Articles

Multiple Sclerosis in the Tropics: four Additional Cases Harsono, Harsono
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 22, No 02 (1990)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.29 KB)

Abstract

Multiple sclerosis merupakan penyakit yang bersifat kronis progresif, yang dalam perjalanan kliniknya dicirikan oleh sifat yang khas, yaitu remisi dan eksaserbasi. Sampai dengan saat ini multiple sclerosis masih dianggap sebagai suatu penyakit auto-imun atau suatu penyaldtyang disebabkan oleh infeksi virus.Prevalensi multiple sclerosis di Indonesia belum diketahui. Pada umumnya prevalensi multiple sclerosis di negara-negara Asia sangatrendah, kurang dari 5 per 100 000; bahkan ada anggapan bahwa multiple sclerosis tidak diremukan di negara tropic.Dilaporkan empat kasus multiple sclerosis yang ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam kurun waktu 9 tahun terakhir. Di Indonesia laporan kasus ini merupakan laporan yang kedua. Pada tahun 1987 untuk pertama kali telah dilaporkan 3 kasus multiple sclerosis yang dirawat di RSUP Dr. Soetomo, Surabaya.Key Words: multiple sclerosis - atuoimmune disease - echovirus type II - latitude and disease -Schumacher criteria
The Psychiatric Perspectives of Epilepsy Harsono, Harsono
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 58 No. 4 April 2008
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There are four perspectives of psychiatry in every patient with epilepsy. Those are diseases, dimensions, behaviors, and life-stories. The disease perspective assumes that the cause of a psychiatric symptom is a “broken part”; that is, biological dysfunction involving the nervous system. The dimension perspective is based on the recognition that human traits vary from individual to individual along a continuum. Behavioral presentations in epilepsy can be caused by the epilepsy itself (pre and peri-ictal: prodromal/aura/automatisms, postictal especially frontal disinhibition, focal discharges), anti-epileptic drugs, underlying brain dysfunction, personal/ parental reaction or response to having epilepsy, and idiopathic. Individuals also experience problems because of what they encounter in life and the meanings they attribute to these life events. These meaningful connections form the basis of the life-story perspective.Keywords: psychiatry, epilepsy, behavioral presentation, anti-epileptic drugs, brain dysfunction
The Characteristics of Subarachnoid Hemorrhage Harsono, Harsono
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 59 No. 1 January 2009
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spontaneous or non-traumatic subarachnoid hemorrhage (SAH) accounts for about 80% of cases and has a high rate of death and complications. Diagnosis of SAH can be challenging and critical. Delayed cerebral ischemia (DCI) due to cerebral vasospasm and acute hydrocephalus after SAH are major complications and continue to be the leading causes of death and disability following SAH. Characteristics of spontaneous SAH are diverse, comprise clinical manifestations, diagnostic procedure, specific complications, principles of management, definite treatment to the aneurysm, and prognosis. Spontaneous SAH is a major life experience that leads to additional morbidity in up to 25% of surviving patients.Keywords: subarachnoid hemorrhage, cerebral ischemia, acute hydrocephalus, diagnostic procedure, morbidity
PERBEDAAN PENYEMBUHAN LUKA POST SIKUMSISI DENGAN METODE ELETRO COUTER DAN METODE KONVENSIONAL PADA PASIEN SIRKUMSISI DI POLIKLINIK MORODADI BOYOLALI Harsono, Harsono; Suwarni, Anik; Murtutik, Lilis
JIKI Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : JIKI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pada tahun 2006, pria yang disirkumsisi terbukti jarang tertular infeksi melalui hubungan seksual dibaning yang tidak disirkumsisi.  Sirkumsisi juga bisa mengurangi tingkat infeksi HIV, sipilis, dan borok pada alat kelamin.  Di Kenya, pria yang dikhitan berkurang resiko terjangkit HIV hingga 53%, di Uganda 48% sedangkan  di Afrika Selatan terjadi pengurangan sampai 60%. Sirkumsisi dapat dilakukan dengan cara  memotong preputium (kulub) dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Resiko yang  dihadapi dari sirkumsisi secara umum rendah, namun dapat berakibat serius bila dilakukandi tempat yang tidak higienis dan dilakukan oleh penyedia layanan yang tidak ahli, atau dengan peralatan yang tidak memadai. Tujuan: Mengetahui perbedaan rata-rata tingkat penyembuhan pada pasien post sirkumsisi dengan menggunakan couterisasi dan menggunakan metode konvensional. Metode: Desain penelitian ini adalah quasi eksperimentaldengan menggunakan kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya. Peneliti melakukan intervensi sebagian dari sampel yang ada dengan bahan A dan sebagian sampel  dengan bahan B. Penelitian dilakukan pada 15-31 Juli 2009. Hasil: Penelitian pada 32 responden ini menunjukkan tingkat penyembuhan luka pada pasien sirkumsisi dengan etode konvensional, rata-rata berada pada ketegori cukup baik yaitu sebanyak 80%, sedangkan pada pasien sirkumsisi yang dilakukan dengan metode couterisasi, rata-rata berada pada kategori cukup baik yaitu sebanyak 73,33%. Analisis menggunakan t-test didapatkan t-hitung adalah 0,418 dengan probabilitas 0,679. Oleh karena probabilitas >0,05, maka Ho diterima. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan tingkat penyembuhan lukayang signifikan pada pasien sirkumsisi dengan menggunakan metode konvensional maupun menggunakan metode couterisasi.
Therapy of epilepsy Harsono, Harsono
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 27, No 02 (1995)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.135 KB)

Abstract

Effective treatment of epilepsy requires accurate diagnosis. This relies heavily on proper identification of seizure type. Successful drug therapy requires a proper understanding of medication half-life and indications.Accurate diagnosis cannot be established easily since diagnosis of epilepsy relies on history taking and most of the patients do not show any clinical abnormality. Furthermore, diagnosis of epilepsy needs details of seizure type. This may be more difficult to be identified because information on the patients/their relatives are insufficient. Meanwhile, problems related to anti-epileptic drugs comprise poor understanding of the drugs, anticonvulsant interactions, development of adverse drug reactions, boring and poor compliance in taking medicine. Continuing medical education is one of the methods to solve the problems.Psychosocial conditions may interfere the treatment. In addition, any physician who cares epileptic patients should have comprehensive understanding of the patients condition including his/her family. On the other hand, the patients and/or their relatives should have proper information concerning the diagnosis, therapy, and prognosis of epilepsy.Health Centers, particularly ,in the rural areas, should have sufficient competence to manage epileptic patients. Good referral system will improve the competence and the patients will get some advantages.Key words: epilepsy - correct diagnosis - continuing medical education - psychosocial conditions - health center?
Stroke rehabilitation Harsono, Harsono
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 26, No 01 (1994)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.854 KB)

Abstract

Patients with stroke, particularly during the hours following the acute episode, are in evolution, undergo various stages of pathophysiological readjustment. The brain lesion plays an important role in this process. In addition to affecting the central nervous system function, it keeps a close pathophysiological relationship with the respiratory system, the circulatory system, and all systems that participate in keeping the internal milieu in balance. These systems are often altered secondary to the brain lesion, but in other cases they are directly or indirectly responsible for the brain lesion or are worsening.The pathophysiological interrelation in all seriously ill or potentially seriously ill patients is of great importance, and of course, the same is true in stroke patient. Hence management is required that the treatment should be integrated and not divided by systems or according to the various medical specialties. The importance of comprehensive rehabilitation for the stroke patients with complex physical, psychic and social problems should be underlined. Medical, social, psychological and vocational measures must start early. They must be coordinated and usually applied more or less simultaneously.Key Words: stroke- internal milieu-medical specialty-management of treatment- comprehensive rehabilitation
PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF MELALUI METODE PROBLEM SOLVING DAN PEMBERIAN TUGAS DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA Harsono, Harsono; Sunarno, Widha
PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 1, No 5 (2012)
Publisher : PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.176 KB)

Abstract

“Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Melalui Metode Problem Solving dan Pemberian Tugas ditinjau dari Kreativitas Siswa.”(Studi Kasus Pembelajaran Fisika Pada Pokok Bahasan Gravitasi Bumi Siswa kelas XI IPA Semester 1 Tahun Pelajaran 2008/2009 SMA Taruna Nusantara ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) apakah ada pengaruh pembelajaran fisika dengan pembelajaran kooperatif melalui metode problem solving dan metode pemberian tugas terhadap prestasi belajar Fisika siswa pada kompetensi dasar gravitasi bumi. 2)  Apakah ada pengaruh siswa yang mempunyai kreativitas tinggi, sedang, dan siswa yang mempunyai kreativitasnya rendah terhadap prestasi belajar fisika siswa pada kompetensi dasar gravitasi bumi. 3)  Apakah ada interaksi antara metode problem solving dan metode pemberian tugas dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar fisika pada kompetensi dasar gravitasi bumi.Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2008 sampai dengan bulan Januari 2009. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI-IA SMA Taruna Nusantara tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri dari 8 kelas dengan jumlah siswa 245 siswa. Sampel berjumlah 122 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik uji matcing kelas mulai dari kelas XI-IA-1 sampai dengan XI-IA-8. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran (pembelajaran kooperatif melalui metode problem solving dan pemberian tugas). Untuk variabel atribut adalah kreativitas siswa. Variabel terikatnya adalah prestasi belajar fisika pada ranah kognitif dan afektif. Data penelitian untuk prestasi belajar kognitif diperoleh dengan menggunakan metode tes setelah siswa mengikuti pembelajaran dalammkompetensi dasar Gravitasi Bumi. Ranah afektif diperoleh dengan mengobservasi sikap siswa dalam mengikuti pelaaran di kelas serta kreativitas diperoleh dengan memberikan angket.Analisis data menggunakan teknik Analysis of Varian (Anava). Dari hasil analisis data didapat : 1)  Terdapat perbedaan pengaruh pembelajaran kooperatif yang menggunakan metode problem solving dan pembelajaran kooperatif dengan metode pemberian tugas terhadap prestasi belajar fisika pada pengajaran gravitasi bumi yang memiliki taraf signifikansi 0,05 (p = 0,085).  2)  Tidak terdapat perbedaan pengaruh tingkat kreativitas siswa tinggi, sedang dan kreativitas rendah terhadap prestasi belajar fisika. Hal ini dapat diamati melalui tes normalitas Anderson-Darling didapat masing-masing p-value diatas dari taraf signifikansi (p > 0,05) baik metode problem solving maupun metode pemberian tugas untuk masing-masing tingkat kreativitasnya. 3)  Tidak terdapat interaksi antara metode problem solving dan metode pemberian tugas dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar fisika pada  kompetensi dasar gravitasi bumi pada taraf signifikansi 0,05. Kata Kunci : pembelajaran kooperatif, metode problem solving, metode pemberian tugas,kreativitas siswa.
Management of epilepsy in elderly Harsono, Harsono
Medical Journal of Indonesia Vol 12, No 1 (2003): January-March
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.865 KB)

Abstract

Management of epilepsy in elderly requires understanding the unique biochemical and pharmacological characteristics of these patients. Management decisions must be based on accurate classification of seizures or epilepsy syndromes, a thorough neurological assessment to define etiology, and a comprehensive assessment of the patient’s health and living situation. Concomitant illnesses such as neurological, psychiatric, metabolic, or cardiac disorders will require individualization of plans and instructions. Specific problems of treatment of epilepsy in the elderly compared to childhood patients are as follows: distinctive range of causes of epilepsy, distinctive differential diagnosis, concurrent pathologies unrelated to epilepsy, pharmacokinetic and pharmacodynamic differences, and distinctive psychosocial effects. (Med J Indones 2003; 12: 40-7) Keywords:  epilepsy, elderly, management, concomitant illness, pharmacokinetic
Prognosis Epilepsi Harsono, Harsono
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 30, No 03 (1998)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prognosis is defined as the chance of recovery from a certain condition. Strictly, in epilepsy this means the chance of terminal remission once a patient has established a pattern of recurrent epileptic seizures. Questions concerning duration of treatment and long-term prognosis in childhood epilepsy are often raised by parents whose children are starting therapy with antiepileptic drugs. Many studies have focused on those issues and have examined the risk factors for poor prognosis as well as the risk of recurrence of seizures. The wide variation found in the risk of recurrence among those who have had a first seizure seems to be explained by differences In study design or differences in the characteristics of the study groups. In addition, the study of the prognosis of epilepsy has been confounded because of the fact that epilepsy is an expression of so many different underlying etiologies and syndromes.Prognosis of epilepsy should be informed clearly to the patients and/or parents. The clear information will improve the patient compliance in taking medication for a long time.Key Words : prognosis of epilepsy - remission - antiepileptic drugs - risk factors - recurrent epileptic seizures
Catamenial epilepsy Harsono, Harsono
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 34, No 01 (2002)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.142 KB)

Abstract

The true frequency of menstrually related seizures (catamenial epilepsy) is unclear. This is due in part to the fact that at present there is no universally accepted definition of this entity. Because of such arbitrary definition, a variety of therapeutic strategies for controlling seizures related to hormonal fluctuations have been recommended. With respect to the uncertainty of catamenial epilepsy criteria, the principles of physiologic changes related to hormonal fluctuations in women with epilepsy should be understood. Based on the knowledge of hormonal changes and characteristics of epilepsy, a detailed history taking should be carried out properly. This strategy will be useful for establishing diagnosis and planning appropriate treatment.Keywords: catamenial epilepsy - definition - seizure - therapeutic strategy - hormonal fluctuations.