Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan

MULTIDIMENSIONAL ANALYSIS OF CAPTURE FISHERIES BUSINESS LICENSING MANAGEMENT : CASE STUDY OF ARAFURA SEA Mulyana, Ridwan; Haluan, John; Baskoro, Mulyono S.; Wisudo, Sugeng Hari
JURNAL TEKNOLOGI PERIKANAN DAN KELAUTAN Vol 2, No 1 (2011): November 2011
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fishing license, as a tool of fisheries management, is one of the popular instrument to control fish resources utilization. The purposes of fishing license for government are : (1) to optimalization of fish resources utilitization; (2) to maintain fish resources sustainability; and (3) to gain the economic benefit as government revenue. As part of fisheries management, fishing license affect to many aspects of fisheries as ecology, economic, technology, social, and ethic. Fishing license for large fisheries scale in Arafura Sea play an important role in Indonesian fisheries as Goverment issued 1072 fishing license or almost 25% of total license issued for all Indonesian waters. Unfortunatelly, Arafura Sea faces many problem and issues like overfishing, IUU fishing, destructive of fish habitat and environment that threaten the sustainability of fisheries. So it’s important to know the sustainability state of Arafura Sea in present to determine the best fishing license policy. The analysis of RAPFISH for sustainability of fisheries (including Leverage and Monte Carlo analysis) by major type of fisheries give some results as : (1) the fisheries of Arafura Sea is sustainable enough with score 53,86; (2) squid jigging, bottom longline, and gillnet fisheries are sustainable enough; but fish net and shrimp net are less sustainable; (3) the ecological dimension is good sustainable with score 72,43; but the ethic dimension is less sustainable with score 37,26. The leverage analysis shows the attributes which give the highest influence to each dimensions as: (1) size of fish on ecology dimension; (2) sector employment on economic dimension; (3) FAD (fish attracting devices) using and gear selectivity on technology dimension; (4) education level on social dimension; and (5) just management on ethic dimension. It’s recommended for Arafura Sea fisheries development to promote the sustainability fishing gears like squid jigging, bottom longline, and gillnet fisheries.
INDIKATOR KINERJA KUNCI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP TUNA TERPADU DI SULAWESI UTARA Kaunang, Rine; Monintja, Daniel R.; Nikijuluw, Victor P.H; Haluan, John
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1, No 1 (2010): MARET 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.1.81-92

Abstract

Indikator Kinerja Kunci (IKK) adalah indikator yang digunakan untuk melaporkan kemajuan yang diidentifikasi sebagai faktor penting untuk keberhasilan suatu organisasi yang di lihat dari tujuan dan sasaran.  IKK juga dapat berfungsi sebagai alat untuk mengubah, memberikan masukan ke dalam proses manajemen yang akan membantu pembangunan yang mengakibatkan peningkatan kinerja dalam sebuah lingkungan progresif.   IKK yang dipilih harus mencerminkan tujuan organisasi, menjadi kunci untuk keberhasilan dan dapat diukur. Indikator kinerja kunci dipakai dalam pertimbangan jangka panjang untuk sebuah organisasi. Secara umum, penelitian ini dilakukan untuk menentukan indikator kinerja kunci dalam mengembangkan penangkapan ikan tuna di Sulawesi Utara dan untuk mendapatkan pengukuran yang jelas serta memberikan informasi bagi pemerintah dalam membuat peraturan. Penelitian ini didasarkan pada Focus Group Discussion (FGD) dengan metode pendekatan kualitatif.  Indikator kinerja kunci (IKK) terdiri dari indikator ekonomi, keuangan sosial, ekologis dan dimensi pemerintah, baik di tingkat nasional atau di sektor perikanan. IKK di tingkat perusahaan terdiri dari masukan, keluaran, dampak dan proses.
INTENSITAS KERJA AKTIVITAS NELAYAN PADA PENGOPERASIAN SOMA PAJEKO (MINI PURSE SEINE) DI BITUNG Handayani, Suci n; Wisudo, Sugeng H; Iskandar, Budhi H; Haluan, John
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2014): MEI 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.5.1-13

Abstract

Faktor-faktor kecelakaan di laut dalam kegiatan penangkapan ikan sebanyak 80% disebabkan oleh kesalahan manusia (FAO 2009). Jumlah kecelakaan kapal penangkap ikan dalam kurun waktu 7 tahun (Januari 2007-November 2013) di PPS Bitung terjadi 40 kali dan cenderung meningkat. Terdapat kecelakaan dari 6 jenis kapal penangkap ikan yang tidak tercatat tahun 2010-2013 di Bitung dengan mayoritas kapal soma pajeko (mini purse seine). Penting untuk mempelajari keselamatan nelayan pada operasi penangkapan ikan soma pajeko, karena jumlah nelayan yang terlibat cukup banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aktivitas dan menentukan intensitas kerja dari aktivitas nelayan dalam operasi soma pajeko yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja di laut. Metode penelitian ini adalah deskriptif numerik. Data dianalisis dengan mengidentifikasi aktivitas dengan Hierarchical Task Analysis (HTA). Hasil penelitian menunjukan bahwa tahapan kegiatan soma pajeko di PPS Bitung diurutkan menjadi 8 (delapan) tahap dengan jumlah 58 aktivitas. Jumlah awak kapal penangkap ikan soma pajeko sebanyak 28 orang dengan porsi tanggung jawab terbesar adalah kapten. Jumlah intensitas kerja untuk melakukan semua kegiatan (awal sampai akhir) pada pengoperasian soma pajeko memerlukan keterlibatan awak kapal dengan Intensitas Kerja Total (IKT) sebesar 563 OA (Orang Aktivitas). Tahap 5 (bauling) memiliki intensitas kerja terbesar yang menunjukkan tingkat aktivitas tertinggi dengan indeks Intensitas Kerja Primer (IKP) sebesar 0.29. Keterlibatan awak saat bauling merupakan intensitas kerja tertinggi (139 OA) sehingga berpotensi menimbulkan peluang resiko kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kesalahan manusia lebih tinggi dibandingkan tahap kegiatan pengoperasian soma pajeko lainnya.
KESELAMATAN KAPAL PENANGKAP IKAN, TINJAUAN DARI ASPEK REGULASI NASIONAL DAN INTERNASIONAL Suwardjo, Djodjo; Haluan, John; Jaya, Indra; Poernomo, Soen'an H.
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1, No 2 (2010): NOVEMBER 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.1.1-13

Abstract

Pekerjaan pada kapal penangkap ikan merupakan pekerjaan yang tergolong membahayakan dibanding pekerjaan lain, maka profesi pelaut kapal penangkap ikan memiliki karakteristik pekerjaan ?3d? yaitu: membahayakan (dangerous), kotor (dirty) dan sulit (difficult) dengan ketiga sifat pekerjaan tersebut ditambah faktor ukuran kapal yang didominasi kapal-kapal berukuran relatif kecil, berlayar pada perairan gelombang tinggi dengan kondisi cuaca tidak menentu sehingga dapat meningkatkan tingkat kecelakaan kapal penangkap ikan. Keselamatan kapal penangkap ikan merupakan interaksi faktor-faktor yang kompleks, yakni human factor (nakhoda dan anak buah kapal), machines (kapal dan peralatan keselamatan) dan enviromental (cuaca dan skim pengelolaan sumberdaya perikanan). Permasalahan keselamatan atau kecelakaan akan timbul apabila salah satu elemen dari human factor, machines atau enviromental factor tersebut tidak berfungsi. Penelitian bertujuan mengidentifikasi peraturan keselamatan kapal penangkap ikan pada tingkat nasional dan internasional serta keterkaitan kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan dan kapal niaga. Penelitian dilaksanakan Mei 2008 ? Maret 2009. Data primer diperoleh dari berbagai sumber, seperti Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegal Sari Kota Tegal, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan, Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap dan Kementerian Perhubungan. Kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan pada dasarnya mencakup kebijakan kelaikan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, dan pencegahan polusi laut dari kegiatan kapal penangkap ikan, baik pada tataran nasional maupun internasional. Pengaturan kelaikan dan dinas jaga kapal/pengawakan kapal penangkap ikan merupakan pengawasan atau kontrol dari pemerintah terhadap pihak yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan untuk meningkatkan keselamatan jiwa, harta benda dan lingkungan laut. Mengingat karakteristik pekerjaan pada kapal penangkap ikan membahayakan awak kapal dan lingkungan sosial lebih kompleks, serta jumlah nelayan yang begitu banyak, maka di Indonesia, pengaturan tentang kelaiklautan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, pendidikan, pelatihan dan sertifikasi awak kapal, kepelautan kapal perikanan dan pelabuhan perikanan sebaiknya diatur tersendiri, sebagaimana pengaturan pada tataran internasional telah diatur terpisah dari pengaturan kapal niaga
FAKTOR PERSEPSI INDIVIDU DALAM PENGEMBANGAN PERIKANAN LINTAS BATAS Far Far, Romelus; Haluan, John; Baskoro, Mulyono S.; Nikijuluw, Victor
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1, No 2 (2010): NOVEMBER 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.1.25-32

Abstract

Mengelola sumber daya perikanan di wilayah perbatasan akan tergantung pada perilaku dan persepsi masyarakat untuk memberi reaksi terhadap masalah mereka. Makalah ini akan menganalisis tentang faktor persepsi individu untuk pengembangan perikanan lintas batas seperti pemasangan sejarah, alat penangkapan ikan, produksi, dan lokasi pemasaran, sumber pengetahuan tentang wilayah pemilik dan model parsial persepsi nelayan di Lirang, Wetar dan Kepulauan Kisar. Model parsial persepsi individu TCIF (Transboundary Commuters for Illegal Fishing) adalah e-1,372 + 0,846 SPKW + 1,029 PAN-TL atau P (TCIF_ individual perception) = f (SPKW, PAN-TL).
ANALISIS MULTIDIMENSIONAL UNTUK PENGELOLAAN PERIZINAN PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN : STUDI KASUS WPP LAUT ARAFURA Mulyana, Ridwan; Haluan, John; Baskoro, Mulyono S.; Wisudo, Sugeng Hari
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 2, No 2 (2011): NOVEMBER 2011
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.2.71-80

Abstract

Perizinan penangkapan, sebagai alat pengelolaan perikanan, merupakan salah satu instrumen yang populer untuk mengendalikan pemanfaatan sumber daya ikan. Tujuan perizinan penangkapan ikan bagi pemerintah adalah: (1) untuk optimalisasi keberlanjutan sumberdaya ikan, (2) untuk mempertahankan keberlanjutan sumber daya ikan, dan (3) untuk mendapatkan manfaat ekonomi sebagai pendapatan pemerintah. Sebagai bagian dari manajemen perikanan, perizinan penangkapan mempengaruhi banyak aspek perikanan sebagai ekologi, teknologi ekonomi, sosial, dan etika. Perizinan penangkapan untuk perikanan skala besar di Laut Arafura memainkan peran penting dalam perikanan Indonesia dimana Pemerintah mengeluarkan 1.072 perizinan penangkapan atau hampir 25% dari total modal ditempatkan perizinan untuk semua perairan Indonesia. Sayangnya, Laut Arafura menghadapi banyak masalah dan isu-isu seperti penangkapan berlebih, perikanan IUU, merusak habitat ikan dan lingkungan yang mengancam keberlanjutan perikanan. Jadi penting untuk mengetahui keadaan keberlanjutan Laut Arafura di masa sekarang untuk menentukan kebijakan perizinan penangkapan terbaik. Analisis RAPFISH untuk keberlanjutan perikanan (termasuk Leverage dan analisis Monte Carlo) menurut jenis utama perikanan memberikan beberapa hasil yaitu: (1) perikanan dari Laut Arafura adalah berkelanjutan cukup dengan skor 53,86, (2) squid jigging, rawai dasar, jaring insang dan perikanan yang berkelanjutan cukup, tetapi jaring ikan dan udang kurang berkelanjutan, (3) dimensi ekologi berkelanjutan baik dengan skor 72,43, tetapi dimensi etika kurang berkelanjutan dengan skor 37,26. Analisis Leverage menunjukkan atribut yang memberikan pengaruh tertinggi untuk masing-masing dimensi sebagai: (1) ukuran ikan pada dimensi ekologi, (2) sektor pekerjaan pada dimensi ekonomi, (3) menggunakan selektivitas FAD (perangkat menarik ikan), (4) tingkat pendidikan pada dimensi sosial, dan (5) manajemen pada dimensi etika. Ini direkomendasikan untuk pengembangan perikanan Arafura Laut untuk mempromosikan alat tangkap rawai keberlanjutan seperti squid jigging, rawai dasar, dan perikanan jaring insang.
KAJIAN TINGKAT KECELAKAAN FATAL, PENCEGAHAN DAN MITIGASI KECELAKAAN KAPAL-KAPAL PENANGKAP IKAN YANG BERBASIS OPERASI DI PPP TEGALSARI, PPN PEKALONGAN DAN PPS CILACAP Suwardjo, Djodjo; Haluan, John; Jaya, Indra; Poernomo, Soen'an H.
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1, No 1 (2010): MARET 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.1.61-72

Abstract

Kinerja keselamatan armada kapal-kapal penangkap ikan ditunjukkan dengan tingkat kecelakaan fatal kapal penangkap ikan dan posisi risiko kecelakaan armada kapal penangkap apakah berada pada posisi yang  unacceptable risk, intermediate risk atau acceptable risk. Tingkat Kecelakaan Fatal armada kapal  di PPP Tegalsari, PPN Pekalongan dan PPS Cilacap  menunjukkan angka 115 orang meninggal per 100.000 awak kapal pertahun dan masih lebih tinggi bila dibanding tingkat kecelakaan fatal kapal penangkap ikan tingkat dunia, yakni 80 orang meninggal/100.000 awak kapal.  Posisi risiko kecelakaan berada pada posisi yang unacceptable risk artinya perlu upaya penurunan risiko kecelakaan dalam kurun waktu satu tahun. Diperlukan upaya pencegahan dan mitigasi untuk menurunkan risiko kecelakaan melalui berbagai hal, yaklni: (1)  pelatihan  kompetensi keselamatan dan pelayaran bagi para nakhoda dan  ABK, (2) peningkatan safety awareness bagi pemilik kapal, Syahbandar pelabuhan perikanan, pengawas kapal perikanan, penyuluh perikanan tangkap, pengajar pada lembaga pendidikan dan pelatihan perikanan, pemuka masyarakat nelayan dan keluarga nelayan, penegakan hukum  atas keselamatan kapal perikanan, (3) asuransi awak kapal, (4)  membangun standar pendidikan dan pelatihan dan sertifikasi pelaut perikanan, standar kapal penangkap ikan, standar pengawakan dan membangun sistem ketenagakerjaan pada kapal penangkap ikan
MODEL KONSEPTUAL PENGEMBANGAN PERIKANAN TONGKOL DAN CAKALANG YANG DIDARATKAN DI KOTA BENGKULU Syukhriani, Silvy; Nurani, Tri Wiji; Haluan, John
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.9.1-11

Abstract

Kota Bengkulu merupakan salah satu kota pantai yang berada di bagian barat pulau Sumatera. Kota ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki potensi perikanan terutama untuk ikan tongkol dan cakalang. Sebanyak 5.818 ton ikan tongkol dan 2.031 ton ikan cakalang telah mendarat setiap tahun di PPP Pulau Baai Kota Bengkulu. Meski memiliki potensi ikan yang melimpah namun nelayan hanya bisa memanfaatkannya sebesar 48%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada perikanan tongkol dan cakalang yang mendarat di Kota Bengkulu dan menciptakan model konseptual untuk memberikan solusi terkait permasalahan pada perikanan tongkol dan cakalang yang mendarat di kota Bengkulu. Analisis tersebut telah dilakukan dengan menggunakan soft system methodologi (SSM). Permasalahan yang ditemukan pada perikanan tongkol dan cakalang adalah fasilitas PPP Pulau Baai yang tidak cukup baik, DKP tidak dapat memberikan bantuan gratis kepada nelayan yang tepat, Syahbandar tidak dapat melakukan memantau dengan baik terhadap nelayan dan tidak ada industri tongkol dan cakalang di kota ini. Solusi dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki fasilitas PPP Pulau Baai, target bantuan DKP yang lebih tepat, untuk mengaktifkan industri pengolahan auxis dan cakalang serta untuk meningkatkan kinerja syahbandar terkait dengan masa aktif izin penangkapan ikan.
Co-Authors . Mustaruddin Abdul Rokhman Ahmad Fauzi Akhmad Fauzi Ali Suman Ari Purbayanto Arif Febrianto Basuki, Riyanto Budhi H Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi Hascaryo Iskandar Budi Wiryawan Budy Wiryawan Danial . Daniel Monintja Daniel R. Monintja Darmawan . Dietriech G. Bengen Djalal, Hasjimdo Domu Simbolon Drajat Martianto Eko Sri Wiyono Endang Sri Heruwati Ernani Lubis Far Far, Romelus Fatchudin Fatchudin Fedi A. Sondita, Fedi A. Fis Purwangka Gigentika, Soraya Gigentika, Soraya Hardjomidjojo, Hatrisari Hartrisari Hardjomidjojo Hasjim Djalal Hendriwan, Hendriwan I Wayan Astika Ihsan Ihsan Ihsan, . Iin Solihin Indra ., Indra Indra Jaya Irham Irham Jatmiko, Y.A. Budhi Joyce Kumaat Julia Eka Astarini Kooswardhono Mudikdjo LINAWATI HARDJITO M. Fedi A. Sondita Malanesia, Meizar Mamuaya, Gybert E. Manaf, Ach. Nafani Manuwoto, Manuwoto Martohandoyo, Harun Al Martohandoyo, Harun Al Rasyid Mennofatria Boer Mita Wahyuni Mohammad Imron Muhammad Fedi Alfiadi Sondita Muhammad Jamal MUHAMMAD RIZAL Mulyono Partosuwirjo Mulyono S Baskoro Mulyono S. Baskoro Mustaruddin . Nikijuluw, Victor Nikijuluw, Victor P.H Nono Sampono Pical, Venda Jolanda Pipih Suptijah Poernomo, Soen'an H. Prabowo Prabowo Purba, Charles Bohlen Purba, Charles Bohlen Purwaka, Tommy H. Renofati, Yunistia Retno Muninggar Ridwan Mulyana Rine Kaunang Ririn Irnawati Roza Yusfiandayani Rudi Febriamansyah, Rudi Sala, Ridwan SANTOSO SANTOSO Saptoriantoro, Pandu Sarana, Harmin Sarwanto, Catur Satria, Fayakun Silvy Syukhriani, Silvy Soeboer, Deni Achmad Soepanto Soemokaryo Soewarno T. Soekarto Sondita, Fedi Alfian Stanford, Richard Stanford, Richard J. Suci n Handayani, Suci n Sudirman Saad Sugeng H Wisudo, Sugeng H Sugeng H. Wisudo Sugeng Hari Wisodo, Sugeng Hari Sugeng Hari Wisudo Supartono Supartono Supriyadi, Rikhie Suwardjo, Djodjo Tri Hariyanto Tri Wiji Nurani Victor P.H. Nikijuluw Wahju, Ronny I. Wibowo, Berbudi WIJAYA, MAGGY T Wudianto, Wudianto Yaser Krisnafi, Yaser Yulian Fakhrurrozi, Yulian