Abuamat HAK
Universitas Sriwijaya

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

ANALISIS DATA UJI PRESSURE BUILD-UP DAN MODIFIED ISOCHRONAL UNTUK MENGETAHUI KONDISI RESERVOIR DAN PRODUKTIVITAS SUMUR GAS RM#13 PT. PERTAMINA EP ASSET 2 PENDOPO FIELD Mulyadi, Riduan; Anwar, Ubaidillah; HAK, Abuamat
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.055 KB) | DOI: 10.36706/jp.v1i3.4314

Abstract

Pengujian yang dilakukan pada sumur gas RM#13 meliputi bottom hole pressure (BHP) surveys, pressure build-up (PBU) test, dan modified isochronal test (MIT). Berdasarkan BHP survey, didapat nilai tekanan dasar statik (Pws) sebesar 1.297,41psi dan tekanan dasar alir (Pwf) sebesar 1.271,45 psi.Untuk mengetahui kondisi reservoir sumur, maka dilakukan pengujian PBU. Pada dasarnya uji PBU pertamaâ??tama dilakukan dengan memproduksi sumur selama suatu selang waktu tertentu.Llaju aliran yang digunakan konstan. Selanjutnya menutup sumur tersebut. Berdasarkan analisisPBU, didapat nilai tekanan awal reservoir sebesar 1.295,762 psi, serta memiliki kemampuan mengalirkan fluida yang tergolong dalam skala sangat baik dengan permeabilitas efektif batuan sebesar 218,696 mD. Adapun nilai skin factor sebesar +13,35 dan flow efficiency sebesar 0,47 menunjukkan bahwa daerah di sekitar lubang sumur diindikasikan telah mengalami kerusakan.Untuk mengetahui produktivitas sumur, maka dilakukanlah pengujian modified isochronal dengan membuka-tutup sumur dengan satu laju alir yang diperpanjang. Berdasarkan analisisuji modified isochronal, didapatkan nilai absolute open flow potential (AOFP) sebesar 77,11 MMSCFD, dimana nilai slope (n) sebesar 0,7480704 menunjukkan bahwa terjadi aliran turbulensi pada sumur gas dengan koefisien stabilized flow performance (Cs) sebesar 0,0016963 MMSCFD/psi2.
EVALUASI PENYEBAB TIDAK TERCAPAINYA KUALITAS BLENDING BATUBARA DI BANKO BARAT PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK. TANJUNG ENIM SUMATRA SELATAN Syurdilah, Deden; ., A. Rahman; HAK, Abuamat
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 5 (2017): Special Issue
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.805 KB) | DOI: 10.36706/jp.v1i5.5369

Abstract

Kualitas batubara yang di tambang di Banko Barat terdiri dari beberapa brand  yaitu BB 50 LS, BB 50 HS, BB 52 LS, dan BB 52 HS, jadi untuk memenuhi permintaan pasar dan memanfaatkan semua kualitas batubara yang ada di Banko Barat maka batubara yang di tambang di Banko Barat akan dilakukan blending. Pada saat ini blending yang dilaksanakan di Banko Baratterdiri atas dua kombinasi yaitu kombinasi I antara BB 50 HS dengan BB 52 HS dan kombinasi II antara BB 50 LS dengan BB 52 LS, tetapi masih kurang optimal dikarenakan tidak terpenuhinya kualitas blending yang ingin dicapai yang disebabkan oleh proporsi blending dan proses blending batubaranya. Proporsi batubara, secara teoritis kombinasi I BB 50 HS dengan BB 52 HS adalah 30.379,76 ton : 119.620,2 ton atau dengan proporsi 20,3% : 79,7%, sedangkan secara aktual yang terjadi di lapangan yaitu BB 50 HS dengan BB 52 HS adalah 49.428,1 ton : 100.237,99 ton atau dengan proporsi 33 % : 67 %. Untuk kombinasi II secara teoritis BB 50 LS dengan BB 52 LS adalah 27.777,78 ton : 222.222.,2 ton atau dengan proporsi 11,11% : 88,89%, sedangkan secara aktual yang terjadi di lapangan yaitu BB 50 LS dengan BB 52 LS adalah 47.457,28 ton : 202.528,1 ton atau dengan proporsi 19 % : 81 %. Dan proses blending batubara, untuk BB 52 HS dan BB 52 LS tidak mencapai produksi blending yang diinginkan dikarenakan efisiensi kerja yang rendah yaitu hanya sebesar 70 % sehingga perlu dilakukan peningkatan efisiensi kerja menjadi 76%. Kata Kunci: Coal Blending, Proporsi Batubara, Efisiensi Kerja
KAJIAN PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS HOPPER DAN ALAT ANGKUT UNTUK MENGATASI MASALAH ANTRIAN ALAT ANGKUT DAN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HOPPER TLS 3 BANKO BARAT PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK Oktakusgara, Muhammad; HAK, Abuamat; Yusuf, Maulana
Jurnal Ilmu Teknik Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem penambangan di site Banko diawali dengan melakukan kegiatan penambangan di pit area kemudian batubara ini diangkut menuju dump hopper untuk direduksi ukuran nya lalu diumpan ke belt conveyor dan ditransportasikan ke tripper sebagai tempat curahan batubara ke live stockpile.Target produksi masing-masing dump hopper adalah 750 ton/jam namun dari hasil pengamatan dilapangan produktivitas unit dump hopper 1 dan 2 adalah 645 ton/jam dan 655 ton/jam dengan laju pengumpanan alat angkut sebesar 648 ton/jam dan 661,65 ton/jam .Untuk mengatasi hal ini perlu diketahui produktivitas teorotis dump hopper dan alat angkut terlebih dahulu. Dari hasil perhitungan didapat produktivitas optimum dump hopper yang terdiri hopper , belt conveyor dan double roll crusher adalah 101,6 ton, 770 ton/jam dan 771 ton/jam sedangkan produktivitas teoritis alat angkut pengumpan unit dump hopper 1 dan 2 adalah 648 ton/jam dan 1.346,083 ton/jam. Dengan membandingkan antara produktivitas teoritis hopper terhadap produktivitas teoritis alat angkut maka .diketahui upaya apa saja yang dapat meningkatkan produktivitas masing-masing dump hopper dilakukan dengan meningkatkan waktu kerja efektif alat, menambah unit dump tuck yang dumping ke dump hopper 1 serta mengurangi jumlah dump truck yang dumping ke dump hopper 2. Setelah dilakukan peningkatan produktivitas dump hopper maka didapat peningkatan produktivitas masing-masing dump hopper sebesar 761,23 ton/jam dan 728,47 ton/jam dengan waktu kerja efektif 17,7 jam/hari dan produksi sebesar 13.473,771 ton/hari dan 12. 893,919 ton/hari.Kata kunci : hopper, produktivitas,antrian
EVALUASI TEKNIS SISTEM PENYALIRAN TAMBANG PADA PIT 3 TIMUR BANKO BARATPT. BUKIT ASAM (PERSERO), TBK UNIT PENAMBANGAN TANJUNG ENIM, SUMATERA SELATAN Husen, Syahreza; Yusuf, Maulana; HAK, Abuamat
Jurnal Pertambangan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.671 KB) | DOI: 10.36706/jp.v2i2.6371

Abstract

PT.Bukit Asam (Persero),Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Sistem penambangan yang diterapkan adalah sistem Open Pit. Pit 3 Timur merupakan salah satu pit yang berada di Wilayah Tambang Banko Barat.Sistem penyaliran yang di gunakan pada lokasi penambangan Pit 3 Timur Banko Barat saat ini adalah sistem mine dewatering dengan menggunakan metode sumuran (sump) yaitu mengeluarkan air yang telah masuk ke tempat penambangan kemudian ditampung kedalam kolam penampung (sump) lalu dialirkan keluar tambang dengan pompa, dan air tersebut akan di netralkan terlebih dahulu untuk menetralkan kadar asamnya. Apabila sistem penyaliran tidak berjalan sebagaimana mestinya maka akan mengakibatkan masalah dalam kegiatan penambangan. Oleh karena itu, harus direncanakan evaluasi teknis sistem penyaliran tambang yang baik untuk mengatasi  air yang akan masuk ke lokasi tambang terutama dalam menghadapi musim penghujan.Dimensi sump yang direncanakan berbentuk trapesium dengan volume 135.073 m3 dengan panjang dan lebar permukaan sumuran adalah 164 meter, panjang dan lebar dasar sumuran 144 meter dengan kedalaman sump 10 meter dan kemiringan 450. Untuk mengeluarkan debit total air yang masuk ke sump  sebanyak 90.354,32 m3/hari maka diperlukan penambahan 4 buah pompa dari 2 buah pompa menjadi 6 buah pompa. Sedangkan untuk Kolam pengendapan Lumpur yang direncanakan adalah sebesar 11.076,28 m3 tiap satu kompartemen yang memiliki 4 buah kompartemen. Dengan dimensi rencana 88 m x 25 m x 5 m per Kompartemen dengan waktu pengerukan adalah 4 kali dalam 1 tahun.Kata Kunci: catchment area, sump,pompa
EVALUASI JUMLAH ALAT GALI-MUAT DAN ALAT ANGKUT SERTA PERHITUNGAN BAHAN BAKAR UNTUK MEMPRODUKSI 300.000 TON/BULAN BATU GRANIT DI PT. TRIMEGAH PERKASA UTAMA KEPULAUAN RIAU ilham, jahar lembadah; asyik, makmur; hak, abuamat
Jurnal Ilmu Teknik Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkembangnya industri pembangunan sekarang ini menyebabkan naiknya permintaan konsumen terhadap batu granit sebagai bahan galian industri. Oleh karena itu produsen batu granit terus menerus meningkatkan produksinya. PT. Trimegah Perkasa Utama sebagai produsen terbesar batu granit di Kepulauan Karimun menargetkan produksi sebesar 300.000 ton/bulan batu granit menggunakan 2 unit alat gali-muat dan 8 unit alat angkut dengan total waktu 20 jam pada 2 shift kerja. Dari hasil pengamatan, didapatkan jumlah produksi sebesar 222.897 ton/bulan dengan waktu efektif kerja sebesar 13,96 jam/hari, sedangkan target produksi yang telah ditetapkan oleh perusahaan sebesar 300.000 ton/bulan. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi jumlah alat mekanis yang digunakan untuk memproduksi batu granit dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas kerja. Hasil perhitungan produktivitas setelah dilakukan upaya peningkatan waktu kerja sebesar 15,96 jam/hari dan penambahan alat sebanyak 1 unit alat gali-muat dan 2 unit alat angkut diperoleh produktivitas sebesar 322.294 ton/bulan batu granit.
STUDI PENGARUH UKURAN PIPA PRODUKSI TERHADAP TINGKAT LAJU PRODUKSI PADA SUMUR PRODUKSI Y-19, W-92, DAN HD-91 DI PT. PERTAMINA EP ASSET-1 FIELD JAMBI widaputra, yudha; yusuf, maulana; hak, abuamat
Jurnal Ilmu Teknik Vol 2, No 5 (2014): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegunaan pipa produksi adalah untuk mengalirkan kandungan minyak dan gas bumi ke permukaan. Jika ukuran pipa produksi yang digunakan tidak tepat maka akan timbul dampak negatif. Jika ukuran pipa produksi terlalu besar maka pipa produksi  akan lebih cepat rusak akibat timbulnya masalah kepasiran dan korosi. Tetapi jika ukuran pipa produksi terlalu kecil maka akan mempercepat terjadinya kerusakan formasi  pada sumur produksi. Dalam mengevaluasi penggunaan ukuran pipa produksi yang tepat harus menggunakan analisa kurva Inflow Performance Relationship, kurva pressure traverse dan analisa sistem nodal. Hasil analisa tersebut dapat dikombinasikan sehingga mendapatkan ukuran pipa produksi yang sesuai. Hasil analisa laju produksi optimal pada sumur-sumur produksi  Y-19, W-92 dan HD-91 sebesar 1223,72 bfpd, 5494,136 bfpd, dan 1562,784 bfpd. Untuk mencapai atau mendekati hasil pada setiap sumur produksi seperti pada sumur Y-19 sebesar 1200 Bfpd, sumur W-92 sebesar 4300 Bfpd, dan HD-91 sebesar 1300 Bfpd maka harus mengganti ukuran pipa produksi yang sesuai dengan menggunakan analisa sistem nodal tersebut yakni ukuran 3 in(ID) untuk sumur Y-19 dan ukuran 4 in(ID) untuk sumur W-92 dan HD-91. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bila memungkinkan untuk Sumur produksi Y-19 harus diganti dengan ukuran 3 in(ID) dan untuk sumur produksi W-92 dan HD-91 harus diganti dengan ukuran pipa produksi 4in(ID) karena untuk sumur Y-19 akan terjadi scale dan korosi karena ukuran pipa yang digunakan terlalu besar dan untuk sumur W-92 dan HD-91 akan mempercepat terjadinya kerusakan formasi (formation damage) akibat lumpur dan pasir yang ikut terproduksi akan banyak jatuh kembali dan menutupi pori-pori lapisan produktif.
EVALUASI KINERJA EXCAVATOR BACKHOE CAT 385 DAN CAT 345 TERHADAP PRODUKSI PENAMBANGAN SWAKELOLA PAKET 09-218 BANKO BARAT TAHUN 2013 PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TBK anggraini, vera; yusuf, maulana; hak, abuamat
Jurnal Ilmu Teknik Vol 2, No 6 (2014): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Swakelola merupakan salah satu unit kerja penambangan di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk yang kegiatan operasional penambangannya menggunakan kombinasi excavator backhoe dan dump truck dengan mitra kerja PT. Bangun Karya Pratama Lestari sebagai penyedia unit rental. Berdasarkan rencana sekuen tahun 2013, target produksi total material sebesar 18.207.506 Bcm, dengan produksi tanah (overburden) sebesar 15.350.000 bcm dan batubara sebesar 3.605.000 Ton. Pada akhir tahun 2013, realisasi produksi total material hanya tercapai 76% terhadap rencana sekuen yaitu sebesar 13.804.533 Bcm, dengan produksi tanah sebesar 11.505.159 Bcm dan batubara sebesar 2.897.212 Ton. Ketidaktercapaian produksi disebabkan karena peralatan mekanis yang dioperasikan bekerja tidak optimal dimana jam jalan yang tinggi tidak sebanding dengan produksi yang dihasilkan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kondisi peralatan mekanis yang dalam keadaan kurang baik, dimana rata - rata equipment avaibility kumulatif dari unit alat berat kurang dari 85%. Menurut perhitungan handbook, produktifitas excavator backhoe CAT 385 untuk operasional pengupasan tanah sebesar 501 bcm/jam sedangkan excavator CAT 345 untuk penggalian batubara sebesar 269 Bcm/jam. Akan tetapi, rata - rata realisasi produktifitas excavator CAT 385 hanya sebesar 379 Bcm/jam dan CAT 345 sebesar 205 Bcm/jam selama tahun 2013. Kinerja alat gali muat yang tidak optimal menyebabkan kekurangan volume produksi tanah sebesar 3.844.841 Bcm dan batubara sebesar 707.788 Ton dari target produksi yang telah direncanakan di satuan kerja penambangan swakelola..
EVALUASI TEKNIS DAN EKONOMIS WELL COMPLETION UNTUK UKURAN TUBING PADA SUMUR MINYAK X-26 DI PT. PERTAMINA EP ASSET 2 PENDOPO FIELD doniko, doniko; Toha, M Taufik; hak, abuamat
Jurnal Ilmu Teknik Vol 2, No 5 (2014): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berproduksi suatu sumur merupakan tolak ukur didalam perencanaan peralatan produksi, tujuannya untuk mendapatkan laju produksi  yang optimal dan continous sesuai dengan target. Sistem peralatan produksi yang berfungsi untuk mengalirkan laju produksi kepermukaan yaitu tubing (pipa produksi). Ukuran tubing dan choke yang tidak sesuai dengan Productivity index dapat menghambat kesinambungan produksi minyak dari sumur minyak tersebut. Hal ini disebabkan sistem peralatan produksi akan cepat terkorosi akibat gesekan antara fluida produksi dengan dinding tubing,sehingga tubing cepat rusak dan diganti. Dan dapat menyebabkan kerusakan formasi (formation damage) dan terbentuknya scale. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mendapatkan laju produksi yang maksimal. Untuk menentukan ukuran tubing pada sumur X-26 dapat dievaluasi melalui analisa sistem nodal, yang merupakan hubungan kurva IPR terhadap kurva tubing intake yang akan berpotongan. Titik perpotongan tersebut yang akan menunjukkan laju produksi optimal suatu sumur setiap ukuran tubing. Hasil dari evaluasi ukuran tubing diperoleh laju produksi optimal 105,4 bfpd dan dinilai tidak ekonomis untuk dilakukan penggantian tubing karena peningkatan laju produksinya sangat sedikit
KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS PEMBERAIAN INTERBURDEN B2C SECARA RIPPING PADA TAMBANG BANKO BARAT PIT-1 TIMUR, PT BUKIT ASAM (PERSERO), TBK. UPTE, SUMATERA SELATAN Puspita, Mega; Rahman, A; HAK, Abuamat
Jurnal Ilmu Teknik Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Metode yang digunakan dalam pemberaian batuan antara lain adalah ripping, free digging, dan drilling-blasting. Ripping adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk memberai batuan apabila alat gali-muat sudah tidak mampu lagi menggali material tersebut. Karena esensialnya peran ripping, maka perlu kiranya untuk mengkaji metode tersebut dari segi teknis dan ekonomis agar penggunaan ripping dapat dimaksimalkan. Untuk mengkaji metode ripping dari segi teknisnya, dilakukan estimasi produktivitas dozing-ripping/bulan serta pengamatan terhadap hubungan digging time dengan produksi aktual/shift dari Backhoe Excavator Caterpillar E385 CL. Dari segi ekonomis dilakukan kajian terhadap biaya ripping/bcm batuan dengan menggunakan Bulldozer Caterpillar D9R. Biaya ini dihitung dalam dua cara penggadaan alat yaitu rental dan beli. Estimasi produktivitas dozing-ripping/bulan adalah 355.849,2 bcm (empiris) dan 389.428,2 bcm (spesifikasi produsen alat). Rata-rata digging time dari Backhoe Excavator E385 CL adalah 08,88 detik dan rata-rata persentase realisasi ketercapaian produksi adalah 87%. Biaya ripping/bcm batuan dengan rental adalah Rp 5.593,95/bcm sedangkan dengan membeli alat adalah sebesar Rp 3.193,47/bcm. Dapat disimpulkan bahwa dengan membeli alat sendiri akan lebih menguntungkan daripada rental.Kata Kunci : ripping, digging time, produksi, rental, alat sendiri.
MODIFIKASI GEOMETRI PELEDAKAN DALAM UPAYA MENCAPAI TARGET PRODUKSI 80.000 TON/BULAN DAN MENDAPATKAN FRAGMENTASI YANG DIINGINKAN PADA TAMBANG GRANIT PT. KAWASAN DINAMIKA HARMONITAMA KABUPATEN KARIMUN KEPULAUAN RIAU armansyah, muhammad; hak, abuamat; asyik, makmur
Jurnal Ilmu Teknik Vol 2, No 5 (2014): Jurnal Ilmu Teknik
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peledakan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan produksi yang didapat dalam kegiatanpenambangan terutama pada penambangan dengan metode quarry. Penerapan geometri yang kurang tepat dalamproses peledakan akan mengakibatkan terhambatnya proses produksi, terjadinya flying rock, fragmentasi batuan hasilpeledakan yang didapat kurang memuaskan, berkurangnya efisiensi biaya, dan tidak tercapainya target produksi yangtelah ditetapkan oleh perusahaan. Potensi perbaikan fragmentasi dapat dilakukan dengan memperhatikan geometripeledakan. Geometri peledakan aktual saat ini untuk burden 3,5 meter dan Spacing 4 meter, di lapangan ternyatamasih terdapat boulder dan target volume peledakan belum tercapai. Selanjutnya dilakukan analisa dan modifikasiterhadap geometri di lapangan, didapat burden 3 meter dan Spacing 4,2 meter sehingga didapat fragmentasi batuanberukuran  100 cm sebesar 3,98 %. Dengan demikian fragmentasi yang didapatkan lebih baik dibandingkan denganjumlah boulder aktual yang masih >5% . Dengan adanya perbaikan ini maka kegiatan produksi akan berjalan optimaldan target volume peledakan tercapai.