Bambang Guritno
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

EFISIENSI KONVERSI ENERGI SURYA PADA TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) (RADIATION USE EFFICIENCY IN POTATO (Solanum Tuberosum L.) Suryanto, Agus; Guritno, Bambang; Sugito, Yogi; Koesmaryono, Yonny
Jurnal Agromet Indonesia Vol 19, No 1 (2005): June 2005
Publisher : PERHIMPI (Indonesian Association of Agricultural Meteorology)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.358 KB)

Abstract

Efisiensi penggunaan radiasi surya adalah nilai konversi radiasi surya menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Nilai ini menunjukkan persentase berapa banyak energi radiasi yang diserap tanaman mampu diubah menjadi energi dalam bentuk kimia (Lawlor, 1993). Produksi berat kering berbagai tanaman rata-rata sekitar 1,4 g berat kering per MJ radiasi surya yang diserap tanaman atau dengan kata lain mempunyai nilai Efisiensi Konversi Energi (EKE 2,5) %. Pada tanaman kentang, dengan intensitas 2 GJ m-2 selama masa pertumbuhan 120 hari umumnya diperoleh nilai EKE 1,3 % (Jones, 1992)Sampai dengan tahun 2000 perkembangan luas panen tanaman kentang di Indonesia mencapai 73.068 ha, dengan total produksi 977.349 ton, atau produksi rata-rata per hektar berkisar 13,4 ton (BPS, 2000). Di Jawa Timur, Basuki et al. (1993) melaporkan, produktifitas 10 varietas kentang pada nilai ILD 1,26 – 3,93, berkisar 11 - 27 ton per hektar. Produksi ini apabila ditinjau dari sisi penangkapan energi surya, efisiensinya sangat rendah, karena menurut Haeder dan Beringer (1983), pada kisaran ILD tersebut semestinya dapat dihasilkan umbi kentang sekitar 20 – 50 ton per hektar. Kecenderungan hasil yang rendah ini disebabkan praktek budidaya tanaman yang kurang benar sehingga memberikan nilai konversi energi surya yang sangat tidak efisien, misalnya penggunaan jarak tanam yang terlalu lebar, penanaman tanaman pada saat musim hujan dimana banyak awan yang menghalangi radiasi surya, penanaman tanaman pada dataran tinggi yang cenderung berkabut, saat tanam tanpa memperhatikan fase pertumbuhan yang peka terhadap intensitas radiasi surya, dan lainnya. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan radiasi surya, berbagai cara dapat dilakukan. Sugito (1999) menyarankan beberapa cara perbaikan budidaya tanaman, diantaranya dengan mengurangi energi surya yang lolos pada pertanaman dan mengoptimalkan penggunaan energi surya yang jatuh pada kanopi tanaman, diantaranya dengan meningkatkan populasi tanaman. Haeder dan Beringer (1983) menambahkan peningkatan EKE dapat juga dilakukan dengan memilih kultivar yang berumur panjang dan pemilihan lokasi bersuhu 10 – 20 C dengan intensitas cahaya tinggi. Percobaan ini bertujuan untuk menganalisis peningkatkan efisiensi energi surya melalui pengaturan saat tanam, populasi tanaman serta penggunaan varietas yang potensial.
PENGARUH APLIKASI HERBISIDA AMETRIN DAN 2,4-D DALAM MENGENDALIKAN GULMA TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.) Puspitasari, Kiki; Sebayang, Husni Thamrin; Guritno, Bambang
Jurnal Produksi Tanaman Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.643 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan herbisida ametrin dan 2,4-D pada aplikasi yang berbeda dalam mengendalikan gulma pada tanaman tebu dan untuk mengetahui efektivitas penggunaan herbisida tunggal dalam pengendalian gulma. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2012 di perkebunan PG Kebon Agung, Desa Sempal Wadak, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Hasil dari penelitian ini Penggunaan herbisida tunggal Ametrin (dosis 3 l ha-1), 2,4-D (dosis 3 l ha-1) serta herbisida campuran 2,4-D + Ametrin (dosis 2 l ha-1 + 3 l ha-1) apabila diaplikasikan 1 kali maupun 2 kali lebih efektif mengendalikan gulma dan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tebu vegetatif tanaman tebu jika dibandingkan tanpa pengendalian gulma. Pengendalian gulma menggunakan herbisida tunggal Ametrin (dosis 3 l ha-1) memiliki efektifitas yang sama dengan pengendalian gulma menggunakan herbisida campuran  2,4-D + Ametrin (dosis 2 l ha-1 + 3 l ha-1). Penggunaan herbisida tunggal Ametrin (dosis 3 l ha-1) 1 minggu sebelum olah tanah dan 1 bulan setelah tanam menghasilkan pertumbuhan vegetatif tanaman tebu yang lebih baik dilihat dari tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang maupun jumlah anakannya.
PENGARUH PERBEDAAN SISTEM TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) DI LAHAN SAWAH Lita, Tifani Nova; Guritno, Bambang; Soekartomo, Sardjono
Jurnal Produksi Tanaman Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.966 KB)

Abstract

Padi merupakan komoditi pangan utama yang memiliki peran strategis. Perbaikan sistem budidaya, diharapkan mampu memecahkan masalah-masalah budidaya padi. Konkritnya, yang dibutuhkan dalam budidaya padi saat ini adalah sistem tanam padi yang mengacu pada lingkungan tumbuh yang optimal dan berkelanjutan, dengan penggunaan air, pupuk dan bibit yang efisien. Modifikasi dalam sistem pertanian dengan sistem tanam benih langsung (tabela), tabela pita tanam organik serta system of rice intensification (SRI) merupakan komponen paket teknologi yang diharapkan dapat meningkatkan produksi usaha tani. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh perbedaan sistem tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi serta potensi masing-masing sistem tanam telah dilaksanakan di lahan sawah Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada bulan Desember 2011 sampai Mei 2012. Penelitian menggunakan rancangan tersarang (Nested Design) dengan 1 faktor yaitu cara penanaman yang diulang 3 kali. Pada cara tanam dengan tabela benih disebar langsung di lahan sawah, untuk tanam benih langsung dengan pita organik, benih dimasukkan ke dalam pita tanam kemudian ditanam di lahan sawah, sementara untuk cara tanam dengan SRI, benih padi disemai terlebih dahulu selama 10 hari dan untuk padi yang ditanam dengan sistem konvensional, benih disemai selama 21 hari kemudian selama penanaman dilakukan pengairan, pemupukan, penyiangan dan perawatan untuk masing-masing sistem tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara tanam SRI dan tanam benih langsung dengan pita tanam organik menghasilkan komponen pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi dibanding cara tanam dengan menggunakan tabela ataupun konvensional. Kata kunci: padi, tabela, pita tanam organik, SRI, budidaya padi
KOMPOSISI PENGGUNAAN KOMPOS LIMBAH PENYULINGAN NILAM (LPN) DAN PUPUK UREA PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine Max (L) Merr) VAR. WILIS Elizabeth, Murnita; Sudiarso, Sudiarso; Guritno, Bambang
Jurnal Produksi Tanaman Vol 1, No 6 (2013)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.7 KB)

Abstract

Meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik, diharapkan akan meningkatkan produktivitas tanaman kedelai (Glycine max (L) Merr). Salah satunya adalah penggunaan kompos Limbah Penyulingan Nilam (LPN) yang dihasilkan dari proses penyulingan tanaman nilam (Pogestemon cablin Benth) kering. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui komposisi pupuk urea dan pupuk kompos LPN yang sesuai bagi pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2012 di Kebun Percobaan Universitas Brawijaya, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 4 ulangan. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan pertumbuhan dan panen,  kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dan BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos LPN dapat menggantikan peran pupuk urea baik secara sebagian maupun secara keseluruhan dan secara analisis statistik tidak terjadi perbedaan yang nyata antar perlakuan pada p = 0,05. Kandungan hara N pada pupuk kompos LPN dapat digunakan sebagai salah satu sumber penyedia hara yang ramah lingkungan dan dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. Kata kunci : Glycine max (L) Merr, kedelai, nilam, urea, limbah nilam
KAJIAN PENAMBAHAN PUPUK KANDANG KAMBING DAN KERAPATAN TANAMAN YANG BERBEDA PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) Dinariani, Dinariani; Heddy, Y. B. Suwasono; Guritno, Bambang
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.5 KB)

Abstract

Permintaan jagung manis cenderung meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya kebu-tuhan jagung manis baik untuk konsumsi langsung dan bahan baku industri pangan. Peningkatan produksi jagung manis dapat dilakukan dengan perbaikan teknik budi-daya, yaitu dengan perbaikan pemupukan dan pengaturan kerapatan tanaman. Per-baikan pemupukan dapat dilakukan dengan penambahan pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara perlakuan kerapatan tanaman dan dosis pu-puk kandang kambing pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian dilaksanakan di Desa Landungsari, Kec. Dau, Malang pada bulan April – Agustus 2013. Percobaan ini disusun menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 3 ulangan. Petak utama, kerapatan tanaman terdiri dari 3 taraf, yaitu J1 : 75.556 tanaman ha-1, J2 : 56.667 tanaman ha-1, dan J3 : 45.333 tanaman ha-1. Anak petak, dosis pupuk kandang kambing terdiri dari 5 taraf, yaitu P0 : 0 ton ha-1, P1 : 2,5 ton ha-1, P2 : 5 ton ha-1, P3 : 7,5 ton ha-1, dan P4 : 10 ton  ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jagung manis dengan tingkat kera-patan tanaman 45.333 tanaman ha-1 diikuti dengan aplikasi pupuk kandang kambing 10 ton ha-1 menghasilkan kadar gula tertinggi sebesar 16,07 brix. Pemberian pupuk kandang kambing pada dosis 10 ton ha-1 mampu meningkatkan hasil panen tongkol segar dengan klobot sebesar 19,46% diban-dingkan tanpa aplikasi pupuk kandang kambing, tetapi tidak berbeda nyata dengan aplikasi pupuk kandang kambing 7,5 ton  ha-1. Kerapatan tanaman 75.556 tanaman ha-1 mampu meningkatkan hasil panen tongkol segar dengan klobot sebesar 41,59% dibandingkan kerapatan tanaman 45.333 tanaman ha-1.Kata kunci : interaksi, kerapatan tanaman, pupuk kandang kambing, tanaman jagung manis
PENGARUH KOMBINASI JUMLAH TANAMAN PER POLYBAG DAN KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.) VAR. VENUS Wulandari, Etik; Guritno, Bambang; Aini, Nurul
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 6 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.093 KB)

Abstract

Permasalahan mengenai keterbatasan lahan merupakan salah satu kendala dalam meningkatkan produksi komoditas pertanian. Salah satu cara dalam mengatasi masalah keterbatasan lahan adalah dengan menerapkan pertanian perkotaan. Usaha peningkatan produksi mentimun dapat dilakukan melalui berbagai cara salah satunya adalah penanaman pada polybag dengan mengatur komposisi media tanam yang tepat, hal tersebut juga merupakan salah satu cara dalam penerapan pertanian perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kombinasi jumlah tanaman per polybag dan komposisi media tanam pada pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun (Cucumis sativus L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal yang terdiri dari 12 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi jumlah tanaman per polybag dan komposisi media tanam, berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman, jumlah daun per tanaman, jumlah bunga per tanaman, luas daun per tanaman, bobot kering total tanaman, fruit set, jumlah buah per polybag, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per polybag. Perlakuan 1 tanaman per polybag media tanam campuran tanah+kotoran ayam+pasir (P1M2), 2 tanaman per polybag media tanam campuran tanah+kotoran ayam+pasir (P2M2) dan 3 tanaman per polybag media tanam campuran tanah+kotoran ayam+pasir (P3M3), memberikan pengaruh lebih baik daripada perlakuan yang lainnya pada komponen pertumbuhan, komponen hasil dan hasil tanaman mentimun. Kata Kunci: Mentimun, Kombinasi, Komposisi, Media Tanam.
Desain Unit Pengolahan Bioetanol untuk Petani di Desa Ngajum Kecamatan Sumber Pucung Kabupaten Malang Guritno, Bambang; Argo, Bambang Dwi; Yulianingsih, Rini
Rekayasa Mesin Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the research is to develop bio-ethanol processing unit in small size using simple technology, which can be used by Cassava farmers in the village of Ngajum Sumber Pucung Malang. The capacity of Bioethanol processing unit provided is 100 liters/process which consists of sieve, cooker with cooling mash, fermenter, and distillation unit. Tests on several processing units give the following results: Sieve driven by 7.5 HP diesel engines. Sieve cylinder made of wood cylinder with 40 cm of diameter and 45 cm of length. Sieve has a capacity of 613 kg/h. Cooker tank made of stainless steel plate 4 mm and has dimensions 77 cm of diameter and 150 cm of height. There are 4 pieces of pipe stainless steel 6" placed at the bottom serving as heat exchanger. Cooling Mash has heat transfer surface area of 3.11 m2 that consists of 26 stainless steel pipe 1 ½" of diameter and 100 cm of length . Cooking efficiency is 38% with fuel of firewood with a moisture content of 50%. At steady state conditions, Cooling mash is capable to remove energy from substance of 280 kcal/min at mass flow rate of substance of 2.34 l/s and mass flow rate of cooling water of 0.6 l/s.Fermenter tank has made of stainless steel and has dimensions 110 cm of diameter and 240 cm of height. The mixer’s fermenter is driven by a ½ HP electric motor. To maintain the material temperature at 32 oC, the fermenter equipped with a cooling unit that is sprinkler water around the tube. Distillation unit has made of stainless steel 304 and consists of beer column, the column rectifying, pre-heater, condensers and equipped with boiler.Keywords : Performance, Bioethanol Processing Unit, Small Scale.
PENGARUH UKURAN BIJI DAN KEDALAMAN TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) Pratama, Hendra Wahyu; Baskara, Medha; Guritno, Bambang
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 7 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.518 KB)

Abstract

Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) adalah salah satu tanaman sayur yang mempunyai prospek penting di Indonesia. Kedalaman tanam dan ukuran biji merupakan komponen utama dalam bercocok tanam, hal ini dikarenakan kedalaman tanam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman sedangkan ukuran biji akan mempengaruhi daya perkecambahan benih. Ukuran biji sangat berpengaruh dalam perkecambahan karena dalam biji terdapat cadangan makanan (endosperm) yang sangat berfungsi untuk menyuplai makanan bagi benih saat proses perkecambahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memgetahui pengaruh kedalaman tanam dan ukuran biji terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.). Penelitian ini dilaksanakan di desa Banjardowo, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 16 perlakuan yang diulang 3 kali. Faktor pertama yaitu kedalaman tanam 1,3,5 dan 7 cm, faktor kedua yaitu ukuran biji 4,5,6 dan 7 mm. Data dianalisis menggunakan uji F dengan taraf 5%,apabila berbeda nyata antar perlakuan diuji dengan BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan interaksi yang nyata pada parameter jumlah daun dan perkecambahan. Perlakuan kedalaman 5 cm dan ukuran biji 7 mm memiliki persentase perkecambahan dan jumlah daun yang lebih baik daripada perlakuan lain. Perkecambahan pada 5 cm dan 7 mm memiliki daya perkecambahan 100 % karena biji 7 mm memiliki energi yang besar untuk tumbuh serta ditunjang kedalaman yang ideal bagi tanaman. Namun, pada parameter hasil kedua faktor tidak menimbulkan interaksi yang nyata pada semua parameter hasil. Kata Kunci: Zea mays saccharata Sturt., Ukuran biji, Kedalaman tanam, Perkecambahan
PENGARUH UMUR PANEN DAN PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KUALITAS JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) Pradipta, Rangga; Wicaksono, Karuniawan Puji; Guritno, Bambang
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 7 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.102 KB)

Abstract

Kebutuhan pasar yang meningkat dan nilai ekonomis yang tinggi membuat jagung manis perlu dikembangkan untuk meningkatkan hasil atau produksinya. Akan tetapi selain meningkatkan hasil atau produksi perlu dikembangkan juga bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas dari jagung manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur panen yang tepat dan dosis pupuk kalium yang tepat untuk meningkatkan kualitas jagung manis. Penelitian telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Jatikerto FP-UB yang bertempat di Desa Jatikerto, Kec. Kromengan Kabupaten Malang pada bulan Juli 2013 sampai dengan Oktober 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. dosis pupuk kalium berpengaruh nyata pada bobot segar, bobot kering, dan luas daun pada umur 45 hst. Pada parameter hasil dan kualitas perlakuan umur panen berpengaruh nyata terhadap tingkat kemanisan yaitu yang tertinggi pada umur 83 hst dan yang terendah pada umur 89 hst. Dosis pupuk kalium berpengaruh nyata terhadap bobot tongkol dengan kelobot da bobot tongkol tanpa kelobot. Pada penelitian ini tidak terdapat interaksi nyata antara perlakuan umur panen dan dosis pupuk kalium. Perlakuan dosis pupuk kalium mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas jagung manis. Perlakuan umur panen mempengaruhi kualitas jagung manis.Kata kunci : Jagung Manis, Umur Panen, Kalium, Kualitas
PENGARUH TANAMAN PENUTUP TANAH DAN JARAK TANAM PADA GULMA DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) Probowati, Rahajeng Arinda; Guritno, Bambang; Suminarti, Titin
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 8 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.534 KB)

Abstract

Jagung dan gulma merupakan satu ke-satuan yang tidak terpisahkan. Penyebab penurunan produksi utama yang sering di-temukan di lapangan adalah adanya gulma. Penelitian dilakukan untuk mengetahui in-teraksi antara perlakuan jarak tanam dan peng-gunaan jenis LCC pada gulma dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) Pe-nelitian ini dilaksanakan di Desa Jatikerto, Kec. Kromengan, Kab. Malang pada bulan April– Agustus 2013. Percobaan ini disusun menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 3 ulangan. Petak utama, jarak tanam jagung terdiri dari 3 taraf, yaitu -J1 : 50-x30 cm dengan populasi 66.667 ta-naman ha-1, J2 : 60x25 cm dengan populasi 66.667 tanaman ha-1, dan J3 : 75x20 cm dengan populasi  66.667 tanaman ha-1. A-nak petak, jenis LCC terdiri dari 4 taraf, -yaitu L0 : tanpa penggunaan LCC, L1 : Centrosema pubescens, L2 : Crotalaria -juncea, dan L3 : Pueraria javanica. Hasil pe-nelitian menunjukkan bahwa dengan jarak tanam 75x20 cm diikuti dengan peng-gunaan Crotalaria juncea mampu me-nurunkan populasi gulma jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Penggunaan jarak tanam 60x25 cm lebih efektif dalam meningkatkan hasil biji ton ha-1 jika di-bandingkan dengan penggunaan jarak ta-nam 50x30 cm dan jarak tanam 75x20 cm. Penggunaan P. javanica mampu me-ningkatkan hasil biji ton ha-1, namun peng-gunaan LCC tersebut tidak berbeda jauh ji-ka dibandingkan dengan penggunaan Cen-trosema pubescens dan Crotalaria juncea. Kata kunci : Interaksi, Jarak Tanam, Penggunaan LCC , Gulma, Tanaman Jagung