Articles

Found 19 Documents
Search

Peningkatan Nilai Tambah dan Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Salak Manonjaya Hapsari, Hepi; Djuwendah, Endah; Karyani, Tuti
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.282 KB)

Abstract

Pengolahan buah salak Manonjaya dapat meningkatkan nilai jual buah dan pandapatan produsen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) nilai tambah pengolahan salak, 2) faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi usaha pengolahan salak, dan 3) strategi pengembangan pengolahan salak. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif. Responden penelitian adalah para pengrajin dan pedagang produk olahan salak di Tasikmalaya. Data dianalisis dengan  analisis nilai tambah, rasio penerimaan terhadap biaya, dan analisis faktor internal-ektenal. Hasil menelitian menunjukkan bahwa produksi dodol, manisan dan keripik salak menciptakan nilai tambah sebesar masing-masing Rp 6.234,65/kg, Rp 10.443,23/kg dan Rp 2.297,33/kg. Faktor internal kekuatan dan kelemahan usaha pengolahan buah salak, dan juga faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancamannya telah diinventarisasi. Strategi untuk mengembangkan usaha pengolahan buah salak di Manonjaya adalah mempertahankan dan memelihara penetrasi pasar serta diversifikasi  produk olahan.
Pengarahan Pusat Pertumbuhan melalui Analisis Keunggulan Komparatif di Kabupaten Garut Djuwendah, Endah; Hapsari, Hepi; Rachmawati, Erna
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.94 KB)

Abstract

Sektor pertanian berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Garut. Oleh karena itu strategi pengembangan daerah yang sesuai dengan potensi sumberdaya pertanian  mutlak diperlukan di Kabupaten Garut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komoditas pertanian yang menjadi unggulan  untuk dikembangkan dan sistem hierarki pusat-pusat pelayanan dan pertumbuhan  yang mendukung pengembangan wilayah di  Kabupaten Garut. Desain penelitian yang digunakan adalah survey deskriptif dengan unit analisis  berupa 42 kecamatan di Kabupaten Garut. Obyek penelitian adalah  produksi sektor pertanian dan  kondisi sarana prasarana ekonomi dan sosial yang berada di Kabupaten Garut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas  pertanian unggulan untuk dikembangkan  adalah tanaman pangan padi sawah, kacang tanah, kedelai,  jagung dan ubi kayu serta tanaman  hortikultura kentang, cabe besar, wortel, tomat, alpukat, jeruk keprok,  pisang dan pepaya. Komoditas unggulan pertanian tersebut menunjukkan kecenderungan terlokalisasi di beberapa kecamatan. Sebanyak 31 Kecamatan (73,81 %) memiliki kecenderungan spesialisasi  kegiatan pertanian sedangkan 11 kecamatan (26,19 %) lainnya  tidak  mengkhususkan kegiatan pertaniannya pada komoditas tertentu. Kecamatan Garut dan  Karangpawitan merupakan titik pertumbuhan. Terdapat enam Kecamatan sebagai pusat pelayanan utama, 13 kecamatan  sebagai pusat pelayanan lokal dan 23  Kecamatan  menjadi pusat pelayanan terkecil.
Kajian Model Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) Ketahanan Pangan Keluarga Miskin di Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat Hapsari, Hepi; Setiawan, Iwan
Padjadjaran Journal of Population Studies Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Padjadjaran Journal of Population Studies

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.098 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengetahuan dan sikap keluarga miskin terhadap program-program ketahanan pangan; mengidentifikasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) untuk program ketahanan pangan; merumuskan rekomendasi model KIE ketahanan pangan keluarga miskin. Metode penelitian adalah survey deskriptif dengan eksplorasi data secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap keluarga miskin terhadap program ketahanan pangan masih relatif rendah. Model KIE yang direkomendasikan adalah pendekatan kelompok dan massa dengan menggunakan berbagai media dan narasumber yang dipercaya oleh masyarakat.Kata Kunci :      Komunikasi, Informasi, Edukasi, ketahanan pangan, keluarga miskin
STRATEGI PENGEMBANGAN DAERAH TERTINGGAL DI KABUPATEN GARUT Djuwendah, Endah; Hapsari, Hepi; Renaldy, Eddy; Saidah, Zumi
Sosiohumaniora Vol 15, No 2 (2013): SOSIOHUMANIORA, JULI 2013
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.95 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekonomi yang dapat dikembangkandi wilayah Kabupaten Garut bagian selatan dan strategi dalam pembangunan daerah tertinggal di GarutSelatan.Metode yang digunakan adalah survey deskriptif dengan menggunakan data primer dan dataskunder dengan unit analisisnya 16 kecamatan. Teknis analisis menggunakan indek produktivitasrelatif (IPR)dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Garut bagian selatanmemiliki sumberdaya alam yang berciri sektor pertanian,perikanan, peternakan pertambangan dan energiserta pariwisata. Terdapat lima strategi utama untuk pengembangan daerah tertinggal di wilayah GarutSelatan yaitu dengan cara memadukan pembangunan sektoral dan kewilayahan yang berbasis potensisumberdaya lokal melalui : (a) Peningkatan akses kerjasama berbagai sektor pemerintah, swasta danperguruan tinggi untuk mengatasi keterbatasan dana pembangunan berkelanjutan (b) pengembanganekonomi berbasis potensi lokal dengan cara pengembangan komoditas unggulan spesifik lokasi danproduk olahan melalui teknologi tepat guna dan perluasan pemasaran, (c) optimalisasi peran pusatpelayanan dengan cara melengkapi ketersediaan sarana dan prasarana serta keterkaitan sosial ekonomidengan daerah pelayanannya, (d) peningkatan kualitas SDM dan pemberdayaan masyarakat melaluipendidikan/pelatihan dan pembinaan kelembagaan berbasis pedesaan, (e) optimalisasi peran kabupatengarut sebagai daerah penyangga Jawa barat melalui efektifitas penggelolaan tata ruang kawasan lindungdan budidaya dengan mempertimbangkan kawasan rawan bencana alam. 
PERILAKU KOMUNIKASI “SADAR PANGAN DAN GIZI” PADA AKSEPTOR KB LESTARI (Kasus di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang) Hapsari, Hepi
Sosiohumaniora Vol 9, No 1 (2007): SOSIOHUMANIORA, MARET 2007
Publisher : Sosiohumaniora

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.038 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku komunikasi “Sadar Pangan dan Gizi” akseptor KB Lestari. Perilaku komunikasi meliputi perilaku mencari dan menyampaikan informasi dilihat dari aspek kuantitas (frekeuensi) dan kualitas (level komunikasi), terpaan media massa dan kontak dengan nara sumber informasi. Metode penelitian survey deskriptif dengan pengambilan contoh acak sederhana. Analisis data dengan deskriptif kualitatif berdasarkan tabulasi frekuensi. Informasi Pangan dan Gizi yang diminati dan banyak dikomunikasikan responden meliputi makanan yang beragam dan bergizi untuk keluarga sehat, ibu hamil, BBBLC, produktivitas ASI, pertumbuhan bayi dan balita, serta kecerdasan anak-anak. Informasi Pangan dan Gizi yang kurang diminati dan kurang dikomunikasikan responden meliputi makanan yang beragam dan bergizi untuk produktivitas kerja, kebugaran jasmani, umur panjang, dan ketahanan tubuh. Level komunikasi berada dalam rentang : hanya sekedar bicara ringan (level 1) sampai mampu berempati dengan lawan bicara (level 3). Responden mendapatkan informasi Pangan dan Gizi dari PLKB, PPL, petugas Puskesmas, kader PKK-Posyandu, bidan desa, aparat desa, dokter/bidan swasta. Media massa cetak maupun elektronik tidak digunakan sebagai sumber informasi Pangan dan Gizi, namun lebih berfungsi sebagai media hiburan. Kata kunci : Perilaku Komunikasi, Pangan-Gizi, Keluarga Berencana
PENGEMBANGAN BENIH CABE MERAH (Capsicum annuum L) BERBASIS PARTISIPASI Sukayat, Yayat; Hapsari, Hepi; Rostini, Neni
JURNAL AGRIBISNIS TERPADU Vol 9, No 2 (2016): Jurnal Agribisnis Terpadu
Publisher : Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya fluktuasi produksi cabe antar musim, menuntut tersedianya benih cabe yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk merespon kebutuhan benih tersebut, Unpad melakukan terobosan dengan menyediakan 4 varietas benih cabe (cabe Unpad) yang diharapkan mampu memenuhi kekurangan benih ditingkat petani. Menyadari benih yang dihasilkan terkait dengan keragamannya, seringkali tidak adaptif dengan lingkungannya dan kebutuhan para pengguna, maka informasi tentang karakteristik benih yang sesuai dengan kebutuhan mulai tingkat petani sampai dengan konsumen ahir perlu dilakukan penelusuran. Model pendekatan sosial yang mulai dilirik dalam pemuliaan tanaman yaitu participatory plant breeding (PPB). Dalam pendekatan ini partisipasi petani pengguna, ketua kelompok, pedagang pengumpul, dan penyuluh merupakan suatu keharusan, terkait dengan informasi guna rekayasa benih yang adaptif sesuai pasar dan kondisi lingkungan. Melalui penelitian kaji tindak (action research) Peneliti atau pemulia, mempromosikan dan memberdayakan petani dan atau masyarakat pedesaan untuk mencoba dan menilai kekurangan kelebihan benih tersebut. Hasil penelitian dijadikan rekomendasi rekayasa genetika benih cabe yang sesuai kebutuhan
KAJIAN PEMBERDAYAAN BERBASISKAN KEWIRAUSAHAAN DALAM MENDUKUNG PROSES SUKSESI PADA AGRIBISNIS HORTIKULTURA CHARINA, ANNE; HAPSARI, HEPI; MUKTI, GEMA WIBAWA; ANDRIANI, RANI
Jurnal Social Economic of Agriculture Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Social Economic of Agriculture
Publisher : Agribusiness Department, Agriculture Faculty, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.87 KB)

Abstract

Indonesias agricultural sector is still faced with a variety of problems, especially with regard to the low interest of youth to work in the agricultural sector. Total population aged 15 years and over who worked in the field of business in agriculture, plantation, forestry, and hunting in February 2013 amounted to 3,642,008 people, or 19.61% of the entire working population. This value certainly is not comparable if we see that our country is an agricultural country where agriculture is a major sector in Indonesia. In fact, to achieve better agricultural conditions required the participation of the younger generation as the successor to the farmer. The process of succession in agribusiness is very important to note.The purpose of this study to analyze the process of succession in agribusiness chili in Taraju, see the changes that occurred after reviewing succession and empowerment-based entrepreneurship which is believed to support the success of the process of succession in the agri-horticulture. This study will be conducted in the District. Taraju, Kab.Tasikmalaya using qualitative design and engineering case studies. Soft Systems Approach Methodhology (SSM) will be used to design an appropriate model. The results showed that the succession managed to farmers with large-scale enterprises because generally they have planned succession process, but on a small scale farmers they do not prepare the succession process. Agribusiness chili after a succession of changes to the packaging and marketing. Empowerment needs to be given to the first generation to be able to design a succession process as early as possible, while at empowering the next generation should be given to improving the business life, as well as generate interest in youth to businesses in the agricultural sector.
PEMANFAATAN PELAYANAN INFORMASI PASAR OLEH PETANI DAN PEDAGANG KUBIS BUNGA : Kasus di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Hapsari, Hepi; Natawidjaja, Ronnie S.; Astuti, Yuni
Sosiohumaniora Vol 1, No 2 (1999): SOSIOHUMANIORA, FEBRUARI 1999
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.414 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik informasi yang dibutuhkan petani dan pedagang kubis bunga. Penelitian menggunakan metode survei dengan analisis data secara deskriptif dan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber, isi, media dan frekuensi penyampaian informasi PIP sesuai dengan keinginan petani dan pedagang. Namun informasi harga yang disajikan PIP tidak dimanfaatkan oleh petani dan pedagang. Petani menggunakan informasi harga dari pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul memperoleh informasi dari pedagang besar. Pedagang besar memperoleh informasi dari loper (pengecer). Informasi harga PIP cenderung lebih tinggi dari harga faktual yang terjadi di pasar. Faktor-faktor yang mempengaruhi petani dan pedagang tidak menggunakan informasi harga PIP karena (1) kesenjangan harga PIP dengan harga pasar faktual, (2) publikasi melalui papan harga dan surat kabar sudah tidak ada lagi, (3) kurangnya pengetahuan petani dan pedagang tentang PIP. Kata kunci: sistem informasi pasar, kubis bunga
OPTIMALISASI MANAJEMEN USAHA LEBAH MADU UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN KELUARGA Hapsari, Hepi
Dharmakarya Vol 7, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1432.713 KB)

Abstract

Kelompok Tani lebah madu Sunda Mukti di Manglayang Bandung baru dibentuk tahun 2014. Kelompok ini belum terampil dalam budidaya lebah madu, terkendala mahalnya biaya pelatihan, harga kotak lebah (stup) dan harga bibit (koloni lebah), serta peralatan yan terbatas. Kelompok ini juga belum tahu cara mengelola usahatani yang baik. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan budidaya lebah dan manajemen usaha.  Metode yang digunakan adalah pemberdayaan secara partisipatif, yang meliputi pelatihan, pendampingan, monitoring evaluasi, bantuan bahan dan alat.  Pelatihan meliputi :  (1) analisis ketersediaan pakan, (2) teknik budidaya lebah madu, (3) workshop pembuatan kotak lebah (stup), (4) manajemen koloni lebah, (5) pencatatan usaha dan dinamika kelompok. Bantuan bahan untuk membuat kotak lebah, bibit (koloni) lebah, pakan lebah, dan peralatan budidaya. Evaluasi dilakukan setelah pelatihan, selama pendampingan dan menjelang kegiatan pengabdian berakhir. Aspek yang dievaluasi meliputi : partisipasi, pengetahuan, keterampilan, dan pelaksanaan kegiatan.  Hasil kegiatan : (1) partisipasi petani 100 %, (2) pengetahuan dan keterampilan meningkat, (3) pelaksanaan kegiatan sesuai dengan perencanaan. Pendapatan petani terkendala musim kering panjang (6 bulan) menyebabkan pakan lebah di alam berkurang dan produksi madu rendah. Petani mengganti dengan memberi pakan gula pasir hanya untuk mempertahankan koloni lebah, Pakan alami menurun menyebabkan hasil madu sedikit sehingga belum ada yang dapat dipasarkan. 
Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Kemandirian Petani Mangga Gedong Gincu Dwirayani, Dina; Hapsari, Hepi; P.Sendjaja, Tuhpawana
AGRIVET JOURNAL Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : FAPERTA UNMA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeliharaan pohon mangga oleh petani mangga di Kabupaten Majalengka belum intensif sehingga jumlah dan mutunya tidak stabil salah satunya adalah rendahnya tingkat adopsi teknologi. Proses pemberdayaan terhadap petani menjadi penting dilakukan sehingga menjadikan petani berdaya dan memiliki kemandirian menjadi faktor penting untuk dikaji dan ditindak lanjuti.                Lokasi penelitian yaitu Desa Pasirmuncang dan Desa Cijurey, Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan jumlah sampel 60 dengan cara stratified random sampling serta dianalis dengan analisis jalur.                Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemandirian petani mangga gedong gincu di Majalengka berada pada kategori rendah. Faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemandirian ini adalah faktor keberdayaan dan kepemimpinan lokal. Faktor keberdayaan menjadi faktor yang paling berpengaruh.Kata Kunci : kepemimpinan lokal, keberdayaan, kemandirian