Articles

Found 9 Documents
Search

Setek Cengkeh dan Tipe Pertumbuhan Akarnya

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 4, No 1 (1989): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.561 KB)

Abstract

Cutting clove and its root type growthExperiment was conducted at green house of Research Institute for Industrial Crops Cimanggu, Bogor in 1983. The objective was to find out the effect of growth regulator concentration (NAA) on the cutting growth. The cutting material used are water shoots from clove protogeny of Zanzibar 12. Completely Randomized design with four concentration treatment and three replication was used. The concentration consist of 0 (control), 1250, 2500, and 5000 ppm. Cutting propagation by single-node with a pair of leaf. The result showed that number of rooting and shooting in cutting at 1250 ppm brought about the highest (10%), followed 2500 ppm (6,6%), whereas control and 5000 ppm concentration only shooting not rooting (5%).

KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN KANDUNGAN MINYAK DUA NOMOR SELASIH HUTAN (Ocimum gratissimum L.)

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 16, No 1 (2005): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.528 KB)

Abstract

Morphological characteristics and oil content of two accession numbers of tree basil (Ocimum gratissimum L.)Accession of essential oil plants can be distinguished based on morphological characters, oil content and its major chemical constituent. In this research, observations on two accession numbers of tree basil were performed to know their differences. Seeds were planted at the nursery, then transplanted to the polybag before their planted in the field. Fivety plants were planted at bedding size 2 x 3 m with 40 x 30 cm spacing. Morphological characters observed were habitus, stem diameter, shape and colour; leaves shape, colour and pubescentness; flower colour, petal colour and panicle arrangement; seed shape, colour and weight. The essential oil was extracted from whole herbs (young stem, leaves and flower) and analyzed their oil physicochemical characters and major oil constituent. Based on morphological characters both accession is difficult to be distinguished exept for their leaf odour.  Accession from Serang has less leaves odour compared to accession from Bogor. The oil content and physicochemical characters of the two accessions were most similar but different in the oil chemical constituent. Major chemical constituent of tree basil from Bogor is eugenol (37,04%), sineol (21,44%) and timol (9,67%), mean while major chemical constituent accession from Serang is Sineol (40,03%), eugenol (13,94%) and linalool (11,17%). For the pesticides used, accession from Bogor will be better because it has higher eugenol. 

Variabilitas Genetik Berbagai Varietas Abaka (Musa Textilis Nee) dan Kerabat Liar Melalui Analisis RAPD

Zuriat Vol 12, No 2 (2001)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abaka (Musa textilis Nee) merupakan tanaman penghasil serat yang digunakan dalam berbagai industri. Indonesia memiliki potensi dalam pengembangan tanaman tersebut. Dalam penelitian ini dipelajari variabilitas genetik 30 nomor tanaman abaka dan kerabat liarnya hasil eksplorasi dari daerah Bogor, Serang, Malang, Banyuwangi, dan Palu berdasarkan pola pita hasil random amplified polymorphic DNA (RAPD). Praimer yang digunakan dalam proses RAPD sebanyak lima buah, yaitu praimer abi 117.17, abi 117.18, OPB 18, OPC 15, dan OPD 08. Hasil RAPD dicatat berdasarkan ada atau tidaknya pita, dan dianalisis menggunakan program SIMQUAL-similarity for qualitative data yang ada pada Numerical Taxonomy and Multivariate Analysis System (NTSys) versi 1.80. Varians genetik ditentukan berdasarkan metode Unweight Pair Group Methode by Average (UPGMA). Pola pita DNA yang dihasilkan sebanyak 69 pola pita dengan ukuran antara 0.25 kb-3 kb. Jumlah pita DNA per nomor tanaman adalah 1 pita-9 pita. Rata-rata jumlah pita dari masing-masing tanaman sebanyak 4 pita. Dendogram menghasilkan dua kelompok tanaman, yakni kelompok A dan B dengan kesamaan genetic sekitar 47%. Kelompok A berjumlah 14 tanaman dan terbagi ke dalam 7 sub kelompok. Sedangkan kelompok B terdiri dari 16 tanaman dan terbagi ke dalam 5 sub kelompok. Tanaman nomor 1, 2, 3 dan 5 diperkirakan termasuk ke dalam spesies atau varietas yang sama, juga nomor 10, 16, dan 19, serta nomor 20 dengan 23.

RESPON TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) HASIL RIMPANG KULTUR JARINGAN GENERASI KEDUA TERHADAP PEMUPUKAN

Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.316 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai respon temulawak hasil rimpang kulturjaringan generasi kedua terhadap pemupukan telah dilaksanakan di lahanpetani Sumur Wangi, Kecamatan Tanah Sareal, Bogor dari bulan Oktober2002 sampai bulan September 2003. Bahan tanaman yang digunakansebagai benih adalah rimpang induk temulawak hasil kultur jaringangenerasi kedua. Perlakuan yang diuji adalah : (1) tanpa pupuk (kontrol),(2) pupuk kandang kambing 1 kg/tanaman, (3) pupuk kandang kambing 2kg/tanaman, (4) pupuk kandang kambing 1 kg/tanaman + pupuk buatanyaitu urea 2 g/tanaman, SP-36 1,8 g/tanaman dan KCL 2,7 g/tanaman dan,(5) pupuk kandang kambing 2 kg/tanaman + pupuk buatan urea 2g/tanaman, SP-36 1,8 g/tanaman dan KCL 2,7 g/tanaman. Rancangan yangdigunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Setiapulangan terdiri atas sepuluh tanaman. Jarak tanam yang digunakan adalah60 cm x 60 cm. Parameter yang diamati adalah persentase tumbuh, jumlahanakan, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun serta lingkarbatang pada umur empat bulan, bobot rimpang per tanaman, panjang, lebardan diameter rimpang, jumlah rimpang induk serta analisa mutu yangmeliputi kadar air, kadar minyak atsiri dan kurkumin pada umursembilan bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anakan,tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang daun tidak dipengaruhi olehaplikasi pemupukan. Respon tanaman terhadap aplikasi pemupukanberpengaruh terhadap parameter lebar daun dan lingkar batang.Selanjutnya pemupukan berpengaruh nyata terhadap berat rimpang,panjang rimpang, lebar rimpang serta jumlah rimpang induk namuntidak berpengaruh terhadap diameter rimpang. Kandungan kurkuminpaling tinggi diperoleh pada perlakuan tanpa pemupukan.Kata kunci : Temulawak,  Curcuma  xanthorrhiza,  kultur  jaringan,pemupukan, pertumbuhan, produksi, mutu, Jawa BaratABSTRACTResponse of Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)derived from rhizome in vitro of the second generation tofertilizer aplicationThe experiment was conducted to study the response of temulawakderived from rhizome in vitro of the second generation to fertilizerapplication. It was carried out in a farmer field at Sumur Wangi, Bogorfrom October 2002 to September 2003. Plant materials used were obtainedfrom in vitro rhizome of the second generation. Treatments tested werefive level of manure fertilizer and artificial fertilizer : (1) without fertilizer(control), (2) stable manure 1 kg/plant, (3) stable manure 2 kg/plant, (4)stable manure 1 kg/plant + artificial fertilizer i.e urea 2 g/plant, SP-36 1.8g/plant and KCL 2.7 g/plant and (5) stable manure 2 kg/plant + artificialfertilizer i.e urea 2 g/plant, SP-36 1.8 g/plant and KCL 2.7 g/plant. Theexperiment was designed using a randomized block design with threereplications, ten plants per replication. Plant spacing was 60 cm x 60 cm.The parameters observed were growth percentage, number of tillers, plantheight, number of leaves, length and width of leaves, stem coil at fourmonths of age, rhizome weight, length and width, rhizome diameter andnumber of main rhizomes. In addition, quality analysis was also conductedon water, essential, oil and curcumin content, nine months of age. Resultshowed that fertilizer treatment did not significantly increase the numberof tillers, plant height, leaf number, rhizome length and diameter comparedwith without fertilizer, but it significantly increased the leaf width, stemcoil, rhizome weight, length and width and also the number of mainrhizomes. The highest curcumin content was achieved by those withoutfertilizer treatment.Key words : Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, tissue culture, fertilizerapplication, growth, yield, quality, West Java

PENGARUH MEDIA DAN ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS SELASIH (Ocimum basilicum) IN VITRO

853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.255 KB)

Abstract

ABSTRAKSelasih (Ocimum basilicum) merupakan salah satu tanamanpenghasil minyak atsiri yang berkhasiat obat maupun pestisida nabati.Untuk mendukung pengembangan peningkatan ragam genetik tanaman,maka dilakukan perbanyakan bahan tanaman melalui teknik kultur in vitro.Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Desember 2004 diLaboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Rempah danObat Bogor. Bahan tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah matatunas selasih daun ungu yang berasal dari rumah kaca. Perlakuan yangdiuji adalah pengaruh fisik media dan beberapa taraf konsentrasi zatpengatur tumbuh Benzyl Adenin (BA). Rancangan yang digunakan adalahrancangan acak lengkap dalam pola faktorial (dua faktor). Faktor pertamaadalah fisik media (padat dan cair) dan faktor ke dua adalah konsentrasiBA (0,1 ; 0,3 dan 0,5 mg/l). Setiap perlakuan terdiri dari sepuluh ulangan.Parameter yang diamati adalah jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daundan akar serta penampakan biakan secara visual, umur sembilan minggu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media padat yangdiperkaya BA 0,3 mg/l menghasilkan jumlah tunas terbanyak yang tidakberbeda nyata dengan perlakuan media padat + BA 0,1 mg/l ataupunmedia cair + BA ( 0.1 – 0.5 mg/l ). Panjang tunas hanya dipengaruhi olehperlakuan konsentrasi BA dan tunas terpanjang diperoleh pada perlakuanBA 0,3 mg/l yang tidak berbeda nyata dengan BA 0,1 mg/l. Untukparameter jumlah daun dan akar tidak dipengaruhi oleh perlakuan yangdiuji baik fisik media maupun konsentrasi BA.Kata kunci : Selasih, Ocimum basilicum, media, pengatur tumbuh,multiplikasi tunas, in vitro, Jawa BaratABSTRACTEffect of media and growth regulator on shootmultiplication of ocimum (Ocimum basilicum) in vitroOcimum (Ocimum basilicum) is one of important essential oil plantsin Indonesia which is generally used as medicine or pesticide. For plantdevelopment and genetic variants improvement, tissue culture propagationwas conducted. The studies was conducted in March to December 2004 atthe Tissue Culture Laboratory of the ISMECRI Bogor. Plant materialsused were ocimum explants apical shoot taken from a green house.Treatments tested were the effect of physical media and concentrationlevel of Benzyl Adenin (BA). The experiment used a completelyrandomized design with two factors. First factor was physical media (solidand liquid) and the second factor was BA concentrations (0.1 ; 0.3 and 0.5mg/l ). Each treatment consisted of ten replications. The parametersobserved were number of shoots, shoot length, number of leaves and rootsand culture performance, nine weeks after culturing. Research resultshowed that the use of solid media in combination with 0.3 mg/l BA wasthe best media for shoot multiplication of ocimum in vitro and it was notsignificantly different with liquid medium enriched with BA (0.1 -0.5mg/l). Shoot length was only affected by BA concentration and the longestshoot was obtained by BA 0.3 mg/l but it was not significantly differentwith BA 0.1 mg/l. Both treatments had no effect on the number of leavesand roots.Key words : Ocimum, Ocimum basilicum, media, growth regulator, shootmultiplication, in vitro, West Java

Pertumbuhan dan Produksi Rimpang Temu Lawak di Polybag yang Benihnya Hasil Kultur In Vitro

JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 3, No 2 (2001): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.703 KB)

Abstract

ABSTRACTGrowth and Yield of Temoe Lawak in Polybag which Planting Material from In Vitro Culture. The growth and yield of temoe lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) from in vitro culture was conducted in the green house, Bogor from October 2000 to September 2001. The materials were obtained from temoe lawak plant two months after acclimatizating. The plant were planted in the polybag 60 cm x 60 cm. The treatments were consisted of the mixtures of soil and cattle manure with the proportional of 1 : 1 ; the soil and rice husk (1 : 1) ; the soil, cattle manure and rice husk (1 : 1 : 1). The experiment was designed according to randomized block design with three replicates and ten polybags per replicate .The parameters observed were plant performance, growth percentage at 5 and 10 months, rhizome weight per plant, length and width of primery rhizome, roots and water rhizome weight per plant. The result of experiment showed that the growth percentage of plant were 100% on ten months for all treatments. The growth and rhizome performance were similar with the parent. The best treatment for growth was the mixture of soil and cattle manure on the proportional of 1 : 1, with tiller numbers (3,57) , leaves number (18,2), plant height (140,6 cm) in five moths, rhizomes weight per plant (472,8 g), length and width of primery rhizome each 8,1 cm and 6,3 cm in ten months.Key words : Curcuma xanthorrhiza Roxb, growth, yield, in vitro

HARGA POKOK BENIH NILAM VARIETAS SIDIKALANG HASIL KULTUR JARINGAN

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.226 KB)

Abstract

Kendala dalam penyediaan benih adalah ketersediaan yang tepat waktu, tepat jum-lah, seragam dan sehat. Teknik kultur ja-ringan dapat memecahkan kendala terse-but tetapi biayanya cukup tinggi sehingga harga benih menjadi mahal 3-4 kali harga benih konvensional. Untuk mengatasi hal tersebut pada tanaman nilam, dilakukan perbanyakan benih secara kultur jaringan dengan mensubstitusi bahan kimia yang harganya mahal dengan bahan-bahan al-ternatif yang mudah diperoleh seperti air kelapa dan sumber bahan organik lainnya. Penelitian dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan, laboratorium Pengujian Balittro, Balai Besar Pasca Panen, dan ru-mah kaca Balittro sejak Mei 2009 sampai Oktober 2010. Penentuan harga pokok dan skala ekonomi dilakukan secara bertahap : (1) harga pokok zat pengatur tumbuh (zpt) alternatif, terdiri dari air kelapa, ekstrak to-mat, dan ekstrak tauge, (2) harga pokok tunas hasil induksi dari eksplan varietas Sidikalang dengan media Murashige dan Skoog (MS) ditambah zpt alternatif dan sumber vitamin substitusi dari air kelapa, tomat, tauge, dan wood vinegar masing-masing dengan konsentrasi 0 (kontrol), 5, 10, 15, 20, dan 25%, (3) harga pokok multiplikasi tunas nilam dengan media ter-baik pada tahap induksi, (4) harga pokok tunas hasil multiplikasi media MS + air ke-lapa konsentrasi 10% dibandingkan de-ngan media dasar alternatif pupuk maje-muk dengan formulasi NPK 20-20-20 yaitu: (a) pupuk majemuk 0,5 1 g/l + air kelapa 10%, (b) pupuk majemuk 1 g/l + air kela-pa 10%, (c) pupuk majemuk 1,5 g/l + air kelapa 10%, (d) pupuk majemuk 2 g/l + air kelapa 10%, (e) MS + BA 0,5 mg/l, (f) MS + air kelapa 10%, (5) harga pokok ni-lam hasil aklimatisasi di rumah kaca de-ngan perlakuan beberapa jenis media : (a) tanah latosol (kontrol), (b) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman (1:1), (c) tanah latosol + arang/sekam padi (1:1), (d) tanah latosol + cocopeat (1:1), (e) ta-nah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi (1:1:1), (f) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman + coco-peat (1:1:1), (g) tanah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi + cocopeat (1:1:1:1), (6) harga pokok dan skala usaha nilam di dalam polybag ukur-an 10 x 15 cm dengan media tanam ta-nah + pupuk kandang (2:1). Penentuan harga pokok benih nilam dan skala usaha-nya, dilakukan dengan menganalisis input dan out-put kegiatan produksi benih ni-lam hasil kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan harga pokok benih nilam skala laboratorium adalah Rp339 per tu-nas dengan media perbanyakan MS di-tambah zpt alternatif air kelapa konsen-trasi 10%, atau Rp796/polybag dengan titik impas/break event point pada jumlah produksi 51.415 polybag benih per 3,5 bulan setelah aklimatisasi, setara dengan pendapatan sebesar Rp40.926.258. 

Analisis Lintas Karakter Morfologi dengan Hasil dan Kadar Minyak Mentha

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 6, No 1 (1991): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.745 KB)

Abstract

Penelitian pengaruh beberapa karakter morfologi 6 varietas menthe (menthe sp.) terhadap hasil dan kadar minyak yang dihasilkan, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 ulangan yang dilaksanakan di 3 lokasi dengan ketinggian yang berbeda, yaitu di KP. Nagasari-Gunung Putri (1600 m dpl), KP. Cibadak-Cipanas (800 m dpl), dan KP. Cimanggu-Bogor (240 m dpl). Analisis lintas digunakan untuk mengetahui hubungan karakter morfologi dan pengaruhnya terhadap hasil serta kadar minyak. Karakter yang diamati : tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, tebal daun, berat terna basah per rumpun tanaman dan berat terna kering angin per rumpun tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang daun dan karakter lainnya memalui panjang daun dan masing-masing sangat berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap hasil. Panjang daun dapat dipakai sebagai criteria seleksi yang efektif untuk mendapatkan hasil dan kadar minyak yang tinggi.

Hubungan Berbagai Karakter Morfologi Dengan Produksi Lada Varietas Chunuk dan Lampung Daun Kecil

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 2 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.453 KB)

Abstract

Karakterisasi terhada sifat-sifat morfologi dan produksi lada varietas Chunuk dan Lampung Dau Kecil (LDK),telah dilakukan di Bangka, pada bulan Deseember 1991 sampai dengan Agustus 1992. Metode deskripsi didasrkan kepada International Papper Technique Meeting. Karakter-karakter yang diamati ada 12 yaitu; panjang malai,jumlah mulai per cabang. Panjang tangkai malai, jumlah bulir per malai. Diameter buah, diameter biji, panjang daun, lebar daun, tebal daun,panjang cabanng, panjang ruas cabang produksi, untuk mengetahuihubungan karakter morfologi dengan produksi lada. Data di analisis dengan analisis lintas(Path Analisysis). Hasil analisis menunjukan menunjukan bahwa panjang malai. Panjang tangkai malai,jumlah bulir permalai dan panjang ruas cabang berpengaruh terhadap produksi varietas LDK.sedangkan pada varietas Chunuk. Umlah bulir per malai dan diameter biji berpengaruh langsung terhadap produksi. Karakter yang berpengaruh langsung baik terhadap produksi LDK maupun Chunuk adalah jumlah bulir per malai.