Indah Hartati
Department of Chemical Engineering, Faculty of Engineering, Wahid Hasyim University, No. 22 Menoreh Tengah Road X, Semarang-Indonesia

Published : 34 Documents
Articles

Found 34 Documents
Search

REDUKSI DIOSCORIN DARI UMBI GADUNG MELALUI EKSTRAKSI GELOMBANG MIKRO Hartati, Indah; Yulianto, Mohammad Endy; Handayani, Dwi
PROSIDING SEMINAR NASIONAL Vol 1, No 1 (2010): Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.049 KB)

Abstract

Tanaman  gadung  adalah  tanaman  umbi-umbian  yang  termasuk  kedalam  golongan sumber pangan dan belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Gadung (Dioscore hispida dennst) mengandung  karbohidrat  yang  cukup  tinggi. Oleh karenanya,  gadung  sering  dimanfaaatkan sebagai bahan  dasar  pembuatan  kerupuk. Pemanfaatan gadung yang terbatas sebagai bahan baku keripik maupun kerupuk, diharapkan lebih lanjut dapat digunakan sebagai sumber pati (tepung) mengingat kandungan karbohidrat relatif cukup tinggi. Namun demikian, pemanfaatan umbi gadung terkendala akan kandungan senyawa toksik berupa senyawa alkaloid (dioscorin) yang dapat menimbulkan keracunan pada manusia. Oleh karenanya, alternatif yang diusulkan adalah ekstraksi dioscorin dengan memanfaatkan gelombang mikro (Microwave Assited Extraction atau MAE) guna mendapatkan tepung gadung yang dapat dimanfaatkan sebagai produk pangan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pH dan waktu ektraksi pada proses ekstraksi dioscorin dari umbi gadung dengan menggunakan ekstraksi gelombang mikro serta menganalisa karakteristik tepung gadung hasil ekstraksi. Pengukuran data percobaan dengan variabel proses ekstraksi meliputi: waktu ekstraksi (10 - 70 menit) dan pH (4-8). Rasio solid-liquid yang digunakan adalah 1:3, dimana berat tepung gadung yang digunakan adalah sebesar 200 gr dan pelarut etanol 95% sebanyak  600 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH yang rendah, dioscorin yang terekstrak semakin tinggi. Pada pH 4, dioscorin yang terekstrak  mencapai 71,36%. Semakin lama waktu ekstraksi, dioscorin yang terekstrak semakin tinggi. Pada waktu ekstraksi lebih besar dari 40 menit, kadar dioscorin yang terekstrak cenderung konstan. Kata Kunci: dioscorin; gadung; gelombang mikro
MATHEMATICAL MODEL OF GAULTHERASE INACTIVATION KINETICS FOR THE GAULTHERIN PRODUCTION FROM WINTERGREEN (Gaulteria fragantissima) Yulianto, Mohamad Endy Y; Hartati, Indah; yuniastuti, Ari
METANA Volume 5 Nomor 2 Desember 2007
Publisher : METANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6261.26 KB)

Abstract

Abstract Wintergreen (Gaultheria fragantissima) is the source of the essential oil of wintergreen which is comprised predominantly of methyl salicylic. During this time wintergreen is not yet economically developed because of the lack of the cultivation technology. One of effort that is needed to be studied beside the cultivation tecnology and  the wintergren oil quality development is the product diversification. wintergreen comprised by far the highest concentration of both free salicylic and total salicylic acid which is expected of a plant known for the formation of the wintergreen oil, an essential oil consisting primarily of methyl salicylic. The concentration of total salicylate found in wintergreen is over 20 fold greater than the total salicylic concentration (salicylic and any derivates combined) found in Filipendula, and 100 fold greater than that found in Lemon Thyme. The active form of salicylic acid in wintergreen is Gaultherin. Gaultherin has many properties related to human health. Gaultherin consists of methyl salicylic conjugated to the disaccharide, primeverose. When plant tissues are disrupted the endogenous gaultherin is rapidly lost, presumably by enzymatic hydrolysis with the release of methyl salicylic. The problem is until this time there is not yet available an effective method for the gaultherin extraction. The difficulties faced on the gaultherin production are the fact that along the gaultherin extraction. and along with the disruption of the wintergreen tissue, the gaultherin is hydrolyzed into its individual components which are methyl salicylic and disaccharide. The alternative process for the gaultherin production from wintergreen is the gaultherin production process by enzyme inactivation and  extraction process in an inactivation extractor using a n organic solvent (alcoholic solvent extraction). This paper is intended to study the enzyme inactivation rate which is play an important role in the dimension determination of the process equipments. Enzyme inactivation can be describes as first orde reaction. The enzyme inactivation constant  kp is the temperature, pressure, and water concentration function. The dependency, model of  the temperature based on Arhenius type while the pressure dependency  is based on Eyring equation.   Keywords : gaultherin, inactivation. kinetics
PENGARUH DOSIS KLORIN PADA PERTUMBUHAN BAKTERI COLIFORM TOTAL DAN ESCHERICHIA COLI PADA SUNGAI KREO, SUNGAI GARANG DAN SUNGAI TUGU SUHARTO Supriyadi, Supriyadi; Sumantri, Indro; Hartati, Indah
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polutan yang sering ditemui pada air sungai adalah bakteri Coliform Total dan Escherichia coli. Keberadaan Coliform Total dan Escherichia coli disistem penyediaan air minum telah menjadi masalah yang serius.Umumnya, keberadaanbakteritersebutdi air permukaan melebihi ambang batas. Kandungan Coliform Total dan Escherichia coli dalam air menimbulkan berbagaigangguan kesehatan.Berdasarkan Permenkes RI No. 492 Tahun 2010, ambang batas kandunganColiform Total dan? Eschericia coli dalam air minum adalah 0 koloni/100 ml. Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 82 tahun 2001 untuk kualitas air baku kelas I koloni,ColiformTotal maksimum 1000 koloni/100 ml sampel, Escherichia coli 100 koloni/100 ml sampel. ?Oleh karenanya diperlukan pengolahan air agar menjadi layak untuk dikonsumsi.Penelitian ini bertujuan menentukan dosis optimum klorin untuk menurunkan kandungan bakteri Coliform Total dan Escherichia colidalam air permukaan di Sungai Garang, Sungai Kreo dan Sungai di Tugu Suharto. Penelitian ini dilakukan dengan menambah klorin kedalam masing sapel air ketiga sungai tersebut dengan dosis antara 2 mg/L ? 4,5 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan kandungan bakteriColiform Total dan Escherichia coli air ketiga sungai terset melebihi ambang batas berdasarkan PP no. 81 tahun 2001 kriteria air kelas I dan dosis optimum klorin untuk air ketiga sungai tersebut 3,5 mg/L. Kata Kunci :coliform total, escherichia coli, klorin
BIODEGUMMING RAMI MENGGUNAKAN ENZIM AMOBIL DARI CAIRAN RUMEN SAPI Aniq, Nur; Aqil, Hamid; Yatun, Ismi; Hartati, Indah
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serat rami adalah serat yang didapat dari tanaman rami. Proses pengolahan rami terdiri atas beberapa tahap, salah satunya adalah proses degumming. Proses degumming merupakan proses penghilangan gum pada helaian serat rami kasar. Proses degumming umumnya dilakukan menggunakan bahan kimia. Proses degumming kimiawi memiliki beberapa kelemahan, diantaranya menghasilkan limbah yang tidak ramah lingkungan. Guna mengatasi kelemahan degumming kimiawi, maka salah satu alternatif proses yang digunakan adalah proses degumming secara enzimatis (biodegumming). Dalam penelitian ini dilakukan isolasi enzim pektinase dan protease dari cairan rumen sapi dilanjutkan dengan proses imobilisasinya serta aplikasinya pada proses degumming rami. Tujuan penelitian ini adalah menentukan variabel paling berpengaruh, mengkaji pengaruh variabel proses yang meliputi, waktu inkubasi, rasio enzim substrat dan temperature, serta menentukan kondisi optimum proses. Degumming enzimatik dilakukan dengan merendam dan menginkubasi 10 gram serat rami kasar pada suhu 400C atau 700C selama 4 atau 8 jam sesuai dengan variabel (sesuaikan pH 9 dengan larutan bufer). Ukuran plot 1:10 (perbandingan antara bahan yang akan didegum dengan bahan pendegum). Setelah masa inkubasi selesai serat dicuci sampai bersih dan dikeringkan kemudian di timbang. Variabel proses yang sangat berpengaruh adalah suhu dimana efek variabelnya sebesar 0,8. Kondisi operasi proses degumming enzimatis yang optimum adalah suhu 700C dengan waktu 8 jam dan rasio enzim-subtrat 1:10 dimana persentase gum yang hilang adalah sebesar 8,7%. Kata kunci : amobilisasi, degumming, enzimatis, rami, rumen
FORTIFIKASI TEPUNG TERIGU OLEH TEPUNG CANGKANG RAJUNGAN (Portunus pelagicus) PADA PEMBUATAN MIE BASAH Khasanah, Sufrotun; Hartati, Indah
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mie basah merupakan salah satu produk olahan terigu yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Dewasa ini, produsen mie basah seringkali menggunakan boraks dan formalin sebagai bahan pengawet mie. Proses pembuatan mie basah sering kali menggunakan boraks atau formalin untuk mengawetkannya. Menimbang bahwa formalin dan boraks tergolong dalam pengawet yang tidak diijinkan untuk digunakan sebagai pengawet produk pangan, maka perlu dicari alternatif pengawet mie basah yang aman dikonsumsi. Dalam penelitian ini tepung cangkang rajungan digunakan sebagai pengawet mie basah karenakandungan kitosannya. Tepung cangkang rajungan  juga berfungsi meningkatkan protein pada mie basah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi optimum penggunaan tepung rajungan dalam mie basah,. Uji yang dilakukan meliputi uji orgnoleptik dan proksimat. Berdasarkan penilaian panelis fortifikasi tepung terigu oleh tepung cangkang rajungan ini dapat diterima pada  panelis dengan perbandingan (90:10)% karena  warna, rasa, aroma, dan tekstur dapat menarik konsumen. Sedangkan kandungan proximat pada perbandingan tersebut adalah kadar air  0.51%, kadar abu 0.44%, protein 6.60%, lemak 2.7%, dan karbohidrat 89.75%. Kata kunci : cangkang rajungan, fortifikasi, mie
REDUKSI DIOSCORIN DARI UMBI GADUNG MELALUI EKSTRAKSI GELOMBANG MIKRO Hartati, Indah; Yulianto, Mohammad Endy
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2010: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.049 KB)

Abstract

Tanaman gadung adalah tanaman umbi-umbian yang termasuk kedalam golongan sumber pangandan belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Gadung (Dioscore hispida dennst) mengandungkarbohidrat yang cukup tinggi. Oleh karenanya, gadung sering dimanfaaatkan sebagai bahan dasarpembuatan kerupuk. Pemanfaatan gadung yang terbatas sebagai bahan baku keripik maupun kerupuk,diharapkan lebih lanjut dapat digunakan sebagai sumber pati (tepung) mengingat kandungan karbohidratrelatif cukup tinggi. Namun demikian, pemanfaatan umbi gadung terkendala akan kandungan senyawatoksik berupa senyawa alkaloid (dioscorin) yang dapat menimbulkan keracunan pada manusia. Olehkarenanya, alternatif yang diusulkan adalah ekstraksi dioscorin dengan memanfaatkan gelombang mikro(Microwave Assited Extraction atau MAE) guna mendapatkan tepung gadung yang dapat dimanfaatkansebagai produk pangan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pH dan waktu ektraksi pada prosesekstraksi dioscorin dari umbi gadung dengan menggunakan ekstraksi gelombang mikro serta menganalisakarakteristik tepung gadung hasil ekstraksi. Pengukuran data percobaan dengan variabel proses ekstraksimeliputi: waktu ekstraksi (10 - 70 menit) dan pH (4-8). Rasio solid-liquid yang digunakan adalah 1:3,dimana berat tepung gadung yang digunakan adalah sebesar 200 gr dan pelarut etanol 95% sebanyak 600ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH yang rendah, dioscorin yang terekstrak semakin tinggi.Pada pH 4, dioscorin yang terekstrak mencapai 71,36%. Semakin lama waktu ekstraksi, dioscorin yangterekstrak semakin tinggi. Pada waktu ekstraksi lebih besar dari 40 menit, kadar dioscorin yang terekstrakcenderung konstan.Kata Kunci: dioscorin; gadung; gelombang mikro
PENGEMBANGAN BIOEKSTRAKTOR INAKTIVASI ENZIM GAULTHERASE UNTUK PRODUKSI GAULTHERIN DARI GANDAPURA (GAULTHERIA FRAGANTISSIMA) Yulianto, Mohammad Endy; Hartati, Indah; Lestari, Endah; Tama, Tandang Patria; Hardianti, Devita
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gandapura terkenal sebagai penghasil minyak atsiri. Komponen Gandapura yang bernilai ekonomis tinggi adalah salisilatnya. Sebagian besar dari salisilat total bersifat aktif dan biasa disebut gaultherin. Gaultherin merupakan konjugasi dari metil salisilat dan disakarida. Gaultherin memiliki banyak kegunaan di bidang farmasi yaitu dapat mencegah kanker, inflammatory, cardiopulmonary dan sebagai natural aspirin yang baik.Akan tetapi untuk memproduksi gaultherin dari gandapura tidaklah mudah. Produksi gaultherin dapat dilakukan dengan proses ekstraksi. Namun, selama proses ekstraksi jaringan tanaman gandapura akan rusak dan menyebabakan reaksi hidrolisa yang dikatalisis oleh enzim gaultherase yang terdapat pada tanaman itu sendiri. Reaksi ini akan menyebabakan komponen dari gaultherin yaitu metil salisilat terlepas. Cara untuk mengekstrak gaultherin pada kondisi yang relatif baik adalah  dengan  menggunakan pelarut alcohol (alcoholic solvent extraction). Oleh karenanya,  pada penelitian ini digunakan alat bioekstraktor. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi etanol terhadap produksi gaultherin dari gandapura dengan proses inaktivasi enzim gaultherase melalui ekstraksi dengan pelarut alkohol. Variabel tetap yang digunakan meliputi: rasio pelarut-umpan, pH, kecepatan putar pengaduk, kecepatan putar pisau pencacah, waktu ekstraksi  dan suhu peengering. Sedangkan variable berubah yang digunakan adalah jenis drying agent berupa kalsium klorida dan konsentrasi etanol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan gaultherin untuk kondisi yang relatif baik tercapai pada konsentrasi etanol sebesar 90%. Kata kunci: Gaultherin, Gaulterase, Alkohol, Bioekstraktor
ENZYMATIC EXTRACTION OF LOW METHOXYL PECTIN AS A POTENTIAL ANTI CANCER AGENT FROM GREEN CINCAU (Premna Oblongifolia Merr.) Hartati, Indah; Kurniasari, Laeli
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Pectin is used in a number of foods as gelling agent, thickener, texturizer, emulsifier and stabilizer. It is also used in pharmaceutical, dental and cosmetic industries for its jellifying properties. Commercial pectin is divided into high and low methoxy pectin. Low methoxyl pectin (LMP) is reported posses anti cancer activity. One of our local resources, green cincau (Premna oblongifolia Merr.) is one of source of LMP. Due to its wide spectrum of functional properties and its potency as anti cancer compound, hence it is urge to develop a production process of LMP from green cincau. The current technology of pectin extraction is acidic hydrolysis. It has at leat two demerits: it does not allows pectin to be extracted fully with no damage to its structure and it does not meet the environmental safety. An enzyme-hydrolytic technology seems environmentally safe and more effective in terms of pectin yield. But nowadays the main demerits of the enzymatic extraction is the high price of commercial enzyme. In order to overcome all the demerits of pectin extraction, it is proposed to enzymatically extract the pectin of green cincau by using enzyme isolated from the local resources such as cellulase which can be isolated from hepatopancrease of snail and protease isolated from Calotropis gigantea. Key Words: enzyme, extraction, low methoxyl pectin, anti cancer, green cincau
ENZYMATIC EXTRACTION OF LOW METHOXYL PECTIN AS A POTENTIAL ANTI CANCER AGENT FROM GREEN CINCAU (Premna Oblongifolia Merr.) Hartati, Indah; Kurniasari, Laeli
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Pectin is used in a number of foods as gelling agent, thickener, texturizer, emulsifier and stabilizer. It is also used in pharmaceutical, dental and cosmetic industries for its jellifying properties. Commercial pectin is divided into high and low methoxy pectin. Low methoxyl pectin (LMP) is reported posses anti cancer activity. One of our local resources, green cincau (Premna oblongifolia Merr.) is one of source of LMP. Due to its wide spectrum of functional properties and its potency as anti cancer compound, hence it is urge to develop a production process of LMP from green cincau. The current technology of pectin extraction is acidic hydrolysis. It has at leat two demerits: it does not allows pectin to be extracted fully with no damage to its structure and it does not meet the environmental safety. An enzyme-hydrolytic technology seems environmentally safe and more effective in terms of pectin yield. But nowadays the main demerits of the enzymatic extraction is the high price of commercial enzyme. In order to overcome all the demerits of pectin extraction, it is proposed to enzymatically extract the pectin of green cincau by using enzyme isolated from the local resources such as cellulase which can be isolated from hepatopancrease of snail and protease isolated from Calotropis gigantea. Key Words: enzyme, extraction, low methoxyl pectin, anti cancer, green cincau
ADSORPSI LOGAM BERAT Pb DALAM LARUTAN MENGGUNAKAN SENYAWA XANTHATE JERAMI PADI Baidho, Zahroh El; Lazuardy, Tisa; Rohmania, Sofa; Hartati, Indah
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan modifikasi adsorben terxanthasi untuk menjerap logam berat Pb dengan biomassa jerami padi. Berbeda dengan adsorben biomassa pada umumnya yang tanpa reaksi xanthasi, kapasitas adsorpsi dan afinitasnya rendah terhadap logam berat. Proses modifikasi adsorben terxantasi merupakan proses yang cukup baik, karena dapat meningkatkan performa dari adsorben (afinitas dan kapasitas adsorpsi dapat meningkat hingga tiga kali lipat) dan memiliki kestabilan yang tinggi saat membentuk kompleks dengan logam. Proses pembuatan adsorben organik xanthateini yaitu dengan cara mereaksikan biomassa dengan gugus pembawa sulfur (karbon disulfide) dalam suasana basa. Biomassa dikontakan dengan larutan Pb dalam erlenmeyer yang diaduk dengan magnetik strirer dengan berbagai variasi pH 2, 4, 6 dan variasi bobot adsorben 0,4 g, 0,5 g, 0,7 g dan 1 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas biosorpsi maksimum dapat dicapai sebesar 7,16 mg/g pada pH4 dan bobot adsorben 0,4 g.Kata Kunci: Adsorpsi, Timbal, Xanthate, Jerami Padi