Mohamad Sofyan Harahap
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Undip/ RSUP Dr. Kariadi, Semarang

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

Perbandingan Sekresi IL-10 di Jaringan Sekitar Luka Insisi Dengan dan Tanpa Infiltrasi Levobupivakain : Studi Imunohistokimia pada Tikus Wistar

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground : The acute pain occurs after wound could depress the immune function that leads to the inhibition of the wound healing processes. Local anesthetic which has a long duration effect such as levobupivacain could be used to relief the pain so that protect the depression of immune function. Activation of macrophage can promote the T cell to produce IL -10.Objective: To compare the IL-10 secretion between levobupivacain tread and non levobupivacain on the tissue surround the wound.Methods: A laboratoric experimental study designed wi th randomized post test only control group method. Thirty five female rats were randomly devided into three groups. Control group (K), Non-Levobupivacain infiltration group (P1) and Levobupivacain infiltration group (P2). No incision and no infiltration in K group. Two cm of skin incision was performed to P1 and P2. After the incision, levobupivacain infiltration were given every 8 hours for 24 hours to the P2 group. No levobupivacain was given to the first st nd th group. On day 1 , 2 , 3 the rats were sacrified and the tissue surround the wound were taken for immunohistochemistry staining. The IL-10 secretion were analyzed for histologic scoring. Kruskal Wallis Test, Mann- Whitney Test were used for statistic analysis.Result : It was demonstrated in this study that the histologic score of IL-10 of the levobupivacain treated group was significanly higher than non levobupivacain group in nd 2 day (mean 5.36 ± 1.25 vs 3.00 ± 2.11 respectively, p=0,023 ; p<0,05).Conclusion : The IL-10 secretion was significantly higher in levobupivacain treated group than non levobupivacain group on the tissue surround the woundKeywords : IL-10 secretion, levobupivacain infiltration, after incision painABSTRAKLatar belakang : Nyeri menyebabkan peningkatan hormon glukokortikoid yang memperlama penyembuhan luka. Transmisi nyeri dapat dihambat dengan obat anestesi lokal levobupivakain. Terapi ini akan mengurangi supresi imunitas seluler sehingga fungsi makrofag dalam membantu aktifasi sel T tidak terhambat. Aktifasi sel T ini diduga akan meningkatkan sekresi IL-10.Tujuan : Membandingkan sekresi IL-10 di jaringan sekitar luka dengan dan tanpa infiltrasi levobupivakain.Metode: Eksperimental laboratorik dengan desain Randomized Post test only control group design, pada tiga puluh lima ekor tikus Wistar. Kelompok penelitian dibagi menjadi tiga kelompok secara acak, Kelompok Kontrol (K) 5 ekor, Perlakuan 1 (P1) dan Perlakuan 2 (P2) masing -masing lima belas ekor. Kelompok Kontrol, tikus tanpa insisi dan tanpa infiltrasi. Kelompok P1, tikus yang dilakukan insisi 2 cm, tanpa diberikan infiltrasi levobupivakain. Kelompok P2, tikus yang dilakukan insisi 2 cm, diberikan infiltrasi levobupivakain tiap 8 jam selama 24 jam. Ekspresi IL -10 di sekitar luka insisi dinilai dengan skor histologi dari preparat dengan menggunakan pengecatan imunohistokimia, yang diambil dari biopsi jaringan pada hari ke 1, 2, dan 3. Metode perhitungan statistik menggunakan Kruskal Wallis Test dilanjutkan Mann Whitney Test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pada jaringan insisi rerata skor histologi IL -10 pada kelompok levobupivakain lebih tinggi (5.36 ± 1.25) dibanding kelompok tanpa levobupivakain (3.00 ± 2.11) pada hari ke dua. Perhitungan statistik antara kedua kelompok tanpa levobupivakain dan dengan kelompok levobupivakain berbeda bermakna (p=0,023 ; p<0,05).Kesimpulan: Sekresi IL-10 di jaringan sekitar luka dengan infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibanding tanpa levobupivakainKata kunci : Sekresi IL-10, infiltrasi levobupivakain, nyeri pasca insisi.

Pengaruh Asam Traneksamat pada Profil Koagulasi Pasien yang Mendapatkan Ketorolak

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Intra-operative bleeding is one of the challenges in anesthesia. Management of bleeding is an important modality for the anesthesiologist to maintain the patient in a state of physiological homeostasis. Ketorolac is a nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are often used as intraoperative and postoperative analgesia in surgical patients. NSAID use as a post-surgical analgesia has side effects such as interference with the function of hemostasis, is one of its manifestations extended bleeding time. Tranexamic acid can reduce the amount of bleeding and save the use of coagulation factors durante operations, and thus is expected to improve the coagulation profile (PPT and aPTT) of patients who received ketorolac.Objectives: To investigate the effect of Tranexamic acid administration to PPT and aPTT in patients given ketorolacMethod: This study is a clinical experimental study with randomized controlled blind design in Central Operating Theatre of Kariadi Hospital Semarang. Sample was taken from patient using simple random sampling and divided into two group. The first group (KI) was administered ketorolac and tranexamic acid .Second group (K II) was given ketorolac and placebo. Statistical analysis was performed with SPSS 16 for Windows.Result: Preoperatively, PPT between groups were not significantly different (KI : 12.27±0.811 ;K II: 12.89±1.041; p: 0.083), and so were preoperative aPTT (K I: 30.01±2.060 ; K II: 31.43±3.632 ; p: 0.196). In 2 hours post operative PPT were prolonged in both groups but were not significantly different between groups ( K I : 13.17±1.202 ; K II: 13.60±1.648; p: 0.417). aPTT value in 2 hours post operative were significantly different between groups ( K I: 31.31±1.518; K II: 32.5667±3.899; p: 0.007). In 6 hours post operative, PPT K I were shortened ( 12.43±0.8314), but K II were still prolonged (13.793±1.384; p: 0.003). In aPTT, K I shortened (29.4533±1.465), as well as K II(34.74±3.967; p: 0.004) but the difference between groups were significant.Conclusion: Statistically, Tranexamic acid administration provide significant improvement the coagulation profile in patients given ketorolac.Keywords : Ketorolac, Tranexamic acid, PPT, aPTTABSTRAKLatar Belakang: Perdarahan intra operatif adalah salah satu tantangan dalam bidang anestesi. Penanganan perdarahan merupakan modalitas yang penting bagi ahli anestesi untuk mempertahankan keadaan pasien dalam homeostasis fisologis. Ketorolak adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang sering digunakan sebagai analgesia intraoperatif maupun post operatif pada pasien bedah. Penggunaan OAINS sebagai analgesia paska bedah memiliki efek samping berupa gangguan pada fungsi hemostasis, salah satu manifestasinya adalah memperpanjang waktu perdarahan. Asam traneksamat dapat menurunkan jumlah perdarahan dan menghemat pemakaian faktor faktor koagulasi durante operasi, dan demikian diharapkan akan memperbaiki profil koagulasi (PPT dan aPTT)pasien yang mendapatkan ketorolak.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian asam traneksamat terhadap PPT dan aPTT pasien yang mendapatkan ketorolakMetode: Penelitian ini merupakan uji eksperimental klinis dengan desain acak tersamar di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sampel diambil dari pasien yang menjalani operasi menggunakan “simple random sampling”dan dibagi menjadi dua kelompok : Kelompok 1 (K1) diberikan diberikan ketorolak 30 mg iv dan Asam traneksamat 1 gram intravena; Kelompok 2 (K2) diberikan diberikan ketorolak 30 mg iv dan placebo. Pasien dinilai PPT dan aPTT sebelum operasi, 2 jam pasca operasi dan 6 jam pasca operasi. Analisis statistik dengan SPSS for Windows versi 16.Hasil: Pada periode pre operatif, rerata PPT kedua kelompok cenderung tidak berbeda bermakna (KI : 12.27±0.811detik ;K II: 12.89±1.041; p: 0.083), demikian pula aPTT pre operatif (K I: 30.01±2.060 detik ; K II: 31.43±3.632 ; p: 0.196). Pada 2 jam post operatif terjadi pemanjangan PPT pada kedua kelompok namun beda kedua kelompok tidak bermakna ( K I : 13.17±1.202 detik K II: 13.60±1.648; p: 0.417). Perbedaan nilai aPTT 2 jam pasca operasi kedua kelompok tersebut bermakna secara statistik ( K I: 31.31±1.518 detik K II: 32.5667±3.899; p: 0.007). Pada 6 jam pasca operasi, PPT K I memendek ( 12.43±0.8314), namun K II tetap memanjang (13.793±1.384; p: 0.003). Pada nilai aPTT, K I memendek (29.4533±1.465),K II (34.74±3.967; p: 0.004) .Simpulan: Pemberian asam traneksamat dapat memperbaiki studi koagulasi pasien yang mendapatkan ketorolak secara bermakna secara statisticKata kunci : Ketorolak, Asam traneksamat, PPT, aPTT

Perbedaan Pengaruh Pemberian HES 6 % Dalam Larutan Berimbang Dengan HES 6 % Dalam Larutan Nacl 0,9 % Terhadap Perubahan pH, Strong Ion Difference Dan Klorida Pada Pasien Bedah Sesar Dengan Anestesi Spinal

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Colloid administration as preload on caesarian section with spinal anesthesia is more effective than crystalloid administration. Colloid solvent-based-on administration has been improved due to the effect of acid-base balance.Purpose : To analyze the effect of HES 6% in balance solution and HES 6% in NaCl 0,9% solution on pH, SID and chloride change in caesarian section delivery with spinal anesthesia.Methode : This is second stage experimental clinical trial, double blind randomized with consecutive sampling, divided into two groups (n=24), HES 6% in balance solution and HES 6% in NaCl 0,9% solution. T-test or Wilcoxon Signed Rank Test was performed to compare pH, SID and chloride level in each group whereas Independent t-test or Mann Whitney U-test was used to compare both.Result : There was no significant difference on pH, SID and chloride level after administration of HES 6% in balance solution and HES 6% in NaCl 0,9% on caesarian section.Conclusion : There is increasing on chloride concentration not significantly after administration of HES in NaCl 0,9% solution, while pH and SID decrease after the administration of two solution.Keywords : HES 6%, balance solution, NaCl 0,9% solution, pH, SID, chloride levelABSTRAKLatar belakang penelitian : Pemberian koloid sebagai preload pada bedah sesar dengan anestesi spinal lebih efektif dibandingkan kristaloid. Kebijakan pemilihan koloid berdasarkan jenis pelarutnya mulai dikembangkan terkait dengan dampak terhadap keseimbangan asam-basa.Tujuan : Melihat perbedaan pengaruh pemberian preload HES 6% dalam larutan NaCl 0,9% dengan HES 6% dalam larutan berimbang terhadap perubahan pH, SID dan kadar klorida pada pasien bedah sesar dengan anestesi spinal.Metode : Merupakan uji klinik eksperimental tahap II yang dilakukan secara acak tersamar ganda, menggunakan consecutive sampling, dibagi dua kelompok (n=24), kelompok HES 6% dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam larutan NaCl 0,9%. Uji statistik t-test atau Wilcoxon signed rank test digunakan untuk membandingkan nilai pHSID, dan kadar klorida pada masing-masing kelompok, sedangkan uji statistik antarkelompok digunakan independent t-test atau Mann-Whitney U-test.Hasil : Nilai pH, SID, dan kadar klorida sebelum dan sesudah operasi antara NaCl 0,9% terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05)Kesimpulan : Terdapat penurunan pH, penurunan SID dan peningkatan kadar klorida pada kelompok HES 6% dalam larutan NaCl 0,9% dibandingkan HES 6% kelompok HES 6 % dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam larutan terdalam larutan berimbang secara tidak bermakna.

Perbedaan Pengaruh Pemberian Propofol Dan Etomidat Terhadap Agregasi Trombosit

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Perioperative bleeding is a serious and common problem in surgery. Induction anesthetic agent usage is known for the inhibition of platelet aggregation. Objective: To determine the difference effect of propofol and penthotal administration on platelet aggregation. Method: An experimental study on 40 patients who received general anesthesia. Samples were divided into two groups (n:20, each). The first group received propofol and the second group received etomidat as the induction anesthetic agent during the procedure, and five minutes post induction, with the rate of administration propofol 2,5 mg/ body weight, etomidat 0,3 mg/ body weight and O₂ : N₂O ratio 50% : 50%. A specimens were taken to the Clinical Pathology Laboratory for Platelet Aggregation testing. Statistical analyses were performed using Paired T-Test and Independent T-Test (with level of significance p<0,05). Result: The result showed significant difference in percentage of maximal platelet aggregation before and after the administration of propofol (p=0,001) and not significant for etomidat group (p=0,089). In the propofol and etomidat group, the mean percentage of maksimal platelet aggregation was 66,07 ± 18,04. Statistically, propofol caused less significant hypo aggregation of plateled compared to etomidate, with (p=0,053). Conclusion: Propofol significantly decreased the percentage of maximal plateled aggregation, however the difference was not significant between two experiment groups.Keywords : Propofol, etomidate, ADP, platelet aggregationABSTRAKLatar belakang penelitian: Perdarahan perioperatif merupakan masalah yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi induksi dikatakan mempunyai pengaruh dalam agregasi trombosit Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian propofol dan etomidat terhadap agregasi trombosit. Metode: Merupakan penelitian eksperimental pada 40 pasien yang menjalani anestesi umum. Penderita dibagi 2 kelompok (n=20), kelompok I menggunakan propofol dan kelompok II menggunakan etomidat, yang diberi sejak awal induksi dengan besar pemberian propofol 2,5 mg/kg intravena, etomidat 0,3 mg/kg intravena bersama O2 : N2O = 50% : 50%. Masing-masing kelompok akan diambil spesimen sebelum induksi dan 5 menit setelah induksi. Semua spesimen dibawa ke Laboratorium Patologi Klinik untuk dilakukan pemeriksaan Tes Agregasi Trombosit. Uji statistik menggunakan Paired T-Test dan Independent T-Test (dengan derajat kemaknaan <0.05). Hasil: Karakteristik data penderita maupun data variabel yang akan dibandingkan terdistribusi normal. Pada penelitian ini didapatkan perbedaan persen agregasi maksimal trombosit yang bermakna sebelum dan sesudah pemberian propofol (p=0,001) dan tidak bermakna untuk sebelum dan sesudah pemberian etomidat (p=0,089). Pada kelompok propofol didapatkan rerata persen agregasi maksimal trombosit 66,07±8,28 dan etomidat 56,29+18,04 dan menunjukkan perbedaan yang bermakna antara keduanya (p=0,053). Kesimpulan: Propofol secara bermakna menurunkan persen agregasi maksimal trombosit, dibandingkan etomidat.

Perbandingan Kadar IL-10 Serum dengan dan Tanpa Infiltrasi Levobupivakain pada Nyeri Pasca Insisi

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Incicion pain provokes the increase of glucocorticoid hormone that extends periode of the wound healing. Pain transmission will be inhibited by Levobupivacaine 0,25 % infiltration. This therapy will decrease the cellular immunity suppression so the macrop hage function in helping the T cell activation are not inhibited. This cell activation will increase the IL-10 serum level. Objective : To compare IL-10 serum level with and without Levobupivacaine 0,25 % infiltration post incicion. Methods : This laboratoric experimental study was designed with randomized post test only control group method on thirty five Wistar rats. The experimental group was devided randomly into three groups. The control group (K) contained 5 Wistar rats, group P1 and P2 contained 15 Wistar rats of each. In the group K, the rats were anesthesized without incicion and without Levobupivacaine 0,25 % infiltration, the IL-10 serum level was examined on the day one. In the group P1, the rats were anesthesized followed with 2 cm subcutaneous depth incicion and without Levobupivacaine 0,25 % injection. And in the group P2 , the rats were anesthesized followed by 2 cm subcutaneous depth incicion and Levobupivacaine 0.25 % infiltration was administered. The reinfiltration on the group P1 and P2 w as administered every 8 hour twice daily. IL- 10 serum level was examined on the day 1, 2 and 3. And then compared among three group.The statistic datas were analysed with SPSS 10,0 for windows programme. Results : The mean of rats body weight among three groups were not significantly different ( p = 0,874 ). IL-10 serum level in the group K was 0,13 ± 0,02 pg/ml. The level of IL-10 serum in the group P1 on day one was 0,16 ± 0,12 pg/ml ; day two was 0,16 ± 0,06 pg/ml and day three was 0,18 ± 0,07 pg/ml. There were 23 % increased of IL-10 serum level on the day one and day two, 38 % on the day three in the group P1. The IL-10 serum level in group P2 on day one, two and three were 0,21 ± 0,15 pg/ml ; 0,30 ± 0,11 pg/ml ; 0,29 ± 0,13 pg/ml respectively. And in the group P2 there were 61 % increased of IL -10 serum level on the day one, 130 % on the day two and 123 % on the day three respectively. IL-10 serum level among three groups were significantly different with p = 0,000. The clinical parameter datas in the three groups were normaly distributed. The increase of IL -10 serum level was highest in group with Levobupivacaine 0,25 % infiltration on day two ( p < 0,05 was considered significant ). Conclusions : Infiltration of Levobupivacaine 0,25 % is increased IL-10 serum level. There are 23 % increased of IL-10 serum level on the day one and day two, 38 % on the day three in the group P1. And in the group P2 there are 61 % increased of IL -10 serum level on the day one, 130 % on the day two and 123 % on the day three respectively. The highest IL-10 serum level is 130 % that achieve in group with Levobupivacaine 0,25 % infiltration on day two.Keywords : IL-10 serum level, Levobupivacaine 0,25 % infiltration, incision pain.ABSTRAKLatar belakang : Nyeri insisi menyebabkan peningkatan hormon glukokortikoid yang memperlama penyembuhan luka. Transmisi nyeri dapat dihambat dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 %. Terapi ini akan mengurangi supresi imunitas seluler sehingga fungsi makrofag dalam membantu aktifasi sel T tidak terhambat. Aktifasi sel T ini diduga akan meningkatkan kadar IL-10 serum. Tujuan : Membandingkan kadar IL-10 serum dengan dan tanpa infiltrasi Levobupivakain 0,25 %. Metode : Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik dengan disain “Randomized Post test only control group design”, pada tigapuluh lima ekor tikus Wistar. Kelompok penelitian dibagi menjadi tiga kelompok secara acak. Kelompok kontrol (K) lima ekor tikus, kelompok Perlakuan 1 (P1) dan kelompok Perlakuan 2 (P2) masing-masing limabelas ekor tikus. Kelompok kontrol (K) tikus dibius, tanpa insisi dan tanpa infiltrasi lalu diperiksa kadar IL-10 serumnya pada hari pertama. Kelompok Perlakuan 1 (P1) tikus dibius lalu dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan injeksi tanpa Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Kelompok Perlakuan 2 (P2) tikus dibius laku dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Injeksi pada kelompok P1 dan infiltrasi pada kel ompok P2 diulangi dua kali tiap 8 jam selama 24 jam. Kadar IL-10 serum kelompok P1 dan kelompok P2 diperiksa pada hari ke pertama, kedua dan ketiga. Dibandingkan kadar IL-10 serum antara ketiga kelompok. Analisis statistik dengan program SPSS 10,0 for windows. Hasil : Dari hasil pengamatan rerata berat badan tikus pada ketiga kelompok berbeda tidak bermakna dengan p = 0,874 ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada kelompok K 0,13 ± 0,02 pg/ml, sedangkan kelompok perlakuan 1 (P1) hari pertama 0,16 ± 0,12 pg/ml ; hari kedua 0,16 ± 0,06 pg/ml dan hari ketiga 0,18 ± 0,07 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Kadar IL-10 serum kelompok P2 pada hari pertama, kedua dan ketiga adalah 0,21 ± 0,15 pg/ml : 0,30 ± 0,11 pg/ml ; 0,29 ± 0,13 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Data parameter klinis ketiga kelompok terdistribusi normal ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada ketiga kelompok berbeda bermakna dengan nilai p 0,000 (p < 0,05). Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 % pada hari kedua yaitu sebesar 130 %. Kesimpulan : Infiltrasi Levobupivakain 0,25 % disekitar luka insisi meningkatkan kadar IL -10 serum. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Dan pada kelompok perlakuan 2 (P2) terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % yang terjadi pada hari kedua yaitu sebesar 130 %.Kata kunci : Kadar IL-10 serum, infiltrasi levobupivakain 0,25 % , nyeri insisi

Atrakurium dan Magnesium Sulfat untuk Mencegah Peningkatan Serum Kreatinin Fosfokinase dan Ion Kalium akibat Induksi Suksinilkolin

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Succinylcholine is commonly used for intubation and induction, short operation emergency, day case anaesthesia and difficult airway controlled. Unexpected complication after succinylcholine administration is fasciculation, myalgia and increase of potassium blood level and creatin phosphokinase serum.Methods: This research was a clinical trial stage I (human sample) for 60 patients benign breast tumors undergoing surgery by general anesthesia. All patients were observe the 6 hours fasting period and give no premediacation. Peripheral blood sample were taken to measure the potassium level and creatin phosphokinase serum before premedication given. Patients randomly divided in to two grou., group I pretreatment with atrakurium 0,05 mg/kgBW and group II pretreotment with MgSO4 40mg/kgBW. Induction with succinylcholine 1,5mg/kgBW fifteen minute after premedication. Seven minute after induction, peripheral blood sample were taken on contralateral inffusion to measure potassium blood level after induction and 24 hours post operation. Peripheral blood sample were taken on contralateral infusion to measure creatine phosphokinase serum level. Statistical analysis were performed by independent t-test, Mann-Whitney U test and rank spearman correlation which were p = 0,05 was considered significant.Results: There was no difference for patients characteristics distribution data, creatin phosphokinase serum and blood potassium level before induction between two groups, For potassium blood level elevation between two group were significantly difference ( p = 0,029). Creatin phosphokinase level elevation between two group were no significantly difference ( p > 0,05 ). There was no significantly correlation (p = -0,138; p = 0,466) proved is between creatin phosphokinase serum and blood potassium level elevation on atrakurium group such no significantly correlation (p = 0,186; p = 0,325) proved is between creatine phosphokinase serum and blood potassium level elevation on atrakurium group.Conclusions: The administration of 40% magnesium sulphate 40 mg/kg BW could prevent the elevation of serum creatin phosphokinase following succinylcholine induction and blood potassium ion level, althought not as effective as atrakurium but better than other pretreatment.Keywords : succinylcholine, magnesium sulphate, potassium, potassium, fasciculationABSTRAKLatar belakang: Pemakaian suksinilkolin sebagai fasilitas intubasi dan induksi masih merupakan pilihan untuk tindakan yang singkat, emergensi, rawat jalan dan keadaan dimana jalan napas belum tentu dapat dikuasai. Efek samping yang sering timbul adalah fasikulasi dan mialgia yang ditandai meningkatnya kadar serum kreatin fosfokinase (CPK) dan ion kalium.Metode: Penelitian ini merupakan uji klinik tahap I ( subyek manusia ) pada 60 penderita tumorjinak mama yang menjalani operasi dengan anestesi umum. Semua penderita dipuasakan 6 jam dan tidak diberi obat premedikasi.Pengambilan sampel darah perifer di daerah antebrakhii kontralateral infus untuk pemeriksaan kadar ion kalium dan kreatin fosfokinase sebelum induksi. Penderita dikelompokkan secara random menjadi 2 kelompok. Kelompok I mendapat pretreatment atrakurium 0,05 mg/kgBB dan kelompok II mendapat pretreatment MgSO4 40% 40 mg/kgBB. 15 menit kemudian dilakukan induksi dengan suksinilkolin 1,5 mg/kgBB pada masing-masing kelompok. 7 menit setelah intubasi dilakukan pengambilan sampel darah perifer kontralateral infus untuk pemeriksaan kadar ion kalium pasca perlakuan dan 24 jam setelah operasi dilakukan pengambilan sampel darah perifer kontralateral infus untuk pemeriksaan kadar kreatinin fosfokinase. Uji statistik menggunakan independent t-test dan Mann-whitney U test serta uji korelasi dengan rank Spearman dengan derajat kemaknaan p = 0,05.Hasil: Tidak ada perbedaan yang bermakna pada distribusi karateristik penderita serta kadar serum kreatin fosfokinase dan kadar kalium sebelum perlakuan. Peningkatan kadar ion kalium antara kelompok atrakurium dan kelompok magnesium sulfat terdapat perbedaan bermakna (p = 0,029) dan peningkatan kadar serum kreatin fosfokinase antara kelompok atrakurium dan kelompok magnesium sulfat tidak terdapat perbedaan bermakna ( p > 0,05 ). Hasil uji hubungan menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna (p= - 0,138; p =0,466) peningkatan kadm kalium dan peningkatan kadar CPK pada kelompok atrakurium demikian juga hasil uji hubungan menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna (p = 0,186; p = 0,325) peningkatan kadar kalium dan peningkatan kadar CPK pada kelompok MgSO4.Kesimpulan: Pemberian Magnesium Sulfat 40% 40 mg/kgBB dapat mencegah peningkatankadar kreatin fosfokinase serum dan kadar kalium darah, meskipun tidak seefektif Atrakurium, tetapi lebih baik dibanding yang lain.Kata kunci : suksinilkolin, magnesium sulfat, kalium, fasikulasi

Perbedaan Pengaruh Pemberian Enfluran dan Halotan Terhadap Agregasi Trombosit

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Perioperatif haemorrage is a serious problem often faced in every operation process. It is said that the administration of volating anesthetic agents have an effect to inhibit thrombocyte aggregation. Using the same capture point, ADP, as an inductor, we will observe the difference effect between enflurane and halothane administration toward thrombocyte aggregation. Objective : To find out the effect between enflurane and halothane administration toward thrombocyte aggregation. Methods : Experimental study with sampling quota design to 48 patients underwent general anesthetic procedures. The subjects was devided into two groups, 24 patients each, The first group using enflurane as the anesthetic agent while the other group taken halothane during operation process. Each agent was given start from induction until the end of operation process, with the given rate 0,5-1 MAC along with O2 : N2O = 50% : 50% ( Enflurane and Halothane MAC is 1,2 and 0,8, respectively). The specimens were taken from each group before intervention start which is before operation begin and after intervention which is shortly before the administration of anesthetic agents stoped. Specimens was collected from vein as much as 10 cc than stored in the plastic vaccum tubes contain citrate anticoagulant. The speciments immidietly sended to Clinical Pathology Laboratory of Kariadi Hospital to do the thrombocyte aggregation examination. The statistical test using pair t-test and independent samples test (significancy degree < 0,05). Result : The distributionbetween patients’ characteristic data and variable data was statisticly normal. This study shows that the administration of Halothane using ADP 2 µM as inductor causing a significant decrease (p=0,003) on thrombocyte maximal aggregation percentage, but there was no significant difference (p= 0,340) with enflurane. When using ADP 10 µM as inductor found a simmiliar result, there was a significant difference (p=0,001) on thrombocyte maximal aggregation percentage before and after administration of halothane and not with enflurane (p=0,066). Other results shows there was a significant diference (p=0,001) on thrombocyte maximal aggregation percentage before and after the administration both halothane and enflurane using 10 µM inductor. Conclusion : Halothane have higher effect in inhibitting thrombocyte aggregation than enflurane.Keywords : Enflurane, Halothane, ADP, thrombocyte aggregationABSTRAKLatar belakang: Perdarahan perioperatif merupakan masalah serius yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi inhalasi dikatakan mempunyai pengatuh dalam menghambat agregasi trombosit. Dengan titik tangkap yang sama yaitu ADP sebagai induktor akan diamati perbedaan perngaruh pemberian Enfluran dan Halotan terhadap Agregasi Trombosit. Tujuan : untuk mengetahui perbedaan perngaruh pemberian Enfluran dan Halotan terhadap agregasi trombosit. Metode : merupakan penelitian eksperimental dengan desain quota sampling pada 48 pasien yang menjalani anestesi umum. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n:24), kelompok I menggunakan Enfluran sebagai obat anestesi inhalasi selama operasi dan kelompok II menggunakan Halotan sebagai obat anestesi inhalasi selama operasi, yang diberi sejak awal induksi sampai dengan operasi berakhir dengan besar pemberian 0,5 – 1 MAC bersama O2 : N2O = 50 % : 50 %. (MAC enfluran : 1,2 dan halotan : 0,8). Masing – masing kelompok akan diambil spesimen sebelum perlakuan (sebelum operasi) dan sesudah perlakuan (sesaat sebelum obat anestesi inhalasi dimatikan). Semua spesimen dibawa ke Laboratorium Patologi Klinik untuk dilakkan pemeriksaan Tes Agregasi Trombosit Uji statistik menggunakan pair t-test dan independent t-test (dengan derajat kemaknaan < 0,05). Hasil : karakteristik data penderita maupun data variabel yang akan dibandingkan terdistribusi normal. Pada penelitian ini didapatkan perbedaan persen agregasi maksimal trombosit yang bermakna antara sebekum dan sesudah pemberian halotan (p = 0,001) sementara tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada enfluran (p = 0,066). Pada kelompok enfluran didapatkan rerata persen agregasi maksimal trombosit sebesar 81,464,38 dan pada halotan 76,585,15, sehingga menunjukkan perbedaan yang bermakna antara keduanya (p = 0,01). Sesudah perlakuan didapatkan gambaran normoagregasi 77,8 % pada kelompok yaang memperoleh enfluran dan 22,2 % pada kelompok halotan. Sementara gambaran hipoagregasi 66,6 % didapatkan pada kelompok yang menperoleh halotan dan 33,4 % pada kelompok enfluran. Secara statistik halotan secara bermakna menyebabkan hipoagregasi daripada enfluran, p = 0,03 (p < 0,05). Kesimpulan : Halotan secara bermakna menurunkan persen agregasi trombosit dan menyebabkan gambaran hipoagregasi lebih banyak dari pada enfluran.Kata kunci : Enfluran, halotan, ADP, agregasi trombosit

Pengelolaan Trauma Susunan Saraf Pusat

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CNS trauma is a major health problem as the cause of death and disability worldwide. The severity of the injury is crucial primary outcome, whereas secondary injury caused by physiological factors hypotension, hypoxemia, hiperkarbi, hyperglycemia, hypoglycemia, and other develop further will cause further brain damage and aggravate CNS trauma. Appropriate perioperative anesthetic management and began preoperative period, especially when the patient is in the emergency, determine the outcome of the patient.Keywords : -ABSTRAKTrauma SSP merupakan masalah kesehatan yang utama sebagai penyebab kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Tingkat keparahan cedera primer sangat menentukan hasil, sedangkan cedera sekunder yang disebabkan faktor fisiologi hipotensi, hipoksemia, hiperkarbi, hiperglikemi, hipoglikemia, dan lainnya yang berkembang selanjutnya akan menyebabkan kerusakan otak lanjutan dan memperburuk trauma SSP. Manajemen anestesi perioperatif yang tepat dan dimulai sejak periode preoperatif, terutama saat pasien berada di Unit Gawat Darurat, sangat menentukan keluaran dari pasien.Kata kunci : -

Penentuan Dosis Efektif Bupivacaine Hiperbarik 0,5% Berdasarkan Tinggi Badan Untuk Bedah Sesar Dengan Blok Subarakhnoid

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Spinal anesthesia for cesarean section is preferred because of rapid onset, the technique is simple, relatively easy to perform, perfect muscle relaxation compared with epidural anesthesia, and greater maternal safety profile compared with general anesthesia. However, at high doses, it can cause high sensory and motor block and hypotension. The frequency and degree of hypotension is affected by subarachnoid dose of local anesthetic.Objectives: Assess the effectiveness of hyperbaric bupivacaine 0.5% dose based on body height for subarachnoid block at cesarean section.Methods: 40 pregnant women who met the inclusion criteria were randomly divided into two groups, 20 persons in group I received 0.5% hyperbaric bupivacaine 0,06 mg / cm body height, and 20 in group II received 0.5% hyperbaric bupivacaine 12.5 mg. Several variables, ie vital signs, incidence of hypotension, ephedrine given, time blocks sensory and motor block are recorded from before to 45 minutes after spinal anesthesia action against.Results: In group I, the onset of sensory block at the T10 dermatome was achieved in 1.61 - 0.617 min after injection of the drug, did not differ significantly when compared to Group II is 1.47 - 0.655 min (P> 0.05). All sensory block achieved in this study is dematom T4. The onset of sensory block at dermatome T4 reached at 2.55 - 0.56 min post-injection of drugs in group I, was not significantly different when compared to group II are 2.45 - 0.594 min (P> 0.05). Mean difference in systolic pressure, diastolic pressure, mean arterial pressure, heart rate and the amount of ephedrine used in both groups showed that the difference was not statistically significant (p> 0.05) and similarly, the incidence of hypotension.Conclusion: 0.5% hyperbaric bupivacaine 0.06 mg/ cm for subarachnoid block at cesarean section has similar efficacy and hemodynamic profile with 0.5% hyperbaric Bupivacaine 12.5 mg.Keywords : bupivacaine, height, effective dose, subarachnoid block, cesarean sectionABSTRAKLatar Belakang: Anestesi spinal lebih disukai untuk bedah sesar dikarenakan onset cepat, teknik sederhana, relatif mudah dilakukan dan menimbulkan relaksasi otot yang sempurna dibandingkan dengan anestesi epidural, dan profil keselamatan ibu lebih besar dibandingkan dengan anestesi umum. Meskipun demikian, anestesi spinal dapat menyebabkan hipotensi, yang memberi dampak morbiditas pada ibu dan janin. Frekuensi dan derajat hipotensi dipengaruhi oleh dosis subarakhnoid anestesi lokal, sehingga diperlukan penentuan dosis minimal yang efektif untuk anestesi spinal.Tujuan: Mengetahui efektivitas dan profil hemodinamik dosis bupivakain hiperbarik 0,5% 0,06 mg/cm untuk blok subarakhnoid pada bedah sesar.Metode: Sebanyak 40 orang ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dibagi secara acak menjadi dua kelompok, yaitu 20 orang pada kelompok I mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 0.06 mg/cmTB, dan 20 orang pada kelompok II mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg. Dilakukan pencatatan dari sebelum hingga 45 menit setelah tindakan anestesi spinal terhadap beberapa variabel, yaitu tanda vital, kejadian hipotensi, jumlah efedrin yang diberikan, waktu blok sensorik, dan blok motorik.Hasil: Pada kelompok I, onset blok sensorik pada dermatom T10 tercapai pada 1,61±0,617 menit paska injeksi obat, berbeda tidak bermakna bila dibandingkan kelompok II yaitu 1,47 ± 0,655 menit (p>0.05). Semua blok sensorik pada penelitian ini berhasil mencapai dematom T4. Onset blok sensorik pada dermatom T4 tercapai pada 2,55±0,56 menit paska injeksi obat pada kelompok I, berbeda tidak bermakna bila dibandingkan kelompok II yaitu 2,45±0,594 menit (p>0.05). Perbedaan rerata tekanan sistolik, tekanan diastolik, tekanan arteri rerata, laju jantung dan jumlah efedrin yang digunakan pada kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna secara statistik (p>0,05), demikin pula dengan angka kejadian hipotensi.Simpulan: Bupivakain 0,5% hiperbarik 0,06 mg/cm Tinggi Badan untuk blok subarakhnoid pada bedah sesar memiliki efektivitas dan profil hemodinamik serupa dengan Bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg.Kata kunci : bupivakain, tinggi badan, dosis efektif, blok subarachnoid, bedah sesar

HUBUNGAN USIA PENDERITA VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA DENGAN LAMA RAWAT INAP DI ICU RSUP DR. KARIADI SEMARANG

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Ventilator adalah suatu sistem alat bantu hidup yang dirancang untuk menggantikan atau menunjang fungsi pernapasan yang normal. Ventilator dapat juga berfungsi untuk mengembangkan paru dan memberikan oksigen sehingga dapat mempertahankan fungsi paru. Ventilator Associated Pneumonia (VAP) di defenisikan sebagai pneumonia yang terjadi 48 jam atau lebih setelah ventilator mekanik diberikan. Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan bentuk infeksi nosokomial yang paling sering ditemui di Unit Perawatan Intensif (UPI), khususnya pada pasien yang menggunakan ventilator mekanik.Tujuan: Mengetahui hubungan antara usia penderita Ventilator Associated Pneumonia (VAP) dengan lama rawat inap di ICU RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional (belah lintang). Sampel terdiri dari 29 pasien yang memakai ventilator mekanik di ICU Dr. Kariadi Semarang dengan VAP positif. Sampel yang didapat dihitung lama rawat inap dengan usia kemudian diolah dengan uji spearman’s.Hasil: Dari 29 sampel yang diperoleh didapatkan rata-rata umur pasien VAP 49,07 ± 13,496 dan rata-rata lama rawat nya 12,21 ± 9,578. Hasil uji korelasi spearman’s didapatkan p = 0,875 dan r = -0,031.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dan lama rawat inap penderita VAP di ICU RSUP Dr. Kariadi Semarang.