Rizki Hanriko
Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, jalan Soemantri Brojonegoro 1 Bandar Lampung

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

Khasiat Proteksi Madu terhadap Kerusakan Hepar Tikus yang Diinduksi Etano Muhartono, -; D, Larasati N.; Hanriko, Rizki; Sutyarso, Sutyarso
Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madu merupakan salah satu produk lebah madu yang sering digunakan sebagai obat sejak zaman dahulu. Madu memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, namun penelitian untuk mengetahui efek protektifnya terhadap kerusakan hepar akibat etanol belum dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek protektif madu terhadap kerusakan hepar tikus yang diinduksi etanol. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2011 di laboratorium Farmakologi dan Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian eksperimental laboratorik ini menggunakan rancangan acak lengkap terhadap 25 ekor tikus yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 1: kontrol; kelompok 2: etanol; kelompok 3, 4, dan 5: madu + etanol. Etanol 0,01 mL/ gBB diberikan per oral kepada kelompok 2, 3, 4, dan 5 selama 14 hari. Kelompok madu + etanol diberi madu per oral dosis 0,0018 mL/gBB, 0,0054 mL/gBB, dan 0,016 mL/gBB 1,5 jam sebelum pemberian etanol. Sampel hepar diambil untuk pemeriksaan histopatologi. Parameter kerusakan hepar berupa degenerasi lemak. Hasilnya menunjukkan etanol menyebabkan degenerasi lemak dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelompok 3, 4, dan 5 menunjukkan penurunan degenerasi lemak secara bermakna (p<0,050; p<0,001; p<0,001). Perbaikan terlihat jelas pada kelompok 5. Simpulan, madu berefek protektif terhadap kerusakan hepar tikus. [MKB. 2013;45(1):16–22]The Protective Effect of Honey on Ethanol-Induced Liver Injury in RatsHoney is one of the honeybee’s’ products which are often used as medicine since a long time ago. Honey has a high antioxidant activity, but studies to investigate its protective effect on ethanol-induced liver injury have not been carried out in Indonesia. The aim of this study was to investigate the protective effect of honey on ethanol-induced rat liver injury. This study done conducted in the Pharmacology and Pathology laboratory in November 2011. This experimental laboratory study used randomized complete design on 25 rats divided into five groups. Group 1: control; group 2: ethanol; group 3, 4 and 5: honey + ethanol. Ethanol 0.01 mL/g body weight was given orally to group 2, 3, 4 and 5 for 14 days. Honey + ethanol groups were given honey at a dose of 0.0018 mL/g body weight, 0.0054 mL/g body weight, and 0.016 mL/g body weight orally at 1.5 hours prior to ethanol administration. Liver samples were taken for histopathological examination. The parameter of liver injury was fatty degeneration. The results showed that ethanol induced fatty degeneration compared to control group. Group 3, 4 and 5 showed significantly decreased fatty degeneration (p<0.050, p <0.001, p <0.001). The improvement was prominent in group 5. In conclusion, honey has a protective effect on rat liver injury. [MKB. 2013;45(1):16–22] DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n1.94
Efek Protektif Madu Terhadap Ginjal Tikus Putih Yang Diinduksi Etanol Muhartono, -; Hanriko, Rizki; Dwita, Haryani
Juke Unila Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Juke Unila

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Honey  already used as natural food sources since long time ago.  Honey has been shown contained active chemical compounds that are antioxidants, yet there is still only a few experimental studies about the protective effect of honey against ethanol-induced renal damage. This study aims to prove the protective effect of honey against renal damage and determine the relationship of increasing doses of honey against renal damage in male rat (Rattus norvegicus). Research subjects were used 25 Sprageu dawley strain male rat.  Rat weredivided into 5 groups that was negative control were given only distilled, positif control (only given ethanol 0,01 ml/gBW/day), treatment group I (given honey 0,0018 ml/gBW/day dan ethanol 0,01 ml/gBW/day), treatment group II (given honey 0,0054 ml/gBW/day dan ethanol 0,01 ml/gBW/day), treatment group III (given honey 0,0162 ml/gBW/day dan ethanol 0,01 ml/gBW/day) for 14 days. Based on result of the Kruskal wallis test performed on this data p<0,05, which mean there were protective effect of giving the honey treatment to renal damage male rat.  Mann whitney test result p <0,05, which  means that there were significant differences proximal tubulus on rat almost found between each groups except positif control group with treatment group I and treatment group II with treatment group III. Honey shown to have protective effects against ethanol-induced renal damage of Sprageu dawley strain male rat. Increasing doses of honey can increase the protective effects against the renal damage of Sprageu dawley strain male rat at certain dose, on dose 0,0018 ml/gBW/day and 0,0054 ml/gBW/day
Korelasi antara Imunoekspresi p53 dan Respons Kemoterapi Neoadjuvan Regimen Fluororasil, Adriamisin, dan Siklofosfamid pada Karsinoma Duktus Payudara Invasif Muhartono, -; Hanriko, Rizki
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma duktus payudara invasif (KDPI) stadium IIIB perlu penanganan multimodalitas. Kemoterapi neoadjuvan (KN) diberikan untuk menurunkan ukuran dan stadium tumor agar dapat dilakukan operasi. Regimen KN yang biasanya digunakan yaitu fluororasil, adriamisin, dan siklofosfamid (FAS). Kemoterapi FAS bekerja dengan cara merusak deoxyribonucleic acid dan menginduksi apoptosis sel kanker. Terjadinya kelainan protein atau gen yang berhubungan dengan apoptosis (p53) diduga mempengaruhi respons kemoterapi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi imunoekspresi p53 dengan respons kemoterapi neoadjuvan FAS. Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang terhadap 40 kasus KDPI yang diberikan KN FAS di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Maret 2008–Februari 2009. Respons KN FAS dinilai berdasarkan ukuran massa tumor setelah pemberian FAS. Blok parafin penderita dibuat pulasan hematoksilin-eosin dan imunohistokimia dengan menggunakan mouse monoclonal antibody p53 protein (Novocastra), kemudian ditentukan tingkat imunoekspresi p53. Uji statistik dengan Somers’d dan Gamma untuk menguji korelasi antar variabel. Nilai p<0,05 secara statistik dianggap bermakna. Pada 40 kasus KDPI, 20 berespons dan 20 kasus tidak berespons terhadap KN FAS; 13 kasus terekspresi p53>75%, 14 kasus p53=10–75%, 7 kasus p53<10%, dan 6 kasus tidak terekspresi p53. Terdapat korelasi bermakna antara imunoekspresi p53 dan respons kemoterapi FAS (p=0,000). Simpulan, semakin tinggi ekspresi p53, semakin tidak berespons terhadap KN FAS. Imunoekspresi p53 dapat memprediksi respons KN FAS pada KDPI stadium IIIB. [MKB. 2012;44(1):13–8].Kata kunci: Karsinoma duktus payudara invasif, imunoekspresi, p53 Correlation between p53 Immunoexpression and Fluorouracyl, Adriamycin and Cyclophosphamide Regimen Neoadjuvant Chemotherapy Responses in Invasive Ductal Breast CarcinomaInvasive ductal breast carcinoma (IDBC) stage IIIB need multimodality treatment. Neoadjuvant chemotherapy (NC) is given to reduce the size and stage of tumor so that surgery can be performed. Neoadjuvant chemotherapy regimens generally used was fluorouracil, adriamycin and cyclophosphamide (FAC). FAC chemotherapy works by damaging deoxyribonucleic acid and induce apoptosis of cancer cells. Abnormalities of proteins or genes associated with apoptosis (p53) is believed to affect the chemotherapy response. This study was purpose to determine correlation between immunoexpression of p53 and response of neoadjuvant FAC chemotherapy in invasive ductal breast carcinoma. The study was a cross sectional analytic study of 40 IDBC cases given FAC NC at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung between March 2008–February 2009. Response of FAC NC judged on the size of tumor mass following administration of FAC. Haematoxylin-eosin and immunohistochemistry stain using a mouse monoclonal antibody to p53 protein (Novocastra) was made from paraffin blocks of patients, then determined the immunoexpression levels of p53. Somers’d and Gamma statistical were used to test the correlation between variables. The p-value <0.05 was considered statistically significant. In 40 IDCB cases, 20 cases were responded and 20 cases did not respond to FAC NC; 13 cases expressed p53>75%, 14 cases p53 10–75%, 7 cases p53<10%, and 6 cases were not expresed p53; There was a significant correlation between immunoexpression of p53 and the response of FAC chemotherapy (p=0.000). In conclusions, the higher expression of p53, the lower response to NC FAC. Immunoexpression of p53 can predict the response of FAC NC on IDBC stage IIIB. [MKB.2012;44(1):13–8].Key words: Immunoexpression, invasive ductal breast carcinoma, p53 DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.209
Terapi Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System pada Penyakit Ginekologis Erin, Dwi; Hanriko, Rizki; Techa, Eliza
Jurnal Medula Vol 7, No 4 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System (LNG-IUS) merupakan alat kontrasepsi berbentuk seperti huruf T yang melepaskan 20 µg LNG ke dalam uterus per hari selama 5 tahun. Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System (LNG-IUS) dapat menyebabkan kadar serum level LNG yang rendah, namun secara lokal memiliki kadar yang tinggi di endometrium dan menyebabkan endometrium inaktif. Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System (LNG-IUS) yang awalnya didesain sebagai alat kontrasepsi telah banyak digunakan untuk berbagai penyakit ginekologis , seperti perdarahan haid banyak,endometriosis, leiomioma, adenomiosis, hiperplasia endometrium, dan karcinoma endometrium stadium awal. Kata kunci: Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System, adenomiosis, kanker endometrium, hiperplasia endometrium,endometriosis, leiomioma
Seorang Wanita 33 Tahun dengan Myeloradikulopati Thorakal V-VI dengan Gambaran MRI Schwannoma, namun Hasil Histopatologi adalah Spondilitis TB Wicaksono, Andrian Prasetya; Fitriyani, Fitriyani; Hanriko, Rizki
Jurnal Medula Vol 7, No 2 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spondilitis tuberkulosa (TB) adalah peradangan granulomatosa pada vertebrae yang bersifat kronis destruktif oleh Mycobacterium tuberculosis. Manifestasi klinis yang ditimbulkan cenderung lambat dan biasanya didahului gejala prodromal seperti demam, keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan, dan defisit neurologis terjadi pada tahapklinis selanjutnya. Seorang wanita 33 tahun dengan keluhan utama kelemahan pada kedua tungkai sejak +1 minggu yang lalu. Awalnya os mengalami keluhan nyeri pinggang kiri sekitar +7 bulan SMRS. Keluhan nyeri yang dirasakan seperti terbakar dan menghilang sementara jika diberikan obat pereda nyeri. Kemudian +2 bulan SMRS os mulai merasakan kelemahan pada bagian kaki kiri dan juga terasa kebas. Sekitar +1 minggu SMRS keluhan yang sama mulai terjadi pada kakikanan sehingga os menjadi tidak dapat berjalan. Keluhan yang paling dirasakan saat ini adalah kelemahan pada kedua tungkai, namun nyeri sudah berkurang. Pada pemeriksaan neurologis, sensibilitas didapatkan adanya penurunan sensasi raba, nyeri, dan suhu dimulai dari sejajar proccessus xiphoideus ke arah bawah sampai ujung kaki pada sisi kiri dan kanan. Pada pemeriksaan motorik didapatkan kelemahan kedua tungkai dengan nilai 2/2, pemeriksaan refleks fisiologis ditemukan hiperefleks kedua tungkai (patella dan achilles), refleks patologis (babinsky, chaddock, dan schaefer) positif, dan klonus kedua tungkai positif. Berdasarkan pemeriksaan fisik ditemukan bahwa sensibilitas menurun mulai dari setinggi dermatomal torakal V. Pasien awalnya didiagnosistumor medulla spinalis vertebra torakalis V-VI dan mendapatkan terapiberupa non-farmakologis, farmakologis. Namun setelah dilakukan tindakan operatif berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi pasien di diagnosa dengan Spondilitis TB vertebrae torakalis V-VI.Kata kunci: Mycobacterium tuberculosis, Spondilitis Tuberkulosa
Hernia Nukleus Pulposus Servikalis Maksum, Maradewi; Fitriyani, Fitriyani; Hanriko, Rizki; Marudut, Edi
Jurnal Medula Vol 6, No 1 (2016): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Myelopati cervical adalah suatu kondisi yang disebabkan karena penyempitan pada canalis spinalis yang dapat menyebabkan disfungsi medulla spinalis, sementara radikulopati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan struktur radiks akibat proses patologis yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf dengan pola gangguan yang bersifat dermatomal. Baik myelopati dan radikulopati bisa disebabkan karena hernia nukleus pulposus. Dilaporkan pasien laki-laki, usia 34 tahun datang Rumah Sakit Provinsi dr. H. Abdul Moeloek dengan keluhanlemah pada kedua lengan dan tungkai yang diperberat apabila pasien batuk atau mengejan, pasien tidak bisa berjalan dan selalu terjatuh apabila mencoba berjalan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran composmentis dan tampak sakit sedang, didapatkan hyphesthesia setinggi servikal 4. Pasien diberikan terapi konservatif dan Nonsteroidal Ant- Inflammatory Drug (NSAID) dengan Natrium diclofenac dengandosis 100 mg per hari.Kata kunci: hernia nukleus pulposus, mielopati, radikulopati, servikal
Efektivitas Activated Charcoal Cigarette Filter Dalam Menurunkan Risiko Kejadian Kanker Paru Sara, Grace; Hanriko, Rizki
Jurnal Medula Vol 7, No 5 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker paru merupakan salah satu kanker yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia. Perilaku merokok merupakan salah satu penyebab utama kanker paru. Angka konsumsi rokok penduduk Indonesia sekitar 12,3 batang per hari. Rokok adalah kertas berbentuk silinder berisi tembakau kering, yang bila dibakar menghasilkan emisi berupa asap utama dan samping. Dalam asap utama terdapat zat karsinogenik seperti karbonil yaitu formaldehid, akrolein, krotonaldehid, 1,3-butadin, benzene, dan partikulat total yaitu tar, nikotin dan karbon monoksida yang berkontribusi menyebabkan penyakit terkait rokok. Kanker paru secara umum terdiri dari 2 jenis yaitu small cell lung cancer (SCLC) dan non-small cell lung cancer (NSCLC). Zat karsinogenik pada rokok menimbulkan perubahan pada epitel paru melalui sitokrom 450 dan mengendap di paru sebagai toksik. Terapi efektif untuk mengeliminasi kanker paru adalah pneumonektomi, meskipun morbiditas dan mortalitas pneumonektomi masih tinggi, sehingga pencegahan tetap lebih disarankan. Pencegahan berupa filter rokok dapat menyaring senyawa kimia berbahaya, terutama dengan penggunaan activated charcoal. Pada penelitian Morabito di US, pemberian filter charcoal yaitu 100mg, 200mg, 300mg, dan 400mg, terdapat penurunan kadar senyawa karbonil yang signifikan. Meskipun pada kadar tar, nikotin dan karbon monoksida (TNCO) hanya sebesar ≤20%. Pada penelitian di Jepang, pada sampel yang selalu menggunakan rokok dengan filter charcoal dibanding sampel yang menggunakan kedua jenis rokok yaitu filter dan non-filter, diidapatkan hasil penurunan kadar zat karsinogenik yang lebih baik. Namun tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan penurunan angka kejadian kanker paru karena banyaknya faktor lain. Dapat disimpulkan penggunaan rokok dengan filter Activated Charcoal belum cukup efektif dalam menurunkan risiko kejadian kanker paru.Kata Kunci: : Arang, filter, kanker paru, rokok
Papilloma dan Karsinoma Sinonasal Hanriko, Rizki; Muhartono, Muhartono
Jurnal Kesehatan Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.312 KB)

Abstract

Sinonasal papilloma is rare, only 0.5-4% of sinonasal tumors with aetiopathogenesis has not known yet. Sinonasal carcinoma is a rare malignancy, and the most common types are squamous cell carcinoma (SCC). Malignant transformation of papilloma is very low, which inverted type were reported about 2-27%, with the development of papilloma into carcinoma was approximately 63 months (6 months-13 years). Prior study showed the malignant transformation in 11% of recurrences inverted papilloma, which were 7%syncronous and 3.6% metachronous SCC. The unilateral inverted papilloma with sinonasal squamous cell carcinoma were usually occured in the elderly. Some factors to consider in malignant transformation of papilloma were recurrence, atypical features and HPV. Smoker, large tumor and lesion in the frontal sinus area were had a tendency to recurrence. Malignancy were associated with bone invasion, bilateral inverted papilloma, squamous cell hyperplasia, presence of three types of epithelial cells (squamous metaplasia, squamous mature and cylindrical cell), heavy hyperkeratosis, mitotic index ≥2/HPF, the absence of polyps inflammation, the number of plasma cells, low of eosinophils and neutrophils absent.
Korelasi antara Imunoekspresi p53 dan Respons Kemoterapi Neoadjuvan Regimen Fluororasil, Adriamisin, dan Siklofosfamid pada Karsinoma Duktus Payudara Invasif Muhartono, -; Hanriko, Rizki
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma duktus payudara invasif (KDPI) stadium IIIB perlu penanganan multimodalitas. Kemoterapi neoadjuvan (KN) diberikan untuk menurunkan ukuran dan stadium tumor agar dapat dilakukan operasi. Regimen KN yang biasanya digunakan yaitu fluororasil, adriamisin, dan siklofosfamid (FAS). Kemoterapi FAS bekerja dengan cara merusak deoxyribonucleic acid dan menginduksi apoptosis sel kanker. Terjadinya kelainan protein atau gen yang berhubungan dengan apoptosis (p53) diduga mempengaruhi respons kemoterapi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi imunoekspresi p53 dengan respons kemoterapi neoadjuvan FAS. Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang terhadap 40 kasus KDPI yang diberikan KN FAS di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Maret 2008–Februari 2009. Respons KN FAS dinilai berdasarkan ukuran massa tumor setelah pemberian FAS. Blok parafin penderita dibuat pulasan hematoksilin-eosin dan imunohistokimia dengan menggunakan mouse monoclonal antibody p53 protein (Novocastra), kemudian ditentukan tingkat imunoekspresi p53. Uji statistik dengan Somers’d dan Gamma untuk menguji korelasi antar variabel. Nilai p<0,05 secara statistik dianggap bermakna. Pada 40 kasus KDPI, 20 berespons dan 20 kasus tidak berespons terhadap KN FAS; 13 kasus terekspresi p53>75%, 14 kasus p53=10–75%, 7 kasus p53<10%, dan 6 kasus tidak terekspresi p53. Terdapat korelasi bermakna antara imunoekspresi p53 dan respons kemoterapi FAS (p=0,000). Simpulan, semakin tinggi ekspresi p53, semakin tidak berespons terhadap KN FAS. Imunoekspresi p53 dapat memprediksi respons KN FAS pada KDPI stadium IIIB. [MKB. 2012;44(1):13–8].Kata kunci: Karsinoma duktus payudara invasif, imunoekspresi, p53 Correlation between p53 Immunoexpression and Fluorouracyl, Adriamycin and Cyclophosphamide Regimen Neoadjuvant Chemotherapy Responses in Invasive Ductal Breast CarcinomaInvasive ductal breast carcinoma (IDBC) stage IIIB need multimodality treatment. Neoadjuvant chemotherapy (NC) is given to reduce the size and stage of tumor so that surgery can be performed. Neoadjuvant chemotherapy regimens generally used was fluorouracil, adriamycin and cyclophosphamide (FAC). FAC chemotherapy works by damaging deoxyribonucleic acid and induce apoptosis of cancer cells. Abnormalities of proteins or genes associated with apoptosis (p53) is believed to affect the chemotherapy response. This study was purpose to determine correlation between immunoexpression of p53 and response of neoadjuvant FAC chemotherapy in invasive ductal breast carcinoma. The study was a cross sectional analytic study of 40 IDBC cases given FAC NC at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung between March 2008–February 2009. Response of FAC NC judged on the size of tumor mass following administration of FAC. Haematoxylin-eosin and immunohistochemistry stain using a mouse monoclonal antibody to p53 protein (Novocastra) was made from paraffin blocks of patients, then determined the immunoexpression levels of p53. Somers’d and Gamma statistical were used to test the correlation between variables. The p-value <0.05 was considered statistically significant. In 40 IDCB cases, 20 cases were responded and 20 cases did not respond to FAC NC; 13 cases expressed p53>75%, 14 cases p53 10–75%, 7 cases p53<10%, and 6 cases were not expresed p53; There was a significant correlation between immunoexpression of p53 and the response of FAC chemotherapy (p=0.000). In conclusions, the higher expression of p53, the lower response to NC FAC. Immunoexpression of p53 can predict the response of FAC NC on IDBC stage IIIB. [MKB.2012;44(1):13–8].Key words: Immunoexpression, invasive ductal breast carcinoma, p53 DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.209
Khasiat Proteksi Madu terhadap Kerusakan Hepar Tikus yang Diinduksi Etano Muhartono, -; D, Larasati N.; Hanriko, Rizki; Sutyarso, Sutyarso
Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madu merupakan salah satu produk lebah madu yang sering digunakan sebagai obat sejak zaman dahulu. Madu memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, namun penelitian untuk mengetahui efek protektifnya terhadap kerusakan hepar akibat etanol belum dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek protektif madu terhadap kerusakan hepar tikus yang diinduksi etanol. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2011 di laboratorium Farmakologi dan Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian eksperimental laboratorik ini menggunakan rancangan acak lengkap terhadap 25 ekor tikus yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 1: kontrol; kelompok 2: etanol; kelompok 3, 4, dan 5: madu + etanol. Etanol 0,01 mL/ gBB diberikan per oral kepada kelompok 2, 3, 4, dan 5 selama 14 hari. Kelompok madu + etanol diberi madu per oral dosis 0,0018 mL/gBB, 0,0054 mL/gBB, dan 0,016 mL/gBB 1,5 jam sebelum pemberian etanol. Sampel hepar diambil untuk pemeriksaan histopatologi. Parameter kerusakan hepar berupa degenerasi lemak. Hasilnya menunjukkan etanol menyebabkan degenerasi lemak dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelompok 3, 4, dan 5 menunjukkan penurunan degenerasi lemak secara bermakna (p<0,050; p<0,001; p<0,001). Perbaikan terlihat jelas pada kelompok 5. Simpulan, madu berefek protektif terhadap kerusakan hepar tikus. [MKB. 2013;45(1):16–22]The Protective Effect of Honey on Ethanol-Induced Liver Injury in RatsHoney is one of the honeybee’s’ products which are often used as medicine since a long time ago. Honey has a high antioxidant activity, but studies to investigate its protective effect on ethanol-induced liver injury have not been carried out in Indonesia. The aim of this study was to investigate the protective effect of honey on ethanol-induced rat liver injury. This study done conducted in the Pharmacology and Pathology laboratory in November 2011. This experimental laboratory study used randomized complete design on 25 rats divided into five groups. Group 1: control; group 2: ethanol; group 3, 4 and 5: honey + ethanol. Ethanol 0.01 mL/g body weight was given orally to group 2, 3, 4 and 5 for 14 days. Honey + ethanol groups were given honey at a dose of 0.0018 mL/g body weight, 0.0054 mL/g body weight, and 0.016 mL/g body weight orally at 1.5 hours prior to ethanol administration. Liver samples were taken for histopathological examination. The parameter of liver injury was fatty degeneration. The results showed that ethanol induced fatty degeneration compared to control group. Group 3, 4 and 5 showed significantly decreased fatty degeneration (p<0.050, p <0.001, p <0.001). The improvement was prominent in group 5. In conclusion, honey has a protective effect on rat liver injury. [MKB. 2013;45(1):16–22] DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n1.94