Retno Hartati
Jurusan Ilmu kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jl. H. Prof. Sudarto, SH, Tembalang Semarang, Indonesia. 50275.

Published : 46 Documents
Articles

Kandungan Lipid Total Nannochloropsis oculata Pada Kultur dengan Berbagai Fotoperiod (Total Lipid Content of Culture of Nannochloropsis oculata at Different Photoperiod) Widianingsih, Widianingsih; Hartati, Retno; Hadi, Endrawati; Iriani, Valentina R
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 3 (2012): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Fotoperiod memainkan peranan penting dalam proses fotosintesis pada mikroalga Nannochloropsis oculata. Fotoperiod akan mempengaruhi kadar total lipid pada berbagai jenis mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk determinasi kandungan lipid total mikroalga Nannochloropsis oculata yang dikultur pada berbagai kondisi fotoperiod Rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan diterapkan pada penelitian ini. Perlakuan pada penelitian ini adalah fotoperiod 4 jam terang-20 jam gelap, 8 jam terang-16 jam gelap, 12 jam terang-12 jam gelap, dan 24 jam terang. N. oculata dikultur pada erlenmeyer 250 mL dengan sistem aerasi kontinyu dan pencahayaan 3000 lux, salinitas 33 ppt dan medium Conway. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan lipid total pada N. oculata tertinggi ditemukan pada perlakuan fotoperiod 12 jam terang-12 jam gelap) (31,8±3,03%-dw) dan kemudian diikuti pada fotoperiod 8jam terang - 16 jam gelap (25,2±2,19%-dw) dan fotoperiod 24 jam terang (23,2 %-dw). Pada perlakuan fotoperiod 8 jam terang-16 jam gelap dan fotoperiod 12 jam terang-12 jam gelap pada media pemeliharaan N.oculata menunjukkan hasil kadar lipid total yang lebih besar pada fase stasioner dibandingkan dengan eksponensial.Kata kunci: Nannochloropsis oculata, total lipid, fotoperiodPhotoperiod has important role on the photosynthesis process of microalgae Nannochloropsis oculata. Photoperiod also influences on total lipid content of various microalgae. This research has purpose to examine the effect of nutrient phosphate and nitrate composition to the total lipid content of N. oculata belong to class Eustigmatophyceae. There were four treatments of photoperiod as follows; (a) photoperiod A (4:20 hour light:dark);(b) photoperiod B (8:16 hour light:dark); photoperiod C (12:12 hour light:dark); (and (d) photoperiod D (24 hour light). There were three replicates for each treatment. The volume of culture medium was 250 mL for each treatment with continuously aeration and illumination (3000 lux). According to the research, the highest total lipid content of N. oculata had been found on the treatment of photoperiod 12:12 hour light:dark 31,8 ± 3,03 %-dw, and then followed by photoperiod 8:16 hour light dark as amount 25,2 ± 2,19 %-dw and 24 hour light (23,2 ± 1,99%-dw), and then followed by photoperiod 24 hour light. Differences of photoperiod 8:16 hour light:dark and photoperiod 12:12 hour light:dark on culture medium of N. oculata showed result that there were differences of total lipid content on the stationary and exponential phase. The highest percentage of total lipid was fund in cell of N. oculata grown under treatment of photoperiod 12:12 hour light:dark. The treatment of photoperiod 8:16 hour light:dark and 12:12 hour light:dark in the N. oculata culture showed result that the total lipid content on stationary phase was greater than exponential phase.Key words: Nannochloropsis oculata, total lipid, photoperiod
Komposisi Jenis dan Distribusi Gastropoda di Kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap Pribadi, Rudhi; Hartati, Retno; Suryono, Chrisna A.
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Hutan mangrove Segara Anakan Cilacap merupakan kawasan hutan mangrove terluas di Pulau Jawa yang masih tersisa. Ekosistem di lokasi ini mempunyai produktivitas tinggi yang berperan sebagai tempat pemijahan, pembesaran, dan mencari makan bagi berbagai jenis hewan seperti ikan, krustasea, dan moluska. Gastropoda merupakan moluska yang paling banyak hidup pada hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi, kelimpahan jenis dan distribusi gastropoda di kawasan hutan mangrove Segara Anakan Cilacap di Klaces dan Sapuregel yang masing-masing mempunyai tingkat sedimentasi yang tinggi dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di hutan mangrove Segara Anakan Cilacap ditemukan 29 jenis dari 10 famili gastropoda. Sedimentasi yang lebih tinggi di Klaces menyebabkan jumlah jenis dan kelimpahan individu gastropoda lebih banyak (24 jenis, 58,2 ind./m2) daripada Sapuregel (19 jenis dan 15,71 ind./m2 ) dengan Indeks KesamaanKomunitas 65,12%. Di Klaces, kemelimpahan gastropoda semakin tinggi dengan makinjauhnya lokasi dari pantai karena adanya tekanan Hngkungan yang berupa sampah organik maupun anorganik di sebagian besar pantai, namun di Sapuregel hampirsama.   Kata kunci: mangrove, gastropoda, jenis, distribusi   Mangrove forest in Segara Anakan Lagoon, Cilacap is unique natural resources and believes as the largest remained mangrove ecosystem in Java. The ecosystem shows very productive and plays important role as spawning, nursing and feeding ground of many economically important species of fishes, crustacean and mollusks. Gastropod is the most common mollusk found in mangrove area. The research aimed to analyzed composition, abundance and distribution of gastropod in Klaces having high sedimentation and sapuragel with low sedimentation in Segara Anakan Lagoon, Cilacap. The results show that at least 29 species of 10 families of gastropod found in the study area. High sedimentation at Klaces result in higher gastropods species and abundance (24 species, 58,2 ind./m2) than at Sapuregel (19 jenis dan 15,71 ind./m2) but the community similarity between the two compared areas was high (65.12%). At Klaces, the more far away from the coastline the more abundance gastropod due to environment pressure.   Key words : mangrove, gastropod, species, distribution, diversity
Kelimpahan dan Sebaran Horizontal Fitoplankton di Perairan Pantai Timur Pulau Belitung Widianingsih, Widianingsih; Hartati, Retno; Djamali, Asikin; Sugestiningsih, Sugestiningsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelimpahan dan sebaran horizontal Fitoplankton di perairan Pantai Timur Pulau Belitung. Pengambilan sampel Fitoplankton pada Oktober 2006 dilakukan dengan menggunakan plankton net Kitahara yang mempunyai ukuran mata jaring 80 im pada 10 stasiun. Kelimpahan total Fitoplankton berklsar antara 16.205-54.835 sel/m3 dan Fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae mendomlnansl perairan tersebut. Genus yang dominan di perairan ini dan selalu ada di setiap stasiun adalah Rhizosolenia dengan kelimpahan tertinggi (25.969 sel/m3) di stasiun 1 yang merupakan stasiun terluar dengan nlai salinitas 32,64-32,95 psu. Kelimpahan fitoplankton tertinggi terjadi di stasiun ke 4 dan genus Asterionella mendominasi dengan nilai 28,693 sel/m3. Pola sebaran horizontal dengan konsentrasi tertinggi terdapat di stasiun ke-4 dengan nilai kelimpahan lebih dari 50.000 sel/m3 Kata kunci: kelimpahan, distribusi, fitoplankton, Pulau BelitungThis research had purpose to examine abundance and horizontal distribution of phytoplankton in the water of East Belitung Island. Phytoplankton samples were taken on October 2006 from 10 stations used Kitahara plankton net has mess size net 80 μm. The result revealed that the total abundance of phytoplankton during the survey in the range of 16.205 cell/m3 up to 54.835 cell/m3 and phytoplankton from class Bacillariophycea dominant on that water. The predominant genera of phytoplankton for all of stations was Rhizosolenia with highest abundance (25.969 cell/m3) on the station 1 which located in the outside of station had salinity value 32,64 psu till 32,95 psu. The highest abundance of phytoplankton was occurred on the Station 4 had value 54.835 cell/m3 and the genera of Asterionella was dominated on that that time with value 28,693 cell/m3.  According the result show that horizontal distribution pattern has the highest concentration on the station 4, has phytoplankton abundance value more than 50.000 sel/m3.Key words : Abundance, Phytoplankton, Pulau Belitung
Pertumbuhan Tiram Mutiara (Pinctada maxima)pasta Kepadatan Berbeda Taufik SPJ, Nur; Hartati, Retno; Cullen, Justin; Masjhoer, Jussac Maulana
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tiram mutiara (Pinctada maxima) merupakan salah satu sumber daya laut yang berpotensi ekonomi tinggi tetapi persediaannya dad alam tidak sebanding dengan pesatnya kebutuhan pasar untuk produk ini, sehingga populasi tiram mutiara makin menipis dan harganya pun terus meningkat. Permasalahan tersebut dapat ditanggulangi dengan usaha budidaya dan padat penebaran adalah satu faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan usaha budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tiram mutiara pada kepadatan yang berbeda serta lokasi budidaya yang paling baik. Penelitian ini diiaksanakan pada Agustus - Oktober 2005 di Teluk Sopenihi, Kabupaten Dompu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rancangan Acak Lengkap pola faktorial diterapkan pada penelitian ini. Perlakuan yang diberikan adalah A, kepadatan pada keranjang pemeliharan (Al:  8 ind/keranjang, A2 : 16 ind/keranjang; A3 .- 24 ind/keranjang) dan perlakuan B, lokasi pemeliharaan (stasiun) (Bl .- di luar teluk, B2 : di mulut teluk dan B3 : di dalam teluk). Materiyangdigunakan adalah tiram mutiara P. maxima dengan ukuran ± Won. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa perlakuan kepadatan 8 ind/keranjang pada stasiun 3 memberikan hasil yang paling tinggi, dengan nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 0.291 % per had dan pertambahan panjang sebesar 0.93 cm. Sedangkan hasil terendah ditunjukkan pada perlakuan kepadatan 24 pada stasiun 2 dengan nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 0.128 % per had dan pertambahan panjang sebesar 0.42 cm. Kepadatan individu pada keranjang pemeliharaan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR) tiram mutiara (p = 0.002) sedangkan stasiun dan interaksi keduanya tidak memiliki pengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik tiram mutiara (P.maxima) (p - 0.492). Kata kunci: Kerang mutiara, Pinctada maxima, kepadatan, pertumbuhan spesifik (SCR)The Silver-lip pearl oyster Pinctada maxima has a high economic value. Wild stock of the pearl oyster is veryrare resulted in severe losses of productivity due to mortality and growth reductions in many pearl farmingsites, even among the successful. The study aims to know the growth of Silver-lip pearl oyster P. maxima atdifferent stocking densities and the most suitable site for pearl farming. This research is conducted at SopenihiBay, Dompu, Sumbawa, NTB on August - October 2005. The method used in this research was the experimentalmethod using completely randomized design with pattern factorial. Growths of silver-lip pearl oysters, P.maxima, were examined at three stocking densities (A1: 8 ind/pocket; A2: 16 ind/pocket and A3: 24 ind/pocket) and site location (of B1: outside the bay, B2: entrance of the bay and B3: inside the bay). Bestgrowth measured as shell length (DVM) was shown at a stocking density of 8 ind/pocket inside the bay(treatment A1B3) with 0.93 cm for 29 days and best specific growth rate (SGR) was recorded at a stockingdensity of 8 ind/pocket inside the bay (treatment A1B3) with 0.291 % each day, which was significantlyhigher than the other densities tested. The lowest growth measured and specific growth rate was shown at astocking density of 24 ind/pocket at the entrance of the bay (treatment A3B2) with 0.42 cm for 29 days and0.128 % each day. The growth of silver-lip pearl oyster was influenced by stocking density (P = 0.002). Therewas no influence of site location and both interaction to specific growth rate (SGR) of P. maxima (p = 0.492).Key words: Pearl Oyster, Pinctada maxima, stocking density, specific growth rate (SGR)
Abundance of Tridacna (Family Tridacnidae) at Seribu Islands and Manado Waters, Indonesia Yusuf, Candhika; Ambariyanto, Ambariyanto; Hartati, Retno
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.428 KB)

Abstract

Kima, yang merupakan salah satu hewan laut dilindungi, sejak lama banyak dieksploitasi di berbagai daerah di Indonesia. Apabila keadaan ini terus berlanjut maka akan terjadi penurunan populasi di alam yang berujung pada kepunahan dari berbagai spesies Kima tersebut di alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan Kima di beberapa pulau di Kepulauan Seribu dan perairan di sekitar Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang bersifat eksploratif. Sampling dilakukan dengan metode Line Intersept Transect (LIT) menggunakan garis transek sepanjang 100 meter sejajar dengan garis pantai pada kedalaman 5 meter. Pengamatan dilakukan pada tiap 2,5 meter di sebelah kanan dan kiri garis transek. Hasil penelitian, ditemukan total 167 individu Kima di Kepulauan seribu dan 61 individu di perairan Manado.  Nilai kepadatan rata - rata pada lokasi Kep. Seribu adalah T. squamosa 0.026 indv/m2, T. maxima 0,016 indv/m2, T. crocea 0.028 indv/m2 sedangkan pada lokasi Manado adalah T. squamosa 0.021 indv/m2, T. maxima 0.0005 indv/m2, T. crocea 0.0085 indv/m2 dan T. gigas 0.002 indv/ m2. Hasil ini menunjukkan bahwa kepadatan Kima di dua lokasi penelitian masih lebih rendah dari beberapa lokasi di Indonesia dan luar negeri. Berdasarkan ukuran cangkang di dua lokasi penelitian diduga hanya T. crocea saja yang telah mencapai fase hermafroditiknya, sedangkan T. gigas dan sebagian besar T. squamosa serta T. maxima baru mencapai fase kematangan gonad jantan saja. Kebanyakan Kima ditemukan di  karang mati beralga (Dead Coral Algae / DCA) dan tututan karang hidup (coral covered) dibandingkan dengan jenis substrat yang lain. Kata kunci : Kima, tridacna, kelimpahan, Kepulauan Seribu, Manado   Giant clam, as a protected marine species, has been exploited massively in many regions in Indonesia. This has lead to the rapid extinction of the giant clam natural population. The purpose of the research is to obtain the abundance status of giant clam species in several island in Kepulauan Seribu and surroundings waters of Manado. Surveys were done by using the modification of Line Intercept Transect (LIT) methods. A hundred meter length of transect line were drawn, in depth of 5 meter and paralleled to the coast line. The observations were made in 2.5 meter to the left and right of the transect line. The results showed, there were total number of clams found at Seribu Islands and Manado waters were 106 and 61 individual, respectively. The average density in Seribu Islands were T. squamosa: 0.026 indv/m2, T. maxima: 0.016 indv/m2, and T. crocea: 0.028 indv/m2, and in Manado were T. squamosa: 0.021 indv/m2, T. maxima: 0.0005 indv/m2, T. crocea: 0.0085 indv/m2 and T. gigas: 0.002 indv/m2. These results showed that the density of giant clams in both places were  found to be lower than other places in Indonesia and abroad. Based from the shell measurements on both locations, only T. crocea were suspected have reached its hermaphrodite phase, while T. gigas and most of T. squamosa and T. maxima were about to reached male gonad maturity phase. The most dominant substrate for the giant clam were the Dead Coral Algae (DCA) and the coral covered. Key  words: Giant clam, tridacna, abundance, Seribu Islands, Manado
Komposisi Jenis dan Kelimpahan Diatom Bentik di Muara Sungai Comal Baru Pemalang Suwartimah, Ken; Widianingsih, Widianingsih; Hartati, Retno; Wulandari, Sri Yulina
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diatom bentik mempunyai peranan penting sebagai produsen primer dalam siklus karbon di rantai makanan estuaria, sebagai sumber makanan yang penting bagi hewan-hewan surface dwellers (merayap di permukaan) dan deposit feeder, juga berperan penting dalam stabilisasi sediment. Penelitian telah dilakukan di Muara Sungai Comal Baru Desa Mojo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang pada bulan Jamuari-Maret 2006 dengan tujuan menganalisa komposisi genus dan kelimpahannya. Sampel sedimen diambil menggunakan core sampler dengan ketebalan 1 cm pada enam stasiun berdasarkan jaraknya dengan laut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Muara Sungai Comal Baru telah ditemukan 20 genus diatom bentik yang termasuk dalam 17 famili dengan ordo Pennales lebih banyak dari pada centrales.  Jumlah genus dan kelimpahan total diatom bentik pada bulan Maret lebih tinggi daripada bulan Januari dan Februari karena pengaruh lingkungan antara lain kandungan bahan organik, nutrient  dan curah hujan.Kata kunci: Diatom bentik, kelimpahan, komposisi genus, Sungai Comal Baru Benthic Diatom play important role as primer producer in carbon cycle of estuarine food web, as food source for surface dwellers and deposit feeder as well as as sediment stabliziation. The objectives of this present work was to analize genera composition and abundance of benthic diatom. The work had been carried out in mouth of Comal Baru River, Mojo-Comal, Pemalang during January-March 2006. Benthic diatom in 1 cm depth sediment were taken with core sampler in six stations according to the distance from the beach.  The results showed that twenty genera od benthic diatom belongs to 17 family were found in mouth in mouth of Comal Baru River, Mojo-Comal in which order of penalles more than cenytrales.  The number of genera and their abundance were greater in March than January and February because of environment such a organic matter, nutrient and rainfall. Key words: Benthic Diatom, abundance, genus composition, Comal Baru River
Pengaruh Pengurangan Konsentrasi Nutrien Fosfat dan Nitrat Terhadap Kandungan Lipid Total Nannochloropsis oculata Widianingsih, Widianingsih; Hartati, Retno; Endrawati, H.; Yudiati, Ervia; Iriani, Valentina R.
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1649.513 KB)

Abstract

Fosfat dan nitrat mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan dan kandungan nutrisi Nannochloropsis oculata. Kandungan lipid total dalam Nannochloropsis oculata sangat dipengaruhi oleh nutrien yang terkandung dalam media kultur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh  perbedaan komposisi nutrien fosfat dan nitrat  terhadap kandungan lipid total  mikroalga Nannochloropsis oculata. Anova satu arah dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan diterapkan pada penelitian ini.  Pelakuan perbedaan komposisi fosfat dan nitrat yaitu Kontrol (K, fosfat dalam NaH2PO4 20 g dan nitrat dalam NaNO3 100 g),  fosfat dan nitrat 75 % dari kontrol (A), fosfat dan nitrat 50 % dari kontrol (B), serta fosfat dan nitrat 25 % dari kontrol (C).  Pemanenan mikroalga untuk analisa  total  lipid  dilakukan  pada  fase  eksponensial  dan  stasioner.  Duaratus  limapuluh  mililiter  media bersalinitas 35 ‰ digunakan dalam penelitian ini dengan sistem aerasi dan pencahayaan 3000 lux yang kontinyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komposisi nutrien (fosfat dan nitrat) pada media pemeliharaan  berpengaruh  terhadap  kandungan  lipid  total  pada  fase  stasioner  namun tidak pada  fase eksponensial. Kandungan total lipid terbesar 67,7 % dw ditemukan pada N. oculata yang dikultur pada media dengan fosfat dan nitrat 25 % dari kontrol dan yang terkecil 39,3 %-dw pada N. oculata yang dikultur pada nutrien Kontrol.  Pembatasan nutrien pada media pemeliharaan dapat meningkatkan kandungan lipid total pada kultur  N. oculata Kata kunci: Nannochloropsis oculata, Total Lipid, fosfat, nitrat Phosphate and nitrate play  important role on growth and nutrition value of Nannochloropsis oculata.  Total lipid content of microalgae Nannochloropsis oculata is influenced by nutrient content in the culture medium. This research was aimed to examine the effect of different depletion phosphate and nitrate composition on the total lipid of  Nannochloropsis oculata.  Anova One Way with 4 treatments and 3 replicates has been applied in this research. The treatment of differences phosphate and Nitrate composition as follows Nutrient control (Conway medium having  Phospate in NaH2PO4 20 g and Nitrate in NaNO3 100 g), Nutrient A (phosphate and nitrate 75 % nutrient control); Nutrient B (phosphate and nitrate 50 % nutrient control), Nutrient C (phosphate and nitrate 25% nutrient control) The volume of culture medium was 250 mL with salinity 35‰, continuous aeration and illumination 3000 lux. The present work revealed that the nutrient composition on culture medium affected the total lipid content of N. oculata  at the stationary and but not in exponential phase. The highest total lipid content (67,7%-dw)  was found in N. oculata cultured in media with the lowest phosphate and nitrate concentration, in the contrary the lowest total lipid content (39,3%-dw) was happened in Control medium.  Nutrient limitation in medium culture was able to increase total lipid content in the culture of  N. oculata. Key words: Nannochloropsis oculata; Total  Lipid, phosphate, nitrate
Kajian Gonad Teripang Getah (Holothuria vagabunda) pada Saat Bulan Penuh dan Bulan Baru di Perairan Bandengan, Jepara Hartati, Retno; Yanti, Heri
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.156 KB)

Abstract

Banyak faktor lingkungan yang diduga mempengaruhi aspek reproduksi Teripang Getah (Holothuria vagabunda) antara lain siklus bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat kematangan gonad teripang getah (H. vagabunda) pada saat bulan penuh dan bulan baru. Pengambilan sampel dilaksanakan delapan kali pada saat bulanpenuh dan bulan baru (Januari-April 2004) di perairan Bandengan, Jepara. Terhadap gonad dilakukan pengamatan tingkat kematangan gonad; jumlah, percabangan, panjang dan diameter tubula; jumlah sakula, nilai IKG serta fekunditas dan diameter telurnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gonad H. vagabunda saat bulan penuhberada pada stadia II-III sedang saat bulan baru berada pada stadia II-V. Jumlah, percabangan, panjang, dan diameter tubula, jumlah sakula serta nilai IKG meningkat seiring dengan meningkatnya TKG dan mencapai puncaknya pada stadia IV untuk kemudian menurun pada stadia V. Diameter telur dan fekunditas juga meningkat seiringdengan meningkatnya TKG dan mencapai puncaknya pada stadia IV. Nilai rata-rata IKG H. vagabunda tertinggi diperoleh pada saat bulan baru demikian pula dengan diameter telur dan fekunditas terbesar. Gonad H. vagabunda mencapai puncak perkembangannya pada saat bulan baru dan pemijahannya diperkirakan terjadi pada saat itu.Kata kunci  gonad, Holothuria vagabunda, bulan penuh, bulan baruThe Common black teat (Holothuria vagabunda) is one of marine resources in Indonesia with high economic value. Many environmental factors such as moon phase are assumed influencing their reproduction aspect. Thisresearch aimed to learn the common black teat (H. vagabunda) gonad during full and new moon. The samples were taken during full and new moon (January-April 2004) at Bandengan coastal waters, Jepara. The gonad samples were examined for gomad maturity stages; number, branch, length and diameter of tubula; number of saccula, IKG as well as fecundity and oocites diameter. The results showed that during full moon, H. vagabunda gonad were at stage II and III. Number of branch, length, sacculae, diameter of tubules and GI value increase as gonad maturity stage raised and the peak obtained at stage IV. The same result also happended for their oocites diameter and fecundity. The highest Gonadal Maturity Index (GMI), the biggest oocites diameter and fecunditywas reached during new moon and it’s predicted they were spawned during that time.Key words: gonad, Holothuria vagabunda, full moon, new moon
Histologi Gonad Kerang Totok Polymesoda erosa (Bivalvia : Corbiculidae) dari Laguna Segara Anakan, Cilacap Hartati, Retno; Widowati, Ita; Ristadi, Yoki
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerang Totok (Polymesoda erosa) merupakan jenis bivalvia yang banyak ditemukan di kawasan hutan mangrove di Segara Anakan, Cilacap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur gonad kerang totok pada beberapa tingkat kematangan gonad melalui studi histologis. Enampuluh sampel kerang totok diambil dari Pulau Gombol, Laguna Segara Anakan, Cilacap, selama bulan Mei sampai Agustus 2002 untuk diamati gonadnya secara makroskopis dan histologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sampel kerang jantan dan betina ditemukan tiga tingkat kematangan gonad dan stadia gonad yang Belum dapat diidentifikasi jenis kelaminnya. Diameter oosit meningkat sejalan dengan tingkat kematangan gonadnya dengan kisaran 38 – 100 μm. Diameteroosit rata-rata pada tigkat kematangan gonad I, II dan III berturut-turut adalah 58,8 μm; 66,4 μm and 77,2 μm.Kata kunci : Histologi, gonad, tingkat kematangan gonad, Polymesoda erosaMangrove clam, Polymesoda erosa is an economically valuable bivalvia species which is commonly consumed and has a potential to be cultured in Indonesia. The aim of this research was to understand gonad structure ofthe clams at different gonad maturity stages by histologycal study. The samples were taken monthly on May to August 2002 at Gombol iskand of Laguna Segara Anakan, Cilacap. Sixty samples were used examinevisually for gonad maturity and then were studied histologically. The results of present works revealed that there were 3 gonad maturity stage of the samples both at female and male samples as well as unidentifiedsex samples. Diameter of oocytes increased following the maturity of the gonad. The rage of diameter oocytes wer 38 – 100 μm. Average diameter of oocyte during gonad maturity stage 1, 2 and 3 were 58,8 μm; 66,4 μm and 77,2 μm respectively.Key words : Histology, gonad, maturity stage, Polymesoda erosa
Fauna Echinodermata di Indonoor Wreck, Pulau Kemujan, Kepulauan Karimunjawa Hadi, Abdul; Hartati, Retno; Widianingsih, Widianingsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.172 KB)

Abstract

Indonoor adalah sebuah kapal yang karam di tubir Pulau Kemujan, Kepulauan Karimunjawa tahun 1960. Sering berjalannya waktu, dinding bangkai kapal Indonoor ditumbuhi oleh berbagai macam terumbu karang. Hal ini menjadikan lokasi bangkai kapal Indonoor membentuk suatu ekosistem terumbu karang yang memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata dan perikanan dan sekarang merupakan salah satu dive point penting di Karimunjawa.  Dengan adanya terumbu karang yang hidup pada dinding dan badan kapal yang terbuat dari  besi, memungkinkan adanya berbagai jenis biota yang berasosiasi dengan terumbu karang di bagkai kapal tersebut, salah satunya adalah Echinodermata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis fauna echinodermata pada di bangkai kapal Indonoor. Pengamatan fauna echinodermnata dilakukan dengan penyelaman dan pengamatan pada 4 bagian patahan bangkai kapal 2005 dan September 2006 menggunakan metoda sensus dengan modifikasi line transect dan kuadrat transect. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 spesies dari 4 kelas Echinodermata pada penelitian tahun 2005 yaitu Acanthaster plancii, Fromia nomilis, Linckia laevigata dari kelas Asteroidea; Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp dari kelas Crinoidea; Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei dari kelas Echinoidea; Holothuria atra, Holothuria edulis, Stychopus ananas dari kelas Holothuroidea. Sedangkan pada pengamatan tahun 2006 ditemukan sebanyak 13 spesies dari 4 kelas yaitu Culcita novaguinae, Fromia nomilis, Linckia laevigata dari kelas Asteroidea; Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp dari kelas Crinoidea; Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei, Echinotrix calamaris dari kelas Echinoidea; Holothuria atra, Holothuria edulis, Stychopus ananas dari kelas Holothuroidea. Kata kunci: echinodermata, Indonoor wreck, P. Kemujan, Karimunjawa.  Indonoor is a ship sunk in a reef slope of Kemujan Island, Karimunjawa Islands back in 1960. Since that the wreck was covered by coral reef and home of many reef associated marine fauna, and lately becoming most visited dive point in Karimunjawa for tourism purposes. Among many marine fauna lives on the wreck is echinoderm which is interested to be studied especially on its diversity. A modified line intercept and quadrate transect method was applied for the study in four parts of the shipwreck in May-June 2005 and September 2006. The result showed that at least 12 species of 4 classes of echinoderm was found in the 2005 sampling period i.e.: Acanthaster plancii, Fromia nomilis, Linckia laevigata (class Asteroidea); Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp (class Crinoidea); Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei (class Echinoidea); Holothuria atra, Holothuria edulis, Stychopus ananas (class Holothuroidea). Meanwhile in 2006 sampling period was found at least 13 species of 4 classes consist of Culcita novaguinae, Fromia nomilis, Linckia laevigata (class Asteroidea); Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp (class Crinoidea); Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei, Echinotrix calamaris  (class Echinoidea); Holothuria atra, Holothuria edulis, and Stychopus ananas (class Holothuroidea) . Key words: echinoderm, Indonoor wreck, Kemujan Island, Karimunjawa