This Author published in this journals
All Journal SIMETRIS
Hartono Guntur
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisa Kinerja TerukurDan Terhitung Suatu Bundaran (Studi Kasus : Simpang Bundaran Ketapang Cepu) Guntur, Hartono
SIMETRIS No 14 (2011): SIMETRIS NO 14
Publisher : SIMETRIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Simpang Bundaran Ketapang di Cepu sebagai bagian dari jaringan jalan, mempunyai peranan strategis dalam menjaga kelancaran arus lalulintas barang dan penumpang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dan sebaliknya. Ketidakseimbangan antara supply (kapasitas bundaran yang semakin menurun) dengan demand (volume lalulintas yang semakin meningkat) akan menimbulkan lalulintas menjadi tidak lancar, tidak nyaman, dan tidak efisien. Berdasarkan pengamatan awal kondisieksisting, beberapamasalah yang berpotensi menimbulkanpenurunan kinerja Bundaran Ketapang Cepu antara lain : penggunaan lahan sekitar bundaran untuk terminal bayangan, tercampurnya lalulintas (mixed traffic) antara kendaraan bermotor dan tidak bermotor serta kegiatan perdagangan baiktoko maupun PKL menimbulkan bangkitan lalulintas maupun parkir kendaraan. Di sisi lain,geometri bundaran baik pada bagian jalinan maupun kaki– kaki pendekat mempunyai lebar jalan yang tidak memadai. Untuk itu, penelitian lalulintas perlu dilakukan sebagai dasar perancangan ulang bundaran. Penelitian untuk mengetahui kinerja bundaran dilakukan dengan melakukan survei lalulintas baik dengan pencacahan langsung di lapangan (traffic counting) maupun melalui perekaman dengan kamera video. Analisa dilakukan dengan menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Hasil analisa merupakan kinerja terhitung bundaran yaitu : kapasitas, derajat kejenuhan, dan tundaan. Hasil kinerja terhitung ini kemudian dibandingkan dengan kinerjaterukuryang diperolehdari hasil analisaperekaman video.Hasil perbandingan ini kemudian dibahas untuk memberi masukanperbaikan bundaran. Hasilpenelitian ini dapat diketahui, ternyatabagian jalinan bundaran Timur danBarat merupakan bagian jalinan yang memiliki perbedaan kapasitas bagian jalinan terukur terbesar jika dibandingkan dengan kapasitas bagian jalinan terhitung dengan cara MKJI 1997. Bagian jalinan ini memiliki kapasitas terbesar di antara bagian jalinan yang lain, yaitu : 2246 smp/jam. Tetapi kapasitas tidak optimum karena faktor tata guna lahan dan perilaku pengendara. Perbaikan fisik bisa dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas dengan cara memperkecil jari – jari bundaran atau jangka panjang dengan penertibantata guna lahan di sekitarbagianjalinan Timur – Barat.   Kata kunci : kinerjaterukur, kinerja terhitung, simpang bundaran
Pemanfaatan Limbah Sekam Padi Untuk Pembuatan Bata Beton Berlobang Guntur, Hartono
SIMETRIS No 12 (2010): SIMETRIS NO 12
Publisher : SIMETRIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekam padi adalah limbah pertanian yang merupakan hasil penggilingan padi dan hampir terdapat di seluruh wilayah di Indonesia. Karena bentuknya yang kasar (3 - 4 mm), dan bobotnya ringan, penyimpanan limbah ini memerlukan tempat yang luas. Limbah sekam padi banyak sekali terdapat di daerah pedesaan, dengan potensi yang melimpah. Dalam penelitian ini selain sekam padiyangdigunakansebagai substitusi agregat juga digunakan abu sekam padi dan kapur sebagai substitusi semen. Abu sekam padi merupakan basil pembakaran sekam padi, yang dapat digunakan sebagai absorben atau bahan baku pada pembuatan keramik. Dalam penelitian ini padi yang digunakan bervariasi yaitu dari 15% sampai 35%. Selain dari pada itu digunakan kapur dan abu sekam padi sebagai substitusi semen yaitu dari 10% sampai 20%. Dari hasil penelitian ternyata bata beton berlobang dengan komposisi 1 bagian semen (100%) dengan 5 bagian agregat (85% pasir, 15% sekam padi) dapat digunakan untukdi dalam atau pada bagian dalam bangunan yang memikul beban dimana kuat tekan rata-rata 50 kg/cm2. Tetapi untuk menghemat biaya dan masih memenuhi syarat dapatdigunakan campuran 1bagian semen (80% semen, 10% kapur dan 10% abusekam padi) dengan 5 bagian agregat (85% sekam padi , 15% sekam padi). Bata beton ini masih dapat digunakan untuk komponen yang terlindung ataupada bagian dalam bangunan yangtidakmemikul beban.
Penelitian KualitasBata Dan Pengaruh Jenis Bahan Bakar Serta Campuran Pasir Terhadap Kuat Tekan Bata Guntur, Hartono; ., Sulistia; ., Subandi
SIMETRIS No 9 (2009): SIMETRIS NO 09
Publisher : SIMETRIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  menganalisa  standar  mutu  batu  bata  merah  dari  wilayah  Kabupaten  Blora,  menganalisa pengaruh  penggunaan  jenis  bahan  bakar  terhadap  kuat  tekan  batu  bata  dan  menganalisa  pengaruh  proporsi  campuran material  pembuat  bata  terhadap  kuat  tekan  batu  bata.  Material  benda  uji  asli  terdiri  dari  sampel  batu  bata  merah  yang berasal dari  perajin  batu bata  di wilayah  Kabupaten  Blora  dan sekitarnya.  Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan minimal berjumlah  50 untuk tiap  lokasi.  Lokasi pengujian sampel  dilakukan  di  Laboratorium  Bahan Bangunan  STTR Cepu, meliputipengujian fisik (ukuran dan tampak luar batu bata), kuattekan, penyerapan air, pengujian berat jenis, kadar garam. Hasil  analisa  menunjukkan  batu  bata  produksi  dari  wilayah  Kabupaten  Blora  dan  sekitarnya  pada  umumnya belum  memenuhi  standar  ukuran  dan  kuat  tekan  sesuai  Peraturan  Umum  Bahan  Bangunan  di  Indonesia  (PUBI),  Standar Industri  Indonesia  (SII)  maupun  Standar  Nasional  Indonesia  (SNI).  Penggunaan  bahan  bakar  kayu  dan  sekam  padi  dalam penelitian  ini  mempunyai  pengaruh  yang  signifikan  terhadap  perbedaan  kuat  tekan  batu  bata.  Rata  –  rata  kuat  tekan  bata yang  dibakar  dengan  kayu  adalah  =  29,99  kg/cm2 (Sd  =  1.91)  dan  rata  –  rata  kuat  tekan  bata  yang  dibakar  dengan  abu sekam adalah = 16,81 kg/cm2 (Sd= 5.49). Penggunaan proporsi pasir yang berbeda untuk adonan bata dalam penelitianini tidak  menimbulkan  pengaruh  yang  signifikan  terhadap  kuat  tekan  batu  bata.  Campuran  I  mempunyai  kuat  tekan  =  20.72 kg/cm2 (Sd = 1.53) sedangkan campuran II =23.91 kg/cm2 (Sd = 1.56)   Kata kunci :  kuat tekan, batu bata, bahan bakar, pasir
Analisa Sensitivitas Pengguna Terhadap Pengembangan Transportasi Kereta Api Sebagai Alternatif Transportasi Pantai Utara Jawa Guntur, Hartono
SIMETRIS No 13 (2010): SIMETRIS NO 13
Publisher : SIMETRIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sebagian  ruas  pantura  Semarang  –  Surabaya  masih  terdapat  bekas  rel  peninggalan Belanda  yang  sebenarnya masih layak utuk dikembangkan, maka perlu identifikasi dengan cara survei terhadap persepsi masyarakat kemudian dari hasil  survei  dilakukan  pemodelan  pemilihan  moda  dan  model  elastisitas  silang.  Model  pemilihan  moda  bertujuan  untuk mengetahui  berapa  besar  peluang  moda  kereta  api  akan  dipilih.  Sedangkan  untuk  menguji  sensitivitas  pemilihan  maka dibuatmodelelastistisitas permintaan. Teknik  pengumpulan  data  yang  sering  digunakan  adalah  teknik  stated  preference  (SP)  dan  teknik  revealed preference  (RP).  Kedua  teknik  tersebut  masing-masing  mempunyai  kelebihan  dan  kekurangan  dalam  merepresentasikan respon  responden.  Penelitian  ini  menggunakan  data  SP,  dengan  variabel  bebas  biaya,  waktu,  kualitas  perjalanan,  dan fleksibilitas  pelayanan.  Pemilihan  moda  dimodelkan  dengan  berlandaskan  teori  pemilihan  diskrit  dan  menggunakan bentuk  model  binomial  logit.  Model  diestimasi  dengan  menggunakan  metode  kemungkinan  maksimum  (maximum likelihood estimation). Hasil  uji  korelasi  menunjukkan  bahwa  data  mempunyai  korelasi  yang  tinggi  antara  variabel  biaya  dan  waktu perjalanan,  yaitu  diperoleh  nilai  koefisien  korelasi  –  0,123.  Estimasi  model  menghasilkan  nilai  parameter  uji  kebaikan suai  diperoleh  :  rho  kuadrat  (0,55),  kai  kuadrat  (700,098),  dan  indeks  sukses  keseluruhan  s  adalah  0,1658.  Parameter fungsi  utilitas  hasil  estimasi  :  konstanta  moda  bis  (0,9084),  koefisien  waktu  perjalanan  (-0,0541),  koefisien  kualitas perjalanan  (0,8765),  dan  koefisien  fleksibilitas  pelayanan  (0,6571).  Bis  AKAP  mempunyai  peluang  lebih  besar  dalam pemilihan  moda  dibanding  dengan  KA  dalam  melayani  rute  Semarang  –  Surabaya,  yaitu  peluang  terpilih  adalah  71%. Sedangkan kereta api mempunyai sensitivitas lebih besar apabila dilakukan perubahan terhadap atribut perjalanan, misal : perubahanrute, perubahan waktu, perubahan tarif,dll.   Kata kunci: pemilihan moda, elastisitas,transportasi kereta api