- Haeruddin
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 22 Documents
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGARUH PENGELOLAAN KUALITAS AIR TERHADAP TINGKAT KELULUSHIDUPAN DAN LAJU PERTUMBUHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI PT. INDOKOR BANGUN DESA, YOGYAKARTA Fuady, Muhammad Faiz; Haeruddin, -; Nitisupardjo, Mustofa
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.962 KB)

Abstract

Adanya pengelolaan kualitas air yang baik dapat menjaga kualitas air agar sesuai dengan baku mutu dan dapat meningkatkan produktivitas tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengelolaan kualitas air pada proses budidaya udang vaname yang di lakukan oleh PT. Indokor dan mengetahui pengaruh pengelolaan kualitas air terhadap laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan udang vaname . Penelitian ini  dilaksanakan pada bulan September - November 2012. Hasil yang diperoleh melalui pengukuran kualitas air pada budidaya intensif adalah kadar oksigen terlarut berkisar antara 3,9 - 7,8 mg/l, kadar karbondioksida bebas berkisar antara 2,6 − 5,1 mg/l, nilai pH berkisar antara 6,47 – 7,65, nilai suhu berkisar antara 24 0C  − 29 0C, nilai kecerahan berkisar antara 20 − 39 cm, nilai salinitas berkisar 15 − 19 ppt,  nilai kandungan nitrit berkisar 0,010  – 0,052 mg/l, dan nilai kandungan amonia berkisar 0,006  – 0,017 mg/l. Kemudian rata-rata nilai laju pertumbuhan udang adalah 0,24 gram/hari dan tingkat kelulushidupan sebesar 84 %. Sedangkan pada budidaya semi intensif di peroleh  kadar oksigen terlarut berkisar antara 1,8 – 3,5 mg/l, kadar karbondioksida bebas berkisar antara 4,9 – 6,6 mg/l, nilai pH berkisar antara 5,63 – 6,64, nilai suhu berkisar antara 26 0C  − 29 0C, nilai kecerahan berkisar antara 15 − 39 cm, nilai salinitas berkisar 16 − 18 ppt. Kemudian rata-rata nilai laju pertumbuhan udang adalah 0,18 gram/hari dan tingkat kelulushidupan sebesar 75 %. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya pengelolaan kualitas air yang baik pada budidaya intensif di PT. Indokor dapat meningkatkan nilai paramater kualitas air, laju pertumbuhan serta tingkat kelulushidupan udang vaname (Litopenaeus vannamei).
STUDI MORFOMETRI DAN FAKTOR KONDISI SOTONG (Sepiella inermis: Orbigny, 1848) YANG DIDARATKAN DI PPI TAMBAKLOROK, SEMARANG Rochman, Nur; Afiati, Norma; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.786 KB)

Abstract

S. inermis merupakan spesies kompleks dan umumnya memiliki ukuran yang kecil dengan sirip yang sempit. S. inermis dapat ditemukan pada perairan dengan kisaran kedalaman 10-20 meter. Sifat pertumbuhan penting untuk dipelajari baik melalui studi panjang berat, faktor kondisi, dan morfometri karena dapat digunakan untuk upaya pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dimana pelaksanaannya melalui teknik survei dan pengambilan sampel menggunakan metode systematic random sampling. Data yang digunakan adalah data panjang mantel (mm) dan berat (gram) dari S. inermis serta pengukuran beberapa variabel morfometri (mm). Dari hasil penelitian hubungan panjang berat S. inermis mengikuti persamaan W = 0,00129 L2,4978. Hal tersebut menunjukkan bahwa sifat pertumbuhan dari S. inermis adalah allometrik negatif. Itu berarti bentuk tubuhnya kurus dan pertambahan panjangnya lebih cepat dari pertambahan berat. Sementara itu berdasarkan hasil pengukuran morfometri menunjukkan variasi sifat pertumbuhan antara variabel-variabel yang diperbandingkan. Lengan memiliki kecepatan tumbuh yang lebih cepat dibandingkan dengan mata, kepala, dan tentakel. Hal itu karena peran lengan yang sangat penting dalam proses kehidupannya untuk menangkap dan menaklukkan buruannya.
TINGKAT PENCEMARAN DETERJEN PADA SEDIMEN MENGGUNAKAN INDIKATOR KIMIA-BIOLOGI DI SUNGAI SAYUNG Putri, Dwi Santi; Haeruddin, -; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.373 KB)

Abstract

Dewasa ini tingkat pencemaran air mengalami peningkatan secara tajam seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Zat pencemar yang berasal dari deterjen ini masuk ke lingkungan perairan dan akan tersebar ke air, terabsorsi oleh biota laut serta terakumulasi dalam sedimen. Oleh karena itu perlunya penelitian tentang tingkat pencemaran deterjen pada sedimen mengunakan indikator kimia dan biologi. Tujuan dari penelitian ini antara lain mengetahui konsentrasi deterjen didalam sedimen, KR dan H’ makrozoobentos, mengkaji hubungan antara konsentrasi deterjen didalam sedimen dengan kelimpahan individu makrozoobentos dan menentukan tingkat pencemaran sedimen berdasarkan konsentrasi deterjen dan struktur komunitas makrozoobentos. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik penentuan lokasi pengambilan sampel Purposive sampling. Sampling dilakukan dua kali dengan 2 kali pengulangan. Pengukuran konsentrasi deterjen dalam sedimen, identifikasi makrozoobentos Setelah dilakukan identifikasi dan penghitungan jumlah spesies, selanjutnya dilakukan perhitungan nilai Kelimpahan individu dan Kelimpahan Relatif (KR), Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (e), serta Indeks Dominasi (D). Hasil nilai konsentrasi deterjen  pada sampling I dan II yaitu stasiun 1 berkisar 0,18 – 5,53 mg/kg, stasiun 2 berkisar 47,21 – 123,17 mg/kg, stasiun 3 berkisar 2,30 – 5,50 mg/kg, stasiun 4 0,02-0,96 mg/kg. Nilai KR pada stasiun 1 sampling I dan II adalah 87% dan 94%; stasiun 2 sampling I dan II adalah 97% dan 98%; stasiun 3 sampling I dan II adalah 88%, dan 82%; stasiun 4 sampling I dan II adalah 46% dan 43%. Nilai H’ stasiun 1 sampling I dan IIadalah 0,44 dan 0,25; stasiun 2 sampling I dan II adalah 0,14 dan 0,09;  stasiun 3 sampling I dan II adalah 0,51 dan 0,49; stasiun 4 sampling I dan II adalah 1,49 dan 1,28. Kesimpulan yang didapat yaitu sedimen sungai Sayung tercemar oleh deterjen, struktur komunitas makrozoobentos dengan melihat indeks keanekaragaman berkisar 0,14 – 1,49 yang menunjukkan bahwa kemampuan perairan sungai Sayung untuk mendukung kelangsungan hidup makrozoobentos tergolong rendah dan dilihat kondisi kestabilan suatu komunitas dalam keadaan tidak stabil.
JENIS KEPITING BAKAU (Scylla sp.) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN LABUHAN BAHARI BELAWAN MEDAN Hia, Putri March F; Hendrarto, Boedi; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.952 KB)

Abstract

Labuhan Bahari Belawan Medan merupakan sebuah pulau yang terletak di Selat Malaka, Sumatera Utara. Salah satu sumberdaya perikanan di perairan tersebut adalah kepiting bakau, namun informasi  mengenai kepiting bakau pada daerah ini masih kurang terutama jenis spesiesnya. Tujuan dari penelitian yang dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2012 ini adalah untuk mengetahui jenis dan morfologi kepiting bakau, kelimpahan yang mendominasi, dan mengetahui ekonomi kepiting bakau di perairan Labuhan Bahari Belawan Medan. Kepiting yang diteliti adalah kepiting bakau yang tertangkap di wilayah mangrove dan sekitar tambak yang ditumbuhi mangrove. Sampling dilakukan dengan alat tangkap bubu oleh masyarakat sekitar dinamakan bubu planet. Kepiting yang tertangkap diidentifikasi dan dilakukan pengukuran morfometrik kemudian menganalisa data yang didapatkan, dan wawancara nelayan untuk mengetahui nilai ekonomi kepiting bakau tersebut. Jumlah spesies kepiting bakau yang ditemukan  adalah 3 spesies yaitu Scylla tranquebarica, Scylla serrata dan Scylla paramamosain, dengan kelimpahan yang mendominasi adalah Scylla tranquebarica sebesar 54,72%, Scylla paramamosain sebesar 33,96%, dan Scylla serrata sebesar 11,32% di stasiun I (di kawasan mangrove), sedangkan di stasiun II (di luar kawasan mangrove) Scylla serrata 45,76%, Scylla tranquebarica sebesar 33,98%, dan Scylla paramamosain sebesar 15,25%. Kepiting bakau yang biasanya dipasarkan adalah kepiting yang memiliki berat ≥200 gram per ekor baik jantan maupun betina.
STATUS SEDIMEN SUNGAI BREMI KABUPATEN PEKALONGAN DITINJAU DARI ASPEK KIMIA DAN BIOLOGI Istiqomah, Nurbaity; Purwanti, Frida; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.564 KB)

Abstract

Sepanjang aliran Sungai Bremi, terdapat banyak industri batik rumahan yang membuang limbah ke sungai sehingga Sungai Bremi tersebut mengalami penurunan kualitas perairan. Bahan pencemar yang masuk ke dalam perairan tersebut akan terakumulasi dalam sedimen, khususnya logam berat seperti kromium dan  fenol. Masuknya bahan pencemar ke dalam sedimen dapat mempengaruhi organisme yang tinggal dalam sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kromium, fenol, tekstur sedimen, struktur komunitas makrobentos, pola hubungan antara konsentrasi kromium dan fenol dengan struktur  komunitas (keanekaragaman dan kelimpahan) makrobentos di Sungai Bremi, dan status sedimen Sungai Bremi ditinjau dari konsentrasi kromium, fenol, dan struktur komunitas makrobentos. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2013 di tiga stasiun.                Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel sedimen sungai dan sampel makrobentos. Ekman Grab digunakan untuk mengambil sampel Rose bengole digunakan untuk memberi warna pada sampel makrobentos dan formalin 4% untuk mengawetkan sampel makrobentos. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling di 3 stasiun secara komposit, kemudian substrat disaring menggunakan saringan yang bermesh size 0,5 mm. Material-material yang tertinggal kemudian dimasukkan kedalam botol sampel, setelah itu diberi formalin 4 % dan 1-2 tetes rose bengole.                Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi kromium berkisar 3,395-8,768 ppm, fenol antara 0,035-0,0623 ppm, dan fraksi sedimen dari ketiga stasiun tersebut adalah lanau berpasir. Makrobentos hanya ditemukan di stasiun I yang terdiri atas 4 spesies yakni Chironomus sp, Lymnea sp, Nereis sp, dan Tubifex sp dengan kelimpahan sebesar 1270 ind/m3. Nilai indeks keanekaragamannya 0,687, indeks keseragamannya 0,49, dan indeks dominasinya 0,66. Nilai koefisien korelasi (r) antara konsentrasi kromium, fenol dengan struktur komunitas berkisar 0,617-0,797. Nilai tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan kuat antara konsentrasi kromium, fenol dengan struktur komunitas makrobentos memiliki korelasi yang kuat. Hasil konsentrasi kromium, fenol dibandingkan dengan kriteria atau baku mutu sedimen  menunjukkan bahwa sedimen Sungai Bremi dalam keadaan tercemar.
STATUS KUALITAS PERAIRAN SUNGAI BREMI KABUPATEN PEKALONGAN DITINJAU DARI KONSENTRASI TSS, BOD5, COD DAN STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON Mayagitha, Kafin Aulia; Haeruddin, -; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.002 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi TSS, BOD5, COD, struktur komunitas fitoplankton, dan pola hubungan konsentrasi TSS, BOD5, COD dengan struktur  komunitas fitoplankton di Sungai Bremi, serta mengetahui status kualitas perairan Sungai Bremi ditinjau dari konsentrasi TSS, BOD5, COD dan struktur komunitas fitoplankton. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2013 di Sungai Bremi Kabupaten Pekalongan. Dari hasil pengamatan, fitoplankton yang ditemukan di tiga stasiun terdiri atas kelas Bacillariophyceae, Dinophyceae, dan Cyanophyceae dengan kelimpahan berkisar antara 1042-1271 sel/liter. Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 1,283-1,382, indeks keseragaman berkisar antara 0,617-0,685, dan indeks dominansi berkisar antara 0,275-0,394. Hasil konsentrasi TSS di tiga stasiun berkisar antara 58,5-93,16 mg/l, konsentrasi BOD5 berkisar antara 10,71-11,49 mg/l, dan konsentrasi COD berkisar antara 80,21-93,16 mg/l. Nilai koefisien korelasi (r) antara konsentrasi TSS, BOD5, dan COD dengan struktur komunitas fitoplankton berkisar antara 0,750-0,828. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hubungan konsentrasi TSS, BOD5, dan COD dengan struktur  komunitas fitoplankton memiliki korelasi yang kuat. Status kualitas perairan Sungai Bremi ditinjau dari konsentrasi TSS, BOD5, COD dan struktur komunitas fitoplankton dalam kondisi tercemar.
SEBARAN SPASIAL DAN TEMPORAL FENOL, KROMIUM DAN MINYAK DI SEKITAR SENTRA INDUSTRI BATIK KABUPATEN PEKALONGAN Saraswati, Yustiara Widya; Haeruddin, -; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.273 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi fenol, kromium dan minyak serta sebarannya secara spasial dan temporal di sekitar sentra industri batik dalam air Sungai Bremi Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2013 di Sungai Bremi Kabupaten Pekalongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, sedangkan pengambilan sampel menggunakan metode composite sample yang merupakan penggabungan sampel air agar mendapatkan sampel sehomogen mungkin sehingga sampel dapat mewakili kualitas perairan sesungguhnya. Penelitian ini menggunakan materi air Sungai Bremi dan data citra Landsat 8 Jawa Tengah, materi utama adalah air Sungai Bremi yang kemudian dilihat konsentrasi dari fenol, kromium dan minyak yang terdapat pada sampel. Sebaran spasial dari konsentrasi fenol, kromium dan minyak dapat dilihat menggunakan ER-Mapper 7.0. Pengambilan sampel dilakukan di 3 stasiun, dimana pada setiap stasiun terdapat 3 titik sampling.Hasil penelitian konsentrasi fenol Sungai Bremi bulan Mei dan Juni berkisar antara 0-0,031 mg/l, konsentrasi kromium 0,0005 mg/l dan konsentrasi minyak bulan Mei dan Juni berkisar antara 3,6-23,6 mg/l. Sebaran spasial dan temporal fenol  tertinggi bulan Mei terdapat pada stasiun 1 sedangkan sebaran spasial dan temporal tertinggi fenol bulan Juni di stasiun 2. Sebaran spasial dan temporal minyak tertinggi bulan Mei dan Juni  terdapat pada stasiun 3, sedangkan sebaran spasial dan temporal kromiun dikatakan konstan karena konsentrasi tiap titiknya sama.
STUDI PENGARUHNYA DETERJEN TERHADAP KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR SEMARANG Swary, Amalia; Hutabarat, Sahala; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.617 KB)

Abstract

Sungai Banjir Kanal Timur merupakan sungai yang terletak di daerah Semarang Timur. Sepanjang aliran sungai terdapat pemukiman warga setempat, perikanan, dan kawasan industri. Deterjen adalah pembersih sintesis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi dan mengandung  bahan-bahan kimia antara lain surfaktan, builder, filler, dan additives. Surfaktan mempunyai perbedaan yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Fitoplankton merupakan organisme yang hidup di perairan berukuran sangat kecil dan dapat menguntungkan bagi organisme lainya serta sebagai produser utama di dalam  rantai makanan yang ada di perairan. Tujuan penelitian untuk mengetahui konsentrasi deterjen, kelimpahan, indeks keanekaragamaan, keseragamaan, serta dominasi fitoplankton dan saprobik indeks, pengaruh konsentrasi deterjen terhadap fitoplankton di Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode penelitian survey. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Konsentrasi deterjen  tertingi sebesar 7,67 mg/L, kelimpahan fitoplankton sebesar 1405 ind/L dengan 13 genera, keanekaragaman sebesar 2,61, keseragaman sebesar 1 serta dominasi fitoplankton sebesar 0,13 dan yang mendominasi adalah Euglena sp. dari kelas Euglenoidea dan Indeks Saprobitas sebesar -0,42 dan Trofik Saprobik Indeks sebesar -0,10. Perairan tersebut termasuk dalam golongan α-Mesosaprobik/perairan cukup berat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara konsentrasi deterjen dengan kelimpahan fitoplankton menunjukkan korelasi yang erat sekali (r) 0,963. Nilai R2 (determinasi) 0,927 dengan tingkat keeratan sebesar 92,7 % . Banjir Kanal Timur River is located in east part of Semarang. Along the river there are local residents, fisheries activity and industrial area. Detergent is sintetic cleaning which made from derivated of oil and containing chemical material such as surfactan, builder, filler, and additives. There are 2 kind of surfactan, hydrophile dan hydrophobe. Phytoplankton is small organism living in the waters dan favorable to others organism, phytoplankton is main producer in waters food chain. This purpose research are to know detergent concentration, phytoplankton abundance, diversity, eveness, domination and saprobic indexs, and the influence of detergent the living of  phytoplakton in Banjir Kanal Tmur River Semarang. This methode research used survey research and to colect the samples/datas used purposive sampling methode. The highest concentration detergent is 7.67 mg/L and phytoplankton abundance  is 1405 ind/L with 13 genera. This research showed that diversity is 2,61, eveness is 1 and the domination is 0.13, dominated by Euglena sp. from class of Euglenoidea. This research also show that Saprobic index is -0.42 and trophic saprobic index is -0.10, this mean that Banjir Kanal Timur River is clasified of α-Mesosaprobik waters or the river is in high contamination. This result show that there is high corelation between detergent consentration and phytoplankton abundance with (r) value is 0.963, (R2) determination value is 0.927 and precentage is 92.7%.
EFISIENSI PENGGUNAAN OIL WATER SEPARATOR PADA KAPAL PENANGKAP IKAN UNTUK PENCEGAHAN PENCEMARAN MINYAK DI LAUT (STUDI KASUS KM. MANTIS) DI BBPPI SEMARANG Setiawan, Teguh Edi; Haeruddin, -; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.463 KB)

Abstract

Cemaran minyak akan berdampak pada penurunan daya dukung lingkungan yang dapat mengganggu kehidupan organisme perairan. Cemaran minyak dapat berasal dari limbah cair kamar mesin kapal. Berdasarkan ketentuan IMO (International Maritime Organization) yaitu harus kurang dari 15 ppm. Kapal berukuran di atas 100 GT diwajibkan menggunakan OWS (Oil Water Separator) sebagai alat pemisah air dan minyak. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang mencoba menerapkan penggunaan OWS pada kapal penangkap ikan berukuran di bawah 100 GT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan OWS, dan perbedaan toksisitas minyak sebelum dan setelah diolah dengan OWS terhadap Chlorella vulgaris. Penelitian dilaksanakan pada bulan November – Desember 2013. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan menganalisis kandungan minyak. Dilanjutkan analisis efisiensi OWS dan uji toksisitas minyak terhadap alga Chlorella vulgaris sebelum dan setelah diolah dengan OWS. Kemudian dilakukan uji statistika T berpasangan apabila distribusi data normal dan uji wilcoxon apabila distribusi data tidak normal dengan taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan OWS mampu mereduksi kandungan minyak dari sebelum diolah dengan OWS antara 2.083,60 mg/L - 29.246,60 mg/L menjadi  8,40 mg/L - 23,20 mg/L setelah diolah, tingkat efisiensi mencapai 99,3% - 99,9%. Hasil analisis statistik uji wilcoxon pada hasil uji toksisitas (p < 0,05) OWS mampu mengurangi toksisitas limbah cair kamar mesin mengandung minyak sebelum dan setelah diolah dengan OWS terhadap Chlorella vulgaris. Oil pollution results in the reduction of environmental capacity which can disturb the life of aquatic organism. The waste water from engine room of the vessel is one of the source oil pollution. Based on IMO (International Maritime Organization) recommendation which are less than 15 ppm. Vessel measuring above 100 GT must use OWS (Oil Water Separator) as the equipment to separate water and oil. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) semarang has tried to apply the usage of OWS at the fishing vessel measuring under 100 GT. This research has intended to determine the efficiency of using OWS, and the difference of oil toxicity before and after processed OWS to Chlorella vulgaris. The research was carried in November – December 2013. The methods used are laboratory experimental by analyzing oil continued by OWS efficiency analysis and testing oil toxicity on Chlorella vulgaris before and after processed using OWS. After that, data was analyzed using paired sample T-test if the data distribution was normal or wilcoxon test if the data distribution was abnormal using significancy level 95%. The result that OWS was able to reduce the oil content from 2.083,60 mg/L - 29.246.60 mg/L before processed, and 8,40 mg/L - 23,20 mg/L after processed with OWS, with efficiency level attained 99,3% - 99,9%. The statistical analysis using wilcoxon test at toxicity test (p<0,05) that OWS was able to reduce waste water from engine room that contains oil and it has proven by comparing the toxic level before and after processed using OWS to Chlorella vulgaris.
KANDUNGAN TOTAL PADATAN TERSUSPENSI, BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND DAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND SERTA INDEKS PENCEMARAN SUNGAI KLAMPISAN DI KAWASAN INDUSTRI CANDI, SEMARANG Andara, Diani Riezki; Haeruddin, -; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.855 KB)

Abstract

Sungai seringkali dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir dari limbah hasil kegiatan manusia, yang dapat menambah beban pencemaran. Masukan bahan-bahan dari luar baik yang berguna bagi peningkatan kondisi perairan juga memberi dampak pada penurunan kualitas perairan bila badan sungai dimasuki oleh bahan-bahan tersebut dalam konsentrasi yang berlebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan Total Padatan Tersuspensi (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta menentukan nilai Indeks Pencemaran (IP) dari Sungai Klampisan yang terletak di Kawasan Industri Candi, Ngaliyan, Semarang. Penentuan lokasi pengambilan sampel (data primer) dengan cara melakukan observasi di sekitar aliran Sungai Klampisan yang bertujuan untuk mencari lokasi sebagai obyek pengambilan sampel parameter kualitas air. Pengambilan sampel pada Sungai Klampisan dilakukan pada tiga stasiun pengamatan. Stasiun pertama berada pada bagian upper stream sungai yang alirannya terletak sebelum sumber pencemar, stasiun kedua berada pada bagian mid stream sungai yang alirannya terletak dekat dengan sumber pencemar, stasiun ketiga berada pada bagian lower stream sungai yang alirannya terletak setelah sumber tercemar. Pengambilan air sampel dilakukan pada dua titik yang memiliki jarak yang sama pada lebar penampang sungai di setiap stasiun dengan dua kali pengulangan. Kandungan TSS paling tinggi terdapat pada bulan Februari 2014 di stasiun tiga yaitu 45 mg/l sementara kandungan BOD paling tinggi terdapat pada bulan Februari 2014 di stasiun satu yaitu 20,69 mg/l dan distribusi kandungan COD paling tinggi terdapat pada bulan Januari 2014 di stasiun satu yaitu 73,5 mg/l. Sungai Klampisan termasuk dalam kriteria tercemar ringan dengan nilai Pij berkisar antara 1,0 < Pij ≤  5,0. Rivers are often used as landfill waste from human activities , which can add to the pollution load. Supply of materials from outside which is useful for the improvement of water conditions also have an impact on river quality degradation when penetrated by these materials in excess concentrations. The purpose of this study were to determine the content of Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD) and Chemical Oxygen Demand (COD) and determine the value of Pollution Index (PI) in Candi Industrial Area, Klampisan River, Ngaliyan, Semarang. This research held on January to February 2014. Determination of sampling sites (primary data) by means of observation around Klampisan river flow which aims to find the object of location sampling for water quality parameters. Sampling was carried out on the River Klampisan at three observation stations. The first station is located at the upper stream of the river flow which is located before the sources of pollution, second station is in the mid section of the river stream flow which is located close to pollution sources, the third station is located on the lower part of the river stream whichis polluted sources. Water samples was collected on two points that have the same distance to the cross section width of the river at each station with two replications. The highest TSS content is 45mg/l in February 2014 at third station, the highest BOD content is 20.69 mg/l in February 2014 at the first station and the highest COD content is 73.5 mg/l in January 2014 at the first station. River Klampisan is included in criteria of lightly polluted with Pij values ranging between 1.0 <Pij ≤ 5.0.