I Nyoman Budi Hartawan
Medical School, Udayana University Sanglah Hospital, Denpasar-Bali

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Pulmonary Hypertension in Pediatrics Hartawan, I Nyoman Budi; Winaya, I.B Agung
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 58 No. 3 March 2008
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonary hypertension (PH) is defined as mean pulmonary artery pressure of more than 25 mmHg at rest or more than 30 mmHg during exercise. PH is classified as primary and secondary. Primary PH is idiopathic and secondary PH is caused by cyanotic and noncyanotic congenital heart diseases. Secondary PH also can also be caused by pulmonary diseases and thromboembolism. Pathophysiology of PH is caused by increased flow or resistance of pulmonary artery. The symptoms of PH are nonspecific and are often difficult to differentiate from those of other pulmonary or cardiovascular diseases. The presenting symptoms are dyspnoea, exertional dyspnoea, syncope, chest pain. The most consistent finding in patients with PH is increased pulmonic component of the second heart sound. Chest radiography may indicate the presence of PH, electrocardiography can frequently reveal evidence of right atrial or ventricular enlargement in patients with PH and echocardiography is the most useful imaging modality for detecting PH. Therapeutic advances over the past two decades have resulted in significant improvements.Keywords: pulmonary hypertension, congenital heart diseases
Karakteristik Tumbuh Kembang Anak di Tempat Penitipan Anak Werdhi Kumara 1, Kodya Denpasar Hartawan, I Nyoman Budi; Windiani,, I G A Trisna; Soetjiningsih, Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.167 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.134-8

Abstract

Latar belakang. Skrining pertumbuhan dan perkembangan terhadap seluruh anak untuk mengidentifikasi gangguan pertumbuhan dan keterlambatan perkembangan harus dilaksanakan secara rutin. Skrining tidak harus dilaksanakan di tempat pelayanan kesehatan, namun dapat dilaksanakan dimana saja seperti di tempat penitipan anak (TPA).Tujuan. Untuk mengetahui angka kejadian gangguan pertumbuhan dan dugaan keterlambatan perkembangan.Metode. Desain penelitian potong lintang di TPA Werdhi Kumara 1 Kodya Denpasar pada September 2007. Subjek penelitian adalah anak sehat yang berusia kurang atau sama dengan 6 tahun. Skrining pertumbuhan dengan menentukan status gizi berdasarkan indek massa tubuh dan berat badan terhadap tinggi badan sedangkan skrining perkembangan menggunakan Denver II.Hasil. Tujuh puluh sembilan subjek ikut dalam penelitian. Karakteristik subjek adalah overweight dan underweight pada anak di atas atau sama dengan 2 tahun masing-masing 14,5% dan 16,1%, sedangkan 29% subjek di bawah usia 2 tahun dikategorikan underweight. Proporsi perawakan pendek 8,9% dan kelompok tersangka keterlambatan perkembangan 13,9%. Pendidikan ayah maupun ibu tidak signifikan mempengaruhi hasil skrining Denver II (p=0,25 dan 0,37), Juga tidak berbeda bermakna antara anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki (p=0,06).Kesimpulan. Gangguan pertumbuhan dan suspek keterlambatan perkembangan ditemukan di TPA Werdhi Kumara 1, Kodya Denpasar
Validitas Stroke Volume Variation dengan Ultrasonic Cardiac Output Monitor (USCOM) untuk Menilai Fluid Responsiveness Hartawan, I Nyoman Budi; Pudjiadi, Antonius H; Latief, Abdul; Dewi, Rismala; Yuniar, Irene
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.003 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.367-372

Abstract

Latar belakang. Stroke volume variation (SVV) adalah parameter hemodinamik untuk menilai fluid responsiveness. Pengukuran SVV dapat dilakukan dengan USCOM yang merupakan alat pemantauan hemodinamik non invasif berbasis ekokardiografi Doppler.Tujuan. Mengetahui nilai cut-off point (titik potong optimal) SVV dengan USCOM sebagai prediktor fluid responsiveness pada pasien dengan ventilasi mekanik.Metode. Penelitan dilaksanakan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan menggunakan peningkatan stroke volume (SV) setelah challenge cairan ringer laktat 10 mL/kg berat badan selama 15 menit sebagai indek. Subyek penelitian adalah pasien dengan usia ≥1 bulan dan ≤18 tahun yang menggunakan ventilasi mekanik. Peningkatan nilai SV ≥10% disebut responder dan <10% disebut non responder. Pengukuran SV dengan USCOM dilakukan sebelum dan setelah fluid challenge, dan pengukuran SVV dilakukan sebelum challenge cairan.Hasil. Terdapat 32 subyek ikut serta dalam penelitian. Area under curve (AUC) subyek ventilasi mekanik adalah 76,6% (IK95%:60,1%-93,1%), p<0,05. Titik potong optimal SVV adalah 30%, dengan sensitivitas 72,7% dan spesisifitas 70%.Kesimpulan. Ultrasonic cardiac output monitor (USCOM) memiliki validitas yang baik untuk menilai SVV pada pasien dengan ventilasi mekanik. 
Level of knowledge on HIV I AIDS among senior high school students Hartawan, I Nyoman Budi; Wati, Ketut Dewi Kumara
Paediatrica Indonesiana Vol 48 No 4 (2008): July 2008
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi48.4.2008.235-9

Abstract

Background Young people are now the epicenter and bear adisproportionate burden ofHIV/AIDS pandemic. Until now,one of the strategies which are implemented by the govern-ment is by increasing the level of HIV/AIDS knowledge inorder to avoid its spreading.Objective This study was to explore the level of HIV/AIDSknowledge of senior high schools students towards HIV I AIDSat subdistrict ofPetang. The secondary outcome is to comparethe levels of knowledge toward HIV I AIDS between Petang andPelaga Senior high school, between class and gender.Methods This was a descriptive study, conducted between1st to 28th February 2007 in Petang and Pelaga Senior HighSchool. The study subjects are 529 students (all of senior highschool students in subdistrict of Petang, Badung Regency).Data was taken using UNICEF questionnaire 2000 for youngpeople, which had been passed the reliability test with thekappa value of 0.85.Results Most subjects (90.5%) have excellent and goodknowledge and only 9,5% have sufficient knowledge. Level ofknowledge in girls is better than boys with significant differ-ence between them (P=O.OOO), while school and grade didntshow any differences (P=0.760) and (P=0.489).Conclusion The level of knowledge of senior High School inSubdistrict ofPetang, Badung Regency toward HIV /AIDS is atexcellent or good level
HUBUNGAN PERILAKU IBU TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKAWATI I PERIODE BULAN NOVEMBER TAHUN 2013 Laksmi, Ni Putu Anggun; Windiani, IGA Trisna; Hartawan, I Nyoman Budi
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare masih tetap potensial berkembang di Indonesia sebagai masalah kesehatan masyarakat. Angka kematian akibat diare cenderung sudah menurun, tetapi kejadian sakit diare, terutama yang menyerang Balita di daerah pedesaan, cenderung masih dominan. Rancangan penelitian ini adalah studi potong lintang analitik untuk mengetahui perilaku berisiko seperti cara memberi makanan pada balita, mencuci tangan, dan memasak air minum sebagai faktor risiko terhadap kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukawati I pada bulan November 2013. Responden dalam penelitian ini adalah ibu balita yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Sukawati I dan telah memberikan persetujuan untuk mengikuti penelitian ini. Responden berjumlah 120 orang jumlah. Responden terbanyak adalah ibu berusia 21-30 tahun (58,3%), pendidikan rendah (47,5%), dan bekerja (51,7%). Prevalensi diare dalam 6 bulan terakhir adalah sebesar  70%. Balita mengalami diare sebesar 76,7% pada ibu yang memberi makan anaknya dengan makpakang, 84,2% pada ibu yang tidak mencuci tangan dengan sabun, dan 84,6% pada ibu yang tidak memasak air sebelum dikonsumsi. Kebiasaan makpakang dengan kejadian diare pada balita tidak ditemukan hubungan yang bermakna (p=0,358 dan ?2 = 0,847). Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada balita (p=0.001 dan ?2 = 10,44). Memasak air memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada balita (p=0,015 dan ?2 = 5,877).    
KARAKTERISTIK PENYAKIT JANTUNG BAWAAN ASIANOTIK TIPE ISOLATED DAN MANIFESTASI KLINIS DINI PADA PASIEN ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH Kumala, Karmelia; Kartika Yantie, Ni Putu Veny; Hartawan, I Nyoman Budi
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abnormalitas struktur dan fungsi jantung yang sudah didapatkan sejak bayi lahir, disebabkan kegagalan pembentukan struktur jantung pada masa awal pembentukanjanin di dalam kandungan merupakan definisi penyakit jantung bawaan (PJB). Manifestasinya beragam dari ringan sampai berat. Penyakit jantung bawaan dapat terjadi karena dua faktor, faktor genetik dan faktor lingkungan. PJB secara garis besar dibagi dua, yaitu asianotik dan sianotik. PJB asianotik tipe isolated yang paling sering ditemukan merupakan defek septum atrium (DSA), defek septum ventrikel (DSV), dan duktus arteriosus paten (DAP). Asia memiliki prevalens penyakit jantung bawaan asianotik tertinggi dibandingkan benua lainnya, yaitu 9,3/1.000 kelahiran hidup. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional dengan metode consecutive sampling pada pasien dalam rentang waktu November 2016 sampai dengan April 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mencari karakteristik dan manifestasi klinis dini penyakit jantung bawaan asianotik tipe isolated DSV, DSA, dan DAP pada pasien anak di RSUP Sanglah. Karakteristik PJB asianotik tipe isolated pada pasien anak di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah yaitu DSV sebanyak 22 anak (51,2%), DAP sebanyak 15 anak (34,9%), dan DSA sebanyak 6 anak (14%). Manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien anak dengan penyakit jantung bawaan asianotik di RSUP Sanglah yaitu sesak, sulit minum, batuk, kebiruan, berkeringat, dan lain-lain. &nbsp; Kata kunci: Penyakit Jantung Bawaan Asianotik, DSA, DSV, DAP, Anak
PREVALENSI KONSTIPASI DAN GAMBARAN ASUPAN SERAT MAKANAN DAN CAIRAN PADA ANAK REMAJA Dharmatika, I Made Pramana; Nesa, Ni Nyoman Metriani; Hartawan, I Nyoman Budi; Putra, I Gusti Ngurah Sanjaya; Karyana, I Putu Gede
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi konstipasi serta mempelajari asupan serat makanan dan cairan pada anak remaja. Penelitian ini menggunakan metode potong lintang yangdilakukan pada Mei hingga September 2017. Jumlah sampel sebesar 63 anak remaja di SMP Negeri 1Denpasar yang berusia 13-15 tahun. Penelitian ini menggunakan kuisioner yang diisi secara langsungoleh sampel. Konstipasi ditegakkan berdasarkan kriteria Rome III. Asupan serat makanan diketahuimelalui food record yang telah diisi selama tiga hari.Prevalensi konstipasi pada anak remajaditemukan sebesar 11,1%. Rerata asupan serat makanan pada anak remaja ditemukan sebesar 8,75 ±3,01 gram. Kelompok konstipasi memiliki rerata asupan serat makanan sebesar 5,7 gram (SB ± 2,2)dan kelompok tanpa konstipasi sebesar 9,1 gram (SB ± 2,1). Asupan cairan sebanyak ?7 gelasditemukan pada 66,7% anak remaja. Penelitian ini menunjukkan bahwa konstipasi masih ditemukanpada beberapa anak remaja. Mayoritas anak remaja memiliki asupan serat makanan yang rendah.Asupan serat makanan pada anak remaja perlu ditingkatkan sesuai dengan rekomendasi harian untukmenjaga kesehatan anak remaja.Kata kunci: Konstipasi, serat makanan, cairan, food record, anak remaja
The role of endothelial glycocalyx in sepsis Hartawan, I Nyoman Budi; Wiryana, Made
Bali Journal of Anesthesiology Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.173 KB) | DOI: 10.15562/bjoa.v3i1.114

Abstract

ABSTRACTThe surface of endothelial cells is filled with various membrane-bound molecules that form the glycocalyx. The endothelial glycocalyx is a surface layer mainly consisted of glycosaminoglycans that include heparan sulfate, chondroitin sulfate, and hyaluronic acid and its core proteins. Previous studies suggest that endothelial surface glycocalyx shedding could play a role in endothelial dysfunction and inflammation. This article will review the endothelial glycocalyx and its role in sepsis. 
Multiple organ dysfunction syndrome associated with hyperglycemia in children requiring intensive care Halim, Hendy; Suparyatha, Ida Bagus Gede; Arimbawa, I Made; Hartawan, I Nyoman Budi
Paediatrica Indonesiana Vol 55 No 4 (2015): July 2015
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.507 KB) | DOI: 10.14238/pi55.4.2015.230-4

Abstract

Background Hyperglycemia can be caused by three or more organ dysfunctions and occurs in children requiring intensive care in the first 48 hours. Blood sugar level higher than 140 mg/dl is considered as hyperglycemia in children requiring intensive care.Objective To determine the association between multiple organ dysfunction syndrome (MODS) in children requiring intensive care and hyperglycemia with blood sugar level higher than 140 mg/dl.Methods This case control study without matching was conducted on children aged 1 month-12 years from pediatric ward at Sanglah hospital during June-August 2012. We used consecutive sampling to recruit subjects, which then were screened by Pediatric Risk of Hospital Admission (PRISA) 2 score. All subjects were enrolled for blood sugar test, then divided into 2 groups; hyperglycemia with blood sugar level &gt; 140 mg/dl as case and normoglycemia as control. We used organ dysfunction criteria to determine multiple organ dysfunction. The association between MODS and hyperglycemia was assessed by Chi-square test with 95% confidence interval and a statistical significance value of P &lt; 0.05.Results Fifty two subjects were enrolled in this study. We excluded two subjects, hence each group consisted of 25 subjects. We found 18 subjects under and 7 subjects above five years old in hyperglycemia group. The association between multiple organ dysfunction and hyperglycemia was significant with an odds ratio of 10 (95% CI 3 to 38), P &lt; 0.0001.Conclusion Multiple organ dysfunction syndrome had a significant association with hyperglycemia. Multiple organ dysfunction syndrome with hyperglycemia occurs ten times greater than with normoglycemia.
Characteristics of patients requiring non-invasive ventilation in pediatric intensive care unit Estina, Vania Catleya; Wati, Dyah Kanya; Suparyatha, Ida Bagus; Hartawan, I Nyoman Budi
Bali Journal of Anesthesiology Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.798 KB) | DOI: 10.15562/bjoa.v3i2.165

Abstract

Background: Non-invasive ventilation (NIV) has become an essential tool in the treatment of both acute and chronic respiratory failure in children. This study aimed to determine the efficacy of NIV usage in pediatric patients who were admitted to the Pediatric Intensive Care Unit (PICU) with respiratory failure.Patients and Methods: This study is a retrospective, cross-sectional review. The data were collected from the medical record of PICU patients at our hospital from 2017 to 2018. Successful NIV was defined as patients who survived without intubation. Failure was defined as worsened patients and needed intubation for the rescue.Results: The total subjects of this study was 78 patients. The most common indication for NIV was ARDS (78.1%), and CPAP was the most common frequently used (78.68%). The data shows that the NIV was commonly used after extubation (52.56%) than for the first-time rescue (47.44%). The success rate of NIV after extubation were 65.85% and 34.15% failed and shifted to mechanical ventilation. The duration of NIV usage was less than three days (73.77%).Conclusion: NIV is a useful tool for the treatment of respiratory failure in pediatrics. The use of post-extubation NIV may be a valuable tool to prevent reintubation.