Dicky Hartawan
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Ventilasi Mekanik Noninvasif Hartawan, Dicky; Soesilowati, Danu; Budiono, Uripno
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Mechanical ventilation can be invasive and noninvasive manner. Noninvasive ventilation as an alternative to avoid the risks posed to the use of invasive ventilation, reducing the costand length of treatment in intensive care. Noninvasive ventilation is divided into two negative pressure ventilation and positivepressure ventilation. Noninvasive positivepressure ventilation requires the interface such as a facemask, nasal shield, mouthpieces, nasal pillow and helmet. Ventilators are used to control a ventilator volume, pressure, BiPAP and CPAPKeywords : -ABSTRAKVentilasi mekanis dapat diberikan dengan cara invasif maupun noninvasif. Ventilasi noninvasif menjadi alternatif karena dapat menghindari risiko yang ditimbulkan pada penggunaan ventilasi invasif, mengurangi biaya dan lama perawatan di ruang intensif. Ventilasi noninvasif terbagi 2 yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif. Ventilasi noninvasif tekanan positif memerlukan alat penghubung seperti sungkup muka, sungkup nasal, keping mulut, nasal pillow dan helmet. Ventilator yang digunakan dapat berupa ventilator kontrol volume, tekanan, BIPAP dan CPAP.Kata kunci : -
HUBUNGAN PEMBERIAN LIDOKAIN INTRAVENA 1,5MG/KG/JAM TERHADAP PERUBAHAN LAJU JANTUNG PASCA LAPARATOMI Permatasari, Devi Sarah Intan; Hartawan, Dicky; Jatmiko, Heru Dwi
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang Peningkatan tekanan darah merupakan salah satu respon fisiologis tubuh akibat rangsang nyeri pasca operasi. Pemberian lidokain intravena merupakan cara yang biasa digunakan untuk mengurangi gejolak kardiovaskuler, salah satunya berupa peningkatan tekanan darah.TujuanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian lidokain intravena 1,5mg/kg/jam terhadap perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah 48 jam pasca laparotomi.MetodeDesain penelitian ini adalah observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional. Sampel terdiri dari 24 catatan medik pasien laparotomi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk kemudian dibandingkan antara tekanan darah pada jam ke-0 ( sebelum pemberian lidokain ) dan pada jam ke-48 ( sesudah pemberian lidokain ).Hasil Pada jam ke-48 pasca operasi terjadi peningkatan darah ( MAP ) jika dibandingkan pada jam ke-0, dengan rerata pada jam ke-0 = 91,7083±12,33874 dan  rerata pada jam ke-48 = 101,2085±12,5716. Hasil statistik dengan uji paired-t test menunjukkan perbedaan yang bermakna ( p=0,000 ). Namun, peningkatan yang terjadi masih dalam batas normal ( normotensive ).Kesimpulan Terdapat peningkatan tekanan darah setelah pemberian lidokain intravena 1,5mg/kg/jam, tetapi masih dalam batas normal ( normotensive ).
HUBUNGAN PEMBERIAN LIDOCAIN 1,5mg/kg/jam INTRAVENA TERHADAP NYERI PASCA LAPAROTOMI DINILAI DENGAN VISUAL ANALOG SCALE Meilasari, Isni; Hartawan, Dicky; Jatmiko, Heru Dwi
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Salah satu komplikasi tindakan pembedahan yaitu nyeri pasca pembedahan. Nyeri mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur sehingga berpengaruh buruk pada kondisi fisiologis dan psikologis pasien yang kemudian dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Penanganan nyeri akut post operasi dapat mencegah terjadinya nyeri kronik dan mempercepat pemulihan kesehatan pasien. Pendekatan multimodal analgesia (NSAID dan opioid) sebagai pengelolaan nyeri, memungkinkan terjadinya interaksi obat dan beberapa efek samping obat.Tujuan : Mengetahui hubungan pemberian lidocain intravena 1,5mg/kg/jam terhadap nyeri pasca laparotomi dinilai dengan Visual Analog Scale (VAS).Metode : Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling yaitu setiap subyek yang memenuhi kriteria inklusi dimasukan dalam sampel sampai jumlah sampel terpenuhi. Sampel penelitian adalah 24 pasien pasca laparotomi yang diberi lidokain durante operasi sampai 48 jam post operasi yang telah diukur skor VAS sebelum dan sesudah diberi lidokain. Uji statistik yang digunakan adalah uji non parametrik Wilcoxon.Hasil : Rerata skor VAS sebelum operasi = 3,17±0,565 dan rerata pada jam ke-48 sesudah operasi = 4,25±0,737. Hasil uji statistik dengan uji Wilcoxon menunjukan adanya perbedaan bermakna (p < 0,05) skor VAS sebelum dan sesudah operasi.Kesimpulan : Terdapat peningkatan skor VAS dengan kategori nyeri sedang setelah pemberian lidocain 1,5mg/kg/jam intravena durante operasi dilanjutkan sampai 48 jam post operasi.
Pemberian Lidokain 1,5 mg/Kg/Jam Intravena untuk Penatalaksanaan Nyeri Pasien Pasca Laparatomi Hartawan, Dicky; Satoto, Hariyo; Budiono, Uripno
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: An effective post operative pain management is an important thing and one of the problem for anaesthesiologist. One of the surgery with high pain level postoperative is laparotomy. Previous study show that IVLI (intravenous lidocaine infusion) is effective to reduce post operative pain for abdominal surgery.Objective: Understanding the use of lidocaine intravena 1,5 mg/kg/hr as an alternative for post operative pain management for laparotomy.Method: This study is an clinical experimental study with non-randomized blind design in Central Operating Theatre of Kariadi Hospital Semarang. Sample was taken from laparotomy patient using consecutive sampling and divided to two group. The first group was given lidocaine 1 mg/kg/iv 30 minute before skin incision and continued with lidocaine 1,5 mg/kg/iv until 48 hours postoperative. Second group was given placebo. VAS (Visual Analog Score) and hemodynamic parameter postoperative of patient was measured, if VAS was more than 5 than patient got a rescue analgesia. Statistical analytic with SPSS 17 for Windows.Results: Postoperative there was significant difference between groups in the need of rescue analgesia (4 vs 15 subject respectively, p=0.01), the use of opioid (12,9±1,53 vs 16,57±2,59 mg respectively, p=0.01), VAS 12 hours (3,8±0,88 vs 5,3±0,56 respectively, p=0.00),VAS 24 hours (4,1±0,54 vs 5,6±0,62 respectively, p=0.00), VAS 48 hours (4,5±0,51 vs 5±0,0 respectively,p=0,02), and the heart rate (p=0.00).Conclusion: The injection of intravenous lidocaine 1,5 mg/kg is effective in pain management for post laparotomy and reduce the use of analgetic opioid in pain management for post laparotomy.Keywords : intravenous lidocaine, VAS, hemodynamic ABSTRAKLatar Belakang: Penanggulangan nyeri post operasi yang efektif merupakan salah satu hal yang penting dan menjadi problema bagi ahli anestesi. Salah satu jenis pembedahan dengan tingkat nyeri pasca operasi tinggi adalah laparotomi. Menurut penelitian terdahulu IVLI (intravenous lidokain infusion) berpotensi dan efektif untuk mengurangi nyeri paska operasi pada kasus bedah abdominal.Tujuan: Mengetahui apakah penggunaan lidokain intravena 1,5mg/kg/jam dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan nyeri paska operasi laparotomiMetode: Penelitian ini merupakan uji eksperimental klinis dengan desain acak tersamar di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sampel diambil dari pasien yang menjalani operasi laparatomi menggunakan “consecutive sampling” dan dibagi menjadi dua kelompok : Kelompok 1 (K1) diberikan lidokain 1mg/kg/iv 30 menit sebelum insisi kulit dan dilanjutkan dengan lidokain 1,5mg/kg/jam sampai 48 jam paska operasi; Kelompok 2 (K2) diberikan plasebo. Pasien dinilai Score Analog Visual dan parameter hemodinamik post operatif, bila SAV >5 pasien mendapatkan rescue analgesia. Analisis statistik dengan SPSS for Windows versi 17.Hasil: Pasca operasi terdapat perbedaan bermakna pada kebutuhan rescue analgesia (4 vs 15 subjek , p=0.01), waktu dimulainya rescue analgesia(jam ke 18.0±6.92 vs 14.5±5.19, p=0.01), penggunaan opioid (12,9±1,53 vs 16,57±2,59 mg , p=0.01), VAS 12 jam (3,8±0,88 vs 5,3±0,56, p=0.00),VAS 24 jam (4,1±0,54 vs 5,6±0,62, p=0.00),VAS 48 jam (4,5±0,51 vs 5±0,0,p=0,02), dan laju jantung (p=0,00) kedua kelompokSimpulan: Pemberian Lidokain 1,5 mg/kg intravena cukup efektif dalam pengelolaan nyeri post laparotomi dan dapat menurunkan kebutuhan penggunaan analgetik opioid dalam pengelolaan nyeri post laparotomi