Articles

Found 28 Documents
Search

MATERI PEMBELAJARAN EKOLOGI HEWAN: POLA DIVERSITAS KOMUNITAS GASTROPODA EKOSISTEM MANGROVE CILACAP KARYANTO, PUGUH; HADISUSANTO, SUWARNO
Bioedukasi Vol 2, No 1 (2005): BIOEDUKASI
Publisher : Bioedukasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6279.311 KB)

Abstract

---
KOMPOSISI DAN KEMELIMPAHAN FITOPLANKTON DI LAGUNA GLAGAH KABUPATEN KULONPROGO PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Ramadani, Aisyah Hadi; Wijayanti, Arini; Hadisusanto, Suwarno
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.125 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi jenis fitoplankton di laguna Glagah; 2) meng-identifikasi kemelimpahan fitoplankton di laguna Glagah; 3) mempelajari  hubungan faktor fisiko-kimia  lingkungan dengan kemelimpahan fitoplankton di laguna Glagah. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2012 di laguna Glagah desa Glagah kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo DIY. Pengambilan sampel  dilakukan pada 3 stasiun pengamatan untuk mengidentifikasi faktor fisiko-kimia (pH, DO, dan alkalinitas) dan mengidentifikasi fitoplankton. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada pukul 08.00 WIB (pagi) dan 13.00 WIB (siang). Pengujian faktor fisiko-kimia dan identifikasi fito-plankton dilakukan di laboratorium ekologi Fakultas Biologi UGM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitoplankton yang ditemukan di laguna Glagah berjumlah 9 spesies dalam 3 fungsional grup dengan kemelimpahan rata-rata sebesar 1839.667 individu/L pada pagi hari dan 1640,333 pada siang hari. Fitoplankton yang paling melimpah adalah diatom. Berdasarkan analisis regresi korelasi antara kemelimpahan fitoplankton dan faktor fisiko-kimia perairan Laguna Glagah maka diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara faktor fisiko kimia meliputi pH, DO, dan alkalinitas dengan kemelimpahan fitoplankton.  Kata kunci: Kemelimpahan, Komposisi, Fitoplankton, Laguna, Glagah, Fisiko-Kimia
KOMPOSISI DAN KEMELIMPAHAN ZOOPLANKTON DI LAGUNA GLAGAH KABUPATEN KULONPROGO PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Saputra, Alanindra; Lestari, Enggar; Hadisusanto, Suwarno
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.4 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi jenis zooplankton  di laguna Glagah; 2) meng-identifikasi kemelimpahan zooplankton di laguna Glagah; 3) mempelajari hubungan faktor fisiko-kimia  lingkungan dengan kemelimpahan zooplankton di laguna Glagah. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2012 di laguna Glagah desa Glagah kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo DIY. Peng-ambilan sampel dilakukan pada 3 stasiun pengamatan untuk mengidentifikasi faktor fisiko-kimia (pH, DO, dan alkalinitas) dan mengedentifikasi zooplankton. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pa-da pukul 08.00 WIB (pagi) dan 13.00 WIB (siang). Pengujian faktor fisiko-kimia dan identifikasi zoo-plankton dilakukan di laboratorium ekologi Fakultas Biologi UGM.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa zooplankton yang ditemukan di laguna Glagah berjumlah 27 spesies yang dikelompokkan dalam 7 fungsional grup dengan rata-rata kemelimpahan sebesar 689.3333 individu/L pada pagi hari dan 1640.3333 individu/L pada siang hari. Zooplankton yang paling melimpah adalah  Nauplius.  Analisis regresi korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor fisiko-kimia lingkungan dengan kemelimpahan zooplankton yang ditemukan di laguna Glagah.   Kata kunci: Kemelimpahan, Komposisi, Zooplankton, Laguna, Glagah, Fisiko-Kimia
PENGARUH STRUKTUR VEGETASI TERHADAP KELIMPAHAN KERANG BAKAU (Polymesoda erosaLightfoot 1786) PADA MUSIM KEMARAU DI KAWASAN HUTAN MANGROVE SEGARAANAKAN CILACAP Anwari, M. Sofwan; narto, Su; bahri, Dul; Hadisusanto, Suwarno
Jurnal TENGKAWANG Vol 3, No 1 (2013): Jurnal Tengkawang
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to analysis the effect of vegetation structure on abundance of mangrove clam (Polymesoda erosa Lightfoot 1786) at dry season in mangrove forest of Segaraanakan Cilacap. This forest has a degradation area from 17.090 hectare to 9.272 hectare because of illegal logging on mangrove vegetation. The degradation of mangrove vegetation will cause on degradation on mangrove clams. Method of the research was stratified purposive sampling based on mangrove. vegetation  The results of research showed that from cubic regression analysis the mangrove saplings vegetations has no effect onthe abundance of mangrove clams, vice versa, the mangrove seedlings has an effect onthe abundance of mangrove clams. Bio-environment analysis results indicate that mangrove seedlings which influence to mangrove clams abundance were Acanthu sebrateatus, Avicennia marina, Acrostimum speciosum and Sonneratia alba. Keywords: abundance, mangrove clam, structure vegetation Segaraanakan Cilacap.
AKUMULASI DAN DAMPAK LOGAM Pb (TIMBAL) PADA TANAMAN PENEDUH JALAN DI KOTA TERNATE, MALUKU UTARA Tabaika, Rosita; Hadisusanto, Suwarno
BIOEDUKASI Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kendaraan bermotor roda dua di Kota Ternate kebanyakan digunakan sebagai kendaraan umum penumpang selain kendaraan roda empat sehingga meningkatnya kendaraan bermotor baik itu roda dua maupun  roda  empat  sudah  tidak  seimbang  lagi  dengan  jalan  yang  tersedia  sehingga  pemerintah  perlu mengatur sirkulasi arus lalu lintas. Melihat besarnya dampak negatif Pb yang dikeluarkan oleh emisi gas buang kendaraan bermotor terhadap kesehatan manusia, maka diperlukan tindakan untuk mereduksi Pb dari udara yaitu dengan menggunakan jenis tanaman yang mampu menyerap Pb sehingga keefektifan tanaman sebagai biofilter untuk mereduksi Pb dapat ditingkatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kandungan Pb daun Pterocarpus indicus Willd dan Mimusops elengi L. di Jalan Zainal A. Syah dan Jalan Siswa, serta mengkaji pengaruh Pb terhadap klorofil-a, klorofil-b, luas daun dan stomata daun Pterocarpus indicus Willd dan Mimusops elengi L. Penelitian ini berlokasi di Kota Ternate pada Bulan September dan Oktober 2011. Sampel diukur kadar timbalnya dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) melalui metode pengabuhan. Hasil penelitian menunjukkan kandungan Pb daun Pterocarpus indicus Willd di Jalan Zainal A. Syah dan Jalan Siswa berkisar 406,7-647,5 ppb dan kandungan Pb daun Mimusops elengi L. berkisar 423-721,2 ppb. Secara umum dapat disimpulkan bahwa efisiensi akumulasi Pb daun Mimusops elengi L. lebih tinggi   dibanding daun Pterocarpus indicus Willd di Jalan Zainal A. Syah maupun Jalan Siswa. Pengaruh kandungan Pb daun terhadap klorofil-a, dan stomata daun tidak signifikan sedangkan klorofil-b dan luas daun signifikan. Kata kunci : Kendaraan bermotor, Pb, Biofilter,Pterocarpus indicus Willd, Mimusops elengi L.
Hubungan Kepadatan dan Biting Behaviour Nyamuk Anopheles farauti Dengan Kasus Malaria di Ekosistem Pantai dan Rawa (Kabupaten Biak Numfor dan Asmat) Kawulur, Hanna S.I.; Soesilohadi, Hidayat; Hadisusanto, Suwarno; Trisyono, Y. Andi
Journal of Biota Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014
Publisher : PBI Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractPopulation density and bitting behaviour of insect vectors are several of the factors that influence the number of cases of malaria. This study aims to determine the relationship between population density and bitting behaviour Anopheles farauti which is a vector of malaria in coastal ecosystems (Biak Numfor Regency) and swamp ecosystems (Asmat Regency) with malaria cases. The method used is human landing collection conducted at 18:00 to 6:00 a.m. inside and outside the house. The results showed that the population density of An. farauti in coastal ecosystems is relatively lower than the swamp ecosystems. Man bitting rate in coastal ecosystems is 4 and 4.66, at 95.52 and 42.38 in swamp ecosystem. An. farauti on two ecosystems research are eksofilik. Population density and bitting behaviour An. farauti in coastal ecosystems and swamp ecosystems are not positively correlated with the number of malaria cases.Keywords: population density, biting behavior, An. farauti, Biak Numfor, AsmatAbstrakKepadatan populasi dan aktivitas menggigit serangga vektor merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kasus malaria. Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan kepadatan populasi dan aktivitas menggigit Anopheles farauti yang merupakan vektor malaria di ekosistem pantai (Kabupaten Biak Numfor) dan ekosistem rawa (Kabupaten Asmat) dengan kasus malaria. Metode yang digunakan adalah human landing collection yang dilakukan pada pukul 18.0006.00 di dalam dan di luar rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat populasi An. farauti di ekosistem pantai relatif lebih rendah dibandingkan ekosistem rawa. Man bitting rate di ekosistem pantai adalah 4 dan 4,66 di ekosistem rawa 95,52 dan 42,38. An. farauti pada dua ekosistem penelitian bersifat eksofilik. Kepadatan populasi dan aktivitas mencari darah An. farauti di ekosistem pantai dan ekosistem rawa tidak berkorelasi positif dengan jumlah kasus malaria.Kata kunci: kepadatan populasi, aktivitas menggigit, An. farauti, Biak Numfor, Asmat
Perilaku Vektor Malaria Anopheles farauti Laveran (Diptera: Culicidae) Di Ekosistem Pantai (Kabupaten Biak Numfor) Dan Ekosistem Rawa (Kabupaten Asmat) Propinsi Papua Kawulur, Hanna; Soesilohadi, RC Hidayat; Hadisusanto, Suwarno; Trisyono, Andi
Bioma Vol. 17, No.1, Tahun 2015
Publisher : Bioma

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.599 KB)

Abstract

Biak Numfor and Asmat districts reported as malaria endemic areas in Papua (Papua Global Fund, 2011). Anopheles farauti mosquito is one of the malaria vectors in the region. Malaria control efforts have been made but there are still many cases of malaria. Malaria control will provide maximum results if there is a match between the vector behavior and programs undertaken. The purpose of this study was to determine the bionomics factors (behavioral) of malaria vector An. farauti mosquitoes in coastal ecosystems (Biak Numfor) and swamp (Asmat); namely: (a). density (b) age and (c) blood-seeking behavior. The method used in this study is human landing collection, resting collection and ELISA blood-feed. The results showed that the population density of An. farauti mosquito did not have a positive relationship with the number of malaria patients in both study areas. The activity of An. farauti mosquito on blood-seeking at the coastal and swamp ecosystems lasted all night but mainly at 18:00 to 19:00 hour. The study also showed that blood-seeking activity mostly done outside of the house. Age estimation of An. farauti mosquito population at coastal ecosystems ranging from 16-18 days, while in the swamp ecosystem is 12-14 days. Population density, approximately age and blood-seeking behavior indicates that An. farauti mosquitoes on the coastal and swamp ecosystems have the potential to be an effective malaria vector.   Keywords: Malaria, Vector, Behavior
KANDUNGAN KADMIUM (Cd) PADA TANAH DAN CACING TANAH DI TPAS PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Setyoningrum, Heny Mayasari; Hadisusanto, Suwarno; Yunianto, Tukidal
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis kandungan logam berat cadmium (Cd) pada tanah dan cacing tanah telah dilakukan di TPAS Piyungan Bantul untuk mengetahui tingkat pencemaran Cd dalam tanah. Penelitian dibagi menjadi penelitian di lapangan yang meliputi pengambilan sampel tanah-cacing tanah dan pengukuran parameter lingkungan, serta penelitian di laboratorium yang meliputi analisis kandungan kadmium, bahan organik dan tekstur tanah. Tingkat pencemaran kadmium ditentukan menggunakan Indeks Kontaminasi-Polusi. Hasil penelitian memperlihatkan kandungan kadmium pada tanah di TPAS Piyungan antara tidak terdeteksi (< 0.01) – 0.47 ppm. Kandungan kadmium di TPAS Piyungan lebih rendah dibandingkan jumlah maksimum kadmium yang diperbolehkan di tanah dan khusus untuk zona III dan zona I titik sampling 1 dan 2 lebih tinggi dari standar kandungan kadmium pada tanah yang bebas polusi, sedangkan kandungan kadmium pada tanah kontrol lebih rendah dibandingkan kandungan kadmium secara umum pada tanah bebas polusi tersebut. Kandungan kadmium dalam tanah di lokasi TPAS tidak selalu lebih tinggi bila dibanding kontrol. Cacing tanah mengandung kadmium antara 0.35 – 0.45 ppm, kandungan kadmium dalam cacing tanah di beberapa lokasi TPAS lebih rendah dibanding kontrol. Tingkat pencemaran kadmium di TPAS Piyungan berada pada tingkat kontaminasi sangat ringan hingga kontaminasi sangat berat. Lokasi TPAS yang masih aktif digunakan memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi bila dibanding lokasi lain. Rasio kadmium pada tanah dan cacing tanah di TPAS Piyungan adalah 0.13 : 1.75.
PENENTUAN KRITERIA NUTRIEN UNTUK PENILAIAN STATUS TROFIK PERAIRAN WADUK MRICA BANJARNEGARA, INDONESIA Piranti, Agatha Sih; Sudarmadji, Sudarmadji; Maryono, Agus; Hadisusanto, Suwarno
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 19, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini kriteria nutrien yang sering digunakan untuk penilaian status trofik suatu badan air di Indonesia adalah berdasarkan OEeD (1982), dan Mason (1991) yang merupakan hasil kajian status trofik danau dan waduk di wilayah empat musim (temperate). Kriteria tersebut bila digunakan untuk waduk di Indonesia sering tidak mencerminkan kondisi yang sebenamya karena ada perbedaan mekanisme terjadinya eutrofikasi di wilayah tropis dan temperate (Huszar et al., 2006). Tujuan peneiitian ini adalah mengkaji hubungan antara konsentrasi nutrien dengan biomassa algae sebagai dasar untuk menentukan kriteria nutrien yang tepat sebagai upaya penentuan kriteria trofik waduk di Indonesia. Metode peneiitian menggunakan survei dengan mengambil sampel air sebulan sekali selama 1 (satu) tahun mulai Maret 2009 -Februari 2010 di 11 (sebelas) lokasi di perairan Waduk Mrica Banjamegara. Variabel penelitian adalah Total Nitrogen (TN), Total Fosfat (TP), nitrat (NO]), ortofosfat (P04), ammonia ~), TN/TP, dan klorofil. Kesimpulan adalah kriteria TP untuk mencapai fase eutrofik pad a musim penghujan lebih tinggi (TP ~ 1,55 mg/I) dibandingkan musim kemarau (TP ~ 1,33). Pada musim penghujan maupun kemarau total nitrogen (TN) bukan merupakan nutrien pembatas. Nutrien (N dan P) yang tinggi (bahkan mencapai 10 kali iipat lebih tinggi dibandingkan kriteria nutrien dari wilayah temperate) tidak menirnbulkan blooming. Terjadinya blooming algae di Waduk Mrica disebabkan adanya operasional waduk dan didukung oieh kondisi iklim (cahaya dan suhu) yang tidak menjadi faktor pembatas pertumbuhan algae. Oleh karena itu, kriteria nutrien untuk danau di wilayah sub tropis tidak cocok bila digunakan untuk penilaian status trofik untuk waduk di Indonesia.
BIOAKUMULASI MERKURI DAN STRUKTUR HEPATOPANKREAS PADA TEREBRALIA SULCATA DAN NERITA ARGUS (MOLUSKA: GASTROPODA) DI KAWASAN BEKAS PENGGELONDONGAN EMAS, MUARA SUNGAI LAMPON, BANYUWANGI, JAWA TIMUR Susintowati, Susintowati; Hadisusanto, Suwarno
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amalgamasi pada proses penggelondongan emas tradisional di muara sungai Lampon menggunakan Merkuri (Hg). Limbah dibuang langsung ke muara dan lingkungan sekitar. Walaupun aktivitas penggelondongan emas telah dihentikan, efek cemar Merkuri terhadap lingkungan termasuk biota terus berlangsung. Bioakumulasi Merkuri dapat ditelusuri menggunakan bioindikator anggota Gastropoda. Penelusuran bioakumulasi Merkuri menggunakan spesimen Terebralia sulcata yang hidup di hutan mangrove sekitar lokasi penggelondongan, dan Nerita argus yang hidup di muara pantai. Analisis Merkuri berdasar metode SNI 06-6992.2-2004 menggunakan perangkat Mercury Analyzer. Hepatopankreas sebagai organ detoksifikasi Merkuri digunakan sebagai parameter patologis. Hepatopankreas masing-masing spesimen dipreparasi dengan metode parafin, diwarnai dengan Hematoksilin Ehrlich’s-Eosin untuk pengamatan struktur mikroskopis. Bioakumulasi Merkuri dalam tubuh T. sulcata hingga 3,10 ppm, sedangkan dalam tubuh N. argus hingga 3,03 ppm. Tampak banyak vesikula residu diduga berisi inklusi pemadatan elektron dan metalotionin sebagai dampak detoksifikasi ion logam Merkuri dalam hepatopankreas. Tubulus hepatopankreas N. argus mengalami disintegrasi dan atropi cukup parah. Walaupun tambang emas di Lampon berskala kecil dan telah ditutup, efek patologis pencemaran Merkuri terhadap biota terutama Gastropoda sangat signifikan.