Articles

KEBIJAKAN INTERNASIONALMENGENAI KESELAMATAN NELAYAN (International Safety Policy on Fishermen) Purwangka, Fis; Wisudo, Sugeng Hari; Iskandar, Budhi Hascaryo; Haluan, John
Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.71 KB)

Abstract

Kapal ikan, alat tangkap ikan dan nelayan merupakan tiga faktor yang mendukung keberhasilan suatu operasi penangkapan ikan. Aktivitas menangkap ikan, terutama di laut merupakan kegiatan yang beresiko tinggi. Faktor keselamatan kapal maupun nelayan merupakan hal yang utama untuk menunjang kesuksesan suatu operasi penangkapan. Menurut IMO, 80% dari kecelakaan, disebabkan oleh kesalahan manusia (human error) dan sebagian besar kesalahan ini dapat dihubungkan dengan kekurangan manajemen yang menciptakan pra-kondisi untuk terjadinya kecelakaan. Kebijakan internasional dibuat berdasarkan persetujuan dan kesepakatan bersama negara-negara anggota yang tergabung didalamnya, sehingga menjadi kewajiban untuk setiap negara anggota melaksanakannya. Telaah yang dilakukan pada penelitian ini adalah mengidentifiksi kebijakan internasional yang berhubungan dengan keselamatan nelayan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Data tersebut diperoleh dengan cara studi pustaka, yaitu melakukan pengumpulan data pustaka atau telaah dokumen berupa aturan yang terkait dengan materi penelitian. Dokumen tersebut didapatkan dari lembaga internasional yang terkait, antara lain IMO, ILO dan FAO yang mempunyai kepentingan pada keselamatan nelayan, serta penelusuran melalui situs-situs internet yang terkait. Saat ini, pada tingkat internasional, telah ada lembaga atau organisasi internasional yang mengatur tentang keselamatan pelayaran. Keselamatan pelayaran yang dimaksud oleh lembaga tersebut mencakup keselamatan nelayan dan kapal ikan yang digunakan. Lembaga yang dimaksud adalah IMO, ILO dan FAO.  Setiap lembaga yang terlibat, mempunyai batasan-batasan sesuai dengan cakupan organisasi masing-masing. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, secara jelas telah mengatur tentang keselamatan nelayan dan kapal ikan, sedangkan implementasi yang dilakukan pada negara-negara anggotanya tersebut masih kurang. Kebijakan internasional yang ada belum dapat diimplementasikan sebelum dilakukan kesepakatan pada regional tersebut. Kata kunci: kebijakan keselamatan, keselamatan nelayan
Potential Commodity Based Fishing Technology Development in Lampung Bay Hariyanto, Tri; Baskoro, Mulyono S; Haluan, John; Iskandar, Budhi H
SAINTEK PERIKANAN Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Lampung Bay and the adjacent water bodies, Northern Sunda Strait, Western Java Sea, is a potential area for fish capture armada which based in South Lampung Coast. Not all the areas have maximum potency since there is inadequacy for fish capture technical armada and seasonal environment dynamic. This investigation identified fisheries resources on Lampung Bay and fishing gear and potential commodities to developed. This identification implemented by analyzing the provided data to obtain the illustration of Catch Per Unit Effort (CPUE) in the Lampung Bay area. Fish capture at the Lampung Bay has been shown the indication of production decline. Therefore, the attempt of capture organizing at the Lampung Bay and the improving of fisherman competence and armada to capture at the Lampung Bay water bodies or Indian Ocean (reach ZEE) should be conducted. Selective fishing gear for catch the potential commodities applied at the Lampung Bay areas. Keywords: Lampung bay, fisheries management, CPUE.
System Design of Tuna Fisheries Development in South Java Region Nurani, Tri Wiji; Haluan, John; Saad, Sudirman; Lubis, Ernani
Forum Pasca Sarjana Vol 31, No 2 (2008): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Although tuna fisheries have significant role on Indonesian fisheries, concept for integrated tuna fisheries development in South Java Waters have not been implemented yet.  This study was aimed to design model for tuna fisheries development in South Java Waters.  Because of fisheries is a complex system, therefore the system approach was applied in this study.  The system design, named SIMPENA model, consist of three submodels, there are (1) fisheries business (USAHA), (2) fishing port requirement: functionality and accessibility (PELABUHAN), and (3) policy and institution (LEMBAGA).  The result of this study indicated that the tuna business is a very high risk business.  Government policies which contribute a little support to the business cause a big impact for the business continuity.  There is only a few number of fishing port that could support the tuna business in this region, namely PPS Cilacap and PPN Palabuhanratu.  The development strategic analysis by using interpretative structural modeling technique resulted seven elements which playing an important role for succeeded the system.   Key words: system design, development, fisheries, tuna, South Java Waters
Development Model of Fisheries Industry Base on Fishing Port Bases in Makassar City, South Sulawesi ., Danial; Haluan, John; ., Mustaruddin; ., Darmawan
Forum Pasca Sarjana Vol 34, No 2 (2011): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Makassar city of South Sulawesi Province has potency and opportunity to develop fisheries industry to become the biggest fisheries industry in the eastern Indonesian region.  Geographically, the Makassar city is located in a strategic eastern Indonesian region that bringing consequency to become the gate of export for trading product.  The research objectives are to create development model of fisheries industry in Makassar city base on the fishing port, to describe the existing condition of fishing activities and its influence level to formulate significant influence factors, and to formulate development strategy of fisheries industry in Makassar city.  This research was conducted from March to November 2009 in Makassar city.  Data was taken from fishery industries as respondent, such as fishing characteristic, fishing industry, management industry, export, and policy.  The result of SEM analysis showed the goodness of fit index criterias, namely: chi-square, probability, RMSEA, CFI, IFI, GFI, AGFI, and PGFI.  Based on the regression analysis on weight values of the interaction with other factors, it can be significant or non-significant relation, wherereas the significant relation is necessary.  The goverment policy on the development of Untia Archipelago Fishing Port in Makassar city is to continue fishing activity to provide materials of fishery industry.  Developing model of fisheries industry base on the fishing port with eight factors can be used to plan the fishery industry development.   Key words: model, fishing port, fishery industry, SEM
POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN KEPULAUAN SITARO (Sustainable Potential of Fisheries Capture in Sitaro Island Regency) Kumaat, Joyce; Haluan, John; Wisudo, Sugeng Hari; Monintja, Daniel R.
Jurnal Marine Fisheries Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries
Publisher : Jurnal Marine Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.812 KB)

Abstract

Analisis potensi lestari perikanan tangkap di Kabupaten Kepulauan Sitaro dilatarbelakangi oleh besarnya potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki yaitu 78,18% dari seluruh jumlah produksi ikan di Kabupaten Kepulauan Sitaro atau 11.743,20 ton/tahun pada tahun 2010. Penelitian ini bertujuan melihat karakteristik pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap dan berapa besar potensi lestari perikanan tangkap di Kabupaten Kepulauan Sitaro sebagai dasar penilaian pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. Hasil perhitungan dengan mengguna-kan model Schaefer didapatkan potensi lestari (MSY) ikan pelagis kecil sebesar 7.904,85 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 18.291,60 unit/tahun. Kemudian diikuti oleh kelompok ikan pelagis besar sebesar 2.689,32 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 99.173,20 unit/tahun. Sedangkan kelompok ikan damersal potensi lestari sebesar 702,74 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 16.151,97 unit/tahun, selanjutnya kelompok ikan karang potensi lestari sebesar 446,30 ton/tahun dan upaya optimum adalah 34.129,00 unit/tahun. Keberlangsungan perikanan tangkap di Kabupa-ten Kepulauan Sitaro dilakukan dengan membuat kebijakan, strategi, program dan rencana aksi pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan yang mengatur secara tegas zona penang-kapan; jumlah, ukuran dan jenis ikan yang boleh dan tidak boleh ditangkap; zona perlindungan daerah pemijahan dan tempat asuhan ikan kecil maka dapat menjaga keberadaan sumberdaya perikanan untuk masa yang akan datang. Kata kunci: perikanan, kepulauan, MSY, Sitaro
KINERJA PEMBIAYAAN PERIKANAN SKALA KECIL DI KOTA TEGAL, JAWA TENGAH (Performance of Small Scale Fisheries Financing in Tegal City, Central Java) Prabowo, Prabowo; Wiyono, Eko Sri; Haluan, John; Iskandar, Budhi Hascaryo
Jurnal Marine Fisheries Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries
Publisher : Jurnal Marine Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.445 KB)

Abstract

Usaha perikanan skala kecil yang dikelola oleh masyarakat pesisir termasuk yang paling kecil mengakses kredit atau pembiayaan perbankan, padahal jumlah usaha skala kecil pada bidang perikanan ini cukup besar, yaitu mencapai 26,2 juta unit.  Kondisi ini tidak lepas dari belum efektifnya interaksi stakeholders dan komponen terkait dalam mendukung kinerja pembiayaan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi komponen pembiayaan yang signifikan mempengaruhi kinerja pembiayaan perikanan skala kecil di Kota Tegal.  Penelitian ini menggunakan metode structural equation modeling (SEM). Hasil analisis menunjukkan peran lembaga perbankan signifikan mempengaruhi naik-turunnya kinerja pembiayaan, sedangkan kebijakan politik, performance usaha perikanan skala kecil, dan peran lembaga pemerintah tidak signifikan. Pada tataran teknis, penyaluran kredit/pembiayaan oleh bank umum (BRI dan BPD) secara signifikan mendukung peran lembaga perbankan dan dapat meningkatkan kinerja pembiayaan, sedangkan BPR belum. Terkait jenis kredit/pembiayaan, yang siginfikan dirasakan manfaatnya oleh nelayan kecil adalah kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE), sedangkan kredit usaha kecil (KUR) dan bantuan pinjaman langsung masyarakat (BPLM) belum signifikan dirasakan manfaatnya meningkatkan pembiayaan perikanan skala kecil Kota Tegal. Program penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) signifikan membantu peningkatan kinerja pembiayaan perikanan skala kecil di Kota Tegal. Nilai Net B/C, IRR, dan ROI yang baik signifikan dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja pembiayaan perikanan skala kecil, sedangkan nilai NPV tidak. Kata kunci: pembiayaan, kinerja, signifikan, perikananan skala kecil
MODEL PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN TANGKAP DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Partosuwirjo, Mulyono; Haluan, John; Baskoro, Mulyono S.; Soemokaryo, Soepanto
Jurnal Manajemen & Agribisnis Vol 5, No 1 (2008): Vol. 5 No. 1 Maret 2008
Publisher : Graduate Program of Management and Business Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Capture fishery has an important role in the economic activity and livelihood among the people ofYogyakarta, but its dynamic interaction is not yet effective and still dominated by monopoly practices.This study has analyzed the feasibility and appropriate dynamic interaction for the development ofcapture fishing. The method developed in the study consisted of a cost-benefit analysis and SEM.Catching fish using sero, payang, gillnet, and krendet was found to be feasible and obtain net profits of Rp. 44,291,851, Rp. 91,202,416, Rp 47,585,387, and Rp 56,514,757, respectively. The most significant aspects of interaction determining the environments (internal, external, and industrial), business strategies, fishing industry performance, and development goals were management, social aspect, entry barrier, finance, and feedback period. For the construct interaction, the internal environment had a significant positive effect on the external environment, the external environment had a significant positive effect the industrial environment, and the business strategies had a significant positive effect on the goal of fishery development.
MULTIDIMENSIONAL ANALYSIS OF CAPTURE FISHERIES BUSINESS LICENSING MANAGEMENT : CASE STUDY OF ARAFURA SEA Mulyana, Ridwan; Haluan, John; Baskoro, Mulyono S.; Wisudo, Sugeng Hari
JURNAL TEKNOLOGI PERIKANAN DAN KELAUTAN Vol 2, No 1 (2011): November 2011
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.678 KB)

Abstract

Fishing license, as a tool of fisheries management, is one of the popular instrument to control fish resources utilization. The purposes of fishing license for government are : (1) to optimalization of fish resources utilitization; (2) to maintain fish resources sustainability; and (3) to gain the economic benefit as government revenue. As part of fisheries management, fishing license affect to many aspects of fisheries as ecology, economic, technology, social, and ethic. Fishing license for large fisheries scale in Arafura Sea play an important role in Indonesian fisheries as Goverment issued 1072 fishing license or almost 25% of total license issued for all Indonesian waters. Unfortunatelly, Arafura Sea faces many problem and issues like overfishing, IUU fishing, destructive of fish habitat and environment that threaten the sustainability of fisheries. So it’s important to know the sustainability state of Arafura Sea in present to determine the best fishing license policy. The analysis of RAPFISH for sustainability of fisheries (including Leverage and Monte Carlo analysis) by major type of fisheries give some results as : (1) the fisheries of Arafura Sea is sustainable enough with score 53,86; (2) squid jigging, bottom longline, and gillnet fisheries are sustainable enough; but fish net and shrimp net are less sustainable; (3) the ecological dimension is good sustainable with score 72,43; but the ethic dimension is less sustainable with score 37,26. The leverage analysis shows the attributes which give the highest influence to each dimensions as: (1) size of fish on ecology dimension; (2) sector employment on economic dimension; (3) FAD (fish attracting devices) using and gear selectivity on technology dimension; (4) education level on social dimension; and (5) just management on ethic dimension. It’s recommended for Arafura Sea fisheries development to promote the sustainability fishing gears like squid jigging, bottom longline, and gillnet fisheries.
ANALISIS REHABILITASI TAMBAK DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) ., Indra; Fauzi, Akhmad; Haluan, John; Boer, Mennofatria
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tambak memegang peranan penting sebagai sumber ekonomi masyarakat pesisir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Akan tetapi, tsunami 26 Desember 2004 telah merusak sebagian besar tambak di provinsi ini dengan prediksi kerugian lebih dari 1 trilyun dan 14 859 rumah tangga hilang sumber mata pencaharian. Kebutuhan biaya rehabilitasi satu hektar tambak yang rusak berat adalah Rp 32.76 juta, rusak sedang yang direhabilitasi dengan mesin (capital intensive) adalah Rp 20.92 juta dan dengan manual (laborintensive) adalah Rp 12.37 juta, dan rusak ringan yang direhabilitasi dengan mesin Rp12.37 juta dan manual Rp 5.89 juta. Pendapatan dari budidaya tambak tradisional plus adalah Rp 14.7 juta/ha/tahun dan menyeraptenaga kerja 488 hok. Analisis finansial, dengan discount rate 15%, menunjukkan bahwa pengelolaan tambak di Aceh layak (feasible) dilakukan. Belajar dari kegagalan masa lalu, maka ke depan, pengelolaan tambak di Aceh harus diarahkan pada pola Manajemen Kesehatan Budidaya Udang (Shrimp Culture Health Management- SCHM).Kata kunci: Tambak, tsunami, rehabilitasi, biaya, tenaga kerja, dan pendapatan.
Konsep Pengelolaan Perikanan Tangkap Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Kawasan Teluk Bone Dalam Perspektif Keberlanjutan Jamal, Muhammad; Sondita, Fedi A.; Wiryawan, Budi; Haluan, John
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.88 KB)

Abstract

Fisheries management ideally could prevent the occurrence of overfishing which nowadays has occurred globally, including in Indonesia.  On the basis of fishing status and biology of skipjack tuna, as well as analysis of relationship between sea surface temperature and chlorophyll-a with skipjack tuna catches,  the fisheries management should implement zoning regulation. The north zone was suggested to be prioritized as a conservation area for protecting skipjack juvenile (< 46,5 cm FL) from fishing activity.  The middle and south zones were suggested to be fishing area where sustainable fishing is applied.  The Application of these regulations has an implication on total allowable catches from Bone Bay.  The number has lower value than the previous MSY and F-opt values.  Number of skipjack tuna which was allowed to be caught in the north zone is 573 ton yr -1 , in the middle zone was 5,820 ton yr and in the south zone was 2,210 ton yr -1 .   Overall, the value of allowed number of skipjack tuna catches in Bone Bay was estimated to be 8,600 ton yr effort per year is equivalent with 5,376 operational trips from pole and line boats.   -1 with fishing-1