Fitri Hartanto
Staf pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Undip Semarang

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

PERBEDAAN MASALAH MENTAL DAN EMOSIONAL BERDASARKAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN AGAMA Studi Kasus SMP Negeri 21 Semarang dan SMP Islam Al Azhar 14 Semarang

MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Kesenjangan antara perkembangan fisik, psikologik, dan sosial dapat memicu terjadinya masalah mental emosional pada remaja. Masalah mental emosional yang tidak ditindaklanjuti dapat berkembang menjadi gangguan mental emosional. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah sekolah dan kini terdapat beberapa sekolah berbasis agama.Tujuan : Mengetahui perbedaan masalah mental dan emosional berdasarkan latar belakang pendidikan agama pada siswa SMP Negeri dan SMP IslamMetode : Penelitian ini adalah penelitian observasional menggunakan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Maret-Juli 2012 dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII di SMP Negeri 21 Semarang dan SMP Islam Al Azhar 14 Semarang. Kuesioner SDQ (Strength and Difficulties Questionnaire) dan kuesioner yang telah divalidasi dipakai sebagai sarana pengambilan data. Uji Chisquare/ Fischer/Kolmogorov-smirnov digunakan untuk analisis data.Hasil : Jumlah responden sebanyak 140 orang, terdiri dari 70 orang responden pada masing – masing sekolah. Di SMP Negeri 21 Semarang didapatkan 11.4 % gejala emosional borderline dan 14.3% abnormal. Di SMP Islam Al Azhar 14 Semarang didapatkan 5.7% gejala emosional borderline dan 10% abnormal. Nilai probabilitas untuk gejala emosional sebesar 0.046 (p<0.05). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua sekolah dalam hal masalah perilaku (p=0.346), masalah hiperaktivitas (p=1.000), masalah hubungan dengan teman sebaya (p=1.000), total masalah mental dan emosional (p=0.875) dan skor prososial (p=1.000).Kesimpulan : Masalah gejala emosional berdasarkan latar belakang pendidikan agama di SMP Islam Al Azhar 14 Semarang lebih rendah daripada di SMP Negeri 21 Semarang

Masalah Mental dan Emosional pada Siswa SMP Kelas Akselerasi dan Reguler (Studi Kasus di SMP Negeri 2 Semarang)

MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Mental health is important factor for bright adolescent future. Screening of mental, emotional and behaviour problems is very important to prevent further noticeable behaviour problem. Mental, emotional and behaviourproblems are caused by many factors. One of the factors that affects mental, emotional and behaviour problems is school environment.Aim : This study aims to describe mental and emotional problems in acceleration and regular classes junior high school (SMP) students.Methods : This was an observational descriptive study. Subjects for this study were students of SMPN 2 Semarang. This study recruited 88 respondents; 40 from acceleration class and 48 from regular class. Data were collected by fillingStrength and Difficulties Questionnaire (SDQ), questionnaire of characteristic samples which had been tested before, focus group discussion and interview. The data were analyzed by descriptive analysis.Results : Emotional symptoms (mean=3,31 SD=2,15), hiperactivity (mean=3,83 SD=1,83), conduct problem (mean=2,79 SD= 1,34) and peer problem (mean=2,27 SD = 1,77) in regular students were higher than accelerationstudents. Acceleration students reported higher prosocial behaviour score (mean=8,67 SD = 1,46) than regular students (7,50 SD = 1,89). Finally, girls had higher total difficulties score (mean=11 SD=4,8) and prosocial behaviour score (mean=8,08 SD=1,75) than boys (mean=9,84 SD = 4,65 ; mean=7,97 SD = 1,88).Conclusions : The prevalence and mean score of mental emotional problems in regular students were higher than acceleration students. The prevalence of mental emotional problems in girls was higher than boys.Keywords : mental emotional, SDQ, acceleration class

HUBUNGAN KEIKUTSERTAAN ORGANISASI DENGAN REGULASI DIRI PADA REMAJA : STUDI KASUS DI SMA N 2 NGAWI

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Adolescent is development process from children to adult. Self regulation is one of component adolescent development. The school environment is one of the factors that influence self regulation, in this environment student can follow the activities of the organization.Aim : The aim of this study was to determine the relationship between the organizations participation and self regulation in adolescents.Methods : The method of this study was an observational research with cross sectional approach, began from March to July 2015. Subjects were the students in SMA N 2 Ngawi. SRQ (Self Regulation Questionnaire) and the organizations questionnaire validating before were used to collect data. Data was analyzed by Chi-square testResults : The number of respondents were 80 students, consist of 46 respondent who actively participated in the organization and 34 respondents who are not actively participated in the organization. Students who actively participated in the organization of 21.7% has a good self regulation, 65.3% intermediate and 13% low, while students who do not actively participated in the organization of 8.8% has a good self regulation, 53% intermediate and 38.2% low. The value of probability the relationship between the participation of organizations and self regulation was 0,021 (p <0.05).Conclusion : There is a significant correlation between an organizations participation in self-regulation.

HUBUNGAN ANTARA GANGGUAN TIDUR DENGAN PERTUMBUHAN PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN DI KOTA SEMARANG

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang :Prevalensi gangguan pertumbuhan masih cukup besar. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan adalah faktor kelainan hormonal yang bisa dikarenakan oleh gangguan tidur. Sekitar 75% hormon pertumbuhan disintesis pada saat anak tidur, sehingga bila terjadi gangguan tidur pada anak maka hormon pertumbuhan akan terganggu. Tujuan : Menguji hubungan antara gangguan tidur dengan pertumbuhan pada anak usia 3-6 tahun di Kota Semarang.Metode : Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada periode Maret – Juni 2013.Subjek penelitian adalah orangtua anak yang memiliki anak berusia 3-6 tahun di beberapa TK/TPA dan PAUD di Kota Semarang. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dengan menggunakan kuesioner SDSC serta pengukuran antropometri meliputi berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala pada anak. Uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney.Hasil :Jumlah responden sebanyak 183 anak, terdiri atas 146 anak mengalami gangguan tidur. Dari hasil analisis didapatkan perbedaan bermakna pada rerata skor HAZ antara kelompok gangguan tidur dan tidak gangguan tidur(p=0,036). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada rerata skor WAZ (p=0,244), Z-score IMT terhadap umur (p=0,855), dan Z-score lingkar kepala terhadap umur (p=0,389). Karakteristik data antara kedua kelompok menunjukkan perbedaanbermakna pada variabel usia, pendidikan terakhir ayah, dan status sosial ekonomi.Kesimpulan :Gangguan tidur pada anak berhubungan secara signifikan terhadap tinggi badan pada anak, namun tidak berhubungan secara signifikan pada berat badan, IMT, dan lingkar kepala pada anak.

HUBUNGAN DURASI DAN FREKUENSI BERMAIN VIDEO GAME DENGAN MASALAH MENTAL EMOSIONAL PADA REMAJA

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kemajuan teknologi dan akses yang mudah, membuat jumlah waktu anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu untuk bermain video game semakin meningkat. Terdapat berbagai dampak positif maupun negatif yang berkaitan dengan bermain video game. Salah satu dampak yang dapat diakibatkan oleh bermain video game adalah masalah kesehatan jiwa seperti masalah mental. Penelitian mengenai pola bermain video game dengan masalah mental emosional penting dilakukan untuk deteksi dini guna mencegah terjadinya keterlambatan penanganan.Tujuan: Menganalisis hubungan durasi dan frekuensi bermain video game dengan gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, masalah hubungan antar sesama, dan perilaku prososial pada remajaMetode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan studi belah lintang (cross sectional). Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 3 Semarang usia 13-15 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner Strength Difficulties Questionnaire (SDQ), kuesioner karakteristik responden, dan lembar data pemain video game. Uji hipotesis korelasi antara durasi dan frekuensi bermain video game dengan masalah mental emosional dianalisis dengan uji korelasi Gamma Somers’d.Hasil: Jumlah sampel penelitian adalah 99 subjek. Rerata durasi bermain video game adalah 10,54±9,99 jam per minggu dengan nilai minimal 20 menit dan maksimal 56 jam. Rerata frekuensi bermain video game adalah 3,47±1,84 kali per minggu dengan nilai minimal 1 kali dan maksimal 7 kali.Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara frekuensi bermain video game dengan masalah mental emosional pada masalah perilaku remaja usia 13 – 15 tahun (r=0,272 ; p=0,017)

HUBUNGAN PERILAKU BERISIKO DENGAN INFEKSI HIV PADA ANAK JALANAN DI SEMARANG

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Anak jalanan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang rentan terinfeksi HIV. Penelitian di berbagai negara menunjukkan tingginya angka infeksi HIV pada anak jalanan dilatarbelakangi oleh kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku berisiko terinfeksi HIV seperti seks bebas, penggunaan NAPZA suntik, tato, dan tindik. Jawa Tengah merupakan provinsi dengan jumlah anak jalanan terbanyak keempat di Indonesia. Semarang, sebagai ibu kota Jawa Tengah, memiliki jumlah anak jalanan yang cukup besar dan rentan melakukan perilaku berisiko terrinfeksi HIV.Tujuan Menganalisis hubungan perilaku berisiko dengan infeksi HIV pada anak jalanan di SemarangMetode : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah anak jalanan usia 11 – 18 tahun yang beraktivitas di kawasan pusat Kota Semarang. Pengambilan data dengan wawancara kuesioner kepada sampel penelitian dan hasil pemeriksaan HIV dengan metode Rapid test strategi IIIHasil : Anak jalanan usia 11 – 18 tahun yang beraktivitas di pusat Kota Semarang memiliki perilaku berisiko terinfeksi HIV yaitu penggunaan tato sebanyak 48,8% dan sebanyak 60,0% nya menggunakan jarum yang tidak steril, penggunaan tindik sebesar 85,4% dan sebesar 71,4% menggunakan jarum tindik yang tidak steril, penggunaan NAPZA suntik sebanyak 4,9% dan sebanyak 50,0%-nya menggunakan jarum suntik yang tidak steril, serta hubungan seksual sebesar 39,0% dan sebesar 62,5%-nya tidak pernah menggunakan kondom. Hasil pemeriksaan HIV pada seluruh sampel penelitian ini non reaktif.Kesimpulan : Perilaku berisiko terinfeksi pada anak jalanan cukup tinggi. Tidak didapatkan hasil reaktif pada pemeriksaan HIV sehingga tidak dilakukan analisis secara statistik mengenai hubungan perilaku berisiko dengan infeksi HIV pada anak jalanan.

PERBEDAAN MASALAH MENTAL EMOSIONAL PADA REMAJA YANG BERMAIN VIDEO GAME AKSI DAN NON AKSI Studi kasus di SMP N 3 Semarang

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Jumlah pemain video game di Indonesia saat ini semakin meningkat. Video game aksi dengan kekerasan dapat memicu terjadinya masalah mental emosional pada remaja. Masalah mental emosional yang tidak ditindaklanjuti dapat berkembang menjadi gangguan mental emosional.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan masalah mental dan emosional pada remaja yang bermain video game aksi dan non-aksi pada siswa SMP Negeri 3 SemarangMetode : Penelitian ini adalah penelitian observasional menggunakan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Maret-Juli 2014 dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII yang bermain video game aksi maupun non-aksi di SMP Negeri 3 Semarang. Pengambilan data menggunakan kuesioner SDQ (Strength and Difficulties Questionnaire) dan kuesioner karakteristik responden yang telah divalidasi. Uji Chi-square/Fischer/Kolmogorov-smirnov digunakan untuk analisis data.Hasil : Jumlah responden sebanyak 100 orang, terdiri dari 50 orang responden pada masing-masing kelompok. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dalam hal masalah emosional (p=0,997), masalah perilaku (p=0,771), masalah hiperaktivitas (p=1,000), masalah hubungan dengan teman sebaya (p=0,964), total masalah mental dan emosional (p=0,997) dan skor prososial (p=0,997).Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan masalah mental emosional pada remaja yang bermain video game aksi dan non-aksi di SMP Negeri 3 Semarang

HUBUNGAN GANGGUAN TIDUR TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA REMAJA USIA 12-15 TAHUN DI SEMARANG: STUDI PADA SISWA SMP N 5 SEMARANG

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Learning is an important thing for students as it can result in a change which can be assessed by the result of the study namely academic performance. Sleep disturbance occur very often in adolescents and it is one of the factors that can influence academic performance.Aim: To analyze the relation between sleep disturbance and academic performance in students aged 12-15 years in SMP N 5 Semarang.Methods: Observational analytic study with cross sectional design was conducted on students of SMP N 5 Semarang during April to June 2015. The Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) questionnaire filled out by parents. Academic performance were taken from school database. The data obtained were analyzed using bivariate Chi-square test.Results: The whole subject amounting to 140 people consisted of 45 male students and 95 female students. A total of 109 (77.86%) students had sleep disturbance. Most are in the age distribution of 14 years amounting to 122 students (87.14%). Statistical test results did not showed significant differences between sleep disturbance and academic achievement of math (p=0,919), science (p=0,655), Indonesian (p=0,946), and English (p=0.295).Conclusions: There is no relation between sleep disturbance and academic performance in students adolescents aged 12-15 years in SMP N 5 Semarang.

PREVALENSI GANGGUAN TIDUR PADA REMAJA USIA 12-15 TAHUN : Studi pada Siswa SMP N 5 Semarang

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Sleep disorders caused adolescents growth and development problems. Disorders in the amount, quality and timing of sleep assessed sleep disorders. Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) questionnaires used to screening method sleep disorders. Data on the prevalence of sleep disorders has not been found in Indonesia.Aim: To determine the prevalence of sleep disorders in adolescents aged 12-15 years public junior high school 5 Semarang.Methods: Descriptive study with 122 subjects students public junior high school 5 Semarang during the months from April to June 2015. Data collection using SDSC questionnaires filled out by parents and their children.Results: The prevalence of sleep disorders in adolescents aged 12-15 years public junior high school 5 Semarang 81,1 %. Sleep-wake transition disorders 43,4 %, initiating and mainntaining sleep disorder 35,2 %, arousal disorders 24,6 %, excessive somnolence disorders 23 %, hyperhidrosis 4,1 %, sleep breathing disorders 3,3 %.Conclusion: Adolescents aged 12-15 years at public junior high school 5 Semarang have many sleep disorders. Sleep-wake transition disorders are the largest type of sleep disorder.

Pengaruh Perkembangan Bahasa Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia 1-3 Tahun

Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang.Kemampuan bahasa merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif anak. Deteksi dini masalah perkembangan anak sangat menentukan keberhasilan dalam memaksimalkan plastisitas otak pada kompensasi penyimpangan perkembangan.Tujuan.Mengetahui pengaruh perkembangan bahasa terhadap perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun.Metode. Penelitian potong lintang pada kunjungan pasien Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Dr. Kariadi Semarang, usia subjek 1-3 tahun. Kriteria inklusi keterlambatan bicara, gizi baik, tidak memiliki kelainan kongenital, gangguan neurologi, dan gangguan pendengaran. Dilakukan pemeriksaan kemampuan bahasa dengan Denver II kemudian ditentukan DQ (developmental quotients)menggunakan CAPUTE scale. Untuk menentukan gangguan pendengaran dilakukan konsultasi dengan Bagian THT dan pemeriksaan BERA. Datadianalisissecara statistik dengan uji-t.Hasil.Didapatkan kasus (n=36) dan kontrol (n=36), jumlah sampel laki-laki pada kasus 77.8%. Pada kelompok kontrol rerata DQ CAT(cognitive adaptive test)91,4 (SD+5,6),CLAMS (clinical linguistic & auditory milestone scale)90,1 (SD+6,1) sedangkan pada kasus rerata DQCAT82,7 (SD+6,7),CLAMS57,9 (SD+11,2). Hasil Uji-tdidapatadjustedR20,415 (p=0,000).Kesimpulan.Terdapat pengaruh perkembangan bahasa terhadap perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 tahun