Articles

Found 9 Documents
Search

Pengaruh Infeksi Toxoplasma gondii Isolat Lokal terhadap Gambaran Darah pada MEncit (Mus musculus)

Jurnal Sain Veteriner Vol 22, No 1 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1694.608 KB)

Abstract

.

KARAKTERISASI AWAL BAKTERIOSIN PRODUKSI BAKTERI ASAM LAKTAT YANG DIISOLASI DART PLIEK U = THE PRELIMINARY CHARACTERIZATION OF BAC 1ERIOCIN PRODUCED BY LACTIC ACID BACTERIA ISOLATED FROM PLIEK U

Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5028.642 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati ciri-ciri senyawa aktif yang terkandung dalam supernatan bakteri asam laktat yang diisolasi dari pliek u akibat penambahan enzim proteolitik dan pemanasan. Pengujian ulang aktivitas hambatan dan uji sensitivitas supernatan isolat PBI (bakteri asam laktat) yang diduga mengandung bakteriosin menggunakan metode pour plate (overlay dan metoda sumur). Media untuk menumbuhkan isolat PBI digunakan MRS broth dimodifikasi dengan penambahan tween 80 dan yeast extract, dan juga menggunakan media agar MRS . Media untuk bakteri indikator (Listeria monocylogenes) menggunakan agar Bill 0.75 %. Pengaruh enzim pepsin dan tripsin kosentrasi 1 mg/ml setelah dicampur dengan supernatan isolat PBI (v/v) diuji terhadap sensitivitas bakteriosin. Uji sensitivitas terhadap pemanasan dilakukan pada suhu 60,80,100 dan 120°C selama 10 dan 12 menit, Data dianalisi secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supernatan isolat BAL PBI diduga mengeluarkan senyawa bioalctif (bakteriosin), karena mampu menghambat L. Monocytogenes dengan aktivitas hambatan sebesar 3 mm, dan juga sensitif terhadap pepsin dan tripsin, serta tidak sensitif pada pemanasan 60,80°C selama 10 dan 15 menit, tetapi sensitif pada pemanasan 100°C dan 120°C.

Study of Tissue Cyst Formation Time of Toxoplasma gondii in Mice

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 2 (2007): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.511 KB)

Abstract

 The purpose of the research was to study a tissue cyst formation time Toxoplasma gondiiexperimentally. A number of 84 mice were divided randomly into four groups. Each group consisted of 21mice. The mice of the group I were infected with 101, II with 102 and III with 10 tachyzoites respectivelyintraperitoneally, whereas the group IV as a control (not infected with tachyzoites). All infected micewere treated with sulfadiazine, 15 mg/mouse per oral diluted in drinking water, for 5 days. On first untiltwenty first day after treatment one mouse of each group was necropsied. Liver, lymph, kidney, lung,heart, brain, or diaphragm muscle were then taken for histological preparations. Data on tissue cystformation time was analysed descriptively. The research revealed that innoculation with tachyzoites 103cyst could be found on day 14th after infection of liver, 102 cyst was found on the 6 day of liver, in day7th in heart and brain on day 10th of after infection, 103 cyst was found on day 4th inheart and brain in day 7thth in liver, day 6 after infection, while in the control dosage there is no formation similar to cyst found.Keywords: cyst, tissue, T. gondii, mice th1

JUMLAH SEL GOBLET PADA USUS HALUS AYAM KAMPUNG (Galludomesticus) YANG TERINFEKSI Ascaridia galli SECARA ALAMI

Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.249 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghitung jumlah sel Goblet pada setiap 1000 sel absortif usus halus ayam kampung yang terinfeksi Ascaridia galli secara alami. Penelitian ini menggunakan 10 usus halus ayam kampung yang didapat dari pasar di Banda Aceh. Usus halus ayam kampung diukur kemudian dibagi menjadi tiga bagian (duodenum, jejunum, dan ileum). Kemudian masing-masing bagian usus dibelah dan dihitung jumlah cacing Ascaridia galli. Masing-masing bagian usus tersebut dipotong sepanjang 2 cm, lalu ditempelkan di kertas karton. Kemudian dibuat preparat histopatologis dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin. Parameter dalam penelitian ini adalah jumlah sel Goblet pada setiap 1000 sel absortif duodenum, jejenum, dan ileum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel Goblet pada setiap 1000 sel absorbtif usus halus yang terinfeksi Ascaridia galli dengan infeksi ringan, sedang, dan berat secara berturut-turut adalah 465, 480, dan 484. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah infeksi Ascaridia galli di duodenum, jejenum, dan ileum maka semakin meningkat proliferasi sel Goblet.

PENGARUH PAPARAN TIMBAL (Pb) TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis nilloticus)

JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat konsentrasi timbal   (Pb)  yang berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan nila (Oreochromis nilloticus). Penelitian ini menggunakan ikan nila sebanyak 40 ekor dengan kriteria: sehat; bobot badan 15 – 18 gram; umur ± 2 bulan; jenis kelamin jantan. Penelitian ini menggunakan 4 kelompok perlakuan, P0 sebagai kontrol ikan hanya diberi pakan pelet, P1 diberikan paparan timbal  6,26 mg/L  dan pakan pelet, P2 diberikan paparan timbal 12,53 mg/L  dan pakan pelet dan P3 diberikan paparan timbal 25,06 mg/L  dan pakan pelet,  masing-masing perlakuan terdiri dari 10 ekor ikan nila. Perlakuan dilakukan selama 30 hari dan Pengukuran pertumbuhan ikan dilakukan setiap 10 hari sekali dengan cara menimbang bobot dan mengukur panjang tubuh setiap individu ikan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata panjang tubuh ikan nila P0 (9,45±1,06), P1 (8,89±0,90), P2 (8,86±0,87), dan P3 (8,66±0,85). Rata-rata berat ikan nila P0 (23,38±4,50), P1 (19,75±2,27), P2 (19,15±2,10), dan P3 (18,65±2,00). Laju pertumbuhan spesifik P0 (38,7%), P1 (8,3%), P2 (4,3%), dan P3 (3,3%). Laju pertumbuhan panjang harian individu ikan P0 (0,46 mm/d), P1 (0,27 mm/d), P2 (0,21 mm/d), dan P3 (0,19 mm/d). Kesimpulan dari penelitian bahwa konsentrasi timbal  dan lamanya paparan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan.  Konsentrasi timbal  yang sangat berpengaruh adalah 25,06 mg/L. ABSTRACTThe aims of this research was to find out to determine the level of Lead (Pb) concentration that affect the rate of growth tilapia (Oreochromis nilloticus). This study used 40 tilapia with criteria: healthy; body weight 15-18 gram; age ± 2 month; male sex. This study used 4 treatment groups, P0 as control, fish fed only pellets, P1 was given lead exposure 6,26 mg/L and pellet, P2 was given lead exposure 12,53 mg/L and pellet and P3 was given lead exposure 25,06 mg/L and pellet. Each treatment consisted of 10 tilapia fish. Treatment carried out for 30 days and measure every 10 days. The results showed the average length of tilapia fish P0 (9,45±1,06b); P1 (8,89±0,90a); P2 (8,86±0,87a) and P3 (8,66±0,85). Average weight of tilapia fish P0 (23,38±4,50); P1 (19,75±2,27); P2 (19,15±2,10) and P3 (18,65±2,00). Spesific growth rate P0 (38,7%); P1 (8,3%); P2 (4,3%) and P3 (3,3%). The rate of long-term growth of individual fish P0 (0,46 mm/d); P1 (0,27 mm/d); P2 (0,21 mm/d) and P3 (0,19 mm/d). In conclusion, it showed that the concentration of lead (Pb) and the duration of exposure has affect the growth rate of fish. The influential concentration of lead is 25,06 mg/L.

Predileksi yang Disukai Oleh Tungau Pada Kambing Kacang Lokal

Jurnal Agripet Vol 2, No 1 (2001): Volume 2, No. 1, April 2001
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.953 KB)

Abstract

ABTSRACT. This rescerch was done in second stage, The first one of study was done in field at Darul Imarah contry Aceh Besar. Examined of ample in Parasitology  Laboratory of Syiah Kuala University. This aimed of the research to know how predilected on infested of mite in the host. This study used 50 goats were the clinically infected the each of sample pick up erupted of skin in the area of face, ear, neck, beck, fore legs and wrist. Paramaeter of the research were species and each area of host. The result showed that location has a significant effect on mites infestation. The largest number of Sarcopies are found on the face area and the smallest number in the hindd legs. On the other hand, the largest number Chorioptes and Psoroptes are found in the hind legs and samallest in the face and ear area.Key Word : Sarcoptes; Chorioptes and Psoroptes

POTENSI PEMANFAATAN KITOSAN TERMODIFIKASI ASAP CAIR SEBAGAI BAHAN EDIBLE COATING ANTI MIKROBA UNTUK PENGAWETAN DAGING

Jurnal Teknik Kimia USU Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurnal Teknik Kimia USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is a preliminary study of the utilization of chitosan modified with liquid smoke to produce edible coating material that can be used as a preservative of beef. Chitosan compounds obtained from shrimp shell waste, while liquid smoke produced from pyrolysis of palm shells at a temperature of 340oC. Edible coating solution with various concentrations was made by dissolving chitosan (1-1.5%) into 3% liquid smoke, which was then applied as a meat preservative. Meat samples that have been dipped edible coating for 15 minutes, then stored in the refrigerator and observed decreased endurance every 24 hours for 8 days. Analysis results of Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) showed that liquid smoke contains phenol and acetic acid compounds that have antimocrobial properties. Meat endurance test was done by analyzing the aroma, texture and color of meat. The results showed that the beef that has been coated liquid chitosan solution can last up to 7 days. Chitosan concentration affects the endurance of meat, the greater the chitosan concentration, the better the meat endurance. The optimum concentration was obtained at 1% of chitosan, the meat still has an acceptable aroma, texture and color for up to 6 days. This suggests that chitosan-liquid smoke can be used as an edible coating material.

Pengaruh Infeksi Toxoplasma gondii Isolat Lokal terhadap Gambaran Darah pada MEncit (Mus musculus)

Jurnal Sain Veteriner Vol 22, No 1 (2004): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.

KARAKTERISASI AWAL BAKTERIOSIN PRODUKSI BAKTERI ASAM LAKTAT YANG DIISOLASI DART PLIEK U = THE PRELIMINARY CHARACTERIZATION OF BAC 1ERIOCIN PRODUCED BY LACTIC ACID BACTERIA ISOLATED FROM PLIEK U

Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati ciri-ciri senyawa aktif yang terkandung dalam supernatan bakteri asam laktat yang diisolasi dari pliek u akibat penambahan enzim proteolitik dan pemanasan. Pengujian ulang aktivitas hambatan dan uji sensitivitas supernatan isolat PBI (bakteri asam laktat) yang diduga mengandung bakteriosin menggunakan metode pour plate (overlay dan metoda sumur). Media untuk menumbuhkan isolat PBI digunakan MRS broth dimodifikasi dengan penambahan tween 80 dan yeast extract, dan juga menggunakan media agar MRS . Media untuk bakteri indikator (Listeria monocylogenes) menggunakan agar Bill 0.75 %. Pengaruh enzim pepsin dan tripsin kosentrasi 1 mg/ml setelah dicampur dengan supernatan isolat PBI (v/v) diuji terhadap sensitivitas bakteriosin. Uji sensitivitas terhadap pemanasan dilakukan pada suhu 60,80,100 dan 120°C selama 10 dan 12 menit, Data dianalisi secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supernatan isolat BAL PBI diduga mengeluarkan senyawa bioalctif (bakteriosin), karena mampu menghambat L. Monocytogenes dengan aktivitas hambatan sebesar 3 mm, dan juga sensitif terhadap pepsin dan tripsin, serta tidak sensitif pada pemanasan 60,80°C selama 10 dan 15 menit, tetapi sensitif pada pemanasan 100°C dan 120°C.