cover
1.915
P-Index
Oetami Dwi Hajoeningtijas
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl Raya Dukuh Waluh PO BOX 202 Purwokerto, 53182
Articles
16
Documents
THE GROWTH RESPONSE CAUSED BY ARBUSCULAR MYCORRHIZAL FUNGI ON CORN WITH MEDIA POLLUTED BY HEAVY METAL Cd, Pb and Zn

BIOMATH Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : BIOMATH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.859 KB)

Abstract

This study is aimed to know the most optimal arbuscular mycorrhizal fungi mikoriza dosage for corn to control the absorption of Cd, Pb, Zn, and to know the impact of heavy metal Cd, Pb and Zn treatment toward the growth and harvest of corn. This research was a factorial experiment arranged on randomized  block design (RBD)  and each treatment was conducted three times in which each treatment had two factors: the dosage factor of arbuscular mycorrhizal fungi  (D), consisting of D0 = without arbuscular mycorrhizal fungia, D1=100 g/poly bag, D2=200 g/poly bag; the factor of heavy metal (L), consisting of L1=Cd, L2=Pb, L3=Zn. There were some observed variables: the weight of corn ear  per plant (gr), the dry weight of plant root (gr), the dry weight of upper part of the plant (gr), the number of corn ears, the growth response caused arbuscular mycorrhizal fungi (TPAM). Based on the result and analysis, it could be concluded that providing 200 gr mikoriza per plant showed an effective inokulan with TPAM 25,971%. Moreover, the result gained from the criterion of the ability to improve plant growth signed by the indicator of kation absorption of heavy metal showed that the characteristics of arbuscular mycorrhizal fungi used in the experiment were able to support the improvement of adaptation level of plants toward biotic and abiotic condition. As result, it is recommended to conduct field tests on the land polluted by heavy metals for each species of arbuscular mycorrhizal fungi. This is to find out the potentials of each arbuscular mycorrhizal fungi species used as bio-accumulator of heavy metals so that arbuscular mycorrhizal fungi  would be employed to improve the bio-remedial for polluted land. Key word: Arbuscular mycorrhizal fungi, the heavy metal Cd, Pb, Zn, the growth response caused arbuscular mycorrhizal fungi

PENGARUH STERILAN DAN WAKTU PERENDAMAN PADA EKSPLAN DAUN KENCUR ( Kaemferia galanga L) UNTUK MENINGKATKAN KEBERHASILAN KULTUR KALUS

AGRITECH Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.771 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh senyawa kimia Bayclin (Natrium hipoklorid/NaClO) dan alkohol 70% terhadap penurunan kontaminasi eksplan daun kencur, mencari pengaruh waktu perendaman senyawa kimia sterilan terhadap pertumbuhan  eksplan daun kencur serta mengetahui  pengaruh interaksi  antara senyawa kimia sterilan dan waktu perendaman terhadap peroleh kultur kalus kencur  yang bebas kontaminasi.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 sampai dengan bulan April 2010 di Laboratorium Kultur Jaringan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Rancangan yang digunakan adalah Rancanmgan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Variabel pengamatan meliputi : Persentase kontaminasi, persentase eksplan yang tumbuh, waktu pertama kontaminasi muncul, dan sumber kontaminan (Bakteri/jamur).Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penggunaan senyawa kimia bayclin (Natrium hipoklorid/NaClO) 20%dan alcohol 70%  mampu mengurangi kontaminasi baik eksternal maupun internal yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri. Waktu perendaman eksplan dalam senyawa kimia sterilan dengan lama waktu perendaman berkisar 5-10  menit mampu menurunkan kontaminasi antara 35-56 % dalam penelitian ini. Kombinasi penggunaan senyawa kimia bayclin 20% selama 10 menit  dan alcohol 70% selama 10 menit mampu menurunkan kontaminasi pada eksplan berkisar 42%.

TRANSFER TEKNOLOGI PERBANYAKAN PUPUK HAYATI MIKORIZA PADA PETANI SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN

AGRITECH Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.096 KB)

Abstract

 Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat petani di Desa Karangsari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, serta memberikan alternatif solusi bagi permasalahan yang ditimbulkan penggunaan input yang berlebihan terutama pupuk kimia, akan dilakukan pelatihan pembuatan pupuk hayati mikoriza.  Potensi pupuk hayati mikoriza yang menguntungkan pada budidaya tanaman sudah banyak diteliti.  Sementara di sisi lain hasil-hasil penelitian tersebut belum semuanya sampai pada masyarakat petani yang justru membutuhkannya.  Sehingga kegiatan ini diharapkan dapat menjembatani hal tersebut.  Permasalahan yang muncul adalah belum adanya kesadaran akan dampak negatif penggunaan input yang berlebihan pada budidaya tanaman terutama pupuk kimia; pengetahuan dan wawasan yang terbatas di tingkat petani tentang alternatif pupuk hayati yang mampu diproduksi sendiri, memiliki potensi yang menguntungkan bagi tanaman, serta berwawasan lingkungan dengan harga terjangkau.  Hal ini ditunjang pula oleh adanya harga pupuk kimia bersubsidipun masih menjadi beban yang cukup tinggi bagi petani karena penggunaan yang berlebihan.Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran petani akan dampak negatif penggunaan input yang berlebihan pada budidaya tanaman terutama pupuk kimia.  Selain itu juga menambah pengetahuan dan wawasan petani tentang pupuk hayati yang mampu diproduksi sendiri, memiliki potensi yang menguntungkan bagi tanaman, serta berwawasan lingkungan melalui pelathan perbanyakan pupuk hayati mikoriza.  Di sisi lain dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi dan alternatif pupuk hayati mikoriza dengan harga terjangkau untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia.            Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya petani khalayak sasaran sudah memahami adanya dampak negatif penggunaan input yang berlebihan pada budidaya tanaman terutama pupuk kimia.  Ternyata terbukti bahwa masih adanya pengetahuan dan wawasan yang terbatas di tingkat petani tentang alternatif pupuk hayati mikoriza yang mampu diproduksi sendiri, memiliki potensi yang menguntungkan bagi tanaman, serta berwawasan lingkungan dengan harga terjangkau.  Sehingga pada akhirnya pupuk hayati mikoriza dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi masalah harga pupuk kimia bersubsidi yang  masih menjadi beban cukup tinggi bagi petani karena penggunaan yang berlebihan.            Kata kunci: Teknologi perbanyakan pupuk hayati mikoriza, pertanian berkelanjutan

UPAYA ALIH TEKNOLOGI PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL DI DESA KLAPAGADING KECAMATAN WANGON

AGRITECH Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.162 KB)

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada ibu rumah tangga dan remaja putri mengenai pembuatan Virgin Coconut Oil. Pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan berlangsung selama 8 (delapan) bulan.  Rangkaian kegiatan yang dilakukan terdiri dari (1) orientasi lokasi, (2) persiapan bahan, alat, dan materi, (3) kegiatan pelatihan, (4) pengamatan hasil pelatihan, dan (5) evaluasi terhadap pelatihan. Berdasarkan pada hasil evaluasi dan pembahasan,  maka dapat disimpulkan bahwa ibu-ibu dan remaja putri di Desa Klapagading, Kecamatan Wangon sudah mulai menyadari dan mengerti pentingnya peranan pengembangan agroindustri khususnya minyak VCO sebagai sarana penunjang kesehatan dan menambah pendapatan keluarga. Selain itu peserta mengetahui peluang dan tantangan agroindustri VCO dengan benar dalam upaya meningkatkan ketrampilan dan pendapatan dari bidang pertanian. Di sisi lain mereka juga bertambah pengetahuannya tentang teknologi pembuatan VCO pada skala rumah tangga secara optimal.

PENERAPAN HERBISIDA ORGANIK EKSTRAK ALANG-ALANG UNTUK MENGENDALIKAN GULMA PADA MENTIMUN

AGRITECH Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.67 KB)

Abstract

This research was conducted to study the application of thatch grass extract to weed control, to study the growth and yield of cucumber.  The experiment was carried out from January 2013 to April 2013 and was conducted in Dukuhwaluh village, Kembaran District in Banyumas Regency.  The research was arranged in a Complete Randomized Design with 1 factor and 5 replications. The factor was application concentration of thatch grass extract consisted of: without application, 100 g/l, 200 g/l, 300 g/l and clean weeding. The results showed that the application concentration of thatch grass extract (200 g/l) can reduce weed population in cucumber crops. Concentration’s application of thatch grass extract (200 g/l) effective to increase fruit number/plant and fruit weight/plant of cucumber. Key words: thatch grass extract, weed populatio and cucumber.

PENGARUH SAAT PEMANGKASAN CABANG DAN KADAR PAKLOBUTRAZOL TERHADAP HASIL MENTIMUN (Cucumis sativus)

AGRITECH Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.51 KB)

Abstract

Progressively increase amount the resident claimed the existence  improvement of vegetable result is inclusive of cucumber in amount and also its quality. Effort to increase production of cucumber by repair of energy kindness technique through branch clipping and use resistor paclobutrazol. The purpose of the research is to find the effect of time when cutting branches happen and the degree of inhibitor substance paclobutrazol on the result of cucumber. This research is a test on a wide field which is located in Banyumudal village at Moga subdistrict in Pemalang regency with position of height 650 meters over the sea surface on September to November 2009.This experiment used preparation of factorial trying with the Randomized Complex Block Design (RCBD) of three repeated factors. The first factor is when cutting branches (S) which consists of three standards; without cutting the branches (SO); age cutting of 21 days after planting (S1); age cutting of 28 days after planting (S2). The second factor, the concentration of inhibitor substance paclobutrazol (K) which consists of four standards, 0 ml (KO); 0,125 ml (Kl); 0,250 ml (K2); and 0,375 ml (K3). The adding of inhibitor substance paclobutrazol is held after cutting the braches, exactly at the age of 21 day after planting and 28 day after planting. For the plants which are not cut, they will be given at the age of 21 day after planting by spraying the substance over the plants.The analysis result proved that the the happening of cutting branches does not factually effect to the parameter of flowering phase and harvest time. At the parameter of flowering phase for each plants, the quantity of fruit, the weight of fruit for each plants, the length of fruit, and the diameter of fruit, all those show the existence of influence. The cutting branches at the age of 21 day after planting gave a maximum result. The giving of inhibitor substance paclobutrazol effected to every parameter which are experimented, concentration of paclobutrazol 0,375 ml/liter of water that can increase the result to be maximum. The combination of cutting branches happen at the age of 21 day after planting and the concentration of paclobutrazol 0,375 ml/liter of water could add the result of planting cucumber optimally. Key words: Paclobutrazol, cucumber, cutting

TEKNOLOGI BUDIDAYA UBIKAYU MENGGUNAKAN PUPUK HAYATI MIKORIZA

AGRITECH Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.138 KB)

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan teknologi pemupukan menggunakan pupuk hayati mikoriza pada budidaya ubi kayu, memberikan pengertian pada petani dampak negatif penggunaan pupuk kimiawi, meningkatkan efektifitas dan efisiensi budidaya ubi kayu. Hasil dari kegiatan ini diharapkan bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimiawi yang harganya relatif mahal, mengurangi biaya pengadaan pupuk dengan cara aplikasi inokulum yang cukup dilakukan satu kali untuk beberapa musim tanam. Kegiatan dilakukan melalui pelatihan dan demo plot.Hasil dari kegiatan mendapatkan respon yang positif dari para petani. Akan tetapi untuk pemberian pengertian pada petani tentang dampak negatif penggunaan pupuk kimiawi membutuhkan waktu dan bukti yang nyata. Hasil dari kegiatan yang lain adalah bahwa penggunaan pupuk hayati mikoriza dapat  memberikan respon postif pada tanaman ubi kayu baik pada pertumbuhan maupun hasil, serta memberikan dampak positif pada reklamasi lahan pertanaman ubi kayu secara berkelanjutan. Sedangkan peningkatkan efektifitas dan efisiensi budidaya ubi kayu menggunakan pupuk hayati mikoriza terbukti dengan nilai produksi yang kurang lebih hampir sama dengan produksi menggunakan pupuk kimiawi, terutama bila dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil tersebut diatas disarankan untuk melakukan kegiatan lanjutan berupa pembinaan pada petani dalam hal produksi inokulum pupuk hayati mikoriza, serta budidaya ubi kayu ke arah pertanian organik dengan memanfaatkan potensi pupuk hayati mikoriza itu sendiri. Selain itu dapat diupayakan memproduksi inokulum mikoriza untuk skala komersial, sekaligus menyebarluaskan pada petani ubi kayu di wilayah lain.egiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan teknologi pemupukan menggunakan pupuk hayati mikoriza pada budidaya ubi kayu, memberikan pengertian pada petani dampak negatif penggunaan pupuk kimiawi, meningkatkan efektifitas dan efisiensi budidaya ubi kayu. Hasil dari kegiatan ini diharapkan bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimiawi yang harganya relatif mahal, mengurangi biaya pengadaan pupuk dengan cara aplikasi inokulum yang cukup dilakukan satu kali untuk beberapa musim tanam. Kegiatan dilakukan melalui pelatihan dan demo plot.Hasil dari kegiatan mendapatkan respon yang positif dari para petani. Akan tetapi untuk pemberian pengertian pada petani tentang dampak negatif penggunaan pupuk kimiawi membutuhkan waktu dan bukti yang nyata. Hasil dari kegiatan yang lain adalah bahwa penggunaan pupuk hayati mikoriza dapat  memberikan respon postif pada tanaman ubi kayu baik pada pertumbuhan maupun hasil, serta memberikan dampak positif pada reklamasi lahan pertanaman ubi kayu secara berkelanjutan. Sedangkan peningkatkan efektifitas dan efisiensi budidaya ubi kayu menggunakan pupuk hayati mikoriza terbukti dengan nilai produksi yang kurang lebih hampir sama dengan produksi menggunakan pupuk kimiawi, terutama bila dilakukan secara berkelanjutan.    Berdasarkan hasil tersebut diatas disarankan untuk melakukan kegiatan lanjutan berupa pembinaan pada petani dalam hal produksi inokulum pupuk hayati mikoriza, serta budidaya ubi kayu ke arah pertanian organik dengan memanfaatkan potensi pupuk hayati mikoriza itu sendiri. Selain itu dapat diupayakan memproduksi inokulum mikoriza untuk skala komersial, sekaligus menyebarluaskan pada petani ubi kayu di wilayah lain.

PENGARUH JENIS BAHAN PEMBENAH TANAH TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS TANAMAN KUMIS KUCING (Orthosiphon arisatus (BI.) Miq.) DENGAN BUDIDAYA ORGANIK

AGRITECH Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.637 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan pembenah tanah terhadap kuantitas dan kualitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik. Selain itu juga untuk memperoleh jenis bahan pembenah tanah yang paling optimum bagi kuantitas dan kualitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik.Percobaan pot dilaksanakan di Desa Karangsoka, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, dengan ketinggian tempat 68 m dpl, selama ±  8 bulan.  Penelitian ini menggunakan faktor tunggal, yaitu empat taraf perlakuan pemupukan : M0 = tanpa pemupukan, M1  = pemupukan mikoriza, M2  = pemupukan arang sekam, dan M3  = pemupukan arang sekam dan mikoriza.  Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 ulangan.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis bahan pembenah tanah tidak berpengaruh nyata terhadap kuantitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik, yaitu bobot basah daun tanaman. Selain itu jenis bahan pembenah tanah juga tidak berpengaruh nyata pada kadar abu dan kadar air daun tanaman kumis kucing dengan budidaya organik. Penambahan bahan pembenah tanah arang sekam dan mikoriza mampu menghasilkan daun tanaman kumis kucing dengan kandungan Kalium 1,984 % yang termasuk dalam kisaran memenuhi syarat sebagai bahan obat. Oleh karena itu disarankan adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih dalam tentang budidaya tanaman kumis kucing secara organik, terutama yang mengkaji penggunaan bahan pembenah tanah arang sekam dan mikoriza. Selain itu perlu dilakukan pula tinjauan kualitas kandungan  senyawa bioaktif selain Kalium.

KETERGANTUNGAN TANAMAN TERHADAP MIKORIZA SEBAGAI KAJIAN POTENSI PUPUK HAYATI MIKORIZA PADA BUDIDAYA TANAMAN BERKELANJUTAN

AGRITECH Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.107 KB)

Abstract

Mikoriza adalah struktur sistem perakaran yang tertentu sebagai manifestasi adanya simbiosis mutualis antara cendawan (myces) dan perakaran (rhiza) tumbuhan tingkat tinggi.  Konsep ketergantungan tanaman akan mikoriza adalah tingkat relatif dimana tanaman tergantung pada keberadaan cendawan mikoriza untuk mencapai pertumbuhannya yang maksimum pada tingkat kesuburan tanah tertentu.Setelah melalui kajian mendasar dari pustaka terkait dan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat digarisbawahi beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan dalam melakukan kegiatan budidaya tanaman yang mengarah pada pertanian berkelanjutan dengan mendayamanfaatkan potensi mikoriza, di antaranya: Berkaitan dengan pengembangan keilmuan, masih kurangnya informasi tentang ketergantungan tanaman terhadap mikoriza untuk beberapa tanaman di Indonesia, maka penelitian tentang hal ini masih perlu dilakukan.  Diharapkan hasil-hasil penelitian yang ada lebih diarahkan pada tanaman-tanaman dengan nilai ekonomi tinggi, atau tanaman-tanaman yang merupakan kebutuhan ‘prioritas’ masyarakat pada umumnya.  Sehingga upaya ke arah pengambangan pertanian berkelanjutan dapat lebih cepat tercapai.Selanjutnya,  dapat dikemukakan bahwa ketergantungan tanaman terhadap mikoriza dapat digunakan sebagai pertimbangan mendasar potensi pendayamanfaatan mikoriza pada budidaya tanaman berkelanjutan. Kata kunci : ketergantungan mikoriza, potensi mikoriza, pertanian berkelanjutan

KERAGAMAN PADI GOGO LOKAL DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH

AGRITECH Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.924 KB)

Abstract

The potential of dry land which is functioned as cultivation of upland rice is expected to be able to create food autonomy in our country. Besides, for the development of the tree’s seed plasma to another location (ex situ) really requires the condition of the environment which resembles its in situ condition and for the need of preservation of the food tree’s seed plasma is really needed innovation of indigenous technology which is sufficient and easily absorbed by farmers. The problem arises when the seed of upland rice with various best qualities is difficult to find. Therefore, it really requires the identification of local upland rice either as the glorification material or to be developed through cultivation by using its various best qualities. The result of this research is expected to be able to preserve the local upland rice seed plasma as well as capable of recognizing varieties of local upland rice then known the strength and the uniqueness of each variety so that it can be used as guidance for the farmers to be planted or for the researchers as the genetic material. The research was conducted in districts in Banyumas regency which is previously done the initial survey to obtain suitable local information. The research was done from April to July, 2013 (for four months). The research used survey method with qualitative approach. Basic method in the research is descriptive analysis method. The data collection was done by using survey, that is the way of collecting the data using observation or investigation to get clear explanation and either toward a certain problem in a region or in certain regions. Based on the result of the research, it can be concluded that in the mean time variety of upland rice which is mostly cultivated by the farmers in Bamyumas regency is Situbagendit, Situpatenggang, and Ciherang variety. Besides, there are 13 varieties of Banyumas local rice extinct as the result of not to be cultivated intensively, that are Hitam rice, Gandamana rice, Kidangsari rice, Konyal rice, Cere Unggul rice, Cere Kuning rice, Sari Wangi rice, Pandan Wangi rice, Mentik Wangi rice, Mentik rice, Mendali rice, Sri Wulan rice, Wangi Lokal rice (some are potentially developed as upland rice) are high production, short age, resistance of plant disease. Meanwhile, for Situ Patenggang rather resists of dryness. Keywords: Diversity, upland rice, local, Banyumas