Articles

Found 7 Documents
Search

Abusive Supervision Scale Development in Indonesia

Gadjah Mada International Journal of Business Vol 16, No 1 (2014): January-April
Publisher : Master of Management, Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to develop a scale of abusive supervision in Indonesia. The study was conducted with a different context and scale development method from Tepper’s (2000) abusive supervision scale. The abusive supervision scale from Tepper (2000) was developed in the U.S., which has a cultural orientation of low power distance. The current study was conducted in Indonesia, which has a high power distance. This study used interview procedures to obtain information about supervisor’s abusive behavior, and it was also assessed by experts. The results of this study indicated that abusive supervision was a 3-dimensional construct. There were anger-active abuse (6 items), humiliation-active abuse (4 items), and passive abuse (15 items). These scales have internal reliabilities of 0.947, 0.922, and 0.845, in sequence.        

MOTIVATION AND CONSEQUENCE OF INDIVIDUAL’S INVOLVEMENT IN SOCIAL NETWORK SITES: A STUDY OF SOCIAL COMPUTING OF INTER COLLECTIVISTINDIVIDUALIST CULTURAL VALUE

Journal of Indonesian Economy and Business Vol 27, No 2 (2012): May
Publisher : Journal of Indonesian Economy and Business

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to examine the empirical model of social computing. Research model is developed upon the social influence factors, technology acceptance model, psycho-social wellbeing, and culture value. Research design employed online survey questionnaire. Data of 433 samples were analyzed using Partial Least Square (PLS) technique. Results suggest that proposed model has met criteria of goodness-of-fit model and indicated that Identification and Compliant are the motivation factors of desire to involve in social network sites (SNS) and involvement in SNS predicts depression and loneliness. This research also finds that motivation of individual to involve in SNS and its impact are different among collectivist and individualist. Implications for stakeholders and further research are discussed.Keywords: social computing, social influence factors, psychosocial wellbeing, social network sites, individual culture values, and PLS.

Abusive Supervision Scale Development in Indonesia

Gadjah Mada International Journal of Business Vol 16, No 1 (2014): January-April
Publisher : Master in Management, Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to develop a scale of abusive supervision in Indonesia. The study was conducted with a different context and scale development method from Tepper’s (2000) abusive supervision scale. The abusive supervision scale from Tepper (2000) was developed in the U.S., which has a cultural orientation of low power distance. The current study was conducted in Indonesia, which has a high power distance. This study used interview procedures to obtain information about supervisor’s abusive behavior, and it was also assessed by experts. The results of this study indicated that abusive supervision was a 3-dimensional construct. There were anger-active abuse (6 items), humiliation-active abuse (4 items), and passive abuse (15 items). These scales have internal reliabilities of 0.947, 0.922, and 0.845, in sequence.        

ACTUAL PAY, POSITIVE AFFECT (PA), AND PAY SATISFACTION: TEST OF SIGNAL SENSITIVITY PERSPECTIVE

Jurnal Aplikasi Manajemen Vol 16, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the effect of actual pay level, positive affect (PA) and multi-dimensional pay satisfaction. The data is collected from questionnaires distributed to 207 postgraduate students in Jakarta and Yogyakarta. Non-probability sampling with Purposive sampling is taken as a sampling technique. Hierarchical regressions analysis used for hypothesis testing. The finding shows actual pay level has the positive effect with each pay satisfaction dimension. Positive affect has the positive effect with each pay satisfaction dimension. More importantly, data show that positive affect (PA) interact with actual pay level in explaining three pay satisfaction dimensions, they are satisfied with pay level, satisfaction with benefit, and satisfaction with structure/administration. The finding also shows that positive affect (PA) does not moderate the relation of actual pay level and pay satisfaction on satisfaction with pay raise dimension. Discussion, limitations, a practical and theoretical implication for further researches are offered.

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN PEMBERDAYAAN

Journal of Indonesian Economy and Business Vol 11, No 1 (1996): January
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam dekade terakhir, lingkungan bisnis mengalami perubahan yang sangat dramatis. Globalisas, liberalisasi, perdagangan, deregulasi, dan kemajuan teknologi informasi menciptakan realitas baru persaingan yang kian ketat. Tekanan-tekanan persaingan ini telah "memaksa" banyak organisasi untuk melakukan rightsizing, downsizing, delayering dan restructuring. Menghadapi berbagai perubahan tersebut, para pemimnpin perlu memikirkan kembali secara radikal cara mengelola sumber daya manusia dan institusinya (Kuhnert dalam Bass, 1994). Dengan jumlah karyawan lebih sedikit untuk menangani beban kerja yang semakin banyak, para pemimpin harus terus-menerus berupaya mengembangkan kapasitas dan kemampuan sumber daya manusianya, sejalan dengan berbagai perubahan aturan main (rules of the game) dalam industri dan persaingan yang terjadi secara cepat.Implikasinya, muncul kebutuhan konsep kepemimpinan "baru" untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terus berlangsung, dan untuk mengkapitalisasi aset perusahaan paling penting 3/4 sumber daya manusia. Para pemimpin akan semakin dituntut untuk mempunyai kemampuan mengembangkan secara berkesinambungan sumber daya manusia perusahaan sampai mencapai tingkat potensi tertinggi mereka.Sayangnya, studi kepemimpinan selama ini diwarnai dua perangkap. Perangkap pertama menyangkut asumsi dimensionalitas, suatu pandangan sempit yang tidak ealistis dan terlalu menyederhanakan (over-simplified) fenomena kepemimpinan. Banyak penelitian yang terpaku pada pola penggunaan dua dimensi dominan variabel kepemimpinan: dimensi manusia/karya-wan dan. dimensi tugas (Karmel, 1978; Chemers dalam Wren, 1995). Berbagai contoh konsep kepemimpinan yang menerapkan asumsi dimensionalitas adalah teori X dan teori Y dari Douglas McGregor, empat sistem manajemen Rensis Likert yang menggunakan dimensi orientasi pada tugas dan orientasi pada karyawan, kisi-kisi manajerial dari Blake dan Mouton (dimensi perhatian terhadap produksi dan perhatian terhadap karyawan), studi Ohio State University (dimensi konsiderasi dan struktur pemrakarsaan), teori empat faktor Bowers dan Seashore (dimensi fasilitasi pekerjaan dan penekanan pada sasaran, serta dimensi dukungan dan fasilitasi interaksi), path-goal theory (ekspektasi dan valensi), dan model kontingensi Fiedler (orientasi pada tugas dan orientasi pada hubungan/orang). Meskipun berbagai konsep kepemimpinan tersebut cukup bervariasi, pada prinsipnya ada kemiripan dalam hal ketergantungan pada kedua dimensi tersebut, dan mengenyampingkan dimensi-dimensi lainnya, seperti tingkat aktivitas, karakteristik atribusi, dan derajat kepentingan (Karmel, 1978).Sementara itu, perangkap kedua yang tak kalah dominannya adalah isu mengenai gaya kepemimpinan terbaik untuk diterapkan dalam suatu organisasi. Pencarian gaya terbaik untuk segala situasi seringkali menemui jalan buntu. Bahkan gaya manajemen partisipatif atau demokratif pun tidak selalu merupakan solusi terbaik. Gaya seperti ini belum tentu dapat berjalan dengan baik dalam situasi-situasi tertentu. Ini banyak dipengaruhi oleh sifat kepemimpinan itu sendiri yang dua arah, artinya melibatkan dua pihak: pemimpin dan pengikut (yang dipimpin) 3/4 serta faktor-faktor situasional.Dalam lingkungan bisnis yang semakin kom-pleks dan selalu berubah seperti saat ini, studi kepemimpinan tidak bisa lagi sesederhana penggunaan dua dimensi tersebut. Demikian pula upaya pencarian gaya kepemimpinan terbaik yang berlaku sepanjang masa akan sia-sia. Ada kebutuhan untuk menemukan model kepemimpinan yang lebih relevan dengan situasi kompleks seperti sekarang ini. Kepemimpinan transformasional merupakan salah satu konsep "terobosan" yang berhasil menghidupkan kembali gairah studi kepemimpinan yang hampir mati selama dekade terakhir ini. Menurut konsep ini, tugas seorang pemimpin adalah berupaya memotivasi bawahannya agar dapat berprestasi melampaui harapan dan perkiraan sebelumnya. Esensi kepemimpinan adalah memfasilitasi pengembangan individu untuk merealisasi potensi dirinya.Tulisan ini mernbahas kepemimpinan transformasional dan pemberdayaan karyawan. Pembahasan diawali dengan menelusuri secara sekilas berbagai teori kepemimpinan; kemudian, dilanjutkan dengan telaah terhadap mitos gaya kepe mimpinan "terbaik". Selanjutnya ulasan difokuskan pada berbagai karakteristik kepemimpinar transformasional yang merupakan trend kepemimpinan di masa datang. Akhirnya, tulisan ini mengupas pandangan mengenai pentingnya dimensi pemberdayaan (empowerment) dalam kepemimpinan manajerial, terutama untuk menyongsong era transformasi akibat perubaha lingkungan yang terjadi secara dramatik.

DETERMINANTS OF ORGANIZATIONAL STRUCTURE: AN EXAMINATION OF NON-TRADITIONAL PERSPECTIVES

Journal of Indonesian Economy and Business Vol 7, No 1 (1992): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paradigma fungsionalis telah lama mondominasi penelitian dalam bidang struktur organisasi. Jawaban yang diberikan oleh paradigma ini terhadap pertanyaan "apa yang menjadi faktor penentu struktur organisasional" adalah lingkungan. teknologi dan besaran organisasi. Artikel ini mempunyai dua tujuan: (1) untuk mongupas aplikasi empat paradigma yang berbeda dalam penelitian struktur organisasi dan (2) untuk membahas tiga perspektif alternatif (strategic choice, social action theory, dan sociology of organizational structure) terhadap paradigma tradisional. Dengan menerapkan tipologi paradigma Burrell dan Morgan (1979), tinjauan dipusatkan pada identifikasi berbagai faktcr pensntu struktur organisasional alternatif.

MOTIVATION AND CONSEQUENCE OF INDIVIDUAL’S INVOLVEMENT IN SOCIAL NETWORK SITES: A STUDY OF SOCIAL COMPUTING OF INTER COLLECTIVISTINDIVIDUALIST CULTURAL VALUE

Journal of Indonesian Economy and Business Vol 27, No 2 (2012): May
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to examine the empirical model of social computing. Research model is developed upon the social influence factors, technology acceptance model, psycho-social wellbeing, and culture value. Research design employed online survey questionnaire. Data of 433 samples were analyzed using Partial Least Square (PLS) technique. Results suggest that proposed model has met criteria of goodness-of-fit model and indicated that Identification and Compliant are the motivation factors of desire to involve in social network sites (SNS) and involvement in SNS predicts depression and loneliness. This research also finds that motivation of individual to involve in SNS and its impact are different among collectivist and individualist. Implications for stakeholders and further research are discussed.Keywords: social computing, social influence factors, psychosocial wellbeing, social network sites, individual culture values, and PLS.