, Rado Yunita Sari Zakariah, Muhammad Zarnzani Zarnzani, Zarnzani Zulaiha Zulaiha, Zulaiha Zulfahmi, Muhammad Nofan